Anda di halaman 1dari 4

Zahra Ratu Aziza

21040115140146
Kelas A
Transformasi Desa-Kota di Kawasan Asia
Oleh Fu-chen Lo, Kamal Shalih, dan Mike Douglass

Pembangunan saat ini telah menjadi salah satu faktor besar yang dipertimbangkan dalam suatu
kelompok masyarakat. Pembangunan dianggap sebagai proses yang tidak mudah dan membutuhkan
pertumbuhan dan pemerataan, dan kemudian perlu menentukan kebijakan yang sebenarnya secara otomatis
tidak bisa mencakup pada seluruh masyarakat. Konsep seperti ini menunjukkan bahwa dalam
mempertimbangkan pilihan-pilihan kebijakan membalikkan pola dari pembangunan yang tidak seimbang,
pertumbuhan, dan keseimbangan yang tidak terpisahkan. Pada kenyataannya, masih banyak
ketidakseimbangan yang terjadi bahkan jumlahnya pun meningkat. Akibatnya, posisi pendapatan
sekelompok masyarakat memburuk dan merendah (Lo, Salih, & Douglass, 1981).
Pemerataan pembangunan dapat diketahui dari pengukuran Indeks Koefisien Gini dari
ketidakseimbangan pendapatan dan pendapatan perkapita. Di Asia menunjukkan bahwa terdapat 3 negara
dimana angka dari Koefisien Gininya mendekati angka 0, yang berarti pemerataan dan keseimbangan
mendekati sempurna. Ketiga negara tersebut diantaranya Jepang, Korea, dan Taiwan. Sedangkan di bagian
Asia Selatan, yaitu India, Bangladesh, dan Pakistan, koefien yang ada lebih rendah dari negara-negara di
Asia Timur, namun cukup meningkat daripada negara-negara di Asia Tenggara. Walaupun, pendapatan
perkapita dari negara-negara Asia Selatan lebih rendah daripada negara-negara di Asia Tenggara. Namun,
Indeks Gini tidak selamanya dapat dijadikan sebagai alat pendeteksi arah pemerataan. Dengan cara
mengompilasi data dari tahun ke tahun, dinilai lebih mudah dipahami perubahan profil dari data pendapatan
masyarakat dari waktu ke waktu (Lo, Salih, & Douglass, 1981).
Pola dan tren dari ketidakseimbangan memiliki dimensi keruangan dan sosial, yang muncul berada
diantara kota-kota besar, pusat perkotan, dan pedesaan. Termasuk pusat perkotaan dari kota-kota yang lebih
kecil, dan pedesaan yang berada disekelilingnya. Insiden dari ketidakseimbangan di Asia disebabkan oleh
aspek kemiskinan yang terkonsentrasi di area pedesaan. Analisis dari ketidakseimbangan yang terjadi di
Asia terkonsentrasi di Asia Tenggara dan Asia Selatan, dimana ketidakseimbangan pendapatan perkapita
yang ada relatif tinggi, dan kesenjangan yang ada pun makin tinggi dari tahun ke tahun. Kemiskinan yang
banyak terjadi di area pedesaan juga memperbutuk keadaan, kemudian pendapatan dan kesejahteraan yang
menurun juga memperburuk keadaan ketidakseimbangan ini (Lo, Salih, & Douglass, 1981).
Proses pembangunan nasional dapat dipresentasikan pada kerangka makro-spasial atau kerangka
keruangan makro. Perkembangan lingkup nasional dan internasional, memerlukan pemahaman mengenai
pola, prroses, dan konsekuensi dari penyimpangan desa-kota. Dalam kerangka mako-spasial, terdapat 5
komponen penting menurut Lo, Salih, & Douglass (1981), diantaranya:
Zahra Ratu Aziza
21040115140146
Kelas A
a) Pasar dunia (WM), komponen ini digunakan untuk tempat jual beli brang-barang primer,
pepabrikan, dan teknologi-teknologi modern oleh negara berkembang kepada negara maju.
b) Sektor formal (UF), komponen ini berisi perusahaan-perusahaan bisnis yang bersifat formal.
c) Sektor informal (UI), komponen ini berisi aktivitas tradisional, dan memiliki ciri-ciri lapangan
kerja yang tidak terlalu banyak.
d) Ekspor wilayah pedesaan (RX)
e) Petani desa (RP)
Berikut adalah bagan dari kerangka model makro-spasial.

Kota Desa
Diagram Kerangka Model Makro Spasial
Sumber: Lo, Salih, & Douglass, 1981
Diagram tersebut tidak mempresentasikan antara negara maju dengan negara berkembang, namun
prosesnya sama dengan yang berada di lingkup wilayah, yaitu kota dan desa. Dapat diketahui dari diagram
tersebut bahwa RP atau rural peasant merupakan petani desa, (dimana peasant berarti petani yang tidak
memiliki lahan dan bekerja dengan menggarap di lahan milik orang lain) bekerja menghasilkan hasil
pertanian dan sebagainya untuk dapat dieksport, karena peasant tidak memiliki lahan sendiri, maka
kemungkinan besar dapat berpindah dari desa menuju kota, yang kemudian mencari penghasilan yang layak
dengan berdagang yang dapat memunculkan sektor-sektor informal. Sektor informal itu sendiri berdiri
sebagai penunjang dari sektor formal. Sektor formal juga dapat mengekspor hasil produksinya, yang
kemudian dapat dipasarkan ke daerah lainnya.
Zahra Ratu Aziza
21040115140146
Kelas A
Penjelasan dari diagram diatas menunjukkan bahwa terdapat suatu transformasi keruangan yang terjadi
pada lingkup wilayah. Dimana transformasi tersebut berarti perubahan secara bertingkat dari suatu bentuk
menuju bentuk lainnya yang lebih tinggi. “bentuk” disini memiliki maksud perubahan dari komponen
pembentuk ruang wilayah, yang dapat berupa perubahan sistem pusat permukiman, perubahan sistem
produksi pedesaan, dan perubahan sistem hubungan desa-kota. Pada diagram diatas ditunjukkan bahwa
terjadi transformasi keruangan wilayah, dimana terdapat perubahan sistem produksi pedesaan. Hal ini
dikarenakan terdapat campur tangan dari pihak sektor formal menuju pihak petani pedesaan, karena dengan
bantuan dari sektor formal, produksi yang dihasilkan oleh petani desa dapat meningkat kualitas dan
kuantitasnya. Selain itu, perubahan sistem pusat permukiman juga dapat terjadi dengan adanya perpindahan
penduduk dari desa ke kota yang memunculkan permukiman-permukiman kelas menengah kebawah yang
baru dan dapat menjadi pusat permukiman kelas menengah kebawah di pinggiran kota. Oleh karena
terjadinya perubahan sistem pusat permukiman dan perubahan sistem pembentuk ruang wilayah, maka
hubungan antara desa dan kota juga terdapat perubahan, dimana perubahan tersebut dapat ditunjukkan
dengan adanya hubungan saling mempengaruhi antar satu sama lain.
Untuk lebih jelasnya, dapat dipahami melalui contoh kasus yang akan dijelaskan berikut. Contoh
kasus berikut mengambil wilayah studi di kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Berdasarkan perhitungan
LQ untuk mencari sektor basis yang berada di kecamatan Klego, dapat diketahui dari perhitungan bahwa
sektor perdagangan merupakan sektor basis sekaligus sektor unggulan dari kecamatan ini, yaitu sebesar 1,34
(Hasil Analisis Studio B, 2017). Selain itu, perdangangan merupakan sektor basis yang memiliki daya saing
dibanding sektor-sektor lainnya. Artinya, kecamatan Klego memiliki peluang besar terjadinya transformasi
keruangan wilayah.
Transformasi keruangan wilayah yang dapat terjadi di kecamatan Klego terjadi dengan asumsi jika
sektor perdagangan yang terjadi di wilayah pedesaan meluas dan penduduknya mulai berpindah menuju
daerah kota dan membentuk sektor informal. Misalnya dengan membuka gerai-gerai informal dipinggir
jalan, munculnya PKL atau pedagang kaki lima, dan lain- lain. Keberadaan dari sektor informal itu sendri
sebenarnya memunculkan suatu hubungan saling ketergantungan dengan sektor formal. Kemudian, sektor
formal mengintervensi sektor perdangan di kawasan pedesaan yang hasil produksinya dapat diekspor
sekaligus untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produk hasil dari sektor perdagangan di wilayah
pedesaan yang cenderung masih tradisional. Hasil produksi tersebut dapat diekspor menuju daerah lainnya
dan akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik, karena kualitas yang telah diperbarui. Penjelasan diatas
menunjukkan bahwa adanya perubahan sistem pusat permukiman yang dapat terjadi dengan adanya pusat-
pusat permukiman baru yang dibentuk oleh para pendatang dari desa ke kota. Perubahan dari sustem
produksi pedesaan dapat terjadi pula karena adanya campur tangan dari pihak sektor formal untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas dari hasil produksi sektor perdagangan di wilayah pedesaan. Terakhir,
Zahra Ratu Aziza
21040115140146
Kelas A
dengan adanya hubungan antara desa dan kota yang saat ini saling bergantung, maka terdapat perubahan
yang cukup realistis dengan adanya perubahan hubungan antara desa dan kota.
Adanya proses tersebut menunjukkan bahwa transformasi keruangan wilayah memungkinkan terjadi di
kecamatan Klego, kabupaten Boyolali. Hal ini dikarenakan adanya perubahan dari sistem pusat permukiman,
perubahan sistem produksi pedesaan serta perubahan dari hubungan antar desa dan kota.

Daftar pustaka
Lo, F.C., Salih, K.., dan Douglass, M. (1981). Rural-urban transformation in Asia, dalam Lo (ed.) Rural-
Urban Relations and Regional Development, Nagoya: Maruzen Asia, pp. 7-43.
Tugas Mingguan Studio Kelompok B. (2017). Aspek Perekonomian Wilayah: Kecamatan Karanggede,
Klego, dan Andong.