Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

SPEKTROFOTOMETRI SIMULTAN PENETAPAN


KADAR TEOFILIN DAN PARASETAMOL

DISUSUN OLEH :
GOLONGAN I
KELOMPOK 11

KADEK DIAN ADNYANI (1508505023)


GUSTI AYU KRISTI AMARAWATI (1508505024)
PUTU VERA PHINASTIKA PUTRI (1508505025)
I GDE PANDE ANINDHITA PUTRA W. (1508505030)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017

0
SPEKTROFOTOMETRI SIMULTAN PENETAPAN KADAR TEOFILIN
DAN PARASETAMOL

I. TUJUAN
1.1 Membuat kurva absorpsi campuran dua zat.
1.2 Menentukan panjang gelombang pengukuran.
1.3 Menentukan absortivitas molar kedua zat pada setiap panjang
gelombang pengukuran.
1.4 Menentukan kadar zat campuran secara simultan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Parasetamol
Parasetamol atau yang dikenal dengan Asetaminofen memiliki rumus
molekul yaitu C8H9NO2 dengan berat molekul (BM) sebesar 151,16 gram/mol.
Parasetamol ini berbentuk serbuk hablur, berwarna putih, tidak berbau, dan
memiliki rasa yang sedikit pahit. Senyawa parasetamol ini larut dalam air
mendidih dan dalam NaOH 1N, mudah larut dalam etanol. Parasetamol memiliki
suhu lebur sebesar 169o sampai 172o. Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian
etanol (95%), dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9
bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida (Depkes RI, 1979;
Depkes RI, 1995).

Gambar 1. Rumus Struktur Parasetamol (Gandjar dan Rohman, 2007).


Absortivitas senyawa Parasetamol pada λmax 245 nm dalam larutan asam
adalah sebesar 668a sedangkan absortivitas dalam larutan basa atau alkali
absortivitasnya sebesar 715a pada λmax 257 nm. Karena parasetamol mempunyai

1
kromofor yang mampu menyerap sinar UV maka parasetamol dapat ditetapkan
kadarnya dengan spektrofotometri UV (Moffat et al., 2011).

Gambar 2. Spektrum UV Parasetamol (Moffat et al., 2011).

2.2 Teofilin
Teofilin (C6H8N4O2H2O) memiliki berat molekul 198,18 g/mol. Teofilin
berupa serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit dan stabil di udara dengan
titik lebur 270°C-274°C. Teofilin sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam
air panas, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam ammonium
hidroksida, agak sukar larut dalam etanol, dalam kloroform dan dalam eter
(Depkes RI, 1995).

Gambar 3. Rumus Struktur Teofilin (Depkes RI, 1995).


Absorbansi teofilin pada max 270 nm dalam larutan asam adalah sebesar 536a
sedangkan dalam larutan alkali atau basa absobansinya sebesar 650a pada max
275 nm (Moffat et al, 2005).

Gambar 4. Spektrum UV Teofilin (Moffat et al., 2005).

2
2.3 Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri sinar tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya
oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet
mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak mempunyai
panjang gelombang 400-750 nm. Prinsip penentuan spektrofotometri UV-Vis
adalah aplikasi dari Hukum Lambert-Beer yang menyatakan bahwa intensitas
yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan
konsentrasi larutan (Gandjar dan Rohman, 2007). Rumus dari Hukum Lambert-
Beer adalah sebagai berikut:
A = - log T = - log It / Io = ε . b . C
Gambar 5. Hukum Lambert-Beer (Gandjar dan Rohman, 2007).
Keterangan :
A = Absorbansi sampel yang akan diukur ε = Koefisien ekstingsi
T = Transmitansi b = Tebal kuvet yang digunakan
Io = Intensitas sinar masuk C = Konsentrasi sampel
It = Intensitas sinar yang diteruskan
Salah satu metode spektrofotometri UV-Vis adalah metode simultan. Metode
simultan dilakukan untuk mengukur kadar larutan campuran dua zat yang dapat
ditentukan tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat harus memiliki
panjang gelombang maksimum yang tidak berhimpit. Absorpsi larutan sampel
pada panjang gelombang pengukuran merupakan jumlah absorpsi dari masing-
masing zat tunggalnya (Widjaja dkk., 2016). Pengukuran dilakukan pada beberapa
panjang gelombang sehingga nantinya didapatkan dua panjang gelombang
maksimum. Pada dua panjang gelombang maksimum ini akan didapatkan dua
persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi masing-masing
panjang gelombang (Gandjar dan Rohman, 2007).

Gambar 6. Spektra dua buah senyawa, senyawa I dan senyawa II (Gandjar dan
Rohman, 2007).

3
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
a. Pipet ukur
b. Beaker glass
c. Labu ukur
d. Botol vial 10 mL
e. Pipet tetes
f. Ballfiller
g. Spektrofotometer UV-Vis dan Kuvet
h. Neraca Analitik
i. Tissue

3.2 Bahan
a. Akuades
b. Baku Parasetamol
c. Baku Teofilin

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM


4.1 Perhitungan Pembuatan Larutan
4.1.1 Pembuatan Larutan Stok Parasetamol 1 mg/mL
Diketahui : Kadar Parasetamol ( CParasetamol) = 1 mg/mL
Volume Metanol (VParasetamol) = 10 mL
Ditanya : Massa Parasetamol =…..?
Jawab : Massa Parasetamol = CParasetamol. VParasetamol
Massa = 1 mg/mL . 10 mL
Massa = 10 mg

4.1.2 Pembuatan Larutan Stok Teofilin 1 mg/mL


Diketahui : Kadar Teofilin ( CTeofilinl) = 1 mg/mL
Volume Metanol (VTeofilin) = 10 mL
Ditanya : Massa Teofilin =…..?

4
Jawab : Massa Teofilin = CTeofilin. VTeofilin
Massa = 1 mg/mL . 10 mL
Massa = 10 mg

4.1.3 Pembuatan Larutan Baku Parasetamol 100 µg/mL


Diketahui : Kadar larutan stok Parasetamol = 1 mg/mL = 1000 µg/mL
Kadar larutan baku Parasetamol= 100 µg/mL
Volume larutan baku Parasetamol= 10 mL
Ditanya : Volume larutan stok Parasetamol =…?
Jawab :
Cstok .Vstok = Cbaku.Vbaku
1000 µg/mL .Vstok = 100 µg/mL. 10 mL
Vstok = 1 mL
Jadi, volume larutan stok Parasetamol yang dipipet adalah 1 mL.

4.1.4 Pembuatan Larutan Baku Teofilin 100 µg/mL


Diketahui : Kadar larutan stok Teofilin= 1 mg/mL = 1000µg/mL
Kadar larutan baku Teofilin = 100 µg/mL
Volume larutan baku Teofilin = 10 mL
Ditanya : Volume larutan stok Teofilin =...?
Jawab :
Cstok .Vstok = Cbaku.Vbaku
1000 µg/mL.Vstok = 100 µg/mL. 10 mL
Vstok = 1 mL
Jadi, volume larutan stok Teofilin yang dipipet 1 mL.

4.1.5 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Parasetamol


Larutan Parasetamol yang menghasilkan absorbansi 0,434.
A= (gr/mL)
0,434 = 668 x 100 mL/gr.cm x 1 cm x c
c = 6,5 x 10-6 gr/mL = 6,5 µg/mL

5
Maka dibuat larutan Parasetamol dengan konsentrasi 6,5 µg/mL
Diketahui : Kadar larutan baku Parasetamol= 100 µg/mL
Kadar larutan baku siap ukur Parasetamol= 6,5 µg/mL
Volume larutan baku siap ukur Parasetamol= 10 mL
Ditanya : Volume larutan baku Parasetamol =…..?
Jawab :
Cbaku .Vbaku = Cukur.Vukur
100 µg/mL.Vbaku = 6,5 µg/mL. 10 mL
Vbaku = 0,65 mL
Jadi, volume larutan baku Parasetamol yang diambil adalah 0,65mL.

4.1.6 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Teofilin


Larutan Teofilin yang menghasilkan absorbansi 0,434.
A= (gr/mL)
0,434 = 536 x 100 mL/gr.cm x 1 cm x c
c = 8,1 x 10-6 gr/mL = 8,1 µg/mL
Diketahui : Kadar larutan baku Teofilin = 100 µg/mL
Kadar larutan baku siap ukur Teofilin = 8,1 µg/mL
Volume larutan baku ukur Teofilin= 10 mL
Ditanya : Volume larutan baku Teofilin =…..?
Jawab :
Cbaku .Vbaku = Cukur.Vukur
100 µg/mL.Vbaku = 8,1 µg/mL. 10 mL
Vbaku = 0,81 mL
Jadi, volume larutan baku Teofilin yang diambil adalah 0,81mL.

4.1.7 Pembuatan Larutan Campuran Parasetamol dan Teofilin


- LarutanParasetamol 6,5 µg/mL
Diketahui : Kadar larutan baku Parasetamol= 100 µg/mL
Kadar larutan baku ukur Parasetamol = 6,5 µg/mL
Volume larutan baku ukur Parasetamol = 10 mL

6
Ditanya : Volume larutan baku Parasetamol =….?
Jawab :
C1 . V1 = C2 . V2
100 µg/mL. V1 = 6,5 µg/mL. 10 mL
V1 = 0,65 mL
Jadi, volume larutan baku Parasetamol 100 µg/mL yang dipipet
adalah 0,65mL.

- Larutan Teofilin 8,1 µg/mL


Diketahui : Kadar larutan baku Teofilin = 100 µg/mL
Kadar larutan baku ukurTeofilin = 8,1 µg/mL
Volume larutan baku ukur Teofilin = 10 mL
Ditanya : Volume larutan baku Teofilin =…..?
Jawab :
C1 . V1 = C2 . V2
100 µg/mL. V1 = 8,1 µg/mL. 10 mL
V1 = 0,81 mL
Jadi, volume larutan baku Teofilin 100 µg/mL yang dipipet adalah
0,81 mL.

4.2. Prosedur Kerja


4.2.1 Pembuatan Larutan Stok Parasetamol 1 mg/mL
Ditimbang Parasetamol sebanyak 10 mg diletakkan pada beaker
glass, lalu dilarutkan dengan metanol. Dimasukkan ke dalam labu
ukur 10 mL. Ditambahkan metanol sampai tanda batas lalu digojog
hingga homogen. Dimasukkan ke dalam botol vial 10 mL dan diberi
label.

4.2.2 Pembuatan Larutan Stok Teofilin 1 mg/mL


Ditimbang Teofilin sebanyak 10 mg diletakkan pada beaker glass,
lalu dilarutkan dengan metanol. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10

7
mL. Ditambahkan metanol sampai tanda batas lalu digojog hingga
homogen. Dimasukkan ke dalam botol vial 10 mL dan diberi label.

4.2.3 Pembuatan Larutan Baku Parasetamol 100 µg/mL


Dipipet 1 mL larutan stok Parasetamol dengan konsentrasi 1
mg/mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Dilarutkan dengan
akuades sampai tanda batas dan digojog hingga homogen.
Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan Baku
Parasetamol 100 µg/mL.

4.2.4 Pembutan Larutan Baku Teofilin 100 µg/mL


Dipipet 1 mL larutan stok Teofilin dengan konsentrasi 1 mg/mL.
Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Dilarutkan dengan akuades
sampai tanda batas dan digojog hingga homogen. Dimasukkan ke
dalam botol vial dan diberikan label Larutan Baku Teofilin 100
µg/mL.

4.2.5 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Parasetamol 6,5 µg/mL


Dipipet 0,65 mL larutan baku Parasetamol dengankonsentrasi 100
µg/mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Dilarutkan dengan
akuades sampai tanda batas dan digojog hingga homogen.
Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan Baku
Siap Ukur Parasetamol 6,5 µg/mL.

4.2.6 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Teofilin 8,1 µg/mL


Dipipet 0,81 mL larutan baku Teofilin dengan konsentrasi 100
µg/mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Dilarutkan dengan
akuades sampai tanda batas dan digojog hingga homogen.
Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan Baku
Siap Ukur Teofilin 8,1 µg/mL.

8
4.2.7 Pembuatan Larutan Campuran Parasetamol (6,5 µg/mL) dan Teofilin
(8,1 µg/mL)
Dipipet 0,65 mL larutan stok Parasetamol dengan konsentrasi 100
µg/mL. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Dipipet 0,81 mL
larutan stok Teofilin dengan konsentrasi 100 µg/mL. Dimasukkan ke
dalam labu ukur 10 mL bersama dengan larutan Parasetamol
sebelumnya. Dilarutkan dengan akuades sampai tanda batas dan
digojog hingga homogen. Dimasukkan ke dalam botol vial dan
diberikan label Larutan Campuran Parasetamol dan Teofilin.

4.2.8 Menghidupkan Spektrofotometer SHIMADZU


Alat dihidupkan dengan menekan tombol “ON/OFF” (1=ON,
0=OFF). Ditunggu hingga instrument terkalibrasi. Discan senyawa
pada rentang panjang gelombang. Pilih nomor 2 (spectrum) pada
Mode Menu. untuk menentukan rentang panjang gelombang, ditekan
nomor 2 (lamda range). Dimasukkan blanko sebelum dilakukan
pengukuran spektrum, kemudian ditekan auto zero. Pengukuran
spectrum senyawa dilakukan dengan menekan tombol start. Ditekan
tanda arah (< / >) untuk melihat absorbansi pada rentang panjang
gelombang pengukuran.
Pengukuran absorbansi pada satu panjang gelombang.
Dikembalikan ke Mode Menu dengan menekan tombol return. Dipilih
nomor 1 (photometric). Untuk menentukan panjang gelombang
pengukuran tekan tombol go to WL. Dimasukkan blanko sebelum
dilakukan pengukuran absorbansi, kemudian ditekan tombol Auto
Zero hingga absorbansi yang terbaca oleh instrument adalah 0.
Dimasukkan senyawa untuk mengetahui absorbansi (tanpa menekan
tombol Start).
Kembali ke mode menu untuk mematikan spektrofotometer dengan
menekan tombol return. Ditekan tombol ON/OFF.

9
4.2.9 Pengukuran Larutan Sampel
Diukur absorban larutan baku tunggal pada rentang panjang
gelombang 200 -300 nm. Ditentukan panjang gelombang maksimum
Parasetamol dan Teofilin. Diukur absorban larutan sampel pada kedua
panjang gelombang maksimumnya.

V. SKEMA KERJA
5.1 Skema Kerja Pembuatan Larutan
5.1.1 Pembuatan Larutan Stok Parasetamol 1 mg/mL
Ditimbang paracetamol sebanyak 10 mg dan diletakkan pada
beaker glass

Dilarutkan dengan metanol dan diaduk hingga larut

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, ditambahkan metanol


sampai tanda batas atas dan digojog hingga homogen

Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan


Stok Parasetamol 1 mg/mL

5.1.2 Pembuatan Larutan Stok Teofilin 1 mg/mL


Ditimbang teofilin sebanyak 10 mg dan diletakkan pada beaker
glass

Dilarutkan dengan metanol dan diaduk hingga larut

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, ditambahkan metanol


sampai tanda batas atas dan digojog hingga homogen

Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan


Stok Teofilin 1 mg/mL

10
5.1.3 Pembuatan Larutan Baku Parasetamol 100 µg/mL
Dipipet 1 mL larutan stok Parasetamol dengan konsentrasi 1
mg/mL

Dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL

Ditambahkan akuades hingga tanda batas kemudian digojog


hingga homogen

Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan


Baku Parasetamol 100 µg/mL

5.1.4 Pembuatan Larutan Baku Teofilin 100 µg/mL


Dipipet 1 ml larutan stok Teofilin dengan konsentrasi 1 mg/mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Ditambahkan akuades sampai tanda batas kemudian digojog


hingga homogen

Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan


Baku Teofilin 100 µg/mL

5.1.5 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Parasetamol 6,5 µg/mL

Dipipet 0,65 ml larutan stok Parasetamol dengan konsentrasi


100 µg/mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Ditambahkan akuades sampai tanda batas kemudian digojog


hingga homogen

11
Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan
Baku Siap Ukur Parasetamol 6,5µg/mL

5.1.6 Pembuatan Larutan Baku Siap Ukur Teofilin 8,1 µg/mL


Dipipet 0,81 ml larutan stok Teofilin konsentrasi 100 µg/mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Ditambahkan akuades sampai tanda batas kemudian digojog


hingga homogen

Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan


Baku Siap Ukur Teofilin 8,1 µg/mL

5.1.7 Pembuatan Larutan Campuran Parasetamol (6,5 µg/mL) dan


Teofilin (8,1 µg/mL)
Dipipet 0,65 ml larutan stok Parasetamol 100 µg/ml.

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Dipipet 0,81 ml larutan stok Teofilin 100 µg/ml

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL bersama dengan larutan


Parasetamol sebelumnya

Ditambahkan akuades sampai tanda batas kemudian digojog


hingga homogen

12
Dimasukkan ke dalam botol vial dan diberikan label Larutan
Campuran Parasetamol dan Teofilin

5.2 Menghidupkan Spektrofotometer SHIMADZU

Dihidupkan alat dengan menekan tombol “ON/OFF” (1=ON,


0=OFF)

Ditunggu hingga instrument terkalibrasi., kemudian diiscan


senyawa pada rentang panjang gelombang. Dipilih nomor 2
(spectrum) pada Mode Menu

Ditekan nomor 2 (lamda range). Dimasukkan blanko sebelum


dilakukan pengukuran spektrum, kemudian ditekan auto zero

Pengukuran spectrum senyawa dilakukan dengan menekan tombol


start. Ditekan tanda arah (< / >) untuk melihat absorbansi pada
rentang panjang gelombang pengukuran

Dikembalikan ke Mode Menu dengan menekan tombol return

Dipilih nomor 1 (photometric). Untuk menentukan panjang


gelombang pengukuran tekan tombol go to WL

Dimasukkan blanko sebelum dilakukan pengukuran absorbansi,


kemudian ditekan tombol Auto Zero hingga absorbansi yang
terbaca oleh instrument adalah 0

13
Dikembalikan ke mode menu untuk mematikan spektrofotometer
dengan menekan tombol return. Ditekan tombol ON/OFF

5.3 Skema Kerja Pengukuran Larutan Sampel


Absorban larutan baku tunggal diukur pada rentang panjang
gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum Parasetamol dan


Teofilin

Diukur absorban larutan sampel pada kedua panjang gelombang


maksimumnya

14
VI. HASIL DAN PERHITUNGAN
6.1 Hasil Pengamatan
6.1.1 Tabel Absorbansi Parasetamol, Teofilin, dan Campuran pada Rentang
Panjang Gelombang 200-300 nm.

λ (nm) A Parasetamol A Teofilin A Campuran

200 0,720 0,470 0,926

203 0,716 0,616 1,127

206 0,601 0,705 1,144

209 0,471 0,677 0,945

212 0,304 0,549 0,715

215 0,287 0,436 0,591

218 0,304 0,353 0,540

221 0,330 0,303 0,531

224 0,360 0,269 0,539

227 0,395 0,234 0,544

230 0,420 0,212 0,546

233 0,455 0,183 0,543

236 0,498 0,152 0,542

239 0,519 0,135 0,538

242 0,524 0,131 0,538

245 0,515 0,134 0,533

248 0,503 0,139 0,528

251 0,477 0,150 0,518

254 0,428 0,170 0,501

15
257 0,347 0,206 0,474

260 0,285 0,238 0,456

263 0,223 0,272 0,442

266 0,182 0,293 0,431

269 0,156 0,302 0,421

272 0,141 0,305 0,412

275 0,129 0,300 0,398

278 0,118 0,284 0,374

281 0,108 0,255 0,335

284 0,096 0,210 0,277

287 0,080 0,152 0,201

290 0,065 0,106 0,135

293 0,053 0,080 0,098

296 0,043 0,066 0,074

299 0,036 0,058 0,061

6.1.2 Absorbansi Parasetamol, Teofilin, Campuran, dan Sampel pada Panjang


Gelombang Maksimum 242 nm dan 272 nm.
Absorbansi
No. Larutan
λ maks 1 = 242nm λ maks 1 = 245nm
1 Larutan
Paracetamol 0,524 0,141
Tunggal
2 Larutan Teofilin
0,131 0,305
Tunggal
3 Larutan Sampel 0,561 0,437

16
4 Larutan
0,538 0,412
Campuran

6.1.3 Kurva Absorbansi Parasetamol pada Panjang Gelombang Maksimum


242 nm dan 272 nm.

6.1.4. Kurva Absorbansi Teofilin pada Panjang Gelombang Maksimum 242


nm dan 272 nm.

17
6.1.5. Kurva Absorbansi Parasetamol, Teofilin, dan Campuran pada Panjang
Gelombang Maksimum 242 nm dan 272 nm.

6.2 Perhitungan
6.2.1 Perhitungan Absorptivitas Parasetamol dan Teofilin
Diketahui:
λmaks parasetamol : 242 nm
λmaks teofilin : 272 nm
a. Parasetamol
 Pada Panjang Gelombang 242 nm
Diketahui:
Absorbansi PCT pada 242 nm = 0,524
Kadar Parasetamol = 6,5 µg/mL = 6,5×10-6gr/mL
Tebal Kuvet = 1 cm
BM parasetamol = 151,16 gr/mol
Ditanya :
konsentrasi (M) parasetamol = ?
absorptivitas molar (ε) parasetamol = ..?

18
Jawab :
- Konsentrasi (M) parasetamol

M = 4,3 x 10-5 M
- Absorptivitas molar (ε ) parasetamol

 Pada Panjang Gelombang 272 nm


Diketahui:
Absorbansi PCT pada 272 nm = 0,141
Kadar Parasetamol = 6,5 µg/mL = 6,5×10-3 mg/mL
Tebal Kuvet = 1 cm
BM parasetamol = 151,16 mg/mmol
Ditanya : konsentrasi (M) dan absorptivitas molar (ε) parasetamol
= ..?
Jawab :
- Konsentrasi (M) parasetamol

M = 4,3 x 10-5 M
- Absorptivitas molar (ε ) parasetamol

19
b. Teofilin
 Pada panjang gelombang 242 nm
Absorbansi teofilin pada 242 nm = 0,131
Kadar Teofilin = 8,1 µg/mL= 8,1 x 10-6
gr/mL
Tebal Kuvet = 1 cm
BM parasetamol = 198,19 gr/mol
Ditanya : konsentrasi (M) dan absorptivitas molar (ε) teofilin = ..?
Jawab :
- Konsentrasi (M) teofilin

M = 4,086 x 10-5 M
- Absorptivitas molar (ε ) teofilin

 Pada panjang gelombang 272 nm


Absorbansi teofilin pada 272 nm = 0,305
Kadar Teofilin = 8,1 µg/mL = 8,1 x 10-6
gr/mL
Tebal Kuvet = 1 cm
BM parasetamol = 198,19 gr/mol
Ditanya : absorptivitas molar (ε) teofilin = ..?
Jawab :
- Absorptivitas molar (ε ) teofilin

20
6.2.2 Penentuan Kadar Parasetamol dan Teofilin pada Larutan Campurannya
Diketahui :
Absorbansi campuran pada 242 nm = 0538
Absorbansi campuran pada 272 nm = 0,412
parasetamol pada 242 nm = 12186,0465

parasetamol 272 nm = 3279,069768

teofilin 242 nm = 3206,069506

teofilin 272 nm = 7464,512971


Tebal kuvet = 1 cm
Ditanya : Kadar parasetamol dan teofilin dalam campuran = …?
Jawab :
Absorbansi campuran yang diukur secara simultan merupakan total
absorbansi dari masing-masing penyusunnya, yaitu parasetamol dan
teofilin.

dengan indeks c : campuran; p : parasetamol; dan t : teofilin


 Pada panjang gelombang 242 nm

………(1)

 Pada panjang gelombang 272 nm

………(2)

21
Berdasarkan persamaan (1) dan (2), diperoleh :

Ct = 4,04787 x 10-5 M
= 4,0487 x 10-5 M x 198,19 g/mol x1000= 8,02247 µg/mL

Nilai Ct disubstitusi ke persamaan 1:


x 4,04787 x10-5M)

+ 0,129777525

cp = 3,34992 x 10-5M
= 3,34992 x 10-5M x 151,16 g/mol x1000 = 5,06374µg/mL

Nilai perolehan kembali parasetamol

Nilai perolehan kembali teofilin

6.2.3 Penentuan Kadar Parasetamol dan Teofilin pada Larutan Sampel


Diketahui :
Absorbansi sampel pada 242 nm = 0,561
Absorbansi sampel pada 272 nm = 0,437

22
parasetamol pada 242 nm = 12186,0465

parasetamol 272 nm = 3279,069768

teofilin 242 nm = 3206,069506

teofilin 272 nm = 7464,512971


Tebal kuvet = 1 cm
Ditanya : Kadar parasetamol dan teofilin dalam sampel = …?
Jawab :
Absorbansi campuran yang diukur secara simultan merupakan total
absorbansi dari masing-masing penyusunnya, yaitu parasetamol dan
teofilin.

………(1)

 Pada panjang gelombang 272 nm

………(2)

Berdasarkan persamaan (1) dan (2), diperoleh :

Ct = 4,332 x 10-5 M
= 4,332 x 10-5 M x 198,19 g/mol x1000= 8,5856 µg/mL

23
Nilai Ct disubstitusi ke persamaan 1:
x 4,332 x10-5M)

+ 0,138886931

cp = 3,4639 x 10-5M
= 3,4639 x 10-5M x 151,16 g/mol x1000 = 5,2360 µg/mL

Sehingga kadar paracetamol dan teofilin yang terdapat dalam


sampel masing-masing adalah 5,2360 µg/mL dan 8,5856 µg/mL.

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar campuran dua
senyawa yakni parasetamol dan teofilin secara simultan dengan metode
spektrofotometri UV-Vis. Prinsip penetapan kadar dengan metode ini
adalah pengukuran campuran dua senyawa dilakukan baik pada panjang
gelombang 1 maupun pada panjang gelombang 2 diperoleh absorbansi pada
kedua panjang gelombang tersebut yang merupakan jumlah absorbansi
senyawa 1 dan absorbansi senyawa 2. Bila diinginkan pengukuran 2 buah
senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat
dilakukan pada dua panjang gelombang yang mana masing-masing
komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen yang
lain paling kecil (Gandjar dan Rohman, 2007). Penggunaan teknik
persamaan simultan memerlukan beberapa persyaratan agar diperoleh hasil
yang memuaskan, antara lain harga selisih panjang gelombang maksimum
masing-masing komponen harus relatif besar (Andrianto, 2009).
Parasetamol dan teofilin memiliki harga selisih panjang gelombang yang
cukup besar, maka dapat ditetapkan kadarnya dengan metode simultan.
Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan sebelum membaca
absorbansi sampel yang berupa campuran adalah membaca absorbansi
senyawa tunggal penyusun campuran tersebut yakni parasetamol dan
teofilin, guna melihat panjang gelombang maksimumnya. Alasan

24
digunakannya panjang gelombang maksimum adalah kepekaannya
maksimal pada panjang gelombang tersebut sehingga perubahan absorbansi
untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar, disekitar panjang
gelombang maksimal bentuk kurva absorbansi datar maka pada kondisi
tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi, jika dilakukan pengukuran
ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang
gelombang akan kecil sekali (Gandjar dan Rohman, 2007). Konsentrasi
parasetamol tunggal yang digunakan yakni 6,5 µg/mL, sedangkan
konsentrasi teofilin yakni 8,1 µg/mL.
Berdasarkan data absorbansi dari panjang gelombang 200-300 nm,
didapatkan panjang gelombang maksimum parasetamol yaitu 242 nm dan
panjang gelombang maksimum teofilin pada 272 nm. Pemilihan panjang
gelombang maksimum berdasarkan absorbansi terbesar dari senyawa
tunggal dan dicari panjang gelombang yang paling mendekati literatur.
Berdasarkan literatur, panjang gelombang maksimum parasetamol adalah
245 nm pada larutan asam dan 257 nm pada larutan basa, sedangkan
panjang gelombang maksimum teofilin yakni 270 nm pada larutan asam
dan 275 nm pada larutan basa (Moffat et al., 2005). Dari hasil panjang
gelombang maksimum yang didapat, baik parasetamol maupun teofilin
masih dalam rentang panjang gelombang maksimum pada literatur. Pada
penetapan panjang gelombang maksimum, absorbansi yang dihasilkan pada
panjang gelombang 200 nm sampai 206 nm sangat tinggi, hal ini
dikarenakan masih adanya pengaruh pelarut yang terbaca (UV Cut Off)
yang mana pada praktikum kali ini menggunakan akuades sebagai pelarut
dengan UV Cut Off pada 190 nm (Andrianto, 2009). Berikut adalah kurva
absorbansi senyawa tunggal parasetamol dan teofilin:

25
7.1 Kurva Absorbansi Parasetamol pada Panjang Gelombang Maksimum
242 nm dan 272 nm.

7.2 Kurva Absorbansi Teofilin pada Panjang Gelombang Maksimum 242


nm dan 272 nm.

Pengukuran dilanjutkan dengan membaca larutan campuran pada


rentang panjang gelombang 200-300 nm. Berdasarkan absorbansi yang
diperoleh dari larutan campuran tidak sesuai dengan jumlah absorbansi

26
senyawa tunggal, baik pada panjang gelombang maksimum parasetamol
maupun teofilin. Hal ini dapat dikarenakan ketidaktepatan dalam pemipetan
saat pembuatan larutan campuran tersebut, yang mengakibatkan adanya
perbedaan konsentrasi dari senyawa tunggal dengan komponen penyusun
dalam campuran. Berikut adalah kurva absorbansi larutan campuran:
7.3 Kurva Absorbansi Parasetamol, Teofilin, dan Campuran pada Panjang
Gelombang Maksimum 242 nm dan 272 nm.

Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi sampel pada panjang


gelombang pengukuran yakni 242 nm dan 272 nm. Berdasarkan hasil
pengukuran, didapatkan hasil berupa absorbansi sampel pada panjang
gelombang 242 nm sebesar 0,561 dan absorbansi pada panjang gelombang
272 nm sebesar 0,437. Untuk menghitung kadar parasetamol dan teofilin
pada sampel, terlebih dahulu dihitung absorptivitas molar (ɛ) dari masing-
masing senyawa tunggal, yakni parasetamol dan teofilin. Aborptivitas
molar adalah konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi, tebal kuvet,
dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. Absorpstivitas
tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang
radiasi, apabila dinyatakan dalam absorptivias molar maka konsentrasi juga
dinyatakan dalam molaritas (M) (Gandjar dan Rohman, 2007). Perhitungan
absorptivitas molar berdasarkan persamaan Lambert-Beer yaitu:

27
A = ɛ. b. c

Absorptivitas molar (ɛ) pada larutan parasetamol yang diperoleh


pada panjang gelombang 242 nm adalah 12186,0465 M-1 cm-1, pada
panjang gelombang 272 nm adalah 3279,069767 M-1 cm-1, sedangkan
absorptivitas molar larutan teofilin yang diperoleh pada panjang gelombang
242 nm adalah 3206,069506 M-1 cm-1, pada panjang gelombang 272 nm
adalah 7464,512971 M-1 cm-1. Penentuan kadar parasetamol dan teofilin
pada larutan sampel kemudian dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut :
A (parasetamol + teofilin) = Aparasetamol + Ateofilin.......... Pada λ1 (242 nm)
= (ɛparasetamol.b.cparasetamol) + (ɛteofilin.b.cteofilin)
A (parasetamol + teofilin) = Aparasetamol + Ateofilin.......... Pada λ2 (272 nm)
= (ɛparasetamol.b.cparasetamol) + (ɛteofilin.b.cteofilin)
(Gandjar dan Rohman, 2007).
Absorptivitas molar masing-masing komponen pada setiap panjang
gelombang pengukuran dimasukkan kedalam persamaan tersebut, sehingga
konsentrasi kedua komponen yaitu parasetamol dan teofilin juga dapat
ditentukan menggunakan metode eliminasi dan substitusi. Berdasarkan
hasil perhitungan, didapatkan kadar parasetamol dalam sampel sebesar
5,2360 µg/mL dan teofilin sebesar 8,5856 µg/mL. Sedangkan pada larutan
campuran didapatkan kadar parasetamol sebesar 5,06374 µg/mL dengan
nilai % recovery sebesar 77,903 % dan teofilin sebesar 8,02447 µg/mL
dengan nilai % recovery sebesar 99,043 %. Dari data tersebut, dapat
dikatakan bahwa penetapan kadar parasetamol memiliki nilai akurasi yang
kurang baik, karena nilai % recovery yang didapat tidak masuk kedalam
rentang % recovery yang baik yakni antara 98-102%, maka kadar
parasetamol yang didapat jauh dari kadar yang sebenarnya (tidak akurat),
sedangkan untuk penetapan kadar teofilin memiliki nilai akurasi yang baik,
karena % recovery yang didapat masuk kedalam rentang % recovery yang

28
baik, maka kadar teofilin dalam sampel yang didapat mendekati kadar yang
sebenarnya (akurat).

VIII. KESIMPULAN
8.1 Kurva absorbansi parasetamol, teofilin, dan campuran pada panjang
gelombang 200-300 nm.

8.2 Panjang gelombang pengukuran dipilih dari panjang gelombang yang


memberikan absorbansi terbesar pada parasetamol dan teofilin, yaitu
242 nm dan 272 nm.
8.3 Pada panjang gelombang 242 nm didapatkan absorptivitas molar
paracetamol sebesar 12186,0465 M-1 cm-1 dan absorptivitas molar
teofilin sebesar 3206,069506 M-1 cm-1. Sedangkan pada panjang
gelombang 272 nm didapatkan absorptivitas molar paracetamol
sebesar 3279,069767 M-1 cm-1 dan absorptivitas molar teofilin sebesar
7464,512971 M-1 cm-1.
8.4 Pada larutan sampel diperoleh kadar parasetamol dan teofilin masing-
masing adalah 5,2360 µg/mL dan 8,5856 µg/mL.

29
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Y. K. 2009. Validasi Metode Penetapan Kadar Campuran Parasetamol
dan Ibuprofen Secara Spektrofotometri UV dengan Apikasi Panjang
Gelombang Berganda. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Jakarta: Penerbit Erlangga.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta:Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.

Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2012. Analisis Obat secara Spektrofotometri dan


Kromatografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Moffat, A. C., M. D. Osselton, B. Widdop and L. Y. Galichet. 2005. Clarke's


Analysis of Drugs and Poisons 3rd edition. London: Pharmaceutical Press.

Widjaja, K., P. Susanti, L. Laksmiani dan D. Cahyadi. 2016. Petunjuk Praktikum


Kimia Analis. Jimbaran: Udayana University Press.

30
TUGAS DAN PERTANYAAN
1. Buat kurva absorpsi larutan baku parasetamol, teofilin dan tentukan panjang
gelombang maksimumnya.
Jawab:

Panjang gelombang maksimum parasetamol adalah 242 nm


Panjang gelombang maksimum teofilin adalah 272 nm

2. Tentukan absorbansi setiap larutan pada masing-masing panjang gelombang


maksimumnya.
Jawab:
 Absorbansi larutan parasetamol tunggal:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 0,524
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 0,141
 Absorbansi larutan teofilin tunggal:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 0,131
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 0,305
 Absorbansi larutan sampel:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 0,561
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 0,437

31
 Absorbansi larutan campuran:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 0,538
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 0,412

3. Hitung absortivitas molar parasetamol dan teofilin pada masing-masing


panjang gelombang maksimumnya.
Jawab:
 Absorbtivitas molar parasetamol:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 12186,0465 M-1 cm-1
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 3279,069767 M-1 cm-1
 Absorbtivitas molar teofilin:
Pada panjang gelombang 242 nm adalah 3206,069506 M-1 cm-1
Pada panjang gelombang 272 nm adalah 7464,512971 M-1 cm-1

4. Tetapkan konsentrasi masing-masing komponen pada larutan Sampel yang


telah disiapkan oleh Asisten Praktikum.
Jawab:
Pada larutan sampel diperoleh kadar parasetamol dan teofilin masing-masing
adalah 5,2360 µg/mL dan 8,5856 µg/mL.

5. Bahas hasil yang diperoleh pada percobaan hari ini dalam laporan!
Jawab:
(Telah dilampirkan dalam bab pembahasan).

32

Anda mungkin juga menyukai