Anda di halaman 1dari 20

STANDAR PEKERJAAN LAPANGAN

1. Pengertian Pekerjaan Lapangan


Pekerjaan lapangan didefinisikan sebagai suatu proses yang dilakukan secara sistematis
dalam mengumpulkan bukti audit yang objektif mengenai operasi yang diaudit, kemudian
mengevaluasinya untuk (1) memastikan bahwa operasi yang dimaksud sesuai dengan
standar/kriteria yang dapat diterima dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, serta (2)
menyediakan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan oleh manajemen. Pekerjaan
lapangan dilakukan setelah survey pendahuluan diselesaikan dan program audit
disusun/dikembangkan/disiapkan.
Istilah “proses yang sistematis” mengimplikasikan langkah-langkah audit terencana yang
dirancang untuk memenuhi tujuan-tujuan audit. Istilah tersebut juga memiliki makna bahwa
auditor internal akan menerapkan persyaratan profesional dalam melakukan audit, serta
menerapkan penelaahan yang tepat saat mengumpulkan menyusun, mencatat, dan mengevaluasi
bahan bukti audit.

“Persyaratan profesional” berarti kebebasan penuh dari segala bias yang akan
memengaruhi pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti. Bebas dari bias dicapai melalui
independensi dan objektivitas, baik dalam kenyataan maupun dalam presepsi. Objektivitas nyata
muncul dari prilaku mental yang tidak memihak, prilaku yang mendasarkan pada pengetahuan
dan menilai bukti benar-benar murni dalam kenyataannya tanpa memandang orang yang
menyediakannya. Penilaian seperti ini harus dicapai tanpa memedulikan perasaan, prasangka,
opini, dan kepentingan, serta tekanan dari pihak-pihak eksternal.

Semua bahan bukti audit harus dikumpulkan melalui pendekatan yang mengandung
skeptisisme profesional yang sehat. Semua bahan bukti harus dianggap meragukan hingga
keraguan tersebut bisa dihilangkan melalui verifikasi yang tidak bias. Jadi, pikiran dengan
disiplin ilmu yang baik merupakan bahan baku penting bagi audit internal yang profesional.
Pikiran seperti ini menerima bukti sesuai apa yang kelihatan di permukaan; tetapi mencari hal-
hal yang ada di balik asersi dan angka-angka guna menemukan kebenaran.

Auditor internal menguji semua asersi dengan ketidakpastian-dengan pikiran tidak begitu
saja percaya dan senantiasa mempertanyakan. Untuk memberikan opini profesional, auditor
internal harus mengumpulkan bahan bukti yang objektif. Hanya bahan bukti seperti ini yang bisa
memindahkan mereka dari ketidakpastian menuju keyakinan yang kuat dan mendukung.

Ketidakpastian ini, juga skeptisisme ini adalah penting, tapi harus digunakan secara bijak.
Jika auditor terus ragu padahal auditor lain yang wajar dan berhati-hati bisa yakin dengan bahan
bukti yang dikumpulkan, maka skeptitisme tidak lagi produktif karena sama sekali tidak mau
menerima bukti sehingga bisa menghasilkan hal yang tidak bermanfaat. Hal ini akan memaksa
auditor menimbun fakta demi fakta yang berlebihan dan habis-habisan melakukan upaya audit
yang wajar tettapi tetap saja tidak mencapai kesimpulan.

2. Tujuan Pekerjaan Lapangan


Tujuan pekerjaan lapangan adalah untuk membantu pemberian keyakinan kepada pihak-
pihak yang memerlukan informasi atas laporan keuangan yang memenui standar baik pihak
internal maupun eksternal, membantu organisasi dalam mencapai tujuannya, mengevaluasi
dan melakukan perbaikan atas keefektivan manajemen risikoperusahaan/organisasi. dengan
melaksakan prosedur-prosedur audit yang ada di program audit, sesuai tujuan audit yang ingin di
capai.

Tujuan-tujuan audit terkait dengan tujuan-tujuan operasi tetapi memiliki sedikit


perbedaan. Dalam makna yang paling sederhana, pekerjaan lapangan merupakan pengumpulan
bahan bukti untuk pengukuran dan evaluasi. Konsep pengukuran memiliki signifikansi khusus
bagi auditor internal. Jika auditor internal bisa menangkap esensi ini secara penuh, maka mereka
bisa dengan sukses memeriksa operasi dalam suatu organisasi. Auditor internal yang profesional
seharusnya tidak terlibat dalam audit yang asal-asalan. Mereka harus memahami bahwa mereka:

1) Tidak dapat memberikan keyakinan dengan mengaudit operasi secara sempit.


2) Tidak dapat mengamati sebuah proses dan seenakanya memutuskan apakah proses
tersebut baik atau buruk.
3) Harus memandang operasi tersebut dalam bentuk unit-unit pengukuran dan standar.

Unit-unit pengukuran diturunkan dan kuantifikasi elemen-elemen terpisah yang


diterapkan pada operasi tersebut -jumlah dolar, hari, derajat, orang-orang, dokumen-dokumen,
mesin-mesin, atau elemen-elemen lainnya yang dapat dikuantifikasi dari kualitas yang telah
ditetapkan untuk mengukur operasi secara objektif. Standar-standar operasi adalah mutu kinerja
yang dapat diterima- yang merupakan kerangka acuan- yang dibandingkan dengan elemen-
elemen operasi yang diukur untuk menilai tingkat kesuksesan atau kegagalan.

Dalam kondisi-kondisi ini, auditor internal dapat mengukur operasi secara objektif dan
efektif. Namun jika mereka tidak dapat mengukurnya, mereka sebaiknya menjejak lebih dalam
ke masalah tersebut, karena kalau tidak mereka hanya akan menghasilkan pengamatan yang
subjektif, bukan kesimpulan yang objektif.

3. Audit Berhenti-Kemudian-Lanjut

Teknik “audit berhenti-kemudian-lanjut” membantu menghilangkan audit dengan


pengembalian yang rendah yang melewati proses penyaringan awal. Konsep dasar di balik
pendekatan berhenti-kemudian-lanjut adalah untuk memberdayakan auditor lapangan untuk
menghentikan audit selama survei pendahuluan, atau pada waktu-waktu lainnya, jika tidak ada
indikasi adanya risiko-risiko yang substansial atau tidak ada temuan-temuan penyimpangan
potensial. Saat audit tersebut dihentikan, auditor pindah ke audit selanjutnya yang termasuk
dalam rencana audit tahunan departemen. Dengan cara ini, setiap auditor bisa melakukan lebih
banyak audit setiap tahun dibandingkan berdasarkan pendekatan audit tradisional yang
menghabiskan semua anggaran waktu yang tersedia untuk setiap audit tanpa memandang hasil-
hasil kerja pendahuluan.

Misalnya, jika seorang auditor dengan 1800 jam yang tersedia setiap tahun diminta
melakukan 10 audit, setiap audit berlangsung dalam 180 jam, maka ia hanya akan melakukan 10
audit berdasarkan pendekatan audit tradisional yang menyatahkan bahwa dibutuhkan waktu 180
jam untuk setiap audit. Namun, jika teknik audit berhenti-kemudian-lanjut diterapkan, auditor
mungkin rata-rata hanya menggunakan 40 jam untuk 3 atau 4 audit jika aktivitas-aktivitas usaha
yang ditelaah tidak menunjukkan risiko tinggi atau tidak ada temuan penyimpangan yang
potensial, sehingga masih tersedia 360 hingga 480 jam audit per tahun. Hasil penerapan audit
berhenti-kemudian-lanjut adalah peningkatan efisiensi audit dan bisa melakukan 13 atau 14 audit
setiap tahun dan bukan 10 seperti yang direncanakan semula. Tentu saja, jika terdapat temuan-
temuan yang signifikan dalam penelaahan pendahuluan, atau pada waktu-waktu lainnya, auditor
akan tetap melakukan audit dan menggunakan jumlah waktu yang direncanakan untuk audit
tersebut dan bahkan menambah jam kerja jika diperlukan.
Beberapa manfaat dari teknik audit berhenti-kemudian-lanjut ini, yaitu :

1) Memaksa tujuan aktivitas audit untuk memusatkan sumber dayanya pada hal-hal berisiko
tinggi dan aktivitas-aktivitas dari perusahaan (yaitu bekerja pada titik tinggi dalam kurva
prioritas) dan memberikan Komite Audit keyakinan bahwa lebih banyak upaya audit
yang dihabiskan pada hal-hal tersebut daripada pada bidang-bidang berisiko rendah.
2) Memungkinkan fleksibilitas auditor untuk berhenti-kemudian-lanjut, guna mengurangi
atau meningkatkan lingkup audit, dan memotivasu auditor untuk fokus pada aktivitas-
aktivitas perusahaan yang akan menghasilkan temuan-temuan yang paling bermanfaat
dan bernilai tinggi bagi organisasi.
3) Meningkatkan jumlah audit di atas cakupan audit minimum, karena auditor melakukan
lebih banyak audit dengan jangka waktu yang lebih pendek setiap tahun. Misalnya, 600
audit bisa dilakukan dalam satu tahun, bukan 500 seperti yang biasa dilakukan.

4. Bagian-bagian Pekerjaan Lapangan

Tujuan-tujuan audit berbeda dari tujuan-tujuan operasi, sebagaimana prosedut-prosedur


audit juga berbeda dari prosedur-prosedur operasi. Tujuan-tujuan audit terkait dengan tujuan
operasi, namum memiliki maksud yang berbeda. Tujuan audit dirancangan untuk menentukan
apakah tujuan-tujuan operasi tertentu telah dicapai. Tujuan audit dicapai dengan menerapkan
prosedur audit untuk menentukan apakah prosedur operasi berfungsi sebagaimana mestinya dan
mencapai tujuan-tujuan operasi. Tujuan operasi ditetapkan oleh manajemen, sedangkan tujuan
audit ditetapkan oleh auditor.

Prosedur-prosedur audit adalah sarana-sarana yang digunakan auditor untuk memenuhi


tujuan auditnya. Prosedur audit merupakan langkah-langkah dalam proses audit yang menjadi
pedoman bagi auditor dalam melaksanakan penelaahan yang direncanakan, berdasarkan tujuan
audit yang ditetapkan.

Tujuan-tujuan audit harus ditujukan untuk setiap hal yang perlu dilakukan auditor. Semua
prosedur audit haruslah relevan dengan tujuan audit. Sebuah prosedur audit mungkin terlihat
cocok untuk audit sebuah operasi tertentu, tetapi jika dirancang untuk melaksanakan tujuan audit
yang telah disetujui, maka akan sedikit manfaatnya dalam memenuhi misi audit. Daftar tujuan
dan prosedur audit untuk semua operasi perusahaan jelas tidak ada habisnya, karena beragamnya
aktivitas dan sarana untuk mencapainya. Terserah pada auditor untuk menerapkan pertimbangan
audit yang diperlukan untuk meyakinkan bahwa tujuan-tujuan audit sudah lengkap dan bahwa
prosedur-prosedur audit dilakukan untuk memenuhi tujuan audit yang dinyatakan dalam program
audit. Oleh karena itu, praktisi diharapkan tidak memilih tujuan audit atau menerapkan prosedur-
prosedur audit secara membabi buta tanpa memerhatikan kondisi. Praktisi layaknya merancang
prosedur-prosedur yang relevan dengan tujuan audit yang dipilih.

Berikut merupakan contoh perbedaan antara tujuan dan prosedur operasi dengan tujuan dan
prosedur audit:

Tujuan-tujuan
Prosedur Operasi Tujuan Audit Prosedur Audit
Operasi

Pembelian Departemen pengguna Untuk menentukan Telaah sampel


harus menyiapkan apakah pesanan pesanan pembelian
Untuk mendapatkan
surat permintaan yang pembelian hanya untuk melihat apakah
barang yang tepat
disetujui, yang untuk pembelian pesanan pembelian
meyebutkan produk- produk-produk yang didukung oleh surat
produk yang memang dibutuhkan permintaan yang
dibutuhkan organisasi disetujui dan apakah
ciri-ciri barang yang
dibeli, dalam surat
pesanan barang,
sesuai dengan
kebutuhan organisasi

Untuk mendapatkan Si pembeli harus Untuk menentukan Untuk sampel yang


barang dengan harga membuka penawaran apakah penawaran dipilih, verifikasi
yang tepat yang kompetitif untuk yang kompetitif bukti-bukti
semua pembelian di benar-benar diminta dilakukannya
atas jumlah yang dan apakah kegagalan penawaran, dan
ditentukan, jelaskan untuk mendapatkan apakah penjelasan
secara tertulis bila penawaran telah atas gagalnya
gagal mendapatkan dijelaskan, apakah penawaran adalah
penawaran pesanan pembelian wajar
benar secara
sistematis dan
disetujui dengan
layak.

Pemrosesan Klaim Semua klaim Untuk menentukan Telaah sampel klaim


dimasukkan dalam apakah semua klaim yang dibayar untuk
Untuk memroses
daftar. Pemrosesan yang diterima telah menentukan apakah
klaim dengan segera
diawasi melalui dimasukkan dalam sudah dimasukkan
laporan periodik daftar dan diawasi dalam daftar dan
selama siklus apakah telah diproses
pemrosesan dan dalam waktu yang
apakah manajemen wajar. Periksa akurasi
telah waspada akan dan ketepatan waktu
adanya penangguhan laporan ke manajemen
yang tidak wajar tentang pemrosesan
klaim

Untuk memproses Manajemen Untuk menentukan Untuk sampel terpilih,


klaim dengan benar menspesifikasikan apakah klaim sah tentukan apakah
langkah-langkah yang telah dibayar sesuai pembayaran benar
akan diambil dalam jumlah terutang secara matematis,
memeriksa klaim, memenuhi kebijakan,
termasuk menunjukkan bukti
perbandingannya penilaian jika
dengan kebijakan. diperlukan, dan
Juga membentuk memiliki bukti
sistem penelaahan dan penelaahan dan
tingkat persetujuan, persetujuan
tergantung nilai
klaim.

Penerimaan Manajemen Untuk menentukan Telaah sampel laporan


melakukan apakah hanya barang- penerimaan yang
Hanya menerima
penghitungan, barang yang dipesan representatif untuk
barang-barang yang
penimbangan, dan yang diterima, dan mencari bukti
dipesan
pengukuran produk dalam jumlah yang penghitungan,
yang diterima dan sesuai pesanan penimbangan, dan
menandatanganinya. pengukuran.
Prosedur pengambilan Bandingkan catatan
sampel yang khusus gudang dengan
diperbolehkan jika kuantitas yang
layak terdapat dalam
laporan penerimaan

Hanya menerima Manajemen Untuk menentukan Untuk sampel terpilih,


barang-barang yang melakukan inspeksi bahwa hanya produk- telaah bukti inspeksi.
memenuhi spesifikasi barang yang dipesan, produk dengan Telaah bukti
bandingkan sampel kualitas yang pengembalian barang-
barang yang diterima disyaratkan yang barang yang ditolak.
dengan spesifikasinya. diterima, dan bahwa Analisis catatan bahan
Semua perubahan atas produk yang ditolk sisa untuk
spesifikasi harus sudah dikembalikan menentukan apakah
dikirim segera ke dan dibebankan ke produk-produk
departemen inspeksi pemasok berkualitas rendah
penerimaan telah dipesan atau
diterima

5. Audit SMART

Konsep audit SMART dikembangkan oleh operasi audit pada Carolina Power and Light,
salah satu perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat. SMART merupakan singkatan dari
Selective Monitoring and Assesment of Risk and Trends (pengawasan dan penentuan selektif
atas risiko dan tren). Metode ini merupakan gabungan penentuan risiko dan audit analitis.
Terdapat empat tahap dalam metode ini, yaitu :

1) Pemilihan bidang-bidang kunci untuk pengawasan dan penentuan.


2) Pengembangan indikator-indikator kunci untuk pengawasan dan pengembangan.
3) Implementasi.
4) Pemeliharaan teknik-teknik audit SMART.
Hal ini mencakup 3 elemen yaitu :
a. Penugasan aktivitas-aktivitas audit SMART ke masing-maisng anggota tim
b. Mengupayakan pendokumentasian yang layak dan penyimpanan tersentralisasi
c. Evaluasi periodik atas aktivitas audit
d. Pertimbangan penggunaannya selama proses perencanaan audit tahunan

Berikut manfaat dari metode audit SMART ini diantaranya :

1) Meningkatkan upaya audit


2) Memperbanyak audit yang efektif
3) Identifikasi masalah secara tepat waktu
4) Meningkatkan deteksi kecurangan
5) Meningkatkan perencanaan audit tahunan

6. Unsur-Unsur Standar Pekerjaan Lapangan


Standar Pekerjaan Lapangan merupakan salah satu dari tiga Standar Auditing yang Berlaku
Umum. Standar ini sangat berperan penting dalam suksesnya proses audit yang dijalankan
hingga didapatnya hasil temuan audit. Standar pekerjaan lapangan terdiri dari tiga, yaitu:
a. Standar Pertama
Standar pekerjaan lapangan pertama berbunyi:
“Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.”
Penunjukan secara dini memungkinkan auditor merencanakan pekerjaannya sedemikian
rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien serta dapat
menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan sebelum tanggal laporan posisi
keuangan (Standar Profesional Akuntan Publik SA Seksi 310:2011).
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai tujuan audit dan
penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada
asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang dijumpai dalam
audit, me-review pekerjaan yang dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat di antara
staf audit dalam kantor akuntan. Luasnya supervisi memadai dalam suatu keadaan tergantung
atas banyak faktor, termasuk komplesitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan
audit (Standar Profesional Akuntan Publik,SA Seksi 311:2011). Poin standar pekerjaan lapangan
yang pertama adalah pedoman bagi auditor dalam membuat perencanaan dan melakukan
supervise.
1) Penunjukan Auditor Independen
Pertimbangan atas standar pekerjaan lapangan pertama memicu kesadaran bahwa
penunjukan auditor independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi
auditor maupun klien. Penunjukan secara dini memungkinkan auditor merencanakan
pekerjaannya sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan
cepat dan efisien serta dapat menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat
dilaksanakan sebelum tanggal neraca.
2) Perencanaan Dan Supervisi
Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan
lingkup audit yang diharapkan. Sifat, lingkup, dan saat perencanaan bervariasi dengan
ukuran dan kompleksitas entitas, pengalaman mengenai entitas, dan pengetahuan tentang
bisnis entitas. Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain:
a. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat
entitas tersebut.
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
c. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi
yang signifikan.
d. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
e. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
f. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit,
seperti risiko kekeliruan atau kecurangan yang material atau adanya transaksi antar
pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
g. Sifat laporan auditor yang diharapkan diserahkan (sebagai contoh, laporan auditor
tentang laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan yang diserahkan ke
Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak
perjanjian).
3) Supervisi
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai tujuan audit dan
penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi
kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang
dijumpai dalam audit, mereview pekerjaan yang dilaksanakan, dan menyelesaikan
perbedaan pendapat di antara staf audit kantor akuntan. Luasnya supervisi memadai
dalam suatu keadaan tergantung atas banyak faktor, termasuk kompleksitas masalah dan
kualifikasi orang yang melaksanakan audit.
Auditor bertanggung jawab kepada auditnya dan asistennya harus menyadari
prosedur yang harus diikuti jika terdapat perbedaan pendapat mengenai masalah
akuntansi dan auditing di antara personel kantor akuntan publik yang terlibat dalam audit.
Prosedur tersebut harus memungkinkan asisten mendokumentasikan ketidaksetujuan di
antara mereka dan kesimpulan yang diambil setelah konsultasi memadai.
b. Standar Kedua
Standar pekerjaan lapangan kedua berbunyi:
“Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.”
Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, lingkup, dan saat
pekerjaan yang harus dilaksanakan dan harus membuat suatu program audit secara tertulis (atau
set program audit tertulis) untuk setiap audit. Program audit harus menjelaskan dengan rinci
prosedur audit yang menurut keyakinan auditor diperlukan untuk mencapai tujuan audit. Bentuk
program audit dan tingkat kerinciannya sangat bervariasi sesuai dengan keadaan entitas atau
organisasi. Dalam mengembangkan program audit, auditor harus diarahkan oleh hasil
pertimbangan dan prosedur perencanaan auditnya. Selama berlangsungnya audit, perubahan
kondisi dapat menyebabkan diperlukannya perubahan prosedur audit yang telah direncanakan
tersebut (Standar Profesional Akuntan Publik,SA Seksi 311:2011). Poin dalam standar pekerjaan
lapangan yang kedua adalah unsur-unsur terkait pengendalian intern dan cara auditor
mempertimbangkan pengendalian intern dalam melaksanakan suatu audit.
1) Penentuan Resiko Dan Sistem Pengendalian Internal
Struktur Pengendalian Intern merupakan struktur organisasi terkait semua cara dan
tindakan yang terkoordinir serta yang ditetapkan dalam satu perusahaan untuk
mengamankan/melindungi hartanya, menguji kecermatan dan kebenaran data
pembukuan, meningkatkan efisiensi operasi, serta mendorong ditaatinya kebijakan
manajemen.
Tujuan dari SPI itu sendiri adalah:
a. Menjaga kekayaan organisasi.
b. Menjamin keandalan data akuntansi.
c. Meningkatkan efisiensi kinerja.
d. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Dari Pemahaman tentang SPI, Auditor beranjak ke tahap selanjutnya, yaitu Cara
menaksir risiko atau penilaian resiko. Penilaian Resiko adalah tindakan yang
dilakukan manajemen untuk mengidentifikai dan menganalisis resiko-resiko yang
relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan GAAP. Ada tiga
resiko audit, Resiko Bawaan, Resiko Pengendalian, dan Resiko Deteksi.
c. Standar Ketiga
Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi:
“Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan
keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit.”
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas
laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti audit. Ukuran
keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor
independen, dalam hal ini bukti audit (audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal
evidence) yang diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi
pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka
memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Relevansi, obejktivitas, ketepatan
waktu, dan keberadaan bukti lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh
terhadap kompetensi bukti (Standar Profesional Akuntan Publik, SA Seksi 326:2011).
Poin standar audit yang ketiga adalah terkait cara-cara yang harus dilakukan oleh auditor
dalam mengumpulkan bahan bukti yang cukup dan kompeten untuk mendukung pendapat yang
harus diberikan auditor terhadap kewajaran laporan keuangan yang diaudit.
1) Bukti Audit
Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung data yang disajikan dalam
laporan keuangan, yang terdiri dari data akuntansi dan informasi pendukung lainnya, yang
dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya mengenai
kewajaran laporan keuangan tersebut. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui
inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit “.
2) Program Audit
Maksud suatu program audit adalah mengatur secara sistematis prosedur audit yang
akan dilaksankan selama audit berlangsung. Program audit tersebut menyatakan bahwa
prosedur audit yang diyakini oleh auditor merupakan hal yang penting untuk mencapai
tujuan audit. Program audit juga mendokumentasikan strategi audit. Biasanya auditor
berusaha menyeimbangkan prosedur audit top-down dan bottom-up ketika
mengembangkan suatu program audit. Jenis pengujian yang termasuk dalam program
audit meliputi:
a. Prosedur Analitis: Prosedur ini meneliti hubungan yang dapat diterima antara data
keuangan dan data non-keuangan untuk mengembangkan harapan atas saldo
laporan keuangan.
b. Prosedur awal: Yakni prosedur untuk memperoleh pemahaman atas (1) faktor
persaingan bisnis dan industri klien, (2) struktur pengendalian internnya. Auditor
juga melaksanakan prosedur awal untuk memastikan bahwa catatan-catatan dalam
buku pembantu sesuai dengan akun pengendali dalam buku besar.
c. Pengujian Estimasi Akuntansi: Pengujian ini meliputi pengujian subtantif atas
saldo.
d. Pengujian pengendalian Adalah pengujian pengendalain intern yang ditetapkan oleh
strategi audit dari auditor.
e. Pengujian transaksi: pengujian substantif yang terutama meliputi tracing atau
vouching transaksi berdasarkan bukti dokumenter yang mendasari.
f. Pengujian Saldo: Berfokus pada perolehan bukti secara langsung tentang saldo akun
serta item-item yang membentuk saldo tersebut.
g. Pengujian penyajian dan pengungkapan: Mengevaluasi penyajian secara wajar
semua pengungkapan yang dipersyaratkan oleh GAAP.
3) Kertas Kerja Audit (Working Paper)
Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperoleh akuntan selama
melakukan pemeriksaan dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah
dilaksanakan, metode dan prosedur pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulan-
kesimpulan yang telah dibuatnya. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit:
a. Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengauditan.
b. Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan
yang diauditnya.
c. Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya.
d. Sebagai Pedoman dalam pengauditan berikutnya.
Contoh kertas kerja antara lain: Catatan memo; Hasil analisa jawaban konfirmasi, Clients
Representation Letter; Komentar yang dibuat atau didapat oleh akuntan pemeriksa;
Tembusan (copy) dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang diperoleh ataupun
yang didapat dari klien dan diverifikasi oleh akuntan. Dengan kata lain kertas kerja audit
dapat berasal dari pihak klien, hasil analisis yang dibuat auditor atau dari pihak ketiga
yang independen baik secara langsung maupun tidak langsung.
a. Berkas kertas kerja yang berasal dari klien dapat berupa: Neraca Saldo (Trial
balance), Rekonsiliasi bank (Bank reconciliation), Rincian Biaya Penjualan.
b. Hasil analisis yang dibuat oleh auditor, misalnya: Berita Acara Kas Opname (Cash
Count Sheet), Internal Control Questionare dan evaluasi serta hasil analisis
pengendalian interen.
c. Berkas yang diperoleh dari pihak ketiga yang independen meliputi antara lain: Hasil
konfirmasi piutang, Hasil konfirmasi utang.
7. Tahap-Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Lapangan
Proses audit terdiri dari enam tahap (Zamzami, Faiz:2010), yaitu:
a. Persiapan Penugasan Audit
Persiapan penugasan audit adalah proses awal yang dilaksanakan pada proses audit.
Dalam tahap ini dimulai dengan penunjukan tim yang akan terlibat dalam suatu penugasan oleh
satuan audit internal. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tim yang akan melaksanakan tugas di
suatu unit mempunyai payung hukum yang kuat bahwa tim tersebut melaksanakan audit atas
perintah dari atas dan bukan karena kehendak pribadi. Selain itu Auditor harus mengarahkan
perhatian mereka ke pekerjaan sendiri dan bagaimana melakukannya tertuang dalam rencana
strategis. Bagian-bagian rencana strategis ini mencakup :
1) Kebutuhan pegawai.
2) Kebutuhan sumber daya dari luar.
3) Pengorganisasian staf audit.
4) Wewenang dan tanggungjawab.
5) Struktur pekerjaan lapangan.
6) Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan.
7) Metode pekerjaan lapangan.
8) Metode pendokumentasian.
9) Penyiapan laporan.
10) Rencana kontijensi.

Konsep strategis audit ini, yang merupakan bagian integral dari proses perencanaan,
berlaku untuk semua organisasi audit apapun ukurannya. Pada organisasi berskala kecil, aspek
yang berhubungan dengan staf seperti pengorganisasian staf, wewenang dan tanggungjawab,
serta kebutuhan pegawai memiliki penerapan yang minimum.

Sebenarnya masih terdapat bagian-bagian lain, namun yang ada di daftar tersebut adalah
yang paling penting. Bagian-bagian tersebut harus dikembangkan cukup rinci di awal kerja dan
haruslah cukup fleksibel untuk dimodifikasi begitu pekerjaan berlangsung. Bagian-bagian ini
secara rinci adalah:

Kebutuhan pegawai. Penting untuk merencanakan jumlah dan kualifikasi staf yang akan
melakukan audit. Hal ini mencakup pengidentifikasian keahlian, pengalaman, dan disiplin ilmu
yang dibutuhkan untuk melakukan audit dengan layak. Juga termasuk sumber daya internal dari
aset-aset ini dan pekerjaan tertentu yang akan mereka kerjakan. Hal-hal khusus yang juga
penting adalah pengidentifikasian dukungan ahli yang dibutuhkan staf pendukung seperti ahli
statistik, ahli aktuaria, dan ahli TI yang canggih.

Kebutuhan sumber daya dari luar. Bila staf audit yang ada tidak memiliki keahlian
khusus, maka didapat dari sumber di luar perusahaan. Termasuk didalamnya adalah keahlian di
bidang produksi, ekonomi, kesehatan, pekerjaan sosial, psikologi, pendidikan, dan analisis
operasi, juga kebutuhan sumber dari luar dan kemitraan. Sumber-sumber tersebut harus
diidentifikasikan dan dibuat estimasi seberapa besar penggunaan sumber-sumber ini akan
dibutuhkan, dan jika mungkin, dibuat estimasi biaya kapan dan dimana jasa-jasa ini akan
dibutuhkan serta kesuaiannya dengan anggaran.

Pengorganisasian staf audit. Sebuah rencana organisasi dari fungsi lini audit dibutuhkan
di sini. Rencana tersebut harus diidentifikasi sebagai rencana berbentuk ramping (dengan lapisan
supervise yang terbatas) atau gemuk (banyak lapisan supervise) tergantung pada kompleksitas
kerja dan rentang kontrol yang dibutuhkan. Rencana tersebut harus mengidentifikasikan bagian
mana dari organisasi audit yang akan melakukan jenis audit yang berbeda, seperti audit
keuangan, efisiensi, efektivitas, keamanan aset, dan ketaatan serta rencana struktur audit seperti:
berdasarkan fungsi, produk, lokasi, atau organisasi. Jika audit membutuhkan dukungan staf audit
khusus, aspek organisasi audit ini harus dirancang untuk keahlian khusus yang dibutuhkan
beserta jumlahnya.

Wewenang dan tanggung jawab. Bagian terkait dengan struktur komando dari tim
audit. Hal ini berkaitan erat dengan bagian sebelumnya dan mendefinisikan berbagai aspek
tanggung jawab seperti manajemen personalia, fungsi-fungsi teknis, aspek administrasi, dan hal-
hal yang berhubungan dengan fiskal. Hal ini juga mencakup alur wewenang yang berkaitan dan
secara khusus menggambarkan otorisasi yang didelegasikan ke setiap lini dan staf dalam tim
audit.

Struktur pekerjaan lapangan. Pada bagian ini, urut-urutan program audit direncanakan.
Aktivitas yang berurutan saling berhubungan untuk meyakinkan bahwa terdapat susunan alur
kerja. Jadi, staf yang ditugaskan pada aktivitas tertentu tidak harus menunggu auditor lainnya
menyelesaikan aktivitasnya. Sistem analitis seperti Teknik Evaluasi dan Penelaahan Program
(Program Evaluation and Review Technique-PERT atau CPM) bisa digunakan. Aktivitas-
aktivitas ini diidentifikasikan dalam subuah diagram dengan simbol-simbol yang berhubungan
untuk menunjukan tahapan. Penghubungan harus mencakup estimasi waktu yang dibutuhkan
untuk aktivitas tersebut dan juga bisa mencakup biayanya.

Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan. Proses membuat struktur pekerjaan lapangan


memunculkan waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan. Karena aktivitas-aktivitas akan dilakukan
bersamaan dengan aktivitas lainnya, maka penting untuk menggunakan teknik seperti PERT
untuk mencapai estimasi tahap-tahap kerja dan waktu keseluruhan. Estimasi waktu harus
mencakup kebutuhan waktu untuk aspek administratif sepert penghubung antarkelompok dan
dalam kelompok, kebutuhan waktu untuk kegiatan non operasi dan pendokumentasian serta
penulisan draf laporan audit berisi hasil-hasil pekerjaan lapangan. Estimasi aktivitas yang dibuat
akan didasarkan pada pengalaman dan standar operasi untuk jenis-jenis pekerjaan audit yang
berbeda, pada saat bisa diidentifikasi. Jika operasi PERT dikomputerisasi, sebagaimana yang
kebanyakan dilakukan, perubahan estimasi waktu actual dapat dimasukkan ke dalam program
dan modifikasi atas keseluruhan estimasi bisa segera dihasilkan.

Metode perkerjaan lapangan. Ada 6 metode yang biasa digunakan dalam pekerjaan
lapangan, yang akan dijelaskan kemudian dalam bab ini:

1) Observasi.
2) Konfirmasi.
3) Verifikasi.
4) Investigasi.
5) Analisis.
6) Evaluasi.

Penting bagi auditor untuk menentukan metode atau metode-metode yang akan paling
banyak digunakan dalam proses pekerjaan lapangan. Beberapa metode seperti konfirmasi,
mungkin membutuhkan persiapan terlebih dahulu. Misalnya, metode tersebut mungkin
membutuhkan pengenmbangan metodologi untuk pemilihan populasi yang diambil, penyiapan
alat konfirmasi, dan pembuatan perangkat lunak computer untuk memproses hasilnya. Beberapa
pekerjaan lapangan mungkin membutuhkan lebih dari satu metode dan perencanaannya harus
melibatkan ebberapa metode.

Metode Pendokumentasian. Bagian ini melibatkan akumulasi bahan bukti dan


penyiapan kertas kerja. Bagian ini membutuhkan antisipasi hasil-hasil metode pekerjaan
lapangan dan juga penggunaan akhir dari audit. Meskipun selalu dibutuhkan kecermatan dalam
proses pendokumentasian, jika terdapat kemungkinan litigasi atau tindakan hokum, bahan bukti
tersebut harus dalam bentuk yang secara hukum bisa digunakan dan ditangani oleh metode yang
dapat diterima secara hukum. Juga, harus bisa mendukung rekomendasi yang dihasilkan dari
temuan-temuan audit. Auditor harus mengantisipasi resistensi terhadap rekomendasi-
rekomendasi ini dan punya cukup amunisi untuk mengetahuinya.

Penyiapan laporan. Struktur laporan seringkali dirancang pada awal proses audit.
Survey pendahuluan seringkali akan mengidentifikasi hal-hal penting yang akan menjadi arah
audit. Survey juga akan memberikan beberapa indikais mengenai hal-hal yang akan ditemukan.
Disisi lain, beberapa penugasan audit dikhususkan untuk memeriksa hal-hal, aktivitas, atau
kondisi-kondisi khusus. Dalam hal ini, pengorganisasian audit mungkin memberikan kerangka
laporan audit.

Rencana kontinjensi. Hanya sedikit aktivitas yang akan berjalan sesuai rencana. Oleh
karena itu, rencana harus menyediakan kontijensi. Rencana harus memuat kondisi terbaik yang
bisa dicapai, yang biasa, dan yang terburuk. Kontijensi harus diantisipasi dan kerangka harus
dipersiapkan untuk kondisi-kondisi :

1) Kekurangan staf.
2) Tidak ada bahan yang bisa diaudit.
3) Indikasi bahwa kondisi proyek tidak material.
4) Indikasi mendadak tentang adanya kecurangan atau kejahatan.
5) Halangan dan material dari klien.
6) Kerusakan computer atau masalah perangkat lunak.
7) Campur tangan manajemen puncak.
8) Penarikan sumber daya audit.
9) Kemajuan pekerjaang yang mungkin akan melebihi anggaran.
Audit harus direncakan sehingga situasi di atas yang mungkin akan terjadi memiliki
alternative tindakan yang bisa diambil, dengan mempertimbangkan situasi yang biasa atau yang
buruk.

b. Survey Audit Pendahuluan


Survey pendahuluan merupakan proses yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman
yang mendalam mengenai risiko dari suatu unit yang akan diperiksa. Terdapat dua klasifikasi
utama dari teknik-teknik audit pada tahap survey pendahuluan, yaitu yang berkaitan dengan
langkah-langkah survey pendahuluan di kantor unit auditor internal (on desk/off site audit), dan
di lokasi unit yang diaudit (on site audit). Dari tahap ini diperoleh latar belakang dan informasi
umum atas kegiatan yang bersangkutan, yang mendasari pemilihan sasaran alternative
pemeriksaan (tentative audit objective) melalui berbagai teknik dan pengujian terbatas.

c. Pelaksanaan Pengujian
Pada tahap pelaksanaan pengujian ini auditor perlu mencari bukti yang akan menguatkan
informasi yang diperoleh pada survey pendahuluan tersebut. Bukti audit yang cukup, kompeten,
relevan dan catatan lainnya. Auditor internal harus mengumpulkan, menganalisis,
menginterprestasikan dan membuktikan kebenaran informasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

1) Mengumpulkan berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan,
sasaran dan ruang lingkup pemeriksaan.
2) Informasi harus mencukupi, dapat dipercaya, relevan dan berguna sebagai dasar yang
logis bagi temuan audit dan rekomendasi.
3) Prosedur pemeriksaan, termasuk teknik pengujian dan penarikan sampel yang
dipergunakan, harus terlebih dahulu diseleksi bila memungkinkan dan diperluas/diubah
bila keadaan menghendaki demikian.
4) Proses pengumpulan, analisis, penafsiran dan pembuktian kebenaran informasi haruslah
diawasi untuk memberikan kepastian bahwa sikap objektif pemeriksa terus dijaga dan
sasaran pemeriksaan dapat dipercaya.
5) Menyiapkan kertas kerja pemeriksaan (audit working paper). Kertas kerja pemeriksaan
adalah dokumen pemeriksaan yang harus dibuat oleh auditor dan ditinjau/direview oleh
manajer auditor internal. Kertas kerja pemeriksaan harus mencantumkan berbagai
informasi yang diperoleh dan telah dianalisis serta harus mendukung dasar temuan audit
dan rekomendasi yang akan dilaporkan.
d. Penyelesaian Penugasan Audit
Penyelesaian penugasan audit ini merupakan tahapan terakhir dari proses pekerjaan
lapangan. Dalam tahap ini auditor mematangkan berbagai temuan yang telah dirangkum selama
proses pekerjaan lapangan, auditor mengembangkan temuan audit, yaitu hal-hal yang berkaitan
dengan pernyataan tentang fakta baik yang bersifat positif maupun negatif/eksepsi/defisiensi.
Temuan audit yang bersifat negatif (eksepsi) merepresentasikan area yang memiliki tingkat
risiko yang tinggi, sehingga auditor biasanya memberikan rekomendasi untuk memperbaiki
pengendalian/sistem/operasional organisasi berdasarkan eksepsi tersebut. Dalam pelaporan hasil
audit, baik temuan yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif harus disajikan secara
berimbang/proporsional. Namun demikian tidak setiap temuan defisiensi/eksepsi layak untuk
dilaporkan, sebab mungkin temuan tersebut tidak signifikan atau tidak bernilai. Oleh karena itu
auditor perlu memperhatikan karakteristik temuan defisiensi/eksepsi yang layak untuk
dilaporkan. Selengkapnya Di sini auditor memperoleh keyakinan yang memadai bahwa temuan
yang dirangkumnya telah dijalankan sesuai prosedur, obyektif dan independen. Setelah pekerjaan
lapangan diselesaikan

e. Pelaporan hasil audit

Laporan hasil audit ini merupakan media untuk menyampaikan permasalahan serta
temuan berikut dengan rekomendasi yang terdapat dalam suatu unit kepada manajemen unit
tersebut. Auditor internal harus melaporkan hasil-hasil pemeriksaan yang dilakukannya atau
yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaannya. Proses penyampaian hasil pemeriksaan meliputi
hal-hal sebagai berikut:
1) Menerbitkan laporan hasil pemeriksaan
2) Auditor internal harus terlebih dahulu mendiskusikan berbagai kesimpulan dan
rekomendasi dengan tingkatan manajemen yang tepat, sebelum mengeluarkan laporan
akhir.
3) Laporan harus objektif, jelas, singkat, konstruktif dan tepat waktu.
4) Laporan harus mengemukakan tentang maksud, lingkup dan hasil pelaksanaan
pemeriksaan, dan bila dipandang perlu, laporan harus pula berisikan pernyataan tentang
pendapat pemeriksaan.
5) Laporan dapat mencantumkan berbagai rekomendasi bagi berbagai perkembangan yang
mungkin dicapai, pengakuan terhadap kegiatan atau dilaksanakan secara meluas dan
tindakan korektif.
6) Pandangan dari pihak yang diperiksa tentang berbagai kesimpulan atau rekomendasi,
dapat pula dicantumkan dalam laporan pemeriksaan.
7) Pengujian auditor internal dan staf yang ditunjuk harus mereview dan menyetujui laporan
pemeriksaan akhir, sebelum laporan tersebut dikeluarkan, dan menentukan kepada siapa
laporan tersebut akan disampaikan.

f. Pemantauan tindak lanjut


Auditor internal harus terus menerus meninjau atau melakukan tindak lanjut (follow up)
untuk memastikan bahwa terhadap temuan temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan
tindakan yang tepat. Auditor internal harus memastikan apakah suatu tindakan korektif yang
diusulkan telah dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan, atau apakah
manajemen telah mempertimbangkan masak-masak atas resiko yang telah disampaikan dalam
laporan hasil audit. Tindak lanjut dilaksanakan berdasarkan kesepakatan yang telah disetujui
oleh auditee terkait dengan pelaksanaan rekomendasi yang telah diberikan.

Sumber:

Haryono Jusup, Al. 2012. Auditing Pengauditan Berbasis ISA, edisi ke-2. Yogyakarta: STIE
YKPN
Halim, Abdul.2008. Auditing: Dasar-dasar Audit Laporan Keuangan,Edisi 4.Yogyakarta: Unit
Penertbit dan Percetakan STIM YKPN.
Standar Profesional Akuntan Publik. 31 Maret 2011. Jakarta : Penerbit Salemba Empat

Sawyer.B.Lawrence. Auditing., edisi 5. Jakarta

Beri Nilai