Anda di halaman 1dari 82

MAKALAH

PERANCANGAN
BEJANA TEKAN HORISONTAL

Yang disusun oleh :

OGY RISKY JUWANTORO (14.11.106.701201.2164) b2

ABU BAKAR MUHADI (14.11.106.701201.21..)

TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS BALIKPAPAN
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR NOTASI xii
DAFTAR PUSTAKA 70

BAB I PENDAHULUAN 1
I.1 Latar belakang 1
I.2 Maksud dan Tujuan penulisan 2
I.3 Ruang lingkup permasalahan 2
I.4 Pembatasan masalah 3
I.5 Metodologi penulisan 3
I.6 Sistematika penulisan 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6


II.1 Mengenal Bejana ( Vessel ) 6
II.2 Macam dan jenis Bejana 6
II.2.1 Bejana Terbuka ( Open Vessel ) 7
II.2.2 Bejana Tertutup ( Closed Vessel ) 8
II.2.2.1 Bejana berbentuk bola ataupun yang telah dimodifikasi
( Spherical or modified spherical vessel ) 9
II.2.2.2 Bejana silindris dengan alas rata dan atap bundar atau berbentuk
kerucut ( Cylindrical vessel with flat bottom and conical or
domed roof ) 11

vi
II.2.2.3 Bejana silindris dengan ujung-ujung yang dibentuk ( Cylindrical
vessel with formed ends ) 13
II.3 Kekuatan Bahan 15
II.3.1 Tegangan 15
II.3.2 Regangan 16
II.3.3 Diagram Tegangan-Regangan Dengan Karakteristik Batas Lumer 16
II.3.4 Hukum Hook 17
II.4 Bejana Tekan ( Pressure vessel ) 18
II.4.1 Fungsi Bejana Tekan 18
II.4.2 Komponen-komponen pada bejana tekan 19
II.4.2.1 Komponen Utama 20
II.4.2.1.1 Dinding Bejana ( Shell ) 20
II.4.2.1.1.1 Perhitungan ketebalan minimum dinding shell

berdasarkan perhitungan teoritis 21

II.4.2.1.1.2 Perhitungan tekanan ( stress ) pada dinding ( shell )


silinder 23
II.4.2.1.1.3 Perhitungan ketebalan dan tekanan pada dinding silinder

(Shell) berdasarkan standart ASME Section VIII div 1 24

II.4.2.1.1.4 Perhitungan Volume dinding silinder ( Shell ) 25

II.4.2.1.1.5 Perhitungan luas permukaan dinding silinder ( Shell ) 26

II.4.2.1.2 Penutup Bejana ( Head ) 27

II.4.2.1.2.1 Bola atau Setengah Bola ( Sphere or Hemispherical Head) 28

II.4.2.1.2.2 Setengah Elips ( Ellipsoidal Head ) 29

II.4.2.1.2.3 Kerucut atau Tirus ( Cone or Conical Head) 31

II.4.2.1.2.4 Lekukan ASME atau bentuk Pinggan (ASME Flanged or

Dished head) atau Torispherical Head. 32

II.4.2.1.3 Nosel (Nozzle) 35

II.4.2.1.3.1 Perhitungan Proyeksi Nosel pada silinder 37

II.4.2.1.3.2 Perhitungan Pelat Penguat nosel ( Reinforcement pad ) 38

vii
II.4.2.2 Komponen Aksesoris atau Tambahan 39

II.4.2.2.1 Pelat Pengangkat (Lifting Lug) 39

II.4.2.2.2 Ring Penguat (Stiffening Ring) 40

II.4.2.2.3 Jaket (Jacket) 40

II.4.2.2.4 Penyangga (Support) 41

II.4.2.2.4.1 Saddle Support 42

II.4.2.2.4.2 Leg Support 42

II.4.2.2.4.3 Lug Support 43

BAB III DATA PERANCANGAN 44

III.1 Karakteristik Umum 44

III.2 Isi : Kondesat + Air + Gas 45

III.3 Bejana ( Vessel ) 45

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN 47

IV.1 Perhitungan pada Shell 47

IV.1.1 Analisa perhitungan tegangan pada Shell akibat bentukan 47

IV.1.2 Analisa perhitungan ketebalan minimum dan tekanan maksimum

yang dapat diterima Shell 48

IV.2 Perhitungan pada Head 51

IV.2.1 Analisa perhitungan ketebalan minimum dan tekanan maksimum

yang dapat diterima Head 51

IV.3 Perhitungan Dimensi Head dan Shell 53

IV.3.1 Perhitungan Volume Elipptical 2:1 Head 53

IV.3.2 Perhitungan volume Shell 54

viii
IV.3.3 Perhitungan panjang Shell 54

IV.3.4 Perhitungan luas permukaan ( Surface area ) shell 55

IV.4 Perhitungan pada Nozel 56

IV.4.1 Dimensi Flange 57

IV.4.2 Perhitungan pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) 59

IV.4.2.1 Perhitungan ketebalan minimum Pipa leher nosel

( Nozzle Neck Pipe ) 60

IV.4.3 Perhitungan pelat penguat ( Reinforcement pad ) 63

IV.5 Penentuan posisi Nosel terhadap bejana tekan berdasarkan

fungsinya. 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 67


V.1 Kesimpulan Hasil Perhitungan Mekanikal Pada Bejana Tekan 67
V.2 Saran 69
LAMPIRAN-LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL

Tabel : Halaman

1. Nilai faktor pengali “ M “ 31

2. Volume of Shell and Head 50

3. Dimensi Flange untuk pembebenan 150 lb 54

4. Chemical Requirements for material A 516 ( Carbon Steel ) 56

5. Chemical Requirements for material A 106 ( Carbon Steel seamless pipe ) 56

6. Perbandingan ketebalan pipa standar dengan ketebalan pipa min yang

diijinkan 60

x
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Bejana berbentuk bola ( Spherical ) dan Jenis Noded Spherical……………. 9
2. Dua buah Multisphere sebagai bejana penyimpanan Nitrogen dengan
dengan tekanan kerja dibawah 400 lb per sq in……………………………… 10
3. Tangki penyimpanan bahan bakar (bensin) kapasitas 20.000 bbl, dirancang
untuk menerima tekanan kerja 2 ½ lb per sq in……………………………… 11
4. Bejana silindris dengan alas rata dan atap mengambang berbentuk kerucut
(Cylindrical vessel with flat bottom and conical floating roof)...................................12
5. Bejana silindris horisontal dengan ujung-ujung yang dibentuk
(Horizontal cylindrical l vessel with formed ends)..........................................................13
6. Bejana jenis Field-ereccted dengan dasar dan atap berbentuk kerucut,
yang mempunyai diameter hingga 30 ft.............................................................................14
7. Contoh Bejana Tekan Horisontal (Horizontal Pressure Vessel)....................................18
8. Komponen utama dan komponen tambahan pada bejana tekan....................................20
9. Beberapa bentuk Head yang umum digunakan..................................................................27
10. Beberapa posisi nosel pada bejana tekan yang akan diinstalasikan
dengan jaringan pipa..................................................................................................................35
11. Beberapa jenis Nosel atau flange yang umum digunakan..............................................36
12. Beberapa lokasi manhole pada bejana tekan yang disesuaikan dengan
akses perawatan pada suatu platform..................................................................................37
13. Beberapa bentuk dan lokasi Pelat pengangkat (lifting lug) pada bejana tekan 40
14. Bejana Tekan tanpa dilengkapi dengan Stiffening Ring dan Bejana Tekan
yang dilengkapi dengan Stiffening Ring.............................................................................40
15. Bejana Tekan dengan Jacket pelindung panas...................................................................41
16. Bejana Tekan Horisontal dengan penyangga jenis Saddle.............................................42
17. Bejana Tekan Vertikal dengan penyangga jenis Leg........................................................43
18. Bejana Tekan Vertikal dengan penyangga jenis Lug........................................................43

xi
DAFTAR NOTASI

2
A = Luas area penguat yang diperlukan, in
2
A1 = Luas area penguat yang tersedia akibat kelebihan pada shell, in
2
A2 = Luas area penguat yang tersedia akibat kelebihan pada pipa leher nosel, in
2
A3 = Luas area penguat yang tersedia pada proyeksi dalam, in
2
A4 = Luas area penguat pada potongan pengelasan, in

Ap1 = Luas permukaan 1

Ap2 = Luas permukaan 2

2
Apstd = Luas standar pelat yang tersedia, in
2
Ashell = Luas area permukaan kulit dinding bejana ( surface area ), in
2
At = Luas pelat yang diperlukan, in
C.A = Nilai korosi yang terjadi ( Corrosion Allowance ), in

D = Diameter nominal, in

Di = Diameter dalam ( inside diameter ), in

DiCA = Di + 2CA , ( inside diameter CA incl ), in

Dip = Diameter dalam pipa leher nosel, in

Do = Diameter luar ( outside diameter ), in

E = effisiensi sambungan ( joint efficiency )

Ip = Proyeksi dalam ( internal projection ), in

l = Panjang dinding bejana ( shell ), in

Li = Radius dalam kubah ( inside crown radius ), in

LiCA = Li + CA ,( inside crown radius CA incl ), in

Lo = Radius luar kubah ( outside crown radius ), in

M = Faktor pengali
xii
P = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

Pmax = Tekanan kerja maximum yang diijinkan ( maximum allowable working pressure ), psi

r = Radius dalam knucle ( inside knucle radius ), in

Ri = Jari-jari dalam ( inside radius ), in

RiCA = Ri + CA , ( inside radius CA incl ), in

Rin = Jari-jari dalam nosel, in

Rp = Jari-jari dalam pipa leher nosel, in

ro = Radius luar nosel, in

S = Nilai tegangan material ( material stress value ), psi

S1 = Longitudinal stress, psi

S2 = Circumferential ( hoop ) stress, psi

tca = Ketebalan dinding shell, corrosion allowance termasuk, in

tmin = Ketebalan minimum yang diperlukan, in

tnom = Ketebalan nominal,in

tpad = Tebal pelat penguat, in

3
Vhead = Volume / kapasitas penutup ( head ), in

Vshell = Volume / kapasitas silinder ( shell ), in3

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Banyaknya jenis peralatan (equipment) penunjang yang diperlukan untuk memperlancar

proses eksplorasi, penyaluran pengolahan dan juga penyimpanan dalam suatu industri

hydrocarbon, mengakibatkan suatu industri rancang bangun yang berkonsentrasi pada industri

kimia pasti akan melibatkan aplikasi ilmu pengetahuan dalam suatu proses industri yang secara

khusus terkait dengan konversi suatu material terhadap material lain, baik secara bahan kimia

maupun secara phisik. Dalam pemrosesannya akan dibutuhkan suatu sistem pengolahan dan

penyimpanan material dengan sekala besar, oleh sebab itu dibutuhkan kontainer dengan

konstruksi yang bervariasi, dan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia serta sifat fisik dari

material yang akan disimpan atau diolah, jenis pengolahan dan operasi yang akan dilaksanakan

terhadap material juga sangat mempengaruhi pemilihan konstruksi kontainer yang akan

digunakan. Untuk memproses material yang berupa zat cair (Fluids) dan gas (Gases), konstruksi

kontainer yang digunakan adalah Bejana (Vessel). Beberapa peralatan proses yang digunakan

merupakan suatu Bejana yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan fungsi yang diperlukan

dari suatu unit peralatan proses agar dapat digunakan untuk melaksanakan suatu proses

pengolahan atau penyimpanan.. Sebagai contoh, sebuah ruang penyulingan atau penyerapan

akan ditambahkan pada suatu bejana yang memproses dan bersentuhan dengan uap air; sebuah

mesin pemindah panas (Heat Exchanger) akan dipertimbangkan menggunakan bejana yang

sesuai dengan proses perpindahan panas yang diperlukan pada sepanjang dinding Tube; dan

untuk mendapatkan suatu fungsi Evaporator maka akan dirancang suatu Bejana yang memiliki

pemindah panas yang dikombinasikan dengan ruangan pelepas uap air. Ketepatan dan ketelitian

dalam merancang suatu bejana sangat penting, karena bejana adalah peralatan dasar (Basic

Equipment) bagi sebagian besar peralatan proses (Procces Equipment), yang pada

1
umumnya berhubungan dengan tekanan dan temperatur yang cukup tinggi dalam suatu industi

kimia pada umumnya dan khususnya pada industri hydrocarbon .

I.2 Maksud dan Tujuan penulisan

Secara umum maksud dan tujuan yang ingin dicapai adalah agar dapat menerapkan ilmu

yang berhubungan dengan mata kuliah teknik mesin yang telah didapatkan selama kuliah di

Universitas Mercu Buana-Jakarta.

Tujuan khusus dari perancangan bejana tekan ( pressure vessel ) ini ialah agar didapatkan

suatu bejana tekan yang sesuai dengan parameter – parameter yang ditentukan yang sesuai

dengan standar ASME Section VIII pada suatu proses produksi pada industri. Metoda

perhitungan dapat dijadikan sebagai dasar perancangan bejana tekan yang sesuai dengan standar

ASME Section VIII , serta parameter - parameter yang ditentukan.

I.3 Ruang lingkup permasalahan

Dalam perancangannya, bejana tekan (pressure vessel) memiliki standar yang harus

digunakan, seperti ASME Section VIII , serta parameter-parameter atau spesifikasi yang telah

ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan yang akan menggunakan bejana tekan tersebut.

Banyak elemen – elemen yang harus diperhatikan dalam merancang suatu bejana tekan

(pressure vessel), seperti, ketebalan dinding bejana tekan, diameter, panjang, dan juga fluida

yang akan di proses, hal tersebut berhubungan dengan adanya parameter – parameter tekanan

dalam (internal forces), tekanan luar (external forces) dan juga gaya – gaya (forces) yang berada

di dalam dan diluar dari bejana tekan tersebut.

Perancangan bejana tekan (pressure Vessel) harus diperhatikan secara cermat, agar tidak

mengalami hal – hal yang terjadi di luar aturan saat suatu proses produksi berlangsung.

Perancangan bejana tekan ini akan sangat dipengaruhi oleh suhu kerja dan tekanan kerja dari

materi yang akan diproses. Pemilihan material dan bentuk bejana tekan yang tepat dan semua

2
parameter tersebut harus diperhatikan secara cermat agar proses instalasi dan konstruksi sesuai

dengan spesifikasi yang diinginkan.

-
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Mengenal Bejana (Vessel)

Bejana (Vessel) adalah peralatan dasar (Basic Equipment) bagi sebagian besar peralatan

proses (Procces Equipment). Beberapa peralatan proses yang digunakan merupakan suatu bejana

yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan fungsi yang diperlukan dari suatu unit peralatan

proses agar dapat digunakan untuk melaksanakan suatu proses pengolahan atau penyimpanan.

Sebagai contoh, sebuah sebuah ruang penyulingan atau penyerapan akan ditambahkan pada

suatu bejana yang memproses dan bersentuhan dengan uap air; Sebuah mesin pemindah panas

(Heat Exchanger) akan dipertimbangkan menggunakan bejana yang sesuai dengan proses

perpindahan panas yang diperlukan pada sepanjang dinding Tube; dan untuk mendapatkan suatu

fungsi Evaporator maka akan dirancang suatu bejana yang memiliki pemindah panas yang

dikombinasikan dengan ruangan pelepas uap air.

II.2 Macam dan jenis bejana

Pada umumnya langkah awal dari perancangan suatu bejana adalah penentuan jenis

bejana yang paling sesuai dengan proses yang akan dilakukan. Faktor utama yang

mempengaruhi pemilihan suatu bejana adalah :

- Fungsi dan lokasi dari penempatan bejana

- Sifat Fluida yang akan di proses

- Suhu dan Tekanan operasi

- Volume penyimpanan yang diperlukan atau kapasitas proses yang akan dikerjakan

Secara umum, bejana dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk geometrinya,:

1) Bejana Terbuka (Open Vessel)

6
2) Bejana Tertutup (Closed Vessel)

a) Bejana berbentuk bola ataupun yang telah dimodifikasi (Spherical or

modified spherical vessel).

b) Bejana silindris dengan alas rata dan atap bundar atau berbentuk kerucut

(Cylindrical vessel with flat bottom and conical or domed roof)

c) Bejana silinder vertikal dan horisontal dengan ujung-ujung yang dibentuk

(Vertical cylindrical and horizontal vessel with formed ends)

Masing-masing jenis bejana secara umum berfungsi sebagai bejana penampung /

penyimpan dan juga sebagai bejana pemroses fluida. Cakupan fungsi dari beberapa bejana

akan saling tumpang tindih, sehingga hal ini mempersulit dalam menentukan kalsifikasi

berdasarkan fungsinya.

Sangat mungkin untuk menandai adanya pengelompokan kondisi secara umum dalam

beberapa penggunaan pada jenis bejana yang sering digunakan.

1
II.2.1 Bejana Terbuka (Open Vessel)

Bejana Terbuka (Open Vessel) digunakan untuk menyimpan ataupun memproses

cairan atau fluida yang tidak mengandung racun dan tidak terlalu berharga dengan kapasitas

yang besar, seperti air asin dan larutan lain yang mengandung air, dan sangat

memungkinkan untuk disimpan dalam kolam, di dalam tanki baja terbuka, tanki kayu, atau

tangki penyimpanan yang terbuat dari beton.

Bejana terbuka juga digunakan sebagai :

• Tanki perantara antar operasi

• Sebagai tong untuk proses perantara dimana material dicampur dan diaduk

• Tanki pengendapan

1Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal2


7
• Reaktor kimia

• Reservoir, dan lain-lain

Dengan kapasitas dan konstruksi yang sama, bejana terbuka lebih murah

dibandingkan dengan bejana tertutup. Pemilihan penggunaan bejana terbuka atau tertutup

juga dipengaruhi oleh fluida dan proses yang akan dilakukan.

2
II.2.2 Bejana Tertutup (Closed Vessel)

Bejana Tertutup (Closed Vessel) di gunakan untuk menyimpan atau memproses

cairan atau fluida yang mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan, cairan asam,

cairan mudah terbakar seperti pada proses pengolahan minyak bumi, atau berupa gas dalam

kondisi penyimpanan (akan dimanfaatkan kembali), dan jika tekanan yang diperlukan dalam

proses penyimpanan atau proses pengolahan lebih besar ataupun lebih kecil dari tekanan

atmosfir, dalam artian lain, ada perbedaan tekanan maka suatu sistem tertutup sangat pasti

akan diperlukan.

Bejana jenis ini banyak di gunakan pada industri pengolahan minyak dan industri

kimia. Bejana tertutup dapat di kelompokan menjadi 3 pengelompokan,yaitu :

1. Spherical or modified spherical vessel, (bejana berbentuk bola ataupun yang

telah dimodifikasi)

2. Cylindrical vessel with flat bottom and conical or domed roof, (bejana silindris

dengan alas rata dan atap bundar atau berbentuk kerucut)

3. Cylindrical Vessel with Formed Ends, (bejana silindris dengan ujung-ujung

yang dibentuk)

2Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal3


8
II.2.2.1 Bejana berbentuk bola ataupun yang telah dimodifikasi (Spherical or
3
modified spherical vessel)

Untuk menyimpan fluida dengan volume yang besar dengan tekanan di bawah

tekanan moderat pada umumnya kontainer dibuat berbentuk Bola atau Spheroid (Gambar

2.1).

Dalam penggunaannya, kapasitas dan tekanan yang dapat diatasi oleh bejana jenis

ini lebih bervariasi. Kapasitas terbentang dari 1000 sampai 25.000 bbl, dan tekanan

terbentang dari 10 lb per sq in hingga 200 lb per sq in. dengan dimensi yang bervariasi

pula, mulai dari yang kecil hingga yang memiliki dimensi lebih besar.

Gambar 2.1 . Bejana penyimpanan berbentuk bola (Spherical) dan Jenis Noded
Spheroida4

Jika sejumlah gas harus disimpan dalam ruang bertekanan, maka volume

penyimpanan yang diperlukan akan berbanding terbalik dengan tekanan penyimpanan.

Secara umum tangki berbentuk bola lebih hemat dan ekonomis untuk volume yang besar

serta penyimpanan dengan tekanan operasi kecil. Pada tekanan penyimpanan yang lebih

tinggi, volume gas harus dikurangi, dan oleh karena itu, bejana penyimpanan berbentuk

3Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal4


4CE Natco ,GPSA electronic data book
9
silindris akan lebih ekonomis untuk digunakan. Ketika massa gas yang harus ditangani

tidak terlalu besar (kecil), ada suatu keuntungan didalam penggunaan bejana penyimpanan

silindris, hal ini disebabkan biaya fabrikasi merupakan salah satu faktor yang menentukan

dalam pemilihan jenis bejana dan biaya fabrikasi bejana silindris kecil lebih dibanding

bejana berbentuk bola dengan dimensi dan kapasitas yang sama.

.
Gambar 2.2 Dua buah multispheres sebagai bejana penyimpanan nitrogen dengan
tekanan kerja dibawah 400 lb per sq in 5

Untuk beberapa kasus, faktor ekonomi ini dapat disiasati dengan menggunakan

bejana berbentuk bola yang telah dimodifikasi, seperti dua buah multispheres yang

dirancang sebagai bejana untuk menyimpan gas nitrogen pada tekanan kerja 400 lb per sq

in (gambar 2.2). Bejana berbentuk bola yang telah dimodifikasi juga digunakan untuk

penyimpanan dalam volume besar dibawah tekanan moderat. Sebuah bejana Ellipsoidal

besar (Gambar 2.3) telah dibangun untuk menyimpan 55,000 bbl fluida pada tekanan 75 lb

per sq in. Bejana paling besar untuk menyimpan Fluida bertekanan adalah tangki semi-

ellipsoidal, yang mana telah dibuat untuk menyimpan 120,000 bbl fluida pada tekanan 2½

lb per sq in. ketika kapasitas dari suatu bejana ditingkatkan, tekanan yang dapat diatasi

5
Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal5

10
dalam kondisi aman oleh bejana tersebut (tanpa konstruksi pendukung/penguat) akan

berkurang.

Gambar 2.3 20.000 bbl tangki penyimpanan bahan baker (bensin), dirancang untuk
mengatasi tekanan kerja 2 ½ lb per sq in 6

II.2.2.2 Bejana silindris dengan alas rata dan atap bundar atau berbentuk kerucut

(Cylindrical vessel with flat bottom and conical or domed roof)7

Bentuk rancangan yang paling ekonomis untuk suatu bejana tertutup yang

beroperasi pada tekanan atmosfir adalah tangki silindris vertikal dengan suatu atap

berbentuk kerucut dan suatu alas datar/rata yang berpijak secara langsung pada permukaan

yang padat dari suatu pondasi terdiri atas pasir, kerikil, atau serpihan batu karang.

Untuk suatu kondisi dimana gaya grafitasi digunakan sebagai bagian dari proses,

tangki diangkat dari permukaan tanah dan bagian alas tangki akan disanggah oleh suatu

kolom dengan balok baja atau balok kayu yang disilangkan. Dinding silindris, alas rata dan

atap kerucut dilengkapi dengan lubang pernapasan atau ventilasi, hal ini diperlukan untuk

mengatasi adanya perubahan tekanan sebagai akibat dari fluktuasi temperatur dan volume

yang terjadi dalam tangki tersebut. Tangki/bejana dengan garis tengah hingga 24 ft dapat

ditutup dengan atap tanpa penyanggah tambahan; Untuk tangki/bejana dengan garis tengah

lebih besar, hingga 48 ft, pada umumnya memerlukan sedikitnya satu kolom pusat sebagai

penyangga. Sedangkan untuk tangki/bejana dengan garis tengah lebih besar dari 48 ft

6Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959 hal5


7Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal3
11
selalu dirancang memiliki kolom penyangga lebih dari satu atau dengan suatu atap yang

mengapung atau ponton yang dapat bergerak naik-turun mengikuti tinggai permukaan

cairan dalam bejana itu.

Gambar 2.4 Bejana silindris dengan alas rata dan atap mengambang berbentuk kerucut (Cylindrical vessel
with flat bottom and conical floating roof) 8

Secara umum, tangki/vessel dengan atap berbentuk kerucut sangat terbatas

penggunaannya, hal ini dikarenakan tekanan operasi yang dianjurkan tidak melebihi

tekanan atmosfir. Jika atap bundar digunakan maka tekanan kerja yang dapat diterima

antara 2 1/2 sampai 15 lb/sq in, dan pada kondisi ini penggunaan alat kontrol tekanan

sangat dianjurkan. Secara umum Bejana ini memiliki garis tengah yang lebih kecil dan

lebih tinggi jika dibandingkan dengan tangki / bejana beratap kerucut untuk kapasitas

penyimpanan atau pengolahan yang sama.

8 Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal 49


12
II.2.2.3 Bejana silindris dengan ujung-ujung yang dibentuk (Cylindrical Vessel with
9
Formed Ends)

Bantalan pendukung

Penyangga dari beton atau besi

Gambar 2.5 Bejana silindris horisontal dengan ujung-ujung yang dibentuk


(Horizontal cylindrical l vessel with formed ends)10

Bejana silindris tertutup dengan ujung yang dibentuk pada kedua-duanya, seperti

yang diilustrasikan pada gambar 2.5, digunakan jika tekanan uap air dari fluida yang

disimpan memerlukan suatu rancangan yang lebih kuat. Bejana jenis ini disebut bejana

tekan, karena pada pengoperasiannya baik sebagai bejana penyimpanan ataupun bejana

pemrosesan akan terjadi atau diperlukan perbedaan tekanan antara lingkungann luar dan

dalam bejana. Standar-standar yang harus dicapai dan merupakan syarat mutlak dari suatu

perancangan sebuah bejana jenis ini telah ditentukan dan terus dikembangkan oleh

American Petroleum Institute (API) dan American Society of Mechanical Engineers

(ASME) yang akan menjadi dasar utama bagi perancangan bejana tersebut. Bejana ini pada

umumnya memiliki garis tengah kurang dari 12 ft. Akan tetapi pada bejana dengan jenis

Field-Erected, (gambar 2.6), Diameter bejana dapat dibuat hingga 35 ft dengan panjang

yang dapat dibuat hingga mencapai 200 ft .

9Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young, Equipment Design.1959, hal 4


10 CE Natco ,GPSA electronic data book
13
Gambar 2.6 Bejana jenis Field-ereccted dengan dasar dan atap berbentuk
kerucut, yang mempunyai diameter hingga 30 ft.11

Berbagai bentuk geometris digunakan untuk menutup akhir/ujung-ujung dari

bejana silindris. Bentuk geometris yang digunakan tersebut meliputi :

• Bola (Spherical),

• Mangkuk ellips (elliptical-dished),

• (Torispherical),

• Mangkuk standar (Standart-Dished),

• Kerucut (Conical), dan

• (Toriconical) .

Karena tujuan yang khusus, ujung rata/flat digunakan untuk menutup bejana

terbuka. Bagaimanapun, ujung rata jarang digunakan untuk bejana besar. Untuk tekanan

yang tidak tercakup dalam kode ASME, bejana akan dibuat dengan ujung berbentuk

mangkuk standar, sedangkan bejana yang mempunyai kode konstruksi pada umumnya

akan dirancang dengan menggunakan bentuk yang telah ditetapkan dalam standar ASME,

11 H. C. Boardman, Research Engineer


14
seperti bentuk (ASME-dished) atau mangkuk ellips (elliptical-dished). Bentuk yang paling

umum untuk penutup bejana bertekanan adalah mangkuk yang berbentuk ellips.

Kebanyakan peralatan proses pada industri kimia dan petrokimia, seperti, kolom-

sulingan, desorbers, peredam, scrubbers, Heat exchangers, pressure-surge tank, dan

separator, termasuk bejana silindris tertutup dengan akhir yang dibentuk sejenis atau

berbeda.

II.3 Kekuatan Bahan

Kekuatan bahan adalah tahanan suatu bahan dalam melawan perubahan oleh suatu

gaya luar.

II.3.1 Tegangan

Jika sebuah benda padat berada dalam keadaan setimbang tetapi dipengaruhi gaya-

gaya yang berusaha menarik, menggeser, atau menekannya maka bentuk benda itu akan

berubah. Jika benda kembali kebentuknya semula bila gaya-gaya dihilangkan, benda

dikatakan elastik. Kebanyakan benda adalah elastik terhadap gaya-gaya sampai ke suatu

batas tertentu yang dinamakan batas elastik. Jika gaya-gaya terlalu besar dan batas elastik

dilampaui, benda tidak kembali ke bentuknya semula tetapi secara permanen berubah

12
bentuk. Rasio gaya F terhadap luas penempang A dinamakan tegangan tarik :

F
σz = ( 2.1 )
A

Ket:
2
σz = Tegangang, lb/in

F = Gaya beban, lb

A = Luas penampang, in2

12 Verlag Europa-Lehrmittel. 1997. Tabellenbuch metall, hal. 160


15
II.3.2 Regangan

Akibat gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda berusaha meregangkan benda

tersebut maka terjadi perubahan fraksional pada panjang benda L / L adalah dinamakan

regangan13:

ε= L x100% ( 2.2 )
L
Ket:

ε = Regangan, %

L = Perbedaan panjang, in

L = Panjang awal, in

II.3.3 Diagram Tegangan-Regangan Dengan Karakteristik Batas Lumer

Berikut ini adalah contoh diagram tegangan dan regangan untuk baja konstruksi.

Gambar 2.7 Diagram Tegangan-regangan baja konstruksi

13 Verlag Europa-Lehrmittel. 1997. Tabellenbuch metall, hal. 160


16
Batas proporsionalitas (titik P) menunjukkan akhir hubungan dari proporsional

tegangan dan regangan. Pada beban dibawah titik P pertambahan tegangan dan regangan

adalah sebanding. Karenanya kurva grafik ini mulai dari titik nol berupa suatu garis lurus

(garis lurus hukum hook). Setelah pembebanan berakhir bahan ini kembali seperti bentuk

semula. Tegangan-tegangan yang diijinkan untuk penentuan ukuran komponen hanya

dalam daearah garis lurus proporsional (sampai titik P)

Batas elastisitas (titik E) adalah jika bahan tersebut dibebani sedikit diatas titik P

sampai titik E, maka timbul regangan elastis kecil hanya 0,001%

Batas lumer (titik S) adalah jika bahan tersebut dibebani lebih lanjut melewati titik

E sampai titik S mulailah daerah perubahan bentuk bahan (plastis). Diatas titik E timbul

perubahan bentuk tetap. Kurva ini membuat suatu patokan pada titik S, batang uji akan

menjadi panjang, bahan muali lumer tanpa penambahan beban. Pada daerah perubahan

bentuk tetap (setelah titik P) tegangan yang tersedia tidak dapat dipakai untuk menentukan

ukuran kekuatan bahan.

Batas kekuatan tarik (titik B) adalah jika tegangan meningkat sampai suatu nilai

tertinggi. Disebut juga kekuatan tarik Rm.

Batas putus (titik Z) adalah jika bahan dibebani melebihi kekuatan tarik

tertingginya , maka batang uji secara nyata mengecil dan bebannya berkurang sampai

batang uji tersebut putus.

II.3.4 Hukum Hook

Pada grafik diatas sampai dengan titik P menunjukkan bahwa regangan berubah

secara linear dengan tegangan adalah dikenal sebagai hukum Hook. Rasio tegangan

terhadap regangan dalam daerah linear grafik adalah konstanta yang dinamakan Modulus

14
Young :

14 Verlag Europa-Lehrmittel. 1997. Tabellenbuch metall, hal. 160


17
σz
E= ε ( 2.3 )

Ket:

E = Modulus young, lb/in2


2
σz = Tegangan, lb/ in

ε = Regangan, %

Melalui percobaan tarik seperti diatas dapat ditemtukan nilai tegangan dan

regangan suatu logam dan dengan membandingkan nilai-nilai ini dapat ditentukan kualitas

logam tersebut.

II.4 Bejana Tekan (Pressure Vessel)

Bejana tekan adalah suatu komponen yang memiliki ruang dengan tekanan yang

relatif tinggi (seperti suatu kontainer silindris atau berbentuk bola) yang mempunyai suatu

potongan melintang lebih besar dari tabung atau pipa yang dihubungkan 15. Gambar 2.7

mengilustrasi kan contoh bejana tekan horisontal

Gambar 2.8 Contoh Bejana Tekan Horisontal (Horizontal Pressure Vessel) 16

II.4.1 Fungsi Bejana Tekan

Sesuai dengan bentuknya, Bejana tekan berfungsi sebagai media penyimpanan

atau pemrosesan cairan atau fluida yang mengandung bahan kimia yang dapat

membahayakan seperti :

15 ES and H manual 2000, Pressure vessel and System Design. UCRL-MA hal 44
16 Mechanical Engineer, PT. SOFRESID INDONESIA
18
• Cairan asam,

• Cairan mudah terbakar seperti pada proses pengolahan minyak bumi,

• Gas dalam kondisi penyimpanan (akan dimanfaatkan kembali),

• Dan jika tekanan yang diperlukan dalam proses penyimpanan atau

proses pengolahan lebih besar dari tekanan atmosfir

II.4.2 Komponen – komponen pada bejana tekan

Komponen pada bejana tekan dapat di klasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Komponen utama :

1. Dinding bejana (Shell)

2. Ujung Penutup / kepala bejana (Head)

3. Nosel (Nozzle)

2. Komponen Asesoris atau tambahan :

1. Pelat Pengangkat (Lifting Lug)

2. Penyangga (Support / Saddle)

3. Ring penguat (Stiffening Ring)

4. Jaket (Jacket)

19
4
3

1
7 6
2

5
5. Penyangga ( Support / Saddle )
1. Dinding Bejana ( Shell ) 6. Ring penguat ( Stiffening Ring )
2. Ujung penutup / kepala bejana 7. Jaket bejana ( Jacket )
( Head )
3. Nosel ( Nozzle )
4. Pelat pengangkat ( Lifting Lug)

Gambar 2.9 Komponen utama dan komponen tambahan pada bejana tekan

Komponen-komponen pendukung yang terdapat pada bejana tekan akan

disesuaikan dengan fungsi khusus dari Bejana Tekan tersebut.

II.4.2.1 Komponen Utama

Komponen utama adalah komponen dasar yang membentuk bejana tekan

sehingga dapat berfungsi dengan benar sesuai tujuan dasar dari suatu perancangan

bejana tekan

II.4.2.1.1 Dinding Bejana ( Shell )

Komponen terbesar pada sebuah bejana adalah Shell, yaitu dinding utama

dari sebuah Bejana atau dapat juga disebut sebagai badan bejana yang berfungsi

sebagai tempat kedudukan nosel dan juga komponen lainnya, selain itu shell juga

sebagai pembentuk utama bejana. Shell terbuat dari Billet yang dibentuk menjadi

sebuah silinder dan kemudian disambung dengan proses pengelasan, atau shell

20
dapat juga berupa suatu geometri pipa. Pemilihan material shell ditentukan dalam

kode ASME seksi VIII divisi 1 subsuksi C berdasarkan sifat-sifat fluida yang akan

diproses, tekanan operasi, suhu operasi serta tekanan maximum yang diijinkan

yang akan diterima oleh shell tersebut berdasarkan suatu rancangan yang sesuai

dengan parameter-parameter yang telah ditentukan sebelumnya.

II.4.2.1.1.1 Perhitungan ketebalan minimum dinding shell berdasarkan


17
perhitungan teoritis

Perhitungan berdasarkan circumferential hoop stress:


Area Proyeksi
Di Di

P F
l P
F l

F = p x Luas area proyeksi

F = p × Di × l

F = S x Luas penampang

F =S×t×l×2

⇒ S × t × l × 2 = p × Di × l

sehingga diperoleh :

p × Di
t= S×2 ( 2.4 )

ket :

p = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

17 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal12

21
Di = Diameter dalam ( inside diameter ), in

S = Nilai tegangan material ( material stress value ), psi

t = Tebal dinding bejana ( shell ),in

l= Panjang dinding bejana ( shell ), in

perhitungan berdasarkan longitudinal stress:


Di
Ap1

F Ap2

l
P

t
t

p= F ⇒p= F
A
p1 π D2
4 i

P ×π × D 2
i
maka : F= 4
2
S= A
F ⇒ S = p ×π × D 4
π×D×t

p2 i

sehingga diperoleh :

Di
t= 4×S ( 2.5 )

ket :

p = Tekanan dalam perancangan ( Internal design Pressure ), psi

Di = Diameter dalam ( inside diameter ), in

S = Nilai tegangan material ( material sress value), psi

t = Tebal dinding bejana ( shell ),in

22
l = Panjang dinding bejana ( shell ), in

Ap1 = Luas permukaan 1, in2

Ap2 = Luas permukaan 2, in2

II.4.2.1.1.2 Perhitungan tekanan ( stress ) pada dinding ( shell ) silinder18

• Circumferential Joints
pD
S =
1 4ta

( 2.6 )

• Longitudinal Joints
S =
pD

2 2ta

( 2.7 )

Keterangan :

p = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

D = Diameter dinding bejana ( shell ), in

S1 = Longitudinal stress, psi

S2 = Circumferential (hoop) stress, psi

ta = Ketebalan dinding shell, corrosion allowance termasuk, in

18 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal14
23
II.4.2.1.1.3 Perhitungan ketebalan dan tekanan pada dinding silinder

(Shell) berdasarkan standart ASME Section VIII div 1

Perumusan dalam kaitan dengan dimensi dalam ( internal dimensions ) 19:

• Ketebalan minimum dinding bejana “ Shell “ ( tmin )

pR
t = iCA

SE − 0,6 p + C.A ( 2.8 )


min

• Tekanan kerja Maksimum ( pmax )

SEtmin
pmax = + ( 2.9 )
Ri 0,6tmin

20
Perumusan dalam kaitan dengan dimensi luar ( outside dimensions ) :

• Ketebalan minimum dinding bejana “ Shell “ ( tmin )

t = pRo
SE + 0,4P + C.A ( 2.10 )
min

19 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal14
20 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal 22
24
tmin

Ri

RiCA

Ro

pmax

S
C.A

Vshell

Ri

l
• Tekanan kerja Maksimum ( Pmax )

SEtmin
Pmax = − ( 2.11 )
Ro 0,4tmin

Keterangan :

= Ketebalan minimum yang diperlukan, in

= Jari-jari dalam ( inside radius ), in

= Ri + CA , ( inside radius CA incl ), in =

Jari-jari luar ( outside radius ), in

= Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

= Tekanan kerja maximum yang diijinkan ( maximum allowable

working pressure ), psi

= Nilai tegangan material ( material stress value ), psi =

Nilai korosi yang terjadi ( corrosion allowance ), in =

Effisiensi sambungan ( joint efficiency )

II.4.2.1.1.4 Perhitungan Volume dinding silinder ( Shell )

• Volume silinder dapat dihitung dengan menggunakan rumusan :

V = πR 2l ( 2.12 )
shell i

Keterangan :
21 3
= Volume / kapasitas silinder ( shell ) , in

= Jari-jari dalam ( inside radius ), in

= Panjang silinder dinding bejana ( shell ), in

21 tabel Volume of Shell and Heads, Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh
Edition, pressure vessel publishing Inc. hal416-417
25
Ashell

D
l
II.4.2.1.1.5 Perhitungan luas permukaan dinding silinder ( Shell )

Luas permukaan Shell dihitung berkaitan dengan ketersediaan dimensi

material pelat yang tersedia dipasaran. Pada umumnya dimensi pelat yang

tersedia adalah 3m x 3m ( ± 118 in x 118 in ). Oleh karena itu untuk

dimensi yang besar akan diperlukan lebih dari 1 lembar pelat untuk membentuk

sebuah Vessel. Mengetahui posisi sambungan dan jumlah pelat yang digunakan

sangat penting dalam penentuan posisi Nozel yang akan digunakan pada Pressure

Vessel.

Shell Dπ D

• Luas permukaan ( Surface Area ) Shell dihitung dengan rumusan :

Ashell = π × D × l ( 2.13 )

Keterangan :
2
= Luas area permukaan kulit dinding bejana ( surface area ), in

= Diameter dinding bejana ( shell ), in = Panjang dinding bejana (

shell ), in

26
II.4.2.1.2 Penutup Bejana ( Head )

Ciri utama dari sebuah bejana tekan atau bejana bertekanan yang

terklasifikasikan sebagai bejana tertutup (Closed Vessel) adalah memiliki head

(kepala/ujung penutup bejana). Head berfungsi sebagai penutup bejana. Material

yang digunakan pada head harus mempunyai stress value, komposisi kimia yang

sama ataupun sejenis dengan material yang digunakan pada shell, karena akan

berpengaruh pada proses pengelasan yang bertujuan untuk menyatukan

antara Head dengan Shell.

1 2 3 4

Gambar 2.10 Beberapa bentuk Head yang umum digunakan, 1-Setengah bola(Hemispherical Head),
2- Setengah Elips(Ellipsoidal Head), 3- Tirus(Conical Head),dan 4-Bentuk
pinggan(Torispherical Head)---22

Gambar II.1.9 mengilustrasikan bentuk Head bejana tekan, sesuai dengan

fungsi yang diperlukan, perhitungan ketebalan minimum ujung/kepala bejana diatur

oleh kode ASME Section VIII div 1.

22 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
27
II.3.2.1.2.1 Bola atau Setengah Bola ( Sphere or Hemispherical Head)

Perumusan dalam kaitan dengan dimensi dalam ( inside dimensions )23 :

• Ketebalan minimum dinding Head ( tmin )

pR
t = iCA

2SE − 0.2 p + C.A ( 2.14 )


min

• Tekanan kerja Maksimum ( pmax )

2SEt min
pmax = + ( 2.15 )
Ri 0.2tmin

24
Perumusan dalam kaitan dengan dimensi luar ( outside dimensions ) :

• Ketebalan minimum dinding Head ( tmin )

t = pRo
2SE + 0.8 p + C.A (2.16)
min

• Tekanan kerja Maksimum ( pmax )


2
SEt
min
pmax = − ( 2.17 )
Ro 0,8tmin

23 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal18
24 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal22
28
Keterangan :

tmin = Ketebalan minimum yang diperlukan, in

Ri = Jari-jari dalam ( inside radius ), in

RiCA = Ri + CA , ( inside radius CA incl ), in

Ro = Jari-jari luar ( outside radius ), in

pmax = Tekanan kerja maximum yang diijinkan ( maximum allowable

working pressure ),psi

p = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

S = Nilai tegangan material ( material stress value ), psi

C.A = Nilai korosi yang terjadi ( corrosion allowance ), in

E = Effisiensi sambungan ( joint efficiency )

II..2.1.2.2 Setengah Elips ( Ellipsoidal Head )

h=D 4

Perumusan dalam kaitan dengan dimensi dalam ( internal dimensions )25 :

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )

25 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal 18
29
pD
t = iCA

2SE − 0.2P + C.A ( 2.18


min

• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

2SEt
pmax = +
min
( 2.19 )
Di 0.2tmin

26
Perumusan dalam kaitan dengan dimensi luar ( outside dimensions ) :

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )

t = pDo
2SE +1,8 p + C.A ( 2.20 )
min

• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

p 2SEtmin
max = Do −1,8tmin ( 2.21 )

Keterangan :

Do

Di

DiCA

tmin

pmax

= Diameter luar ( outside diameter ), in =

Diameter dalam ( inside diameter ), in

= Di + 2CA , ( inside diameter, CA incl ), in =

Ketebalan minimum yang diperlukan, in


= Tekanan kerja maximum yang diijinkan ( maximum allowable

working pressure ),psi

p = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

S = Nilai tegangan material ( material stress value ), psi

26 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal 22
30
CA = Nilai korosi yang terjadi ( corrosion allowance ), in

E = Effisiensi sambungan ( joint efficiency )

II.4.2.1.2.3 Kerucut atau Tirus ( Cone or Conical Head)

Perumusan dalam kaitan dengan dimensi dalam ( internal dimensions )27 :

• Ketebalan minimum ( tmin )


pD
t = iCA
( 2.22 )
min
2 cosα × (SE − 0,6 p)

• Tekanan maksimum ( Pmax )

p = 2SEtmin cosα ( 2.23 )


max
Di +1,2tmin cosα

Perumusan dalam kaitan dengan dimensi luar ( dimensions )28 :


outside

• Ketebalan minimum ( tmin )

( 2.24 )
t = pDo
min
2 cosα × (SE + 0,4 p)

• Tekanan maksimum ( Pmax )

27 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc hal20
28 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc hal24
31
p 2SEtmin cosα
max = Do +1,2tmin cosα ( 2.25 )

Keterangan :

α π
= alphaDeg × 180

Do = Diameter luar ( outside diameter ), in

Di = Diameter dalam ( inside diameter ), in

DiCA = Di + 2CA , ( inside diameter, CA incl ), in

pmax = Tekanan kerja maksimum yang diijinkan ( maximum allowable

working pressure),psi

p = Tekanan dalam perancangan ( internal design pressure ), psi

tmin = Ketebalan minimum yang diperlukan, in

Ca = Nilai korosi yang terjadi ( corrosion allowance ), in

S = Nilai tegangan material ( material stress value ), psi

E = Effisiensi sambungan ( joint efficiency )

II.4.2.1.2.4 Lekukan ASME atau bentuk Pinggan (ASME Flanged or Dished

head) atau Torispherical Head.

32
29
Perumusan dalam kaitan dengan dimensi dalam ( internal dimensions ) :

L 2
1. Jika i = 16 3 maka perumusan yang digunakan adalah :
r

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )

0.885 pL
t = + C.A
( 2.26 )
iCA
min SE − 0.1 p

• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

p = SEtmin ( 2.27 )
max
0.885Li + 0.1tmin

2
2. Jika Li < 16 3 maka perumusan yang digunakan adalah :
r

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )


pL M
t = iCA+
( 2.28 )
2SE − 0.2 p C.A
min

• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

p = 2SEtmin
max
( 2.29 )
Li M + 0.2tmin

29 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal 20
33
30
Perumusan dalam kaitan dengan dimensi luar ( external dimensions ) :

L 2
1. Jika o = 16 3 maka perumusan yang digunakan adalah :
r

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )

0.885 pL
t = + C.A ( 2.30 )
o
min SE − 0.8 p
• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

p = SEtmin
max
0.885Lo + 0.1tmin

2 ( 2.31 )
2. Jika Lo < 16 3 maka perumusan yang digunakan adalah :
r

• Ketebalan Minimum dinding Head ( tmin )


pLo M
tmin = + − + C.A
2SE p(M 0,2)

• Tekanan kerja maksimum ( pmax ) ( 2.32 )

p = 2SEtmin
max
Lo M − tmin (M − 0,2)

( 2.33 )

Keterangan :

Di = Diameter dalam ( inside diameter ), in

Do = Diameter luar ( outside diameter ), in

Li = Jari-jari dalam kubah ( inside crown radius ), in

LiCA = Li + CA ,( inside crown radius, CA incl ), in

Lo = Jari-jari luar kubah ( outside crown radius ), in

30 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc
hal 24
34
r = Jari-jari dalam knucle ( inside knucle radius ), in

C.A = Nilai korosi yang terjadi ( corrosion allowance ), in

tmin = Ketebalan minimum yang diperlukan, in

pmax = Tekanan kerja maximum yang diijinkan ( maximum allowable

working pressure),psi

p = Tekanan dalam perancangan (internal design pressure), psi

S = Nilai tekanan material yang diijinkan (stress value of material), psi

E = Effisiensi sambungan (joint efficiency)

M = Faktor pengali

Tabel II.1 Tabel Nilai Faktor pengali ‘M’31

L/r 1 1,25 1,5 1,75 2 2,25 2,5 2,75 3 3,25 3,5


M 1 1,03 1,06 1,08 1,1 1,13 1,15 1,17 1,18 1,2 1,22
L/r 4 4,5 5 5,5 6 6,5 7 7,5 8 8,5 9
M 1,25 1,28 1,31 1,34 1,36 1,39 1,41 1,44 1,46 1,48 1,5

L/r 9,5 10 10,5 11 11,5 12 13 14 15 16 16 '2/3


M 1,52 1,54 1,56 1,58 1,6 1,62 1,65 1,69 1,72 1,75 1,77

II.4.2.1.3 Nosel (Nozzle)

Nosel (Nozzel) pada bejana tekan berfungsi sebagai saluran masuk dan

keluarnya fluida dari bejana. Lokasi nosel pada bejana tekan disesuaikan dengan

kondisi lingkungan dimana bejana tersebut akan digunakan, dengan memperhatikan

jalur-jalur pemipaan yang akan disatukan atau digabungkan

dengan bejana tekan, dan lokasi pengelasan sambungan material Shell

dengan memperhatikan parameter-parameter yang harus dipenuhi, seperti fungsi

nosel, jenis nosel, diameter nozel, serta material yang digunakankan. Seperti yang

diilustrasikan pada gambar 2.10.

31 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal20
35
Gambar 2.11 Beberapa posisi nosel pada bejana tekan yang akan
diinstalasikan dengan jaringan pipa32

Secara geometri, terdapat beberapa jenis nosel atau flange yang umum

digunakan. Jenis nosel atau flange tersebur adalah :

1. Welding neck

2. Slip-ON Welding

3. Blind

4. Long Welding Neck

Gambar 2.12 Beberapa Jenis Nosel atau flange yang umum digunakan.33

Dimensi Nozzle atau Flange secara umum telah diatur didalam tabel
33
dimensi berdasarkan kelas pembebanannya menurut standart ANSI B16.5

32 Mechanical Engineer, PT. SOFRESID INDONESIA


33 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc. hal 20
36
Pada sebuah bejana tekan setidak-tidaknya terdapat minimum 3 buah nosel utama,

yaitu :

1. Inlet Nozel

Berfungsi sebagai saluran utama masuknya fluida kedalam bejana (vessel).

2. Outlet Nozel

Berfungsi sebagai saluran utama keluarnya fluida dari dalam bejana (vessel).

3. Manhole

Manhole pada bejana tekan difungsikan sebagai akses perawatan bagi bejana

tekan tersebut, perancangan penempatan Manhole pada bejana tekan sangat

dipengaruhi oleh akses manusia serta kedudukan bejana tekan pada suatu

platform operasi pengolahan. Beberapa contoh penempatan lokasi manhole pada

bejana tekan diilustrasikan oleh gambar 2.12.

Gambar 2.13 Beberapa lokasi Manhole pada bejana tekan yang disesuaikan dengan akses
perawatan pada suatu platform 34

Selain itu, agar bejana tekan dapat beroperasi sesuai dengan parameter yang

ditetapkan, diperlukan suatu equipment kontrol, kedudukan equipment kontrol ini

memerlukan akses terhadap bejana tekan, akses ini disediakan dengan

menambahkan beberapa nosel tambahan yang berfungsi sebagai saluran akses bagi

sebagian equipment kontrol indikator, seperti : pressure gauge, level control, level

transmiter, vent dan kemudian dapat disebut sebagai instrumentation nozel, jumlah

34 Mechanical Engineer, PT. SOFRESID INDONESIA


37
dan posisi instrumentation nozel disesuaikan dengan equipment kontrol yang

digunakan. Material nosel yang digunakan setidak-tidaknya harus memiliki stress

value yang sama dengan material yang digunakan pada Shell.

II.4.2.1.3.1 Perhitungan Proyeksi Nosel pada silinder

Perhitungan proyeksi dalam ( Internal Projection )35

I =R− R2 −r2 ( 2.34 )


p i i o

keterangan :

Ip = Proyeksi dalam ( internal projection ), in

Ri = Jari-jari dalam shell, in

ro = Jari-jari luar nosel, in

Proyeksi Luar ( Outside Projection (OP)) telah ditentukan dalam tabel


36
Suggested minimum extentions of openings

II.4.2.1.3.2 Perhitungan Pelat Penguat nosel ( Reinforcement pad )37

Perhitungan ketebalan dinding yang diperlukan

35 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal138
36 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal128
37 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal129
38
PRis ( 2.35 )
• Pada Shell trs =
SE − 0,6P
pR
in
• Pada Nosel : trn = ( 2.36 )
SE − 0,6 p

Perhitungan Luas Area penguat yang diperlukan

A = d × tr ( 2.37 )

Perhitungan Luas Area penguat yang tersedia

• Kelebihan pada Shell : A1 = (t − tr )× d atau

A1 = (t − tr )× (tn + t)× 2 ( 2.38 )

• kelebihan pada pipa leher nosel :

A2 = (tn − trn )× 2t atau

A2 = (tn − trn )× 2tn ( 2.39 )

• Pada proyeksi dalam : A3 = tn × 2h ( 2.40 )

• Potongan pengelasan : A = 0.3752 ( 2.41 )


4

• Luas pelat yang diperlukan ( At ) = A − (A1 + A2 + A3 + A4 ) ( 2.42 )

• Lebar pelat = At ( 2.43 )


tebal _ pelat

• Diameter luar pelat penguat = diameter luar pipa – lebar pelat ( 2.44 )

II.4.2.2 Komponen Aksesoris atau Tambahan

Selain komponen utama yang merupakan komponen inti dari bejana tekan,

terdapat beberapa komponen tambahan atau aksesoris, yang merupakan komponen

pendukung bejana tekan. Komponen tambahan ini tidak mempengaruhi fungsi

operasi bejana tekan tersebut dan lebih bersifat sebagai pelengkap ataupun sebagai

pengaman. Sehingga penggunaannya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan

39
kondisi kerja bejana tekan tersebut. Beberapa yang termasuk kategori komponen asesoris,

diantaranya adalah :

1. Pelat Pengangkat (Lifting Lug)

2. Penyangga (Support / Saddle)

3. Ring penguat (Stiffening Ring)

4. Jaket (Jacket)

II.4.2.2.1 Pelat Pengangkat (Lifting Lug)

Pelat pengangkat (Lifting Lug) Dirancang agar dapat menahan beban bejana

tekan pada saat proses instalasi. Posisi Lifting lug dihitung berdasarkan titik

keseimbangan bejana. Contoh penempatan Lifting lug diilustrasikan pada gambar

2.13.

Gambar 2.14 Beberapa bentuk dan lokasi Pelat pengangkat (lifting lug) pada bejana tekan 38

II.4.2.2.2 Ring Penguat (Stiffening Ring)

Ring penguat (Stiffening Ring) ditambahkan pada bejana jika tekanan kerja

yang terjadi sangat tinggi, sehingga dibutuhkan penguat dinding bejana. Selain itu

penambahan ring penguat ini akan menambah usia pakai ( life time ) dari bejana

tekan itu sendiri. Gambar 2.14 memberikan gambaran bejana tekan yang

38 Mechanical Engineer, PT. SOFRESID INDONESIA


40
menggunakan ring penguat dengan bejana tekan yang tidak menggunakan ring penguat.

Gambar 2.15 Bejana Tekan tanpa dilengkapi dengan Steffening Ring (1) dan Bejana Tekan yang
38
dilengkapi dengan Stiffening Ring (2)

II.4.2.2.3 Jaket (Jacket)

Saat beroperasi dengan tekanan yang tinggi, suhu fluida yang diproses

didalam bejana tekan akan meningkat. Pada beberapa kasus, suhu yang dihasilkan

akan menjadi sangat tinggi dan akan mempengaruhi suhu lingkungan

dimana bejana tekan tersebut beroperasi. Keadaan ini sangat berbahaya bagi

mahluk hidup yang ada dilingkungan sekitar bejana tekan.

Oleh karena itu, untuk meminimalisasi dampak negatif dari peningkatan

suhu yang terjadi, diperlukan suatu komponen tambahan yang dapat menahan

panas dari bejana tekan agar panas yang dilepaskan kelingkungan tidak berbahaya

bagi lingkungannya. Komponen yang berfungsi sebagai isolator panas ini

dinamakan Jaket (Jacket). Jaket (Jacket) berfungsi untuk melindungi lingkungan

kerja dan pekerja dari panas berlebihan yang diterima bejana tekan pada saat proses

berjalan ataupun panas yang dihasilkan oleh fluida. Penggunaan Jaket pada bejana

tekan ditunjukan pada gambar 2.15

41
Gambar 2.16 Bejana Tekan dengan Jacket pelindung panas.39

II.4.2.2.4 Penyangga (Support)

Dalam kondisi operasi, sebuah bejana tekan akan menerima beban yang

cukup besar sehingga memungkinkan terjadinya getaran yang dapat merubah posisi

bejana tekan pada kedudukannya, getaran yang berlebihan pada bejana tekan juga

sangat berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bejana

tekan. Oleh karena itu untuk mempertahankan posisi bejana tekan dan mengurangi

efek getaran yang terjadi, dibutuhkan suatu konstruksi penyangga atau support.

Suatu penyangga dirancang sesuai dengan jenis bejana tekan yang

digunakan. Beberapa macam penyangga adalah :

1. Saddle Support

2. Leg Support

3. Lug Support

II.4.2.2.4.1 Saddle Support

Pada umumnya digunakan untuk menyangga bejana tekan yang

mempunyai konstruksi horisontal, gambar 2.16 merupakan contoh bejana

tekan yang menggunakan penyangga dengan jenis ini

39 Mechanical Engineer, PT. SOFRESID INDONESIA


42
Gambar 2.17 Bejana Tekan horisontal dengan penyangga jenis Sadle 40

II.4.2.2.4.2 Leg Support

Pada umumnya digunakan untuk menyangga bejana yang memiliki

konstruksi vertikal yang berdiri diatas suatu permukaan yang solid,

gambar 2.17 merupakan contoh bejana tekan yang menggunakan

penyangga dengan jenis ini.

Gambar 2.18 Bejana Tekan vertikal dengan penyangga jenis Leg

II.4.2.2.4.3 Lug Support

Pada umumnya digunakan untuk menyangga bejana yang memiliki

konstruksi vertikal yang berdiri menempel/menembus/menggantung pada

suatu permukaan solid, gambar 2.18 merupakan contoh bejana tekan yang

menggunakan penyangga dengan jenis ini.

40 Mechanical Engineer, PT MMF


43
Gambar 2.19 Bejana Tekan vertikal dengan penyangga jenis Lug41

41 Mechanical Engineer, PT MMF


44
BAB III

DATA-DATA PERANCANGAN

Bejana Tekan (Pressure Vessel) yang dirancang dalam karya tulis ini adalah bejana tekan

silindris horisontal dengan fungsi utama sebagai tangki pengendapan ( Sump Tank ). Data-data

yang diperlukan telah diperoleh sebelumnya dari Departemen terkait. Data-data tersebut

42
adalah :

III.1 Karakteristik Umum

• Temperatur :

™ Temperatur Kerja maksimum : 90 °C ( 194 ° F )

™ Temperatur Kerja Minimum : 23 °C ( 74,3 ° F )

™ Temperatur perancangan : 105 ° C ( 221 ° F )

• Tekanan :

™ Tekanan Kerja : 14,6959 psi ( atm bar g )

™ Tekanan Perancangan : 50,7630 psi ( 3,5 bar g )

™ Tekanan hidrotes (Hydrotest Pressure) : Sesuai Kode ASME VIII

• Nilai Korosif ( Corrosion Allowance ) : 0,1181 in ( 3 mm )

• Radiography : 100 % X-RAY

• Efisiensi Sambungan :

™ Dinding ( Shell ) : 1

™ Penutup ( Head ) : 1

• Pemulihan Tegangan ( Stress Relieve) : Sesuai Kode ASME VIII

42 PT. SOFRESID INDONESIA, Mechanical Engineering Division, PTT Exploration and Production,
Bongkot Field Development Project – Phase 3E, Data Sheet, Pressure Vessel
44
• Pengujian Ultrasonik : Sesuai Kode ASME VIII

• Pengujian Tumbukan (Impact test ) : Sesuai Kode ASME VIII

III.2 Isi : Kondesat + Air + Gas

• Gas :

3
™ Massa Jenis ( Density ) : 0,0593 lb/ft (0,9502 kg m3 )

™ Faktor Z : 0,99

™ Viskositas : 0,0013 cP

™ Laju Alir ( Flow rate ) : 1,4 MMSCFD

• Hidrokarbon cair ( Liquid Hydrocarbon ) :

™ Laju alir kerja maksimum : - m3 hr

™ Kepekatan ( Density ) : 44,45-44,64 lb/ft3

(712–757 kg m3 )

™ Viskositas : 0,72 – 1,75 cP

• Air :

™ Laju alir kerja maksimum : - m3 hr

™ Kepekatan ( Density ) : 59,68-62,68 lb/ft3

(956 - 1004 kg m3 )

™ Viskositas : 0,311 – 0,8 cP

III.3 Bejana ( Vessel ) :

• Jenis dinding ( Shell ) : Silinder

• Diameter dalam : 43,3071 in (1100 mm)

• Jenis Penutup ( Head ) : Ellips 2:1

45
• Orientasi : Horisontal

3
• Kapasitas bejana : 512.599,5 in ( 8,4m3 )

• Nosel : 12 buah tipe weld neck #150 lbs

ƒ Masukan ( Inlet) : 3 buah ( Flange faces smooth finished )

™ Masukan dari saluran tekanan rendah ( inlet from LP drain ) : ∅ 4”

™ Masukan dari saluran tekanan tinggi ( inlet from H.P drain ) : ∅ 3”

™ Masukan dari saluran terbuka berminyak( inlet from Oily open drain): ∅ 3”

ƒ Ventilasi ( vent ) : 1 buah ∅ 6”

ƒ Penyaluran (drain) : 2 buah ∅ 3”

ƒ Akses manusia ( Manhole) : 2 buah ∅ 24”

ƒ Instrumentasi : 3 buah ∅ 2”

™ Level Transmitter

™ Level Gauge

™ Level Transmitter

ƒ Over flow : 1 buah ∅ 4”

ƒ Data diameter nominal nosel yang digunakan tiap fungsinya telah diperoleh

sebelumnya

ƒ Diameter Manhole merupakan kesepakatan teknis yang didasarkan kepada

standar rata-rata tinggi badan orang Asia

46
BAB IV

ANALISA DAN PERHITUNGAN

IV.1 Perhitungan pada Shell

IV.1.1 Analisa perhitungan tegangan pada Shell akibat bentukan

Dari data diperoleh :

p ( design pressure ) = 50,7630 psi

CA ( Corrosion Allowance) = 0,1181 in

tnom ( nominal thickness ) = 0,315 in

ta ( thickness of shell, tnom+CA ) = 0,315 + 0,1181

= 0,4331 in

Di ( inside diameter ) = 43,3071 in

D ( nominal dia. Of vessel ) = CA + tnom + Di

= 0,1181 + 0,315 + 43,3071

= 43,7402 in

• Circumferential Joints

pD
S1 = ( 2.6 )
4ta

47
50,7630 × 43,7402 2220,3838
Maka : S1 = = = 1281,6808 psi
4 × 0,4331 1,7324

S1 = 1281,6808 psi ( Longitudinal Stress )

• Longitudinal Joints

pD
S2 = ( 2.7 )
2ta

50,7630 × 43,7402 2220,3838


Maka : S2 = = = 2563,3616 psi
2 × 0,4331 0,8662

S2 = 2563,3616 psi ( Circumferential (hoop) Stress )

• Dari Hasil perhitungan Longitudinal dan Circumferential ( hoop ) stress, dapat ditentukan

bahwa material yang digunakan harus memiliki Stress value lebih dari 2563,3616 psi.

• Dengan temperatur kerja maksimal 90 ° C ( 194°F ) dan tekanan operasi sebesar 1 atm

(14,6959 psi) maka jenis vessel termasuk kategori Vessel yang digunakan atau beroperasi

pada tekanan Atmosfer dan temperatur rendah, berdasarkan Tabel Properties of material for

Carbon and Low Alloy Steel43, material yang dapat digunakan adalah material dengan

spesifikasi SA-516 grade 55,60,65 atau 70

IV.1.2 Analisa perhitungan ketebalan minimum dan tekanan maksimum yang dapat

diterima Shell

a. Berdasarkan perhitungan teoritis :

Daridata diperoleh :

Material = A 516 GR 60

43 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal186-189

48
44
S ( material stress value ) = 15.000 psi
p ( internal design pressure ) = 50,7630 psi

Di ( inside diameter ) = 43,3071 in

Perhitungan berdasarkan circumferential hoop stress :

t= ( 2.4 )
p×D
i

S×2

t = 50,7630 × 43,3071 = 2198,398317


15000 × 230000

t = 0,0733 inci => 1,86 mm

Perhitungan berdasarkan longitudinal stress : ( 2.5 )

t=
p×D
i

4×S

t = 50,7630 × 43,3071 = 2198,398317


4 ×1500060000

t = 0,03664 inci => 0,93 mm

b. Berdasarkan ASME Section VIII Div 1

Dari data diperoleh :

Material = A 516 GR 60

S ( material stress value )45 = 15.000 psi

p ( internal design pressure ) = 50,7630 psi

CA ( Corrosion Allowance) = 0,1181 in


44 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal189
45 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal189
49
tnom ( nominal thickness ) = 0,315 in

Ri ( inside radius ) = Di 2 = 43,3071 2 = 21,6536 in

RiCA ( inside Radius, CA incl ) = Ri + CA = 21,6536 + 0,1181= 21,7717 in

E ( joint efficiency ) = 1

• Ketebalan minimum dinding bejana “ Shell “ ( tmin )


pR
t iCA
min = SE − 0,6 p + C.A ( 2.8 )

Maka :
50,7630 × 21,7717 1105,1968
t
min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) + 0,1181 = 15000 − 30,4578 + 0,1181 = 0,1919 inci
t
= 0,1919 inci => 4,8743 mm
min

• Tekanan kerja Maksimum ( pmax )


SEt
p min

max = Ri + 0,6t ( 2.9 )

Maka :

p 15000 ×1 × 0,1919 2878,5 2878,5


max = = = = 132,2318 psi
21,6536 + (0,6 × 0,1919) 21,6536 + 0,115 21,7686
p
= 132,2318 psi
max

• Berdasarkan perhitungan teoritis, dengan menggunakan material SA 516 GR 60,

ketebalan minimum yang diperoleh :

ƒ Berdasarkan perhitungan circumferential hoop stress :

t = 0,0733 inci ( 1,86 mm )

ƒ Berdasarkan perhitungan longitudinal stress :

t = 0,03664 inci ( 0,93 mm )

• Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus ASME Section VIII div 1, dengan

menggunakan material SA 516 GR 60, ketebalan minimum yang diperoleh 0,1919 in

(4,8743 mm), dan tekanan maksimum yang dapat diterima oleh shell hingga sebesar

132,2318 psi (9,1171 bar g) .

50
• Material SA 516 GR 60 memenuhi syarat tekanan kerja dan temperatur kerja maksimum

yang harus diatasi oleh bejana tekan pada saat proses berlangsung.

IV.2 Perhitungan pada Head

Berdasarkan data yang diperoleh, jenis Head yang digunakan untuk menutup ujung –

ujung dari shell adalah jenis Elliptical Head 2:1 dengan perhitungan sebagai berikut :

h=D 4

IV.2.1 Analisa perhitungan ketebalan minimum dan tekanan maksimum yang dapat

diterima Head

Dari data diperoleh :

Material = A 516 GR 60

46
S ( material stress value ) = 15.000 psi
p ( internal design pressure ) = 50,7630 psi

E ( joint efficiency ) = 1

CA ( Corrosion Allowance) = 0,1181 in

tnom ( nominal thickness ) = 0,315 in

Di ( inside diameter ) = 43,3071 in

46 Nilai Stress value of material dilihat pada tabel properties material sesuai dengan jenis material dan
temperatur perancangan untuk material SA 516 Grade 60 Nilai stress value material adalah 15000
51
DiCA ( inside diameter, CA incl ) = Di + 2CA = 43,3071 + (2 × 0,1181)

= 43,5433 in

• Ketebalan minimum Head ( t min )


pD
t = iCA

2SE − 0.2 p + C.A ( 2.18 )


min

Maka :
50,7630 × 43,5433 2210,3885
t
min = (2 ×15000 ×1) − (0,2 × 50,7630) + 0,1181 =30000 −10,1526 + 0,1181 = 0,1918 in
tmin = 0,1918 in

t
min = 4,8717 mm

• Tekanan kerja maksimum ( pmax )

2SEt min
pmax = + ( 2.19 )
Di 0.2tmin

Maka :
p = 2 ×15000 × 1× 0,1918 5754
max = = 132,7473 psi
43,3071 + (0,2 × 0,1918) 43,3071 + 0,0384
pmax = 132,7473 psi

• Berdasarkan perhitungan, dengan menggunakan material SA 516 GR 60, ketebalan

minimum yang diperoleh 0,1918 in (4,8717 mm), dan tekanan maksimum yang dapat

diterima oleh head hingga sebesar 132,7473 psi (9,1526 bar g).

52
IV.3 Perhitungan Dimensi Head dan Shell

Tabel IV.1 Tabel Volume of Shell and Head47

VOLUME OF SHELLS AND HEADS

I.D. of Cylindrical SHELL/LIN. FT . 2 : 1 ELLIP, HEAD


Vessel Wt.of Wt.of
Cu.FT . Gal. Bbl. Cu.FT . Gal. Bbl.
1n. Water lb. Water lb.
30 4,9 36,7 0,87 306 2 15,3 0,36 127,7
32 5,6 41,8 0,99 349 2,5 18,57 0,44 155
34 6,3 47,2 1,12 394 3 22,27 0,53 185,9
36 7,1 52,9 1,26 441 3,5 26,47 0,63 220,1
38 7,9 58,9 1,4 492 4,2 31,09 0,74 259,5
40 8,7 65,3 1,55 545 4,8 36,27 0,86 302,6
42 9,6 72 1,71 601 5,6 41,98 1 350,4
48 12,6 94 2,24 784 8,4 62,67 1,49 523
54 15,9 119 2,83 993 11,9 89,23 2,12 744,6
60 19,6 146,9 3,5 1226 16,3 122,4 2,91 1021
66 23,8 177,7 4,23 1483 21,8 162,9 3,88 1360
72 28,3 211,5 5,04 1765 28,3 211,5 5,04 1765
78 33,2 248,2 5,91 2071 35,9 268,9 6,4 2244
84 38,5 287,9 6,85 2402 44,9 335,9 8 2802
* Volume within the straight flange is not included

IV.3.1 Perhitungan Volume Elliptical 2:1 Head

Dari tabel Volume of Shells and Heads diperoleh data :

Internal Diameter Volume of Elliptical Head

of Vessel ( in ) ( ft3 )
42 5,6
43,3071 Xh
48 8,4

Perhitungan Volume Elliptical head dengan internal diameter 43,3071 in ( Xh )

43,3071 − 42 1,3071 3
X h = 5,6 + 48 − 42
( 8,4 − 5,6) = 5,6 +
6
( 2,8) = 5,6 + 0,6101 = 6,2101 ft

• Dengan interpolasi, diperoleh volume Elliptical Head dengan diameter 43,3071 in adalah
3 3
6,2101 ft atau setara dengan 10.731,0528 in .

• Volume keseluruhan Head adalah 2 x 10.731,0528 in3 = 21.462,1056 in3

47 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing Inc.
hal416
53
IV.3.2 Perhitungan volume Shell

Dari data dan perhitungan diperoleh :

3
Kapasitas/volume pressure vessel ( Vvessel ) : 512.599,4504 in

Volume head ( Vhead ) : 10.731,0528 in3

Maka :
V =V − (2 ×V )
shell vessel Head

V
shell = 512599,4504in3 − (2 ×10731,0528in3 )
V
shell = 512599,4504in3 − 21462,1056in3
V 3
= 491137,3447 in
shell
3
Volume shell diperoleh sebesar 491137,3447 in

IV.3.3 Perhitungan panjang Shell

Dari tabel Volume of Shell and Head diperoleh :

Volume of cylindrical Shell / lin


Internal Diameter
Ft
of Vessel ( in )
( ft3 )
42 9,6
43,3071 Xs
48 12,6

Perhitungan volume shell per linear feet dengan diameter dalam 43,3071 in ( X )

X s = 9,6 + 43,3071− 42 (12,6 − 9,6) = 9,6 + 1,3071 (3) = 9,6 + 0,6537 = 10,2537 Ft 3
F
48 − 42 6 t
• Dengan interpolasi, diperoleh volume Shell dengan diameter 43,3071 in adalah 10,2537

Ft3per liner Ft atau setara dengan 1476,5328 in3per linear in.

54
Perhitungan panjang shell ( l ) dengan internal diameter 43,3071 in

l= V Shell ,⇒l=
491137,3447in3
⇒ l = 332,6288 in
X s1476,5328in3 in

maka panjang shell diperoleh 332,6288 in

IV.3.4 Perhitungan luas permukaan ( Surface area ) shell

Ashell = π × D × l ⇒ Diketahui : π = 3,14

D = 43,7402 in

l = 332,6288 in

Maka :
A = 3,14 × 43,7402 × 332,6288 = 45.684,6458 in2
shell

Perhitungan jumlah pelat yang dibutuhkan

Diketahui : Apstd = 118 in x 118 in ( asumsi 3m x 3m )

= 13.924 in2

Ashell = 45.684,6458 in2

Maka :
A 45.684,6458
Jumlah pelat yang diperlukan = shell = = 3,28 lbr
Apstd 13924
• Berdasarkan perhitungan, pelat yang diperlukan untuk membentuk shell adalah 3,28

lbr, maka ditentukan pelat yang digunakan ± 4 lbr. Dengan ilustrasi pembentuk

sebagai berikut:

55
Ilustrasi penggunaan material dasar ( pelat ) sebagai pembentuk silinder

IV.4 Perhitungan pada Nozel

Berdasarkan data yang diperoleh, Pressure vessel yang dirancang memerlukan 12 buah nosel

jenis Welding Neck pembebanan 150 lb dengan perincian : 2 buah nosel 24 in, 1 buah nosel 6in,
56
2 buah nosel 4 in, 4 buah nosel 3 in, dan 3 buah nosel 2 in.dengan perhitungan masing-

masing nozel sebagai berikut :

IV.4.1 Dimensi Flange

Tabel IV.2 Tabel Dimensi Flange untuk pembebanan 150 lb48

48 Eugene F. Megyesy, PRESSURE VESSEL HANDBOOK Eleventh Edition, pressure vessel publishing
Inc. hal 342-343
57
Dimensi flange yang digunakan dimensi standar berdasarkan standar ANSI B16.5

Flange / Nozel nominal 24

Flange / Nozel nominal 6 in std ( Sch 40 ) Flange / Nozel nominal 4 in std (Sch 40)

Flange / Nozel nominal 3 in std ( Sch Flange / Nozel nominal 2 in std (Sch 40)
40)

58
IV.4.2 Perhitungan pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe )

Persyaratan suatu logam dapat disambung atau disatukan dengan logam lain dengan

menggunakan metoda pengelasan adalah memiliki nilai tegangan ( Stress Value ) yang sama.

Pipa leher nosel menggunakan material A 106 GR B (Seamless Carbon Steel Pipe), selain

memiliki nilai tegangan yang sama, material ini juga memiliki komposisi kimia yang tidak

jauh berbeda ( tabel IV.5 dan tabel IV.6) dengan material pembentuk shell ( A 516 GR 60

,Carbon Steel Plate).

Tabel IV.3 Tabel Chemical Requirements for material A 516 ( Carbon Steel Plate )

Tabel IV.4 Tabel Chemical Requirements for material A 106 ( Carbon Steel Seamless Pipe )

59
IV.4.2.1 Perhitungan ketebalan minimum Pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe )49

• Dari Data diperoleh :

Material = A 106 GR B

S ( material stress value ) = 15.000 psi

p ( internal design pressure ) = 50,7630 psi

E ( joint efficiency ) = 1
50
• Berdasarkan tabel properties of pipe diperoleh :

Ø Nominal
Diameter Diameter Ketebalan
Pipa
luar dalam dinding pipa
Dengan Sch.
standar ( Do ) ( Di ) ( in )
24 24 23,25 0,375
6 6,625 6,065 0,280
4 4,5 4,026 0,237
3 3,5 3,068 0,216
2 2,375 2,067 0,154

Perhitungan ketebalan minimum ( tPmin ) pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) Ø 24 in

std ( Sch. 20 )

Diketahui :
Dip( inside diameter ) = 23,25 in

D
23,25
Rp ( inside radius ) = 2= 2 = 11,625 in
ip

t pRp
Maka : P min =SE − 0,6 p ( 2.8 )

t 50,7630 ×11,625 590,1199 590,1199


P min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) = 15000 − 30,4578 = 14969,5422

tP min = 0,0394 in ( 1,008 mm )

49 perumusan menggunakan rumus ketebalan pada shell


50 ANSI B36.10 Carbon and Aloy steel pipe
60
Perhitungan ketebalan minimum ( tPmin ) pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) Ø 6 in std

(Sch. 40 )

Diketahui :

Dip ( inside diameter ) = 6,0625 in


D
Rp ( inside diameter ) = ip = 6,0625 = 3,0313in
2 2
Maka :

t pRp
P min = SE − 0,6 p ( 2.8 )

t 50,7630 × 3,0310 153,8627 153,8627


P min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) = 15000 − 30,4578 = 14969,5422

t
P min = 0,0103 in ( 0,2616 mm )

Perhitungan ketebalan minimum ( tPmin ) pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) Ø 4 in std

(Sch. 40 )

Diketahui :

Dip( inside diameter ) = 4,026 in


D
Rp ( inside radius ) = ip = 4,026 = 2,013 in
2 2
Maka :

t pRp
P min = SE − 0,6 p ( 2.8 )

t 50,7630 × 2,013 102,1859 102,1859


P min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) = 15000 − 30,4578 = 14969,5422

t
P min = 0,0068 in ( 0,1727 mm )

61
Perhitungan ketebalan minimum ( tPmin ) pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) Ø 3 in std

(Sch. 40 )

Diketahui :

Dip ( inside diameter ) = 3,068 in


D
Rp ( inside radius ) = ip = 3,068 = 1,534 in
2 2
Maka :

t pRp
P min = SE − 0,6 p ( 2.8 )

t 50,7630 ×1,534 77,870 77,870


P min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) = 15000 − 30,4578 = 14969,5422

t
P min = 0,0052 in ( 0,1321 mm )

Perhitungan ketebalan minimum ( tPmin ) pipa leher nosel ( Nozzle Neck Pipe ) Ø 2 in std

(Sch. 40 )

Diketahui :

Dip( inside diameter ) = 2,067 in


D
Rp ( inside radius ) = ip = 2,067 = 1,0335 in
2 2
Maka :

t pRp
P min = SE − 0,6 p ( 2.8 )

t 50,7630 ×1,0335 52,4636 52,4636


P min = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) = 15000 − 30,4578 = 14969,5422

t
P min = 0,0035 in ( 0,0914 mm )

62
Tabel IV.5 Tabel Perbandingan ketebalan pipa standar dengan ketebalan pipa minimum yang diijinkan

Ketebalan dinding pipa


Ø Nominal Pipa Ketebalan minimum yang diizinkan
Dengan Sch. dinding pipa berdasarkan nilai tegangan
standar ( in ) material
( in )
24 0,375 0,0394
6 0,280 0,0103
4 0,237 0,0068
3 0,216 0,0052
2 0,154 0,0035

• Berdasarkan tabel perbandingan ketebalan ( tabel IV.7 ), penggunaan Pipa leher

nosel ukuran standart nominal 24”, 6”, 4”, 3” dan 2” dengan bahan dasar A 106 Gr,

memenuhi syarat perhitungan ketebalan minimum yang diijinkan.

IV.4.3 Perhitungan pelat penguat ( Reinforcement pad )

Pada kasus ini Reinforcement pad digunakan sebagai penguat kedudukan Manhole terhadap

Shell.

Diketahui
p = 50,7630 psi
Ri = 21,6536 in
Mat.Shell = 0,315 in SA-516-60 plate
E =1
Rin = 12 in
Mat.nosel = 0,375 in SA-106-B
tpad = 0,375 in SA-516-60

h = 0,500 in

63
Perhitungan ketebalan dinding yang diperlukan

pRi
tr =
SE − 0,6 p
50,7630 × 21,6536 1099,2017
t
Pada Shell : r = (15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) ⇒ 15000 − 30,4578

tr = 0,0734 _ in

pRin
trn =
SE − 0,6 p
50,7630 ×12 609,156
Pada Nosel : trn = ⇒
(15000 ×1) − (0,6 × 50,7630) 15000 − 30,4578
trn = 0,0394 _ in

Perhitungan Luas Area penguat yang diperlukan

A = d × tr
A = 43,3071× 0,0734 ( 2.37 )
A = 3,1787 _ in2

Perhitungan Luas Area penguat yang tersedia

• Kelebihan pada Shell ( A1 ) :

= (t − tr )× d
= (0,315 − 0,0734)× 23,250 ( 2.38 )
2
= 5,6172 _ in

atau

= (t − tr) × (t n + t)× 2
= (0,315 − 0,0734) × (0,375 + 0,315)× 2
= 0,2416 × 0,69 × 2
= 0,3334 _ in2
2
Ambil yang terbesar yaitu 5,612 in

64
• kelebihan pada pipa leher nosel ( A2 ) :

= (t n − trn )× 5t
= (0,375 − 0,0394)× 5 × 0,315 ( 2.39 )
2
= 0,5286 _ in

atau
= (t n − trn )× 5tn
= (0,375 − 0,0394)× 5 × 0,375
= 0,6293 _ in2

Ambil yang terbesar yaitu 0,6293 in2

• Pada proyeksi dalam ( A3 ) :

= tn × 2h
= 0,375 × 2 × 0,500 ( 2.40 )
= 0,375 _ in2

• Potongan pengelasan ( A4 ) :

A = 0.3752
4
A = 0,141_ in2 ( 2.41 )
4

• Luas pelat yang diperlukan ( At ) :

= At − (A1 + A2 + A3 + A4 )
= 3,1787 − (5,612 + 0,6293 + 0,375 + 0,141) ( 2.42 )
2
= −3,5786 _ in

¾ Berdasarkan perhitungan ,luas area penguat yang tersedia lebih besar dari pada luas

area penguat yang dibutuhkan, sehingga pada rancangan ini tidak diperlukan pelat

penguat ( Reinforcement pad ).

65
IV.4 Penentuan posisi Nosel terhadap bejana tekan berdasarkan fungsinya.

Pada umumnya tidak ada perhitungan khusus yang mendasari penentuan posisi nosel

pada bejana tekan. Syarat umum penentuan posisi nosel pada bejana tekan didasari oleh

parameter-parameter, seperti: safety, human acces, piping layout, dan eficiency.

Akan tetapi syarat utama dari penentuan posisi nosel yang harus diperhatikan adalah

posisi kawah pengelasan penyambungan pelat pembentuk shell. Sangat tidak diizinkan

menempatkan nosel pada jalur pengelasan, karena hal ini akan berpengaruh terhadap tegangan

(Stress) yang terjadi.

66
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Terdapat banyak elemen–elemen yang harus diperhatikan dalam merancang suatu bejana

tekan (pressure vessel), seperti, ketebalan dinding bejana tekan, diameter, panjang, dan juga

fluida yang akan di proses, hal tersebut berhubungan dengan adanya parameter–parameter

tekanan dalam (internal forces), tekanan luar (external forces) dan juga gaya–gaya (forces) yang

berada di dalam dan diluar dari bejana tekan tersebut.

Perancangan bejana tekan (pressure Vessel) harus diperhatikan secara cermat, agar tidak

mengalami hal–hal yang terjadi di luar aturan saat suatu proses produksi berlangsung.

Perancangan bejana tekan ini akan sangat dipengaruhi oleh suhu kerja dan tekanan kerja dari

materi yang akan diproses. Pemilihan material dan bentuk bejana tekan yang tepat dan semua

parameter tersebut harus diperhatikan secara cermat agar proses instalasi dan konstruksi sesuai

dengan spesifikasi yang diinginkan.

Berdasarkan spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan yang akan

menggunakan bejana tekan tersebut serta analisa dan perhitungan yang dilakukan penulis maka

kesimpulan yang didapat dari hasil perhitungan perancangan bejana tekan ( sump tank ) adalah

sebagai berikut:

V.1 Kesimpulan Hasil Perhitungan Mekanikal Pada Bejana Tekan

• Silinder ( shell )

o Tipe : Horisontal
2
o Material : SA-516 Gr 60 (S = 15.000 psi=1.054,604 kg/cm )

o Tekanan maks. : 132,2318 psi (9,12 bar)

o Diameter dalam, Di : 43,3071 in (1.100 mm)

67
o Tebal , t : 0.315 in (8 mm)

o Panjang, l : 332,6288 in (8.448,77 mm)

o Volume : 491.137,3447 in3 (8.048,29 dm3)

• Penutup ( head )

o Tipe : Ellipsoidal 2:1


2
o Material : SA-516 Gr 60 ( S = 15.000 psi =1.054,604 kg/cm )

o Tekanan maks. : 132,7473 psi (9,12 bar)

o Diameter dalam, Di : 43,3071 in (1.100 mm)

o Tebal , t : 0.315 in (8 mm)


3 3
o Volume : @ 10731,052 in (175,85 dm )

• Nosel ( nozzle )

o Material : SA 181 ( paling umum digunakan )

Dimensi flange menggunakan standart ANSI B16.5

68
• Pipa leher nosel ( nozzle neck pipe )

o Material : A 106 Gr B ( S = 15.000 Psi )

o Perhitungan ketebalan minimum material :

Ketebalan dinding pipa


Ø Nominal Pipa Ketebalan minimum yang diizinkan
Dengan Sch. dinding pipa berdasarkan nilai tegangan
standar ( in ) material
( in )
24 0,375 0,0394
6 0,280 0,0103
4 0,237 0,0068
3 0,216 0,0052
2 0,154 0,0035

o Panjang pipa leher nosel ditetapkan 4 “

V.2 Saran

Untuk lebih dapat memastikan hasil analisa dan perhitungan tersebut diatas maka

alangkah lebih baiknya jika dilakukan Finite Element Analysis dengan menggunakan perangkat

lunak yang memadai. Dengan FEA dapat meminimalisasi daerah-daerah atau komponen-

komponen yang kritis terhadap perubahan gaya-gaya yang bekerja dari dalam dan luar sehingga

dapat langsung disesuaikan dengan kebutuhan atau persyaratn teknis. Dengan demikian mutu

dari bejana tekan tersebut dapat terus ditingkatkan.

69
DAFTAR PUSTAKA

1. A.Keith Escoe. 1986. Mechanical Design of Process System. GPC USA


2. ASME VIII div 1.2001, Rules for Construction of Pressure Vessel
3. Ed Bausbacher and Roger Hunt.1990. Process Plant Layout and Piping Design.
Auerbach Publishers USA
4. ES and H Manual.2000. Pressure Vessel and System Design. UCRL-MA.
5. Eugene F. Megyesy.1998. Pressure Vessel Handbook. Pressure Vessel Handbook
publishing.USA
6. GPSA.1998, Engineering Data Book 11th edition (electronic) SI volume I & II.
Gas Processors Association.
7. Lloyd E. Brownell and Edwin H. Young.1959. Equipment Design
8. Verlag Europa-Lehrmittel. 1997. Tabellenbuch metall. Nourney, Vollmer Gmbh
& Co.