Anda di halaman 1dari 12

Kepercayaan Diri Pada Remaja

Emria Fitri
Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kepercayaan diri remaja
SMP Dewi Sartika dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi
terhadap kepercayaan diri remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif yang berbentuk korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah
siswa SMP Dewi Sartika Kelas VII dan VIII yang berjumlah 256 orang siswa.
Sampel penelitian berjumlah 156 orang yang ditentukan dengan menggunakan
teknik Proporsional Random Sampling. Instrument diadaptasi dari instrumen
kepercayaan diri yang dikembangkan oleh Andiyati (2016) dengan nilai
koefisien realibilitas sebesar 0,884. Analisis data menggunakan analisis
deskriptif norm kriterian dan uji hipotesis penelitian menggunakan regresi ganda
dengan bantuan program SPSS. Adapun hasil penelitian adalah sebagian besar
kepercayaan diri remaja berada pada kategori sedang dan aspek optimis
merupakan aspek yang paling berkontribusi terhadap kepercayaan diri remaja
yaitu sebesar 23,04%.

Kata kunci: Kepercayaan Diri, Faktor-faktor yang mempengaruhi


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masa remaja merupakan salah satu dalam memberikan sumbangan yang
masa yang dilewati dalam setiap bermakna dalam proses kehidupan
perkembangan individu. Masa seseorang. Kepercayaan diri merupakan
perkembangan remaja adalah periode salah satu modal utama kesuksesan untuk
dalam perkembangan individu yang menjalani hidup dengan penuh optimisme
merupakan masa mencapai kematangan dan kunci kehidupan berhasil dan bahagia
mental, emosional, sosial, fisik dan pola (Leman, 2000; Taylor, 2009).
peralihan dari masa kanak-kanak menuju Kepercayaan diri pada remaja
dewasa (Hurlock, 1991; Malahayati 2010). tampak pada sikap yang menerima diri
Perubahan yang terjadi pada masa sebagaimana adanya. Penerimaan diri
remaja seperti pertumbuhan secara cepat merupakan sikap yang mencerminkan rasa
baik fisik, psikis dan sosial menimbulkan senang sehubungan dengan kenyataan diri
banyak persoalan dan tantangan. Salah sendiri. Sikap tersebut merupakan
satu permasalahan yang banyak dirasakan perwujudan dari kepuasan terhadap
dan dialami oleh remaja pada dasarnya kualitas kemampuan diri yang nyata.
disebabkan oleh kurang percaya diri Remaja yang puas pada kualitas dirinya
(Rizkiyah, 2005). akan cenderung merasa aman, tidak
Kepercayaan diri merupakan salah kecewa dan tahu apa yang dibutuhkannya,
satu aspek kepribadian yang penting dalam sehingga dapat mandiri dan tidak
masa perkembangan remaja (Walgito, bergantung pada orang lain dalam
2000). Percaya diri adalah suatu perasaan memutuskan segala sesuatu secara
dan keyakinan terhadap kemampuan yang objektif. Remaja yang percaya diri juga
dimiliki untuk dapat meraih kesuksesan cenderung mempunyai gambaran dan
dengan berpijak pada usahanya sendiri dan konsep diri yang positif. Hurlock (1991)
mengembangkan penilaian yang positif menyatakan bahwa reaksi positif seseorang
bagi dirinya sendiri maupun terhadap penampilan dirinya sendiri akan
lingkungannya sehingga, seseorang dapat menimbulkan rasa puas yang akan
tampil dengan penuh keyakinan dan mempengaruhi perkembangan mentalnya.
mampu menghadapi segala sesuatu dengan Disisi lain, remaja yang kurang
tenang (Angelis, 2003; McClelland (dalam percaya diri akan menunjukkan perilaku
Luxori, 2005). Kepercayaan diri berperan seperti, tidak bisa berbuat banyak, selalu
ragu dalam menjalan tugas, tidak berani terdapat beberapa orang siswa yang senang
berbicara jika tidak mendapatkan menggunakan kosmetik secara berlebihan,
dukungan, menutup diri, cenderung dan ada siswa yang senang menyendiri
sedapat mungkin menghindari situasi karena merasa dirinya tidak sebanding
komunikasi, menarik diri dari lingkungan, dengan temannya.
sedikit melibatkan diri dalam kegiatan atau Berdasarkan paparan fenomena
kelompok, menjadi agresif, bersikap tersebut peneliti tertarik untuk melakukan
bertahan dan membalas dendam perlakuan penelitian tentang “Kepercayaan Diri pada
yang dianggap tidak adil (Triningtyas, Remaja di SMP Dewi Sartika”.
2015; Rakhmat, 2005; Gunarsa, 2004; Tujuan penelitian
Hurlock, 1991). Menurut Mastuti & Aswi Tujuan penelitian ini adalah untuk
(2008) individu yang tidak percaya diri mengetahui gambaran kepercayaan diri
biasanya disebabkan oleh individu tersebut remaja di SMP Dewi Sartika dan untuk
tidak mendidik sendiri dan hanya mengetahui faktor yang memberikan
menunggu orang melakukan sesuatu kontribusi paling besar pada kepercayaan
kepada dirinya. Semakin individu diri remaja.
kehilangan suatu kepercayaan diri, maka Pertanyaan penelitian
akan semakin sulit untuk memutuskan 1. Bagaimana gambaran kepercayaan diri
yang terbaik apa yang harus dilakukan remaja ?
kepada dirinya. 2. Faktor apa yang paling berkontribusi
Beberapa hasil penelitian mempengaruhi kepercayaan diri
mengungkapkan bahwa tingkat remaja ?
kepercayaan diri remaja berada pada KAJIAN TEORI
kategori sedang (Tohir, 2005; Suhardinata, Pengertian Remaja
2010) hanya sebagian kecil dari remaja Remaja, yang dalam bahasa aslinya
yang memiliki rasa percaya diri yang disebut adolescence, berasal dari bahasa
tinggi. Berdasarkan fenomena di SMP Latin adolescare yang artinya “tumbuh
Dewi Sartika terdapat fenomena yang atau tumbuh untuk mencapai
mengindikasikan remaja kurang percaya kematangan”. Bangsa primitif dan orang-
diri di antaranya, terdapat beberapa orang orang purbakala memandang masa puber
siswa yang merasa ukuran badan terlalu dan masa remaja tidak berbeda dengan
besar, tinggi badan tidak sesuai dengan periode lain dalam rentang kehidupan.
diharapkan, terdapat beberapa orang siswa Anak dianggap sudah dewasa apabila
yang merasa dirinya kurang menarik,
sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali 2. Individu mengalami perkembangan
& Asrori, 2006). psikologis dan pola identifikasi dari
Masa remaja adalah masa transisi kanak-kanak menjadi dewasa.
dalam rentang kehidupan manusia, 3. Terjadi peralihan dari ketergantungan
menghubungkan masa kanak-kanak dan sosial-ekonomi yang penuh kepada
masa dewasa (Santrock, 2011). Menurut keadaan yang relatif lebih mandiri.
Rice (dalam Gunarsa, 2004), masa remaja Dari beberapa pendapat ahli di atas,
adalah masa peralihan, ketika individu masa remaja merupakan masa transisi
tumbuh dari masa anak-anak menjadi dalam rentang kehidupan manusia yang
individu yang memiliki kematangan. Pada menghubungkan masa kanak-kanak dan
masa tersebut, ada dua hal penting masa dewasa dan ditandai dengan
menyebabkan remaja melakukan perubahan-perubahan besar dan esensial
pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, mengenai kematangan fungsi-fungsi
pertama, hal yang bersifat eksternal, yaitu rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi
adanya perubahan lingkungan, dan kedua seksual.
adalah hal yang bersifat internal, yaitu Pengertian Kepercayaan Diri
karakteristik di dalam diri remaja yang Burton & Platts (2006)
membuat remaja relatif lebih bergejolak mengungkapkan “Confidence is the ablility
dibandingkan dengan masa perkembangan to take appropriate and effective action in
lainnya (storm and stress period). any situation, however challenging it
Pada 1974, WHO (World Health appears to you or others”. Kepercayaan
Organization) dalam Sarwono (2011) diri merupakan kemampuan untuk
memberikan definisi tentang remaja yang mengambil tindakan yang sesuai dan
lebih bersifat konseptual. Dalam definisi efektif dalam situasi apapun, meskipun hal
tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu tersebut tampaknya bersifat menantang
biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, dirinya. Kepercayaan diri merupakan suatu
sehingga secara lengkap definisi tersebut keyakinan dalam jiwa manusia bahwa
berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah tantangan hidup apapun harus dihadapi
suatu masa di mana: dengan berbuat sesuatu. Kepercayaan diri
1. Individu berkembang dari saat pertama akan datang dari kesadaran seseorang
kali ia menunjukkan tanda-tanda individu bahwa individu tersebut memiliki
seksual sekundernya sampai saat ia tekad untuk melakukan apapun, sampai
mencapai kematangan seksual. tujuan yang ia inginkan tercapai (Angelis,
2006).
Rasa percaya diri adalah suatu Aspek-aspek Kepercayaan Diri
keyakinan seseorang terhadap segala aspek Lauster (dalam Gufron &
kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan Risnawita, 2010) mengemukakan 5
tersebut membuatnya merasa mampu aspek kepercayaan diri, antara lain
untuk bisa mencapai tujuan yang telah keyakinan akan kemampuan diri,
ditetapkan. Remaja yang memiliki rasa optimis, obyektif, bertanggung jawab,
percaya tinggi dapat memahami kelebihan rasional dan realistis. Berikut deskripsi
dan kelemahan yang ada pada dirinya. dari beberapa aspek kepercayaan diri
Kelemahan-kelemahan yang ada pada menurut Lauster.
dirinya merupakan suatu hal yang wajar a. Keyakinan akan kemampuan diri,
dan sebagai motivasi untuk yaitu ditunjukkan dengan yakin dan
mengembangkan kelebihan yang mampu dalam mengevaluasi dan
dimilikinya. Kelemahan yang ada pada menyelesaikan suatu masalah.
dirinya bukan dijadikan sebagai b. Optimis, yaitu dapat ditunjukkan
penghambat atau penghalang dalam dengan memiliki keyakinan mampu
mencapai tujuan yang telah ditetapkan mengerjakan setiap pekerjaan yang
(Hakim, 2002). sulit, memiliki keyakinan akan
Rasa percaya diri merupakan sikap sukses, tidak mudah putus asa.
mental optimisme dari kesanggupan anak c. Obyektif, yaitu dapat ditunjukkan
terhadap kemampuan diri untuk dengan mau menerima pendapat dari
menyelesaikan segala sesuatu dan orang lain.
kemampuan diri untuk melakukan d. Bertanggung jawab, yaitu dapat
penyesuaian diri pada situasi yang ditunjukkan dengan berusaha
dihadapi (Surya, 2007). melakukan pekerjaan walaupun sulit,
Berdasarkan pendapat ahli di atas, berani mengambil resiko, dan
kepercayaan diri adalah kesadaran individu menyelesaikan masalah dalam hidup.
akan kekuatan dan kemampuan yang e. Rasional dan Realistis, yaitu dapat
dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya ditunjukkan dengan memandang
dalam dirinya, merasa puas terhadap kegagalan sebagai suatu pembelajaran.
dirinya baik yang bersifat batiniah maupun Fakto-faktor yang mempengaruhi
Kepercayaan Diri
jasmaniah, dapat bertindak sesuai dengan
kepastiannya serta mampu Adapun faktor-faktor yang
mengendalikannya dalam mencapai tujuan mempengaruhi kepercayaan diri adalah
yang diharapkan.
sebagai berikut (Gufron & Risnawita, lebih jika dibandingkan yang
2010; Angelis, 2006). berpendidikan rendah.
a. Konsep Diri e. Kemampuan Pribadi
Terbentuknya kepercayaan diri pada Rasa percaya diri timbul pada saat
diri individu diawali dengan individu mengerjakan sesuatu yang
perkembangan konsep yang diperoleh mampu dilakukannya. Ketika individu
dalam pergaulan dalam kelompok. Hasil mampu mengerjakan sesuatu, dia akan
interaksi akan menghasilkan konsep diri. mengetahui apa yang akan dilakukannya
Semakin baik konsep diri yang dimiliki dan yakin dalam mengerjakan sesuatu.
semakin tinggi pula kepercayaan dirinya. f. Keberhasilan
b. Harga diri Keberhasilan individu ketika
Konsep diri yang positif akan mendapatkan apa yang diharapkan dan
membentuk harga diri yang positif. Harga dicita-citakan akan memperkuat timbulnya
diri adalah penilaian yang dilakukan rasa percaya diri.
terhadap diri sendiri. Tingkat harga diri g. Keinginan
seseorang akan mempengaruhi tingkat Ketika individu menginginkan sesuatu
kepercayaan diri seseorang. maka ia akan belajar dari kesalahan yang
c. Pengalaman telah diperbuat untuk mendapatkannya.
Pengalaman dapat menjadi faktor h. Tekad yang kuat
munculnya rasa percaya diri pada Rasa percaya diri yang datang
individu, sebaliknya, pengalaman juga ketika individu memiliki tekad yang kuat
dapat menjadi faktor menurunnya rasa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
percaya diri pada individu. Dari pendapat di atas dapat diketahui
d. Pendidikan bahwa kepercayaan diri dipengaruhi oleh
Tingkat pendidikan individu akan faktor baik yang berasal dalam diri
berpengaruh terhadap tingkat maupun yang berasal dari luar diri.
kepercayaan diri. Tingkat pendidikan Karakteristik Individu yang Percaya
Diri
yang rendah akan menjadikan individu
Karakteristik individu yang
tersebut tergantung dan berada di bawah
mempunyai rasa percaya diri yang
kekuasaan orang lain yang lebih pandai,
proporsional adalah sebagai berikut.
sebaliknya individu yang mempunyai
a. Percaya akan kemampuan atau
pendidikan yang lebih tinggi akan
kompetensi diri,hingga tidak
memiliki tingkat kepercayaan diri yang
membutuhkan pujian, pengakuan,
penerimaan ataupun hormat dari orang METODE PENELITIAN
lain. Penelitian ini menggunakan
b. Tidak terdorong untuk menunjukkan pendekatan kuantitatif yang berbentuk
sikap konformis demi diterima oleh korelasional. Populasi dalam penelitian ini
orang lain atau kelompok. adalah siswa SMP Dewi Sartika Kelas VII
c. Berani menerima dan menghadapi dan VIII yang berjumlah 256 orang siswa.
penolakan orang lain, berani menjadi Sampel penelitian berjumlah 156 orang
diri sendiri. yang ditentukan dengan menggunakan
d. Punya pengendalian diri yang baik. teknik Proporsional Random Sampling.
e. Memiliki internal locus of control Instrument diadaptasi dari instrumen
(memandang keberhasilan atau kepercayaan diri yang dikembangkan oleh
kegagalan,bergantung pada usaha Andiyati (2016) dengan nilai koefisien
sendiri dan tidak mudah menyerah realibilitas sebesar 0,884. Analisis data
pada nasib atau keadaan serta tidak menggunakan analisis deskriptif norm
bergantung atau mengharapkan kriterian dan uji hipotesis penelitian
bantuan orang lain) menggunakan regresi ganda dengan
f. Mempunyai cara pandang yang positif bantuan program SPSS.
terhadap diri sendiri, orang lain dan HASIL PENELITIAN
situasi di luar dirinya. Hasil analisis deskriptif tentang
g. Memiliki harapan yang realistik kepercayaan diri remaja dapat dijelaskan
terhadap diri sendiri. (Fatimah, 2006). pada tabel berikut ini.
Definisi Operasional Tabel 1.
Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri yang dimaksud
Kategori Interval f %
dalam penelitian ini meliputi keyakinan Tinggi ≥ 126 44 28,2
akan kemampuan sendiri, optimis, Sedang 84 - 125 112 71,8
Rendah ≥ 83 0 0
obyektif, bertanggung jawab, rasional dan Total 156 100
realistik.
Hipotesis penelitian Berdasarkan tabel di atas dapat

H0 : terdapat hubungan positif signifikan diketahui bahwa sebagian besar

antara keyakinan akan kemampuan kepercayaan diri remaja berada katagori

sendiri, optimis, obyektif, sedang.

bertanggung jawab, rasional dan Untuk mengetahui faktor-faktor yang

realistik dengan kepercayaan diri mempengaruhi kepercayaan diri remaja

remaja. diketahui dengan menggunakan uji


statistik regresi ganda karena, akan remaja di SMA Laboratorium juga berada
menguji pengaruh keyakinan akan pada kategori sedang dan hasil penelitian
kemampuan sendiri (X1), optimis (X2), Tohir (2005) kepada 63 orang siswa di
obyektif (X3), bertanggung jawab (X4), MTS Al-badiyah Bandung Barat yang
rasional dan realistik (X5) terhadap mengungkapkan tingkat kepercayaan diri
kepercayaan diri remaja. remaja sebesar 69,84 % berada pada
Dari analisis regresi ganda dengan kategori sedang. Dari beberapa hasil
tingkat signifikansi 5% (0.05) ditemukan penelitian tersebut diketahui kepercayaan
keyakinan akan kemampuan sendiri (X1), diri remaja belum optimal dan perlunya
optimis (X2), obyektif (X3), bertanggung usaha untuk meningkatkan kepercayaan
jawab (X4), rasional dan realistik (X5) diri pada remaja.
secara bersama-sama memiliki pengaruh Kepercayaan diri merupakan salah
positif yang signifikan terhadap satu aspek kepribadian yang penting dalam
kepercayaan diri remaja. Meningkatnya masa remaja (Walgito, 2000). Dengan
keyakinan akan kemampuan sendiri, memiliki kepercayaan diri, remaja akan
optimis, objektif, bertanggung jawab, mampu memberikan penghargaan terhadap
rasional dan realistik akan meningkatkan dirinya dan mempunyai kemampuan untuk
kepercayaan diri pada remaja. menjalani kehidupan, remaja akan mampu
Hasil analisis regresi juga untuk mempertimbangkan berbagai pilihan
menunjukkan bahwa di antara 5 variabel dan membuat keputusan sendiri. Remaja
bebas yang ada, optimis merupakan yang memiliki kepercayaan diri dapat
variabel yang paling dominan memberikan menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang
pengaruh terhadap kepercayaan diri remaja sesuai dengan tahap perkembangannya
yaitu sebesar 23,04 %, kemudian, aspek dengan baik atau setidaknya memiliki
tanggung jawab sebesar 14,8%, aspek kemampuan untuk belajar cara-cara
rasional 4,8%, aspek keyakinan 3,4% dan menyelesaikan tugas tersebut.
aspek objektif sebesar 2,9%. Beberapa hasil penelitian
PEMBAHASAN mengungkapkan sebagian besar
Berdasarkan hasil penelitian kepercayaan diri remaja berada pada
sebagian besar kepercayaan diri remaja di kategori sedang artinya, perlunya upaya
SMP Dewi Sartika berada pada kategori untuk meningkatkan kepercayaan diri
sedang. Hal ini senada dengan hasil remaja. Akan tetapi, sebelum melakukan
penelitian Suhardinata (2011) yang upaya untuk meningkatkan kepercayaan
mengungkapkan bahwa, kepercayaan diri diri pada remaja, sebaiknya terlebih dahulu
dikenali sumber penyebab kurang percaya pada remaja adalah pengaruh teknologi
diri. Hal tersebut dapat dijadikan titik tolak dan informasi. Teknologi sebagai media
untuk menangulangi rasa kurang percaya massa canggih secara tidak langsung
diri pada remaja. mempengaruhi kepercayaan diri remaja.
Rasa tidak percaya diri ditandai Media massa terkadang memberikan
dengan adanya kelemahan-kelemahan informasi yang kurang pas untuk
yang ada dalam diri individu dan menumbuhkan rasa percaya diri pada
menghambat dalam pencapaian tujuan remaja. Media massa menonjolkan
hidup. Purnawan (2009) mendeteksi kegantengan atau kecantikan melalui
sejumlah penyebab kurang percaya diri, di bentuk tubuh yang ideal seperti: tubuh
antaranya: pengaruh lingkungan, sering yang seksi, berkulit putih, tinggi, berotot,
diremehkan dan dikucilkan oleh teman dada bidang, dan gagah melalui para idola.
sejawat, pola asuh orang tua yang sering Hal tersebut mempunyai efek yang sangat
melarang dan membatasi kegiatan anak, besar dalam menumbukan sikap percaya
orang tua yang selalu memarahi kesalahan diri terutama bagi para remaja yang sedang
anak, tetapi tidak pernah memberi mencari identitas diri.
penghargaan apabila anak melakukan hal Hasil pengujian hipotesis pada
yang positif, kurang kasih sayang, penelitian ini menunjukkan adanya
penghargaan atau pujian dari keluarga, hubungan positif signifikan antara
trauma kegagalan dimasa lalu, trauma keyakinan akan kemampuan sendiri,
dipermalukan atau dihina di depan umum, optimis, obyektif, bertanggung jawab,
merasa diri tidak berharga lagi karena rasional dan realistik dengan kepercayaan
pernah dilecehkan secara seksual, merasa diri remaja. Hal ini berarti bahwa semakin
bentuk fisik tidak sempurna dan merasa positif keyakinan akan kemampuan
berpendidikan rendah. sendiri, optimis, objektif, bertanggung
Senada dengan pendapat di atas, jawab, rasional dan realistik maka, akan
Hakim (2002) juga mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan diri
kelemahan yang ada pada diri seseorang, pada remaja.
seringkali pula menjadi penyebab timbul Berdasarkan hasil pengujian
atau hilangnya rasa percaya diri. Misalnya, hipotesis diketahui, optimis merupakan
penampilan yang buruk, cacat fisik, dan aspek yang paling berkontribusi terhadap
latar pendidikan yang rendah. kepercayaan diri remaja.
Satu hal yang perlu dikaji Hal tersebut sesuai dengan
penyebab kurangnya rasa kepercayaan diri pendapat Surya (2007) rasa percaya diri
merupakan sikap mental optimisme dari dengan kepercayaan diri remaja. Aspek
kesanggupan remaja terhadap kemampuan optimis merupakan aspek yang paling
diri untuk menyelesaikan segala sesuatu berkontribusi terhadap kepercayaan diri
dan kemampuan diri untuk melakukan remaja.
penyesuaian diri pada situasi yang Berdasarkan kesimpulan yang
dihadapi. Remaja yang percaya diri sudah dikemukakan, dapat disampaikan
memiliki memiliki rasa optimis dengan beberapa saran di antaranya:
kelebihan yang dimiliki dalam mencapai 1. Bagi siswa SMP Dewi Sartika
tujuan yang telah ditetapkan (Hakim, Para siswa diharapkan untuk
2002). Remaja yang memiliki sikap meningkatkan rasa kepercayaan diri
optimis memiliki keyakinan untuk bisa dengan mencoba untuk bersikap positif
melakukan apapun dan akan berusaha terhadap diri sendiri dan mampu
untuk mencapai tujuan yang ia inginkan. mengenal dan menerima kelebihan
Sikap optimis memberikan kemampuan maupun kekurangan yang dimilikinya.
untuk mengatasi rasa takut untuk terus 2. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
berusaha dan terus memikirkan masa Guru Bimbingan dan Konseling
depan yang lebih besar. Jadi, dapat diharapkan mampu mengoptimalkan
dikatakan remaja yang memiliki perannya dalam hal membantu siswa
kepercayaan diri akan optimis di dalam untuk meningkatkan kepercayaan diri
semua aktivitasnya, mempunyai tujuan melalui bimbingan klasikal,
yang realistis, sehingga ia akan membuat sosiodrama, konseling, dan berbagai
tujuan hidup yang mampu untuk teknik konseling lainnya.
dilakukan, merencanakan masa depan dan
memiliki keyakinan mampu mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
SIMPULAN DAN SARAN
Adapun kesimpulan dari penelitian
ini adalah sebagian besar kepercayaan diri
remaja SMP Dewi Sartika berada kategori
sedang. Berdasarkan analisis data dalam
penelitian ini, diketahui bahwa adanya
hubungan positif antara keyakinan akan
kemampuan sendiri, optimis, obyektif,
bertanggung jawab, rasional dan realistik
Referansi:
Ali, M & Asrori, M. (2006). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
BumiAksara.
Andiyati. (2016). Hubungan Antara Body Image dengan Kepercayaan Diri Siswa Kelas X
Di Sma Negeri 2 Bantul. (Skripsi). Yogyakarta: UNY.
Angelis, B.D. (2006). Confidence: Percaya Diri Sumber Sukses dan Kemandirian.
Jakarta: Gramedia.
Burton, K. & Platts, B. (2006). Building Confidence For Dummies. John Wiley & Sons.
Ltd.
Gufron, M.N & Risnawita, R. (2010). Teori-teori Psikologi. Yogyakarta: Ar Ruzz
Media.
Gunarsa, D.S. (2004). Psikologi Perkembangan. Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung
Mulia.
Hakim, T. (2002). Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jakarta: Puspa Swara.
Hurlock, E.B. (1991). Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Alih Bahasa Istiwidayanti. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Leman, M. (2000). Membangun Rasa Percaya Diri Anak. Jakarta: Majalah Anakku.
Luxori, Y. (2005). Percaya Diri. Jakarta: Khalifa.
Malahayati. (2010). Super Teens: Jadi Remaja Luar Biasa dengan 1 Kebiasaan
Efektif. Yogyakarta: Gedung Galang press Center.
Mastuti & Aswi. (2008). 50 Kiat Percaya Diri. Jakarta : PT. Buku Kita.
Rakhmat, J. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rizkiyah. (2005). Hubungan antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan
kepercayaan diri remaja awal siswa kelas XI IPS SMAN 5 Bekasi. skripsi (tidak
diterbitkan). Jakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam
AsSyafi’iyah.
Santrock, J.W. (2011). Child Development, 11th edition. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, S. (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Surya, H. (2007). Percaya Diri itu Penting. Jakarta: Gramedia.
Taylor,R. (2009). Worklife, Mengembangkan Kepercayaan Diri. Jakarta: Erlangga.
Tohir. (2005). Program Bimbingan Pribadi Sosial untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
Siswa. (Tesis). Bandung: Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Walgito,B. (2000). Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir). Yogyakarta: Andi.