Anda di halaman 1dari 14

Nama Esthy Dwi Anggraeni

Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

BAB III
ASIDI-ALKALIMETRI
TUJUAN
 Membuat larutan standar HCl 0,1 M
 Membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2C2O4
 Melakukan standarisasi larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M
 Menggunakan larutan standar NaOH 0,1 M untuk menetapkan kadar asam asetat
cuka perdagangan

A. PRE LAB
1. Apa yang dimaksud dengan analisis volumetri?

Analisa volumetri adalah analisa kuantitatif di mana kadar dan komposisi


sampel di tetapkan berdasarkan volume yang di ketahui dan di tambahkan ke
dalam larutan yang di ujikan, sampai komponen yang di tetapkan bereaksi secara
kuantitatif dengan pereaksi itu. Proses tadi bisa di sebut juga tirtrasi, analisa
volumetri nama lainya adalah analisa titrimetri. (Basset, 2008)

2. Apa yang dimaksud dengan asidi-alkalimetri?

Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
indikator yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa
untuk menghasilkan air yang bersifat netral.
Asidi adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan
baku basa, sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan
menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya di sebut juga sebagai
tirtrasi asam-basa. (Basset, 2008)

3. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer?


Larutan standar primer adalah larutan yang mengandung zat padat murni
dan di ketahui konsentrasi larutanya dengan tepat melalui penimbangan yang teliti
dari zat pereaksi dan di larutkan dalam volume tertentu, larutan standar primer
dapat di gunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain. (Meuthia, 2007)

4.Apa yang dimaksud dengan larutan standar sekunder?

Larutan standar sekunder adalah Larutan yang berasal dari zat yang tak
murni dan konsentrasinya tidak bisa di ketahui dengan tepat. Konsentrasi larutan
ini di tentukan dengan pembakuan larutan baku primer yang menggunakan
metode titrimetri. (Meuthia, 2007)

5. Apa yang dimaksud dengan standarisasi/pembakuan larutan?


Standarisasi larutan adalah proses yang di gunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan agar di dapatkan hasil yang sangat teliti. (Meuthia, 2007)
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

6. Apa yang digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH? Tuliskan


persamaan reaksinya!

 Asam asetat. Reaksinya: (Damin, 2009)


𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞) + 𝑁𝑎𝑂𝐻(𝑎𝑞) 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑂(𝑎𝑞)
 Asam oksalat. Reaksinya: (Damin, 2009)
𝐶2 𝐻4 . 2𝐻2 𝑂(𝑎𝑞) + 2Na𝑂𝐻(𝑎𝑞) 𝑁𝑎2 𝐶2 𝑂4(𝑎𝑞) + 4𝐻2 𝑂(1)

7. Apa yang digunakan untuk menstandarisasi HCl? Tuliskan persamaan


reaksinya!

Menggunakan boraks (𝑁𝑎2 𝐵4 𝑂7 . 10 𝐻2 𝑂)


Indikator yang di gunakan adalah metil orange

𝑁𝑎2 𝐵4 𝑂7 . 10 𝐻2 𝑂 + 2𝐻2 𝑂 4B(𝑂𝐻)3 + 2NaCl +5𝐻2 𝑂 (Damin, 2009)


8. Jenis asam apa yang dominan ada pada asam cuka perdagangan? Tuliskan
persamaan reaksinya dengan NaOH!

Yang paling dominan adalah Asam asetat


Reaksinya adalah
Na𝑂𝐻(𝑎𝑞) + C𝐻3 COO𝐻(𝑎𝑞) C𝐻3 COO𝑁𝑎(𝑎𝑞) + 𝐻2 𝑂(1) (Damin, 2009)
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

B. Tinjauan pustaka
1.1 Prinsip dasar tirtrasi

Tirtrasi merupakan suatu metode menentukan konsentrasi larutan dengan mereaksikan


beberapa volume larutan terhadap konsentrasi larutan lain yang telah di ketahui/ larutan baku.
Tritrasi yang menggunakan larutan asam dan basa di sebut tirtrasi asam basa. (Basset, 2008)

2.2 Pengertian asidi-alkalimetri

Asidi adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa,
sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan
baku asam. (Basset, 2008)

2.3 Pengertian larutan standar primer dan larutan standar sekunder beserta contohnya

Larutan standar primer adalah larutan yang mengandung zat padat murni dan di ketahui
konsentrasi larutanya dengan tepat melalui penimbangan yang teliti dari zat pereaksi dan di
larutkan dalam volume tertentu, larutan standar primer dapat di gunakan untuk menetapkan
konsentrasi larutan lain. Contohnya: larutan kalium dikromat dan natrium klorida.
Larutan standar sekunder adalah Larutan yang berasal dari zat yang tak murni dan
konsentrasinya tidak bisa di ketahui dengan tepat. Konsentrasi larutan ini di tentukan dengan
pembakuan larutan baku primer yang menggunakan metode titrimetri. Contohnya: Besi(II)
sulfat dan kalium permanganat.

2.4. Fungsi bahan dalam praktikum

1. Aquades yang berfungsi sebagai pelarut netral (Fatchiyah, 2011)


2. HCl sebagai sampel larutan keadaan normal (Fatchiyah, 2011)
3. Asam cuka sebagai larutan yang akan di uji (Fatchiyah, 2011)
4. Borak sebagai larutan yang akan di uji (Fatchiyah, 2011)
5. NaOH sebagai larutan untuk emigrasi asam cuka (Fatchiyah, 2011)
6. Asam oktalat sebagai larutan yang akan di uji (Fatchiyah, 2011)
7. Indikator phenolpathein untuk mengecek larutan itu basa atau asam (Fatchiyah,
2011)

2.5 Aplikasi tirtrasi asam-basa dalam bidang teknologi pertanian


Pengaplikasian tirtrasi asam basa dalam bidang teknologi pertanian sangat banyak
dan memiliki contoh dan salah satu contohnya adalah pengaplikasian titrasi asam basa pada
Larutan 0,1 M NaOH dan Asam Humus , yang memberikan hasil penguraian asam humus
karena lepasnya ion-ion H ke larutan akibat reaksi asam basa ( Stevenson, 2007)
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

C. DATA HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


1. Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M
BJ HCl : 1,19
Kadar HCl : 32%
Volume HCl yang dibutuhkan : 0,96 mL
Perhitungan: Pengenceran :
 x % x 10
M= M1 x V1 = M2 x V2
Mr
1,19 x 32% x 10
= 36,5
0,1 x 100 = 10,43 x V2

= 10,43 V2 = 0,96 mL

Mengapa dalam pembuatan larutan standar HCl, BJ HCl harus diperhitungkan?


Karena dalam HCL berat jenis sangat mempengaruhi konsentrasi molaritas dalam
penentuan HCL pekat yang dibutuhkan dalam pembuatan larutan standar HCL
(Lesmana.2017).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M


Volume HCl : (11,4 mL) (11,1 mL)
Molaritas HCl : 0,1 M
Berat boraks : 1,9 Gram
BM boraks : 381
Molaritas larutan HCl hasil : 0,885 M
standarisai
Perhitungan:
𝑛 𝐻𝐶𝐿 2
n Na2B4O7
= 1
𝑀 𝐻𝐶𝐿 𝑥 𝑉 𝐻𝐶𝐿 2
M Boraks = 0,05 M M Na2B4O7 x V Na2B4O7
=1
𝑔𝑟 1000 2 𝑥 𝑀 𝑁𝑎2𝐵4𝑂7 𝑥 𝑉 𝑁𝑎2𝐵4𝑂7
M = x M HCL =
Mr V V HCL
𝑔𝑟 1000 2 𝑥 0,05 𝑥 10
0,05 = 381
x 100 (1) M HCL = 11,4
= 0,087
𝑔𝑟 2 𝑥 0,05 𝑥 10
0,05 = 381
x 10 (2) M HCL = 11,1
= 0,09
𝑀 𝐻𝐶𝐿 (1) + 𝑀 𝐻𝐶𝐿 (2)
0,05 = 10 gr M HCL = 2
0,087+0,09
gr = 19,05 = 2
= 1,9 gram = 0,0885 M

Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?


Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

Karena antara HCl dan boraks terjadi reaksi sempurna. HCl ( asam kuat ) akan bereaksi
dengan boraks (basa lemah ) membentuk garam yang bersifat asam.
Reaksi :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl ===> 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O

Dari reaksi antara asam kuat dan basa lemah itu akan lebih mudah diamati titik akhir titrasinya.
Pada percobaan ini, boraks merupakan larutan standar primer dan HCl merupakan larutan
standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena : Boraks adalah suatu garam yang bersifat basa
lemah, sifatnya yang tidak mudah teroksidasi, boraks cenderung stabil, selain itu juga boraks
ditemukan dalam keadaan murni, tidak korosif. Bobot ekivalen boraks tinggi, yaitu 123
g/aq.HCl merupakan larutan gas Cl dalam air . Hal ini memungkinkan kelarutannya mudah
sekali berubah terhadap perubahan suhu, perubahan kelarutan tersebut akan mempengaruhi
konsentrasinya dan HCl yang digunakan yaitu berasal dari hasil pengenceran sehingga
dimungkinkan konsentrasi HCl yang didapat tidak tepat. Indikator yang paling tepat digunakan
untuk titrasi ini adalah indikator MO, range pH 3-4,5, karena range pH garam ( bersifat asam
) yang dihasilkan mendekati range pH dari indikator MO, sehingga indikator yang paling tepat
digunakan pada reaksi ini adalah MO (Marwati.2013).

3. Pembuatan larutan standar NaOH


Berat NaOH : ( 0,4069 gram) (0,4 gram)
Volume larutan NaOH : 100 mL
Molaritas larutan NaOH : 0,1 M
Perhitungan : M = Mr x
𝐺 1000
V
𝐺 1000
0,01 = x
40 100
G = 0,4 gram
Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?
Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan konsentrasi NaOH yang nantinya akan
digunakan sebagai larutan standar, dan untuk menunjukkan apakah larutan NaOH ini dapat
bereaksi sempurna baik dengan asam lemah maupun kuat (Kotz.2010).

4. Standarisasi larutan standar NaOH


Berat Na-oksalat : 0,4069 gram
BM Na-oksalat : 40 M
Volume akuades : 100 mL
Volume larutan NaOH 0,1 M : (11,6 mL) (11,5 mL)
Molaritas larutan NaOH : 0,0865 M
Perhitungan:
H2C2O4 + 2 NaOH Na2C2O4 + 2 H2O
M H2C2O4 = 0,05 M
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

2 𝑥 0,05 𝑥 10
(1) M NaOH = 11,6
= 0,086
2 𝑥 0,05 𝑥 10
(2) M NaOH = 11,5
= 0,087

𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 (1)+𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 (2)


M NaOH rata-rata = 2
0,086+0,087
=
2
= 0,0865 M

a. Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?


Karena antara NaOH dan asam oksalat terjadi reaksi sempurna. NaOH ( basa kuat )
akan bereaksi dengan asam oksalat (asam lemah ) membentuk garam yang bersifat basa.
Reaksi :
2NaOH + H2C2O4 ===> Na2C2O4 + 2H2O
Dari reaksi antara basa kuat dan asam lemah itu akan lebih mudah diamati titik akhir
titrasinya. Pada percobaan ini, asam oksalat merupakan larutan standar primer dan NaOH
merupakan larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena : Asam oksalat adalah
suatu asam lemah, sifatnya yang tidak mudah menguap, asam oksalat cenderung stabil,
selain itu juga asam oksalat ditemukan dalam keadaan murni. Mr asam oksalat tinggi,
yaitu 90.NaOH memiliki sifat higroskopis, yaitu mudah menyerap H2O atau CO2 sehingga
mudah dilarutkan didalam air dan memiliki kestabilan rendah. Mr dari NaOH hanya 40
(Kotz.2010).
b. Mengapa indikator yang digunakan adalah pp (fenolftalein)?
Indikator yang digunakan adalah indikator pp, sebab range pH indikator ini 8,5-10,
mendekati range pH garam basa yang dihasilkan, maka dengan indikator ini dapat
menunjukkan titik akhir titrasi yang terbentuk dan ditunjukan dengan perubahan warna
(Hanapi’.2014).

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Volume larutan asam cuka : 10 mL
Volume NaOH (titrasi) : (1,6 mL) (1,6 mL)
Molaritas NaOH : 0,0865 M
BM asam organik dominan : 60
Persamaan reaksi : NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O
Kadar total asam (% b/v) : 8,304 %
Perhitungan:
M CH3COOH . V CH3COOH = NaOH . V NaOH
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 . 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 . 𝐹𝑃
M CH3COOH = V CH3COOH
0,0865 . 1,6 . 100
(1)M CH3COOH = 10
= 1,384
0,0865 .1,6 . 100
(2)M CH3COOH = 10
= 1,384
M CH3COOH rata-rata = 1,384
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

𝑔𝑟 1000
M = Mr x V
𝑔𝑟 1000
1,384 = 60
x 10
1,384 𝑥 60
Gr = = 0,8304 gram
100

Berat Per Volume


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
(% b/v) = Volume Larutan (mL) x 100%
0,8304
= 10
x 100%
= 8,304%

Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan keasaman produk
pangan yang lain? Jelaskan contoh aplikasinya!
Prinsip Analisis kadar total asam dapat digunakan untuk menentukan keasaman
produkpangan,cotohnya adalah dalam proses pembuatan yoghurt.Nilai total asam yang
diperoleh dari produk yogurt yang dianalisis harus dipenuhi (Santoso.2012).
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

E. ANALISA PROSEDUR
1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M
Pertama yang dilakukan untuk membuat larutan standar HCl 0,1 M adalah menghitung
volume HCl pekat yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus pengenceran. Setelah
menghitung, membutuhkan 0,96 mL HCl pekat untuk diencerkan. Mengambil 0,96 ml HCl
pekat dengan menggunakan pipet volume dan masukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
Menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Tutup labu ukur dengan penutup
dan homogenkan larutan HCl 0,1 M. Didapatkan hasil berupa larutan standar HCl 0,1 M.
Memasukkan larutan standar HCl 0,1 M ke dalam buret
2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)
Timbang massa boraks yang akan digunakan untuk reaksi standarisasi dengan
menggunakan rumus Molaritas. Dapatkan nilai 1,9 gram. Timbang boraks sebanyak 1,9
gram dengan menggunakan timbangan analitik. Meletakkan boraks ke dalam gelas beker
dengan cara membilas gelas arloji. Menambahkan aquades secukupnya. Mengaduk
boraks hingga larut ke dalam air. Memasukkan larutan boraks ke dalam labu ukur 100 mL.
Tambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Tutup labu ukur dan homogenkan.
Mengambil 10 mL larutan boraks dan memasukkan ke dalam erlenmeyer. Menambahkan
indikator metil orange sebanyak 1–2 tetes. Menitrasi larutan boraks dengan menggunakan
HCl 0,1 M pada percobaan sebelumnya. Mengamati hingga terjadi perubahan warna dari
orange menjadi ungu. Mencatat volume HCl yang digunakan untuk menitrasi larutan
boraks. Melakukan duplo atau percobaan yang sama sebanyak 2 kali untuk mendapatkan
volume rata–rata HCl yang dibutuhkan untuk Menitrasi larutan boraks. Menghitung
konsentrasi HCl. Didapatkan hasil berupa larutan HCl yang telah terstandarisasi.
3. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M
Pertama menghitung berat kristal NaOH yang dibutuhkan untuk membuat larutan
standar NaOH 0,1 M. Menimbang kristal NaOH sebanyak 0,4 gram dengan menggunakan
timbangan analitik. Memasukkan kristal NaOH ke dalam gelas beker dengan cara membilas
gelas arloji dan selanjutnya menambahkan aquades secukupnya. Melarutkan kristal NaOH.
Memindahkan larutan NaOH ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga
mencapai tanda batas. Menghomogenkan larutan NaOH dan didapatkan hasil berupa
larutan standar NaOH sebesar 0,1 M. Memasukkan larutan standar NaOH 0,1 M ke dalam
buret yang selanjutnya digunakan untuk menitrasi asam okasalat.
4. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
Mula – mula mengambil 10 mL asam oksalat 0,05 M ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan indikator pp sebanyak 1–2 tetes. Menitrasi asam oksalat dengan
menggunakan NaOH. Mengamati hingga terjadi perubahan warna dari jernih menjadi ungu.
Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam oksalat. Melakukan duplo
atau mengulangi percobaan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume rata–rata NaOH
yang ditambahkan ke dalam asam oksalat. Menghitung M NaOH. Didapatkan hasil berupa
larutan NaOH yang telah di standarisasi.

5. Penggunaan larutan standar basa untuk menetapkan kadar asam asetat pada
cuka
Pertama mengambil cuka sebanyak 10 mL, lalu memasukkan ke dalam labu ukur 100
mL, selanjutnya menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Menghomogenkan
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

larutan cuka. Mengambil sebanyak 10 mL larutan cuka dan memasukkannya ke dalam


erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 2–3 tetes. Menitrasi larutan cuka dengan
menggunakan larutan NaOH yang berada di dalam buret. Mengamati hingga terjadi
perubahan warna larutan dari jernih menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang digunakan
untuk menitrasi larutan cuka dan menghitung kadar asam asetat yang terkandung di dalam
cuka. Melakukan duplo.
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

F. ANALISA HASIL
1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M
Pertama yang dilakukan yaitu meghitung terlebih dulu jumlah volume HCL 32%
yang akan diencerkan dalam percobaan pembuatan 100 mL Larutan HCl 0,1 M dengan
menggunakan rumus pengenceran larutan dan konsentrasi.
Molaritas : Pengenceran:
 x % x 10
M= M1 x V1 = M2 x V2
Mr
1,19 x 32% x 10
= 0,1 x 100 = 10,43 x V2
36,5
= 10,43 V2 = 0,96 mL (Rohman.2007)
2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)
Pertama yang dilakukan yaitu menghitung terlebih dahulu jumlah massa boraks
yang akan dibutuhkan untuk melakukan titrasi menggunakan rumus Molaritas :

M Boraks = 0,05 M
𝑔𝑟 1000
M = Mr x V
𝑔𝑟 1000
0,05 = x
381 100
𝑔𝑟
0,05 = 381
x 10
0,05 = 10 gr
gr = 19,05
= 1,9 gram (Rohman.2007)
Setelah didapatkan massa boraks yang akan dilarutkan dengan aquades.Titrasi
dilakukan dengan duplo.yaitu percobaan pertama membutuhkan 11,4 mL HCL dan
percobaan kedua membutuhkan 11,1 mL HCL.Sehingga rata-rata larutan yang
dibutuhkan untuk standariasi adalah 11.25 mL larutan HCL.Dan juga perlu
ditambahkan indikator metil orange pada boraks sebelum melakukan standarisasi
larutan HCL.Perbedan volume HCL yang dibutuhkan untuk prosestitrasi dapat
dipengaruhi oleh bebrapa faktor yitu banyaknya tetesan indikator dalam proses titrasi.
Setelah diketahui volume HCL yang dibutuhkan untuk proses titrasi,dilakukan
perhitungan untuk mengetahui konsentrasi HCL dengan menggunakan rumus
molaritas (Sukarti.2008).
𝑛 𝐻𝐶𝐿 2
=
n Na2B4O7 1
𝑀 𝐻𝐶𝐿 𝑥 𝑉 𝐻𝐶𝐿 2
M Na2B4O7 x V Na2B4O7
=1
2 𝑥 𝑀 𝑁𝑎2𝐵4𝑂7 𝑥 𝑉 𝑁𝑎2𝐵4𝑂7
M HCL = V HCL
2 𝑥 0,05 𝑥 10
(1) M HCL = = 0,087
11,4
2 𝑥 0,05 𝑥 10
(2) M HCL = = 0,09
11,1
𝑀 𝐻𝐶𝐿 (1) + 𝑀 𝐻𝐶𝐿 (2)
M HCL = 2
0,087+0,09
= 2
= 0,0885 M (Rohman.2007).
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

3. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Pertama-tama larutan NaOH 0,1 M didapatkan dengan cara melarutkan kristal padat
NaOH dengan aquades.Untuk membuat larutan standar NaOH,mssa kristal NaOH
yang dibutuhkan dihitung dengan rumus Molaritas.
𝐺 1000
M = Mr x V
𝐺 1000
0,01 = 40
x 100
g = 0,4 gram (Rohman.2007).
Setelah ditemukan massa untuk pengambilan kristal NaOH,timbang di timbangan
analitik untuk mengambil massa krital NaOH seberat 0,4 gram.Dan selanjutnya
dimasukkan dalam gelas erlemenyer dan dilarutkan dengan menggunakan aquades
sebanyak 100 mL.
4. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan menggunakan titrasi larutan NaOH
0,1 M sebagai larutan sekunder dan larutan asam oksalat sebagai larutan primer.Titrasi
dilakukan secara duplo.yaitu pada percobaan pertama membutuhkan larutan
sebanyak 11,6 mL NaOH dan pada percobaan kedua dibutuhkan larutan sebnayak
11,5 mL NaOH.Sehingga rata-rata volume yaitu 11,55 mL larutan NaOH.dan juga perlu
di tambahkan indicator fenolftalein (pp) pada asam oksalat sebelum melakukan
standarisasi NaOH.
Pada percobaan sebelum melakukan standarisasi,terlebih dahulu harus
mengetahui molaritas NaOH.

H2C2O4 + 2 NaOH Na2C2O4 + 2 H2O


M H2C2O4 = 0,05 M
2 𝑥 0,05 𝑥 10
1. M NaOH = 11,6
= 0,086
2 𝑥 0,05 𝑥 10
2. M NaOH = 11,5
= 0,087

𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 (1)+𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 (2)


M NaOH rata-rata = 2
0,086+0,087
= 2
= 0,0865 M (Rohman.2007).

Apapaun yang mempengruhi hasil kesuksesan percobaanan antara lain ialah


kebersihan alat,perhitungan yang akurat dan teliti,danpengukuran larutan yang tepat
agar tidak terjadi kesalahan.Teliti dalam melihat perubahan warna larutan setelah di
titrasi karena kurangnya ketelitian mengakibatkan adanya tambahan skala buret yang
tidak konstan.

5. Penggunaan larutan standar basa untuk menetapkan kadar asam asetat pada
cuka
Dalam penetapan kadar asam cuka percobaan dilakukan secara duplo.Yaitu pada
percobaan pertama membutuhkan 1,6 mL NaOH danpada percobaan kedua
membutuhkan 1,6 mL larutan NaOH.Sehingga rata-rata larutan yang dibutuhkan
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

adalah 1,6 mL larutan NaOH dengan volume yang sudah diketahui konsentrasi asam
cuka bisa dicari dengan menggunakan rumus :

M CH3COOH . V CH3COOH = NaOH . V NaOH


𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 . 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 . 𝐹𝑃
M CH3COOH = V CH3COOH
Dengan FP = 100.Dengan perhitungan:
0,0865 . 1,6 . 100
( 1 ) M CH3COOH = 10
= 1,384 M
0,0865 .1,6 . 100
( 2 ) M CH3COOH = 10
= 1,384 M
M CH3COOH rata-rata = 1,384 M (Sukarti.2008).
Setelah konsentrasi di ketahui selanjutnya mencari massa dari asam asetat
dengan menggunakan rumus :
𝑔𝑟 1000
M = Mr x V
𝑔𝑟 1000
1,384 = x
60 10
1,384 𝑥 60
Gr = = 0,8304 gram
100
Dari rumus tersebut didapatkan bahwa berat larutan asam asetat adalah 0,8304
gram.Sehingga kadar larutan asam cuka dapat kita ketahui dengan menggunakan
rumus :
Berat Per Volume
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
(% b/v) = Volume Larutan (mL) x 100%
0,8304
= 10
x 100%
= 8,304% (Rohman.2007).
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

KESIMPULAN
Dari percobaan dan Analisa yang telah dilakukan dapat diambi lkesimpulan:
1. Dalam pembuatan larutan 0,1 M HCL diperlukan 0,96 mL HCL
2. Konsentrasi larutan dapat dilihat setelah dilakukan dengan cara titrasi
3. Sesuai dengan prinsip dan tat acara yang ditetapkan standarisasi larutan HCL 0,1 M
dengan boraks membutuhkan 1,9 gram boraks
4. Untuk membuat NaOH 0,1 M 100 mL dibutuhkan 0,96 mL atau dalam artian 10mL
larutan NaOH dan kemudian dilarutkan dengan aquades sampai tanda batas labu
ukuran 100 mL
5. Langkah yang ditetapkan untuk membuat larutan NaOH 0,1 M dibutuhkan 0,4 gram
NaOH
6. Langkah yang ditetapkan untuk standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam
oksalat dibutuhkan 11,5 mL larutan NaOH

Tanggal Nilai Paraf


Asisten
Nama Esthy Dwi Anggraeni
Nim 175100601111008
Kelas K
Kelompok K2

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Hanapi’.Ahmad.2014.Sintesis turunan senyawa imina dari vanilin sebagai indicator titrasi
asam-basa.Jurnal Penelitian SAINTEK.Vol 1.Malang: UIN Maliki Malang.
Kotz.John.2010.Chemistry and Chemical Reactivity (Enhanced Edition).Canada : Cengage
Learning.
Lesmana,Ronny.2017.Fisiologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi,Keperawatan dan
Kebidanan.Yogyakarta : Deepublish.
Marwati.Siti.2013.Tester KIT untuk uji boraks dalam makanan.Yogyakarta.Jurnal Penelitian
SAINTEK.Vol-18 No.1.
Rohman.2007.Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Santoso.Umar.2012. ANALISIS PANGAN DAN HASIL PERTANIAN I.Yogyakarta : Universitas
Gajah Mada.
Sukarti.Tati.2008.Kimia Analitik.Jatinagor : Widya Padjadjaran.