Anda di halaman 1dari 22

Bab I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mata merupakan salah satu panca indera yang penting bagi manusia. Mata yang
sempurna adalah kebutuhan setiap orang, dengan mata kita dapat melihat indahnya dunia
yang penuh dengan warna serta berbagai bentuk yang unik. Hanya saja hal tersebut tidak
selalu dimilik ioleh setiap orang.Pada mata ditemukan beberapa kelainan salah satunya
adalah strabismus atau mata juling. Strabismus atau mata juling adalah keadaan kedudukan
kedua bola mata dimana sumbu penglihatannya tidak sejajar.

Bila satu mata melihat kearah benda yang menjadi pusat perhatiannya maka mata yang
satunya menyimpang kearah lain. Arah penyimpangan tersebut ada yang kearah hidung, ke
arah pelipis, ke arah atas atau ke bawah bahkan ada yang berputar.Strabismus ada yang
terjadi sejak lahir dan ada pula terjadi dalam perjalanan hidupnya.

Penyebab strabismus ada yang tidakdiketahui dan sebagian lagi disebabkan oleh herediter
(keturunan); kelainan refraksi atau kacamata; kelainan dalam otak ; lumpuh sebagian saraf
yang mensyarafi otot-otot luar bola mata; kelainan otot-ototl uar bola mata; kelainan-
kelainan di dalam bola mata. Pengobatan strabismus ditujukan untuk membangun atau
mengembalikan penglihatan binocular tunggal.

B. Tujuan

Untuk mengetahui jenis-jenis strabismus, penyebab, patofisiologi, gejaladan


penanganannya.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Strabismus adalah suatu keadaan dimana kedudukan bola mata tidak searah.Pada
strabismus sumbu penglihatan tidak berpotongan pada satu titik benda yang dilihat. Yang
dimaksud dengan sumbu penglihatan adalah garis yang menghubungkan titik nodal dan fovea
sentralataugaris yang menhubungkan titik fiksasi, sentral pupil dan fovea
sentral.(Penuntunilmupenyakitmata, Prof dr H SidhartaIlyas, Sp.M, Balaipenerbit FKUI,
2008)

B. Anatomi dan Fisiologi

Otot luar bola mata

Pergerakan kedua bola mata dimungkinkan oleh adanya enam pasang otot mata luar
pergerakan bola mata kesegala arah ini bertujuan untuk memperluas lampangpandangan,
memndapatkan pengelihatan foveal dan penglihatan binokular utuh jauh dan dekat.

2
Otot otot bola mata ini mengerakan bola mata pada tiga bua sumbuh pergerakan , yaitu sumbu
antero- posterior , sumbu fertikal dan sumbuh naso temporal ( horisontal ).

Fungsi masing masing otot

- Otot rektus medius , kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau mengulirnya bola mata
ke arah nasal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke III ( saraf okulomotor )
- Otot rektus lateral, kontraksinya akan menghasilkan abduksi atau mengulirnya bola mata
ke arah temporal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke VI ( saraf abduksen )
- Otot rektus superior, kontraksinya akan menghasilkan elefasi, aduksi dan intorsi bola
mata dan otot ini dipersarafi saraf ke III ( saraf okulomotor )
- Otot rektus inferior, kontraksinya akan menghasilkan depresi pada abduksi, ekstorsi dan
pada abduksi, dan aduksi 23 derajat pada depresi. Otot ini dipersarafi oleh saraf ke III .
- Otot oblik superior, kontraksinya akan menghasilkan depresi intorsi bila berabduksi 39
derajat, depresi saat abduksi 51 derajat, dan bila sedang depresi akan berabduksi. Otot ini
yang dipersarafi saraf ke IV ( saraf troklear ).
- Oblik inferior, dengan aksi primernya ekstorsi dalam abduksi sekunder oblik inferior
adalah elefasi dalam aduksi dan abduksi dalam elefasi . M. Oblik inferior di persarafi saraf ke
III.

Demikian kesimpulan dapat diuraikan sebagai :

- Rektus medius : aksi – aduksi


- Rektus lateral : aksi – abduksi
- Rektus superior , aksi primer : - elefasi dalam abduksi
Sekunder - intorsi dalam aduksui
-aduksi dalam elefasi
- Rektus inferior, aksi primer : - depresi pada abduksi
Sekunder - akstorsi pada aduksi
- abduksi dalam depresi
- Oblik superior , aksi primer : - intorsi pada abduksi
Sekunder - depresi dalam aduksi
-abduksi dalam depresi

3
- Oblik inferior, aksi primer : - ekstorsi dalam abduksi

Sekunder - elevasi dalam aduksi

-abduksi dalam elevasi

Kedua sumbu penglihatan dipertahankan lurus dan sejajar dengan status refleks. Bila refleks
ini tidak bisa dipertahankan maka akan terdapat juling. Juling adalah salah satu keadaan
dimana kedudukan bola mata yang tidak normal. Yang dimaksut dengan sumbuh penglihatan
adalah garis yang menghubungkan titik nodal dan fovea sentral dan garis menghubungkan
titik faksi , sentral pupil dan vofea sentral. Strabismus adalah suatu keadaan dimana
kedudukan kedua bola mata tidak satu arah. Pada strabismus sumbuh bola tidak berpotongan
pada satu titik benda yang dilihat.

ARAH GERAKAN YOKE MUSCLES


 KANAN ATAS RECTUS SUP. OD & OBLIQUUS INF. OS

 KANAN RECTUS LAT.OD & RECTUS MED. OS

 KANAN RECTUS INF. OD & OBLIQUUS SUP.OS


BAWAH
OBLIQUUS INF. OD & RECTUS SUP. OS
 KIRI ATAS
RECTUS MED. OD & RECTUS LAT. OS
 KIRI
OBLIQUUS SUP. OD & RECTUS INF OS
 KIRI BAWAH

4
Fisiologi Mata

Mata adalah organ fotosintetif yang sangat berkembang dan rumit, yang mungkin analisis
cermat dari bentuk, itensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan obje. Mata terletak dalam
stuktur protektif ditengkorak, yaitu rongga orbita, setiap mata terdiri dari sebua bola mata
fibrosa yang kuat untuk mempethankan bentuknya , suatu lensa untuk memfokus bayangan
selapis sel foto sintetif dan suatu sistem sel saraf yang berfungsi mengumpulkan,
memproses, dan meneruskan informasi visual keotak ( junqueira 2007 )

Tidak semua cahaya yang melewati kornea melewati fotoreseptor peka cahaya karena
adanya irissuatu otot polos tipis berpingmen yang berbentuk struktur cincin didalam
aqueus humour. Lubang bundar dibagian tengah iris tempat masuknya cahaya kebagian
dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos , satu sirkuler
dan yang lain radial karena serat serat otot memendek jika berkontraksi , pupil mengecil
apabila otot sirkuler berkontraksi yang terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan
jumblah cahaya yang masuk ( sherwood, 2001).

Untuk membawa sumber cahaya jau dan dekat terfokus diretina, harus dipergunakan lensa
yang lebih kuat untuk sumber dekat kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga
baik sumbercahaya dekat maupun jau dapat difokuskan di retina dikenal sebagai
akomudasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya , yang diatur oleh otoot siliaris .
otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid disebelah
anterior . pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan
jau, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memmungkinkan lensa menjadi lebih cembung
dan lebih kuat untuk penglihatan dekat. Serat serat saraf simpatis menginduksi relaksi otot
siliaris untuk penglihatan jau, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi
otot untuk penglihatan dekat ( sherwood ,2001 ).

Proses visual mata

Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan menghasilkan
sebua bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal , pupil dapat dilalui
cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika kontriksi maksimal. Diameter
pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu papillari constrictor yang

5
terdiri dari otot otot sirkuler dan papilari dilator yang terdiri dari sel sel epitelial kontraktil
yang telah termodifikasi . sel sel tersebut dikenal juga sebagai myoepitelial cells ( Saladin,
2006 ).

Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel sel ini berkontraksi dan melebarkan pupil
sehingga lebih banyak cahaya memasuki mata.

Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory retina. Pada
pigmented retina, terdapat selapis sel sel berisi pigmen melanin yang bersama sama dengan
koroid membentuk suatu matriks hitam yang mempertajam penglighatan dengan
mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi fotoreseptor - fotoreseptor yang ada.
Pada sensori retina, terdapat tiga lapisan neuron yaitu lapisan fotoreseptor, bipolar dan
ganglionic. Badan sel dari setiap neuron ini dipisahkan oleh plexsifrom layer dimana
neuron dari berbagai lapisan bersatu. Lapisa plexifrom luar berada di antara lapisan sel
bipolar dan ganglionic sedangkan lapisan flexiformis dalam terletak diantara lapisan sel
bipolar dan ganglionic ( seeley,2006 ).

Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensorik retina , sinyal yang terbentuk akan
diteruskan ke nervus obtukus, optic chiams, optic tract, lateral geniculated dari thalamus ,
superior colli culli, dan korteks cerebri ( ceely, 2006 )

Tajam penglihatan

Tajam penglihatan merupakan padanan dari bahasa inggris “ visual acuyti “ yang di
definisikan sebagai buruk atau jelasnya penglihatan yang bergantung pada tingkat
kejelasan upaya penfokusan di retina . ketajaman penglihatan merupakan kemampuan
sistem penglihatan untuk membedakan berbagai bentuk ( anderson, 2007 ). Penglihatan
yang optimal hanya dapat dicapai bila terdapat suatu jalur saraf visual yang utuh, struktur
mata yang sehat serta kemampuan fokus mata yang tepat ( riordan – ev, 2009 ) .

C. Etiologi
1. FaktorKeturunan

6
“GenetikPattern”nya belumdiketahuidenganpasti, tetapiakibatnyasudahjelas. Bila
orang tua yang menderita strabismus denganoperasiberhasilbaik,
makabilaanaknyamenderita strabismus danoperasiakanberhasilbaik pula.
2. KelainanAnatomi
a. Kelainanototekstraokuler
b. Over development
c. Under development
d. Kelainanletakinsertiootot
3. Kelainanpada “vascial structure”
Adanyakelaianhubunganvascialotot-
ototekstraokulerdapatmenyebabkanpenyimpanganposisi bola mata.
4. Kelainandaritulang-tulangorbita
Kelainanpembentukantulangorbitamenyebabkanbentukdan orbital abnormal, sehingga
menimbulkanpenyimpangan bola mata.
a. Kelainanpadasarafpusat yang tidakbisamensintesarangsangan.
b. Fovea tidakdapatmenangkapbayangan.
c. Kelainankuantitas stimulus padaotot bola mata.
d. KelainanSensoris
5. KelainanInervasi
Gangguan proses transisidanpersepsi
(Tim DokterFakultas Unair.1984.Ilmu PenyakitMata.AirlanggaUniversity:Surabaya
Ilyas,Sidarta.2005.KedaruratanDalamIlmuPenyakitMata.Mata.BalaiPenerbit FKUI)
D. Patogenesis
1. Adanya gangguan keseimbangan akomodasi dan konvergensi
2. Efek dari usaha akomodasi yang berkepanjangan dan berlebihan pada mata yang
mengalami msalah refraksi akan menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan antara
akomodasi dan konvergensi. Akibatnya mata dengan masalah refraksi akan mengalami
kovergensi berlebihan yang menghasilkan deviasi mata abnormal. pada hiperopia, akan
terjadi esotropia, sedangkan pada miopi akan terjadi exotropia.
3. Gangguan ekuilibrium muskular

7
4. Dapat juga terjadi akibat malinsersi kongenital atau defek perkembangan pada satu atau
lebih muskulus ekstrinsik. Yang akibatnya posisi bola mata berada dan dipertahankan
dengan pada sudut yang abnormal.
5. Gangguan pada sistem inervasi
6. Motilitas mata ditentukan oleh mekanisme volunter dan refleksyang terletak pada korteks
serebral dan batang otak. Lesi pada batang otak atau pada jalur supranuklear akan
membentuk deviasi dan parese pada pergerakan pada kedua bola mota. Walaupun
pergerakan dan posisi mata abnormal , koordinasi relative mata tetap dipertahankan dan
diplopia tidak terbentuk. Jika lesi terbentuk pada tingkat yang lebih rendah, seperti pada
nuklei, nervus, atau ototnya,koordinasi relatifdari mata menjadi terganggudan diplopia
serta gejala lain akan muncul.

Adaptasi sensorik terhadap strabismus yang berlangsung dalam jangka waktu lama
adalah:
a. Supressi
Melibatkan inhibisi aktif pada gambar dari mata yang berdeviasi untuk mencegah
diplopia.
b. Abnormal retinal correspondence (ARC)
Merupakan suatu keadaan yang terjadi pada strabismus dengan deviasi sudut yang
kecil, dimana fusi dapat terjadi sehingga dapat terbentuk gambar tunggal walupun
tidak setajam pada mata normal.
Jadi pada awalnya memang masih terjadi diplopia namun oleh karena adanya mekanisme
Supresi dan ARC maka diplopia dapat dihentikan. Namun bila berlanjut mata yang terus
disupresi pada akhirnya akan mengalam ambliopia.
Adaptasi motorik terhadap strabismus melibatkan pergerakan kepala abnormal untuk
mengeliminasi diplopia dan membantu fiksasi lapang pandang binokular. Pergerakan
kepala abnormal terdiri tiga komponen.
a. Memalingkan wajah
Dilakukan untuk mengontrol deviasi horizontal.
b. Memiringkan wajah
Dilakukan untuk mengontrol diplopia torsional atau vertikal.

8
c. Elevasi atau depresi dagu
Dilakukan untuk mengkompensasi kelemahan pada otot elevator atau depresor. Dan
juga untuk mengkompesasi deviasi horizontal ketika pola A atau V ada.

Pada mata dengan mekanisme fusi yang baik dan deviasi yang kecil, maka dapat
dilakukan perbaikan deviasi mata. Keadaan ini disebut dengan stabismus laten atau
heteroforia. Manifestasi strabismus dapat terjadi ketika otot yang mempertahankan
perbaikan menjadi lelah akibat terlalu lama berkontraksi.

E. Manifestasi Klinis
1. Adanya amylibiopia pada mata yang berdeviasi
2. Diplopia, biasanya muncul pada awal-awal strabismus yang kemudian mengilang
oleh karena adanya proses supresi.
3. Terjadinya fikasasi eksentrik. Keadaan dimana penderia memfiksasikan bayangan
tidak tepat pada retina, melainkan pada daeah tepi retina menhasilkan gambar yang
kabur
4. Adanya diskomfort, dan penglihatan kabur.

F. Klasifikasi Strabismus
1. Paralititk (inkomitan = nonkomitan)
Sudut deviasi tak sama untuk semua arah. Disebabkan hilangnya fungsi dari satu atau
lebih dari satuotot mata luar. Paralise ini dapat total atau sebagian
(parese).
Tanda-tanda :
a. Gerak mata terbatas, pada daerah dimana otot lumpuh bekerja. Hal ini menjadi
nyata pada kelumpuhan total dan kurang nampak pada parese.
b. Deviasi, hal ini akan tampak lebih jelas, bila kedua mata digerakkan ke arah
dimana otot yang lumpuh bekerja. Tetapi bila mata digerakan ke arah dimana otot
yang lumpuh tidak berpengaruh, deviasinya tak tampak. Cara membedakan
strabismus paralitik dari non paralitika, dimana deviasi primer sama dengan
deviasi sekunder.

9
c. Diplopia, terjadi pada lapangan kerja otot yang lumpuh dan menjadi lebih nyata
bila mata digerakkan ke arah ini.
d. Okular torticolis (head tilting), penderita biasanya memutar ke arah kerja dari otot
yang lumpuh. Kedudukan kepala yang miring, menolong diagnosa strabismus
paralitikus. Dengan memiringkan kepalanya, diplopia terasa berkurang.
e. Proyeksi yang salah, mata yang lumpuh tidak melihat objek pada lokalisasi yang
benar.
f. Vertigo, mual-mual disebabkan oleh diplopia dan proyeksi yang salah. Keadaan
ini dapat diredakan dengan menutup mata yang sakit.
2. Non paralitik (konkomitan=komiten)
Sudut deviasi tetap untuk semua arah.
Etiologi strabismus konkomitan :
Secara genetik, sekurang-kurangnya 60% dari anak dengan strabismus mempunyai
riwayat keluarga. Hal ini dapat meningkatkan insidensi strabismus konkomitan.
Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi juga sebagian bertanggung jawab pada
kejadian strabismus. Anak dengan hiperopia cenderung menjadi esotropia. Ini karena
konvergensi dan akomodasi berpasangan.
Insufiensi fusi dapat terjadi dalam hubunganya dengan anisometropia dan
aniseikonia. Dapat terjadi pada heteropia (strabismus laten) setelah satu mata ditutup
perban dalam periode prolong.
Unilateral visual impairment seperti katarak, perubahan makular, penyakit retina juga
penglihatan jarak dekat yang parah.
Hal-hal lain yang memungkinkan menyebabkan strabismus konkomitan termasuk
lesi perinatal (prematur dan asfiksia), trauma serebral dan ensefalitis.
a. Akomodatif , berhubungan dengan kelainan refraksi.
Strabismus konvergens non paralitik akomodatif (esotropia konkomitan)
Strabismus divergen non paralitik akomodatif
b. Nonakomodatif, tidak ada hubungan dengan kelainan refraksi

Deviasi ini dapat bersifat :

1. Manifes (heterotropia)

10
Deviasi manifes dimana tidak mungkin untuk melakukan penglihatan binokuler
tunggal. Fiksasi terjadi dengan satu matadan tidak pernah dengan dua mata pada
waktu yang sama.
Macam-macam heterotropia:
a. Strabismus konvergens /esotropia / crossed eye (deviasi ke nasal)
b. Strabismus divergens / eksotropia /wall eye (deviasi ke temporal)
c. Hipertropia (deviasi mata ke atas)
d. Hipotropia (deviasi mata ke bawah)

Pada umumnya untuk deviasi yang vertikal dikatakan hipertropia. Bila salah satu
mata terletak lebih tinggi dari yang sebelahnya, disebut hipertropia dari mata
yang lertaknya lebih tinggi.

2. Laten (heteroforia)
Keadaan dimana mata mempunyai kecenderungan untuk berdeviasi kesalah satu
arah, yang dapat diatasi dengan penglihatan binokuler tunggal. Deviasinya laten,
hanya dapat dilihat bila mata sebelahnya ditutup.
Macam-macam heteroforia :
a. Esoforia (deviasi ke nasal)
b. Eksoforia (deviasi ke temporal)
c. Hiperforia (deviasi ke atas)
d. Hipoforia (deviasi ke bawah)
e. Siklforia (gerakan memutar)
Sikloforia (+) = memutar ke temporal
Sikloforia (-) =memutar ke nasal.
G. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tajam penglihatan
Standar pemeriksaan tajam penglihatan pada orang dewasa dapat dinilai dengan
menggunakan kartu Snellen namun dapat menyebabkan kesalahan dan inefisiensi
karena ruang yang tidak merata antara satu tingkat ketajaman visual dan menimbulkan
amblyopia, sedangkan pada anak usia 2 tahun untuk kuantifikasi ketajaman
penglihatan dilakukan dengan menggunakan tes kartu ketajaman Teller atau pada anak

11
usia 3-5 tahun dapat dinilai menggunakan kartu Cardiff atau dapat dinilai
menggunakan “E” jungkir balik (Snellen) atau kartu bergambar Allen.

2. Deviasi
Konstan atau intermiten. Adanya posisi kepala yang abnormal. Tes Prisma (uji
Krimsky)berguna menentukan besarnya deviasi mata yang perubahannya kurang dari
10 PD (Prisma Dioptri) dalam pengukurannya. Setelah awal pengukuran strabismus di
posisi utama tatapan, pengukuran dilakukan di semua bidang lain dari tatapan untuk
menentukan apakah strabismus comitant atau incomitant.

3. Ptosis
Pada ptosis neurogenik jatuhnya kelopak mata atas dapat unilateral, sedangkan pada
ptosis miogenik biasanya bilateral. Karakteristik pada ptosis unilateral adalah pasien
berusaha untuk meningkatkan fisura palpebra dengan cara merengut atau
mengernyitkan dahi (kontraksi dari otot frontalis). Ptosis kongenital biasanya
mengenai satu mata saja.

4. Hirschberg reflection test


o Memeriksa reflek cahaya pada kedua permukaan kornea. Dengan tes ini
adanya strabismus dapat dideteksi, setiap 1mm penyimpangan sama dengan
15 prisma dioptri atau 1 derajat sama dengan 2 prisma dioptri. Bila letaknya
dipinggir pupil, maka deviasinya 15 derajat; bila diantara pupil dan limbus
deviasinya 30 derajat; sedangkan bila letaknya dilimbus, derajat deviasinya 45
derajat. Mengarahkan cahaya ke mata pasien dengan jarak kira-kira 30 cm
dan tubuh pasien menghadap langsung ke cahaya untuk menilai lokasi refleks
cahaya dalam setiap mata. Jika pasien didiagnosis dengan strabismus akan
memiliki refleks cahaya eksentrik dalam menyimpang mata. Perpindahan
temporal refleks cahaya menunjukkan esotropia, perpindahan hidung
menunjukkan exotropia, dan inferior perpindahan menunjukkan hypertropia.

12
o Ortofori, bila masing-masing refleks cahaya pada kornea berada di tengah-
tengah pupil. Heterofori, bila salah satu refleks cahaya pada kornea tidak
berada di tengah-tengah pupil.

5. Pergerakan mata
Memeriksa pergerakan mata pasien dengan meminta pasien mengikuti pergerakan
jari pemeriksa pada jarak kira-kira 30 cm ke sembilan arah yaitu lurus ke depan, 6
posisi kardinal (kanan, kanan atas, kanan bawah, kiri, kiri atas, kiri bawah), keatas,
dan ke bawah.

Pada saat mata melakukan pergerakan ke 6 posisi kardinal hanya satu otot saja yang
bekerja, sedangkan saat mata melihat ke atas atau ke bawah beberapa otot bekerja
bersamaan sehingga sulit mengevaluasi kerja masing-masing otot. Oleh karena itu
dalam menilai kelumpuhan otot-otot ekstraokular, pergerakan mata ke 6 posisi
kardinal lebih bernilai diagnostik. Selain itu penting juga untuk menilai kecepatan
dari gerakan sakadik mata, baik secara horizontal ataupun vertikal.

6. Cover-uncover test
Tes ini bertujuan untuk menentukan sudut deviasi/sudut strabismus. Sewaktu
pemeriksa mengamati satu mata, di depan mata yang lain ditaruh penutup untuk
menghalangi pandangannya, kemudian amati mata yang tidak ditutup apakah mata
tersebut bergerak untuk melakukan fiksasi atau tidak. Setelah itu buka penutup yang
telah dipasang dan perhatikan apakah mata yang telah dibuka penutupnya melakukan
fiksasi kembali atau tidak. Adapun hasil fiksasi untuk heteroforia dari heterotropia
kedua kedua mata melihat lurus kedepan, saat satu mata tertutup: pada ortoforia mata
yang ditutup tidak bergerak, sehingga waktu tutup dibuka mata tak bergerak; pada
esoforia mata yang ditutup bergerak kenasal, pada waktu tutup dibuka, mata bergerak
dari nasal ketengah; pada eksoforia mata yang ditutup bergerak ketemporal, bila
tutup dibuka, mata bergerak dari temporal ketengah.

13
Pada heterotropia deviasi tetap ada, meskipun tutupnya ditutup atau dibuka. Tetapi
bila mata yang baik ditutup, maka mata yang lainnya bergerak, hingga aksis visualis
mengambil posisi normal, sedang mata yang baik yang ada dibelakang tutup
bergerak mengalami deviasi. Bila tutup dipindah maka terjadilah keadaan sebaliknya,
mata yang terbuka akan bergerak mengalami posisi fiksasi, sedangkan mata yang
lainnya akan berdeviasi.

7. Hess screen
Tes ini bertujuan untuk mengukur sudut deviasi/sudut strabismus.Untuk tes ini di
depan salah satu mata pasien dipakaikan kaca berwarna merah dan kaca berwarna
hijau pada mata lainnya. Kemudian pasien diminta untuk memegang tongkat
dengan lampu hijau dan diminta untuk menunjuk cahaya merah yang terlihat pada
layar dengan tongkat tersebut. Dengan tes ini masing-masing mata dapat dinilai
sehingga dapat diukur arah dan sudut deviasinya.

Penilaian dan pengukuran deviasi pada strabismus paralitik/inkomitan adalah


penting, tidak hanya untuk mendiagnosa otot ekstraokular mana yang terkena tapi
juga sebagai patokan awal terhadap derajat kelumpuhan otot sehingga kemajuan
pasien dapat dievaluasi dengan baik.
H. Terapi

Tujuan utama stradismus pada anak adalah :

1. Pemulihan efek sensorik yang merugikan ( amblyopia, supresi dan hilangnya


stereopsis )
2. Penjajaran matra terbaik yang dapat dicapai dengan terapi medis ayau beda. Pada
semua kasus, manfaat psikologis mata yang tidak juling jangan dianggap reme.

Penentuan Waktu Terapi Pada Anak

Seorang anak dapat diperiksa di semua usia, dan terapi untuk ambliopia atau
stradismus harus dilakukan segera setekah diagnosis ditegakkan. Penelitian –penelitian
neurofisiologik pada hewan telah membuktikan bahwa oatak bayi cukup responsive

14
terhadap pengalaman sensorik, dan kualitas fungsi yang mungkin terbentuk pada masa
mendatang sangat dipengruhi oleh pengalaman-pengalaman pada awal kehidupan. Telah
diperlihatkan bahwa hasil keseluruan dipengaruhi oleh penjajaran mata secara dini,
sebaiknya sebelum usia 2 tahun. Penjajaran mata yang baik dapat dicapai kemudian,
tetapi adaptasi sensori normal menjadi semakin sulit seiring dengan makin besarnya anak.
Pada usia 8 tahun, status sensorik biasanya telah terfiksasi sehingga gangguan stereopsis
dan ambliopia tidak dapat diterapi secara efektif.

Terapi Medis

Terapi nonbeda untuk strabismus mencakup terapi untuk ambliopia, pemekaian alat-
alat optic ( prisma dan kaca ), obat farmakologik, dan ortoptik.

1. Terapi Ambliopia : Eliminasi ambliopia sangat penting dalam pengobatan strabismus


dan selalu merupakan sala satu tujuan. Deviasi akibat strabismus dapat membesar –
jarang mengecil – setelah terapi ambliopia. Hasil tindakan bedah lebih dapat
diperkirakan dan stabil apabila ketajaman penglihatan kedua mata sebelum operasi
baik.
a. Terapi oklusi – Terapi ambliopia yang utama adalah oklusi. Mata yang baik
ditutup untuk meransang mata yang mengalami ambliopia. Apabila terdapat
kesalaan refraksi yang cukup signifikan, juga digunakan kaca mata.
Dikenal ada dua stadium terapi ambliopia yang berhasil : perbaikan awal dan
pemeliharaan ketajaman penglihatan yang telah diperbaiki tersebut.
b. Stadium awal – Terapi awal standar adalah penutupan terus menerus. Pada
beberapa kasus hanya diterapkan penutupan paruh waktu apabila ambliopianya
tidak terlalu para atau anak terlalu muda. Sebagai petunjuk, penutupan terus
menerus dapat dilakukan sampai beberapa minggu (setara dengan usia anak dalam
tahun) tanpa risiko penurunan penglihatan pada mata yang baik. Terapi oklusi
dilanjutkan selama ketajaman penglihatan membaik (kadang-kadang sampai
setahun). Penutupan sebaiknya tidak terus menerus lebih dari 4 bulan apabila
tidak terdapat kemajuan.
Ambliopia bersifat fungsional (yakni tidak terdapat lesi organic yang dapat
diidentifikasi, walaupun adaptasi harus bersifat serebral). Pada sebagian besar

15
kasus, apabila terapi dilakukan sedini mungkin, dapat dicapai perbaikan yang
bermakna atau normalitas total ketajaman penglihatan. Kadang –kadang tidak
terjadi perbaikan walaupun dibawa kondisi ideal. Kurangnya ketaatan terhadap
jadwal pengobatan (mengintip melalui penutup atau kurangnya pengawasan oleh
orangtua) dapat menjadi faktornya.
c. Stadium pemeliharaan – Terapi pemeliharaan terdiri dari penutupan paruh waktu
yang dilanjutkan setelah fase perbaikan untuk mempertahankan penglihatan
terbaik melewati usia dimana ambliopia kemungkinan besar kambuh (sekitar usia
8 tahun).
d. Terapi atropine –Beberapa anak intoleran terhadap terapi oklusi. Pada kasus-kasus
ini yang memiliki hyperopia sedang atau tinggi, terapi atropin mungkin efektif.
Atropine menyebabkan sikloplegia sehingga menurunkan kemampuan akomodasi.
Mata yang baik ditetesi dengan atropine, dan digunakan kacamata untuk
memfokuskan mata tersebut. Hanya untuk fiksasi jauh atau dekat. Di luar waktu
tersebut, pasien didorong menggunakan mata yang ambliopik. Tetes atropine 1%
setiap beberapa hari biasanya cukup untuk menimbulkan sikloplegia meneteap.
2. Alat optic
a. Kacamata – alat optic terpenting dalam penglihatan strabismus adalah kacamata
yang diresepkan secara akurat. Klasifikasi citra retina yang dihasilkan oleh
kacamata memungkinkan mata menggunakan mekanisme fusi alamiah sebesar-
besarnya. Kesalahan refraksi yang ringan tidak perlu diperbaiki. Apabila terdapat
hyperopia dan esotropia yang bermakna, esotropia tersebut mungkin (paling tidak
sebagian) disebabkan oleh hyperopia (esotropia akomodatif). Resep kacamata
mengkompensasikan temuan-temuan sikloplegik penuh. Apabila mungkin,
gunakan kacamata bifokus yang memungkinkan relaksasi untuk akomodasi
penglihatan dekat.
b. Prisma – prisma menghasilkan pengarahan ulang garis penglihatan secara optis.
Unsur-unsur retina dibuat segaris untuk menghilangkan diplopia. Penjajaran
sensorik mata yang tepat juga merupakan suatu bentuk terapi antisupresi. Apabila
digunakan sebelum operasi, prisma dapat merangsang efek sensorik yang akan
timbul setelah tindakan bedah. Pada pasien devisiasi vertical kecil yang simultan,

16
sehingga dapat merupakan indikasi apakah juga harus dilakukan tindakan bedah
untuk komponen vertical. Pada anak dengan esotropia, dapat digunakan prisma
sebelum operasi untuk memperkirakan pergeseran posisi pasca operasi yang dapat
mementahkan hasil pembedahan dan rencana pembedahan dapat dimodifikasi
sesuai hal tersebut (uji adaptasi prima).
Prisma dapat digunakan dengan beberapa cara. Bentuk yang cukup nyaman adalah
prisma plastic press-onFresnel. Membrane-membran plastic ini dapat ditaruh di
kacamata tanpa memerlukan bantuan ahli optic dan sangat bermanfaat diagnostik
dan terapeutik temporer. Untuk pemakaian permanen, prisma sebaiknya
dimasukan dalam resep kacamata, terapi jumlahnya dibatasi sampai sekitar 5
prisme per lensa karena pada kekuatan yang lebih tinggi distorsi prismatic
menjadi mencolok.

3. Obat farmakologik
a. Miotik – ekotiopat iodida dan isofluropat menyebabkan asetilkolinesterase inaktif
di laut neuromuscular sehingga efek setiap impuls saraf menguat. Akomodasi
menjadi lebih efektif relative terhadap konvergensi daripada sebelum pengobatan.
Karena akomodasi mengontrol refleks dekat (trias akomodasi, konvergensi, dan
miosis), penurunan akomodasi akan menurunkan konvergensi dan sudut deviasi
akan secara bermakna berkurang, sering sampai nol.
Biotik telah digunakan secara luas untuk diagnosis dan pengobatan esotropia
akomodatif dengan atau tanpa rasio konvergensi akomodatif – akomodasi (rasio
KA/A) yang tinggi. Pada anak yang datang dengan esotropia didapat dan memiliki
hyperopia sferis kurang dari +3,00, miotik dapat digunakan untuk diagnosis.
Apabila setelah 4-6 minggu esodeviasi menghilang, dapat ditegakkan diagnosis
etropia akomodatif. Terapi miotik dapat dilanjutkan, atau dapat diberikan
kacamata hiperopik. Pada banyak pasien dengan rasio KA/A yang tinggi, miotik
juga dapat digunakan pada pemakaian kacamata penglihatan tunggal untuk
menghindari kacamata bifokus.
b. Toksin botulinum – penyuntikan botulinum tipe A (botox) ke dalam suatu otot
intraocular menimmbulkan pasalisis otot tersebut yang lamanya bergantung dosis.

17
Penyuntikan diberikan di bawah control posisi secara elektromiografik dengan
menggunakan jarum elektroda bipolar. Toksin diberikan erat dengan jarigan otot.
Dosis yang digunakan sangat kecil sehingga tidak terjadi toksisitas sistemik. Lama
paralisis yang diperlukan bergantung pada sudut deviasi. Semakin besar sudut
deviasi, semakin lama paralisis yang diperlukan. Paralisis otot akan memutar mata
ke bidang kerja otot antagonis. Selama mata berdevisiasi, otot yang lumpuh
teregang, sedangkan otot antagonisnya berkontraksi. Setelah paralisis menghilang,
mata akan secara bertahap kembali ke posisinya semula tetapi dengan
keseimbangan gaya yang baru yang mengurangi atau menghilangkan deviasi
secara permanen. Untuk memperoleh efek menetap, biasanya diperlukan 2 kali
injeksi atau lebih.
c. Ortoptik : seorang ortoptis dilatih untuk menguasai metode-metode pemeriksaan
dan terapi pasien strabismus. Ortoptis memberikan pertolongan yang cukup
bermakna bagi ahli oftalmologi, terutama dalam diagnosis dan, sampai tingklat
tertentu, terapi. Evaluasi terhadap status sensorik mungkin sangat membantu
dalam menentukan potensi fusi. Seorang ortoptis dapat membantu dalam terapi
pra operasi terutama pada pasien-pasien dengan ambliopia. Kadang-kadang
pelatihan-pelatihan ortoptik dan instruksi untuk “berlatih” di rumah dapat
membantu dan memperkuat terapi bedah.

Terapi Bedah

1. Tindakan Bedah :
Berbagai perubahan dalam efek rotasi suatu otot ekstraokular dapat dicapai dengan
tindakan bedah.
a. Reseksi dan resesi
b. Secara konseptual, tindakan yang paling sederhana adalah memperkuat dan
melemahkan. Sebua otot diperkuat dengan suatu tindakan yang disebut reseksi.
Otot dilepaskan dari mata, diregangkan secara terukur, kemudian dijahit kembali
kemata, biasanya di tempat insersi semula. Panajang ekstra dipotong. Resesi
adalah tindakan pelemahan standar. Otot dilepas dari mata, dibebaskan dari

18
perlekatan fasia, dan dibiarkan mengalami retraksi. Otot tersebut dijahit kembali
ke mata pada jarak tertentu dibelakang intersinya semula.
c. Penggeseran titik perlekatan otot.
d. Selain penguatan dan pelemahan sederhana, titik perlekatan otot dapat
dipindahkan ; hall ini dapat menimbulkan efek rasional yang sebelumnya tidak
dimiliki otot tersebut. Misalanya, pergeseran vertical ototrektus horizontal dalam
arah yang berlawanan mempengaruhi posisi horizontal mata sewaktu memandang
kebawah dan ke atas. Hal ini dilakukan untuuk pola A dan V, dimana deviasi
horizontar lebih merupakan suatu esideviasi masing- masing dalam memandang
ke atas dan kebawah.
e. Tindakan Faden.
f. Suatu operasi khusus untuk melemahkan otot disebut tindakan fiksasi posterior
faden. Dalam operasi ini, diciptakan suatu intersi otot baru jahu dibelakang inters
semula. Hal ini menyebabkan pelemahan mekanis otot sewaktu mata berotasi di
dalam bidang kerjanya. Apabila dikombinasi dengan resesi otot yang sama,
operasi Faden menimbulkan efek melemahkan yang mencolok tanpa perubahan
bermakna pada posisi primer mata. Tindakan ini dapat efektif pada otot rektus
vertical (deviasi vertical disosiasi) atau otot horizontal (rasio KA/A yang tinggi,
nistagmus, dan ketidakseimbangan otot yang tidak lazim lainnya).

2. Pemilihan Otot untuk Pembedahan.


Keputusan mengenai otot mana yang akan dioperasi bergantung pada beberapa
factor. Yang pertama adalah besar ketidaksejajarnya yang diukur dalam posisi
primer. Dilakukan modifikasi-modifikasi untuk perbedahan pengukuran jahu dan
dekat yang bermakna. Otot rektus yang mendialis memiliki efek lebih besar pada
sudut seviasi untuk penglihatan dekat dan otot rektus lateralis memiliki efek lebih
besar pada penglihatan dekat, tindakan pelemahan bilateral atau tindakan
resesi/reseksi unilateral sama efektif.
I. Komplikasi
1. Supresi

19
Merupakan usaha yang tak disadari dari penderita untuk menghindari diplopia yang
timbul akibat adanya deviasi.
2. Ambliopia
Yaitu penurunan visus pada satu atau dua mata dengan atau tanpa koreksi kacamata dan
tanpa adanya kelainan organiknya.
Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai optimal
sesuai dengan usia dan itelegensinya walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksi. Pada
amblioplia terjadinya penurunan tajam penglihatan unilateral atau bilateral disebabkan
karena kehilangan pengenalan bentuk, interaksi binokuler abnormal, atau keduanya,
dimana tidak ditemukan kausa organik pada pemeriksaan fisik pada pemeriksaan fisik
mata dan pada kasus yang keadaan baik, dapat dikembalikan fungsinya dengan
pengobatan.
Ambliopia ini dapat tanpa atau dengan kelainan organik yanng tidak sebanding dengan
visus yang ada.
Biasanya ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan untuk meningkatakan
perkembangan penglihatan. Suatu kausa ekstraneural yang menyebabkan menurunnya
tajam penglihatan (seperti katarak, astigmat, strabismus, atau suatu kelainan refraksi
unilateral atau bilateral yang tidak dikoreksi) merupakan mekanisme pemicu yang
mengakbatkan suatu penurunan fungsi visual pada orang sensitif. Beratnya ambliopia
berhubungan dengan lamanya mengalami kurangnya rangsangan perkembangan
penglihatan makula.
Bila ambliopia ini ditemukan pada usia di bawah 6 tahun maka masih dapat dilakukan
latihan untuk perbaikan penglihatan. Sebab ambliopia adalah anisometropia, juling,
oklusi dan katarak atau kekeruhan media penglihatan lainnya. Diduga terdapat 2 faktor
yang dapat merupakan penyebab terjadinya ambliopia yaitu supresi dan nirpakai (non
use). Ambliopia nirpakai terjadi akibat tidak dipergunakannya elemen visual retino
kortikal pada saat kritis perkembangannya terutama pada usia sebelum 9 tahun. Supresi
yang terjadi pada ambliopia dapat merupakan proses kortikal yang akan mengakibatkan
terdapatnnya skotoma absolut pada penglihatan binokular (untuk mencegah terjadinya
diplopia pada mata yang juling), atau sebagai hambatan binokuler (monokuler kortikal

20
inhibis) pada bayangan retina yang kabur. Supresi sama sekali tidak berkaitan dengan
perkembangan penglihatan.

Terdapat beberapa tanda pada mata dengan ambliopia, seperti:

a. Berkurang penglihatan satu mata


b. Menurunnya tajam penglihatan terutama fenomena crowding
c. Hilangnya sensitivitas kontras
d. Mata mudah mengalami fiksasi eksentrik
e. Adanya anisokoria
f. Tidak mempengaruhi penglihatan warna
g. Biasanya daya akomodasi menurun
h. ERG dan EEG penderita ambliopia selalu normal yang berarti tidak terdapat
kelainan organik pada retina maupun korteks serebri.

Pencegahan terhadap ambliopia ialah pada anak berusia kurang 5 tahun perlu
pemeriksaan tajam penglihatan terutama bila memperlihatkan tanda-tanda juling.

3. Adaptasi posisi kepala (Head tilting and Head turn)

J. Prognosis
Pada strasbismus prognosis baik bila ditangani lebih dini sehingga tidak sampai
menimbulkan komplikasi yang menetap.

21
BAB III
KESIMPULAN

Strabismus adalah suatu keadaan dimana kedudukan bola mata tidak searah. Pada strabismus
sumbu penglihatan tidak berpotongan pada satu titik benda yang dilihat. Yang dimaksud dengan
sumbu penglihatan adalah garis yang menghubungkan titik nodal dan fovea sentral atau garis
yang menhubungkan titik fiksasi, sentral pupil dan fovea sentral. Diklasifikasikan menjadi
strabismus paralitik/ non-konkomitan dan strabismus non-paralitik/ konkomitan. Strabismus
dapat mengakibatkan komplikasi supresi, ambliopia, adaptasi posisi kepala. Prognosis pada
strabismus baik bila ditangani lebih dini sehingga tidak sampai menimbulkan komplikasi yang
menetap.

22