Anda di halaman 1dari 2

Anemia Defisiensi Besi

Didiagnosis pada Remaja Wanita

Andrea Whitfield1, Shayla Bergmann1, John Lazarchick2*

1Department of Pediatrics, Division of Hematology/Oncology, Medical University of

South Carolina, USA

2Department of Pathology, Medical University of South Carolina, USA

Anemia defisiensi besi (IDA) merupakan hal yang umum terjadi di seluruh

dunia masalah dengan prevalensi 9% pada balita, 9-11% pada remaja, dan

kurang dari 1% pada remaja laki-laki. Kekurangan zat besi dapat terjadi terjadi

baik di negara berkembang maupun negara maju, dalam menanggapi masalah ini

Organisasi Kesehatan Dunia bertujuan untuk mengurangi anemia pada wanita usia

subur sebesar 50% yang ditargetkan pada tahun 2025. IDA paling sering terlihat

pada bayi yang diberi susu sapi, balita yang mengkonsumsi susu sapi dalam

volume yang berlebihan dan pada wanita remaja yang sedang haid tidak menerima

zat besi tambahan. Pada remaja juga menjadi puncak terjadinya Anemia zat besi

ini dikarenakan pertumbuhan yang cepat yang di kaitkan dengan asupan makanan

yang kurang zat serta kehilangan darah pada remaja putri pada saat menstruasi.

Zat besi merupakan komponen penting dalam pembentukan hemoglobin,

protein yang ditemukan dalam sel darah merah diperlukan untuk transportasi

oksigen Anemia berkembang padasaat zat besi berkurang dalam darah. Dari hasil

pemeriksaan fisik biasanya pasien yang mengalami anemia mengalami kulit


pucat, memar, kelemahan, dan kelelahan. Terdapat kelainan pada tanda-tanda

vital, seperti takikardia, hipotensi, dan hipoksia, biasanya ini terjadi pada pasien

dengan kasus anemia berat. Defisiensi zat besi ini jugadapat menyebabkan

kelainan sistem saraf pusat karena transportasi oksigen yang buruk ke organ-organ

diseluruh tubuh. Pada pasien ini juga sering menunjukkan sikap apatis, mudah

tersinggung, dan konsentrasi yang buruk. Anak-anak dan remaja dengan IDA

memiliki risiko lebih besar terkena kognitif defisit (sulit memahami ) dan kinerja

sekolah yang buruk.

Sebuah kasus pada seorang wanita Afrika Amerika yang berusia 12 tahun,

sebelumnya sehat dan dibawa ke Rumah sakit karena kadar hemoglobin 4,8 dan

feritin 5,1. Wanita ini merupakan seorang cheerleader yang aktif, dia sebelumnya

pernah mengalami sakit kepala intermiten dan mengalami pusing untuk tahun

sebelumnya. Pelatihnya melaporkan bahwa dia terkadang harus beristirahat saat

berlatih karena pusing. Dari hasil pengkajian dia menarche dimulai pada usia 11

tahun, siklus haid tidak teratur , ia sebelumnya telah mengkonsumsi suplemen zat

besi, tapi tidak sesuai dengan pemberian. Ia telah menerima dua unit sel darah

merah yang dikemas dan hemoglobin meningkat menjadi 7,2. Setelah itu dia

mulai mengkonsumsi dosis optimum ferrous sulfate (325mg TID) dan akhirnya

kembali ke rumah dalam kondisi stabil. Setelah pulang dari Rumah sakit dia

menjalani rawat jalan di klinik rawat dan dia mengatakan kepatuhan 100%

mengkonsumsi zat besi sehingga kadar hemoglobinnya 12 dan feritin 19,9.