Anda di halaman 1dari 16

TUGAS FARMAKOTERAPI TERAPAN

“ADVERSE DRUG REACTION”

Disusun Oleh:

Kelas B Kelompok 8
1. Juliana Purukan : 16340053
2. Evy Fitria Rahmawati :16340061
3. Irma Fatimah :16340069
4. Muhammad Arif :16340044

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah-Nya

sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Sulina Kristiono MS, selaku dosen mata

kuliah Farmakoterapi Terapan, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan

satu-persatu, atas bantuannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya terutama bagi

mahasiswa/mahasiswi farmasi ISTN. Kami menyadari dalam tulisan ini masih

terdapat banyak kekurangan yang disebabkan keterbatasan pengetahuan yang

kami miliki, sehigga kami sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran dari

pembaca sekalian demi perbaikan tulisan ini di masa yang akan datang.

Jakarta, September 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

I.1. Latar Belakang ........................................................................................................ 1

I.2. Tujuan ..................................................................................................................... 1

BAB II ISI ..................................................................................................................... 2

II.1. Reaksi Obat yang Merugikan (Efek Samping Obat) ............................................. 2

II.1.1 Insidensi (Pengaruh) ............................................................................................ 2

II.2. Epidemiologi ......................................................................................................... 2

II.2.1. Umur dan Jenis kelamin .............................................................................. 2

II.2.2. Riwayat Penyakit Alergi ............................................................................. 3

II.2.3. Pengaruh Penyakit ....................................................................................... 3

II.2.4. Kehamilan ................................................................................................... 3

II.2.5. Dosis Obat ................................................................................................... 4

II.2.6. Waktu Reaksi .............................................................................................. 4

II.2.7. Terapi Beberapa Obat .................................................................................. 4

II.3. Jenis Reaksi Obat yang Merugikan ....................................................................... 4

II.4. Reaksi Anafilaktik ................................................................................................. 6

II.5. Kelemahan Serum ................................................................................................. 7

II.6. Uji Klinis Obat ...................................................................................................... 7

II.7. Pengujian Double Blind ........................................................................................ 9

II.8. Penilaian Klinis Obat ............................................................................................. 9

II.9 Pertimbangan Statistika dan Etika .......................................................................... 10

BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 11

III.1. Kesimpulan .......................................................................................................... 11


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu tanggung jawab profesi seorang farmasis adalah


memberikan layanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien yang
disebut dengan pharmaceuthical care (asuhan kefarmasian). Dalam terapi
obat pasien, seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi masalah-
masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat (Drug Related Problems)
baik yang telah terjadi atau yang berpotensi untuk terjadi, kemudian
mengupayakan penanganannya dan pencegahan terhadap masalah yang
teridentifikasi .
Salah satu masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat adalah
reaksi obat yang merugikan (adverse drug reaction). ADR sering disalah
artikan oleh masyarakat awan (bahkan oleh farmasis sendiri ) sebagai efek
samping obat. Jadi, yang dimaksud dengan Reaksi obat yang merugikan
menurut WHO merupakan respon terhadap suatu obat yang berbahaya &
tidak dimaksudkan, terjadi pada dosis biasa yang digunakan pada manusia
untuk profilaksis, diagnosis atau terapi penyakit atau untuk memodifikasi
fungsi fisiologik. Tidak termasuk kegagalan terapi, overdosis,
penyalahgunaan obat, ketidakpatuhan dan kesalahan obat.
Ada beberapa faktor penentu dari obat yang diberikan, yaitu umur
dan jenis kelamin, riwayat penyakit alergi, pengaruh penyakit, kehamilan,
dosis obat, waktu reaksi, serta terapi beberapa obat. Reaksi obat yang
merugikan dapat dibagi menjadi 2 jenis. Pertama, efek samping tipe A
akan timbul dari suatu tindakan farmakologis berlebihan dari suatu obat
yang bersangkutan. Kedua, efek samping tipe B tidak tergantung pada
dosis dan tidak berhubungan dengan efek farmakologis.
Studi uji klinis dilakukan pada manusia dan hewan. Tujuannya
untuk mengetahui efek obat yang terjadi pada hewan maupun manusia.
Setelah dilakukan studi awal pada manusia maka diperlukan uji klinis
yang lebih formal untuk menyelidiki obat baru. Pasien yang menerima
obat baru yang diuji dapat dibandingkan dengan pasien yang tidak
menerima pengobatan, atau menerima plasebo yang cocok. Namun, yang
paling umum senyawa baru akan dibandingkan dengan obat yang
dianggap pengobatan standar untuk penyakit yang diteliti pada saat itu.

1.2. Tujuan
Mengetahui faktor-faktor penyebab reaksi obat yang tidak diinginkan
BAB II

ISI

II.1 Reaksi Obat yang Merugikan (Efek Samping Obat)

II.1.1 Insidensi (Pengaruh)


Kejadian yang dilaporkan dari efek samping bervariasi tergantung pada
metode pengumpulan data yang digunakan. Jika petugas yang dilatih
menanyakan pertanyan yang spesifik kepada pasien, angka prevalensi lebih
tinggi yang dilaporkan hanya jika pasien dengan sukarela memberikan
informasi. Oleh karena itu, dalam berbagai seri, prevalensi dari reaksi yang
merugikan (efek samping obat) berkisar antara 1-30 persen. Diperkirakan
bahwa antara 1 dan 3 persen dari semua penerimaan rumah sakit adalah
karena reaksi obat yang merugikan. Jumlah reaksi yang menyebabkan
kematian karena penelitian juga sulit untuk diukur, dalam artian, dilakukan
di rumah sakit pada pasien yang sakit parah; kontribusi reaksi obat yang
merugikan (efek samping obat) dengan hasil yang fatal seringkali tidak
mungkin untuk ditentukan. Terlepas dari sangat besarnya jumlah obat yang
diresepkan, pengkaitan dengan reaksi efek samping relatif kecil. Dalam
kebanyakan seri 6-10 obat yang paling sering terlibat.

II.2 Epidemiologi
Beberapa faktor penentu penting dari reaksi obat yang diberikan, yaitu:

II.2.1 Umur dan jenis kelamin


Efek samping yang lebih mungkin terjadi pada anak-anak dan orang tua,
mungkin karena ketidakmampuan relatif mereka untuk menghilangkan obat.
Reaksi yang lebih buruk lebih dicatat pada wanita dibandingkan pria dengan
rasio 2:1 dan rasio serupa berlaku untuk kejadian reaksi obat yang fatal. Hal
ini sebagian mungkin disebabkan oleh penggunaan kontrasepsi steroid, tapi
ada kemungkinan yang lebih besar bagi wanita untuk mencari bantuan
medis dan dengan menerima obat meskipun ini mengubah masyarakat dan
perkembangan pola kerja.
II.2.2 Riwayat Penyakit Alergi
Efek samping obat yang lebih mungkin terjadi pada pasien yang
sebelumnya memiliki riwayat trauma pada obat lain. Dalam beberapa survei
efek samping yang terjadi hingga 25% dari pasien yang sebelumnya
mendapatkan reaksi yang merugikan dari terapi obat.

II.2.3 Pengaruh penyakit


Obat yang diberikan dapat mengubah respon pasien pada suatu penyakit.
Sebuah obat yang berpotensi beracun bagi penggunaannya dapat
membahayakan kehidupan, tidak boleh digunakan untuk indikasi relatif
sepele (contohnya kloramfenikol untuk pengobatan demam tifoid dan
penggunaanya pada infeksi saluran kemih).

II.2.4 Kehamilan
Kehamilan mengubah respon dari ibu untuk obat-obatan tertentu serta
mengekspos janin untuk agen yang berpotensi membahayakan. Misalnya,
tetrasiklin dalam dosis besar telah menyebabkan kerusakan hati selama
kehamilan, tetapi pada waktu lain; juga merusak tulang dan gigi pada janin.
Selanjutnya, pola normal pemberian obat pada kehamilan mungkin
terdistorsi dalam kehamilan ketika terjadi pengosongan lambung (yang
mengarah pada penundaan penyerapan obat) dan tingkat metabolisme obat
lebih lambat. Kebanyakan obat yang diberikan kepada ibu dapat segera
ditransfer melalui plasenta ke janin; ini tergantung dari besarnya kelarutan
dari obat. Setelah obat telah mencapai janin, akan terjadi penumpukan
disana karena kurang berkembangnya kemampuan untuk mengeluarkannya
melalui metabolisme. Masalah khusus dari toksisitas muncul ketika obat
diberikan dalam tahap awal kehamilan dan dapat menyebabkan cacat
perkembangan. Untuk itu alasan pemberian obat pada kehamilan harus di
minimumkan.

Dua aspek lain dari kehamilan dapat disebutkan secara khusus. Selama
persalinan, sedatif dan analgesik yang diberikan kepada ibu mungkin lolos
ke janin dan dapat mengganggu timbulnya respirasi spontan setelah lahir.
Setelah lahir, obat dikeluarkan dalam ASI dalam konsentrasi yang cukup
untuk menimbulkan efek toksik pada bayi obat tersebut termasuk
karbimazol, fenobarbital, diazepam, dan beberapa obat pencahar.
Menariknya, antikoagulan, warfarin, tidak dikeluarkan di ASI dan dapat
digunakan dengan aman pada ibu yang sedang menyusui. Secara umum
konsentrasi obat yang dikeluarkan di ASI dari ibu mengambil dosis terapi
standar kecil dan tidak mungkin untuk memiliki efek terapi pada anak.
Sebuah panduan referensi khusus harus berkonsultasi untuk informasi yang
lebih rinci.

II.2.5 Dosis obat


Reaksi obat Iodiosyncratic tidak berhubungan dengan dosis, tetapi
banyak lainnya, yang jelas adalah terkait dengan perubahan dalam
penanganan obat oleh tubuh.

II.2.6 Waktu reaksi


Efek samping terapi obat dapat terjadi pada setiap tahap selama
pengobatan atau setelah selesai. Reaksi anafilaktoid khas terjadi setelah
pemberian obat pertama kursus obat saat pasien telah terkena sebelumnya,
sementara yang lain mungkin tidak diamati selama berbulan-bulan setelah
obat telah ditarik (misalnya radang selaput perut dengan pratolol).

II.2.7 Terapi beberapa obat


Semakin besar jumlah obat yang diberikan, semakin tinggi kejadian efek
samping karena jumlah interaksi obat akan lebih besar. Topik interaksi obat
dijelaskan pada halaman 7.11.

II.3 Jenis Reaksi Obat yang Merugikan


Reaksi obat yang merugikan dapat dibagi menjadi dua jenis utama.
Pertama, ada yang timbul dari suatu tindakan farmakologis berlebihan dari
obat yang bersangkutan. Dalam kebanyakan studi sekitar 80% dari reaksi
obat yang merugikan telah tercatat pada jenis ini. Contohnya termasuk
pendarahan pada terapi antikoagulan, hipotensi hipostural pada terapi
antihipertensi, dan mengatuk pada obat penenang. Ini disebut efek samping
tipe A dan biasanya dapat diprediksi dan tergantung pada dosis. Meskipun
kejadiannya tinggi, resiko kematian biasanya rendah. Karena sebagian besar
reaksi-reaksi ini hanya perpanjangan dari tindakan farmakologis obat, faktor
yang mempengaruhi reaksi ini yang memodifikasi efek terapeutik obat.
Secara konvensional dibagi menjadi faktor farmakokinetik dan faktor
farmakodinamik. Faktor farmakokinetik dan farmakodinamik dijelaskan
pada halaman 7.2.

Berbeda dengan reaksi tipe A, efek samping tipe B menunjukkan


penyimpangan secara keseluruhan, penjelasan dan reaksi tak terduga dari
obat. Contoh dari reaksi tipe ini termasuk agranulositosis karna obat seperti
kloramfenikol dan fenilbutazon, dan hipertemia yang berbahaya dari sediaan
anestesi. Meskipun reaksi ini tidak umum pada reaksi tipe A, reaksi tipe ini
membawa kematian yang lebih tinggi.

Penyebab reaksi tipe B mungkin dari dalam obat atau dari dalam pasien.
Misalnya, tidak terpakainya tetrasiklin mungkin diganti dengan
anhidrotetrasiklin dan epiandroterasiklin pada iklim hangat dan mungkin
terjadi fanconi sindrom pada pasien. Paraldehyde lama (lebih dari 6 bulan)
mungkin berisi asetaldehid dan asam asetat yang kemudian terbentuk sangat
beracun ketika disuntikkan. Pemberian obat mengandung zat-zat lainnya
dari obat itu sendiri, misalnya stabilisator, zat pewarna dan zat pembasah,
dan zat tambahan lain yang dirancang untuk memproduksi dan
mengidentifikasikan tablet dariukuran yang cocok. Sensitivitas terhadap
tartrazin, sebuah warna oren-kuning digunakan untuk pewarna obat dan
minuman ringan telah sering dilaporkan. Prevalensi dapat setinggi 1 hingga
10.000 dan manifesasi yang paling biasa adalah urticaria, asma akut dan non
thrombocytopenic purpura, tetapi shock anafilaksis juga terjadi. Reaksi
silang yang terjadi tartrazin dengan aspirin ; kira-kira 10% dari pasien
sensitive dengan aspirin juga sensitif dengan tartrazin.

Sebuah penjelasan metabolit obat yang umum diberikan menghasilkan


efek tipe B yang merugikan. Ini terlihat pada dua anggota keluarga Swiss
yang mengembangkan metaemoglobinaemia ketika diberikan fenasetin.
karena pembentukan istimewa dari dari metabolit minor (2-
hidroksifenetedin). Kekurangan Glukosa 6-phosphate dehidrogenase
(G6PD), yang diwariskan sebagai ciri dominan terkait seks menyebabkan
kurangnya glutatin tereduksi dalam sel darah merah, pada obat-obatan
tertentu yang menyebabkan hemolisis.

Tabel 1. beberapa obat menyebabkan hemolisis pada pasien kekurangan


glukosa 6-fosfat dehidrogenase

Primakuin Sulfonamida
Kuinin Dapson
klorokuin Asam Nalidixic
kuinidin Nitrofurantoin
probenesid kloramfenikol
Aspirin

Homozigot jantan dan betina sangat beresiko mengalami hemolisis


karena kekurangan G6PD cenderung lebih besar (lihat bagian 19). Sifat-sifat
genetik lainnya dengan membawa kemungkinan peningkatan
mengembangkan reaksi obat yang merugikan telah dibahas pada bagian
farmakogenetik.

Reaksi obat yang merugikan pada tipe B kadang-kadang digambarkan


sebagai alergi yang alami, tetapi ini sering tidak digunakan dalam arti yang
tepat menunjukkan sebuah perubahan reaktivitas. Sebuah mekanisme alergi
tergantung pada interaksi antara obat (atau kompleks protein obat) dan
antibodi sendiri atau kepekaan limposit. Seringnya itu bukan obat asli yang
bertindak sebagai allergen tetapi metabolit yang menjadi terikat erat untuk
makromolekul besar yang bertindak sebagai antigen. Antigen yang bereaksi
dengan limposit T untuk memulai respon imun, dan ini diikuti oleh aktivasi
limposit B untuk membentuk antibodi yang berlawanan. Antigen harus
memiliki kemampuan membentuk jembatan antara molekul antibodi sel
terikat sehingga menghasilkan perubahan konfirmasi dalam membran sel.
Reaksi dengan komplemen dan terjadi pelepasan berbagai peptida vasoaktif.
Dua manifestasi dari reaksi yang merugikan tipe B adalah penting.
II.4 Reaksi Anafilatik
Diperantai oleh antibodi IgE dan terjadi sangat cepat setelah pemberian
obat. Reaksi mungkin pada kulit (urtikaria akut), saluran pernafasan (asma),
atau disaluran pencernaan (sakit perut atau muntah). Reaksi anafilaksis umum
yang mungkin mengancam nyawa. Biasanya terjadi pada pengobatan awal
pada pasien yang sebelumnya telah terkena. Penisillin merupakan penyebab
umum dari jenis reaksi yang cenderung terjadi lebih sering pada individu
atopik.

II.5 Kelemahan Serum


Bentuk reaksi kurang akut dan hasil dari kerusakan oleh sirkulasi imun
kompleks. Teori saat ini adalah bahwa hal itu terjadi ketika antigen tetap
dalam sirkulasi untuk periode yang lama, ketika antibodi (biasanya IgG atau
IgM) pertama kali terbentuk, beredar antigen bereaksi dengan itu membentuk
kompleks antigen-antibodi. Jika antibodi dalam relatif berlebih, kompleks
kecil dan dapat mengajukan dalam pembuluh darah menyebabkan peradangan
lokal dan respon sistemik umum.

Reaksi obat alergi dapat mengambil banyak bentuk dan mungkin


melibatkan mekanisme lain yang patut dari dua dijelaskan di atas. Unsur yang
membentuk darah seringkali terlibat mungkin karena antigen antibodi
kompleks yang diserap pada permukaan sel, komplemen diaktifkan dan
hemolisis atau sel terjadi kerusakan. Mengapa trombosit harus rusak pada
satu pasien dan sel merah lainnya saat ini tidak pasti (lihat bagian 19).

II.6 Uji Klinis Obat Baru

Tujuan dari studi klinis awal dari senyawa baru adalah untuk melihat
apakah efek yang terlihat pada hewan dapat juga dilihat pada manusia, dan di
mana obat yang ditangani oleh manusia sesuai dengan yang ada pada hewan.
Studi toksikologi juga harus dilakukan untuk menguji pengaruh obat pada
standar hematologis dan indeks biokimia. Studi awal tersebut biasanya akan
dilakukan pada sukarelawan tetapi dengan beberapa agen seperti obat
sitotoksik maka akan diperlukan untuk melakukan penelitian ini pada pasien
dengan penyakit dimana obat itu dirancang.

Setelah studi awal telah dilakukan pada manusia, maka akan diperlukan
melakukan sebuah uji klinis yang lebih formal. Uji klinis formal adalah alat
yang paling ampuh untuk penyelidikan obat baru, namun dalam beberapa
situasi jenis studi mungkin terlalu kaku (misal jika tingkat onset (waktu saat
obat diberikan hingga terasa kerjanya) dari efek obat sedang dipelajari).
Sebelum sebuah uji klinis dilakukan, penting untuk membuat tujuan yang
sebenarnya. Tujuannya harus bisa menjawab satu pertanyaan secara tepat.
Terlalu mudah untuk mencoba untuk merancang sebuah percobaan yang
dengan menanyakan sejumlah pertanyaan, seperti 'apakah obatnya efektif?',
'apa cocok untuk pasien?', 'apa dosis yang paling tepat?', dan bagaimana cara
membandingkan dengan obat lain? '. Uji coba tersebut akan gagal karena
terlalu rumit untuk dilakukan. Uji klinis yang komparatif harus dilakukan
pada pasien secara berkelompok dengan variabel penting yang dicocokkan
(misalnya usia, jenis kelamin, tingkat keparahan penyakit, dll). Meskipun
dalam uji klinis awal, kontrol mungkin tidak diperlukan (yaitu pada salah satu
percobaan awal), penting untuk melakukan pengamatan kontrol sesegera
mungkin dalam program percobaan. Pasien yang menerima obat baru yang
diuji dapat dibandingkan dengan pasien yang tidak menerima pengobatan,
atau menerima plasebo yang cocok. Namun, yang paling umum senyawa baru
akan dibandingkan dengan obat yang dianggap pengobatan standar untuk
penyakit yang diteliti pada saat itu. Dengan demikian, misalnya, obat beta-
adrenoseptor bloker baru dapat dibandingkan dengan plasebo untuk
menunjukkan bahwa itu dapat menurunkan tekanan darah pada pasien
hipertensi, atau dengan beta bloker yang ada untuk melihat apakah itu lebih
(atau kurang) efektif daripada obat itu. Kontrol retrospektif berdasarkan
sejarah jarang ada yang memuaskan. Dalam beberapa situasi mungkin tidak
etis untuk menahan pengobatan aktif dari kelompok kontrol pasien dan dalam
situasi ini plasebo tidak harus diberikan. Biasanya dua perlakuan yang
dipelajari pada pasien yang sebanding selama periode waktu yang sama.
Maka akan perlu untuk memastikan bahwa pasien cukup disertakan untuk
meminimalkan variabilitas antar pasien. Ketika variabilitas antara individu
memprihatinkan, seringkali berguna untuk setiap pasien mengontrol dirinya
sendiri, tapi ini hanya bisa dilakukan jika penyakit stabil.

Di sini semua pasien yang terkena setiap perlakuan dalam desain


crossover dan penting untuk memastikan bahwa setiap perlakuan
pendahuluan dilalui dan mengikuti setiap perlakuan lain dengan jumlah yang
sama. Ini akan meminimalkan efek ‘carry-over’ dari satu pengobatan ke yang
berikutnya. Di desain crossover jika 'carry-over' adalah sebuah masalah,
mungkin berguna untuk menyertakan plasebo 'washout' antara dua periode
yang aktif. Penting juga untuk menyadari bahwa pengobatan plasebo tidak
sama dengan tidak adanya terapi. Meskipun plasebo tidak berisi agen
farmakologis aktif, tapi mungkin memiliki efek yang dapat diukur. Sekitar
30% dari pasien mengembangkan efek samping terapi plasebo, dan dalam
banyak situasi klinis plasebo mungkin memiliki efek terapi juga.

II.7 Pengujian Double Blind


Informasi yang diberikan bentuk dasar acak studi double blind. Pasien
akan dipilih untuk pengujian atas dasar kriteria yang tertulis dan mereka akan
dialokasikan untuk mengendalikan kelompok pengobat anaktif secara acak.
Karena dokter dan pasien mampu bias karena kepercayaan yang dianut
sebelumnya, dengan menggunakan pencocokan kapsul placebo, pasien dan
dokter akan dibuat menyadari sifat yang tepat dari terapi setiap pasien. Pihak
ketiga (mis, apoteker) akan mengadakan kode yang dapat rusak jika secara
klinis menjadi dua perlakuan aktif (A dan B) dibandingkan, teknik 'tiruan'
dapat digunakan. Berikut pasien menerima baik tablet A aktif dan plasebo B
atau tablet B aktif dan tablet plasebo A. Dengan cara ini penelitian masih
tersamar. Dalam beberapa kasus mungkin mustahil untuk mempertahankan
ketidaktauan dari dokter. Jika, misalnya, obat yang memblokir beta-
adrenoseptor sedang dipelajari, detak jantung yang lambat mungkin
menunjukkan mana pasien mengalami terapi aktif. Dalam keadaan seperti ini
mungkin lebih baik untuk membandingkan satu obat blocking beta-
adrenoseptor dengan obat lain yang serupa.
II.8 Penilaian Klinis Obat
Ketika percobaan klinis obat dilakukan, sangat penting untuk
mendapatkan penilaian terapi yang akurat secara obyektif. Akan mudah jika
obat antikoagulan atau hipotensi telah diteliti. Penurunan tekanan darah
merupakan ukuran yang cukup objektif meskipun langkah-langkah di sini
yang tepat diperlukan untuk mengurangi pengamat yang bias (misalnya
menggunakan muddled zero sphygmommanometer). Di daerah-daerah
tertentu obat memiliki efek yang hanya dapat dinilai dengan ukuran subjektif
dan penilaian klinis kurang dapat diandalkan. Dalam penilaian CNS obat aktif
seperti antidepresan dan transqquillizers, 'skala penilaian' yang telah
berkembang tersebut membutuhkan tenaga terampil untuk melakukannya.
skala analog visual sangat berguna untuk menilai banyak sensasi subjektif
seperti nyeri dan kantuk. Pasien menempatkan tanda pada garis yang sesuai
dengan penilaian sakit yang diderita, dan ini diulang pada setiap pemeriksaan,
'skor' yang diukur. Metode penilaian ini sangat akurat, berulang dan relatif
bebas dari mengamati kesalahan. Metode yang sama dapat diterapkan untuk
penilaian efek samping. Contoh ditunjukkan pada Gambar.7

tidak ada rasa sakit sangat sakit

II.9 Pertimbangan Statistik Dan Etika


Dalam merancang percobaan klinis hipotesis awal adalah, bahwa ada
perbedaan diantara dua perlakuan. kemudian harus diputuskan apakah hasil
yang diperoleh bisa karena kebetulan atau kemungkinan adanya perbedaan
antara dua pengobatan. Aspek statistik uji klinis dapat menjadi rumit dan
pembaca yang tertarik dirujuk ke tempat lain untuk informasi lebih lanjut
(Hili, AB, 1971, Prinsip Matistics medis) dalam banyak kasus dapat
diasumsikan bahwa data yang terdistribusi normal tapi tidak selalu terjadi dan
metode statistik sederhana tidak akan berlaku. Sebelum uji dimulainya
biasanya mengasumsikan bahwa tingkat tertentu probabilitas (P) akan
diterima. Dengan demikian, dengan nilai P kurang dari 6,05, perbedaan akan
ditemukan secara kebetulan kurang dari 5 kali dalam 100 kali. Hal ini penting
untuk menyadari jika nilai P dari 0,01 yang dipilih masih ada resiko
meskipun kecil, bahwa setiap perbedaan yang ditemukan dalam pengujian
mungkin tidak nyata namun karena kebetulan saja.

Pertimbangan statistik sering akan membantu dalam desain percobaan,


terutama dalam mengetahui berapa banyak pasien yang akan disertakan.
Semakin kecil perbedaan diharapkan antara dua perlakuan yang lebih banyak
pasien akan diminta untuk menunjukkan hasil yang signifikan. Banyak
cobaan yang diberikan tidak valid oleh kegagalan yang menyertakan pasien.

Dalam melakukan setiap percobaan klinis aspek etika sangat penting.


Saat ini semua protokol percobaan harus diteliti oleh pengamat badan
independen. Setiap peserta dalam penelitian ini harus memiliki rincian
pengujian untuk menjelaskan kepada mereka dan mereka harus memberikan
izin tertulis untuk mengambil bagian dalam studi ini. persetujuan ini harus
disaksikan oleh pihak ketiga. Setiap pasien memasuki sebuah studi klinis,
tentu saja, bebas untuk meninggalkan penelitian setiap saat.
BAB III

PENUTUP

III.1. Kesimpulan

1. Faktor penting penentu dari reaksi obat adalah umur dan jenis kelamin,
riwayat penyakit alergi, pengaruh penyakit, kehamilan, dosis obat waktu
reaksi, serta terapi beberapa obat.

2. Jenis reaksi obat yang merugikan ada 2, yaitu efek samping tipe A
dapat diprediksi dan dapat ditangani dengan pengurangan dosis,
sedangkan pada efek samping tipe B lebih jarang terjadi dan sukar
dicegah, dan dapat ditangani dengan penghentian obat.