Anda di halaman 1dari 3

BIOGRAFI RIZKI NUR SA’DIYAH

Rizki Nur Sa’diyah adalah seorang mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Airlangga


Surabaya. Dia lahir di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang mana dia menganggapnya
sebagai tempat hidup yang paling damai. Rizki nama panggilan yang kerap diberikan oleh
teman-teman sekelasnya. Rizki merupakan seorang anak tunggal yang lahir dari pasangan
yang sangat mencintainya, yakni bapak Ahmad Zainuri dan Ibu Sumarlik yang berprofesi
sebagai seorang petani. Rizki berperawakan mungil dibanding teman-teman seusianya,
dengan tinggi badan 148 cm dan berat badan 43kg, cukup ideal. Yang menjadi ciri khas dari
seorang Rizki adalah suaranya yang kalem dan pemalu.

Dia memiliki hobi bernyanyi, ketika dia bosan dia melampiaskannya pada lagu-lagu
yang ia sukai. Dia mendengarkan lagu sepanjang waktu. Makanan favoritnya adalah soto dan
bakso. Terutama soto asli Lamongan, tempat kelahirannya. Hal yang tidak disukai adalah
diabaikan, hal yang cukup umum dirasakan oleh banyak orang.

Rizki telah menempuh studi selama 15 tahun sampai sekarang yang sedang berjalan,
mulai dari TK 2 tahun, MI 6 tahun, SMP 3 tahun, MA 3 tahun, dan sampai sekarang dia
menjadi mahasiswa aktif di Universitas Airlangga.

Rizki sudah mulai bersekolah ketika ia masih berusia 3 tahun, umur yang sebenarnya
belum cukup bagi ukuran anak untuk mendaftar sekolah. Dia memiliki semangat belajar dan
rasa ingin tahu yang menggebu saat itu. Awalnya dia sering mengikuti tetangga nya yang
selisih 1 tahun untuk berangkat sekolah, padahal dia belum terdaftar menjadi siswi di Taman
Kanak-Kanak di desanya. Namun lambat laun karena ibunya melihat semangat Rizki yang
luar biasa dan Rizki cukup mampu untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru
nya, akhirnya Ibunya menyekolahkan Rizki di TK tersebut satu kelas dengan tetangga yang
selama ini selalu diikutinya. Dia sangat senang sekali. Bertambahlah semangatnya hingga dia
dapat menduduki peringkat pertama di TK tersebut.

Setelah lulus dari TK Tanfa’ul Ulum, Rizki melanjutkan studinya ke Madrasah


Ibtida’iyah yang masih satu lembaga dengan TK tempat belajarnya dulu. Di MI tersebut
Rizki tetap selalu berusaha mempertahankan peringkat nya, dia belajar dengan sangat rajin
dan tekun, hingga ia menjadi bintang kelas di sekolahnya. Di MI nya dia juga sering terpilih
mewakili sekolahnya untuk perlombaan, mulai dari cerdas cermat, MTQ, dan lomba-lomba
kesenian lainnya. Berkat kegigihannya dalam berlatih dan terus berlatih, dia pun akhirnya
memenangkan perlombaan-perlombaan tersebut, atas dasar motivasi ingin membahagiakan
kedua orang tua dan guru yang selama ini membimbingnya.

Di bangku SMP dia juga tidak jarang untuk diikutkan lomba oleh pihak sekolahnya.
Dia sering mewakili sekolahnya untuk lomba mulai berpidato Bahasa Inggris, Bahasa Arab,
Hafalan Al-Qur’an, dan olimpiade Matematika. Di bangku MA pun dia juga sangat senang
merintis prestasinya, dia aktif dalam beberapa ekstrakurkuler yaitu kepramukaan, MTQ, dan
Al-Banjari. Selain itu, dia juga bergabung dalam klub olimpiade Ekonomi.

Dia sangat bersyukur karena telah menjadi anggota di klub olimpiade tersebut, disana
dia menemukan banyak hal baru. Mulai dari guru Ekonomi nya, bu Mia. Dia sangat dekat
dengan bu Mia. Baginya bu Mia adalah benar-benar seperti ibu kedua nya setelah ibu
kandungnya. Cara mengajar bu Mia sangat disukai oleh Rizki, tidak hanya menuntut agar
murid menguasai pelajaran, namun beliau juga mendidik Rizki agar menjadi pribadi yang
lebih baik dan religius. Beliau mengajari Rizki dengan penuh keikhlasan dan selalu
memotivasi Rizki saat dia down. Dia juga selalu mengingatkan Rizki untuk selalu berdo’a
kepada Tuhan. Berkat bimbingannya akhirnya Rizki berhasil mendapatkan juara KSM
Ekonomi di kota nya. Dan menjadi lulusan terbaik di sekolahnya.

Rizki sangat peduli terhadap pendidikan, dia pun memutuskan untuk melanjutkan
studi ke jenjang yang lebih tinggi di Perguruan Tinggi Negeri. PTN impiannya selama ini ada
dua yaitu UGM Yogyakarta dan UNAIR Surabaya. Untuk dapat duduk di kursi kampus
sebagai mahasiswa baginya tidaklah mudah. Banyak rintangan yang harus dia lewati dan
salutnya Rizki tetap semangat dan gigih untuk menjalaninya dengan penuh keikhlasan tanpa
banyak mengeluh.

Baginya, jika ingin mendapatkan sesuatu tentu ada sesuatu lainnya yang harus ia
korbankan. Mesipun dia mendapatkan berkali-kali kata “maaf” dari SNMPTN, USM STAN,
dan PMDK-PN dia tetap semangat dan tidak lama-lama meratapi kesedihannya. Karena
menurutnya, terlalu meratapi hal yang sudah berlalu adalah sesuatu yang sia-sia. Dia harus
bangkit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia melanjutkan persiapannya dalam
menghadapi SBMPTN, dia sangat tekun dan rajin berlatih soal-soal, mengikuti bimbel di
salah satu LBB dengan rutin. Meskipun dia sering pulang malam karena mengikuti bimbel
dan meskipun dia sebenarnya takut namun dia mampu membuang rasa takut itu demi
impiannya tercapai, hingga akhirnya dia diterima di UNAIR melalui jalur SBMPTN.
Karakter yang saya sukai dari Rizki adalah...(menurut anda sendiri hehe)

Dan harapannya setelah masuk di PTN ini, dia dapat lebih mengembangkan dirinya baik
dalam bidang akademik maupun softskill nya. Dalam hidupnya dia ingi menjadi orang yang
bermanfaat bagi orang lain, dia ingin menjadi orang hebat yang bisa menyantuni anak-anak
yang masih belum bisa merasakan nikmatnya pendidikan, anak-anak yang tidak memiliki
orang tua di panti asuhan, dan membahagiakan orang tua yang selama ini mengasuhnya.