Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH GERONTIK

GANGGUAN POLA ISTIRAHAT DAN TIDUR

Dosen
Dr. Yessy Dessy Arna,S.Kp. M.Kep.,Sp.Kom

Disusun oleh Kelompok :

1. M. Nur Dwi Prasetyo (P27820414011)


2. Dwi Putri Lestari (P27820414026)
3. Nila Prameswari (P27820414031)

POLTEKKES KEMENKES SURABAYA


PRODI D-III KEPERAWATAN SIDOARJO
TAHUN 2016/2017
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istirahat dan tidur menjalankan sebuah fungsi pemulihan, baik secara
fisiologis maupun psikologis. Secara fisiologis, tidur mengistirahatkan organ tubuh,
menyimpan energi, menjaga irama biologis, dan memperbaiki kesadaran mental dan
efisiensi neurologis. Secara psikologis, tidur mengurangi ketegangan dan
meningkatkan perasaan sejahtera.
Lansia yang terganggu waktu tidurnya menjadi cepat lupa, diorientasi dan
konfusi: orang yang mengalami kerusakan kognitif menunjukkan peningkatan
kegelisahan, perilaku keluyuran, dan syndrome sundowner (komfusi, agitasi, dan
perilaku terganggu selama sore menjelang senja).
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh perubahan terkait usia, konsumsi banyak
obat, dan gangguan organic atau mental. Secara luas gangguan tidur pada usia lanjut
dapat dibagi menjadi: kesulitan masuk tidur (sleep onset problems), kesulitan
mempertahankan tidur nyenyak (deep maintenance problem), dan bangun terlalu pagi
(early morning awakening/EMA). Gejala dan tanda yang sering muncul sering
kombinasi ketiganya, munculnya ada yang sementara atau kronik.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian istirahat dan tidur.
2. Untuk mengetahui Fisiologi tidur pada lansia.
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis gangguan tidur pada lansia.
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan istirahat dan tidur pada lansia.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan terapeutik.
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan istirahat dan tidur pada lansia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Istirahat adalah suatu keadaan dimana keadaan jasmaniah menurun yang
berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan tidur oleh Johnson dianggap sebagai
salah satu kebutuhan fisiologis manusia. Tidur terjadi secara alami, dengan fungsi
fisiologis dan psikologis yang melekat merupakan suatu proses perbaikan tubuh.
Secara fisiologis, jika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk
mempertahankan kesehatan tubuh, dapat terjadi efek-efek seperti pelupa, konfusi, dan
disorientasi, terutama jika deprivasi tidur terjadi untuk waktu yang lama.

B. Fisiologi Tidur Normal

Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7-8 jam untuk tidur setiap malam.
Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang.
Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan factor ketuaan. Fisiologi tidur dapat
dilihat melalui gambaran elektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Polisomnografi
merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Alat tersebut dapat
mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi. Stadium tidur diukur
dengan polisomnografi terdiri dari tidur Rapid Eye Movement (REM) dan tidur Non-
Rapid Eye Movement (NREM). Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena
dihubungkan dengan mimpi atau paradox karena EEG aktif selama fase ini. Tidur
NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua
stadium ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70-120 menit.
Secara umum 4-6 siklus REM-NREM terjadi setiap malam.Periode tidur REM I
berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang.
Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3, dan 4.

Gangguan Pola Tidur Pada Lansia


Manfaat istirahat dan tidur dalam menjaga kesehatan fisik pada lansia sering
kali disepelekan dan diabaikan, terutama di lingkungan lembaga tempat rutinitas
sangat penting. Istirahat dan tidur menjalankan sebuah fungsi pemulihan baik secara
fisiolofis maupun psikologis. Secara fisiologis, tidur mengistirahatkan organ tubuh,
menyimpan energi, menjaga irama bilogis, dan memperbaiki kesadaran mental dan
efisiensi neurologis. Secara psikologis, tidur mengurangi ketegangan dan
meningkatkan perasaan sejahtera.
Fungsi pemeliharaan ini sangat penting untuk lansia, yang memerlukan lebih
banyak waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan Lansia yang waktu
tidurnya terganggu menjadi lebih lupa, disorientasi, atau konfusi; orang yang
mengalami kerusakan kognitif menujukkan peningkatan kegelisahan, perilaku
keluyuran, dan “sindrom” dan “sundowning” (konfusi, agiatasi dan perilaku
terganggu selama sore menjelang senja dan jam awal malam).
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh perubahan terkait usia, konsumsi banyak
obat dan gangguan organik dan mental.

Pola tidur pada lansia


Tidur yang normal terdiri atas komponen gerakan bola mata cepat(rapid eye
movement, REM) dan non REM. Tidur non REM dibagi menjadi empat tahap: pada
tahap 1, jatuh tertidur, orang tersebut mudah dibangunkan dan tidak menyadari ia
telah tertidur. Kedutan atau sentakan otot menandakan relaksasi selama tahap ini.
Pada tahap 2 dan 3, meliputi tidur dalam yang progresif. Pada tahap 4, tingkat
terdalam, sulit untuk dibangunkan.
Tidur tahap 4 sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik. Tahap ini sangat
jelas terlihat menurun pada lansia, tetapi mereka belum mengetahui akibat dari
penurunan ini. Pola tidur pada lansia ditandai dengan sering terbangun, penurunan
tahap 3 dan 4 waktu non-REM, lebih banyak terbangun pada malam hari disbanding
tidur, dan lebih banyak tidur selama siang hari. Tidur siang hari dapat mengurangi
waktu dan kualitas tidur di malam hari pada beberapa lansia.
Dari tahap 4, orang tersebut berlanjut ke tidur REM. Tidur REM terjadi
beberapa kali dalam siklus tidur dimalam hari tetapi lebih sering terjadi pagi hari
sekali. Pada tidur REM, aktifitas dan tanda-tanda vital mengalami akselerasi, yang
menyebabkan peningkatan kesenangan dan pelepasan ketegangan yang
dimanifestasikan dengan tersentak dan berbalik, kedutan otot, dan peningkatan
frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, dan tekanan darah. Tidur REM membantu
melepaskan ketegangan dan membantu metabolisme system saraf pusat. Kekurangan
tidur REM telah terbukti menyebabkan iritasi dan kecemasan.

C. Manifestasi Klinis
Gangguan tidur pada lansia
Sebagian besar lansia beresiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai
factor. Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan gangguan pola tidur.
Perubahan- perubahan mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari, dan
peningkatan jumlah tidur siang. Diantar lansia yang sehat terdapat beberapa lansia
yang mengalami berbagi masalah medis dan psikososial yang mengalami gangguan
tidur. Antara lain:
o Penyakit psikiatrik, terutama depresi
o Penyakit Alzheimer dan penyakit degeratif neuro lainnya
o Penyakit kardivaskuler dan perawatan pasca operasi bedah jantung
o Inkompetensi jalan nafas atas
o Penyakit paru
o Penyakit prostatik
o Endokrinopati

Tiga keluhan atau gangguan utama dalam memulai dan mempertahankan tidur terjadi
di kalangan lansia:
1. Insomnia
Insomnia adalah gangguan ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada
keinginan untuk melakukannya. Keluhan insomnia meliputi ketidakmampuan
untuk tertidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk tidur kembali dan
terbangun pada dini hari. Maka perhatian harus diberikan pada factor biologis,
emosional dan medis yang berperan.
2. Hipersomnia
Hipersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8atau 9 jam per periode 24 jam,
dengan keluhan tidur berlebihan. Orang tersebut dapat menunjukkan mengantuk
di siang hari yang persisten, mengalami serangan tidur , tampak mabuk dan
kemotose, atau mengalami mengantuk pascaensefalitik. Keluhan keletihan,
kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang sering
terjadi.
3. Apnea tidur
Apnea tidur adalah berhentinya pernafasan selama tidur. Gangguan ini
diidentifikasi dengan gejala mendengkur, berhentinya pernafasan minimal 10
detik, dan rasa kantuk di siang hari yang luar biasa. Gejala apnea tidur antara lain:
 Dengkuran yang keras dan periodic
 Aktifitas malam hari yang luar biasa, seperti: duduk tegak, berjalan dalam
tidur, terjatuh dari tempat tidur
 Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari
 Perubahan memori
 Depresi
 Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
 Nokturia
 Sakit kepala di pagi hari
 Ortopnea akibat apnea tidur
Pasien di anjurkan untuk menghindari alcohol dan obat-obatan yang dapat
mempengaruhi respon terbangun dan untuk menggunakan bantal tambahan atau tidur
di atas kursi.

D. Penatalaksanaan Gangguan Istirahat dan Tidur Pada Lansia


1. Pencegahan Primer
a. Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat di hari
berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur; berlebihnya
waktu yang dihabiskan di tempat tidur tampaknya berkaitan dengan tidur yang
terputus-putus dan dangkal.
b. Waktu bangun yang teratur dipagi hari memperkuat siklus sirkadian dan
menyebabkan awitan tidur yang teratur.
c. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur; namun,
latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat memperbaiki tidur
pada malam berikutnya.
d. Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (mis. bunyi pesawat terbang
melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak terbangun
oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi hari. Kamar tidur kedap
suara dapat membantu bagi orang-orang yang harus tidur di dekat kebisingan.
e. Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak
ada bukti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat
membantu tidur.
f. Rasa lapar mengganggu tidur; kudapan ringan dapat membantu tidur.
g. Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat
menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada
kebanyakan penderita insomnia.
h. Kafein di malam hari dapat mengganggu tidur, meskipun pada orang-orang
yang tidak berpikir demikian.
i. Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi
tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.
j. Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak
boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan
melakukan hal lain yang berbeda.
k. Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.
Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain adalah:
- Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat.
- Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 24˚C) sehingga cukup
nyaman.
- Asupan kalori harus minimal pada saat menjelang tidur.
- Latihan sedang di siang hari atau sore hari merupakan hal yang
dianjurkan.

2. Pencegahan sekunder
Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus bagi
lansia di rumahnya sendiri. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor berikut
ini:
 Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat
tidur, atau menggunakan kamar mandi.
 Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur.
 Berapa hari orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi oleh
perawat atau pemberi perawatan.
 Terjadinya konfusi dan disorientasi.
 Penggunaan obat tidur.
 Perkiraan orang tersebut bangun di pagi hari.

3. Pencegahan tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan,
kondisi pasien memerlukan rehabilitas melalui tindakan-tindakan seperti
pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut dan mempengaruhi jalan napas.
Data-data tersebut membantu menentukan pengobatan yang terbaik untuk
mengatasi kesulitan dan merehabilitasi lansia sehingga ia dapat menikmati tidur
yang berkualitas baik sampai akhir hidup.

E. Penatalaksanaan Terapeutik
Bootzin dan Nicassio menganjurkan aturan-aturan berikut untuk mempertahankan
kenormalan pola tidur :
 Pergi tidur hanya jika mengantuk.
 Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur; jangan membaca, menonton televisi
atau makan di tempat tidur.
 Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain. Bangun sampai anda
benar-benar mengantuk, kemudian baru kembali ke tempat tidur. Jika tidur
masih tidak bisa dilakukan dengan mudah, bangun lagi dari tempat tidur.
Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat tidur dengan tidur cepat.
Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang malam.
o Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi tanpa di malam
hari. Hal ini membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
o Jangan tidur di siang hari.

F. Mengatasi Gangguan Tidur


Kesulitan untuk tidur dan tetap tertidur adalah masalah yang sering terjadi
pada lansia, baik lansia yang tinggal di rumah atau di panti jompo. Jika pasien anda
memiliki masalah tidur, anjurkan untuk:
 Mempertahankan jadwal harian yang sama untuk berjalan-jalan, istirahat dan
tidur.
 Bangun di waktu biasanya ia bangun bahkan jika tidurnya terganggu atau waktu
tidurnya berubah sementara.
 Melakukan ritual waktu tidur dan mengikuti dengan patuh.
 Melakukan olah raga setiap hari tetapi hindari olah raga yang terlalu berat pada
malam hari.
 Membatasi tidur siang 1 dan 2 jam perhari, pada waktu yang sama setiap harinya.
 Mandi air hangat di waktu akhir sore atau menjelang malam.
 Makan kudapan ringan karbohidrat dan lemak sebelum tidur.
 Menghindari minuman dan produk yang mengandung kafein, khususnya
menjelang waktu tidur.
 Mempraktikkan metode relaksasi seperti nafas dalam, masase, mendengarkan
musik atau membaca bacaan yang merilekskan.
 Menghindari minuman beralkohol atau batasi asupan alkohol pasien hingga
sesedikit mungkin setiap harinya.
 Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
 Jika ia terbangun tengah malam selama lebih dari 30 menit, bangkit dari tempat
tidur dan lakukan aktivitas yang tidak menstimulasi seperti membaca.

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN ISTIRAHAT DAN TIDUR PADA LANSIA

I. 1. Pengkajian
A. Identitas
Identitas pada klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama,
pekerjaan, pendidikan, diagnose medis, alasan dirawat, keluhan utama, kapan
keluhan dimulai, dan lokasi keluhan.
B. Riwayat Perawatan
Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga,
keadaan lingkungan, dan riwayat kesehatan lainnya.
C. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
Meliputi keadaan umum, Pengukuran Tanda-Tanda Vital (TTV), Pemeriksaan fisik
tentang system kardiovaskuler, system pernafasan, sistem pencernaan, system
perkemihan, sistem endokrin, sistem musculoskeletal, dan sistem reproduksi.
D. Pola Fungsi Kesehatan
Persepsi terhadap kesehatan dan penyakit, kebiasaan sehari-hari, nutrisi
metabolism, pola tidur dan istirahat, kognitif-perseptual, persepsi-konsep diri,
aktivitas dan kebersihan diri, koping-toleransi stress, nilai-pola keyakinan.
E. Data penujang
Hasil pemeriksaan laboraturium, dan pemeriksaan lainnya

2. Pemeriksaan fisik
a. Integumen :
 Lemak subkutan menyusut
 Kulit kering dan tipis, rentang terhadap trauma dan iritasi, serta lambat
sembuh
b. Mata :
 Areus senilis, penurunan visus
c. Telinga :
 Pendengaran berkurang yang selanjutnya dapat berakibat gangguan bicara.
d. Kardiopulmonar :
 Curah jantung berkurang serta elastisitas jantung dan pembuluh darah
berkurang, terdengar bunyi jantung IV (S4) dan bising sistolik, kapasitas
vital paru, volume ekspirasi, serta elastisitas paru-paru berkurang.
e. Muskuloskeletal :
 Massa tulang berkurang, lebih jelas pada wanita, jumlah dan ukuran otot
berkurang.
 Massa tubuh banyak yang tergantikan oleh jaringan lemak yang disertai
pula oleh kehilangan cairan.
f. Gastrointestinal :
 Mobilitas dan absorpsi saluran cerna berkurang, daya pengecap, serta
produksi saliva menurun.
g. Neurologikal :
 Rasa raba juga berkurang, langkah menyempit dan pada pria agak melebar.
Selain itu, terdapat potensi perubahan pada status mental.

3. Pemeriksaan Fisik Umum


a. Kesadaran : klien dapat menunjukkan tingkat kesadaran baik (tidak ada
kelainan atau gangguan kesadaran).
b. Pengkajian status gizi :Terjadi malnutrisi

4. Pengkajian Fisik Khusus


a. Pengkajian sistem perkemihan : Inkontinensia
b. Pengkajian sistem pernapasan : Perubahan pada saluran pernapasan atas,
diameter dinding dan dinding dada kaku.
c. Pengkajian sistem kulit/integumen : Pertumbuhan epidermis melambat (kulit
kering, epidermis menipis), berkurangnya vaskularisasi, juga melanosit dan
kelenjar-kelenjar pada kulit.
d. Pengkajian pola tidur : susah tidur pulas, sering terbangun, serta kualitas tidur
yang rendah, lama ditempat tidur serta jumlah total waktu tidur per hari yang
berkurang.
e. Pengkajian status fungsional :
- Tentang mandi = Dikatakan mandiri (independen) bila dalam melakukan
aktivitas klien hanya memerlukan bantuan untuk menggosok atau
membersihkan sebagian tertentu dari anggota badannya, Dikatakan
dependen bila klien memerlukan bantuan untuk lebih dari satu bagian
badannya.
- Berpakaian = Independen bila tak mampu mengambil sendiri pakaian
dalam lemari atau laci.
- Ke toilet = Independen bila lansia tak mampu ke toilet sendiri, beranjak
dari kloset, merapikan pakaian sendiri. Dependen bila memang
memerlukan bed pan atau pispot.
- Transferring = Independen bila mampu naik turun sendiri dari tempat tidur
atau kursi roda. Dependen bila selalu memerlukan bantuan untuk kegiatan
tersebut diatas atau tak mampu melakukan satu atau lebih aktivitas
transferring.
- Kontinensia = Independen bila mampu buang hajat sendiri (urinari dan
defekasi). Dependen bila pada salah satu atau keduanya miksi atau
sefekasi memerlukan enema atau kateter.
- Makan = Independen bila mampu menyuap makanan sendiri, mengambil
dari piring.
f. Pengkajian aspek spiritual =
- Perasaan individu tentang kehidupan keagamaannya
- Melakukan kewajiban-kewajiban agar berkontemplasi tentang kehidupan
menurut agama dan kepercayaannya

II. Diagnosa
1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri
2. Gangguan pola tidur erhubungan dengan psikologis

III. Intervensi Keperawatan


1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidur menjadi efektif
Kriteria hasil :
a. Dapat meningkatkan rasa sehat dan merasa dapat tidur
b. Merasa tidur tidak terganggu dan nyeri hilang
Intervensi :
1. Biasakan dan Patuhi jam tidur setiap malam
2. Upaya memodifikasi faktor lingkungan, khususnya bagi lansia yang tinggal di
institusi.
3. Pertahankan kondisi yang kondusif untuk tidur, yang mencakup perhatian
pada faktor-faktor lingkungan dan kegiatan ritual menjelang tidur.
4. Bantu orang tersebut untuk rileks pada saat menjelang tidur dengan
memberikan usapan punggung, masase kaki atau kudapan tidur bila
diinginkan. Latihan pasif dan gerakan mengusap memberikan efek yang
menidurkan.
5. Memberikan posisi yang tepat, menghilangkan nyeri, dan memberika
kehangatan dengan selimut-selimut konvensional atau selimut listrik listrik
juga dapat membantu.
6. Jangan membiarkan pasien meminum kafein (kopi, teh, cokelat) di sore hari
dan malam hari.
7. Lakukan tindakan-tindakan yang masuk akal seperti memutar musik lembut di
radio dan menawarkan susu hangat dan minuman hangat lainnya atau kudapan
yang lebih berat untuk meningkatkan tidur pada lansia tanpa menggunakan
hipnotik. Pada waktu malam, secangkir anggur, sherry, brandi atau bir
memberikan kehangatan internal dan relaksasi pada lansia yang perlu tidur.
Namun, efek dari satu minuman hanya berlangsung selama dua pertiga siklus
tidur. Sedasi juga bersifat sama, yang menyebabkan tidur terputus-putus.
8. Tidur siang merupakan hal yang tepat; namun jumlah tidur siang tidak boleh
lebih dari 2 jam.
9. Latihan setiap hari juga harus dianjurkan. Hal ini merupakan cara yang terbaik
untuk meningkatkan tidur. Latihan harus dilakukan di pagi hari daripada
menjelang tidur karena pada jam-jam tersebut latihan hanya akan
menimbulkan efek menyegarkan daripada menidurkan.
10. Mandi air hangat terkadang dapat merilekskan lansia tetapi beberapa di
antaranya tidak menyukai intervensi ini, mengeluh pusing pada saat mereka
bangun dari tempat tidur.

2. Gangguan pola tidur b.d psikologis


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidur menjadi efektif
Kriteria hasil :
a. Dapat meningkatkan rasa sehat dan merasa dapat tidur
b. Merasa tidur tidak terganggu
Intervensi :
1. Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan keluhan yang mungkin
menghalangi tidur.
2. Rencanakan asuhan keperawatan rutin yang memungkinkan pasien tidur tanpa
terganggu selama beberapa jam.
3. Berikan bantuan tidur kepada pasien, seperti bantal, mandi sebelum tidur,
makanan atau minuman dan bahan bacaan.
4. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidur.
5. Berikan pengobatan yang diprogramkan untuk meningkatkan pola tidur
normal pasien.
6. Minta pasien setiap pagi menjelaskan kualitas tidur malam sebelumnya.
7. Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang tehnik relaksasi seperti
imjinasi terbimbing, relaksasi otot progresif, dan meditasi.
Rasional
1. Mendengar aktif dapat membantu menentukan penyebab kesulitan tidur.
2. Tindakan ini memungkinkan asuhan keperawatan yang konsisten dan
memberikan waktu untuk tidur tanpa terganggu.
3. Susu dan beberapa kudapan tinggi protein, seperti keju dan kacang,
mengandung L-trytophan, yang dapat mempermudah tidur.
4. Tindakan ini dapar mendorong istirahat dan tidur.
5. Agens hipnotik memicu tidur, obat penenang menurunkan ansietas.
6. Tindakan ini membantu mendeteksi adanya gejala perilaku yang berhubungan
dengan tidur.
7. Upaya relaksasi yang bertujuan biasanya dapat membantu meningkatkan tidur.

IV. Implementasi
Melaksanakan tindakan yang diidentifikasi sesuai dengan intervensi dan tindakan
keperawatan dilakukan sesuai standar prosedur secara aman dan tepat.

V. Evaluasi
Mengevaluasi kemajuan klien terhadap pencapaian tujuan dengan melihat acuan
tujuan dan kriteria hasil pada perencanaan dan respon klien terhadap tindakan
kemudian didokumentasikan.

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Istirahat dan tidur menjalankan sebuah fungsi pemulihan, baik secara
fisiologis maupun psikologis. Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan
oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Masyarakat awam belum begitu
mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Pendapat yang
menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena tidak tidur adalah tidak
benar. Lansia yang terganggu waktu tidurnya menjadi cepat lupa, diorientasi dan
konfusi: orang yang mengalami kerusakan kognitif menunjukkan peningkatan
kegelisahan, perilaku keluyuran, dan syndrome sundowner (komfusi, agitasi, dan
perilaku terganggu selama sore menjelang senja).

DAFTAR PUSTAKA
Stanley M, Patricia GB. 2006 . Buku Ajar Keperawatan Gerontik . Jakarta : EGC.

Cynthia M, Taylor . 2011 . Diagnosis Keperawatan Dengan Rencana Asuhan . Jakarta : EGC.

http://wahyupurwitasari.blogspot.co.id/ diakses pada hari senin tanggal 12 September 2016,


pukul 17.00 WIB