Anda di halaman 1dari 16

10.1.

1 Tujuan dan Lingkup


Tujuan dari dibentuknya PSAK 10 ini adalah untuk mengetahui bagaimana
memasukkan transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri kedalam
laporan keuangan entitas kedalam menjabarkan laporan keuangan kedalam mata uang
penyajian.
Ruang Lingkup
1. Akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali transaksi dan saldo
derivative (PSAK 55)
2. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang
termasuk dalam laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional atau
metode ekuitas.
3. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang
penyajian
4. Derivatif mata uang asing, kecuali derivative yang tidak termasuk lingkup PSAK
55 misal derivative yang melekat pada kontrak lain.
5. Akuntansi lindung nilai mata uang asing termasuk lindung nilai investasi di LN
6. Penyajian laporan arus kas yang timbul dari transaksi mata uang asing atau
penjabaran arus kas dari kegiatan usaha LN

10.1.2 Definisi
Investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri adalah jumlah kepentingan entitas
pelapor dalam asset neto dari kegiatan usaha luar negeri tersebut.
Kegiatan usaha luar negeri adalah entitas anak, asosiasi, ventura bersama atau
cabang dari entitas pelapor yang aktiitasnya dilaksanakan di Negara yang mata
uangny a menggunakan mata uang selain mata uang pelapor.
Kelompok usaha adalah suatu entitas induk dan seluruh anaknya.
Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang
Kurs penutup adalah kurs spot pada akhir periode pelaporan
Kurs Spot adalah kurs untuk realisasi segera
Mata Uang Asing adalah mata uang selain mata uang funsional suatu entitas
Mata Uang Fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama dimana
entitas beroperasi.
Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian laporan
keuangan.
Pos-pos moneter adalah unit mata uang yang dimiliki serta asset atau liabilitas yang
akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat
ditentukan.
Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu satu
mata uang kedalam mata uang lain pada kurs yang berbeda.

10.1.3 Pertimbangan Mata Uang Fungsional


1. Mata Uang
 Paling mempengaruhi harga jual (sringkali menjadi mata uang dimana harga
jual untuk barang dan jasa didenominasikan dan diselesaikan dan
 Dari suatu Negara yang kekuatan persaingan dan perundang-undngannya
sebagian besar menentukan harga jual dari barang dan jasanya.
2. Mata uang yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dnan biaya lain
dari pengadaan barang atau jasa (biaya didenominasikan dan diselesaikan).
3. Mata uang yang mana dana dari aktifitas pendanaan (antara lain penerbitan
instrument utang dan instrument ekuitas) dihasilkan.
4. Mata uang dalam mana penerimaan dari aktifitas operasi pada umumnya ditahan.
5. Apakah kegiatan usaha luar negeri dilaksanakn sebagai suatu perpanjangan dari
entitas pelapor atau otonomi yang signifikan.
 Hanya menjual barang yang diimpor dari entitas pelapor dan mengirimkan
hasilnya ke entitas pelopor melalui system perpanjangan
 Mengakumulasikan kas dan pos moneter, pengeluaran, pendapatn dan
pinjaman, yang secara substansial mengunakan mata uang lokalnya yaitu hak
otonomi
6. Tinggi rendahnya proporsi kegiatan usaha luar negeri
7. Apakah arus kas secara langsung mempengaruhi arus kas entitas pelapor dan
apakah arus kas tersebut siap tersedia untuk dikirimkan ke entitas pelapor
8. Apakah arus kas cukup untuk membayar kewajiban instrument utang yang ada
ataupun yang diperkirakan dapat terjadi tanpa adanya dana yang disediakn oleh
entitas pelapor.
9. Ketika indicator Mata uang tidak jelas manajemen menggunakan
pertimbangannya untuk menentukan mata uang fungsional manakah yang paling
tepat
10. Manajemen memberikan prioritas pada indicator-indikator utama dalam paragraph
9 (1) sebelum mempertimbangkan indicator-indikator dalam paragraph 10 (2) dan
(13)
11. Mata uang fungsional suatu entitas mencerminkan transaksi, kejadian dan kondisi
yang mendasari yang relevan
12. Sekali ditentukan, mata uang fungsional tidak berubah kecuali ada perubahan
pada transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasari tersebut.
Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat
terjadinya transaksinya.

10.1.4 Pelaporan Pada Tanggal Neraca


Pada setiap tanggal neraca :
1. Pos asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan kedalam mata
uang rupiah dengan menggunakan kurs tangga neraca. Apabila terdapat kesulitaan
dalam menentukan kurs tanggal neraca, dapat digunakan kurs tengah BI sebagai
indicator yang obyektif.
2. Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca,
tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi, dan
3. Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus
dilaporkan dengan menggunakankurs yang berlaku pada saat nilai tersebut
ditentukan.

10.1.5 Transaksi Valuta Berjangka


1. Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua
valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka.
Pada hakekatnya transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian
tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga
pembuat transaksi terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi
SWAP pembuat transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan
terlebih dahulu.
2. Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan
hedging utang adalah sebagai berikut :
 Selisih kurs tunai (spor rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat)
sebagai diskonto atau premi yang harus diamortisasi sesuai dengan jangka
waktu kontrak valuta berjangka;
 Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk utang dalam mata uang
asing (yang diproteksi melalui hedging), forward receivable, dan forward
payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat
perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai pada saat terjadinya
transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan;
 Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau
premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka
yang berhubungan harus dijadikan satu dibagian asset atau kewajiban.
Bergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.

10.1.6 Investasi Neto dalam Suatu Entitas Asing


Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya
membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus
diklasifikasikan sebagai suatu ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat
pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai
pendapatan atau beban (lihat PSAK 11).
Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan
sebagai hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus
diklasifikasikan sebagai suatu ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan pelepasan
(disposal) investasi neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapaan atau
sebagai beban (lihak PSAK 11)
Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam uraian selisih kurs diatas, selisih
penjabaran pada asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal
neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dlam mata uang asing dikreditkan
atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.

10.1.7 Perlakuan Alternative Diijinkan


Selisih kurs dapat disebabkan oleh devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu
mata uang dalam keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan kewajiban
yang tidak terselesaikan akibat perolehan asset yang baru saja dilakukan dan harus
dilunasi dalam mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai
tercatat (carrying amount) asset sepanjang nilai tercatat asset yang disesuaikan tidak
melebihi jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang
dapat diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan atau penggunaan asset
tersebut. Alternative yang dipilih harus diungkapkan secukupnya.

10.1.8 Pengungkapan
Perusahaan harus mengungkapkan :
1. Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk
periode tersebut,
2. Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu
unsure yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir
periode, dan
3. Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai
tercatat suatu asset sesuai dengan perlakuan alternative yang diijinkan.

10.1.9 Perbedaan PSAK 10 dengan PSAK Sebelumnya


Ada 3 pokok penting yang membedakan PSAK 10 (revisi 2009) tersebut PSAK
sebelumnya:
1. Penentuan Mata Uang Fungsional

Point utama dari PSAK 10 (revisi 2009) adalah bagaimana penentuan mata
uang fungsional. Mata uang fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi
utama dimana entitas beroperasi. Artinya dianggap sebagai mata uang dasar (base
currency) dalam menentukan nilai tukar atau dalam perhitungan selisih kurs. Sebagai
contoh, apabila berdasarkan fakta substansi ekonomi mata uang fungsional
perusahaan adalah Dolar Amerika, maka mata uang selain Dolar Amerika dianggap
sebagai mata uang non fungsional, sehingga semua transaksi dalam mata uang non
fungsional harus ditranslasikan ke mata uang fungsional.
Banyak Perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya Perusahaan Modal
Asing (PMA) yang melakukan hampir keseluruhan transaksi penjualan dan
pembeliannya dengan menggunakan mata uang selain Rupiah dan penerimaannya
aktivitas operasinya juga bukan mata uang Rupiah, intinya mata uang yang ada di
dominasi oleh mata uang selain Rupiah namun menggunakan mata uang
fungsionalnya adalah Rupiah.
Oleh karena itu, dalam penentuan mata uang fungsional tingkat relevansi dan
keandalan harus diperoleh, misalnya melalui pemberian bobot pada masing-masing
indikator tersebut di atas, kemudian atas bobot indkator individu ini ditentukan bobot
secara keseluruhan. Jika dari hasil pembobotan disimpulkan bahwa mata uang selain
Rupiah yang paling dominan digunakan sebagai mata uang fungsional maka sudah
tidak relevan lagi bagi Perusahaan tersebut untuk menggunakan Rupiah sebagai mata
uang fungsionalnya, sehingga harus dilakukan perubahan mata uang fungsional.

2. Perubahan dalam mata Uang Fungsional

Maka dari itu per 1 Januari 2012 sejak PSAK 10 (revisi 2009) ini berlaku,
maka setiap Perusahaan yang sebelumnya menggunakan mata uang fungsional
Rupiah, harus melakukan review ulang kembali atas mata uang fungsional, jika dari
hasil review tersebut menyatakan bahwa indikator-indikator yang telah disebutkan
diatas terpenuhi, maka harus dilakukan perubahan mata uang fungsionalnya, yang
telah diatur dalam PSAK 10 (revisi 2009), penjabaran untuk mata uang fungsional
secara prospektif sejak tanggal perubahan. Dalam kata lain, entitas menjabarkan
semua pos kedalam mata uang fungsional yang baru menggunakan kurs pada tanggal
perubahan itu. Hasil dari jumlah yang dijabarkan untuk pos non moneter dianggap
sebagai biaya historisnya seperti aset tetap dan persediaan.

3. Pengukuran dan Penyajian Mata Uang

Sesuai PSAK 10 (revisi 2009) maka suatu perusahaan dalam menyusun


laporan keuangan antara pengukuran dengan penyajian dapat menggunakan mata
uang fungsional yang sama namun dapat juga dapat menyajikan laporan keuangan
dengan mata uang fungsional yang berbeda yang digunakan dalam pengukurannya
tentunya setelah dilakukan penjabaran hasil usaha dan posisi keuangannya ke dalam
mata uang penyajian sebagaimana diatur dalam PSAK 10 (revisi 2009) Misalkan
Suatu Perusahaan memutuskan untuk menggunakan mata uang fungsional
menggunakan Dolar Amerika Serikat, maka seluruh transaksi diluar mata uang
fungsional harus dibukukan menggunakan kurs tanggal transaksi, begitu juga untuk
pos moneter setiap akhir bulan dilakukan translasi menggunakan kurs akhir bulan
sehingga terdapat pengakuan laba/(rugi) selisih kurs, Namun untuk penyajian dalam
Laporan Keuangan diperbolehkan menyajikan Laporan Keuangan menggunakan Mata
uang fungsionalnya yaitu Dolar Amerika Serikat dan juga diperbolehkan
menggunakan mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya misalkan
penyajian menggunakan mata uang Rupiah tentunya setelah dilakukan penjabaran
hasil usaha dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian. Hal tersebut
berbeda dengan penerapan PSAK sebelumnya dimana pengukuran dan penyajian
mata uang menggunakan Rupiah, Entitas dapat menggunakan mata uang selain
Rupiah jika mata uang tersebut memenuhi kriteria sebagai mata uang fungsional.

10.1.10 Dampak Penerapan PSAK 10 Terhadap Perpajakan


Di Indonesia sendiri pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan
satuan mata uang selain Rupiah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
No.196/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Penyelengaraan Pembukuan dengan
Menggunakan Bahasa Asing dan Satuan Mata Uang selain Rupiah serta Kewajiban
Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan,
didalam Pasal 4 disebutkan bahwa penyelengaraan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat Wajib Pajak harus
terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Menteri Keuangan, kecuali bagi Wajib
Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak dalam rangka Kontraktor
Kontrak Kerja Sama, dan di dalam Pasal 10 ayat 1 disebutkan bahwa Dalam hal Wajib
Pajak yang tidak memperoleh izin tertulis untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat,
tetapi tetap menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, terhadap Wajib Pajak tersebut diperlakukan
sebagai Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 28 Undang-Undang KUP.
Oleh karena itu, mengantisipai kondisi tersebut jika suatu Perusahaan akan
melakukan perubahan mata uang fungsionalnya karena telah memenuhi kriteria dari
PSAK 10 (revisi 2009) namun terkendala karena belum mendapatkan izin dari
Menteri Keuangan, maka Perusahaan harus mempunyai dua pencatatan yaitu
pembukuan dengan mata uang Rupiah dan pembukuan dengan mata uang asing, untuk
memudahkan bagi Perusahaan dalam melakukan kewajiban perpajakannya dan taat
kepada peraturan yang ada di Indonesia.
Perubahan pada PSAK 10 yang akan berlaku efektif tahun 2012 terkait
masalah functional currency yaitu mata uang yang digunakan dalam kegiatan
operasional perusahaan. Pada perubahan terbaru, functional currency tidak harus
dalam rupiah. Perusahaan bisa mencatat kegiatan operasional sehari-hari dalam mata
uang apapun. Perusahaan wajib mengkonversi dalam rupiah atau dolar setiap laporan
keuangan yang akan dilaporkan ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP), seperti tertuang
dalma PMK 196/PMK.03/2007 mengenai tata cara pembukuan dalam bahasa asing
dan mata uang hanya Dollar Amerika Serikat. Hal ini berkebalikan dengan PSAK 10
setiap laporan keuangan yang memperbolehkan menggunakan mata uang apa pun,
tergantung seringnya perusahaan tersebut menggunakan mata uang asing lain dalam
setiap transaksinya.
10.1.11 Ketentuan Transisi
Pada saat pernyataan ini diterapkan, perusahaan harus mengklasifikasikan
secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode, selisih kurs
yang ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode sebelumnya,
kecuali jika jumlah tersebut tidak dpat ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut
perlu dijelaskan alasannya.

10.2 PSAK 55: Instrumen Keuangan


10.2.1 Tujuan PSAK 55
Tujuan pernyataan ini adalah untuk mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan
dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan, dan kontrak pembelian atau
penjualan item nonkeuangan.

10.2.2 Ruang Lingkup PSAK 55


Pernyataan ini diterapkan oleh semua entitas untuk seluruh jenis instrumen
keuangan, kecuali untuk:
1. Penyertaan pada entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama
2. Hak dan kewajiban dalam sewa
3. Hak dan kewajiban pemberi kerja
4. Instrumen keuangan terbitan entitas
5. Hak dan kewajiban yang timbul dalam kontrak asuransi
6. Kontrak antara pengakuisisi dan penjual dalam kombinasi bisnis
7. Komitmen pinjaman yang diberikan selain dari yang dijabarkan

10.2.3 Definisi Instrumen Keuangan


Instrumen keuangan (financial instruments) adalah setiap kontrak yang
menambah nilai aset keuangan (financial assets) entitas dan liabilitas keuangan
(financial liability) atau instrumen ekuitas (equity instruments) entitas lain.
Aset keuangan meliputi setiap aset yang menimbulkan hak kontraktual untuk
menerima kas atau aset keuangan lainnya. Liabilitas keuangan meliputi setiap
kewajiban kontrak untuk membayar kas atau aset keuangan. Instrumen ekuitas adalah
setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi
dengan seluruh liabilitasnya.
10.2.4 Definisi Derivatif
Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang memiliki tiga
karakteristik berikut :
1. Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan
(yang mendasari/underlying), antara lain : suku bunga, harga instrument
keuangan, harga komoditas, nilai tukar mata uang asing, indeks harga atau
indeks suku bunga, peringkat kredit atau indeks kredit, atau variabel lainnya.
Untuk variabel non-keuangan, variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-
pihak dalam kontrak.
2. Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto
dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan
untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak
yang serupa akibat perubahan faktor pasar.
3. Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan.

Akuntansi Derivatif :
1. Dicatat dalam neraca (sebagai aset atau kewajiban)
2. Pada nilai wajar
3. Perubahan atas nilai derivatif dicatat melalui laporan laba rugi, kecuali
qualified cash flow atau net investment hedge.

10.2.5 Klasifikasi Instrumen Keuangan


1. Aset Keuangan
- Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Aset keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan (misalnya untuk
dijual dalam waktu dekat pada masa mendatang) atau pada saat
pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.
Contoh : Aset derivatif dan investasi dalam instrumen utang dan ekuitas
yang dimiliki dalam portofolio diperdagangkan.
- Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo
Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh
temponya telah ditetapkan serta entitas mempunyai intensi positif dan
kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.
Contoh : Investasi dalam instrumen utang yang mempunyai kuotasi harga
di mana entitas memiliki niat dan mampu memiliki hingga jatuh tempo.
- Pinjaman yang diberikan dan piutang
Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak
mempunyai kuotasi harga di pasar aktif.
Contoh : Piutang usaha, pinjaman yang diberikan, dan piutang wesel.
- Aset keuangan tersedia untuk dijual
Aset keuangan yang dirancang sebagai tersedia untuk dijual atau yang
tidak diklasifikasikan dalam ketiga kategori di atas.
Contoh : Investasi dalam instrumen utang dan ekuitas yang tidak termasuk
dalam kategori lain.
2. Liabilitas Keuangan
- Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Liabilitas keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan (misalnya
dibeli kembali dalam waktu dekat pada masa mendatang) atau ditetapkan
pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada
nilai wajar melalui laba rugi
Contoh : Liabilitas derivatif dan liabilitas diperdagangkan lainnya
- Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi
Semua liabilitas lainnya selain daripada liabilitas yang dinillai pada nilai
wajar melalui laba rugi.
Contoh : Utang usaha, utang wesel, dan efek utang yang diterbitkan.
3. Tainting
Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi
yang dimiliki hingga jatuh tempo, jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun
waktu dua tahun sebelumnya, telah menjual atau mereklasifikasi investasi
yang dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang
tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo.
Terdapat pengecualian atas TaintingRule tersebut jika penjualan atau
reklasifikasi tersebut:
1. Dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal
pembelian kembali (contohnya, kurang dari tiga bulan sebelum jatuh
tempo).
2. Terjadi setelah entitas telah memperoleh secara substansial seluruh jumlah
pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau entitas telah
memperoleh pelunasan dipercepat.
3. Terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali entitas, tidak
berulang, dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas

10.2.6 Pengukuran Instrumen Keuangan


1. Pengukuran Awal
Pada saat pengakuan awal, entitas pada umumnya mengukur aset keuangan
menggunakan akuntansi tanggal transaksi pada nilai wajar ditambah biaya transaksi
(fair value plus transaction costs), kecuali aset keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi pada
awalnya hanya diakui pada nilai wajar (fair value).
Biaya transaksi (transaction costs) adalah biaya-biaya tambahan, seperti biaya
pendaftaran dan komisi lain yang ditetapkan, biaya yang dibayarkan kepada penasehat
hukum, akuntan, dan penasehat profesional lain, biaya percetakan dan meterai.
Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen
(termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent), konsultan,
perantara efek dan pedagang efek; pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak
regulator dan bursa efek, serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang
dilakukan. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang, biaya
pendanaan (financing costs), biaya administrasi internal, atau biaya penyimpanan
(holding costs).
Jurnal untuk mencatat biaya transaksi yang dibayar tunai dan berkaitan dengan
instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar (fair value) adalah:
Biaya Transaksi xxx
Kas xxx

2. Pengukuran Berikutnya
Setelah pengakuan awal, aset keuangan dan liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar, biaya perolehan diamortisasi atau biaya perolehan tergantung klasifikasi
apakah nilai wajar dapat ditentukan dengan andal. Pengukuran awal (initial
measurement) dan pengukuran berikutnya (subsequent measurement) atas instrumen
keuangan dan perlakuan akuntansi atas perubahan nilai wajar (keuntungan atau
kerugian kepemilikan yang belum direalisasi – unrealized holding gain or loss)
diklasifikasikan sebagai berikut :
Catatan :
1. *Nilai pada awal juga disesuaikan dengan biaya transaksi, kecuali aset atau
liabilitas pada nilai wajar melalui laba rugi
2. Investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar
aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal, serta derivatif yang
terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang
tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut, diukur pada biaya
perolehan.
Dari tabel di atas, setelah pengakuan awal, aset keuangan dan liabilitas keuangan
diukur dengan menggunakan salah satu dari tiga atribut pengukuran berikut.
- Biaya perolehan
Biaya perolehan adalah jumlah aset yang diperoleh atau liabilitas yang
diselesaikan, termasuk biaya transaksi (misalnya komisi atau fee yang
dibayar).
Setelah perolehan awal, hanya satu tipe instrumen keuangan yang diukur
pada biaya perolehan yaitu investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak
memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur
secara andal, serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui
penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar
aktif tersebut, diukur pada biaya perolehan.
- Biaya perolehan diamortisasi
Setelah pengukuran awal, kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan
ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode
suku bunga efektif di laporan posisi keuangan:
1. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo;
2. Pinjaman yang diberikan dan piutang; dan
3. Liabilitas keuangan lainnya.
Biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan
dari aset atau liabilitas setelah disesuaikan, jika layak, untuk mencapai
suatu suku bunga efektif yang konstan selama umur aset atau liabilitas
(misalnya, pendapatan bunga yang konstan atau beban bunga yang konstan
sebagai suatu persentase jumlah tercatat dari aset keuangan atau liabilitas
keuangan). Dengan kata lain, biaya perolehan diamortisasi dari aset
keuangan atau liabilitas keuangan adalah jumlah pada pengakuan awal aset
keuangan atau liabilitas keuangan dikurangi pembayaran pokok, ditambah
atau dikurangi dengan akumulasi amortisasi berdasarkan metode suku
bunga efektif dan dikurangi penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat
ditagih.
- Nilai wajar
Nilai wajar (fair value) adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan
atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan
berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.
Kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan pada umumnya diukur
pada nilai wajar di laporan posisi keuangan:
1. Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi;
2. Aset keuangan tersedia untuk dijual; dan
3. Liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi.

10.2.7 Penghentian Pengakuan (Derecognition)


1. Penghentian Pengakuan Aset Keuangan
Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan, jika dan hanya jika :
1. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut
berakhir
2. Entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian
pengakuan.
2. Penghentian Pengakuan Kewajiban Keuangan
Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewjaiban keuangan)
dari neracanya, jika dan hanya jika kewajiban keuangan tersebut berakhir, yaitu ketika
kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa.

10.2.8 Lindung Nilai


Akuntansi lindung nilai menurut Epstein & Jermakowicz (2008) adalah penggunaan
instrumen derivatif atau instrumen keuangan lainnya untuk melindungi perusahaan
dari risiko terkait perubahan nilai wajar (fair value).
Perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi hedging yang mencakup instrumen
hedging dan hedge item, yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian
atas instrumen hedging dan hedge item diakui dalam laporan laba rugi periode yang
sama.
Jenis Lindung Nilai :
1. Lindung Nilai Atas Nilai Wajar
Suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau
kewajiban yang telah diakui, atau komitmen pasti yang belum diakui, atau
bagian yang telah diidentifikasi dari aset, kewajiban, atau komitmen pasti
tersebut, yang dapat diatribusikan pada resiko tertentu dan dapat
mempengaruhi laporan laba rugi.
2. Lindung Nilai Atas Arus Kas
Suatu lindung nilai terhadap eksposur variabilitas arus kas yang dapat
diatribusikan pada resiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban
yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga masa
depan atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan
pada resiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang
kemungkinan besar terjadi.dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi.
3. Lindung Nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri
Sama seperti lindung nilai arus kas
Kriteria Lindung Nilai :
1. Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan
pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan
manajemen resiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai.
2. Lindung nilai diharapkanakan sangat efektif dalam rangka saling hapus
atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas.
3. Untuk lindung nilai atas arus kas, suatu prakiraan transaksi yang
merupakan subjek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan
besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat
memengaruhi laporan laba rugi.
4. Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal.
5. Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa
efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan dimana
lindung nilai tersebut ditetapkan.
Instrumen Lindung Nilai :
1. Lindung nilai terhadap eksposur nilai wajar dari obligasi dalam mata uang
asing.
2. Lindung nilai menggunakan aset atau liabilitas keuangan nonderivatif
3. Akuntansi lindung nilai: penggunaan opsi yang diterbitkan dalam
instrumen lindung nilai yang digabungkan
4. Lindung nilai Internal
5. Kontrak derivatif internal yang saling hapus digunakan untuk mengelola
risiko suku bunga
Item yang dilindung nilai :
1. Derivatif
2. Penerbitan utang dengan suku bunga tetap yang telah diantisipasi
3. Deposito inti tak berwujud
4. Aliran pendapatan dalam mata uang asing di masa datang.