Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL DISKUSI

BLOK 11 PEMICU 3

TAMBALANKU JELEK

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 3

DOSEN PEMBIMBING

SUMADHI S, DRG., PHD

LASMINDA SYAFIAR, DRG., MKES

KHOLIDINA IMANDA HRP, DRG., MDSC

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018
KELOMPOK 3

KETUA : Yu Syi Yi (160600233)

SEKRETARIS : Rezky Rahmayanti (160600145)

ANGGOTA : Novi Olmari Siregar (160600039)

Nabil Azzahra ( 160600040)

Nicki Sefanny lubis (160600041)

Laila Difa Wibowo (160600042)

Enny Lunarny Butar-Butar (160600043)

Efranita Somasi Crowlina N. (160600044)

Sri Ayu Winda Madani (160600045)

Rezky Masrayani Gultom (160600046)

Tithania Ulfifat Taqwa A. (160600047)

Fitri Ramadhani Munthe (160600048)

Gita Dwi Ananda (160600049)

Raihana Fadillah Siahaan (160600050)

Aisyah Putri Harun (160600141)

Riri Ramadhani (160600142)

Gemonia Ananda Putri (160600143)

Ilmi Hidayah (160600144)

Agnes Angelia Siregar (160600146)

Nahiyatul syaqira (160600232)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga laporan hasil diskusi Kelompok 3 Pemicu 3 Blok 11 dengan judul “Gigi Palsu Amat”
ini bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

Terimakasih kami ucapkan kepada fasilitator yang sudah membantu kami dalam
menyelesaikan masalah dan membantu mencari titik tengah terhadap skenario Pemicu 3 Blok
11 ini. Rasa terimakasih juga diucapkan pada seluruh pihak terkait dalam proses penyelesaian
makalah.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga dengan
selesainya makalah ini dapat memberi manfaat bagi penyusun maupun pembacanya.

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Gigitiruan lepasan (GTL) didefinisikan sebagai suatu gigitiruan yang menggantikan


gigi dan jaringan pendukungnya yang hilang, yang dapat dilepas maupun dipasangkan
kembali oleh pemakainya. Gigitiruan jenis ini dirancang untuk mengembalikan fungsi estetik,
pengunyahan, bicara dan percaya diri pasien. Gigitiruan jenis ini dapat terbuat dari akrilik
maupun logam.

Gigitiruan kerangka logam adalah salah satu jenis gigitiruan sebagian lepasan yang
dibuat dari logam tuang mempunyai komponen yang terdiri dari basis/sadel beserta anasir gigi
timan, retainer langsung, retainer tidak langsung, konektor utama dan konektor tambahan.
Pada cangkolan hal yang perlu diperhatikan adalah jenis-jenis desain cangkolan dan prinsip
desain cangkolan, oleh karena kedua hal ini sangat berpengaruh untuk mendapatkan retensi
yang optimal.

Resin akrilik yang digunakan untuk pembuatan gigi tiruan adalah polymetil metaknilat.
Beberapa keuntungan pemakaian resin akrilik sebagai plat gigi tiruan adalah memiliki warna
dan translusensi baik, mudah diproses dan dimanipulasi, tidak toksis, tidak berasa tidak berbau
dan murah harganya. Kerugian- nya sifat mekanisnya (kekuatan impact dan fatique) kurang
ideal: tidak tahan terhadap abrasi, dapat terjadi perubahan dimensi. Gigi tiruan resin akrilik
memakai cengkeram dari kawat yang kemungkinan setelah pemakaian akan berubah bentuk
dan karena tertanam dalam resin akrilik akan melemahkan kekuatan basis resin akrilik. Resin
akrilik walaupun diterima sebagai basis gigi tiruan tetapi bukan meru- pakan bahan yang ideal.

2. Deskripsi Topik

Amat datang ke dokter gigi untuk membuat gigi palsu pengganti giginya yang telah dicabut.
Dari pemeriksaan intra oral terlihat edentulous pada gigi 36,37,46, dan 47. Rencana perawatan dokter
gigi adalah gigi tiruan kerangka logam.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Jelaskan klasifikasi alloy yang digunakan dalam kedokteran gigi!


Dalam buku Phillips' Science of Dental Materials oleh Kenneth J. Anusavice, Chiayi Shen, H.
Ralph Rawls, tahun 2013 terdapat beberapa klasifikasi dental alloys.1
a. Klasifikasi dental alloy berdasarkan kandungan logam mulia

Klasifikasi ini dibuat oleh American Dental Association tahun 1984, berdasarkan
kandungan dari logam mulianya. Logam mulianya terdiri dari tujuh kelompok yang
resisten terhadap korosi dan tarnish di dalam rongga mulut, yaitu Emas, Palladium,
Platinum, Rhodium, Ruthenium, Iridium, dan Osmium. Emas, Palladium, dan
Platinum memiliki titik leleh paling rendah diantara ketujuh logam sebut.*Elemen
logam mulia meliputi Au, Pd, Pt, Rh, Ru, Ir, dan Os.

b. Klasifikasi berdasarkan aplikasinya,

No. Klasifikasi Kandungan


1. High Nobel Alloy (HN) ≥40% Au dan ≤60% logam mulia* dari berat

2. Noble Alloy (N) ≥25% dari berat adalah logam mulia*

3. Predominantly Base Metal (PB) < 25% dari berat adalah logam mulia*

No Tipe Kegunaan Contoh

Untuk restorasi dengan objek


1 Tipe 1 Inlay kecil
stress yang rendah

Untuk restorasi yang terkena 3/4 mahkota dan mahkota


2 Tipe 2
tekanan sedang penuh dan mahkota yang tipis

3/4 mahkota yang tipis,


Untuk restorasi yang terkena
3 Tipe 3 abutment, pontik, basis gigi
tekanan besar
tiruan
Gigi tiruan sebagian kerangka
Untuk keadaan dengan tekanan
4 Tipe 4 logam, gigi tiruan sebagian
sangat besar
cekat yang panjang

c. Klasifikasi dental alloy berdasarkan sifat mekanisnya


Klasifikasi ISO standard 1562 tahun 2004 berdasarkan kekuatan dan persentase
elongasinya.

Klasifikasi ISO 22674 mengklasifikasikan untuk restorasi cekat atau lepasan kedalam
enam tipe berdasarkan sifat mekanisnya tanpa memperdulikan komposisinya.

d. Klasifikasi dental alloy berdasarkan jumlah elemen-elemen yang bergabung dalam alloy
klasifikasi ini berdasarkan jumlam elemen yang bergabung, bila alloy terbentuk
dari dua elemen maka disebut Binary Alloy, dan jika terbentuk dari tiga elemen makan
disebut Ternary alloy, jika terbentuk dari empat elemen disebut Quartenary Alloy, dan
seterusnya.
2. Jelaskan jenis alloy yang dapat digunakan pada kasus tersebut!
a. Dental Casting Gold Alloy type 4
Dental casting logam emas tipe IV ini merupakan logam campur emas dengan
kandungan 60 -71.5%. emas. Komposisi dari tipe IV ini mengandung jumlah logam
murni sedikit sekali. Logam campur emas ini mempunyai sifat yang sangat keras
sekali dengan kekerasan diatas 130 BHN. Titik cair dari tipe IV ini dibawah dari tipe
tipe lainnya 8700 C (16500F).

b. Cobalt Chromiun Alloy


Jenis alloy yang digunakan dalam pembuatan gigi tiruan kerangka logam adalah
cobalt chromium alloy. Gigi tiruan kerangka logam Kobalt-Kromium telah dikenal
sejak awal tahun 1930-an. Diperkirakan pada 1949, lebih dari 80% gigi tiruan
sebagian menggunakan kobalt-kromium, sampai saat ini gigi tiruan sebagian lepasan
juga menggunakan bahan kobalt-kromium. Gigi tiruan kerangka logam dibuat dari
bahan kobalt kromium yang mengandung nikel 10%. Kro mium dan kobalt
menghasilkan suatu logam campur yang tahan terhadap Korosi, Kobalt dan nikel
dalam alloy logam menghasilkan alloy yang keras. Kromi- um adalah logam yang
keras, dapat dipoles, mem- punyai daya afinitas atau daya gabung yang tinggi
terhadap oksigen dengan membentuk lapisan oksida tipis sebagai lapisan pelindung
yang menghadang oksidasi atau difusi oksigen ke lapisan yang letaknya lebih
dibawah dari lapisan pelindung tersebut sehingga logam menjadi kurang aktif dan
tahan terha dap korosi. Korosi adalah suatu kemunduran atau kerusakan logam karena
reaksi kimia elektrokimia akibat teroksidasinya logam serta larutnya sebagian
maupun seluruh bagian logam. 2 Cobalt chromium adalah cobalt-base alloy dengan
campuran chromium. Kepadatan dari logam campur cobalt-chromium adalah sekitar
8-9 gram/cm3 atau setengah dari kepadatan logam campur emas dan menyebabkan
logam campur ini relatif sangat ringan.

Bahan ini memiliki lebih banyak keuntungan jika dibandingkan dengan plat
berbahan dasar akrilik. Keuntungan utamanya ialah possibility of dental support and
leaving the periodontal and dental tissues free from coverage to a great extent
 Komposisi : Co (60%), Cr (25%), Ni (1%), Mo (5%) C (0,3%).
 Co untuk memperbesar strength, rigidity, dan hardness serta meningkatkan
elastic modulus
 Cr adalah logam yang keras dipoles mempunyai daya afinitas atau daya
gabung yang tinggi terhadap oksigen dengan membentuk lapisan oksida tipis
sebagai lapian pelindung tersebut sehingga logam menjadi kurang aktif dan
tahan terhadap korosi
 Ni untuk mengeraskan dan meningkatkan ductility
 Mo untuk mengeraskan dan menguatkan alloy.

3. Jelaskan sifat alloy yang diperlukan untuk pembuatan gigi tiruan pada kasus tersebut!
Alloy merupakan campuran dua atau lebih logam, maupun non-logam yang
membentuk material dengan sifat baru.
Sifat yang diperlukan atau diharapkan ;
 Biokompabilitas
Tidak mengandung substansi toksik yang dapat larut dalam saliva
sehingga tidak membahayakan system tubuh,tidak membahayakan pulpa dan
jaringan lunak.Bebas dari bahan yang berpotensi dalam menimbulkan sensitifitas
atau respon alergi dan tidak memiliki potensi karsinogen.
 Mudah untuk di cairkan, dicor, dipoles, dan di las
Sifat ini di harapkan agar kita mudah membentuk anatomi gigi untuk
mencapai oklusi yang baik
 Tahan terhadap abrasi
Makanan dan minuman dengan pH dibawah 5,0-5,7 yang kita konsumsi
dapat menyebabkan erosi pada gigi. Erosi gigi ini biasanya sering terjadi
bersamaan dengan abrasi dan atrisi. Hal tersebutlah yang dapat menyebabkan
rusaknya struktur gigi secara irreversible.
 Tahan terhadap karat
Seperti yang kita ketahui bahwa korosi pada logam dapat terjadi oleh
karena kelembaban, atmosfer, larutan asam atau basa dan bahan-bahan kimia
tertentu. Hal-hal tersebutlah yang dapat mempengaruhi permukaan logam.
 Berkekuatan tinggi
Di dalam rongga mulut terjadi proses mastikasi, oleh karena itu
diharapkan alloy yang akan digunakan untuk gigi tiruan pada kasus
mampumenahan beban gigitan benda maupun makanan.

4. Jelaskan klasifikasi resin akrilik!


Berdasarkan polimerisasinya, resin akrilik dibagi menjadi:
A. Heat Curing Acrylic Resin
 Komposisi
a. Powder
Terdiridari partikel-partikel polimer yang berbentuk beads berisi
poly(methyl methacrylate) yang telah dimodifikasi dengan sedikit ethyl atau
buthyl methacrylate
 Inisiator: Benzoil Peroxide 0.5-1.5 %
 Stabilisator: Talc, gelatin (agar partikel-partikel tidak bersatu)
 Zat warna: Mercuric Sulfide, Cadmium Sulfide, Cadmium Selenide
b. Liquid
Terdiri dari Metil metakrilat , bias jugaditambahkanakrilik monomer yang
lain atau styrene.
 Inhibitor: Hydroquinone 0.006% (cegah polimerisasi oleh panas,
sinar, atau pengaruh oksigen
 Plasticizers: Ester-ester dengan BM rendah, misalnya dibutyl
phthalate.3

B. Cold Curing Acrylic/Self Curing Acrylic/Autopolymer Resin

Secara umum bahan sama dengan heat curing acrylic resin. Tetapi inisiator
(benzoil peroxide) dalam hal ini tidak diaktifkan oleh panas, tetapi oleh suatu bahan
kimia lain yang ditambahkan pada monomer yaitu tertiary amine misalnya dimethyl-
p-toluidine yang dikenal sebagai activator. Bahan yang lain adalah sulpinic acid atau
garam-garam sulpinic acid yang lebih stabil. Kecepatan polimerisasi dapat
dipengaruhi tipe dan konsentrasi. Konsentrasi maksimum Amine Tertiary (accelerator)
adalah0.75%danPeroxide (initiator) adalah 2%. Kestabilan warna kurang baik
dibandingkan dengan heat curing karena adanya oksidasi tertiary amine, namun dapat
dicegah dengan menambahkan stabilizing agents. Pemakaian cold curing akrilik
adalah piranti ortodonti lepasan, sendok cetak fisiologis.

C. Light Curing Acrylic


Mengandung matriks urethane dimathacrylate dengan co-polimer akrilik. Bahan
pengisinya berupa silica microfine dan sistem foto initiatornya berupa
camphorquinone amine. Bahan dalam bentuk yang belum tercampur dan dikemas
dengan kertas tipis dan rapat untuk menghindari polimerisasi awal. Bahan ini dapat
digunakan sebagai baseplate. Akrilik ini dapat dipolimerisasi dalam suatu ruangan
yang mengandung sinar(curing unit) dan sinar biru yang memiliki panjang gelombang
400-500 nm dengan intensitas sinar tinggi yang keluar dari bola lampu quartz-
halogen.

5. Jelaskan jenis resin akrilik yang digunakan pada kasus tersebut!


Jenis resin akriik yang digunakan pada kasus adalah heat-cured resin karena
kandungan heat-cured salah satunya adalah hidroquinon membuat monomer bertahan
lama dengan bereaksi secara cepat terhadap radikal bebas yang mungkin terbentuk secara
spontan, hal ini membuatbentuk radikal bebas yang stabil sehingga tidak dapat
menginisiasi proses polimerisasi. Heat cured resin akrilik ini lebih kuat dan tidak cepat
memudar warnanya dibandingkan dengan resin akrilik yang lain.
Keuntungan basis dari bahan ini adalah penampilan yang baik, mudah dalam
pembuatannya, permukaan akhir yang baik, dan ikatan kimia yang sangat baik. Heat
cured juga meminimalisasi adanya monomer sisa. Namun kekurangannya yaitu kekuatan
yang rendah, kekuatan lentur cukup rendah, dapat menyerap air serta larut dalam
beberapa cairan.

6. Jelaskan sifat resin akrilik yang diperlukan pada kasus tersebut!


Sifat fisik ideal basis gigi tiruan resin :
(a) Perubahan dimensi
Pemrosesan akrilik yang baik akan menghasilkan dimensi stabilitas yang bagus.
Proses pengerutan akan diimbangi oleh ekspansi yang disebabkan oleh penyerapan air.
Percobaan laboratorium menunjukkan bahwa ekspansi linier yang disebabkan oleh
penyerapan air adalah hampir sama dengan pengerutan termal yang diakibatkan oleh
penyerapan air. Stabilitas dimensi yaitu tidak mengembang, mengerut dan melengkung
semasa pemrosesan serta semasa pemakaiannya
(b) Konduktivitas termal
Mempunyai pemuaian termal yang sesuai dengan bahan gigi. Konduktivitas termal
adalah pengukuran termofisika mengenai seberapa baik panas disalurkan melalui suatu
bahan. Basis resin mempunyai konduktivitas termal yang rendah yaitu 0.0006 (oC/cm).
(c) Solubilitas baik
Meskipun basis gigi tiruan resin larut dalam berbagai pelarut dan sejumlah kecil
monomer dilepaskan, namun tidak terpengaruh lingkungan rongga mulut sehingga tidak
larut atau mengabsorbsi cairan mulut
(d) Porositas minimal
Adanya gelembung/porositas di permukaan dan di bawah permukaan dapat
mempengaruhi sifat fisis, estetik, dan kebersihan basis gigitiruan. Porositas cenderung
terjadi pada bagian basis gigitiruan yang lebih tebal. Porositas disebabkan oleh
penguapan monomer yang tidak bereaksi dan berat molekul polimer yang rendah, disertai
temperatur resin mencapai atau melebihi titik didih bahan tersebut. Porositas juga dapat
terjadi karena pengadukan yang tidak tepat antara komponen polimer dan monomer.
Timbulnya porositas dapat diminimalkan dengan adonan resin akrilik yang homogen,
penggu naan perbandinga n polimer dan monomer yang tepat, prosedur pengadukan yang
terkontrol dengan baik, serta waktu pengisian bahan ke dalam mould yang tepat.
a. Stabilitas warna baik
Resin akrilik (terutama jenis polimerisasi panas) menunjukkan stabilitas warna yang
baik. Yu-lin Lai dkk (2003) mempelajari stabilitas warna dan ketahanan terhadap stain
dari nilon, silikon serta dua jenis resin akrilik, dan menemukan bahwa resin akrilik
menunjukkan nilai diskolorisasi yang paling rendah setelah direndam dalam larutan kopi.
Selain itu, resin akrilik menyerap air relatif sedikit ketika ditempatkan pada lingkungan
basah. Namun, air yang terserap ini menimbulkan efek yang nyata pada sifat mekanik,
fisik dan dimensi polimer. Nilai penyerapan air sebesar 0.69 mg/cm. Umumnya, basis
gigi tiruan memerlukan periode 17 hari untuk menjadi jenuh dengan air. Dari hasil
klinikal menunjukkan bahwa penyerapan air yang berlebihan bisa menyebabkan
diskolorisasi.
b. Tidak ada rasa, tidak ada bau, tidak toksik dan tidak mengiritasi pada jaringan lunak
mulut
c. Estetik yang baik (Warna sesuai dengan warna jaringan sekitarnya)
d. Kekuatan mekanis yang cukup tinggi yaitu tidak mudah patah atau pecah
e. Tipis dan ringan
f. Mudah dibuat dan direparasi serta biaya yang ekonomis
g. Biokompatibilitas yaitu bahan basis bebas monomer dan tidak ada reaksi alergi
h. Tidak toxic
i. Tidak mengiritasi
j. Flexural strength yang baik

7. Jelaskan klasifikasi dental gypsum!


Jenis Gips Kedokteran Gigi Menurut spesifikasi American Dental Association (ADA)
No. 25, produk gipsum dapat dikelompokkan menjadi lima tipe yaitu:

1. Impression Plaster (Tipe I)


Gips tipe I (Impression Plaster) memiliki kalsium sulfat hemihidrat terkalsinasi
sebagai bahan utamanya dan ditambahkan kalsium sulfat, borax dan bahan pewarna.
Gips tipe ini jarang digunakan untuk mencetak dalam kedokteran gigi sebab telah
digantikan oleh bahan yang tidak terlalu kaku seperti hidrokoloid dan elastomer,
sehingga gips tipe I terbatas digunakan untuk cetakan akhir, atau wash, untuk rahang
edentulus.
2. Model Plaster (Tipe II)
Gips tipe II (Model Plaster) terdiri dari kalsium sulfat terkalsinasi/ β-
hemihidrat sebagai bahan utamanya dan zat tambahan untuk mengontrol setting time.
Β-hemihidrat terdiri dari partikel kristal ortorombik yang lebih besar dan tidak
beraturan dengan lubang-lubang kapiler sehingga partikel β-hemihidrat menyerap
lebih banyak air bila dibandingkan dengan α-hemihidrat. Pada masa sekarang, gips
tipe II digunakan terutama untuk pengisian kuvet dalam pembuatan gigitiruan dimana
ekspansi pengerasan tidak begitu penting dan kekuatan yang dibutuhkan cukup,
sesuai batasan yang disebutkan dalam spesifikasi. Selain itu, gips tipe II dapat
digunakan sebagai model studi.
3. Dental Stone (Tipe III)
Gips tipe III (Dental Stone) terdiri dari hidrokal/ α-hemihidrat dan zat
tambahan untuk mengontrol setting time, serta zat pewarna untuk membedakannya
dengan bahan dari plaster yang umumnya berwarna putih. α-hemihidrat terdiri dari
partikel yang lebih kecil dan teratur dalam bentuk batang atau prisma dan bersifat
tidak poreus sehingga membutuhkan air yang lebih sedikit ketika dicampur bila
dibandingkan dengan β-hemihidrat. Gips tipe III ideal digunakan untuk membuat
model kerja yang memerlukan kekuatan dan ketahanan abrasif yang tinggi seperti
pada konstruksi protesa dan model ortodonsi. Kekuatan kompresi gips tipe III
berkisar antara 20,7 MPa (3000 psi) – 34,5 MPa (5000 psi).
4. Dental Stone, High-Strength (Tipe IV)
Gips tipe IV (Dental Stone, High Strength) terdiri dari densiti yang memiliki
bentuk partikel kuboidal dengan daerah permukaan yang lebih kecil sehingga
partikelnya paling padat dan halus bila dibandingkan dengan β-hemihidrat dan
hidrokal. Gips tipe IV sering dikenal sebagai die stone sebab gips tipe IV ini sangat
cocok digunakan untuk membuat pola malam dari suatu restorasi, umumnya
digunakan sebagai dai pada inlay, mahkota dan jembatan gigi tiruan. Diperlukan
permukaan yang keras dan tahan abrasi karena preparasi kavitas diisi dengan malam
dan diukir menggunakan instrumen tajam hingga selaras dengan tepi-tepi dai.
5. Dental Stone, High Strength, High Expansion (Tipe V)
Adanya penambahan terbaru pada klasifikasi produk gipsum ADA dikarenakan
terdapat kebutuhan dental stone yang memiliki kekuatan serta ekspansi lebih tinggi.
Pembuatan gips tipe V sama seperti gips tipe IV namun gips tipe V memiliki
kandungan garam lebih sedikit untuk meningkatkan setting ekspansinya. Gips tipe V
memiliki setting ekspansi sekitar 0,1% - 0,3% untuk mengkompensasi pengerutan
casting yang lebih besar pada pemadatan logam campur. Kekuatan yang lebih tinggi
diperoleh dengan menurunkan rasio air-bubuk. Gips tipe V umumnya digunakan
sebagai dai untuk pembuatan bahan logam campur yang memiliki pengerutan tinggi.
Bahan ini umumnya berwarna biru atau hijau dan merupakan produk gipsum yang
paling mahal.4

Jenis Investment Gips

a. Investment Gypsum
1. Gypsum Bonded Investment Gyps
Bahan tanam dengan bahan pengikat kalsium sulfat hemihidrat relatif mudah
untuk dimanipulasi.
2. Ethyl Silicate Bonded Investment gips
Gips tanam ini digunakan untuk casting aloi yang memiliki titik lebur yang tinggi.
Bahan gips tanam ini mengandung silika yang diikat melalui proses hidrolisis etil
silikat dalam asam hidroklorida
3. Phosphate Bonded Investment Gyps
Bahan pengikat Silica bonded investment atau Phosphate Bonded Investment
4. Brazing (Soldering) Investment
Mempunyai waktu pengerasan yang lebih pendek dan thermal expansion yang
leih kecil daripada bahan tanam casting.

8. Jelaskan jenis dental gypsum yang digunakan untuk pembuatan model kerja dan pembuatan
casting alloy pada kasus tersebut!
Dental gipsum yang digunakan untuk pembuatan model kerja untuk pembuatan
casting Alloy adalah dental gipsum tipe V (High Strength, High Expansion) karena
memiliki kekuatan serta ekspansi lebih tinggi. Pembuatan gips tipe V sama seperti gips
tipe IV namun gips tipe V memiliki kandungan garam lebih sedikit untuk meningkatkan
setting ekspansinya. Gips tipe V memiliki setting ekspansi sekitar 0,1% - 0,3% untuk
mengkompensasi pengerutan casting yang lebih besar pada pemadatan logam campur.
Kekuatan yang lebih tinggi diperoleh dengan menurunkan rasio air-bubuk. Gips tipe V
umumnya digunakan sebagai dai untuk pembuatan bahan logam campur yang memiliki
pengerutan tinggi. Bahan ini umumnya berwarna biru atau hijau dan merupakan produk
gipsum yang paling mahal.
Untuk proses pembuatannya di gunakan Gips tanam (investment gips) Phospate
bonded investment gips. Gips tanam diperlukan sebagai bahan tanam untuk mendapatkan
mold(ruangan) dalam pengecoran logam. Temperatur yang dibutuhkan dalam mencairkan
bahan-bahan logam biasanya lebih dari 1300˚F.
Komposisi Gips Tanam:
a. Refractory Material
Bahan yang sering dipakai adalah silicone dioxyde (silica).
Misal: Quartz, Tridymite, Cristobalite, Campuran ketiganya (60-65%)
Silica (Sio2) ditambahkan untuk 2 alasan yaitu:
1. Menjaga Pecahnya bahan gips tanam selama pemanasan.
2. Mengatur Thermal expantion
b. Binder Material
Hydrocal digunakan sebagai bahan pengikat bahan refractory menjadi massa
yang solid dan kohesif (30-35%)
c. Bahan bahan lain(modifiers)
Bahan ini berguna untuk memperbaiki keadaan-keadaan fisiknya. Jumlahnya
sekitar 5%. Bshan yang dipakai biasanya: Sodium Chlorida, Boric Acid,
Pottasium Sulfat, Graphite, Copper Powder, Mg Oxyde

Pada kasus diatas digunakan Phospate bonded investment gips.


Menurut ANSI/ADA ada dua tipe gips tanam untuk aloi untuk memiliki
tempratur solidus diatas 1080˚C yaitu:
1. Tipe I: Digunakan untuk pembuatan inlay, mahkota, dan restorasi cekatan
lainnya.
Waktu pengerasan tidak jauh berbeda dari 30% waktu yang di
tentukan pabrik. Compressive strength minimum 2,5 Mpa. Linear thermal
expantion tidak jauh berbeda daei 15% ekspansi yang ditentukan pabrik
2. Tipe II: Digunakan untuk pembuatan gigi tiruan sebagian dan restorasi
lepasan. Waktu pengerasan tidak jauh berbeda dari 30% waktu yang
ditentukan pabrik. Compressive strength minimum 3,0 Mpa. Linear
Thermal expantion tidak jauh berbeda dari 15% ekspansi yang ditentukan
pabrik.

9. Jelaskan sifat gypsum yang diperlukan untuk kasus!


Sifat gypsum yang di perlukan untuk dental gypsum tipe 5 adalah:
a. Reaksi pengerasan
Reaksi pengerasan gipsum adalah sebagai berikut
CaSO42H2O + 3H2O --------> CaSO4 2H2O + panas(3900 cal/gr mole)
Faktor-faktor yang memperngaruhi waktu pengerasan ( Setting time)
1. Proses pembuatan
Lebih banyak kristal gipsum yang tertinggal di dalam bahan setelah proses
pembuatan, maka akan lebih banyak terdapat inti kristal. Sehingga waktu pengerasan
akan lebih pendek.
2. W/P ratio
3. Semakin banyak air yang dicampurkan menyebabka waktu pengerasan akan lebih
panjang. Karena inti kristal tidak cukup banyak bereaksi dengan seluruh air yang
dicampurkan.
4. Pengadukan/Spatulation
Lebih lama dan lebih cepat mengaduk bahan ini akan memperpendek waktu
pengerasan.
5. Retarders dan Accelerators
Yaitu zat zat yang dapat memperlambat atau mempercepat reaksi. Biasanya
accelerator yang dipakai adalah Potasium sulfat ( K2SO4) dan retarder yang dipakai
adalah Borax (Na2B4o7.10H2O) dan Sodium sitrat.
b. Setting expantion
Semua gipsum akan berekspansi selama proses pengerasan.
Control of setting expantion
W/P ratio yang rendah dan mixing time yang panjang akan memperbesar setting
expantion. K2SO4 selainn sebagai accelerator juga di tambahkan untuk mengurangi
setting expantion. Retarders ( Borax ) juga dapat mengurangi setting expantion.
c. Strength
Bila W/P ratio bertambah besar maka kekuatannya akan bertambah kecil. Hal ini
disebabkan jarak antara inti kristal satu sama lain bertambah jauh menyebabkan ikatan
kristal tersebut berkurang.
BAB III

KESIMPULAN

Gigitiruan kerangka logam adalah salah satu jenis gigitiruan sebagian lepasan yang
dibuat dari logam tuang mempunyai komponen yang terdiri dari basis/sadel beserta anasir gigi
timan, retainer langsung, retainer tidak langsung, konektor utama dan konektor tambahan. Pada
cangkolan hal yang perlu diperhatikan adalah jenis-jenis desain cangkolan dan prinsip desain
cangkolan, oleh karena kedua hal ini sangat berpengaruh untuk mendapatkan retensi yang
optimal.

Penggunaaan gigitiruan kerangka logam sangat diperlukan pada pasien yang mengalami
kehilangan gigi dan disertai dengan kelainan periodontal pada gigi yang tersisa. Penggunaan
gigitiruan ini terutama untuk mempertahankan gigi pascaperawatan periodontal. Penggunaan
bahan logam dalam hal ini, dapat membantu untuk mencegah pergerakan gigi dan
mempertahankan posisi gigi pascaperawatan periodontal karena sifat logam yang lebih kaku jika
dibandingkan dengan bahan lainnya sehingga keberhasilan perawatan dapat dicapai.
DAFTAR PUSTAKA

1. K. Annusavice, Shen C, Ralph R.H. Phillips’ Science of Dental Materials. 12th ed.
Florida: elsevier science, 2012.
2. Tjahjanti E M, Kusuma A H, Ismiyati T Et Al. Pengaruh Etsa Kikia Dengan Akua
Regia Terhadap Kekuatan Tarik Perlekatan Bahan Resin Akrilik Pada Gigi Tiruan
Kerangka Logam. Maj Ked Gi 2012; 19(1): 13-16.
3. K.Anusavice. Philip's Science and Dental Materials, th Ed Elsevier Science. 200
4. Freitas et al. Linear setting expansion of different gupsum products. J RSBO
2014;12(1):61-63.