Anda di halaman 1dari 29

PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL KOOPERATIF TIPE STAD

DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS II


SDN 2 MATARAMN TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Oleh
Baiq Heniy Artini
NIM. 837762369

ABSTRAK
Permasalahan yang dialami oleh siswa kelas II SD Negeri 2 Mataram adalah
rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Halini disebabkan
karena siswa masih malu untuk bertanya pada kepada guru terkait denganmateri
yang belum dipahami serta motode yang digunakan guru masih menoton. Proses
pembelajaran di dalam kelas didominasi oleh guru, siswahanya sebagai
pendengar. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Negeri 2 Mataram.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan
dalam 2 siklus yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
evaluasi, dan refleksi. Data aktivitas siswa dan guru diambil menggunakan lembar
observasi, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes yang diberikan
pada tiap akhir siklus. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah tercapainya
seluruh hasil belajar siswa dengan nilai 70 dan persentase ketuntasan belajar siswa
minimal 75 % secara klasikal.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian pada siklus I diperoleh rata-rata
nilai aktivitas guru 2,67 termasuk kriteria cukup baik dan rata-rata hasil aktivitas
siswa 1,71 termasuk kriteria aktif. Adapaun hasil evaluasi menunjukkan bahwa
rata-rata 68,3 atau 45% siswa mendapat nilai minimal sama dengan KKM.
Sedangkan hasil observasi aktivitas guru pada siklus II dengan rata-rata 4,0
termasuk kriteria sangat baik, aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan
rata-rata 2,31 termasuk kriteria sangat aktif. Hasil evaluasi pada siklus II dengan
nilai rata-rata 80,33 atau 93% siswa mendapat nilai minimal sama dengan KKM
yang sudah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
pada mata pelajaran IPS Kelas II SD Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran
2017/2018.

Kata kunci: Student Teams Achievement Division, Prestasi belajar

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan social (IPS) sebagai salah satu mata pelajaran yang
terdapat dalam kurikulum sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD)
hingga sekolah menengah (SMA/MA/SMK). Mengingat manusia dalam
konteks sosial itu demikian luasnya maka pada pembelajaran IPS di setiap
jenjang pendidikan harus melakukan pembatasan-pembatasan sesuai dengan
kemampuan pada tingkat masing-masing.
Ruang ligkup IPS pada sekolah dasar dibatasi sampai gejala dan
masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi, sejarah dan ekonomi atau
pengetahuan sosial dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial
kehidupan sehari-hari yang terdapat dalam lingkungan hidup siswa-siswa
Sekolah Dasar tersebut yaitu mulai dari ruang lingkup gejala dan masalah
kehidupan yang ada disekitar tempat tinggal dan ligkungan sekolah,
kemudian tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara dan akhirnya
negara-negara tetangga.
Ilmu Pengetahuan sosial di Sekolah Dasar adalah mata pelajaran yang
mengajari manusia dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya dalam
masyarakat. Tujuan pembelajaran IPS adalah memperkenalkan siswa kepada
pengetahuan tentang kehidupan masyarakat atau manusia secara sistematis.
Tetapi dalam praktek pembelajaran di sekolah-sekolah masih banyak guru
yang tidak bisa menterjemahkan isi dari kurikulum itu sendiri, dan hanya
berpedoman pada pengalaman mengajar sehingga pembelajaran di kelas tidak
berkembang dan tidak memberikan kepada siswa kesempatan untuk aktif
dalam pembelajaran.
Selanjutnya, di dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP:
2006) Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
dalam: (1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungan; (2) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir
logis dan kritis, rasa ingin tahu, inquiri, memecahkan masalah, dan
2
keterampilan dalam kehidupan sosial; (3) Memiliki komitmen dan kesadaran
terhadap nilai-nilai sosial, kemanusiaan; (4) Memiliki kemampuan
berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam mayarakat majemuk,
ditingkat lokal, nasional dan global.
Arah mata pelajaran IPS dilatar belakangi oleh pertimbangan bahwa
dimasa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat
karena kehidupan mayarakat global yang setiap saat mengalami perubahan.
Oleh karena itu, mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial
masyarakat dalam memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis. Ini sesuai
dengan Dokument Permendiknas Tahun 2006 yang menyatakan bahwa IPS
mengkaji peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu
global (Sapriya: 2009).
Namun demikian, apa yang tertuang dalam visi, misi, maupun tujuan
dalam pembelajaran IPS, nampaknya belum optimal tingkat ketercapaiannya
jika melihat realita yang ada di lapangan. Realita ini menunjukkan bahwa
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih tergolong rendah.
Rendahnya prestasi belajar siswa antara lain disebabkan oleh kurang
kreatifnya guru dalam mendesain proses pembelajaran. Hal ini
mengakibatkan (1) Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran
masih belum optimal; (2) Siswa masih enggan untuk melakukan diskusi
kelompok, lebih cendrung bekerja secara sendiri-sendiri; dan (3) Siswa masih
belum terbiasa untuk saling bertukar pendapat.
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan peneliti pada siswa kelas II di
SDN 2 Mataram penyebab rendahnya prestasi belajar siswa pada mata
pembelajaran IPS, disinyalir disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: (1)
Siswa kurang termotivasi dalam belajar; (2) Belum optimalnya kesiapan
siswa dalam melaksankan kegiatan belajar mengajar; (3) Kurangnya
perhatian dari orang tua; (4) Lingkungan sekolah yang berada di tengah
pergubukan; (5) Kurang dikemasnya pembelajaran IPS dengan menarik dan
menantang.
3
Menurut Slavin dalam Lie (2002) pembelajaran kooperatif akan
membuat suasana lebih luwes, fleksibel dan memungkinkan siswa
berinteraksi dengan sesamanya maupun berinteraksi dengan guru. Dengan
pembelajaran kooperatif siswa akan merasa bebas untuk saling membantu
dalam memecahkan masalah, sehingga siswa akan terbiasa mengeluarkan
pendapat terhadap teman sesame kelompoknya. ebiasaan siswa berinteraksi
dengan anggota kelompoknya akan membuat mereka tidak merasa takut
untuk bertanya kepada guru.
Salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif yang paling sederhana
yang paling mudah diterapkan adalah tipe STAD (Student Teams
Achievement Division). Pada model ini siswa diberi kesempatan untuk
membicarakan pengamatan dan ide-ide mereka dalam rangka memahami
gejala fisik. Selain itu, pembelajaran ini mendorong terjadinya tutor sebaya
antar siswa dalam kelompok untuk menacapai satu tujuan bersama. Siswa
yang berkemampuan tinggi membantu teman yang berkemampuan rendah
sehingga semua anggota kelompok dapat menguasai materi yang dipelajari
(Dhafir, dkk, 2015: 180).
Berdsarlan masalah di atas maka peniliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul penguaan model pembelajarn kooperatif tipe STAD
dalam meningkatkan prestsi belajar siswa mata pelajaran IPS kelas II Sekolah
Dasar Negeri 2 Mataram tahun Pelajaran 2017/2018.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat
dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah upaya peningkatan prestasi
belajar siswa kelas II mata pelajaran IPS dengan menggunakan model
pmbelajaran kooperatif tipe STAD?
C. Tujuan Peneltian Perbaikan Pembelajaran
Sejalan dengan rumusan masalah yang dikemukan di atas, maka tujuan
penelitian kelas ini antara lain: Menemukan upaya peningkatan prestasi
belajar siswa kelas II dengan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD
pada mata pelajaran IPS di SDN 2 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018.
4
D. Manfat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Bagi Guru
Guru dapat menemukan format baru dalam merancang pembelajaran IPS
dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2. Bagi Siswa
Siswa diberikan kesempatan untuk belajar secara berkelompok, sehingga
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, pada mata pelajaran IPS
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi sekolah
sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan mutu dan kinerja guru
melalui penelitian tindakan kelas sehingga kualitas proses dan hasil belajar
pada mata pelajaran IPS pada khususnya dan seluruh mata pelajaran pada
umumnya.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Model Kooperatif


Pembelajaran kooperatif mencakup semua kelompok kecil siswa yang
bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah,
menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan
bersama (suherman, at al, 2003: 260). Senada dengan itu Waluya,
Winayawati, dan Junaedi (2012: 66) menjelaskan model pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kerjasama, yakni kerjasama antar peserta didik dalam kelompok untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif juga mendorong
siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan rekan-rekan secara
harmonis. Dengan cara ini, pembelajaran kooperatif meningkatkan nilai-nilai
seperti kejujuran, kerja sama, saling menghormati, tanggung jawab, toleransi,
dan rela berkorban (Zakaria et al, 2013: 98).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan
dari pembelajaran dengan model kooperatif bukan ditentukan oleh
kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan belajar itu akan
semakin baik apabila dilakukan secara besama-sama dalam kelompok-
kelompok belajar kecil yang terstruktur dengan baik. Pengembangan kualitas
diri peserta didik terutama aspek afektif peserta didik dapat dilakukan secara
bersama-sama dan memungkinkan terjadi komunikasi antara peserta didik
dengan peserta didik dari kelompok –kelompok belajar yang dibentuk.
Menurut Suprijono (2009: 54) bahwa pembelajaran kooperatif adalah
konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk yang
lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Senada degan itu Lie
(2008: 12) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah sistem
pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama
dengan siswa lain dalam mengerjakan tugas-tugas yang terstruktur.
Pembelajaran kooperatif juga mendorong siswa untuk berinteraksi dan

6
berkomunikasi dengan rekan-rekan dalam kelompok. Dengan cara ini,
pembelajaran kooperatif mendorong tumbuhnya nilai-nilai seperti kejujuran,
kerja sama, saling menghormati, tanggung jawab, dan toleransi.
B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team-Acheivment Devision
(STAD)
Student Teams–Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu
tipe model pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti (Slavin,
1990). Metode ini juga sangat mudah untuk diterapkan dalam pembelajaran
sains, dan pada tingkat sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Selain itu
STAD adalah yang paling tepat untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran ilmu
pasti seperti perhitungan dan penerapan matematika, serta konsep sains.
STAD didasarkan pada prinsip bahwa para peserta didik bekerja bersama-
sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya
dalam tim dan juga dirinya sendiri. Model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau persentase kelas, tim, kuis, skor
kemajuan individual, rekognisi tim (Slavin, 2010:143).
Menurut Ibrahim dalam Ratna Tanjung dan Habiba Ramadhani (333-
334) menguraikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yang
didasarkan pada langkah-langkah kooperatif terdiri atas 6 fase yakni:
1. Fase Satu : Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
Pada Fase ini guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin
dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belaja
2. Fase dua:
Menyajikan/menyampaikan informasi
Pada fase ini Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan
3. Fase tiga: Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok-kelompok belajar.

7
Pada Fase ini Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien
4. Fase empat: Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
Pada fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat
mereka mengerjakan tugas kelmpok.
5. Fase Lima: Evaluasi
Pada fase ini Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah
diajarkan ataumasing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6. Fase enam: mberikan
penghargaan
Menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
C. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2011: 30) bahwa “seseorang telah
belajar ialah bila terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut,
misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi
mengerti”. Lebih lanjut menurut Oemar Hamalik bahwa secara umum
“belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat
interaksi individu dengan lingkungan”. Dari beberapa definisi di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa belajar itu merupakan perubahan tingkah
laku dan nilai-nilai.
Menurut Bloom (Deni Kurniawan, 2011: 19) prestasi belajar
adalah kemampuan berupa ingatan terhadap sesuatu yang dipelajari.
Sesuatu yang diingat bisa berupa fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori,
prinsip”. Menurut Rusman (2011: 13) penilaian hasil belajardilakukan
secara konsisten, sistematis dan terprogram dengan menggunakan hasil tes
dan non tes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja,
pengukuran sikap, penilaian hasil karya atau produk.

8
Menurut Winkel WS (2012: 226) bahwa prestasi belajar
merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, maka
prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang
setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Menurut Muhibbin Syah (2005:
213) prestasi belajar sebagai perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar
siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan
proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Penilaian hasil
belajar dilakukan secara konsisten, sistematis dan terprogram dengan
menggunakan hasil tes dan non tes. Evaluasi dalam proses pembelajaran
bertujuan untuk melihat tingkat ketercapaian pemahaman peserta didik
terhadap materi yang sudah dipelajari.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang diinginkan yang telah ditentukan, tidak
selamanya berjalan sesuai yang diharapkan, hal ini juga dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu faktor dari dalam diri siswa (internal) dan faktor
diluar siswa (eksternal). Menurut Slameto (2003: 54) “faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar, di antaranya faktor jasmaniah (kesehatan,
cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan dan kesiapan), dan faktor kelelahan”. Faktor-faktor tersebut di
atas merupakan faktor yang berada dalam diri siswa, yang merupakan
karakteristik siswa tersebut. Kesehatan siswa dalam melaksanakan
pembelajaran seperti gangguan-gangguan indra yang dimiliki sangat
berpengaruh, untuk itu guru dalam mengelola kelas perlu memperhatikan
kondisi kesehatan terutama kesehatan indra seperti telinga dan mata. Guru
menempatkan siswa-siswa tersebut di depan, sehingga proses
pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa.
Menurut Dalyono (2005: 55-56) faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar, yaitu:
9
a. Faktor internal (faktor yang berasal dari dalam)
Faktor ini meliputi kesehatan, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi
serta cara belajar.
b. Faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar)
Faktor ini meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan
sekitar.
D. Hakikat Pembelajaran IPS
Pembelajaran IPS berperan merealisasikan ilmu-ilmu sosial yang
bersifat teoritis kekehidupan nyata di masyarakat. Oleh karenanya secara
substansi materi IPS di tingkat persekolahan mengintegrasikan berbagai ilmu
sosial dalam pembelajarannya. Pengintegrasian berbagai ilmu sosial tersebut
disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan siswa.
Sehingga melalui pembelajaran IPS diharapkan siswa tidak hanya
mampu menguasai teori-teori IPS di kehidupan masyarakat, tapi juga mampu
enjalani kehidupan nyata di masyarakat sebagai insan social secara dewasa
dan bijak. Sapriya (2016: 7) menyatakan bahwa IPS merupakan ilmu
pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang
ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan
dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat sekolahan.

10
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek,Tempat, dan Waktu Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas II SDN 2
Mataram dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai upaya
meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran IPS Tahun pelajaran
2017/2018.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus I dilaksanakan
pada tanggal 4 November dan siklus II dilaksanakan tanggal 10 November
2017. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Mataram.
3. Pihak yang Membantu Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
adalah supervisor 1, supervisor II, penilai praktek, dan kepala sekolah
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Desain prosedur pembelajaran dilaksanakan dalam dua tahap yaitu
siklus 1 dan siklus II. Adapun tahapan pada masing-masing siklus sebagai
berikut.
Siklus I
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
a. Guru melakukan refleksi awal berupa identifikasi permasalahan
rancangan dan pelaksanaan pembelajaran IPS yang belum secara
optimal menggunakan pembelajaran model kooperatif tipe STAD dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Guru menyusun Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) dan
pedoman aktivitas belajar siswa sebagai pengembangan pengalaman
belajar siswa yang berorientasi pada pembelajaran model kooperatif
tipe STAD dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

11
c. Guru bersama menyusun instrumen (lembar observasi) yang
digunakan untuk mengetahui tingkat capaian pelaksanaan pembelajaran
dan dampaknya terhadap prestasi belajar siswa.
d. Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan selama melakukan
tindakan.
e. Guru melakukan simulasi (micro teaching) terhadap pelaksanaan
pembelajaran IPS dengan menggunakan pembelajaran model kooperatif
tipe STAD dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, guru dan peneliti menerapkan
pembelajaran di kelas yakni dengan menggunakan model kooperatif tipe
STAD sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang ada dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun, yaitu
terdiri atas kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir
(penutup).
3. Tahap observasi
Pada tahap ini dilakukan pemantauan dengan sasaran:
a. Apakah proses pembelajaran telah mencerminkan
penggunaan pembelajaran yang berorientasi pada model kooperatif tipe
STAD
b. Apakah seluruh isi rancangan pembelajaran telah
dipraktekkan secara optimal dalam proses pembelajaran
c. Adakah kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru
dalam mempraktekkan seluruh komponen rancangan pembelajaran.
d. Mengetahui dampak pembelajaran yang berorientasi pada
terhadap peningkatan prestasi belajar model kooperatif tipe STAD
siswa selama proses pembelajaran.
e. Memantau dampak pembelajaran dengan penggunaan
model kooperatif tipe STAD terhadap peningkatan prestasi belajar
siswa selama proses pembelajaran.

12
4. Tahap refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti akan melakukan perenungan apakah
model pembelajaran yang diterapkan sudah mampu meningkatkan prestasi
belajar siswa. Tahap refleksi ini dilakukan setelah pengumpulan semua
data yang diperoleh dalam tahap pelaksanaan tindakan dan observasi.
Tindakan yang diperoleh pada siklus pertama dievaluasi dan akan
dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan tindakan berikutnya. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan model pembelajaran
yang digunakan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sesuai dengan
siklus pertama. Selain itu pada tahap refleksi ini, Guru akan merefleksi diri
dengan melihat data observasi yang dilakukan, yakni apakah sesuai dengan
rencana sebelumnya atau tidak. Dengan demikian akan diketahui letak
kelemahan dari hasil tindakan untuk melakukan perbaikan pada tindakan
berikutnya. Dengan demikian peneliti dapat memperbaiki tindakan pada
siklus berikutnya jika diperlukan.
Siklus II
Pada siklus ini, peneliti melakukan perbaikan terhadap proses
pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I. Siklus ini diharapkan
akan lebih baik daripada siklus sebelumnya. Tahapan pada siklus ini sama
dengan siklus I yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap
observasi, dan tahap refleksi.
C. Teknis Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian tindakan kelas ini dianalisis
dengan menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif. Secara rinci, penulis
akan memaparkan cara menganalisis data yaitu sebagai berikut:
1. Data prestasi belajar Siswa
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara
deskriptif yaitu dengan menentukan rata-rata nilai hasil tes. Analisis untuk
mengetahui hasil tes belajar, dirumuskan sebagai berikut:

13
n

=
xi
x i 1

n
Keterangan:
x = rata-rata nilai hasil tes

x = nilai yang diproleh masing-masing siswa


n = banyak siswa yang mengikuti tes
Ketuntasan belajar siswa dianalisis dengan rumus sebagai berikut:
ni
KB =  100%
n
Dimana:
KB = Ketuntasan belajar
ni = Banyaknya siswa yang memperoleh nilai  70

n = Banyaknya siswa

Penentuan nilai 70 dan ketuntasan secara klasikal 75% ini berdasarkan


pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan ketuntasan secara klasikal
yang ditetapkan sekolah yang bersangkutan.
Berdasarkan skor standar maka kriteria untuk menentukan aktivitas
siswa dijabarkan pada tabel berikut ini (Nurkencana: 1983)
Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Ketuntasan Siswa
Nilai Kriteria Tingkat Ketuntasan
80 – 100 Sangat Baik
66 – 79 Baik
56 – 65 Cukup
46 – 55 Kurang
0 – 45 Sangat Kurang

Untuk mengetahui tingkat keoptimalan pembelajaran, maka


ditentukan kriteria keberhasilan sebagai berikut:
a. Prestasi belajar siswa dikatakan berhasil jika nilai rata-rata siswa
mencapai 70 dari siklus sebelumnnya.
b. Ketuntasan siswa dikatakan berhasil jika mencapai 75%
14
15
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan
1. Diskripsi Pra Siklus Pembelajaran
Hasil pembelajaran pra siklus dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD belum mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa denegan model pembelajaran
yang diterapkan. Rendahnya nilai siswa pada pra siklus menunjukkan belum
berhasilnya model yang digunakan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Hasil belajar siswa pra siklus dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 4.1 Nilai Pra Siklus
Nomor Soal
No Kode siswa Total
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai
1 MTR01 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80
2 MTR02 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7 70
3 MTR03 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 7 70
4 MTR04 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 7 70
5 MTR05 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 6 60
6 MTR06 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7 70
7 MTR07 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 7 70
8 MTR08 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 6 60
9 MTR09 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 6 60
10 MTR10 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 6 60
11 MTR11 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 6 60
12 MTR12 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 4 40
13 MTR13 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 8 80
14 MTR14 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 6 60
15 MTR15 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 8 80
16 MTR16 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 6 60
17 MTR17 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 6 60
18 MTR18 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 8 80
19 MTR19 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 5 50
20 MTR20 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 6 60
21 MTR21 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 5 50
22 MTR22 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 5 50
23 MTR23 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 8 80
24 MTR24 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 7 70
25 MTR25 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 6 60
16
26 MTR26 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 7 70
27 MTR27 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 6 60
28 MTR28 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 5 50
29 MTR29 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 4 40
30 MTR30 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 6 60
Jumlah 189 1890
Rerata 63

Berdasarkan hasil pada table di atas menunjukkan bahwa siswa belum


memenuhi ketuntasan klasikal yang ditetapkan yaitu 75% siswa dengan nilai
minimal 70.
2. Siklus I
a. Perencanaan
1) Daftar nama siswa yang menjadi subjek penelitian
2) Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) dengan mengunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD
3) Daftar nama kelompok pada siklus I
4) Menyiapkan Lembar Kerja siswa (LKS)
5) Lembar observasi aktivitas siswa dan rekapitulasi hasil observasi aktivitas
siswa siklus I
6) Lembar observasi aktivitas guru dan rekapitulasi hasil observasi aktivitas guru
siklus I
7) Membuat soal evaluasi dan pedoman penskoran
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan Rencana
Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Pada tahap awal pembelajaran,
guru mengarahkan siswa kearah pembelajaran yang baik, dilanjutkan dengan
melakukan apersepsi, dengan siswa diajak untuk mengamati jenis-jenis alat
komunikasi di lingkungan sekitar, menyampaikan tujuan pembelajaran dan
menyiapkan alat dan bahan serta sumber belajar yang dibutuhkan dalam
menyampaikan materi pelajaran. Siswa juga kembali diberikan kesempatan untuk
memperhatikan dan menunjukkan beberapa gambar yang terkait dengan materi.

17
Disini siswa begitu antusias dan bersemangat dalam menyebutkan contoh
peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga.
Namun pada saat guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membentuk kelompok secara heterogen, suasana kelas menjadi gaduh dan tidak
terkontrol. Ada yang bermain-main, tidak mau bergabung dan bahkan ada
beberapa siswa yang enggan tidak mau membentuk kelompok dan bahkan ada
yang keluar kelas tanpa seizin dari guru.
Ketika guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok dan
memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk mendiskusikan
LKS yang telah dibagikan, sebagian besar siswa enggan untuk bertukar pendapat
dan tidak melakukan diskusi, disini terlihat jika LKS yang telah diberikan masih
dikerjakan secara individu, walaupun guru menginstruksikan untuk
menyelesaikan LKS secara kelompok. Hal inilah yang menimbulkan susasana
kelas menjadi tidak nyaman. Namun, pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan model kooperatif tipe STAD tetap dilaksanakan.
Selama proses pelaksanaan belajar-mengajar berlangsung, guru tetap
memantau, memberikan arahan dan bimbingan tentang bagaimana pelaksanaan
pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe STAD. Sesekali guru
memberikan motivasi dengan memberikan acungan jempol ketika salah satu
kelompok dengan bersemangat menanyakan materi LKS, jika tidak dimengerti.
Tujuannya agar siswa maupun kelompok yang lain termotifasi dalam
menyelesaikan LKS.
Selanjutnya, pada saat perwakilan kelompok maju ke depan kelas untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok, sebagian besar siswa juga terlihat
enggan untuk menanggapi dan memberikan masukan kepada kelompok yang
maju ke depan kelas. Di akhir pelaksanaan pembelajaran, guru membantu siswa
dalam menyimpulkan materi, karena siswa masih enggan dan kurang berani dalam
mengemukakan pendapat.
c. Observasi
Guru dan penilai (1 dan 2) membahas kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Hasil pengamatan guru dan penilai adalah sebagai berikut:
18
1) Hasil Observasi Aktivitas Guru Selama Proses Pembelajaran
menggunakan model Kooperatif Tipe STAD

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan untuk melihat kemampuan


guru menggunakan model kooperatif tipe STAD pada siklus I yaitu pada tabel
berikut.
Tabel 4.2 Data Aktivitas Guru Siklus I
Skor
Indikator Siklus I
Pemberian apersepsi 3
Membimbing siswa kearah pembelajaran dengan menggunakan 3
model kooperatif tipe STAD
Persiapan dalam pelaksanaan pembelajaran 3
Memberikan evaluasi terhadap hasil kegiatan dengan penerapan 3
model
Pemberian umpan balik terhadap hasil kegiatan selama 4
pembelajaran berlangsung
Menutup pembelajaran 4
Total Skor 16
Rata-Rata Skor 2,67
Kriteria Cukup Baik

Hal ini berarti pelaksanaan aktivitas guru sudah termasuk dalam kriteria
cukup baik. Namun masih perlu dilakukan beberapa perbaikan dalam penggunaan
model STAD dan akan dilakukan pada siklus II.
2) Hasil Observasi Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran
Menggunakan Model kooperatif Tipe STAD

Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran


dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD pada siklus I yaitu sebagai
berikut.
Tabel 4.3 Data aktivitas Siswa Siklus I
No Nama Kelompok Nilai Kriteria
1 Kelompok I 1,32 Kurang Aktif
2 Kelompok II 1,59 Aktif
3 Kelompok III 1,78 Aktif
19
4 Kelompok IV 1,52 Aktif
5 Kelompok V 1,45 Kurang Aktif
6 Kelompok VI 2,65 Sangat Aktif
Rerata 1.71 Aktif

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model kooperatif tipe STAD


belum terlaksana secara maksimal.
3. Prestasi Belajar Siswa
Proses pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan model kooperatif
tipe STAD masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil evaluasi pada
tabel berikut.
Tabel 4.4 Hasil Evaluasi Siklus I
Nomor Soal
No Kode siswa Total Nilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 MTR01 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80
2 MTR02 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7 70
3 MTR03 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 7 70
4 MTR04 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 7 70
5 MTR05 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 6 60
6 MTR06 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7 70
7 MTR07 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 7 70
8 MTR08 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 7 70
9 MTR09 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 6 60
10 MTR10 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 6 60
11 MTR11 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 6 60
12 MTR12 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 7 70
13 MTR13 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 9 90
14 MTR14 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 6 60
15 MTR15 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 7 70
16 MTR16 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 7 70
17 MTR17 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 7 70
18 MTR18 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 7 70
19 MTR19 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 6 60
20 MTR20 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 6 60
21 MTR21 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 7 70
22 MTR22 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 6 60
23 MTR23 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 8 80
24 MTR24 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 7 70
25 MTR25 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 6 60

20
26 MTR26 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 7 70
27 MTR27 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 6 60
28 MTR28 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 8 80
29 MTR29 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 6 60
30 MTR30 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 8 80
Jumlah 205 2050
Rerata 68.33333

Berdasarkan tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat 19


siswa dengan katagori tuntas atau mencapai KKM yang telah ditetapkan dan 11
siswa dengan katagori belum tuntas. Nilai rata-rata pada siklus I yaitu 68,33,
artinya terjadi peningkatan dibandingkan dengan pra siklus dengan nilai rata-rata
63.
d. Refleksi
Pada dasarnya pembelajaran pada siklus I sudah dapat dikatakan berjalan
dengan baik, ini terlihat dari data aktivitas guru yang tergolong dalam kriteria
baik, namun aktivitas siswa masih belum optimal karena termasuk dalam kriteria
cukup aktif dan belum memenuhi indikator keberhasilan. Akan tetapi dari tes hasil
evaluasi pada siklus I masih terdapat masalah yang harus diselesaikan oleh yaitu
masih ada siswa yang memiliki nilai dibawah standar dan berkatagori sangat
kurang. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa denegan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD belum maksimal. Sehingga perlu
dilakukan tindakan perbaikan.
Dari beberapa kekurangan yang ada pada siklus I yang dianalisis dari
proses pelaksanaan pembelajaran dan diskusi kecil dengan observer setelah
melakukan proses pelaksanaan belajar berlangsung, maka ada beberapa perbaikan
dari kekurangan pada siklus I, yang akan diperbaiki pada siklus berikutnya antara
lain: (1) Menegaskan kepada siswa atau kelompok yang agar tidak bermain-main
pada saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung dan memberikan sanksi atau
hukuman kepada siswa yang melanggar; (2) Memberikan motivasi kepada siswa
ataupun kelompok, agar mau melakukan diskusi dengan kelompoknya dalam
menyelaikan lembar kerja siswa; (3) Memberikan bimbingan kepada siswa atau
kelompok yang mengalami kesulitan dalam pelajaran.
21
3. Siklus II
a. Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilukan pada tahap ini adalah:
1). Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
2). Daftar nama kelompok pada siklus II
3). Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS)
4). Lembar observasi aktivitas siswa dan rekapitulasi hasil observasi aktivitas
siswa siklus II
5). Lembar observasi aktivitas guru dan rekapitulasi hasil observasi aktivitas guru
siklus II
6). Membuat soal evaluasi dan pedoman penskoran)
7). Hasil belajar siswa pada siklus II
b. Pelaksanaan
Pada tahap ini guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun dengan tambahan
perbaikan-perbaikan pada silklus I. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II
hampir sama dengan siklus I. Pada awal pembelajaran guru menegaskan kembali
agar siswa tidak terpengaruh dengan keadaan di luar kelas, tidak malu bertanya
baik kepada teman maupun guru, melakukan diskusi melalui siswa saling bertukar
pendapat dalam menyelesaikan LKS yang diberikan, menegaskan kembali kepada
siswa yang bermain pada saat pembelajaran berlangsung akan diberikan sangsi.
Selanjutnya pada pelaksanaan proses belajar mengjar berlangsung, guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguraikan salah satu contoh dari
materi yang dibahas, disini guru memberikan penghargaan dan reinforcement
kepada siswa yang berani maju ke depan kelas. Selanjutnya, menginstruksikan
kepada siswa untuk membentuk kelompok secarara heterogen dan membagikan
LKS kepada masing-masing kelompok, memberikan kesempatan kepada
kelompok untuk mediskusikan LKS yang telah diberikan. Proses pelaksanaan
diskusi yang berorientasi pada metode kelompok belajar (learning community)
sudah dapat dikatakan berjalan dengan baik dimana siswa sudah berani untuk

22
saling bertukar pendapat, bekerjasama dalam menyelesaikan LKS dan berani
menanyakan materi yang belum difahami.
Pada saat masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok, siswa sudah mulai berani untuk saling
memberikan masukan dan tangggapan terhadap materi. Diakhir pembelajaran,
siswa diberikan kesempatan untuk menanyakan materi, disini juga sudah mulai
terlihat keberanian siswa dalam menanyakan materi, keantusiaan juga terlihat
ketika siswa dalam menyimpulkan materi. Hal ini menunjukkan bahwa
pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sudah mulai meningkat jika
dibandingkan dengan siklus I. Walaupun demikian, masih ada beberapa siswa
yang enggan untuk bekerjasama.
c. Observasi
Guru dan penilai (1 dan 2) membahas kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Berdasarkan pengamatan guru dan penilai diperoleh data sebagai
berikut.
1) Hasil Observasi Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran
Menggunakan Model kooperatif Tipe STAD
Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran
dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD pada siklus I yaitu sebagai
berikut.
Tabel 4.5 Data aktivitas Siswa Siklus II
No Nama Kelompok Nilai Kriteria
1 Kelompok I 2,23 Aktif
2 Kelompok II 2,35 Sangat Aktif
3 Kelompok III 2,22 Aktif
4 Kelompok IV 2,21 Aktif
5 Kelompok V 2,40 Sangat Aktif
6 Kelompok VI 2,50 Sangat Aktif
Rerata 2,31 Sangat aktif

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model kooperatif tipe STAD


sudah terlaksana secara maksimal.

23
2) Hasil Observasi Aktivitas Guru Selama Proses Pembelajaran
Menggunakan Model Kooperatif Tipe STAD

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan untuk melihat kemampuan


guru menggunakan model kooperatif tipe STAD pada siklus I yaitu pada tabel
berikut.
Tabel 4.6 Data Aktivitas Guru Siklus II
Skor
Indikator Siklus I
Pemberian apersepsi 4
Membimbing siswa kearah pembelajaran dengan menggunakan 4
model kooperatif tipe STAD
Persiapan dalam pelaksanaan pembelajaran 4
Memberikan evaluasi terhadap hasil kegiatan dengan penerapan 4
model
Pemberian umpan balik terhadap hasil kegiatan selama 4
pembelajaran berlangsung
Menutup pembelajaran 4
Total Skor 24
Rata-Rata Skor 4,0
Kriteria Sangat
Baik

Berdasarkan table di atas terlihat bahwa nilai rata-rata aktivitas guru


selama proses pembelajaran pada siklus II sebesar 4,0 dan termasuk kriteria baik.
Hal ini berarti pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model
kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I.
3) Prestasi Belajar Siswa
Proses pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan model kooperatif
tipe STAD masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil evaluasi pada
tabel berikut.
Tabel 4.7 Hasil Evaluasi Siklus II
Nomor Soal
No Kode siswa Total Nilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 MTR01 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 9 90
2 MTR02 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 8 80
3 MTR03 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 8 80

24
4 MTR04 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90
5 MTR05 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 8 80
6 MTR06 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80
7 MTR07 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 8 80
8 MTR08 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 9 90
9 MTR09 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 9 90
10 MTR10 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90
11 MTR11 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 80
12 MTR12 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 8 80
13 MTR13 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 8 80
14 MTR14 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 8 80
15 MTR15 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 8 80
16 MTR16 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 8 80
17 MTR17 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 9 90
18 MTR18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90
19 MTR19 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 7 70
20 MTR20 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7 70
21 MTR21 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90
22 MTR22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90
23 MTR23 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 8 80
24 MTR24 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 7 70
25 MTR25 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 6 60
26 MTR26 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90
27 MTR27 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 8 80
28 MTR28 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 8 80
29 MTR29 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6 60
30 MTR30 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 7 70
Jumlah 241 2410
Rerata 80.33

Berdasarkan Tabel hasil evaluasi pada siklus II di atas dapat disimpulkan


bahwa 28 siswa (93%) mencapai KKM yang ditetapkan dan 2 siswa yang belujm
mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata pada siklus II yaitu 80,33 meningkat
dibandingkan pada dengan nilai rata-rata pada siklus I yaitu 63,33.
d. Refleksi
Dari hasil observasi siswa dan evaluasi hasil belajar siswa diperoleh
bahwa indikator keberhasilan sudah tercapai yaitu prestasi belajar siswa
mengalami peningkatan dari setiap siklusnya, dengan nilai rata-rata ≥70 dan

25
ketuntasannya mencapai 75% sehingga pemberian tindakan dihentikan sampai
dengan siklus II.
Adapun terdapat kondisi yang mendukung pembelajaran antara lain :
1). Guru membagi siswa dalam kelompok yang heterogen.
2). Adanya kemauan dalam diri untuk bertanya, jika mengalami kesulitan.
3). Siswa dapat mengatahui secara langsung dan mengalami sendiri materi yang
telah dibahas, sehingga ada kebrmaknaan dalam belajar.
4). Siswa memiliki keberanian untuk memberikan masukan dan tanggapan.
B. Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SDN 2 Mataram Tahun Pelajaran
2017/2018, melalui pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD. Adapun
ringkasan dari hasil penelitian pra siklu, siklus I dan siklus II memuat rata-rata
skor prestasi siswa, ketuntasan, aktivitas siswa dan guru dapat dilihat dalam tabel
4.8 di bawah ini:
Tabel 4.8. Perkembangan Prestasi Belajar Siswa Persiklus
Rata-Rata Aktivitas Siswa Aktivitas Guru
Skor Rata-
Siklus Ketuntasan
Prestasi Rata Kriteria Rerata Kriteria
Siswa Skor
I 68,33 63% 1,7 Aktif 2,67 Cukup
Baik
II 83,33 93,3% 2,31 Sangat 4,0 Sangat
Aktif baik

Dari tabel 4.10. di atas dapat dilihat bahwa pada siklus I rata-rata skor
prestasi dan aktivitas siswa sudah memenuhi indikator yang telah ditetapkan,
hanya saja ketuntasan belum memenuhi standar yaitu diatas 75%. Walaupun
demikian secara umum dapat dikatakan pembelajaran dengan medel yang
digunakan dapat berjalan dengan baik. Untuk ketuntasan belajar dan kriteria
aktivitas siswa belum memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam indikator
keberhasilan. Sedangkan kriteria aktivitas guru adalah kriteria cukup baik. Hal ini
disebabkan oleh beberapa kekurangan yang terdapat pada proses belajar mengajar

26
pada siklus I seperti: (1) Suasana kelas menjadi tidak terkontrol. Ada beberapa
siswa yang bermain dan enggan ketika pembagian kelompok berlangsung; (2)
Siswa enggan untuk bertukar pendapat dan tidak mau melakukan diskusi sehingga
terlihat siswa masih mengerjakan Lembar Kerja Siswa secara sendiri-sendiri; (3)
Ada beberapa siswa yang sulit diatur dan tidak mau mematuhi peraturan yang
telah dibuat, hal inilah yang menyebabkan suasana kelas menjadi tidak nyaman di
kelas; (4) Pada saat mempresentasikan hasil diskusi kelompok, siswa masih
enggan untuk memberikan tanggapan dan masukan; (5) Siswa masih belum berani
untuk menyimpulkan materi. Untuk mengatasi masalah yang terdapat pada siklus
I maka dilakukanlah perbaikan pada siklus II
Pada pembelajaran siklus II, guru melakukan perbaikan yang terdapat
dalam siklus I. Dari data rata-rata skor prestasi pada siklus II terjadi peningkatan
dari siklus I yaitu 68,33 menjadi 83,33. Aktivitas siswa dan aktivitas guru pada
siklus II juga mengalamai peningkatan.
Pada proses pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, ditemukan beberapa
kekurangan diantaranya: (1) Diskusi antar kelompok sudah aktif, tetapi masih ada
beberapa siswa yang enggan untuk melakukan diskusi; (2) Masih ada beberapa
siswa yang masih enggan untuk bertukar pendapat dan menunggu jawaban dari
teman pada saat diskusi berlangsung. Peningkatan prestasi belajar siswa juga tidak
terlepas dari metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar. Metode
pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar
mereka yang belum tahu, sehingga terbentuk komunikasi multi arah. Selain itu
juga pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran kelompok mengasumsi
bahwa belajar dalam kelompok tetap lebih baik dari pada belajar sendiri. Dengan
demikian, penerapan pembelajaran denunakan model kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas 2 di SDN 2
Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018.

BAB V
27
KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Melalui pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, pada mata pelajaran IPS kelas
II SDN 2 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018.
2. Penerapan pembelajaran model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa pada di kelas II dengan peningkatan yang terjadi
pada setiap siklusnya dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat dikemukan oleh peneliti dari hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Guru
Guru dapat menemukan format baru dalam merancang pembelajaran
khususnya pada mata pelajaran IPS, dengan menggunakan pembelajaran
model kooperatif tipe STAD
2. Bagi Siswa.
Siswa diberikan kesempatan untuk belajar secara berkelompok . sehingga
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi sekolah
sebagai salah satu alternative untuk meningkatkan mutu dan kinerja guru
melalui penelitian tindakan kelas. Sehingga kualitas proses dan hasil
belajar pada mata pelajaran IPS pada khususnya dan seluruh mata
pelajaran pada umumnya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Dalyono. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Lie, A. 2008. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di


Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.

Oemar, H. 2012. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.


.
Sapriya, dkk. 2006. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. Bandung: UPI.

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning (Teori, Riset dan Praktik). Bandung:
Nusa Media.

Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: PT


Rineka Cipta.

Suherman, E, et al. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.


Universitas Pendidikan Indonesia.

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem.


Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Waluya, S. B., L. Winayawati, & I. Junaedi. 2012. “Implementasi Model


Pembelajaran Kooperatif dengan Strategi Think-Talk-Write terhadap
Kemampuan Menulis Rangkuman dan Pemahaman Matematis Materi
Integral ”. Unnes Journal of Research Mathematics Education, Volume 1
No. 1. Hal 66-69.

Winkel, W. S. (2014). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Sketsa.

Zakaria, E, et al. 2013. “Effect of Cooperative Learning on Secondary School


Students’ Mathematics Achievement”. Creative Education, Volume 4 No.
2. Hal 98-99.

29