Anda di halaman 1dari 7

Lampiran I

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN


(PENYULUHAN) MENGENAI GOUT ARTRITIS

I. Latar belakang
Artritis gout sudah dikenal sejak 2000 tahun lalu dan menjadi salah satu
penyakit tertua. Awalnya penyakit ini disebut “penyakit para raja” karena penyakit
ini diasosiasikan dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman yang
lezat. Penyakit asam urat ini berkaitan dengan pola makan. Salah satu cara
penyembuhan yaitu mengontrol asupan makanan untuk menghindari kadar asam
urat dalam darah yang berlebihan dan menimbulkan penumpukan kristal asam
urat.
Menurut American College of Rheumatology, gout adalah suatu penyakit
dan potensi ketidakmampuan akibat radang sendi, gejalanya biasanya terdiri dari
episodik berat dari nyeri inflamasi satu sendi. Penyakit artritis gout adalah salah
satu penyakit inflamasi sendi yang paling sering ditemukan yang ditandai dengan
penumpukan kristal monosodium urat di dalam ataupun di sekitar persendian.
Manifestasi dari penumpukan kristal ini dapat dilihat secara mikroskopis maupun
makroskopis yang berupa tophus.
Berdasarkan jurnal penelitian Best Practice & Research Clinical
Rheumatology pada tahun 2010, terhadap 4683 orang dewasa menunjukkan
bahwa angka prevalensi gout dan hiperurisemia di Indonesia pada pria adalah
masing-masing 1,7% dan 24,3%. Dimana rasio perbandingan laki-laki dan
perempuan adalah 34:1 untuk gout, dan 2:1 untuk hiperurisemia.
Seiring bertambahnya usia, semakin berisiko pula artritis gout menyerang
masyarakat terutama usia diatas 40 tahun. Prevalensi penyakit artritis gout masih
banyak ditemukan di Aceh salah satunya di puskesmas Banda Raya. Kurangnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap artritis gout dapat meningkatkan
resiko komplikasi, sehingga tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk
meningkatkan pengetahuan dan pencegahan penyakit artritis gout (asam urat)
sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kejadian artritis goup pada
masyarakat.

I. Tempat, waktu dan peserta


Lampiran I

Kegiatan penyuluhan tentang Gout Atritis (Asam Urat) dilakukan pada :


Hari/Tanggal : Selasa, 25 April 2017
Waktu : 09.00 – 10.20 WIB
Tempat : Puskesmas Banda Raya
Topik : Gout Artritis
Peserta : Pasien yang menunggu antrian
II. Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan dilakukan dengan penyampaian penyuluhan kepada
para pasien yang sedang menunggu antrian. Penyuluhan dilaksanakan dengan
menyampaikan informasi materi secara langsung kepada para pasien.

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Respon


1. Pembukaan  Memberi salam  Warga menjawab
(2 menit)  Memperkenalkan diri salam
 Menyampaikan tujuan  Warga
penyuluhan memahami
maksud dan
tujuan
2. Pelaksanaan  Menyampaikan materi  Mendengarkan
(10 menit)  Sesi tanya jawab materi
penyuluhan yang
di sampaikan
 Warga
memperhatikan
jalannya
penyuluhan.
 Warga bertanya.
3. Penutup  Menyimpulkan dan  Warga mampu
rencana tindak lanjut, menjawab
dan evaluasi topik pertanyaan yang
penyuluhan diajukan.
 Menutup dengan salam  Menjawab salam.

III. Materi Penyuluhan


1. Pengertian
Lampiran I

Asam urat merupakan sisa pencernaan zat purin yang berasal dari
makanan yang kita konsumsi. Setiap orang memiliki zat asam urat di dalam
darahnya. Normalnya asam urat akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
feses (kotoran) dan urin (air kencing). Apabila terlalu banyak mengkonsumsi
makanan yang mengandung zat purin, maka kadarnya akan meningkat dalam
darah, dan asam urat yang berlebih akan berkumpul di persendian, sehingga
menimbulkan rasa nyeri dan bengkak di sendi. Nilai normal asam urat pria
3,4 – 7 mg/dl dan wanita 2,4 – 5,7 mg/dl.

2. Gejala
 Sendi terasa nyeri, terutama malam dan pagi hari
 Sendi terasa ngilu, bahakan tampak bengkak dan meradang
(kemerahan)
 Nyeri sendi berulang kali pada jari kaki, jari tangan, tumit, lutut, siku,
dan pergelangan tangan
 Pada kasus yang parah, sendi akan mengalami nyeri hebat ketika
bergerak

3. Etiologi/ Penyebab
 Faktor keturunan
 Konsumsi makanan tinggi purin
 Konsumsi kafein dan alkohol
 Obesitas dan kegemukan
 Gangguan pengeluaran asam urat di ginjal
 Stress dan hipertensi
 Kelelahan dan cedera sendi
 Usia diatas 40 tahun

4. Makanan yang tinggi purin


Makanan yang mengandung banyak zat purin dapat meningkatkan kadar
asam urat, anatar lain :
 Bayam, kangkung, kubis, daun singkong, dun pepaya, buncis
 Emping (melinjo)
 Nanas
 Jeroan (babat, usus, hati, paru)
 Otak
 Lemak, kacang, makanan laut, daging, kerang, es krim, keju

5. Pencegahan
 Hindari makanan dengan kadar purin tinggi
Lampiran I

 Hindari mengkonsumsi alkohol dan minuman bersoda


 Hindari bekerja terlalu keras (istirahat yang cukup)
 Lakukan pemeriksaan kadar asam urat secara berkala
 Perbanyak minum air putih
 Perbanyak makan makanan yang mengandung potasium (mineral) dan
kalium : kentang, pisang, alpukat, susu, dll
 Perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks : singkong rebus, ubi, roti
gandum, beras merah
 Perbanyak konsumsi sayuran dan buah tinggi vitamin C : jeruk, sawi
putih, sawi hijau, strawberry, buah naga, tomat, dll

IV. Tanya Jawab


1. Apakah penderita penyakit asam urat dapat sembuh dan menjadi normal
kembali seperti sebelumnya?
Jawaban : Asam urat merupakan zat yang normal yang terdapat dalam tubuh
kita. Jika asam urat telah menyerang, maka tidak akan sembuh normal seperti
sebelumnya, namun dapat dikendalikan kadarnya dengan mengubah pola
hidup dan pola makan. Asam urat disebabkan oleh dua keadaan, yaitu
pengeluaran asam urat yang menurun dan sintesis asam urat yang meningkat.
Pada keadaan pengeluaran/ekskresi asam urat yang menurun terdapat pada
pasien-pasien dengan penyakit ginjal, penyakit jantung, dan penurunan fungsi
ginjal. Pada keadaan ini kekambuhan penyakit asam urat bergantung pada
penyakit dasarnya. Pada keadaan sintesis asam urat yang meningkat terdapat
pada pasien-pasien dengan faktor risiko genetik, diet tinggi purin, dan
konsumsi alkohol. Pada keadaan ini, gejala asam urat akan dapat
dikendalikan jika faktor risiko dihindari, kecuali pada faktor keturunan.
2. Apakah penyakit asam urat dapat terjadi di usia muda atau < 40 tahun ?
Jawaban : Salah satu faktor risiko penyakit asam urat yaitu usia di atas 40
tahun, namun telah dilakukan penelitian di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo pada tahun 2010, penyakit asam urat dari tahun ketahun
semakin meningkat dan terjadi kecenderungan diderita pada usia yang
semakin muda. Penyakit asam merupakan penyakit yang sangat erat
kaitannya dengan pola makan, sehingga jika pada usia mudah sudah sring
Lampiran I

terpapar faktor risiko asam urat, maka tidak menutup kemungkinan menderita
asam urat pada usia muda

V. Penutup
Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang
paling sering ditemukan yang ditandai dengan penumpukan kristal monosodium
urat di dalam ataupun di sekitar persendian. Berdasarkan jurnal penelitian Best
Practice & Research Clinical Rheumatology pada tahun 2010, terhadap 4683
orang dewasa menunjukkan bahwa angka prevalensi gout dan hiperurisemia di
Indonesia pada pria adalah masing-masing 1,7% dan 24,3%. Gejala yang dapat
ditimbulkan yaitu nyeri sendi (sendi jari-jari, pergelangan tangan atau kaki, siku,
lutut, dan sendi lainnya), sendi terasa bengkak dan merah, jika dalam keadaan
yang berat nyeri sangat hebat hingga sulit untuk bergerak
Antusiasme pengunjung terhadap penyuluhan tentang ISP artritis
gout/asam urat sangat baik. Pengetahuan dan perhatian pengunjung secara umum
baik yang ditunjukkan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan dari
pengunjung. Diharapkan dengan adanya penyuluhan ini para masyarakat
khususnya di kawasan Banda raya dapat mengerti dan mengaplikasikan
pencegahan penyakit dan komplikasi artritis gout.
Lampiran I

Leaflet Gout Artritis


Lampiran I

Dokumentasi:

Banda Aceh, 27 April 2017


Disetujui oleh,

Dokter Pembimbing I Dokter Pembimbing III Dokter Pembimbing II

dr. Sri Wahyuni dr. Dian Wahyuni dr. Niki Febronika


NIP. 19770801 201001 2 008 Peg. 800/ SPK/ 1660/ 2015 NIP. 19820225 201409 2 001

Kepala UPTD Puskesmas Banda Raya

dr. Suriatu Laila, M.Kes


NIP. 19671010 200005 2 005