Anda di halaman 1dari 14

PENYEHATAN TANAH DAN PENGELOLAAN SAMPAH – B

“Teknik Pengendalian Pencemaran Tanah oleh Sampah dan


Analisis Komposisi Tanah”

Disusun oleh:
Tingkat 2 DIV
Kelompok 4
1. Aprilia Prihatiwi

2. Dinda Aulia Shakinah

3. Fathul Fitriyah Rosdiyani

4. Larasati Wijayanti

Jurusan Kesehatan Lingkungan


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA 2
1. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang
kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula
dari tumbuhan. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau
bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, zat kimia, atau limbah. air
limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke
tanah secara tidak memenuhi syarat.

Jika suatu zat berbahaya telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap,
tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam
tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah
tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat
mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Sumber Pencemaran Tanah


Sumber pencemar tanah, karena pencemaran tanah tidak jauh beda atau bisa dikatakan
mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan pencemaran air, maka
sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada umumnya juga merupakan
sumber pencemar tanah. Sebagai contoh gas-gas oksida karbon, oksida nitrogen, oksida
belerang yang menjadi bahan pencemar udara yang larut dalam air hujan dan turun ke
tanah dapat menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga menimbulkan terjadinya
pencemaran pada tanah.

Air permukaan tanah yang mengandung bahan pencemar misalnya tercemari zat
radioaktif, logam berat dalam limbah industri, sampah rumah tangga, limbah rumah
sakit, sisa-sisa pupuk dan pestisida dari daerah pertanian, limbah deterjen, akhirnya juga
dapat menyebabkan terjadinya pencemaran pada tanah daerah tempat air permukaan
ataupun tanah daerah yang dilalui air permukaan tanah yang tercemar tersebut. Maka
sumber bahan pencemar tanah dapat dikelompokkan juga menjadi sumber pencemar
yang berasal dari, sampah rumah tangga, sampah pasar, sampah rumah sakit, gunung
berapi yang meletus/kendaraan bermotor dan limbah industri.

2. Fungsi Tanah Terhadap Bahan Pencemar


Bahan pencemar tanah dapat dipilahkan menjadi 2 yaitu bahan anorganik dan bahan
organik. Bahan anorganik terutama logam berat seperti seng (Zn), tembaga (Cu), timbal
(Pb), dan arsenikum (As). Bahan – bahan tersebut cenderung berada di dalam tanah
dalam waktu yang lama, meskipun status kimianya kemungkinan berubah menurut
waktu.

Bahan organik pada umumnya senyawa kimia buatan manusia seperti pestisida atau
bahan industri lainnya yang kemungkinan sulit/tidak terurai oleh kegiatan
mikroorganisme tanah. Hasil peruraian tersebut sampai batas tertentu juga sebagai
bahan pencemar sehingga tanah mengalami pencemaran. Walaupun bahan pencemar
tersebut sudah mengalami peruraian lebih lanjut, tetapi penggunaan yang berulang-
ulang menyebabkan konsentrasi di dalam tanah meningkat.

Bahan pencemar anorganik dan organik pada prinsipnya sudah dikandung tanah
sehingga kita perlu melakukan analisis tanah untuk memahami aras yang umum
dijumpai di dalam tanah dan sekaligus memahami jenis dan sifat bahan polusi tanah.
Apabila konsentrasi bahan endapan dalam bentuk unsur mikro relatif rendah maka
unsur tersebut kemungkinan akan meningkatkan kesuburan tanah.

Tanah merupakan salah satu unsur lingkungan yang sangat penting terutama dalam
kaitannya dengan fungsinya sebagai sistem penyaring, penyangga kimia (buffer),
pengendap, pengalihragaman (transformer), serta pengendali biologi. Dalam kaitannya
dengan pencemaran lingkungan, fungsi-fungsi tanah tersebut sangat penting
peranannya sebagai pelindung dan penetralisir zat-zat berbahaya yang terdapat dalam
sampah maupun limbah.
a. Tanah Sebagai Fungsi Penyaring
Tanah sebagai fungsi penyaring karena tubuh tanah terdiri dari jaringan yang
memiliki beberapa lapisan dengan kepadatan dan struktur yang berbeda pada tiap
lapisan. Limbah atau sampah padat yang mengandung bahan beracun berupa debu
yang mengendap, baik dari udara maupun dari perairan ditahan oleh tanah atas (top
soil) sehingga tidak terbawa atau ikut terserap masuk ke dalam tanah (perkolasi).
Oleh karena itu tanah bawah (sub soil) dan airtanah akan terhindar dari masuknya
zat-zat beracun yang berasal dari limbah maupun sampah tersebut.

b. Tanah Sebagai Fungsi Penyangga


Sebagai fungsi penyangga tanah memiliki kemampuan untuk menjerap zat-zat
beracun yang bersifat cair dan terlarut. Fungsi penyangga tanah tidak terlepas dari
kadar lempung terutama mentmorilonit, dan bahan organik yang terkandung di
dalam tanah. Fungsi pengendapan secra kimiawi berkaitan dengan pH dan potensial
redoks. Denga demikian maka air limpasan (runoff) dan air perkolasi terbersihkan
dari zat-zat beracun, oksida-oksida N dan S, sisa pupuk dan sisa pestisida yang
terlarut. Penangkapan senyawa-senyawa amonium, nitrat dan fosfat yang terlarut
dalam air limpasan dan dalam air perkolasi sebelum masuk ke airtanah untuk
menghindarkan eutrofikasi perairan.

c. Tanah Sebagai Fungsi Pengalihragaman


Sebagai fungsi pengalihragaman tanah memiliki edafon, khususnya flora renik, atas
senyawa pencemar organik seperti zat-zat yang terkandung dalam air urin, tinja,
kotoran hewan, serta rembesan pestisida organik. Senyawa-senyawa tersebut akan
dirombak dan diubah dengan proses mineralisasi dan humifikasi menjadi zat-zat
yang tidak berbahaya. Penguraian bahan organik juga dapat menanggulangi
pemasukan bahan organik yang mudah teroksidasi ke perairan. Selain itu penguraian
bahan organik juga bermanfaat untuk menetralisir penghangatan oksigen terlarut di
perairan. Jika terjadi penghangatan perairan dapat mendorong dan memicu
pertumbuhan tumbuhan air terutama alga dan enceng gondok yang tidak terkendali.
d. Tanah Sebagai Fungsi Pengendali Biologi
Sebagai fungsi pengendali tanah berguna untuk menekan serangan penyakit yang
bersumber dari tanah. Beberapa jenis penyakit seperti jenis jamur patogen dapat
ditekan perkembangannya dengan montmorilonit, koloid humus dan beberapa
bakteri tanah. Lempung montmorilonit dapat memperbesar daya saing bakteri
melawan jamur dengan cara menjerap miselium jamur yang tidak terjerap oleh
bakteri. Dengan demikian lempung montmorilonit memperkuat daya tindih bakteri
atas jamur patogen. Dengan demikian tanah yang banyak mengandung lempung
montmorilonit atau koloid humus mampu menjalankan fungsinya sebagai
pengendali biologi. Tanah yang memiliki kandungan lempung montmorilonit serta
kaya akan koloid humus adalah vertisol. Ekosistem tanah yang sehat berarti memiliki
keaneragaman edafon, yang menyebabkan tanah mampu serfungsi sebagai
pengendali biologi. Dengan demikian maka ketersediaan vertisol serta tanah yang
kaya akan bahan organik sangat diperlukan dalam upaya sanitasi lingkungan.

3. Pencemaran Tanah oleh Sampah


1) Limbah domestic
Limbah domestik dapat berasal dari daerah: pemukiman penduduk; perdagang
an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan misalnya kantor-kantor
pemerintahan dan swasta; dan wisata, dapat berupa limbah padat dan cair.
a. Limbah padat
Berupa senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan atau diuraikan oleh
mikroorganisme seperti plastik, serat, keramik, kaleng-kaleng dan bekas bahan
bangunan, menyebabkan tanah menjadi kurang subur. Bahan pencemar itu akan
tetap utuh hingga 300 tahun yang akan datang. Bungkus plastik yang kita buang
ke lingkungan akan tetap ada dan mungkin akan ditemukan oleh anak cucu kita
setelah ratusan tahun kemudian. Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, yang
menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak
tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah
hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang akibatnya
tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh makanan untuk
berkembang.
b. Limbah cair
Berupa; tinja, deterjen, oli, cat, jika meresap kedalam tanah akan merusak
kandungan air tanah bahkan dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah.

2) Limbah industry
Limbah Industri berasal dari sisa-sisa produksi industri. Limbah cair yang merupakan
hasil pengolahan dalam suatu proses produksi, misalnya sisa-sisa pengolahan
industri pelapisan logam dan industri kimia lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom,
arsen dan boron adalah zat-zat yang dihasilkan dari proses industry pelapisan logam
seperti Hg, Zn, Pb, Cd dapat mencemari tanah. Merupakan zat yang sangat beracun
terhadap mikroorganisme. Jika meresap ke dalam tanah akan mengakibatkan
kematian bagi mikroorganisme yang memiliki fungsi sangat penting terhadap
kesuburan tanah.

3) Limbah pertanian
Limbah pertanian dapat berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah
atau tanaman, misalnya pupuk urea dan pestisida untuk pemberantas hama
tanaman. Penggunaan pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak
struktur tanah, yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat
ditanami jenis tanaman tertentu karena hara tanah semakin berkurang. Dan
penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-
nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada
jumlah organisme di dalamnya. Selain itu penggunaan pestisida yang terus menerus
akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.

4. Pengendalian Pencemaran Tanah oleh Sampah


a) Langkah pencegahan
1. Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme antara
lain dapat dilakukan dengan mengukur sampah-sampah dalam tanah secara
tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai kompos/pupuk. Untuk
mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang timbul pada proses
pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis dengan
tanah.
2. Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan
oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara membakar sampah-sampah
yang dapat terbakar seperti plastik dan serat baik secara individual maupun
dikumpulkan pada suatu tempat yang jauh dari pemukiman, sehingga tidak
mencemari udara daerah pemukiman. Sampah yang tidak dapat dibakar dapat
digiling/dipotong-potong menjadi partikel-partikel kecil, kemudian dikubur.
3. Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat yang akan
mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat pembuangan agar
dilakukan proses pemurnian.
4. Sampah zat radioaktif sebelum dibuang, disimpan dahulu pada sumur-sumur
atau tangki dalam jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru
dibuang ke tempat yang jauh dari pemukiman, misal pulau karang, yang tidak
berpenghuni atau ke dasar lautan yang sangat dalam.
5. Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun sesuai
dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.
6. Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa organik yang
dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.

b) Langkah Penanggulangan

Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap


pencemara tersebut.Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan
pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi
bahan yang bermanfaat.Tanah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tanah subur
adalah tanah yang dapat ditanami dan terdapat mikroorganisme yang bermanfaat
serta tidak punahnya hewan tanah. Langkah tindakan penanggulangan yang dapat
dilakukan antara lain dengan cara:

1. Sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada dalam jumlah


cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah,
agar diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barangbarang lain yang
bermanfaat, misal dijadikan mainan anak-anak, dijadikan bahan bangunan,
plastik dan serat dijadikan kesed atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu,
kaca-kaca di daur ulang menjadi vas kembang, plastik di daur ulang menjadi
ember dan masih banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.
2. Bekas bahan bangunan (seperti keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata,
berangkal) yang dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur
dalam sumur secara berlapis-lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan
penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan banjir, melainkan tetap berada di
tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut bahkan bisa masuk ke
dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih.
3. Dengan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap
terjadinya pencemaran lingkungan hidup (pencemaran udara, pencemaran air
dan pencemaran tanah) berarti kita melakukan pengawasan, pengendalian,
pemulihan, pelestarian dan pengembangan terhadap pemanfaatan lingkungan)
udara, air dan tanah) yang telah disediakan dan diatur oleh Allah sang pencipta,
dengan demikian berarti kita mensyukuri anugerah-Nya.

c) Langkah penanganan
1. Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang
tercemar.Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ
(atau off-site).Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi.Pembersihan ini
lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan
bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian


dibawa ke daerah yang aman.Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut
dibersihkan dari zat pencemar.Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di
bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki
tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian
diolah dengan instalasi pengolah air limbah.Pembersihan off-site ini jauh lebih
mahal dan rumit.
2. Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan
menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk
memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun
atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin,
salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur
vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung
maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena
kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak
langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain
seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.

5. Analisis Komposisi Tanah


Komposisi sampah merupakan penggambaran dari masing-masing komponen yang
terdapat dalam buangan padat dan distribusinya. Biasanya dinyatakan dalam persen
berat (%) ataupun persen volume (%) (Azkha, 2006). Data ini penting untuk
mengevaluasi peralatan yang diperlukan, sistem, pengolahan sampah dan rencana
manajemen persampahan suatu kota. Komposisi sampah dikelompokkan atas sampah
organik dan anorgani serta dapat pula dikelompokkan atas sampah basah dan sampah
kering.

Semakin sederhana pola hidup masyarakat semakin banyak komponen sampah organik
(sisa makanan dll). Dan semakin besar serta beragam aktivitas suatu kota, semakin kecil
proporsi sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga.
Komposisi sampah dipengaruhi oleh cuaca, frekuensi pengumpulan sampah, musim,
tingkat sosial ekonomi, pendapatan perkapita, pengemasan produk:
a) Frekuensi pengumpulan
Semakin sering sampah dikumpulkan maka tumpukan sampah terbentuk semakin
tinggi, tetapi sampah organik akan berkurang karena membusuk, sedangkan sampah
non organik sulit terdegradasi akan terus bertambah.
b) Musim
Musim sangat berpengaruh terhadap sampah yang dihasilkan:
 Pada musim kemarau, sampah makanan, organik lainnya, dan sampah halaman
mengalami kenaikan, sedangkan sampah kertas, plastik, kaca, logam, inert, dan
sampah lainnya mengalami penurunan.
 Pada musim dingin, banyak dikonsumsi makanan siap saji. Sampah lainnya
berupa debu dan abu sebagai produk hasil pembakaran, baik pembakaran bahan
bakar untuk pemanas ruangan maupun abu hasil pembakaran sampah dari
incinerator.
c) Jenis sampah yang dihasilkan juga dapat ditentukan oleh musim buah-buahan yang
sedang berlangsung seperti pada musim mangga, musim jeruk, musim rambutan dll.
d) Cuaca
Cuaca memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap komposisi sampah, untuk
daerah yang kandungan airnya cukup tinggi, kelembaban sampahnya juga cukup
tinggi
e) Tingkat Sosial Ekonomi
Kondisi ekonomi yang berbeda menghasilkan sampah dengan komponen yang
berbeda pula. Semakin tinggi tingkat ekonomi suatu masyarakat, produksi sampah
kering seperti kertas, plastik, dan kaleng cenderung tinggi, sedangkan sampah
makanannya lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh pola hidup masyarakat ekonomi
tinggi yang lebih praktis dan bersih.
f) Kemasan Produk
Kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga mempengaruhi komposisi
sampah. Negara maju seperti Amerika banyak menggunakan kertas sebagai
pengemas, sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak menggunakan
plastik sebagai pengemas.
A. Berdasarkan komposisi sampah, sampah dikelompokkan atas :
1. Sampah Organik
Sampah yang mudah membusuk atau mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai
menjadi bahan bahan yang lebih kecil, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering,
dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos (Departemen
Kehutanan, 2004).

Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami,


alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya
dipercepat oleh bantuan manusia.

a. Sampah organik basah


Istilah sampah organik basah adalah sampah yang mempunyai kandungan air yang
cukup tinggi. Contohnya kulit buah dan sisa sayuran.

b. Sampah organik kering


Sementara bahan yang termasuk sampah organik kering adalah bahan organik lain
yang kandungan airnya kecil. Contoh sampah organik kering di antaranya kertas,
kayu atau ranting pohon, dan dedaunan kering.
2. Sampah Anorganik
Sampah yang tidak mudah membusuk,seperti plastik wadah pembungkus makanan,
kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah
ini dapatdijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk
lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah
pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman,kaleng, kaca, dan kertas, baik
kertas koran, HVS, maupun karton. Di negara-negara berkembang komposisi sampah
terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 ± 70%, dan sampah anorganik sebesar ±
30% (Departemen Kehutanan, 2004)

B. Komposisi Sampah Menurut Tempatnya :


a) Sampah dari Pemukiman
Umumnya komposisi sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan,
perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah
kebun/halaman, dan lain-lain.
b) Sampah dari Pertanian dan Perkebunan
Komposisi sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami
dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar
atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan
pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Sampah
pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang
berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan
gulma,namun plastik ini bisa didaur ulang.
c) Sampah dari Sisa Bangunan dan Konstruksi Gedung
Komposisi sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung
ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah Organik, misalnya: kayu,
bambu, triplek. Sampah Anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin,
besi dan baja, kaca, dan kaleng.
d) Sampah dari Perdagangan dan Perkantoran
Komposisi Sampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti: toko, pasar
tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan
bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran.

C. Penentuan komposisi sampah berdasarkan SNI 19-3964-1994 :

𝐵
% komposisi sampah = ( 𝐵𝐵𝑆 ) x 100 %

Dimana : B = berat komponen sampah (kg)


BBS = berat total sampah yang diukur (kg)

D. Table kompoisi sampah :

Komposisi Sampah Beberapa Kota di Dunia

Persentase Berat Basah (%)


Komponen
London Singapura Hongkong Jakarta Bandung
Organik 28 4,6 9,4 74 73,4
Kertas 37 43,1 32,5 8 9,7
Logam 9 3 2,2 2 0,5
Kaca 9 1,3 9,7 2 0,4
Tekstil 3 9,3 9,6 - 1,3
Plastik/karet 3 6,1 6,2 6 8,6
Lain-lain 11 32,6 29,4 8 6,1
Sumber: Damanhuri, 2004
Komposisi sampah di negara-negara berkembang sangat dominan jenis sampah organik,
sedangkan untuk negara-negara maju lebih didominansi oleh sampah kertas. Kondisi
tersebut terlihat bahwa negara berkembang harus merancang sistem pengelolaan sampah
berbasiskan sistem pengomposan. Sistem pengelolaan tersebut bukan merupakan sistem
yang tetap dan tidak berubah, melainkan sistem tersebut dapat berubah, jika komposisi
sampah berubah menuju pada satu jenis material sampah tertentu. Sehingga sistem harus
disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA

http://erfan1977.wordpress.com/2011/09/20/fungsi-tanah-dalam-pencemaran-lingkungan/
http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/did-you-know/lingkungan/304-pencemaran-tanah/
http://www.scribd.com/doc/27705754/pencemaran-tanah/
http://hortikulturapolinela.files.wordpress.com/2012/10/fuad-amzani.pdf
http://my.opera.com/MaRph0amat0nte/blog/timbulan-komposisi-dan-karakteristik-
sampah

http://id.scribd.com/doc/46938779/Lap-praktikum-11-Analisa-Sampah

http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah_organik

http://ilearn.unand.ac.id/pluginfile.php/18161/mod_resource/content/1/Pengelolaan%20S
ampah%202.pdf