Anda di halaman 1dari 15

LO 4.

2 Memahami dan menjelaskan etiologi konjungtivitis

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti:


a. Konjungtivitis bakteri.
b. Konjungtivitis klamidia.
c. Konjungtivitis viral.
d. Konjungtivitis ricketsia.
e. Konjungtivitis jamur.
f. Konjungtivitis parasit.
g. Konjungtivitis alergi.
h. Konjungtivitis kimia atau iritatif (Vaughan, 2014).

Konjungtivitis bacterial
1. Konjungtivitis blenore
Blenore neonaturum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya
adalah gonococ, clamidia dan stapilococcus.

2. Konjungtivitis gonore
Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini
terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari
penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore. Manifestasi
klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa
terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.

3. Konjungtivitis difteri
Radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri difteri memberikan gambaran khusus
berupa terbentuknya membran pada konjungtiva

4. Konjungtivitis folikuler
5. Konjungtivitis angular
Peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan didaerah kantus interpalpebra disertai
ekskoriasi kulit disekitar daerah peradangan, kongjungtivitis ini disebabkan oleh basil
moraxella axenfeld.

6. Konjungtivitis mukopurulen
Kongjungtivitis ini disebabkan oleh staphylococcus, pneumococus, haemophylus
aegepty. Gejala yang muncul adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret
berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata lengket, pasien merasa seperti kelilipan,
adanya gambaran pelangi ( halo).
7. Blefarokonjungivitis
Radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphilococcus dengan keluhan
utama gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak

Konjungtivitis viral
1. Keratokonjungtivitis epidemika
Radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7,8 dan 19. Konjuntivitis
ini bisa timbul sebagai suatu epidemi. Penularan bisa melalui kolam renang selain dari pada
wabah. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata berair berat

2. Demam faringokonjungtiva
Kongjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan
memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau
kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 2,4 dan 7 terutama mengenai remaja, yang
disebarkan melalui sekret atau kolam renang.

3. Keratokonjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang disertai
ginggivostomatitis, disebabkan oleh virus herpes simpleks.

4. Keratokonjungtivitis New Castle


Konjungtivitis new castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada
peternak unggas, yang disebabkan oileh virus new castle. Gejala awal timbul perasaan
adanya benda asing, silau dan berai pada mata, kelopak mata membengkak

5. Konjungtivitis hemoragik akut

Konjungtivitis jamur

Infeksi jamur jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak
memperlihatkan gejala. Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur adalah
candida albicans dan actinomyces.

Konjungtivitis alergik
1. Konjungtivitis vernal
Termasuk reaksi hipersensitif musiman, ada hubungan dengan sensitivitas terhadap
tepung sari rumput – rumput pada iklim panas. Keluhannya berupa gatal, kadang -kadang
panas, lakrimasi, menjadi buruk pada cuaca panas dan berkurang pada cuaca dingin.
2. Konjungtivitis flikten
Bakteri patogen yang paling umum pada konjungtivitis infeksi meliputi Pneumococcus,
Staphylococcus aureus, Moraxella catarrhalis, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan yang
jarang adalah Neisseria gonorrhoeae menyebabkan konjungtivitis hiperakut purulenta,
organismenya ditularkan dari genitalia ke tangan lalu ke mata. Chlamydia adalah penyebab
tersering dari konjungtivitis persisten.
Konjungtivitis viral dapat disebabkan oleh adenovirus, herpes simplex, Epstein-Barr,
varicella zoster, molluscum contagiosum, coxsackie, dan enterovirus. Adenoviral
konjungtivitis biasanya menyebabkan epidemik keratokonjungtivitis, follikular
konjungtivitis, dan nonspesifik konjungtivitis. Virus picorna, atau enterovirus 70
menyebabkan konjungtivitis hemoragik epidemik akut. Konjungtivitis viral sangat menular
dan menyebar melalui kontak langsung dengan orang atau permukaan yang terkontaminasi
oleh sekret.
Konjungtivitis alergi merupakan konjungtivitis noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat
seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi
terhadap obat, bakteri dan toksik. Umumnya disebabkan oleh bahan kimia dan mudah diobati
dengan antihistamin atau bahan vasokonstriktor. Dikenal beberapa macam bentuk
konjungtivitis alergi seperti konjungtivitis flikten, konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi,
konjungtivitis alergi bakteri, konjungtivitis alergi akut, konjungtivitis alergi kronik, sindrom
Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom Sjogren.
LO 4.3 Memahami dan menjelaskan epidemiologi konjungtivitis

Konjungtivitis adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia dan dapat diderita oleh
seluruh masyarakat tanpa dipengaruhi usia. Walaupun tidak ada dokumen yang secara rinci
menjelaskan tentang prevalensi konjungtivitis, tetapi keadaan ini sudah ditetapkan sebagai
penyakit yang sering terjadi pada masyarakat (Chiang YP, dkk, 1995 dalam Rapuano et al,
2005).
Pada anak, sering terjadi keratokonjungtivitis vernal, sedangkan keratokonjungtivitis
atopik dan alergika sering terjadi pada dewasa muda. Sekitar 1-3% pengguna kontak lensa
terkena konjungtivitis papiler raksasa dan 10% neonatus mengalami konjungtivitis dengan
berbagai penyebab. Konjungtivitis infeksius mengenai perempuan dan laki-laki dengan insidens
yang sama. Namun, konjungtivitis sicca lebih sering terjadi pada perempuan. Sebaliknya,
keratokonjungtivitis vernal dan konjungtivitis akibat kimia dan mekanik lebih sering terjadi pada
pria.
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering dihubungkan dengan
kondisi lingkungan yang tidak Hygiene.

4.4. Memahami dan menjelaskan klasifikasi konjungtivitis


1) Konjungtivitis Bakterial
Terdapat dua bentuk konjungtivitis bakterial : akut (dan sub akut) dan menahun.
Konjungtivitis bakterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan mikroorganisme tertentu
seperti haemophilus influenzae,Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, and Moraxella catarrhalis. S. aureus pada dewasa dan bakteri
pathogen lain pada anak-anak .
Lamanya penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai.
Konjungtivitis bakterial akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu sekian
obat anti bakterial yang tersedia biasanya mengatasi keadaan ini dalam beberapa hari.
Konjungtivitis purulen yang disebabkan N. Gonorrhoae dan N. Meningitidis dapat
menimbulkan komplikasi berat jika tidak segera diobati sejak dini.

 Tanda dan gejala


Organisme ini menimbulkan iritasi dan kemerahan bilateral, eksudat purulen dengan palpebra
saling melengket saat bangun tidur, kadang-kadang edema palpebra. Infeksi biasanya pada satu
mata dan menular kesebelah karena tangan. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui
bahan yang dapat menyebarkan kuman seperti kain, dan lain-lain.

a. Konjungtivitis Bakterial Hiperakut (dan subakut).


Konjungtivitis Purulen
Adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis yang ditandai
dengan eksudat purulen. Konjungtivitis meningokokus kadang-kadang terjadi pada anak-anak.
Setiap konjungtivitis berat dengan banyak eksudat perlu segera diperiksa secara laboratoris dan
segera diobati. Jika ditunda, mungkin terjadi kerusakan kornea atau gangguan penglihatan, atau
konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis, yang
menimbulkan sepsis atau meningitis.

Konjungtivitis Mukopurulen (catarhal) Akut


Sering terdapat dalam bentuk epidemik dan disebut ”mata merah” oleh orang awam. Penyakit
ini ditandai dengan timbulnya hiperemi konjungtiva secara akut, dan jumlah eksudat
mukopurulen sedang. Penyebab paling umum adalah Streptokokus pneumonia pada iklim
sedang dan Haemophilus aegyptius pada iklim panas. Penyebab yang kurang umum adalah
Stapilokokus dan Streptokokus lain. Konjungtivitis yang disebabkan oleh S. pneumoniae dan
Haemophilus aegyptius mungkin disertai perdarahan sub konjungtiva. Pengobatan dengan
membersihkan konjungtiva dan antibiotik yang sesuai.

Konjungtivitis Subakut
Paling sering disebabkan H. Influenzae dan kadang-kadang oleh E. Coli dan spesies Proteus.
Infeksi H. Influenzae ditandai eksudat berair tipis atau berawan.

Konjungtivitis Gonorhoe
Merupakan radang konjungtiva akut yang hebat dan disertai sekret purulen. Gonokokus
merupakan kuman yang sangat patogen, virulen, dan bersifat invasif sehingga reaksi radang
kuman ini sangat berat. Penyakit kelamin yang disebabkan oleh gonorhoe merupakan
merupakan penyakit yang tersebar luas diseluruh dunia secara endemik. Pada neonatus infeksi
konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan lahir, sedangkan pada bayi penyakit ini
ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada orang dewasa penularanya
melalui alat kelaminnya sendiri.

Diklinik akan melihat penyakit ini dalam bentuk oftalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari),
konjungtivitis gonorhoeinfantum (usia lebih dari 10 hari), dan konjungtivitis gonorhoe
adultorum. Terutama mengenai golongan muda dan bayi yang ditularkan ibunya, merupakan
penyebab utama oftalmia neonatorum.
Memberikan sekret purulen padat dengan masa inkubasi antar 12 jam hingga 5 hari, disertai
perdarahan subkonjungtiva dan konjungtivitis kemotik. Pada orang dewasa terdapat 3 stadium
penyakit infiltratif, supuratif dan penyembuhan. Stadium infiltratif ditemukan gejala kelopak
dan konjungtiva kaku dan rasa sakit pada perabaan, peseudomembran pada konjungtiva tarsal
superior, konjungtiva bulbi merah, kemotik, menebal. Pada dewasa selaput konjungtiva lebih
bengkak dan menonjol dengan gambaran spesifik gonore dewasa. Dan biasanya rasa sakit pada
mata disertai tanda-tanda infeksi umum, biasanya menyerang satu mata dulu dan menyebar.
Stadium supuratif sekret kental, pada bayi mengenai kedua matadengan sekret kuning kental,
berbeda dengan oftalmia neonatorum, pada orang dewasa sekretnya tidak kental sekali.
Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sekret dengan pewarnaan metilen biru dimana akan
terlihat diplokokus di dalam leukosit. Dengan Gram kan terlihat sel intraseluler atau
ekstraseluler bersifat gram negatif, pemeriksaan sensitif pada agar darah dan coklat.
Pengobatan dimulai bila terlihat pada pewarnaan gram positif diplokokus batang intraseluler
dan sangat dicurigai konjungtivitis gonorea. Pasien dirawat dan diberi penisilin salep dan
suntikan, pada bayi diberikan 50000 U/kgBB selama 7 hari. Sekret dibersihkan dengan kapas
yang dibasahi air bersih atau garam fisiologik setiap ¼ jam. Kemudian diberi salep penisilin
setiap ¼ jam. Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10000-
20000 U/ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam
selama 3 hari.
Penyulit yang terjadi adalah tukak kornea marginal bagian atas, ini mudah terjadi perforasi
akibat adanya daya lisis kuman gonokokus, pada anak sering keratitis atau tukak kornea
sehingga terjadi perforasi kornea, pada orang dewasa tukak yang terjadi sering pada marginal
dan terbentuk cincin. Pencegahan cara yang paling aman ialah membersihkan mata bayi segera
setelah lahir denag larutan borisi dan memberi salep kloramfenikol.

Oftalmia Neonatorum
Merupakan konjungtivitis yang terjadi pada bayi dibawah usia 1 bulan, dapat disebabkan oleh
berbagai sebab: konjungtivitis kimia seperti nitras argenti, terjadi 24 jam setelah penetesan
nitras argenti profilaksis untuk gonorhoe, pengobatan dengan pembilasan sisa obat dan bahan
penyokong. Konjungtivitis stafilokokus, masa inkubasi lebih dari 5 hari diobati dengan
antibiotik topikal. Konjungtivitis inklusi (klamidia), masa inkubasi 5-10 hari, pengobatan
dengan tetrasiklin atau erytromicin dan tobramicyn, konjungtivitis Neiseria, masa inkubasi 2-5
hari. Konjungtivitis virus masa inkubasi 1-2 minggu, diobati dengan trifluorotimidin,
konjungtivitis jamur, diobati dengan antijamur.
Konjungtivitis bakterial menahun terjadi pada pasien obstruksi duktus naso lakrimalis
dan dakriosistisis menahun, yang biasanya unilateral. Infeksi ini juga dapat menyertakan
blefaritis bakterial menahun atau disfungsi kelenjar meibom. Pasien dengan sindrome palpebra
lemas dan ektropion dapat menimbulkan konjungtivitis bakterial sekunder.
Konjungtivitis bakterial jarang dapat disebabkan oleh Corynebacterium diptheriae dan
Streptokokus pyogenes. Pseudomembran dan membran yang dihasilkan oleh organisme ini
dapat terbentuk pada konjungtiva palpebra.

Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bakterial, organisme dapat diketahui dari


pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan Gram atau
Giemsa dan dapat ditemukan neutrofil polimorfonuklear. Kerokan konjungtiva disarankan pada
semua kasus dan diharuskan pada penyakit yang purulen, bermembran, atau pseudomembran.
Uji sensitivitas antibiotik juga abaik, namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotik empirik.

2) Konjungtivitis Klamidia
Trachoma
A. Tanda dan gejala
Trachoma mulanya adalah konjungtivitis folikuler menahun pada masa kanak-kanak
yang berkembang sampai pembentukan parut konjungtiva. Pada kasus berat, pembalikan bulu
mata kedalam terjadi pada masa dewasa muda sebagai akibat parut konjungtiva berat. Abrasi
terus-menerus oleh bulu mata yang membalik itu dan gangguan film air mata berakibat parut
pada kornea, umumnya setelah berusia 50 tahun.
Masa inkubasi rata-rata 7 hari namun bervariasi dari 5-14 hari. Pada bayi atau anak
biasanya diam-diam, dan penyakit ini dapat sembuh dengan sedikit atau tanpa komplikasi pada
orang dewasa sering akut dan subakut dan kompliksai cepat berkembang. Sering mirip
konjungtivitis bakterial, gejalanya mata berair, fotofobia, sakit, eksudasi, edema palpebra,
kemosis konjungtiva bulbi, hiperemia, hipertropi papiler, folikel tarsal dan limbal, nyeri tekan,
pembentukan panus. Semua tanda trakoma lebih berat pada konjungtiva dan kornea bagian atas
daripada bagian bawah.
Untuk memastikan trakoma endemik dikeluarga atau masyarakat, harus ada sekurang-
kurangnya 2 tanda berikut: lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal rata pada palpebra
superior mata, parut konjungtiva khas dikonjungtiva tarsal superior, folikellimbus dan
sekuelenya, perluasan pembuluh darah keatas kornea paling jelas dilimbus atas.
B. Laboratorium
Inklusi klamidia dapat ditemukan pada kerokan konjungtiva yang dipulas dengan giemsa
tampak masa sitoplasma biru atau ungu gelap halus menutupi inti dari sel epitel, namun tidak
selalu ada. Pulasan antibodi fluorescein dan tes imuno-assay enzim tersedia dipasaran dan
banyak dipakai dilaboratorium klinik, yang terbaru adalah isolasi agen klamidia dalam biakan
sel.

Konjungtivitis Inklusi (Blenorrhea Inklusi, Paratrachoma)


Konjungtivitis inklusi sering bilateral dan biasanya terdapat pada orang muda yang
seksualnya aktif. Agen klamidial menginfeksi uretra pria dan servik wanita. Transmisi ke mata
karena praktek seksual oral-genital atau dari tangan ke mata.
A. Gejala
Dapat berawal akut dan subakut, pasien mengeluh mata merah, pseudoptosis, terdapat sekret
terutama pagi hari. Neonatus menunjukkan konjungtivitis papiler, eksudat sedang, pada kasus
hiperakut terbentuk pseudomembran yang menimbulkan parut. Karena neonatus tidak memiliki
jaringan adenoid di stroma konjungtiva, tidak akan terbentuk folikel namun jika berlangsung 2-
3 bulan akan timbul folikel dan mirip pada orang dewasa. Pada neonatus dapat menimbulkan
faringitis, ottitis mediam, dan pneumonitis intertitial. Karena pseudomembran umumnya tidak
terbentuk pada orang dewasa, tidak terjadi luka parut. Keratitis superficial ditemukan pada
bagian atas. Otitis media dapat terjadi akibat infeksi tuba auditiva.
B. Laboratorium
Tes sama pada trakoma. Pada oftalmia klamidia neonatal, sediaan yang dipulas giemsa sering
memperlihatkan banyak inklusi. Pengukuran antibodi IgM sangat berharga untuk mendiagnosis
pneumonitis klamidia pada bayi.

3) Konjungtivitis Virus
Konjungtivitis virus, sebuah penyakit umum dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus.
Keadaan ini berkisar antara penyakit berat, yang dapat menimbulkan cacat, sampai infeksi
ringan yang cepat sembuh sendiri.

1. Konjungtivitis folikuler virus akut


Demam faringokonjungtival
Demam faringokonjungtival ditandai oleh demam 38.3-40oC, sakit tenggorokan, dan
konjungtivitis folikuler pada satu mata. Folikel sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva
dan mukosa faring. Penyakit ini bilateral atau unilateral. Mata merah berair sering terjadi dan
mungkin ada keratitis superficial untuk sementara. Yang khas adalah limfadenopati
preaurikuler (tidak nyeri tekan).
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang-
kadang tipe 4 dan 7. Virus ini dapat dibiakkan dalam sel HeLa dan ditetapkan oleh tes
netralisasi. Dengan berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara serologik
dengan meningkatnya titer antibodi. Tidak ada pengobatan spesifik, konjungtivitis akan
sembuh sendiri dalam 10 hari.
Keratokonjungtivitis epidemika
Umumnya bilateral, awalnya pada satu mata dan mata pertama biasanya lebih parah.
Pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14
hari oleh fotofobia, keratitis epitel dan kekeruhan epitel bulat. Sensasi kornea normal. Khasnya
adalah nodus preaurikuler yang nyeri tekan. Fase akut adalah edema palpebra, kemosis, dan
hiperima konjungtiva. Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam.
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu, kekeruhan subepitel terutama terdapat
dipusat kornea, bukan ditepian dan menetap berbulan-bulan namun sembuh tanpa
meninggalkan jaringan parut.
Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37. Virus
ini dapat diisolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan
konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuklear primer, bila terbentuk pseudomembran,
juga neutrofil. Keratokonjungtivitis epidemika pada dewasa terbatas pada bagian luar mata,
pada anak-anak terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan,
otitismedia dan diare.
Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan mengurangi beberapa
gejala. Kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat memperpanjang keterlibatan kornea
sehingga harus dihindari. Agen antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bakteri.

Konjungtivitis virus herpes simplek


Biasanya menyerang anak kecil yang ditandai dengan pelebaran pembuluh darah unilateral,
iritasi, sekret mukoid, sakit, fotofobia ringan. Sering disertai keratitis herpes simplek dengan
kornea menampakkan lesi-lesi epitel tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus
epitelial yang bercabang banyak (dendritik). Konjungtivitisnya folikuler atau pseudomembran.
Vesikel herpes kadang-kadang muncul dipalpebra dan tepi palpebra, disertai edema hebat pada
palpebra. Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang nyeri tekan.
Tidak ditemukan bakteri didalam kerokan atau dalam biakan. Jika konjungtivitisnya
folikuler, reaksi radangnya terutama monokuler. Namun jika pseudomembran reaksinya
terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari tempat nekrosis. Virus mudah diisolasi
dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering diatas konjungtiva dan
memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan.
Konjungtivitis HSV dapat berlangsung 2-3 minggu, dan jika timbul pseudomembran, dapat
meninggalkan parut linier halus dan datar. Komplikasi dapat berupa keterlibatan kornea
(termasuk dendrit) dan vesikel pada kulit. Meskipun virus herpes tipe 1 adalah penyebab
kebanyakan kasus mata, namun tipe 2 adalah penyebab umum pada neonatus dan jarang pada
dewasa. Pada neonatus mungkin terdapat penyakit umum yang disertai ensefalitis,
korioretinitis, hepatitis, dan lain-lain. Setiap infeksi pada neonatus harus diobati dengan obat
antivirus sistemik (acyclovir) dan dipantau di rumah sakit.
Jika konjungtivitis pada anak diatas 1 tahun atau pada orang dewasa umumnya sembuh
sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun antivirus topikal atau sistemik harus diberikan
untuk mencegah terkenanya kornea. Untuk ulkus kornea perlu debridemen kornea dengan hati-
hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain kering , meneteskan dengan obat anti virus dan
menutup mata selama 24 jam. Antivirus topikal diberikan 7-10 hari; trifluridine setiap 2 jam
sewaktu bangun atau salep vidarabin lima kali sehari atau idoxuridine 0.1% , 1 tetes setiap jam
sewaktu bangun dan 1 tetes setiap 2 jam disaat malam. Keratitis herpes dapat pula diobati
dengan salep acyclovir 3% lima kali sehari selam 10 hari atau dengan acyclovir oral 400 mg 5
kali sehari selama 7 hari. Penggunaan kortikosteroid merupakan kontraindikasi, karena
memperburuk infeksi herpes simplek dan mengkonversi penyakit dari sembuh sendiri yang
singkat menjadi infeksi yang sangat lama.

Konjungtivitis penyakit newcastle


Disebabkan oleh virus newcastle dengan gambaran klinis sama dengan demam
faringokonjungtiva.penyakit ini sering pada unggas. Umumnya bersifat unilateral walaupun
bisa bilateral. Konjungtivitis ini memberikan rasa sakit pada mata, gatal, mata berair,
penglihatan kabur, dan fotofobia. Penyakit ini sembuh dalam jangka waktu kurang dari 1
minggu.
Pada mata akan terlihat edema ringan, kemosis dan sekret yang sedikit, dan folikel-folikel
yang terutama ditemukan pada konjungtiva tarsal bagian bawah. Pada kornea ditemukan
keratitis epitelial atau keratitis subepitel.
Pembesaran kelenjar getal bening preaurikel yang tidak nyeri tekan. Pengobatan yang khas
sampai saat ini tidak ada, dan dapat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder
disertai obat-obat simtomatik.

Konjungtivitis varicela-zoster
Herpes zoster disebut juga shingle, zona, atau posterior ganglionitis akut. Virus herpes zoster
dapat memberikan infeksi pada ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala
herpes zoster pada mata. Herpes zoster mengenai pada semua umur dan umumnya pada usia
lebih dari 50 tahun keatas.
Kelainan yang terjadi pada herpes zoster tidak akan melampui garis median kepala. Herpes
zoster dan varicela memberikan gambaran yang sama pada konjungtivitis seperti pada
hiperemia, vesikel dan pseudomembran pada konjungtiva, papil, dengan pembesaran kelenjar
preurikel. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukanya sel raksasa pada pewarnaan giemsa,
kultur virus dan inklusi intranuklear.
Pengobatan dengan kompres dingin. Pada saat ini acyclovir 400 mg/hari selama 5 hari
merupakan pengobatan umum. Walaupun diduga steroid mengurangkan penyulit akan tetapi
dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. Pada 2 minggu pertama dapat diberi analgetik untuk
menghilangkan rasa sakit. Pada kelainan permukaan dapat diberi salep tetrasiklin. Steroid tetes
deksametason 0.1% diberikan bila terdapat episkleritis, skleritis dan iritis. Gloukoma yang
terjadi akibat iritis diberi preparat steroid dan antigloukoma. Penyulit pada penyakit ini dapat
terjadi parut pada kelopak, neuralgia, katark, gloukoma, kelumpuhan saraf III, IV, VI, atrofi
saraf optik, dan kebutaan.

Konjungtivitis hemoragik epidemik akut


Merupakan penyakit konjungtivitis disertai dengan perdarahan konjungtiva. Penyakit ini
pertama kali ditemukan di Ghana, Afrikapada tahun 1969 yang menjadi pandemik.
Konjungtivitis yang disebabkan infeksi virus pikorna atau enterovirus 70
Masa inkubasi 24-48 jam, dengan tanda-tanda kedua mata iritatif, seperti kelilipan, dan
sakit periorbita. Edema kelopak, kemosis konjungtiva, sekret seromukous, fotofobia disertai
lakrimasi.
Terdapat gejala akut dimana ditemukan adanya konjungtiva folikuler ringan, sakit
periorbita, keratitis, adenopati preurikel, dan yang terpenting adanya perdarahan
subkonjungtiva yang dimulai dengan petekia. Pada tarsus konjungtiva terdapat hipertrofi
folikular dan keratitis epitelial yang berkurang spontan dala 3-4 hari.
Penyakit ini sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simptomatik. Pengobatan
antibiotik spektrum luas, sulfametamid dapat dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder.
Pencegahan adalah dengan mengatur kebersihan untuk mencegah penularan.

2. Konjungtivitis virus menahun


Blefarokonjungtivitis-Moluscum Contagiosum
Sebuah nodul moluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat menimbulkan
konjungtivitis folikuler menahun unilateral, keratitis superior, dan panus superior atau mungkin
menyerupai trachoma. Reaksi radang yang terutama mononuklear (berbeda dengan reaksi
trachoma), lesi bulat, berombak, putih mutiara, non-radang pada bagian pusat adalah khas
moluscum contagiosum. Biopsi menampakkan inklusi sitoplasmik eosinofilik, memenuhi
seluruh sitoplasma sel yang membesar, mendesak inti kesatu sisi.
Eksisi, incisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi memasukinya, atau
krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya. Pada kasus yang sangat jarang nodul
moluscum timbul dikonjungtiva. Dalam hal ini eksisi nodul menyembuhkan konjungtivitisnya.
Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster
Hiperemi dan konjungtivitis infiltrat disertai dengan erupsi vesikuler khas sepanjang
penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika adalah khas herpes zoster.
Konjungtivitis biasanya papiler, namun pernah ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel
temporer yang kemudian berulserasi. Limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan terdapat pada
awal penyakit. Parut palpebra, entropion, dan trikiasis adalah sekuele.
Lesi palpebra dari varicela mirip dengan lesi kulit ditempat lain, mungkin timbul ditepian
papebra maupun palpebra dan sering meninggalkan parut. Sering timbul konjungtivitis
eksudatif ringan tetapi lesi konjungtiva yang jelas sangat jarang terjadi. Lesi dilimbus
menyerupai phlyctenula dan dapat melalui tahap-tahap vesikel, papul dan ulkus. Kornea
didekatnya mengalami infiltrasi dan bertambah pembuluhnya. Acyclovir oral dosis tinggi 800
mg lima kali sehari selam 10 hari, jika diberi pada awal penyakit, akan mengurangi dan
menghambat beratnya penyakit.

Keratokonjungtivitis Morbilli
Enantema khas morbili seringkali mendahului erupsi kulit. Pada tahap awal ini,
konjungtiva mirip kaca yang aneh, yang dalam beberapa hari diikuti pembengkakan lipatan
semilunar (tanda Meyer). Beberapa hari sebelum erupsi kulit, timbul konjungtivitis eksudatif
dengan sekret mukopurulen dan muncul erupsi kulit, timbul bercak Koplik pada konjungtiva
dan carunculus. Pada saat anak-anak dini, dewasa lanjut bisa terjadi keratitis epitelial.
Pada pasien imunokompeten, keratokonjungtivitis campak hanya meninggalkan sedikit
atau sama sekali sekuele, namun pada pasien kurang gizi atau imnokompeten, penyakit mata ini
sering disertai HSV atau infeksi bakterial sekunder oleh S. Pneumoniae, H. Infuienzae dan
organisme lain. Agen ini dapat menyebabkan konjungtivitis purulen yang disertai ulserasi
kornea dan penurunan penglihatan yang berat. Kerokan konjungtiva menunjukkan reaksi sel
mononuklear, kecuali ada pseudomembran atau infeksi sekunder. Sediaan pulas Giemsa
menunjukkan sel raksasa. Karena tidak ada terapi spesifik hanya tindakan penunjang saja yang
dilakukan, kecuali ada infeksi sekunder.

4) Konjungtivitis Rickettsia
Semua Rikettsia dianggap patogen oleh manusia dapat menyerang konjungtiva dan konjungtiva
mungkin menjadi pintu masuk. Demam Q disertai hiperemia konjungtiva hebat. Pengobatan
dengan tetracyclin atau kloramfenicol sistemik akan menyembuhkan. Demam Marseilles sering
kali disertai konjungtivitis ulseratif atau garnulaomatosa dan limfonodus preaurikuler yang
tampak jelas. Tifus endemik (murine) ”srub typhus”, Rocky Mountain Spotted Fever”, dan tifus
epidemik berkaitan dengan tanda-tanda konjungtiva yang umumnya ringan dan bervariasi.

5) Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis Candida
Konjungtivitis yang disebabkan Candida spp (biasanya Candida Albican) adalah infeksi
yang jarang terjadi; umumnya tampak sebagai bercak putih. Keadaan ini dapat timbul pada
pasien diabetes atau pasien terganggu kekebalannya, sebagai konjugtivitis ulseratif atau
granulomatosa.
Kerokan menunjukkan reaksi radang polimorfonuklear, organisme mudah tumbuh pada
media agar darah atau Saboroaud dan mudah ditetapkan sebagai ragi yang berkuncup atau
jarang sebagai pseudohypha.
Infeksi ini berespon terhadap amphotericin B (3-8 mg/ml) dalam larutan air (bukan garam)
atau terhadap pemakain nistatin kulit (100000 unit/gram) empat sampai enam kali sehari. Obat
ini harus diberikan secara hati-hati agar pasti masuk dalam sacus konjungtiva dan hanya tidak
numpuk ditepian palpebra.
Konjungtivitis jamur lain
Sporothrix schenckii jarang mengenai konjungtiva atau palpebra. Jamur ini menimbulkan
penyakit granulomatosa yang disertai nodus preaurikuler jelas. Pemeriksaan laboratorik dari
biopsi granuloma menampakkan coni (spora) berbentuk cerutu garam-positif.
Rhinosporidium seeberi kadang-kadang mengenai konjungtiva, saccus lakrimal, palpebra,
canalikuli dan sklera. Lesi khas berupa granuloma polipoid yang mudah berdarah. Pemeriksaan
histologik menampakkan granuloma dengan spherula besar terbungkus yang mengandung
Myriad endospore. Pengobatan dengan eksisi sederhana dan kauterisasi pada dasarnya.
Coccidioides immitis kadang-kadang menimbulkan konjungtivitis granulomatosa yang
disertai nodus preaurikeler nyata (sindrome okulograndular parinoud) ini bukan penyakit
primer namun menisfestasi dari infeksi metatastik infeksi paru primer. (demam San Joaquin
Valey). Penyakit yang menyebar memberi respon buruk.

Infeksi Thelazia Californiensis


Habitat alami cacing gilig ini adalah dimata anjing, namun dapat pula mengenai mata kucing,
domba, beruang hitam, kuda, rusa. Infeksi kebetulan pada sacus konjungtiva manusia pernah
terjadi. Penyakit ini dapat diobati secara efektif dengan menghilangkan cacing itu dari sacus
konjungtiva dengan forceps atau aplikator berujung kain.

Infeksi loa-loa
L.loa adalah cacing mata di Afrika. Cacing ini hidup dijaringan ikat manusia dan kera dapat
menjadi reservoirnya. Parasit ini ditularkan oleh gigitan lalat kuda atau lalat mangga. Cacing
dewasa kemudian bermigrasi ke palpebra, konjungtiva atau orbita.
Pada 60-80% infeksi L.loa, terdapat eosinofilia, namun diagnosis ditegakkan dengan
menemukan cacing atau dengan menemukan mikrofilaria dalam darah yang diperiksa siang
hari. Kini obat pilihan untuk L.loa adalah diethylcarbamazine, ivermectin kini sedang
dievaluasi.

Infeksi Ascaris Lumbricoides (Konjungtivitis Jagal)


Ascaris dapat menimbulkan sejenis konjungtiva berat, meskipun jarang. Saat jagal atau orang
yang melakukan pemeriksaan post-mortem potongan jaringan yang mengandung Ascaris,
cairan jaringan bagian organisme itu mengenai matanya. Ini diikuti konjungtivitis toksik yang
nyeri dan hebat, yang ditandai kemosis berat dan edema palpebra. Pengobatan adalah irigasi
cepat dan tuntas pada sacus konjungtiva.

Infeksi Trichenella Spiralis


Parasit ini tidak menimbulkan konjungtivitis sejati, namun dalam perjalanan penyebaranya
mungkin terdapat edema palpebra superior dan inferior dan lebih dari 50% pasien menunjukkan
kemosis (pembengkakan kuning). Lemon pucat paling jelas pada muskulus rectus lateral dan
medial dan mengurang kearah limbus. Kemosis ini dapat bertahan satu minggu atau lebih, dan
sering teras sakit saat mata digerakkan.

Infeksi Schistosoma Haematobiu


Timbul lesi konjungtiva granulomatosa berupa tumor-tumor kecil, lunak, licin, kuning
kemerahan, terutama pada pria. Gejala minimal. Diagnosis tergantung pemeriksaan
mikroskopik materi biopsi, yang menunjukkan granuloma dengan limfosit, sel plasma, sel
raksasa, dan eosinofil mengelilingi ovum bilharzia pada berbagai tahap disintegrasi.
Pengobatan ialah eksisi granuloma konjungtiva dan terapi sistemik dengan antimon seperti
niridazole.

Infeksi Taenia Solium


Parasit ini jarang menimbulkan konjungtivitis, tetapi lebih sering menyerang retina, koroid,
atau vitreus, menimbulkan sistiserkosis mata. Biasanya konjungtiva terkait menampakkan kista
subkonjungtiva dalam bentuk pembengkakan hemisferik setempat, biasanya disudut dalam dari
fornik inferior, yang melekat pada sklera dibawahnya dan nyeri tekan. Konjungtiva dan
palpebra mungkin meradang dan ada edema.
Diagnosis didasarkan atas tes fiksasi komplemen atau tes presipitasi atau atas
keberhasilan memperlihatkan organisme dalam saluran cerna. Eosinofilia adalah ciri yang
selalu ada. Pengobatan terbaik adalah eksisi lesi, keadaan terminalnya dapat diobati denagn
niklosamide.

Infeksi Pthirus Pubis (infeksi kutu pubis)


P. Pubis dapat mengenai silia dan tepi palpebra. Karena ukuranya, kutu pubis agaknya
memerlukan rambut yang tersebar berjauhan. Inilah sebabnya parasit ini lebih menyukai silia
yang tersebar berjauhan selain rambut pubis. Parasit ini agaknya melepaskan bahan yang
merangsang yang menimbulkan konjungtivitis folikuler toksik pada anak-anak dan
konjungtivitis papiler yang mengiritasi pada orang dewasa. Tepian palpebra umumnya merah,
dan perasaan gatal. Menemukan organisme dewasa atau sengkenit berbentuk oval yang melekat
pada bulu mata adalah diagnosis.
Lindane (Kwell) 1% atau RID (pyrethrin) yang diberikan pada daerah pubis dan bulu
mata setelah membuang sengkenitnya, biasanya menyembuhkan. Pemberian Lindane atau RID
pada tepian palpebra harus sangat hati-hati agar jangan berkontak dengan mata. Pada setiap
salep yang diberikan pada tepian palpebra cenderung menekan organisme dewasa. Keluarga
pasien yang dekat harus diperiksa dan diobati. Semua pakaian harus dicuci

Oftalmomiiasis
Miasis adalah infestasi larva lalat. Banyak spesies lalat dapat menimbulkan miasis.
Jaringan mata mungkin cedera oleh transmisi mekanik organisme penyebab penyakit dan oleh
aktivitas parasit larva dalam jaringan mata. Larva mampu memasuki jaringan nekrotik dan
jaringan sehat. Banyak yang terkena infeksi karena tidak sengaja menelan telur atau larva atau
kontaminasi luka luar atau kulit. Bayi dan anak muda, peminum alkohol, dan pasien lemah
yang tidak terurus adalah sasaran umum infeksi lalat yang menimbulkan miasis.
Larva ini dapat mempengaruhi permukaan mata, jaringan intraokuler, atau jaringan orbita
lebih dalam. Lalat ini meletakkan telurnya ditepian palpebra inferior atau cantus interna dan
larva menetap dipermukaan mata, menimbulkan iritasi, sakit, dan hiperemi konjungtiva.
Pengobatan miasis permukaan mata adalah memebuang mata secara mekanik setelah anastesi
topikal.

6) Konjungtivitis Imunologik (Alergi)


Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap non infeksi, dapat berupa reaksi cepat
seperti alergi biasa dan reaksi lambat seperti beberapa hari kontak seperti pada reaksi obat,
bakteri dan toksik. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap alergen, biasanya dengan
riwayat atopi.
Gejala utama penyakit alergi adalah radang (merah, sakit, bengkak dan panas), gatal, silau dan
menahun.
Tanda karakteristik lainya adalah terdapatnya papil besar pada konjungtiva, datang bermusim
dan mengganggu penglihatan. walaupun penyakit alergi konjungtiva sering sembuh sendiri
akan tetapi dapat memberikan keluhan dan perlu pengobatan.
Pengobatan terutama dengan menghindarkan faktor penyebab penyakit dan memberikan
astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah, dan kompres dingin untuk
menghilangkan edema. Pada kasus berat diperlukan antihistamin dan steroid sistemik.

Konjungtivitis Vermal
Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe 1) yang mengenai kedua mata dan
bersifat rekuren. Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan kasar pada konjuntiva
tarsal, dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosinofil, atau granula eosinofil, pada
kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi, dan tukak indolen. Pada tipe timbal terlihat benjolan
didaerah limbus, dengan bercak Horner Trantas yang berwarna keputihan yang terdapat
didalam benjolan.
Merupakan penyakit yang dapat rekuren dan bilateral terutama pada musim panas.
Mengenai pasien muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis kelamin sama. Pada bentuk palpebra,
pasien biasanya mengeluh gatal, timbul papil yang besar dan sekret yang mukoid, konjungtiva
tarsal bawah edema, hiperemi, dengan kelainan kornea lebih berat. Sedangkan pada bentul
limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang membentuk jaringan hiperplastik gelatin,
dengan trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil dibagian epitel
limbus kornea, terbentuk panus, dengan sedikit eosinofil.
Antihistamin dan desensitisasi mempunyai efek yang ringan. Vasokonstriktor, kromolin
topikal dapat mengurangi pemakaian steroid, siklosporin dapat bermanfaat. Obat antiinflamasi
nonsteroid tidak banyak bermanfaat. Pengobatan dengan steroid topikal tetes dan salep akan
dapat menyembuhkan. Hati-hati pemakaian steroid lama. Bila tidak ada hasil dapat diberikan
radiasi, atau dilakukan pengangkatan giant papil. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa
diobati. Dapat diberi kompres dingin, natrium karbonat, dan obat vasokonstriktor. Kelainan
kornea dan konjungtiva dapat diobati dengan natrium kromolin topikal. Bila terdapat tukak
maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder disertai sikoplegik.