Anda di halaman 1dari 32

Case Report Session

TINEA KORPORIS

Oleh :

Oji Z Saputra 1110313096


Elfon Lindo Pratama 1210312038
Fadhilah Al Hijjah 1210312046

Preseptor :

dr. Anggia Perdana Harmen, SpA, M.Biomed

KEPANITERAAN KLINIK FOME III


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS KURANJI
PADANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan kasus ini.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad

SAW.

Pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima

kasih kepada dr. Anggia Perdana Harmen, SpA, M.Biomed selaku preseptor dan

semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan laporan kasus ini.

Penulisan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan

saran dan kritik yang membangun. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita

semua.

Padang, Januari 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ............................................................................................. ................ i

Daftar Isi ...................................................................................................... ............... ii

BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................... ............... 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dermatofitosis ......................................................................................... ............... 2

2.1.1 Definisi .......................................................................................... ............... 2

2.1.2 Etiologi .......................................................................................... ............... 2

2.1.3 Klasifikasi ...................................................................................... ............... 3

2.2 Tinea Korporis ........................................................................................ ............... 5

2.2.1 Definisi .......................................................................................... ............... 5

2.2.2 Epidemiologi .................................................................................. ............... 5

2.2.3 Etiologi .......................................................................................... ............... 6

2.2.4 Patofisiologi ................................................................................... ............... 6

2.2.5 Gambaran Klinik ............................................................................ ............... 8

2.2.6 Pemeriksaan Penunjang .................................................................. ............. 10

2.2.7 Diagnosis........................................................................................ ............. 10

2.2.8 Diagnosis Banding.......................................................................... ............. 11

2.2.9 Penatalaksanaan ............................................................................. ............. 12

2.2.10 Prognosis ...................................................................................... ............. 15

BAB III LAPORAN KASUS ........................................................................ ............. 16

BAB IV DISKUSI ........................................................................................ ............. 24

Daftar Pustaka .............................................................................................. ............. 28

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Dermatofitosis adalah golongan penyakit jamur superficial yang

disebabkan oleh jamur dermotofita yakni Trichophyton spp, Microsporum spp,

dan epidermophyton spp. Dermatofitosis mempunyai arti umum, yaitu semua

penyakit jamur yang menyerang kulit.1 Penyakit ini menyerang jaringan yang

mengandung zat tanduk yakni epidermis (tinea korporis, tinea kruris, tinea manus

et pedis), rambut (tinea kapitis), kuku (tinea unguinum). Dermatofitosis terjadi

karena terjadi inokulasi jamur pada tempat yang diserang, biasanya di tempat

yang lembab dengan maserasi atau ada trauma sebelumnya. 1,2

Ciri khas pada infeksi jamur adanya central healing yaitu bagian tengah

tampak kurang akti, sedangkan bagian pinggirnya tampak aktif.1 Faktor-faktor

yang mempengaruhi diantaranya udara lembab, lingkungan yang padat, sosial

ekonomi yang rendah, adanya sumber penularan disekitarnya, obesitas, penyakit

sistemik penggunaan antibiotika dan obat steroid, Higiene juga berperan untuk

timbulnya penyakit ini.1 Dermatofitosis salah satu pembagiannya berdasarkan

lokasi bagian tubuh manusia yang diserang salah satunya adalah Tinea Korporis,

yaitu dermatofitosis yang menyerang daerah kulit yang tidak berambut (glabrous

skin), misalnya pada wajah, badan, lengan dan tungkai. Yang gejala subyektifnya

yaitu gatal dan terutama jika berkeringat. 1,2 Tinea korporis adalah infeksi

dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik lesi inflamasi maupun non

inflamasi pada glabrous skin (kulit yang tidak berambut) seperti muka, leher,

badan, lengan, tungkai dan gluteal. 2,3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dermatofitosis

2.1.1 Definisi

Dermatofitosis adalah penyakit jamur pada jaringan yang mengandung

zat tanduk, seperti kuku, rambut, dan stratum korneum pada epidermis, yang

disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. 1

2.1.2 Etiologi

Penyebab dermatofitosis adalah jamur golongan dermatofita yang

merupakan golongan jamur yang dapat mencerna keratin dengan enzim

keratinase. Jamur dermatofita itu terdiri atas 3 genus, yaitu : 1,2,3

a. Trichophyton, sp

b. Microsporum, sp

c. Epidermophyton, sp.

Berdasarkan ekologi :

a. Antropofilik : T. rubrum, T. mentagrophytes var.

b. Zoofilik : M. canis, T. mentagrophytes var. granulare

c. Geofilik : M. Gypseum

Spesies dan lokasi infeksi :

a. Rambut : Microsporum, Trichophyton

b. Kulit : Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton

c. Kuku : Trichophyton, Epidermophyton, Microsporum

2
2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi berdasarkan lokasi :

1. Tinea kapitis

Merupakan dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.

2. Tinea barbe

Merupakan dermatofitosis pada dagu dan jenggot.

3. Tinea kruris

Merupakan dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan

kadang-kadang sampai perut bagian bawah.

4. Tinea pedis et manum

Merupakan dermatofitosis pada kaki dan tangan.

5. Tinea unguium

Merupakan dermatofitosis pada kuku jari kaki dan tangan.

6. Tinea korporis

Merupakan dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 6 tinea

diatas.

3
Selain 6 bentuk tinea, dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu :

a. Tinea imbrikata

Merupakan dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan

disebabkan Trichopyton concentricum.

b. Tinea favosa atau favus

Merupakan dermatofitosis yang gambaran klinisnya terbentuk skutula dan

berbau seperti tikus (mousy odor) yang terutama disebabkan oleh Trichopyton

schoenleini.

c. Tinea fasialis, Tinea aksilaris

Merupakan dermatofitosis yang menunjukkan daerah lain seperti wajah

(fasialis) dan ketiak (aksilaris).

d. Tinea sirsinata, arkuata

Merupakan penamaan berdasarkan deskriptif morfologis.

e. Tinea kognito

4
Merupakan dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah

diobati dengan steroid topical kuat.

2.2 Tinea Korporis

2.2.1 Definisi

Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit

kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha. 1,2,3

Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan

tidak berkembang pada jaringan yang hidup. 1,4 Metabolisme dari jamur dipercaya

menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis umumnya tersebar

pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis.1

Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada

iklim yang panas (tropis dan subtropis). 5,6 Ada beberapa macam variasi klinis

dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya.

Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur. 5

2.2.2 Epidemiologi

Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah

yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh

dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton tonsuran

merupakan dermatofit yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan orang

dengan infeksi tinea kapitis antropofilik akan berkembang menjadi tinea

korporis.. Walaupun prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan

Tricophyton tonsuran, Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar

14 % menyebabkan tinea korporis.7

5
Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi

manusia atau hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi

T.rubrum di kaki. Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen seperti

M.canis pada kucing atau anjing. Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan

dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi. 2

Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi

mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis

prevalensinya sama antara pria dan wanita. Tinea korporis mengenai semua orang

dari semua tingkatan usia tapi prevalensinya lebih tinggi pada preadolescen. Tinea

korporis yang berasal dari binatang umumnya lebih sering terjadi pada anak-

anak.7,8 Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropis. 8

Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik

(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofit yang antropofilik

paling sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di

identifikasi (jika mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia. 9

2.2.3 Etiologi

Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti

Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi penyebabnya dapat

ditemukan berdasarkan spesies yang terdapat di daerah tertentu. 1,6 Namun

demikian yang lebih umum menyebabkan tinea korporis adalah T.rubrum,

T.mentagrophytes, dan M.canis.1

2.2.4 Patofisiologi

Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit kemanusia

dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Karena

6
dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi

bagian luar stratum korneum dari kulit. 3

Tabel 1.1 Perjalanan Penyakit berdasarkan cara penularannya

Types Of Dermatophytes Based On Mode Of Transmission

Category Mode of transmission Typical clinical features

Antropofilik Manusia ke manusia Ringan, tanpa inflamasi, kronik

Zoofilik Hewan ke manusia Inflamasi hebat (mungkin pustula dan

vesikel), akut.

Geofilik Tanah ke manusia atau Inflamasi sedang

hewan

Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam

perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi

langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan

umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan

kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan maserasi

juga berpengaruh.4,7,10

Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan

keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat

ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi,

benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan

terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang

mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam

7
jaringan epidermis dan merusak keratinosit. 7,10

Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon

jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm,

yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian

aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan

skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan

bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan

tubuh (imunitas) seluler.7,10

Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadang-

kadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang

normal dapat diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.10

2.2.5 Gambaran Klinik

Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun lebih sering

terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik biasanya terdapat di

daerah yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.6

Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi bulla

yang berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian

tengah cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat membentuk pola

gyrate atau polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritema

sampai pustula, bergantung pada spesies penyebab dan status imun pasien. Pada

penyebab zoofilik umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan

imunosupresif, lesi sering menjadi lebih luas. 6

Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal, dimulai

sebagai lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan membesar,

8
selanjutnya bagian tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang anular akan

mengalami resolusi, dan bentuk lesi menjadi anular.1,5,7,10,11 berupa skuama,

krusta, vesikel, dan papul sering berkembang, khususnya pada bagian tepinya.

Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi pada umumnya

merupakan bercak terpisah satu dengan yang lainnya. 10

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat

lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan

kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea korporis dan kruris. 12

Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton

concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul

berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian

tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu

mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama

yang konsentris. 7

Infeksi dermatofit secara zoofilik atau geofilik lebih sering menyebabkan

respon inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba antropofilik. Umumnya,

pasien HIV-positif atau imunokompromise bisa terlihat dengan abses yang dalam

dan meluas. 7

Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal

ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau

papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas,

skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis

lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan

bahu.13

9
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang

Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada

kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis.

Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga

diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat. 14

Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan

pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi

jamur.6

Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting

untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop

dimana terlihat hifa diantara material keratin. 5

Tabel 1.2 Gambaran efloresensinya sebagai berikut 6

Penyakit jamur Floresensi

Tinea kapitis Hijau, biru kehijauan

Pitiriasis versikolor Kuning keemasan

Bukan Penyakit jamur Effloresensi

Eritasma Merah bata

Obat tetrasiklin Kuning

2.2.7 Diagnosis

Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau

pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 20%, untuk

melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi

spesies jamur penyebab yang lebih akurat.10

10
Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan

mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui

infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini
14
diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh kultur jamur.

2.2.8 Diagnosis Banding

Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan

dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain dermatitis kontak,

dermatitis numularis, dermatitis seboroik, ptiriasis rosea, 6,12 dan psoriasis.6,7,12

Untuk alasan ini, tes laboraturium sebaiknya dilakukan pada kasus dengan lesi

kulit yang tidak jelas penyebabnya.6

Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea

korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit

kepala, lipatan-lipatan kulit, misanya belakang telinga, daerah nasolabial dan

sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi,

yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut

juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan lekukan pada kuku dapat

pula menolong untuk menentukan diagnosis. 12

Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas, tubuh

dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa

heral patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis.

Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya. 12

11
2.2.9 Penatalaksanaan

Menghilangkan faktor predisposisi penting, yaitu dengan langkah promotif

dan preventif. Secara garis besar berupa penjelasan mengenai penyakit agar tidak

residif, pengobatan yang tepat, menghindari faktor risiko dan faktor

predisposisi yang dapat menyebabkan tinea kembali. Hal-hal yang perlu

diedukasi antara lain :

a. Menggunakan pakaian yang menyerap keringat, tipis dan longgar.

b. Mengeringkan tubuh setelah mandi atau berkeringat.

c. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

d. Tidak menggunakan pakaian, handuk maupun selimut bergantian dengan

orang lain, membersihkan pakaian yang terkontaminasi dengan jamur.

e. Jaga daeraah yang pernah atau sedang terinfeksi agar tetap kering,

f. Jika pasien mengalami obesitas maka disarankan untuk menurunkan berat

badan.

g. Menggunakan kaus kaki sebelum mengenakan celana untuk meminimalkan

transfer jamur dari kaki ke sela paha (autoinokulasi). 14

Terapi medikamentosa dibagi menjadi dua, yaitu lokal dan sistemik.

A. Terapi topikal

Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya hidup

pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia dalam

berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan keberhasilan terapi (70-100%).

Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang

digunakan. Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan

klinik yang tinggi.7

12
Berikut obat yang sering digunakan :

1. Topical azol terdiri atas :

a. Econazol 1 %

b. Ketoconazol 2 %

c. Clotrinazol 1%

d. Miconazol 2% dll.

Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-dimetilase

pada pembentukan ergosterol membran sel jamur. 7,15

2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3

epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan ergosterol

membran sel jamur.10 yaitu aftifine 1 %, butenafin 1% Terbinafin 1%

(fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu bertahan hingga 7 hari

sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-turut.7,15

3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat

masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi tinggi merubah

permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang bersifat fungisidal dan

fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta berspektrum luas. 7

4. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan pada

regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. Tetapi steroid hanya

diberikan pada beberapa hari pertama dari terapi. 5,7

B. Terapi sistemik

Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology

menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus

hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi

13
kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran

terhadap OAJ topikal. 14

1. Griseofulvin

Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap baku emas

pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton, Microsporum,

Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat mitosis pada stadium

metafase. 12

2. Ketokonazol

Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik,

termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam. 12

3. Flukonazol

Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun absorbsi

tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung. 12

4. Itrakonazol

Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas, bersifat

fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik maupun jamur

dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat diminum bersama dengan

makanan. 12

5. Amfosterin B

Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh Streptomyces

nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah akan menghambat

pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada

pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan jiwa dan ti dak sembuh

14
dengan preparat azol.12

2.2.10 Prognosis

Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan

tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau

allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik.14

15
BAB III

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

a. Nama : Nn. S

b. Jenis Kelamin : Perempuan

c. Umur : 19 tahun

d. Pekerjaan/pendidikan : Mahasiswa

e. Alamat : Komplek Taruko I

2. Latar Belakang Sosial - Ekonomi – Demografi – Lingkungan Keluarga

a. Status perkawinan : Belum menikah

b. Jumlah anak : Tidak ada

c. Status ekonomi keluarga : Berasal dari golongan ekonomi sedang

d. KB : Tidak ada

e. Kondisi Rumah :

- Rumah permanen dengan lantai semen.

- Ventilasi rumah baik, jumlah jendela cukup, pencahayaan matahari ke

dalam rumah baik.

- Sumber air untuk mencuci dan mandi dari PDAM.

- Sumber air untuk minum berasal dari air galon.

- Sampah dibuang ke tempat pembuangan sampah umum.

Kesan ; Higiene dan sanitasi baik.

f. Kondisi lingkungan keluarga

- Pasien tinggal bersama dengan ayah, ibu, nenek, ke 2 adiknya.

16
3. Aspek Psikologis di Keluarga

Hubungan dengan anggota keluarga baik.

4. Keluhan Utama

Bercak - bercak merah yang terasa gatal pada pergelangan tangan kiri dan

pergelangan kaki kanan sejak 10 hari yang lalu.

5. Autoanamnesis

Riwayat Penyakit Sekarang :

 Muncul bercak - bercak merah yang terasa gatal pada pergelangan tangan

kiri dan pergelangan kaki kanan sejak 10 hari yang lalu.

 Awalnya bercak tersebut muncul di daerah pergelangan kaki kanan, karena

terasa gatal kemudian pasien menggaruknya dan bercak semakin meluas dan

mucul bercak di pergelangan tangan seminggu yang lalu.

 Bercak dirasakan semakin gatal ketika udara panas dan berkeringat.

 Pasien memelihara 3 ekor kucing kampung dan sering bermain serta tidur

dengan kucingnya

 Pasien memandikan kucingnya 1-2 kali per bulan tanpa sabun, hanya

dibasahi dengan air. Pasien tidak mengetahui apakah kucingnya memiliki

kelainan kulit seperti bulu-bulu yang rontok dan kurap atau tidak.

 Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun, dan keramas 2-3 kali per

minggu.

 Riwayat berkebun atau kontak dengan tanah tidak ada, pasien selalu

memakai sendal/sepatu jika keluar rumah.

 Riwayat menggunakan pakaian berlapis - lapis tidak ada.

 Keluhan kuku, rambut, selangkangan dan daerah kemaluan tidak ada.

17
 Pasien memiliki aktivitas yang padat dan sering bayak pikiran akhir-akhir

ini karena tugas di kampusnya.

 Riwayat demam, batuk atau nyeri tenggorokan sebelumya tidak ada.

 Riwayat mengonsumsi obat-obatan jangka panjang tidak ada.

Riwayat Penyakit Sebelumnya

 Riwayat bercak merah dan gatal sebelumnya tidak ada.

 Riwayat alergi obat, makanan, debu, bersin-bersih di pagi hari, asma tidak

ada.

Riwayat Keluarga

 Tidak ada anggota keluarga yang terkena penyakit seperti pasien.

 Riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, penyakit

hati dan ginjal tidak ada.

Riwayat Pengobatan

Pasien tidak pernah berobat maupun menggunakan obat untuk mengatasi

keluhannya.

6. Pemeriksaan Fisik

a. Status Generalis

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Komposmentis kooperatif

Nadi : 72x/ menit

18
Nafas : 16x/menit

Suhu : 36,6oC

BB : 48 kg

TB : 153 cm

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak

ikterik

Kulit : Status dermatologikus

Paru : Suara nafas bronkovesikular, Rh -/-, Wh -/-

Jantung : Irama reguler, bising (-), Gallop (-)

Abdomen : Tidak tampak membuncit, BU (+) normal

Punggung : Sudut kostovertebra: nyeri tekan (-), nyeri

ketok (-)

Genitalia : Tidak dilakuksn pemeriksaan

Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas : Akral teraba hangat, crt<2 detik, edema (-)

b. Status Lokalis

Status Dermatologikus :

 Lokasi : pergelangan tangan kiri, pergelangan kaki kanan

 Distribusi : regional

 Bentuk : Bulat

 Susunan : polisiklik

 Batas : tegas

 Ukuran : numular-plakat

19
 Efloresensi : makula eritem dengan pinggir lesi aktif, bagian tengah

menyembuh (central healing) dengan skuama kasar diatasnya.

7. Pemeriksaan Anjuran

Kerokan Kulit dengan KOH 10 %

8. Diagnosis Kerja

Tinea korporis

9. Diagnosis Banding

 Ptiriasis rosea

 Psoriasis

 Dermatitis numularis

20
10. Manajemen

a. Promotif

a) Edukasi kepada pasien bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur

di mana penyakit ini berhubungan dengan higienitas yang rendah,

kelembaban yang tinggi, kegiatan (kontak dengan hewan), sistem imun

tubuh dan adanya penyakit dasar. Hal tersebut yang menjadi kondisi-

kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan jamur, pada pasien ini

berkaitan dengan kucing pelihaaannya dan aktivitas yang padat serta stress

yang dapat menurunkan sistem imunnya.

b) Berikan edukasi bahwa penyakit ini menular, dapat ditularkan melalui

manusia (antropofilik), binatang (zoofilik), maupun tanah (geofilik) yang

mengandung elemen jamur, oleh sebab itu pasien dilarang untuk

menggaruk kulitnya karena elemen jamur tersebut bisa menempel di kulit

sehingga dapat menularkan ke bagian tubuh yang lain (antropofilik).

Selain itu beritahukan kepada pasien bahwa penggunaan pakaian dan

handuk bersamaan dengan orang lain dapat menularkan penyakitnya

(antropofilik). Untuk zoofilik, diterangkan bahwa penularannya juga dapat

terjadi dari binatang peliharaan seperti kucing yang mempunyai kelainan

kulit dengan gambaran bulu-bulu rontok dan ada bintik-bintik pada kulit

atau kurap. Pasien disarankan untuk memandikan kucingnya dengan

bersih dan memeriksakan apakah kucingnya memiliki kelainan kulit atau

tidak.

c) Apabila bagian yang sakit terasa gatal baikya tidak digaruk, namun

ditepuk – tepuk saja agar tidak menyebar lebih luas.

21
d) Berikan edukasi kepada pasien bahwa pengobatan tinea ini membutuhkan

waktu yang lama sekitar 4-6 minggu, dan tidak boleh putus obat.

Kemudian sarankan kontrol berobat setelah 7 hari pengobatan untuk

melihat kemajuan hasil pengobatannya.

b. Preventif

1. Edukasi kepada keluarga pasien untuk meningkatkan kebersihan per

orangan dan lingkungan, antara lain biasakan mandi 2 kali sehari dengan

menggunakan sabun per orang dan menggosok anggota badan dengan baik

serta keramas secara rutin. Membersihkan serta memandikan kucing

peliharaannya secara rutin dan menggunakan sabun serta tidak berkontak

erat dengan kucing yang memiliki kelainan kulit.

2. Tidak menggunakan pakaian dan handuk bersamaan dengan anggota

keluarga.

3. Mengganti pakaian jika lembab

4. Hindari pemakaian pakaian yang berlapis-lapis

5. Usahakan badan tetap kering

6. Hindari menggaruk-garuk gatal dengan tangan untuk mencegah penularan

ke bagian tubuh yang lain.

7. Gunting kuku karena kuku yang panjang memudahkan terjadinya lecet pada

kulit akibat garukan dan memudahkan jamur berkembang di bagian tubuh

yang luka.

8. Meningkatkan sistem imun tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan

hindari keadaan yang menyebabkan stress.

22
c. Kuratif

Sistemik : Ketokonazol 200 mg  1x1 pada pagi hari setelah makan selama

10 hari

Chlorphenyramine maleat (CTM) 4mg  saat terasa gatal 3x1.

Topikal : Ketokonazol krim 2%  dioleskan pada lesi 2-3x1 setelah mandi

dan dilebihkan 1 cm dari pinggir lesi.

d. Rehabilitatif

1. Jaga kebersihan lingkungan dengan memandikan hewan peliharaannya

secara bersih.

2. Kontrol teratur ke puskesmas karena pengobatan memerlukan waktu yang

lama.

Dinas Kesehatan Kota Padang


Puskesmas Kuranji
dr.xxx
Padang, 15 Januari 2018
R/ Tab Ketokonazol 200 mg No.X
S1dd tab 1
R/ Tab CTM 4 mg no.X
Sprn max 3dd tab 1
R/ tube Ketokonazol 2% no.II
Sue

Pro: Nn. S
Umur: 19 th
Alamat: Komplek Taruko 1

23
BAB IV
DISKUSI

Telah datang seorang perempuan berusia 19 tahun ke Puskesmas Kuranji

pada tanggal 15 Januari 2018, dengan keluhan utama muncul bercak-bercak

kemerahan yang terasa gatal pada pergelangan tangan kiri dan pergelangan kaki

kanan sejak10 hari yang lalu. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik

pada pasien ini, didapatkan gejala dan tanda yang mengarahkan diagnosis pada

tinea korporis. Pada kasus ini pasien mengeluhkan adanya bercak-bercak merah

yang gatal pada pergelangan tangan kiri dan kaki kanan sejak 10 hari yang lalu.

Awalnya bercak tersebut muncul di daerah pergelangan kaki kanan, karena terasa

gatal kemudian pasien menggaruknya dan bercak semakin meluas dan kemudian

mucul bercak di pergelangan tangan seminggu yang lalu. Keluhan gatal dirasakan

semakin bertambah pada saat cuaca panas dan berkeringat. Pada pemeriksaan

dermatologi ditemukan ruam kulit berupa makula eritem dengan pinggir lesi lebih

aktif dan bagian tengah menyembuh (central healing) disertai skuama kasar

diatasnya. Lesi ditemukan pada pergelangan tangan kiri dan pergelangan kaki

kanan dengan bentuk bulat, susunan polisiklik, batas tegas, ukuran numular

sampai plakat. Hal ini sesuai dengan gambaran pada penyakit tinea korporis.

Terdapat beberapa diagnosis banding yang dapat merancukan diagnosis

tinea korporis pada pasien ini diantaranya ptiriasis rosea, psoriasis dan dermatitis

numularis. Ptiariasis rosea memiliki distribusi kelainan kulit yang simetris dan

terbatas pada bagian tubuh proksimal dari anggota badan, selain itu ditemukan

adanya herald patch pada ptiriasis rosea yang membedakan penyakit ini dari tinea

korporis. Rasa gatal yang dirasakan pada ptiriasis rosea juga tidak begitu berat

24
dibandingkan tinea korporis dan disertai dengan skuama halus diatasnya pada

ptiriasis sedangkan pada tinea korporis skuama kasar diatasnya. Psoriasis dapat

dikenali dari kelainan kulit pada tempat predileksinya, yaitu daerah ekstensor,

misalnya pada lutut, siku dan punggung. Lesi kulit yang ditemukan pada psoriasis

dapat berupa plak eritem dengan skuama putih kasar dan tebal. Pada dermatitis

numularis plak biasanya berbentuk sirkular, lesi banyak ditemukan di tungkai

bawah atau punggung tangan, namun biasanya lesi bersifat soliter.

Faktor predisposisi yang berperan pada pasien ini diduga dengan

berkontak dengan jamur yang berasal dari hewan yaitu golongan zoofilik. Pada

kasus ini kucing peliharaan yang selalu berkontak dengan pasien saat bermain

maupun tidur bersama berpotensi untuk menularkan jika terdapat jamur yang

tumbuh pada kulitnya. Pasien tidak mengetahui secara pasti apakah kucing

peliharaannya memiliki kelainan kulit atau tidak seperti bulu yang rontok dan

kurap, namun mengingat pasien hanya memandikan kucingnya 1-2 kali dalam

satu bulan dan tanpa sabun pembersih, besar kemungkinan kucingnya memang

memiliki jamur yang mempel pada tubuhnya dan berpotensi menularkan pada

manusia. Ditambah dengan pasien yang seorang mahasiswa dengan aktifitas yang

padat serta akhir-akhir ini banyak tugas dari kampusnya memungkinkan sistem

imunnya menurun sehingga mudah untuk terkena infeksi jamur pada kulitnya.

Pasien juga menggaruk bagian lesi kulit yang gatal pada kaki awalnya

sehingga yang tadinya kecil menjadi tambah besar dan luas dan muncul juga di

bagian lengan. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa gejala

klinis dari tinea korporis yaitu lesi terdapat di lokasi selain kulit dan rambut

kepala (tinea kapitis), dagu dan jenggot (tinea barbe), genito-krural, sekitar anus,

25
dan bokong (tinea kruris), pada kaki dan tangan (tinea pedis et manum), dan pada

kuku jari dan tangan (tinea unguium) dan lesi awalnya berupa berupa bercak

eritem kecil, berskuama, dapat berkrusta atau vesikuler, lalu menyebar dengan

batas tegas. Diagnosa kerja pada pasien ini adalah Tinea Korporis. Pada kasus ini

seharusnya dilakukan pemeriksaan anjuran kerokan kulit dengan KOH 10%,

namun karena keterbatasan alat dan bahan maka pemeriksaan tersebut tidak

dilakukan. Jika dilakukan pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH tersebut akan

didapatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan/ atau artrospora.

Penatalaksanaan pada pasien ini secara 2 cara yaitu secara umum dan

khusus. Secara umum yaitu menjaga higienis perseorangan, mengurangi

kelembaban badan dengan cara menghindari pemakaian pakaian berlapis dan

tidak menyerap keringat, tidak menggunakan handuk dan pakaian pribadi secara

bersama-sama. Terapi khusus yang diberikan pada kasus ini diberikan secara

topical dan oral. Pengobatan untuk tinea korporis secara topikal dapat diberikan

salah satu dari golongan imidazol, allilamin, sikloklopirosolamin dan

kortikosterois topikal. Sedangkan untuk sistemik yang biasanya digunakan yaitu

griseofulvin, ketokonazol, flukonazol, itrakonazol dan amfoterisin B. Pasien

diberikan obat ketoconazole salf 2% dengan pengolesan 2-3 x per hari, dengan

melebihkan pengolesan 1 cm dipinggir lesi. Ketokonazol merupakan turunan

imidazol sintetik yang bersifat lipofilik dan larut dalam air pada pH asam.

Ketokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofita, pitiriasis versikolor,

kutaneus kandidiasis, dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik. Obat

ini bekerja dengan cara menghambat 14-α-dimetilase pada pembentukan

ergosterol membrane jamur. Pasien ini juga diberikan ketokonazol oral yang

26
bersifat fungistatik. Obat ini bekerja dengan menghambat kerja enzim sitokrom

p450 pada membran sel jamur, sehingga mengganggu sintesa ergosterol yang

merupakan komponen penting dari membran sel jamur sehingga menyebabkan

kerusakan pada membran sel jamur. Pada pasien diberikan ketokonazol 200 mg

1x per hari selama 10 hari. Selain itu pasien juga diberi antihistamin CTM 4 mg

dengan dosis 3x1 atau minum hanya bila gatal muncul, dimana ini bertujuan

untuk penanganan simptomatis yaitu mengurangi keluhan gatal.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Rasad A. Ilmu penyakit kulit kelamin. Jakarta : FKUI; 2008.

2. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.

3. Hainer . dermatophyte infections. American family physician. 2003.

4. Straten VMR, Hossain MA, Ghannoum MA. Cutaneous infections:

dermatophytosis, onchomycosis, and tinea versicolor. Infection disease

clinics of north america. 2003.

5. Patel GA, Wiederkehr M, Cshwartz RA. Tinea cruris in children. Cutis.

2009

6. Konsil kedokteran indonesia. Standar kompetensi dokter indonesia.

Edisi ke 2. Jakarta: konsil kedokteran inodnesia:2012.

7. Mila. 2011. Tinea cruris. http://doktercute.blogspot.com/2011/01/tinea-

cruris.html (diakses tanggal 25 Juli 2017).

8. Price SA,Wilson L.M. Patofisiologi. Edisi Keenam. 2006. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

9. Adiguna MS. Update teratment in inguinal intertrigo and its

differential. Denpasar: fakultas kedokteran universitas udayana: 2011.

10. Abdelal EB, Shalaby MA, Abdo MH, Alzafarany MA, Abubakar AA.

Detection of dermatophytes in clinically normal extracrural sites in

patients with tinea cruris. The gulf journal of dermatology and

venereology. 2013.

28
11. Sarika G, Purva A, Rahul R, Saksham G. Prevalence of dermatophytic

infection and determining sensitivity of diagnostic procedures.

International journal of pharmacy and pharmaceutical science. 2014.

12. Noble SL, Forbes RC, Stamm PL. Diagnostic and management of

commond tinea infections. American family phycisian. 1998.

13. Hidayati NA, Suyono S, Hinda D, Sandra E. Mikosis suerficial di divisi

mikologi unit rawat jalan penyakit kulit dan kelamin RSUD Dr.

soetomo surabaya tahun 2003-2005. Surabaya: departement kesehatan

kulit dan kelamin fakultas kedokteran universitas airlangga : 2009.

14. Risdianto A, Kadir D, Amin S. Tinea corporis and tinea cruris cause by

trichophyton mentagrophytes type granular in ashtma bronchiale

patient. Departement of dermatovenereology universitas hasanuddin.

2013.

29