Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Landasan Teoritis Penyakit


1. Defenisi
Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif
dan irreversibel (tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit), sehingga menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Muhammad, 2012).
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal dalam skala
kecil. Itu merupakan proses normal bagi setiap manusia seiring
bertambahnya usia. Namun hal ini tidak menyebabkan kelainan atau
menimbulkan gejala karena masih dalam batas-batas wajar yang dapat
ditolerir ginjal dan tubuh. Tetapi karena berbagai sebab, dapat terjadi
kelainan di mana penurunan fungsi ginjal terjadi secara progresif sehingga
menimbulkan berbagai keluhan dari ringan sampai berat. Kondisi ini
disebut gagal ginjal kronik (Colvy, 2010).
National Kidney Foundation (NKF) mendefenisikan dampak dari
kerusakan ginjal adalah sebagai kondisi mikroalbuminuria/over
proteinuria, abnormalitas sedimentasi, dan abnormalitas gambaran ginjal.
Oleh karena itu, perlu diketahui klasifikasi dari derajat gagal ginjal kronis
untuk mengetahui tingkat prognosanya.
Stage Deskripsi GFR (ml/menit/1.73 m2)
1 Kidney damage with normal or ≥ 90
increase of GFR
2 Kidney damage with mild 60-89
decrease of GFR
3 Moderate decrease of GFR 30-59
4 Severe decrease of GFR 15-29
5 Kidney Failure < 15 (or dialysis)
Sumber: McClellan (2006), Clinical Management of Chronic Kidney
Disease (Pranata, 2014).

1
2. Etiologi
Menurut Muttaqin Arif (2011), gagal ginjal kronik merupakan suatu
keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel dari
berbagai penyebab :
a. Infeksi : pielonefritis kronik.
b. Penyakit peradangan : glomerulonefritis.
c. Penyakit vaskular hipertensif : nefroskeloris benigna, nefrosklerosisi
maligna, stenosis arteria renalis.
d. Gangguan jaringan penyambung : lupus eritematosus sistemik,
poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.
e. Gangguan kongenital dan herediter : penyakit ginjal polikistik dan
asidosis tubulus ginjal.
f. Penyakit metabolik : diabetes melitus, gout, hiperparatiroidisme dan
amiloidosis.
g. Nefropati toksik : penyalahgunaan analgesik dan nefropati timbal.
h. Nefropati obstruktif : saluran kemih bagian atas (kalkuli, eoplasma,
fibrosis retroperitoneal) dan saluran kemih bagian bawah (hipertrofi
prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih
dan uretra).

3. Patofisiologi
Fungsi ginjal menurun karena produk akhir metabolisme protein
tertimbun dalam darah, sehingga mengakibatkan terjadinya uremia dan
mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produksi
sampah maka gejala semakin berat (Nursalam dan Batticaca, 2012).
Gangguan clearance renal terjadi akibat penurunan jumlah glomerulus
yang berfungsi. Penurunan laju filtrasi glomerulus dideteksi dengan
memeriksa clearance kreatinin urine tampung 24 jam yang menunjukan

2
penurunan clearance kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum
(Nursalam dan Batticaca, 2012).
Retensi cairan dan natrium dapat mengakibatkan edema, CHF, dan
hipertensi. Hipotensi dapat terjadi karena aktivitas aksis renin angitensin
dan kerja sama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. Kehilangan
garam mengakibatkan risiko hipotensi dan hipovolemia. Muntah dan diare
menyebabkan perpisahan air dan natrium sehingga status uremik
memburuk (Nursalam dan Batticaca, 2012).
Asidosis metabolik akibat ginjal tidak mampu mensekresi asam (H⁺)
yang berlebihan. Penurunan sekresi asam akibat tubulus ginjal tidak
mampu mensekresi ammonia dan mengabsorpsi natrium bikarbonat
(HCO3). Penurunan ekskresi fosfat dan asam organik lain terjadi
(Nursalam dan Batticaca, 2012).
Anemia terjadi akibat produksi eritropoietin yang tidak memadai,
memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi, dan kecendurungan
untuk mengalami perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari
saluran pencernaan. Eritropoietin yang diproduksi oleh ginjal,
menstimulasi sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah, dan
produksi eritropoietin menurun sehingga mengakibatkan anemia berat
yang disertai keletihan, angina, dan sesak napas (Nursalam dan Batticaca,
2012).
Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat merupakan gangguan
metabolisme. Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan
timbal balik. Jika salah satunya meningkat, maka fungsi yang lain akan
menurun. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal, maka
meningkatkan kadar fosfat serum, dan sebaliknya, kadar serum kalsium
menurun. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi
parathormon, sehingga kalsium ditulang menurun, menyebabkan
terjadinya perubahan tulang dan penyakit tulang. Demikian juga vitamin D
(1, 25 dihidrokolekalsiferol) yang dibentuk di ginjal menurun seiring
perkembangan gagal ginjal (Nursalam dan Batticaca, 2012).

3
4. Manifestasi Klinik
Menurut Pranata (2014), manifestasi klinik gagal ginjal kronik adalah
sebagai berikut :
a. Ginjal dan gastrointestinal
Sebagai akibat dari hiponatremia maka timbul hipotensi, mulut kering,
penurunan turgor kulit, kelemahan, fatigue, dan mual. Kemudian
terjadi penurunan kesadaran (samnolen) dan nyeri kepala hebat.
Dampak dari peningkatan kalium adalah peningkatan iritabilitas otot
dan akhirnya otot mengalami kelemahan. Kelebihan cairan yang tidak
terkompensasi akan mengakibatkan asidosis metabolic. Tanda paling
khas adalah terjadinya penurunan urine output dengan sedimentasi
yang tinggi.
b. Gangguan pada system gastrointestinal
1) Anoreksia, nausea, dan vomitus yang berhubungan dengan
gangguan metabolisme protein didalam usus, terbentuknya zat-zat
toksik akibat metabolisme bakteri usus seperti ammonia dan metal
gaunidin, serta sembabnya mukosa.
2) Fetor uremik disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur
diubah oleh bakteri di mulut menjadi ammonia sehingga nafas
berbau ammonia.
3) Cegukan (hiccup) sebabnya karena kondisi uremia (kadar urea
dalam darah mengalami peningkatan).
b. Gangguan sistem hematologi dan kulit
1) Anemia karena kekurangan produksi eritropoetin.
2) Kulit pucat dan kekuningan akibat anemia dan penimbunan
urokrom.
3) Gatal-gatal akibat toksis uremik
4) Trombositopenia (penurunan kadar trombosit dalam darah).
5) Gangguan fungsi kulit (fagositosis dan kematosis berkurang).
c. Sistem saraf dan otot
1) Restless leg syndrome, klien merasa pegal pada kakinya sehingga
selalu digerakkan.

4
2) Burning feet syndrome, klien merasa semutan dan seperti terbakar,
terutama ditelapak kaki.
3) Ensefalopati metabolik, klien tampak lemah, tidak bisa tidur,
gangguan konsentrasi, tremor, mioklonus, kejang.
4) Miopati, klien tampak mengalami kelemahan dan hipotrofi otot-
otot terutama otot-otot ekstremitas proximal.
d. Sistem kardiovaskular
1) Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam
2) Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi pericardial,
penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini,
dan gagal jantung akibat penimbunan cairan
3) Gangguan irama jantung akibat aterosklerosis dini, gangguan
elektrolit, dan klasifikasi metastatik
4) Edema akibat penimbunan cairan
e. Sistem endokrin
1) Gangguan seksual/libido; fertilitas dan penurunan seksual pada
laki-laki serta gangguan menstruasi pada wanita.
2) Gangguan metabolisme glukosa retensi insulin dan gangguan
sekresi insun.

5. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik


Berikut ini adalah pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk
menegakkan diagnose gagal ginjal kronik (Muttaqin, 2011):
a. Pemeriksaan Laboratorium
1. Laju Endap Darah: meninggi yang diperberat oleh adanya anemia,
dan hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah
retikulosit yang rendah.
2. Ureum dan kreatinin: Meninggi, biasanya perbandingan antara
ureum dan kreatinin kurang lebih 20:1. Perbandingan meninggi
akibat pendarahan saluran cerna, demam, luka bakar luas,
pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan ini

5
berkurang ketika ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah
protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
3. Hiponatremi: Umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia:
biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan
menurunya dieresis
4. Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya
sintesis vitamin D3 pada GGK.
5. Phosphate alkaline: meninggi akibat gangguan metabolisme tulang,
terutama isoenzim fosfatase lindi tulang.
6. Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia: umunya disebabkan
gangguan metabolisme dan diet rendah protein.
7. Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolisme karbohidrat
pada gagal ginjal (resistensi terhadap pengaruh insulin pada
jaringan perifer).
8. Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan
peninggian hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
9. Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph
yang menurun, BE yang menurun, HCO3 yang menurun,
PCO2 yang menurun, semuanya disebabkan retensi asam-asam
organic pada gagal ginjal.
b. Pemeriksaan EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda
perikarditis (misalnya voltase rendah), aritmia dan gangguan elektrolit
(hiperkalemia, hipokalsemia).
c. Ultrasonografi (USG)
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan
parenkim ginjal, anatomi sistem, pelviokalises, ureter proksimal,
kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari
adanya factor yang reversibel seperti obstruksi oleh karena batu atau
masa tumor, juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal
yang lisut). USG ini sering dipakai oleh karena non-infasif, tak
memerlukan persiapan apapun.

6
d. Foto Polos Abdomen
Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi akan memperburuk fungsi
ginjal, menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau
obstruksi lain. Foto polos yang disertai tomogram memberi keterangan
yang lebih baik.
e. Pielografi Intra-Vena (PIV)
Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat
memerlukan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko
penurunan faal ginjal lebih berat, terutama pada usia lanjut, diabetes
melitus, dan nefropati asam urat. Saat ini sudah jarang dilakukan pada
GGK. Dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pyelography,
untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter.
f. Pemeriksaan Pielografi Retrograd
Dilakukan bila dicurigai ada obsstruksi yang reversibel.
g. Pemeriksaan Foto Dada
Dapat terlihat tanda-tanda bendungan paru akibat kelebihan air (fluid
overload), efusi pleura, kardiomegali dan efusi pericardial. Tak jarang
ditemukan juga infeksi spesifik oleh karena imunitas tubuh yang
menurun.
h. Pemeriksaan Radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi (terutama falang/jari), dan kalsifikasi metastatik.

5. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


Menurut Muttaqin (2011), Penanganan dan pengobatan penyakit gagal
ginjal kronik adalah sebagai berikut :
1. Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara
mencangkokkan sebuah ginjal sehat yang diperoleh dari donor. Ginjal
yang dicangkokkan ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi ginjal
yang sudah rusak. Orang yang menjadi donor harus memiliki
karakteristik yang sama dengan penderita. Kesamaan ini meliputi
golongan darah termasuk resus darahnya, orang yang baik menjadi

7
donor biasanya adalah keluarga dekat. Namun donor juga bisa
diperoleh dari orang lain yang memiliki karakteristik yang sama.
Dalam proses pencangkokkan kadang kala kedua ginjal lama, tetap
berada pada posisinya semula, tidak dibuang kecuali jika ginjal lama
ini menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.
Namun, transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus
penyakit ginjal kronik. Individu dengan kondisi seperti kanker, infeksi
serius, atau penyakit kardiovaskuler (pembuluh darah jantung) tidak
dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal. Hal ini dikarenakan
kemungkinan terjadinya kegagalan transplantasi yang cukup tinggi.
Transplantasi ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal dicangkokkan
dapat bekerja sebagai penyaring darah sebagaimana layaknya ginjal
sehat dan pasien tidak lagi memerlukan terapi cuci darah.
2. Dialisis (Cuci darah)
Dialisis atau dikenal dengan nama cuci darah adalah suatu metode
terapi yang bertujuan untuk menggantikan fungsi/kerja ginjal yaitu
membuang zat-zat sisa dan kelebihan cairan dari tubuh. Terapi ini
dilakukan apabila fungsi kerja ginjal sudah sangat menurun (lebih dari
90%) sehingga tidak lagi mampu untuk menjaga kelangsungan hidup
individu, maka perlu dilakukan terapi. Selama ini dikenal ada 2 jenis
dialisis :
1) Hemodialisis (cuci darah dengan mesin dialiser)
Hemodialisis atau HD adalah dialisis dengan menggunakan mesin
dialiser yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Pada prose ini,
darah dipompa keluar dari tubuh, masuk kedalam mesin dialiser.
Di dalam mesin dialiser, darah dibersihkan dari zat-zat racun
melalui proses difusi dan ultrafiltrasi oleh dialisat (suatu cairan
khusus untuk dialisis), lalu setelah darah selesai dibersihkan,
darah dialirkan kembali kedalam tubuh. Proses ini dilakukan 1-3
kali seminggu di rumah sakit dan setiap kalinya membutuhkan
waktu sekitar 2-4 jam.
2) Dialisis Peritoneal (cuci darah melalui perut)

8
Terapi kedua adalah dialisis peritoneal untuk metode cuci darah
dengan bantuan membran peritoneum (selaput rongga perut).
Jadi, darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan
dan disaring oleh mesin dialisis.
c. Koreksi hiperkalemi
Mengendalikan kalium darah sangat penting karena hiperkalemi dapat
menimbulkan kematian mendadak. Hal yang pertama harus diingat
adalah jangan menimbulkan hiperkalemia. Selain dengan pemeriksaan
darah, hiperkalemia juga dapat didiagnosis dengan EEG dan EKG.
Bila terjadi hiperkalemia, maka pengobatannya adalah dengan
mengurangi intake kalium, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian
infuse glukosa.
d. Koreksi anemia
Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meninggikan
Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan bila ada indikasi yang kuat,
misal pada adanya insufisiensi koroner.
e. Koreksi asidosis.
Pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari.
Natrium bikarbonat dapat diberikan peroral atau parenteral.
Hemodialisis dan dialysis peritoneal dapat juga mengatasi asidosis.
f. Pengendalian hipertensi
Pemberian obat beta bloker, alpa metildopa, dan vasodilator
dilakukan. Mengurangi intake garam dalam mengendalikan hipertensi
harus hati-hati karena tidak semua gagal ginjal disertai retensi natrium
g. Obat-obatan
1) Diuretik adalah obat yang berfungsi untuk meningkatkan
pengeluaran urin. Obat ini membantu pengeluaran kelebihan
cairan dan elektrolit dari tubuh, serta bermanfaat membantu
munurunkan tekanan darah.
2) Obat antihipertensi untuk mempertahankan agar tekanan darah
tetap dalam batas normal dan dengan demikian akan

9
memperlambat proses kerusakan ginjal yang diakibatkan oleh
tingginya tekanan darah.
3) Eritropoietin
Gagal ginjal juga menyebabkan penderita mengalami anemia. Hal
ini terjadi karena salah satu fungsi ginjal yaitu menghasilkan
hormon eritropoietin (Epo) terhambat. Hormon ini bekerja
merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah
merah. Kerusakan fungsi ginjal menyebabkan produksi hormon
Epo mengalami penurunan sehingga pembentukan sel darah
merah menjadi tidak normal, kondisi ini menimbulkan anemia
(kekurangan darah). Oleh karena itu, Epo perlu digunakan untuk
mengatasi anemia yang diakibatkan oleh PGK. Epo biasanyan
diberikan dengan cara injeksi 1-2 kali seminggu.
4) Zat besi
Anemia juga disebabkan karena tubuh kekurangan zat besi. Pada
penderita gagal ginjal konsumsi zat besi (Ferrous Sulphate)
menjadi sangat penting. Zat besi membantu mengtasi anemia.
Suplemen zat besi biasanya diberikan dalam bentuk tablet
(ditelan) atau injeksi (disuntik).
5) Suplemen kalsium dan kalsitriol
Pada penderita gagal ginjal kronik, kadar kalsium dalam darah
menjadi rendah, sebaliknya kadar fosfat dalam darah menjadi
terlalu tinggi. Untuk mengatasi ketidakseimbangan mineral ini,
diperlukan kombinasi obat/suplemen yaitu kalsitriol (vitamin D
bentuk aktif) dan kalsium.

6. Komplikasi
Menurut Pranata (2014), komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit
gagal ginjal kronik adalah:
1) Penyakit tulang
Penurunan kadar kalsium (hipokalsemia) secara langsung akan
mengakibatkan dekalsifikasi matriks tulang, sehingga tulang akan

10
menjadi rapuh (osteoporosis) dan jika berlangsung lama akan
menyebabkan fraktur patologis.
2) Penyakit kardiovaskular
Ginjal sebagai kontrol sirkulasi sistemik dan berdampak secara
sistemik berupa hipertensi, kelainan lipid, intoleransi glukosa, dan
kelainan kemodinamik (sering terjadi hipertropi ventrikel kiri).
3) Anemia
Selain berfungsi dalam sirkulasi, ginjal juga berfungsi dalam
rangkaian hormonal (endokrin). Sekresi eritropoetin yang mengalami
difisiensi di ginjal akan mengakibatkan penurunan hemoglobin.
4) Disfungsi seksual
Dengan gangguan sirkulasi pada ginjal, maka libido sering mengalami
penurunan dan terjadi impotensi pada pria. Pada wanita, dapat terjadi
hiperprolaktinemia.

B. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian pada klien gagal ginjal kronis sebenarnya hampir sama
dengan klien gagal ginjal akut, namun disini pengkajian lebih penekanan
pada support system untuk mempertahankan kondisi keseimbangan dalam
tubuh (hemodinamically process). Dengan tidak optimalnya/gagalnya
fungsi ginjal, maka tubuh akan melakukan upaya kompensasi selagi dalam
batas ambang kewajaran. Tetapi, jika kondisi ini berlanjut (kronis), maka
akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis yang menandakan
gangguan sistem tersebut (Pranata, 2014). Berikut ini adalah pengkajian
keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronis:
a. Identitas pasien
Tidak ada spesifikasi khusus untuk kejadian gagal ginjal, namun laki-
laki sering memiliki resiko lebih tinggi terkait dengan pekerjaan dan
pola hidup sehat. Gagal ginjal kronis merupakan periode lanjut dari
insiden gagal ginjal akut, sehingga tidak berdiri sendiri.
b. Riwayat kesehatan

11
1) Keluhan utama
Keluhan sangat bervariasi, terlebih jika terdapat penyakit sekunder
yang menyertai. Keluhan bisa berupa urine output yang menurun
(oliguria) sampai pada anuria, penurunan kesadaran karena
komplikasi pada sistem sirkulasi-ventilasi, anoreksia, mual dan
muntah, diaphoresis, fatigue, napas berbau urea, dan pruritus.
Kondisi ini dipicu oleh karena penumpukan (akumulasi) zat sisa
metabolisme/toksin dalam tubuh karena ginjal mengalami
kegagalan filtrasi.
2) Riwayat penyakit sekarang
Pada klien dengan gagal ginjal kronis biasanya terjadi penurunan
urine output, penurunan kesadaran, perubahan pola napas karena
komplikasi dari gangguan sistem ventilasi, fatigue, perubhana
fisiologi kulit, bau urea pada napas. Selain itu, karena berdampak
pada proses metabolism (sekunder karena intoksikasi), maka akan
terjadi anoreksia, nausea dan vomit sehingga beresiko untuk
terjadinya gangguan nutrisi.
3) Riwayat penyakit dahulu
Gagal ginjal kronik dimulai dengan periode gagal ginjal akut
dengan berbagai penyebab (multikausa). Oleh karena itu, informasi
penyakit terdahulu akan menegaskan untuk penegakan masalah.
Kaji riwayat penyakit ISK, gagal jantung, penggunaan obat
berlebihan (overdosis) khususnya obat yang bersifat nefrotoksik,
BPH dan lain sebagainya yang mampu mempengaruhi kerja ginjal.
Selain itu, ada beberapa penyakit yang langsung
mempengaruhi/menyebabkan gagal ginjal yaitu diabetes mellitus,
hipertensi, batu saluran kemih (urolithiasis).
4) Riwayat kesehatan keluarga
Gagal ginjal kronis bukan penyakit menular dan menurun, sehingga
silsilah keluargatidak terlalu berdampak pada penyakit ini. Namun,
pencetus sekunder seperti DM dan hipertensi memiliki pengaruh
terhadap kejadian penyakit gagal ginjal kronis, karena penyakit

12
tersebut bersifat herediter. Kaji pola kesehatan keluarga yang
diterapkan jika ada anggota keluarga yang sakit, misalnya minum
jamu saat sakit.
5) Riwayat Psikososial
Kondisi ini tidak selalu ada gangguan jika klien memiliki koping
adaptif yang baik. Pada klien gagal ginjal kronis, biasanya
perubahan psikososial terjadi pada waktu klien mengalami
perubahan struktur fungsi tubuh dan menjalani proses dialisa. Klien
akan mengurung diri dan lebih banyak berdiam diri (murung).
Selain itu, kondisi ini juga dipicu oleh biaya yang dikeluarkan
selama proses pengobatan sehingga klien mengalami kecemasan.
6) Keadaan Umum dan Tanda- Tanda Vital
Kondisi klien gagal ginjal kronis biasanya lemah (fatigue), tingkat
kesadaran bergantung pada tingkat toksilitas. Pada pemerikaan
TTV sering didapatkan RR meningkat (tachypneu),
hipertensi/hipotensi sesuai dengan kondisi fluktuatif.
7) Sistem Pernafasan
Adanya bau urea pada bau nafas. Jika terjadi komplikasi asidosis/
alkalosis respiratorik maka kondisi pernafasan akan mengalami
patologis gangguan. Pola nafas akan semakin cepat dan dalam
sebagai bentuk kompensasi tubuh mempertahankan ventilasi
(Kussmaull).
8) Sistem Hematologi
Ditemukan adanya friction rub pada kondisi uremia berat. Selain
itu, biasanya terjadi TD meningkat, akral dingin, CRT > 3 detik,
palpitasi jantung, chest pain, dyspneu, gangguan irama jantung dan
gangguan sirkulasi lainnya. Kondisi ini akan makin parah jika zat
sisa metabolisme semakin tinggi dalam tubuh karena tidak efektif
dalam ekskresinya. Selain itu, pada fisisologis darah sendiri sering
ada gangguan anemia karena penurunan eritropoetin.
9) Sistem neuromuskuler

13
Penurunan kesadaran terjadi jika telah mengalami hiperkarbic dan
sirkulasi cerebral terganggu. Oleh karena itu, penurunan kognitif
dan terjadinya disorientasi akan dialami klien gagal ginjal kronis.
10) Sistem kardiovaskuler
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kejadian gagal ginjal
kronis salah satunya adalah hipertensi. Tekanan darah yang tinggi
diatas ambang kewajaran akan mempengaruhi volume vvaskuler.
Stagnansi ini akan memicu retensi natrium dan air sehingga akan
meningkatkan beban jantung.
11) Sistem endokrin
Berhubungan dengan pola seksualitas, klien dengan gagal ginjal
kronis akan mengalami disfungsi seksualitas karena penurunan
hormon reproduksi. Selain itu, jika kondisi gagal ginjal kronis
berhubungan dengan penyakit diabetes mellitus, maka aka nada
gangguan dalam sekresi insulin yang berdampak pada proses
metabolisme.
12) Sistem perkemihan
Dengan gangguan/kegagalan fungsi ginjal secara kompleks
(filtrasi, sekresi, reabsorbsi dan ekskresi), maka manifestasi yang
paling menunjol adalah penurunan urine output < 400ml/hari
bahkan sampai pada anuria (tidak adanya urine output.
13) Sistem pencernaan
Gangguan sistem pencernaan lebih dikarenakan efek dari penyakit
(stress effect). Sering ditemukan anoreksia, nausea, vomit, dan
diare.
14) Sistem musculoskeletal
Dengan penurunan/kegagalan fungsi sekresi pada ginjal maka
berdampak pada proses demineralisasi tulang, sehingga resiko
terjadinya osteoporosis tinggi.

2. Diagnosa Keperawatan (NANDA)


a. Ketidakefektian pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi.

14
Nomor : 00032
Domain :4
Kelas :4
b. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan
melemah.
Nomor : 00026
Domain :2
Kelas :5
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi
oleh karena faktor biologis.
Nomor : 00002
Domain :2
Kelas :1
d. Kelelahan berhubungan dengan penyakit
Nomor : 00093
Domain :4
Kelas :3
e. Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal, faktor resiko gagal ginjal.
Nomor : 00203
Domain :4
Kelas :4

15
3. Kriteria Hasil (NOC) dan Intervensi Keperawatan (NIC)

Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakefektifan Pola Nafas NOC: NIC:

- Respiratory status : Manajemen respirasi


Ventilation
1. Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning.
- Respiratory status : 2. Berikan O2 ……l/mnt, metode………
Airway patency 3. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
4. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
- Vital sign Status
5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
6. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
selama ………..pasien menunjukkan
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan
8. Berikan bronkodilator :
kriteria hasil:
- ………………………
- Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas - ……………………….
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu 9. Monitor status hemodinamik
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas 10. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
dgn mudah)indikator nilai 5 11. Berikan antibiotik :
- Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak

16
merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan …………………….
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas
12. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
abnormal)indikator nilai 5
13. Monitor respirasi dan status O2
- Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan
14. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan
darah, nadi, pernafasan)indikator nilai 5
peralatan : O2, Suction, Inhalasi.

Kelebihan Volume Cairan NOC : NIC :

- - Electrolit and acid base balance Fluid Manajement


- Fluid balance
1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
- Hydration
2. Pasang urin kateter jika diperlukan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN,
….Kelebihan volume cairan teratasi dengan
Hmt, osmolalitas urin )
kriteria:
4. Monitor vital sign
- Terbebas dari edema indikator nilai 5 5. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP ,
- Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau bingung edema, distensi vena leher, asites)
indikator nilai 5 6. Kaji lokasi dan luas edema
7. Monitor masukan makanan / cairan
8. Monitor status nutrisi
9. Berikan diuretik sesuai interuksi
10. Kolaborasi pemberian obat:

17
....................................
11. Monitor berat badan
12. Monitor elektrolit
13. Monitor tanda dan gejala dari Odema
Ketidakseimbangan nutrisi NOC: NIC :
kurang dari kebutuhan
a. Status Nutrisi : Asupan Nutrisi Manajemen nutrisi
tubuh
b. Status Nutrisi : asupan makanan dan cairan
1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk
- Setelah dilakukan tindakan keperawatan
memenuhi kebutuhan gizi
selama….nutrisi kurang dapat teratasi dengan
2. Kaji adanya alergi makanan
indikator:
3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
- Asupan Nutrisi adekuat indikator nilai 5 dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
- Asupan makanan secara oral adekuat indikator 4. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
nilai 5 mencegah konstipasi
- Asupan cairan secara oral adekuat indikator nilai 5. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan
5 harian.
- Asupan cairan intravena adekuat indikator nilai 6. Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
5 7. Monitor lingkungan selama makan
- 8. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam
makan
9. Monitor turgor kulit

18
10. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan
kadar Ht
11. Monitor mual dan muntah
12. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
13. Monitor intake nuntrisi
14. Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat
nutrisi
15. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT / TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
16. Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan
17. Kelola pemberan anti emetik:.....
18. Anjurkan banyak minum
19. Pertahankan terapi IV line
20. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan
cavitas oval
Kelelahan berhubungan - Tingkat kelelahan NIC :
penyakit - Konservasi energi
Energy Management
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama….kelelahan dapat teratasi dengan indikator: 1. Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktivitas (takikardi,

19
- kelelahan indikator nilai 5 (tidak ada) disritmia, dispneu, diaphoresis, pucat, tekanan hemodinamik
- kelesuhan indikator nilai 5 (tidak ada) dan jumlah respirasi)
- kegiatan sehari-sehari (ADL) indikator nilai 5 2. Monitor dan catat pola dan jumlah tidur pasien
(tidak terganggu) 3. Monitor lokasi ketidaknyamanan atau nyeri selama bergerak
- melaporkan kekuatan yang cukup untuk dan aktivitas
beraktivitas indikator nilai 5 (secara konsisten 4. Monitor intake nutrisi
menunjukkan) 5. Monitor pemberian dan efek samping obat depresi
6. Instruksikan pada pasien untuk mencatat tanda-tanda dan
gejala kelelahan
7. Ajarkan tehnik dan manajemen aktivitas untuk mencegah
kelelahan
8. Jelaskan pada pasien hubungan kelelahan dengan proses
penyakit
9. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan
intake makanan tinggi energi
10. Dorong pasien dan keluarga mengekspresikan
perasaannya
11. Catat aktivitas yang dapat meningkatkan kelelahan
12. Anjurkan pasien melakukan yang meningkatkan
relaksasi (membaca, mendengarkan musik)
13. Tingkatkan pembatasan bedrest dan aktivitas

20
14. Batasi stimulasi lingkungan untuk memfasilitasi
relaksasi
Resiko ketidakefektifan NOC : NIC :
perfusi ginjal, faktor resiko
- Circulation status 1. Observasi status hidrasi (kelembaban membran mukosa, TD
gagal ginjal.
- Electrolite and Acid Base Balance ortostatik, dan keadekuatan dinding nadi)
- Fluid Balance 2. Monitor HMT, Ureum, albumin, total protein, serum
- Hidration osmolalitas dan urin
- Tissue Prefusion : renal 3. Observasi tanda-tanda cairan berlebih / retensi (CVP
- Urinari elimination menigkat, oedem, distensi vena leher dan asites)
Setelah dilakukan asuhan selama……… 4. Pertahankan intake dan output secara akurat
ketidakefektifan perfusi jaringan renal teratasi 5. Monitor TTV
dengan kriteria hasil: Pasien Hemodialisis:
1. Observasi terhadap dehidrasi, kram otot dan aktivitas kejang
- Tekanan systole dan diastole dalam batas normal
2. Observasi reaksi tranfusi
indikator nilai 5
3. Monitor TD
- Tidak ada gangguan mental, orientasi kognitif dan
4. Monitor BUN, Creat, HMT dan elektrolit
kekuatan otot indikator nilai 5
5. Timbang BB sebelum dan sesudah prosedur
- Na, K, Cl, Ca, Mg, BUN, Creat dan Biknat dalam
6. Kaji status mental
batas normal indikator nilai 5
7. Monitor CT Pasien Peritoneal Dialisis:
- Intake output seimbang indikator nilai 5
8. Kaji temperatur, TD, denyut perifer, RR dan BB
- Tidak ada oedem perifer dan asites indikator nilai
9. Kaji BUN, Creat pH, HMT, elektrolit selama prosedur

21
5 10. Monitor adanya respiratory distress
- 11. Monitor banyaknya dan penampakan cairan
12. Monitor tanda-tanda infeksi

22
DAFTAR PUSTAKA

Black. Hawks, 2014, Keperawatan Medikal Bedah Ed 8, Vol 2, Singapore:


Elsevier

Bulechek, Gloria M, dkk, 2015, Nursing Intervention Classification, America:


Elsevier.

Herdman, T. Heather, dkk, 2015, Nursing Diagnoses, America: Wiley Blackwell.

Moorhead, Sue, dkk, 2015, Nursing Outcomes Classification, America: Elsevier.

Muttaqin, Arif, 2012, Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan,


Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam, Batticaca, 2011, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan


Sistem Perkemihan, Jakarta: Salemba Medika.

Prabowo, Eko & Pranata, Andi Eka, 2014, Asuhan Keperawatan Gangguan
Sistem Perkemihan, Nuha Medika: Yogyakarta.

Journal, The New England Journal of Medicine, 2010, Intensive Blood-Pressure


Control in Hypertensive Chronic Kidney Disease.

23