Anda di halaman 1dari 188

PENGARUH METODE PENEMUAN TERBIMBING

TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA


(Penelitian Quasi Eksperimen di MI I’Anatul Huda Tangerang Selatan)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd)

oleh :

KHAIRUN NUFUS

1110018300040

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
JAKARTA
2015/1436DOSEN
LEMBAR PENGESAHAN H PEMBIMBING
I,EMBAR PENGBSAHAN

Skripsi berjudul "Pengaruh Metode Penemuan Terbimbing terhadap


Hasil Belajar Matematika" disusun oleh Khairun Nufus Nomor Induk Mahasiswa
1110018300040, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegunran UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqosah pada tanggal
09 Februari 2015 dihadapan dewan penguji. I(arena itu, penulis berhak memperoleh
gelar Sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Jakarta, 18 Maret2015

Panitia Ujian Munaqosah


Tanggal Tanda Tangan
I(etua Panitia (I(etua Jurusan PGMI)
f)r. Fauzart. MA. ?\l? lq:r NQ\ll_N_
-
NIP. r9761t07 200701 I 013
Sekertaris (Sekertaris Jurusan PGMI)
n fo+ -20ts
Asep Ediana Latipr. M,Pd. 't
NIP. 19810623 240912 I 003

Penguji I
Dra. Afidah Mas'ud
NrP. 19610926 198603 2 004
4-os-z,r tr
Penguji II
li'ir,4ausi.,S.S,ir MJd 7i/ry??!{
NIP. 19690629 200501 1 003
Mengetahuio
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

NIP. 19591020 198603 2 001


PENGARUH METODE PENEMUAN TERBIMBING
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA
(Penelitian Quasi Eksperimen di MI I'Anatul Huda Tangerang Selatan)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh :

Khairun Nufus
NIM: 1110018300040

Di bawah bimbingan
Pembimbing

Dr. Lia Kurniawati. M.Pd


NIP z 19760521 200801 2 008

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTAT
20tslt436 H
LEMBAR PENGESAHAN BIMBINGAN SKRIPSI

Skripsi berjudul ooPengaruh Metode Penemuan Terbiming Terhadap Hasil


Belajar Matematika". Di susun oleh Khairun Nufus, NIM:1 1 10018300040,
Jurusan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Telah melalui bimbingan dan di nyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak
untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang di tetapkan oleh
pihak fakultas.

Jakarta,20 Januai 2015

Yang mengesahkan,

Pembimbing

Dr. Lia Kurniawati. M.Pd


NIP : 19760521 2A0801 2 008
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Angkatan Tahun : 2010
Alamat : Jalan Bayangkara Raya Perumahan Pondok Pakulonan
Blok m.8/16 Rt.04/05 Kec. Pakualam, Kab. Serpong Utara,
Kota. Tangerang Selatan.

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul


“Pengaruh Metode Penemuan Teriming Terhadap Hasil Belajar
Matematika” adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen:
Nama : Dr. Lia Kurniawati, M.Pd
NIP : 19760521 200801 2 008
Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta, 20 Januari 2015

Khairun Nufus
NIM: 1110018300040
UJI REFERENSI

Seluruh referensi yang di gunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul


"Pengaruh Metode Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar
Matematika" yang di susun oleh Khairun Nufus dengan NIM 1110018300040,
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah lakarta, telah di uji
kebenarannya oleh dosen pembimbing skripsi pada tanggal 16 Januari 2015"

J akarta, 20 Januari 201 5

Pembimbing

Dr. Lia Kurniawati. M.Pd


NIP. 19760521 200801 2 008
ABSTRAK

Khairun Nufus (1110018300040) “Pengaruh Metode Penemuan


Terbimbing terhadap Hasil Belajar Matematika”. Skripsi Jurusan Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mangetahui pengaruh metode penemuan


terbimbing terhadap hasil belajar matematika. Penelitian ini di laksanakan di MI
I’Anatul Huda Tangerang Selatan untuk tahun ajaran 2014/2015. IV A sebagai
kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dan VI B
sebagai kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran penemuan
terbimbing. Pengumpulan data setelah perlakuan di lakukan dengan menggunakan
tes hasil belajar matematika peserta didik. Metode pada penelitian ini adalah
metode Quasi eksperimen dengan rancangan penelitian The randomized Post-test
Control Group Design. Hasil pada uji-t yaitu thitung > ttabel ( 8,95 > 2,00), berarti
H0 ditolak dan H1 di terima. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata peserta didik
yang menggunakan metode penemuan terbimbing lebih tinggi di bandingkan rata-
rata hasil belajar peserta didik yang menggunakan metode konvensional. Hal in
berarti, metode penemuan terbimbing berpengaruh pada hasil belajar matematika
peserta didik.

Kata Kunci: Metode Penemuan Terbimbing, Hasil Belajar Matematika.

i
ABSTRACT

Khairun Nufus (1110018300040) “The Influence of Guided Discovery


Method Towards The Result Of Mathematical Learning”. Skripsi Department
Teacher Education Program Elementary School, Faculty of Tarbiyah and
Teachers Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2014.

The purpose of this research is to determine the influence of learning guided


discovery method towards the result of student mathematical learning. The
research was conducted at Madrasah Ibtidaiyah I’Anatul Huda South of
Tangerangon for academic year 2014/201. IV A as control grup used
conventional learning and IV B as experimental group used guded discovery
method. The method used in this research was quasi eksperimental method with
The randomized Post-test Control Group Design.. The result ot the t-test was
thitung > ttabel ( 8,95 > 2,00), then H0 rejected and H1 accepted. It mean the
avarange of guided discovery method ability taugh with instruction learning
method was higher than the average of student the result of mathematical
learning ability though with conventional learning. Therefore, guided discovery
method had the influence on the result of student mathematical learning ability.

Keywords: Guided Discovery Method, Learning Outcomes Mathematics.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa
dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para
sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd). Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari
sepenuhnya bahwa tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun
penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan doa, bimbingan serta
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada:
1. Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Fauzan, MA, Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dosen pembimbing akademik, Bapak Abdul Ghofur, MA yang telah
memberikan arahan dan bimbingan.
4. Ibu Dr. Lia Kurniawati, M.Pd, Dosen pembimbing skripsi yang memberikan
motivasi, meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dengan sabar untuk
membimbing penulis menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta
bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga ilmu yang
telah Bapak dan Ibu berikan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
6. Pimpinan dan Staff Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
membantu penulis dalam menyediakan serta memberikan pinjaman literatur
yang dibutuhkan.

iii
7. Ibu Suheriah, S.Pd.I yang telah memberikan izin kepada penulis untuk
melakukan penelitian di sekolah yang bersangkutan yaitu MI I’Anatul Huda.
8. Seluruh dewan guru MI I’Anatul Huda Tangerang Selatan, yang telah
membantu penulis dalam melaksanakan penelitian ini di sekolah.
9. Teristimewa untuk ayahanda Drs. Tengku. H. Ulumuddin dan ibunda
Marfuah, S.Pd serta adik-adik yang tak henti-hentinya mendoakan,
memberikan dukungan dan motivasi baik moril dan materil, serta selalu
mendorong penulis untuk tetap semangat dalam menyelesaikan studi ini.
10. Sahabat-sahabat seperjuangan Ahmad Haidir Al-Fadlil, Elvina Mutia, Hilma
Silmy, Khumairoh, Martunik Rafika, Ihda Putri Wilda, Restu Pertiwi, Nur
Azizah, Ai Herawati, Rosalina Marchakih, Erien Damayanti, Siti Nurcahayati
dan Fitri Nurmala yang tidak henti-hentinya memberikan motivasi dan
nasehat.
11. Seluruh teman-teman seperjuangan Pendidikan Guru Madrasah Ibitidaiyah
angkatan 2010, khususnya kelas PGMI A. Terima kasih atas canda tawa dan
kebersamaan dengan kalian selama empat tahun ini serta semangat yang
kalian berikan.
Serta kepada semua pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,
mudah-mudahan segala bantuan, yang telah di berikan mendapat balasan oleh
Allah SWT. Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penulisan di masa yang akan datang. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembacanya.

Jakarta, 12 Januari 2015

Penulis

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................ i
ABSTRACT ...................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah ....................................................................... 6
D. Perumusan Masalah.......................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian.............................................................................. 7
F. Manfaat Penelitian............................................................................ 7

BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN


PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik.............................................................................. 8
1. Metode Penemuan Terbimbing ................................................... 8
a. Pengertian Metode Penemuan Terbimbing .......................... 8
b. Implementasi Metode Penemuan Terbimbing dalam
Pembelajaran Geometri ......................................................... 13
2. Metode Pembelajaran Konvensional........................................... 17
3. Hasil Belajar Matematika ............................................................ 20
a. Pengertian Hasil Belajar Matematika ................................... 20
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Matematika............................................................................ 24
B. Penelitian yang Relevan .................................................................... 25
C. Kerangka Berpikir ............................................................................. 26

v
D. Pengajuan Hipotesis Penelitian ......................................................... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 28
B. Populasi dan Sempel Penelitian ........................................................ 28
C. Metode dan Desain Penelitian........................................................... 29
D. Instrumen Penelitian.......................................................................... 29
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 31
1. Uji Validitas .................................................................................. 31
2. Uji Reliabilitas ............................................................................. 32
3. Uji Pembeda Butir Soal................................................................. 33
4. Uji Kesukaran Butir Soal .............................................................. 35
F. Tehnik Analisis Data ......................................................................... 35
1. Uji Prasyarat Analisis Data ......................................................... 36
a. Uji Normalitas ......................................................................... 36
b. Uji Homogenitas ...................................................................... 37
2. Pengujian Hipotesis .................................................................... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data .................................................................................. 40
1. Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen .................. 40
2. Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Kontrol ......................... 43
3. Perbandingan Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol...................................................................... 45
B. Pengujian Persyaratan Analisis ....................................................... 47
1. Uji Normalitas Tes Hasil Belajar Matematika Siswa ............... 48
2. Uji Homogenitas Tes Hasil Belajar Matematika Siswa ............ 49
3. Pengujian Hipotesis Penelitian ................................................... 50
a. Pengujian Hipotesis .............................................................. 50
b. Hasil Uji Hipotesis ............................................................... 50
C. Pembahasan Hasil Penelitian .......................................................... 51
D. Hasil Keterbatasan Penelitian .......................................................... 58

vi
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...................................................................................... 59
B. Saran ................................................................................................ 59

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 62

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rancangan Desain Penelitian ............................................................ 29

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen ............................................................................ 30

Tabel 3.3 Klasifikasi Interpretasi Kolerasi ......................................................... 33

Tabel 3.4 Klasifikasi Interpretasi Daya Pembeda .............................................. 34

Tabel 3.5 Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran ............................................ 35

Tabel 4.1 Hasil Belajar Kelas Eksperimen ......................................................... 42

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas

Eksperimen ........................................................................................ 42

Tabel 4.3 Hasil Belajar Kelas Eksperimen ......................................................... 44

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas

Eksperimen ........................................................................................ 45

Tabel 4.5 Perbandingan Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol ............................................................................................ 47

Tabel 4.6 Perhitungan Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest Siswa

Kelas Eksperimen dan Kontrol ......................................................... 48

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Hasil Belajar ..................................................... 49

Tabel 4.8 Hasil Uji Homogenitas Hasil Belajar ................................................. 50

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis ......................................................... 52

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Posttest Kelas Eksperimen ........................ 43

Gambar 4.2 Diagram Batang Hasil Posttest Kelas Kontrol .............................. 46

Gambar 4.3 Siswa sedang Melakukan Penemuan secara Berkelompok .......... 56

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen

Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol

Lampiran 3 : Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen

Lampiran 4 : Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Sebelum Uji Validasi

Lampiran 5 : Soal Instrumen Tes Hasil Belajar Sebelum Uji Validasi

Lampiran 6 : Kisi-kisi Tes Hasil Belajar Setelah Uji Validasi

Lampiran 7 : Soal Instrumen Tes Hasil Belajar Setelah Uji Validasi

Lampiran 8 : Hasil Perhitungan Uji Validitas

Lampiran 9 : Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas

Lampiran 10 : Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran

Lampiran 11 : Hasil Perhitungan Uji Daya Pembeda

Lampiran 12 : Rekapitulasi Analisis Butir Soal

Lampiran 13 : Hasil Posttest Kelompok Eksperimen

Lampiran 14 : Hasil Posttest Kelompok Kontrol

Lampiran 15 : Perhitungan Distribusi Data Posttest Siswa Kelas Eksperimen

Lampiran 16 : Perhitungan Distribusi Data Posttest Siswa Kelas Kontrol

Lampiran 17 : Perhitungan Uji Normalitas Hasil Tes Kelompok Eksperimen

Lampiran 18 : Perhitungan Uji Normalitas Hasil Tes Kelompok Kontrol

Lampiran 19 : Perhitungan Uji Homogenitas

Lampiran 20 : Perhitungan Uji Hipotesis Statistik

x
Lampiran 21 : Presentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Eksperimen

Lampiran 22 : Presentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Kontrol

Lampiran 23 : Surat Permohonan Izin Penelitian

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Diera globalisasi ini, semakin banyak tantangan yang dihadapi dari segala segi
kehidupan. Untuk menghadapi tantangan zaman ini, maka tidak lepas dari peranan
pendidikan. Pendidikan bersifat madal hayah, artinya pendidikan harus dilakukan
sepanjang hidup. Dengan pendidikan, setiap individu dapat mengoptimalkan
kemampuan yang dimilikinya. Sehingga hasil dari pendidikan atau pengalaman-
pengalaman yang dialami dapat diaplikasikan dalam kehidupan sesuai dengan
tantangan zaman.
Melalui pendidikan suatu masyarakat atau bangsa akan memperoleh
kemuliaan. Kebenaran akan pernyataan ini sebenarnya sudah ditetapkan oleh
Allah SWT sebagai Sang Maha Pengatur, hal ini dapat kita lihat dalam firman-
Nya surat Al- Mujadallah ayat 11, yang artinya:

               …

“.... Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-
orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu
kerjakan.”(QS. Al- Mujadallah [58] : 11)
Allah SWT akan meninggikan orang yang beriman dan berilmu
(berpendidikan) diatas orang yang tidak berilmu, begitu juga halnya masyarakat
atau suatu bangsa, sehingga dapat dianggap betapa penting dan berharganya
sebuah pendidikan dilihat dalam konsep Agama Islam.
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting saat ini. Oleh karena
itu, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun
karakter dan bakat peserta didik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang
dapat membangun karakter atau bakat seseorang tersebut sehingga dapat menjadi
orang berguna bagi bangsa, negara, agama, dan orang tua.

1
2

Sementara itu menurut Wardani tujuan pendidikan di Indonesia


yaitu pertama peningkatan potensi berpikir yang menyangkut proses dalam
otak. Kedua, menyangkut keterampilan menggerakkan panca indra yaitu
keterampilan menggerakkan tangan dan kaki. Ketiga, berkenaan dengan
hati nurai, seperti tenggang rasa, suka menolong, menghargai waktu,
bertanggung jawab, berdisiplin, merasa senasib sepenanggungan, rajin,
kreatif, inovatif, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagai
nya.1
Dalam tujuan pendidikan nasional memuat gambaran tentang nilai-nilai yang
baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Tujuan pendidikan tersebut
memiliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan
merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
Sebagai suatu komponen pendidikan nasional, tujuan pendidikan menduduki
posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan
bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-
mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena
itu untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut maka diselenggarakan
rangakaian pendidikan secara sengaja, berencana, terarah, berjenjang, dan
sistematis melalui lembaga pendidikan formal.
Salah satu pendidikan formal adalah sekolah. Sekolah merupakan lembaga
atau wadah yang dapat mengembangkan karakter dan bakat seseorang. Di sekolah
proses pengembangan karakter dan bakat dilakukan dengan proses pendidikan
yang sesuai, yaitu dengan proses belajar mengajar. Di dalam proses belajar ini
diharapkan terdapat perubahan secara sadar dan bersifat kontinu.2
Di sekolah, peserta didik diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran
sesuai dengan kurikulum yang berlaku pada setiap jenjang pendidikan. Salah satu
pelajaran yang ada pada setiap jenjang pendidikan mulai Sekolah Dasar (SD)
sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan dibangku kuliah pun adalah
pelajaran matematika. Selain itu, matematika juga merupakan salah satu pelajaran
yang diajukan pada ujian nasional pada setiap jenjangnya. Ini pertanda bahwa
matematika merupakan pelajaran yang sangat penting, karena matematika

1
Wardani, Psikologi Belajar. (Jakarta: Universitas Terbuka, 1997), h. 5.3
2
Pupuh Fathurrohman, dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung:
Refika Aditama, 2007), h. 10.
3

merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan suatu
pertanda intelegensi manusia. Oleh karena itu, matematika sangat diperlukan baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk menghadapi kemajuan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Matematika yang diajarkan dijenjang sekolah merupakan bagian-bagian dari
matematika yang dipilih berdasarkan orientasi kepada kepentingan kependidikan
dan perkembangan lmu pengetahuan dan teknologi. Anak usia SD adalah anak
yang berada pada usia sekitar 7 sampai 12 tahun. Menurut Piaget anak usia sekitar
ini masih berpikir pada tahap operasi kongkrit artinya siswa SD belum berfikir
formal.3 Seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk menghubungkan
antara dunia anak yang belum dapat berpikir secara deduktif agar dapat mengerti
matematika yang bersifat deduktif.
Belajar matematika dihadapkan pada masalah tertentu berdasarkan konstruksi
pengetahuan yang diperolehnya ketika belajar dan peserta didik berusaha
memecahkan masalah. Dengan demikian pembelajaran menjadi bermakna karena
terjadi perpaduan antara pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik dengan
konsep-konsep yang akan dipelajari peserta didik. Sejalan dengan pengertian
pembelajaran secara bermakna menurut Erna Suwangsih, bahwa pembelajaran
secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang
mengutamakan pengertian dari pada hafalan.4
Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Banyak permasalahan dan kegiatan dalam hidup kita yang harus diselesaikan
dengan menggunakan ilmu matematika seperti menghitung, mengukur dan lain-
lain. Matematika adalah ilmu universal yang mendasari ilmu pengetahuan dan
teknologi modern, memajukan daya pikir serta analisis manusia.
Meskipun matematika demikian penting, namun sampai saat ini matematika
termasuk mata pelajaran yang dianggap sulit dipelajari dibandingkan dengan mata
pelajaran lain, karena matematika merupakan mata pelajaran yang mengfokuskan
peserta didik bernalar, berpikir logis dan kritis dalam pemecahan masalah. Banyak

3
Erna Suwangsih, Model pembelajaran Matematika, (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 15
4
Ibid. 26
4

anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit. Prestasi


peserta didik kerap kali kurang memuaskan pada mata pelajaran ini. Kendati
demikian, banyaknya kegagalan peserta didik dalam matematika bukan terletak
pada kurikulum yang salah, tetapi lebih pada cara pembelajaran yang dilakukan.
Kurangnya variasi dalam proses belajar mengajar mtematika pada akhirnya sangat
berdampak pada hasil belajar peserta didik.5
Berdasarkan hasil observasi selama tiga hari dan wawancara guru kelas IV
hasil belajar peserta didik kelas IV pada mata pelajaran matematika rendah
terutama pada materi bangun datar. Rendahnya hasil belajar peserta didik kelas IV
disebabkan beberapa faktor seperti guru kurang menerapkan model pembelajaran
yang variatif dan menarik, strategi yang tidak tepat dalam mengajar, guru hanya
menggunakan satu metode dalam pembelajaran yang mengakibatkan peserta didik
merasa bosan dan jenuh karena pembelajaran bersifat monoton, guru kurang
melibatkan peserta didik dalam pembelajaran sehingga peserta didik sulit dalam
memahami pembelajaran dan bersifat individualis sehingga peserta didik kurang
bekerja sama di kelas.
Rendahnya hasil belajar peserta didik kelas IV pada mata pelajaram
matematika terutama materi bangun datar terlihat dari hasil ulangan siswa yaitu
tahun 2013/2014, dari 34 peserta didik hanya 22 peserta didik (64%) yang
mencapai KKM. Keadaan demikian menuntut guru untuk lebih kreatif lagi dalam
merancang dan merencanakan pembelajaran.
Salah satu alternatif metode pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
dapat memahami konsep bangun datar sehingga hasil belajar baik yaitu dengan
menggunakan metode penemuan terbimbing. Metode ini lebih mengarahkan
peserta didik untuk berfikir dan belajar menemukan pengetahuan sendiri sehingga
dengan menggunakan metode pembelajaran ini, peserta didik akan lebih mudah
memahami konsep pokok bahasan bangun datar sehingga ketika peserta didik di
hadapi dengan sebuah pertanyaan ia bisa mengerjakannya sehingga hasil belajar
pun akan jauh lebih baik.

5
Kim Cakhyanyo Syawiji, Metode Outdoor Learning dan Peningkatan Minat Belajar
Aritmatika Sosial, Jurnal Dinamika Penelitian, Juli 2009.
5

Westy mengemukakan, metode discovery merupakan metode yang lebih


menekankan pada pengalaman langsung. Pemebelajaran dengan penemuan lebih
mengutamakan proses dari pada hasil belajar. Dalam metode ini, tidak berarti
sesuatu yang di temukan oleh peserta didik benar-benar baru sebab sudah
diketahahui oleh orang yang lain.6 Karena peserta didik menemukan sendiri,
berarti pembelajaran berpusat kepada peserta didik dan peserta didik memecahkan
masalah untuk menciptakan, menghubungkan dan menjeneralisasi pengetahuan.
Pengetahuan baru yang diperoleh peserta didik didapat dengan cara
mengkontruksi sendiri, tanpa diberitahu oleh guru. Model pembelajaran
penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator yang membantu dan
memfasilitasi murid selama pembelajaran berlangsung.7 Guru hanya
mengupayakan agar proses kontruksi dapat terjadi pada diri peserta didik,
sehingga peserta didik tidak perlu dijejali informasi dari bahan ajar yang harus
disampaikannya.
Berdasarkan uraian di atas, diharapkan bahwa dalam meningkatkan
pemahaman pembelajaran matematika khususnya materi bangun datar dapat
menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing, karena dengan
menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing peserta didik dapat
melakukan pembelajaran bekerja sama, berfikir dan belajar menemukan
pengetahuan sendiri sehingga lebih mudah memahami konsep pokok bahasan
bangun datar. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti mengambil judul:
” Pengaruh Metode Penemuan Terbimbing terhadap Hasil Belajar
Matematika”.

6
Westy Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h. 134.
7
Esti Yuli Widayanti, dkk. Pembelajaran Matematika MI, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2009), h. 16
6

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka timbul berbagai
macam permasalahan yang dapat diidentiikasi sebagai berikut:
1. Pembelajaran matematika di kelas bersifat satu arah, terpusat pada guru
sehingga peserta didik cenderung menyerap informasi secara pasif.
2. Guru kurang menerapkan model pembelajaran yang variatif dan menarik.
3. Hasil belajar matematika peserta didik masih rendah.

C. Pembatasan Masalah
Peneliti berharap agar tujuan penelitian ini jelas dan terarah, maka dalam
penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut:
1. Penelitian ini menggunakan metode penemuan terbimbing dengan langkah-
langkah, yaitu Menemukan Fakta, Menemukan Masalah, Menemukan
Gagasan, Menemukan Solusi, Menemukan Penerimaan.
2. Hasil Belajar difokuskan dan diukur yang mencangkup ranah kognitif level
C1, C2, dan C3.
3. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IV di MI I’anatul Huda Tangerang
Selatan.
4. Materi yang disampaikan adalah keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah dapat dirumuskan
sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh pembelajaran menggunakan metode
penemuan terbimbing terhadap hasil belajar matematika peserta didik?”.
7

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode penemuan
terbimbing terhadap hasil belajar matematika peserta didik pada materi bangun
datar.

F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Peserta didik, mendapat pengalaman belajar matematika melalui metode
penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2. Guru, hasil penelitian ini dapat menjadi alternatif metode pembelajaran yang
dapat diaplikasikan dalam meningkatkan hasil belajar matematika peserta
didik.
3. Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk mengembangkan
atau menerapkan metode penemuan terbimbing di kelas-kelas lain.
4. Pembaca, dapat memberikan gambaran/informasi tentang penerapan metode
penemuan terbimbing terhadap hasil belajar matematika peserta didik.
BAB II

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN


HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis
1. Metode Penemuan Terbimbing
a. Pengertian Metode Penemuan Terbimbing
Pemilihan metode pembelajaran perlu didasarkan pada kesesuaian dengan
tugas dan tujuan pembelajaran yang akan ditempuh oleh peserta didik. Pemilihan
metode pembelajaran yang tepat akan membantu peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Ada beberapa metode pembelajaran
yang dapat dipilih untuk digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Setiap metode memiliki ciri khas tersendiri yang penggunaannya perlu
disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Ragam metode
pembelajaran yang dapat digunakan salah satunya adalah metode penemuan.
Menurut Sund dalam discovery adalah proses mental dimana peserta didik
mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip.1 Proses mental itu
misalnya: mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan,
mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Metode penemuan terbagi dua,
yaitu penemuan murni dan penemuan terbimbing. Dalam metode penemuan
murni, disebut sebagai “heuristic”, apa yang hendak ditemukan, jalan atau proses
semata-mata ditentukan oleh peserta didik itu sendiri.2 Pada metode penemuan
murni, masalah yang akan ditemukan semata-mata ditentukan oleh peserta didik.
Begitu pula jalannya penemuan.
Metode penemuan murni ini kurang tepat karena pada umumnya sebagian
besar peserta didik masih membutuhkan konsep dasar untuk dapat menemukan

1
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah. (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009).
h. 179.
2
Markaban, Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan
Terbimbing. (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan Dan Penataran
Guru Matematika, 2006), h.9.

8
9

sesuatu. Menurut Bruner, penemuan adalah suatu proses, suatu jalan atau cara
dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan
tertentu.3 Hal ini terkait erat dengan karakteristik pelajaran matematika yang lebih
merupakan deductive reasoning dalam perumusannya. Di samping itu, penemuan
tanpa bimbingan dapat memakan waktu berhari-hari dalam pelaksanaannya atau
bahkan peserta didik tidak berbuat apa-apa karena tidak tahu, begitu pula jalannya
penemuan. Jelas bahwa metode penemuan ini kurang tepat untuk peserta didik
sekolah dasar maupun lanjutan apabila tidak dengan bimbingan guru, karena
materi matematika yang ada dalam kurikulum tidak banyak yang dipelajari karena
kekurangan waktu bahkan peserta didik cenderung tergesa-gesa menarik
kesimpulan dan tidak semua peserta didik menemukan sendiri.
Metode penemuan terbimbing merupakan metode terbimbing yang dipandu
oleh guru, metode ini pertama kali ditemukan oleh Plato dalam suatu dialog antar
Socrates dan seorang anak, maka sering disebut juga dengan metode Socrates.
Metode ini melibatkan suatu dialog atau interaksi antar peserta didik dan guru
dimana peserta didik mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan
pertanyaan yang diatur oleh guru. Salah satu buku yang pertama menggunakan
teknik penemuan terbimbing adalah Werren Colburn yang pelajaran pertamanya
berjudul: Intelectual arithmetic upon the inductive method of instructive. Buku
tersebut isinya menekankan penggunaan suatu urutan pertanyaan dalam
mengembangkan konsep dan prinsip matematika.4 Metode ini peserta didik
didorong untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum,
berdasarkan bahan yang difasilitasi oleh guru. Dengan demikian, materi yang
akan dipelajari peserta didik tidak disajikan dalam bentuk final. Peserta didik
harus melakukan aktivitas mental yang mungkin melibatkan aktivitas fisik dalam
upaya memperoleh pemahaman pada materi tertentu. Sampai seberapa jauh
peserta didik dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan pada materi yang
dipelajari. Dalam hal ini, guru merencanakan serangkaian pertanyaan yang

3
Ibid, h.9.
4
Ibid, h. 10.
10

memandu peserta didik, langkah demi langkah logis, membuat serangkaian


penemuan yang mengarah kepada tujuan yang telah ditentukan.
Belajar penemuan dapat terjadi di dalam situasi yang sangat teratur, baik
peserta didik maupun guru mengikuti langkah-langkah yang sistematis. Guru
membimbing dan mengarahkan peserta didik selangkah demi selangkah dengan
mengikuti bentuk tanya jawab yang telah diatur secara sistematis untuk membuat
penemuan. Langkah-langkah kegiatan atau petunjuk dapat dituangkan dalam
lembar kerja yang dibuat guru. Selain itu, diperlukan pula campur tangan guru
untuk membangkitkan perhatian peserta didik pada tugas yang sedang dihadapi
dan mengurangi pemborosan waktu. Peserta didik bukan lah ilmuwan dan sesuatu
yang dihadapi benar-benar merupakan sesuatu yang baru bagi peserta didik,
sehingga petunjuk atau pun instruksi guru sangat lah diperlukan peserta didik.
Salah satu bahan, berupa fasilitas oleh guru yang akan membimbing peserta
didik dalam proses penemuan terhadap konsep-konsep, rumus dari materi yang
diajarkan adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah
bagian pokok dari suatu modul yang berisi tujuan umum topik yang dibahas dan
disertai soal latihan atau instruksi praktik bagi peserta didik. LKS digunakan
untuk menuntun peserta didik belajar mandiri dan dapat menarik kesimpulan
pokok bahasan yang diajarkan. Penyajian bahan pelajaran umumnya dapat
mendorong peserta didik mengembangkan kreativitas dalam belajar. Dengan
demikian mampu mendorong peserta didik secara aktif mengembangkan dan
menerapkan kemampuannya. Dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS)
ini, diharapkan peserta didik akan terbimbing dalam proses penemuan terhadap
konsep-konsep, rumus dari materi yang diajarkan.
Di sebut pembelajaran penemuan adalah ―suatu metode pembelajaran yang
menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi (ide kunci) dari suatu
ilmu yang dipelajari, perlunya belajar aktif sebagai dasar pemahaman sebenarnya,
dan nilai dari berfikir secara induktif dalam belajar‖.5 Menurut Bruner, belajar
akan lebih bermakna bagi peserta didik jika mereka memusatkan perhatiannya

5
Trianto. Model Pembelajaran Terpadu. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), h. 79.
11

untuk memahami struktur materi yang dipelajari.6 Untuk memperoleh struktur


informasi, peserta didik harus aktif mengidentifikasi sendiri prinsip-prinsip kunci
dari pada hanya sekedar menerima penjelasan dari guru. Oleh karena itu, guru
harus memunculkan masalah berupa pertanyaan yang mendorong peserta didik
untuk melakukan kegiatan penemuan. Dalam pembelajaran melalui penemuan,
guru memberikan contoh dan peserta didik bekerja berdasarkan contoh tersebut
sampai menemukan hubungan antar bagian dari suatu struktut materi. Menurut
Ericlopedia of Education Research, penemuan merupakan suatu strategi yang
unik, dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan
keterampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi peserta
didik untuk mencapai tujuan pendidikannya.7 Dengan demikian, peserta didik
didorong untuk berfikir sendiri, menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan
prinsip-prinsip umum berdasarkan bahan-bahan atau data yang disediakan oleh
guru. Selama proses penemuan, peserta didik memanipulasi, membuat struktur,
dan mentransfer informasi sehingga menemukan informasi baru yang berupa
konjektur, hipotesis, atau kebenaran matematika.
Metode penemuan adalah ―metode yang lebih menekan kan pada pengalaman
langsung‖.8 Peserta didik menemukan pengetahuan sebagai atau seluruhnya
sendiri, berarti pembelajaran berpusat pada peserta didik dan dia memecahkan
masalah untuk menciptakan, menghubungkan, dan menjeneralisasi pengetahuan.
Pengetahuan baru yang diperoleh peserta didik didapat dengan cara
mengkontruksi sendiri, tanpa diberitahu guru. Pengetahuan baru akan melekat
lebih lama jika peserta didik dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman
dan mengkontruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut.9 Posisi guru adalah
sebagai fasilitator yang mengupayakan agar proses kontruksi dapat terjadi pada

6
Ibid.
7
Suryusubroto. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. (Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2009),
h. 178.
8
Erna Suwangsih, Model Pembelajaran Matematika. (Bandung: UPI PRESS, 2006), h.
185.
9
Esti Yuli Widayanti, dkk. Pembelajaran Matematika MI, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2009). h. 16.
12

diri peserta didik, sehingga peserta didik tidak perlu dijejali informasi dari bahan
ajar yang harus disampaikan.
Dalam pembelajaran matematika belajar melalui penemuan itu penting karena
pada kenyataannya ilmu-ilmu itu diperoleh dengan penemuan, matematika adalah
bahasa yang abstrak, konsep, dalil dan sebagainya akan lebih melekat bila melalui
penemuan, melalui penemuan generalisasi akan diperoleh lebih mantap. Untuk
meningkatkan kreatifitas, menemukan sesuatu dengan sendiri dapat
menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi (motivasi intrinsic) dan
pada umumnya akan bersifat positif pada matematika.
Agar pelaksanaan metode penemuan terbimbing berjalan dengan efektif,
beberapa langkah yang perlu ditempuh oleh guru matematika adalah merumuskan
masalah yang akan diberikan kepada peserta didik dengan data secukupnya; dari
data yang diberikan guru, peserta didik menyususun, memproses, mengorganisir,
dan menganalisis data tersebut; peserta didik konjektur (perkiraan) dari hasil
analisis yang dilakukan; bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat peserta
didik tersebut diperiksa oleh guru; apabila diperoleh kapastian tentang kebenaran
konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada
peserta didik untuk menyusunnya dan sesudah peserta didik menemukan apa yang
dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk
memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.10
Metode penemuan terbimbing merupakan suatu cara untuk mengembangkan
cara belajar peserta didik secara aktif. Dengan menemukan sendiri, menyelidiki
sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama diingatan, tidak mudah
dilupakan. Pengertian dan konsep yang ditemukan sendiri meupakan pengertian
dan konsep yang betul-betul di kuasai dan mudah digunakan dalam situasi lain.
Dengan metode penemuan terbimbing, peserta didik belajar berpikir analisis dan
mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan
diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

10
Markaban, Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan
Terbimbing. Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan Dan Penataran Guru
Matematika, Yogyakarta, 2006, h.16.
13

Dengan demikian, guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan


kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat
guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik
sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar
yang teacher oriented menjadi student oriented.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap
yang di tentukan oleh caranya melihat kondisi lingkungan. Pertama tahap enaktif,
tahap dimana seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam usahanya memahami
lingkungan. Kedua tahap ikonik, tahap dimana seseorang melihat dunia melalui
gambar-gambar darei visualisasi verbal dan terakhir tahap simbolik, tahap dimana
gagasan-gagasan abstrak banyak berpengaruh oleh bahasa dan logika.11
Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
peserta didik, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik.
Perkembangan kognitif seseorang sangat ditentukan oleh proses yang dijalaninya,
melalui pristiwa, lingkungan, dan simbul-simbul dan berkat pertolongan kata-kata
yang nantinya dapat menjadi kesimpulan pengetahuan serta dapat menambah
pembendaharaan daya kognitif seseorang.

b. Implementasi Metode Penemuan Terbimbing dalam Pembelajaran


Geometri.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Belajar
bukan semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji
dalam bentuk informasi (materi pelajaran). Orang yang beranggapan demikian
akan segara merasa bangga ketika peserta didik nya telah mampu menyebutkan
kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku
teks atau yang diajarkan oleh guru. Belajar merupakan tindakan dan prilaku
peserta didik yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh
peserta didik sendiri.

11
Zulfikar Ali Buto, Implikasi Teori Pembelajaran Jerome Bruner dalam Nuansa
Pendidikan Modern. 2009.
14

Dalam melaksanakan pembelajaran matematika di SD, kecakapan matematika


atau kemahiran matematika yang harus dicapai peserta didik adalah menunjukkan
pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar
konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma (secara hitung) secara luwes,
akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, memiliki kemampuan
mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, grafik atau dugaan untuk
memperjelas keadaan atau masalah, menggunakan penalaran pada pola, sifat atau
melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti
atau menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika, menyusun kemampuan
strategi dalam membuat atau merumuskan, menafsirkan dan menyelesaikan model
matematika dalam pemecahan masalah, memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika dalam kehidupan.12
Geometri merupakan cabang matematika yang mempelajari titik, garis, bidang
dan benda-benda ruang beserta sifat, ukuran dan hubungannya dengan yang lain.
Pada geometri bidang terapan unsur-unsur tertentu antar lain ialah: titik, garis,
lengkungan dan bidang.
Sebuah titik hanya dapat di tentukan oleh letaknya, tetapi tidak mempunyai
ukuran panjang, luas, isi, atau berat (dikatakan tidak berdimensi), yang merupakan
unsur yang tidak didefinisikan. Begitu pula tentang lengkungan dan bidang.
Lengkungan diperoleh (gambarnya) bila mulai dari suatu titik membuat suatu
jalan (path) sampai disuatu titik lain atau ke titik asal berangkat. Bidang
merupakan sesuatu yang bentuknya datar seperti meja yang tidak mempunyai
batas pinggir. Bagian-bagian seperti titik, lengkungan dan bidang dalam
matematika (geometri) disebut unsur-unsur yang tidak didefinisikan yang
eksistensinya diakui ada. Tanpa adanya pemikiran semacam itu metematika tidak
akan terwujud.
Menemukan berarti menghasilkan sesuatu untuk pertama kali dengan
menggunakan imajinasi, pikiran, atau eksperimen. Penemuan dalam belajar
matematika berarti kegiatan menghasilkan suatu ide matematika, suatu aturan,
atau suatu cara penyelesaian masalah untuk pertama kali. Ide matematika yang

12
Erna Suwangsih, Model Pembelajaran Matematika. (Bandung: UPI PRESS, 2006), h. 28.
15

pertama kali ditemukan peserta didik belum tentu ide yang benar-benar baru,
tetapi setidaknya baru bagi peserta didik. Ide yang ditemukan sendiri akan lebih
dipahami dan diingat oleh si penemu. Karena itu, penemuan digunakan sebagai
salah satu metode dalam belajar matematika. Metode penemuan sebagai suatu
cara penyampaian topik matematika yang memungkinkan peserta didik
menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur matematika melalui serentetan
pengalaman-pengalaman belajar yang lampau.
Pada penemuan terbimbing pengajaran dapat dimulai dengan mengajukan
beberapa pertanyaan, dengan memberikan informasi secara singkat, diluruskan
agar tidak ada miskonsepsi (kesalah pahaman). Pada metode penemuan, konsep,
dalil, algoritma, geometri dan semacamnya yang dipelajari peserta didik
merupakan hal yang baru, belum diketahui sebelumnya, tetapi guru sendiri sudah
tahu apa yang akan ditemukan. Dengan metode ini anak melakukan terkaan,
mengira-ngira, mencoba sesuai dengan pengetahuannya untuk sampai dengan
konsep yang harus ditemukan, oleh karena itu metode penemuan sukar
diorganisasikan karena sangat tergantung kepada kemampuan peserta didik.
Pengajaran harus disesuaikan terus dengan pengetahuan baru peserta didik yang
baru saja diperoleh. Untuk mengurangi masalah ini pada umumnya metode
penemuan dibawakan melalui sedikit ekspositori kemudian bekerja di dalam
kelompok.
Dalam geometri, model penemuan terbimbing dapat digunakan dalam
pembelajaran materi Teorema Pythagoras (―kuadrat hipotenusa segitiga siku-siku
sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisinya‖). Seperti diketahui, dalam sejarah
pengembangan matematika, Pythagoras menemukan teori ini melalui beberapa
kegiatan pengamatan dan pengukuran. Langkah-langkah Pythagoras dalam
menemukan teori ini dapat diadaptasi sesuai dengan perkembangan peserta didik,
sehingga dapat digunakan sebagai metode dalam pembelajaran di sekolah. Peserta
didik diajak melakukan serangkaian kegiatan sehingga ia merasa benar-benar
sebagai penemu teori tersebut.
Metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika, khususnya
geometri, adalah suatu model pembelajaran yang menghendaki peserta didik
16

menemukan ide-ide dalam geometri — misalnya: aturan, pola, hubungan, atau


cara menyelesaikan suatu masalah– melalui keterlibatannya secara aktif dalam
pembelajaran yang didasarkan pada serentetan pengalaman-pengalaman belajar
yang lampau. Yang dimaksud keterlibatan secara aktif dapat berupa kegiatan
mengadakan percobaan/penemuan sebelum membuat kesimpulan, atau
memanipulasi, membuat struktur, dan mentransfer informasi sehingga
menemukan informasi baru yang berupa kebenaran matematika. Selama proses
penemuan, peserta didik mendapat bimbingan guru baik berupa petunjuk secara
lisan maupun petunjuk tertulis yang dituangkan dalam bentuk lembar kerja siswa.
Guru menciptakan lingkungan atau cara yang memungkinkan peserta didik
melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu. Pemberian bimbingan
dimaksudkan untuk membangkitkan perhatian pada tugas yang sedang dihadapi,
mengurangi pemborosan waktu, dan menghindari kegagalan proses penemuan.
Implementasi metode penemuan terbimbing dalam geometri pada bangun
datar peserta didik akan dipandu menemukan dan mencari rumus keliling dan luas
daerahnya adalah segitiga dan jajargenjang. Setiap rumus bangun datar tersebut
akan dipaparkan dalam empat tahapan pembelajaran, yaitu persiapan, kegiatan,
pendahuluan, kegiatan inti dan penutup.
1) Tahap persiapan merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum pembelajaran,
khusunya bahan-bahan (karton gambar segitiga dan jajargenjang beserta LKS)
yang perlu disediakan terkait dengan pembelajaran yang disampaikan.
2) Tahap kegiatan pendahuluan dilakukan dengan tiga ide utama, yaitu
menyampaikan tujuan yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran,
memotivasi peserta didik dengan cara memberikan ice breaking dan
memastikan bahwa pengetahuan prasyarat sudah dimiliki peserta didik dengan
cara apersepsi.
3) Tahap kegiatan inti merupakan kegiatan yang diharapkan dapat mengantarkan
peserta didik menemukan fakta, menemukan masalah, menemukan gagasan,
menemukan solusi, menemukan penerimaan yang berkaitan dengan rumus
keliling dan luas daerah bangun datar segitiga dan jajargenjang dengan
menggunakan LKS (Lembar Kerja Siswa) serta memecahkan soal secara
17

bertahap, mulai dari yang mudah sampai yang sulit. Sehingga pengetahuan,
pemahaman dan aplikasi pada materi ini dapat dikuasai peserta didik dengan
baik. Dengan demikian hasil belajar peserta didik akan meningkat.
4) Tahap penutup digunakan untuk memastikan bahwa apa yang telah
disampaikan telah dipahami dengan baik oleh peserta didik.
Penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran geometri di
sekolah dasar tidak mengharuskan peserta didik menemukan suatu konsep atau
prinsip geometri yang standar (seperti yang di temukan oleh seorang ahli) tetapi
kalau di sekolah menengah dituntut harus menemukan konsepnya. Pada
pembelajaran penemuan, peserta didik sebagai penemu sesuatu yang belum
diketahuinya.

2. Metode Pembelajaran Konvensional


Salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak
digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Pembelajaran
konvensional yaitu metode pembelajaran yang lazim atau biasa diterapkan dalam
pembelajaran sehari-hari disuatu sekolah. Menurut Depdiknas, dalam
pembelajaran konvensional yang ada saat ini cenderung pada belajar hafalan.
Belajar hafalan mengacu pada fakta-fakta, hubungan-hubungan, prinsip dan
konsep.13 Pembelajaran konvensional biasanya guru jarang mengajar peserta didik
untuk menganalisa secara mendalam tentang suatu konsep dan jarang mendorong
peserta didik untuk menggunakan penalaran logis yang lebih tinggi seperti
kemampuan membuktikan atau memperlihatkan suatu konsep.
Pendekatan konvensional adalah proses pembelajaran yang lebih banyak
didominasi gurunya sebagai ―pentransfer ilmu, sementara peserta didik lebih pasif
sebagai ―penerima‖ ilmu. Penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih
sering menggunakan pemberian informasi, ketimbang memperagakan, dan
memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung. Guru

13
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 13.
18

berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya


menyampaikan seluruh meteri yang ada dalam kurikulum.
Menurut Ruseffendi, metode konvensional, guru merupakan atau dianggap
sebagai gudang ilmu, guru bertindak otoriter, guru mendominasi kelas. 14 Guru
mengajarkan ilmu, guru langsung membuktikan dalil-dalil, guru membuktikan
contoh-contoh soal. Sedangkan murid harus duduk rapih mendengarkan, meniru
pola-pola yang diberikan guru, mencontoh cara-cara si guru menyelesaikan soal.
Dalam pembelajaran metode konvensional ditandai dengan ceramah yang
diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan. Sejak dahulu guru
dalam usaha menularkan pengetahuannya pada peserta didik, ialah secara lisan
atau ceramah. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran
yang biasa dilakukan oleh para guru. Pembelajaran konvensional (tradisional)
pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya lebih mengutamakan
hapalan dari pada pengertian, menekankan kepada keterampilan berhitung,
mengutamakan hasil dari pada proses, dan pengajaran berpusat pada guru.
Menurut Santyasa menyatakan, pembelajaran konvensional memiliki 4 ciri-
ciri. Pertama pemerolehan informasi melalui sumber-sumber secara simbolik,
seperti guru atau membaca. Kedua pengasimilasian dan pengorganisasian
sehingga suatu prinsip umum dapat dimengerti. Ketiga penggunaan pada prinsip
umum pada kasus-kasus sepesifik dan keempat penerapan prinsip umum pada
keadaan baru.15
Secara umum, ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah peserta didik
penerima informasi secara pasif, dimana peserta didik menerima pengetahuan dari
guru dan pengetahuan diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan
yang dimiliki sesuai dengan standar, belajar secara individual, pembelajaran
sangat abstrak dan teoritis, perilaku dibangun atas kebiasaan, kebenaran bersifat
absolut dan pengetahuan bersifat final, guru adalah penentu jalannya proses
pembelajaran, perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik, interaksi diantara
peserta didik kurang, guru sering bertindak memperhatikan proses kelompok yang

14
Ibid, h. 14.
15
Ibid, h. 14.
19

terjadi dalam kelompok-kelompok belajar. Sumber pembelajaran konvensional


lebih banyak bersifat tekstual dari pada kontekstual. Sumber informasi dipandang
sangat mempengaruhi proses belajar. Pembelajaran konvensioanal lebih terpusat
pada guru, karena guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran.
Metode pembelajaran konvensional menyandarkan pada hafalan belaka,
penyampain informasi lebih banyak dilakukan oleh guru, peserta didik secara
pasif menerima informasi, pembelajaran sangat abstrak dan teoritis serta tidak
bersadar pada realitas kehidupan, memberikan hanya tumpukan beragam
informasi kepada peserta didik, cenderung fokus pada bidang tertentu, waktu
belajar peserta didik sebagaian besar digunakan untuk mengerjakan buku tugas,
mendengar ceramah guru, dan mengisi latihan (kerja individual). Pembelajaran
konvensional adalah cara mengajar yang menuntut keaktifan guru untuk
menyajikan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan konsep yang akan
dipelajari. Sintaks model pembelajaran konvensional, yaitu guru menyampaikan
materi secara lisan, guru mengadakan tanya jawab kepada peserta didik secara
individual, peserta didik memberikan tugas kepada peserta didik secara individual,
secara bersama-sama membahas tugas, guru dan peserta didik menyimpulkan
materi, pemberian evaluasi.
Beberapa metode yang biasa digunakan dalam metode pembelajaran
konvensional antara lain, metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab,
metode ekspositori, metode drill atau latihan, metode pemberian tugas, metode
demonstrasi, metode permainan dan lain-lain.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam metode pembelajaran
konvensional adalah metode ekspositori. Metode ekspositori adalah metode yang
menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru
kepada sekelompok peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat
menguasai materi pelajaran secara optimal. Oleh karena metode ekspositori lebih
menekankan kepada proses bertutur. Terdapat beberapa karakteristik metode
ekspositori, yaitu:16

16
Ibid, h. 14.
20

a. Metode ekspositori di lakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran


secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam
melakukan strategi ini.
b. Biasanya materi yang di sampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi,
seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga
tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
c. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri.
Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat
memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali
materi yang telah diuraikan.

Metode ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang


berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian,
karena dalam metode ini guru memegang peran yang dominan.

3. Hasil Belajar Matematika


a. Pengertian Hasil Belajar Matematika
Menurut Oemar Hamalik, belajar adalah modifikasi atau memperteguh
kelakuan melalui pengalaman.17 Sedangkan menurut Witherington, belajar
merupakan perubhan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola
respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan
dan kecakapan.18 Dengan perkataan lain, belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungan.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik, yang
tidak tahu menjadi tahu. Belajar merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar
dan disengaja, artinya seseorang yang terlibat dalam peristiwa belajar seharusnya
menyadari bahwa ia mempelajari sesuatu sehingga terjadi perubahan terhadap
dirinya. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu
pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian,
harga diri, minat, watak, serta penyesuaian diri. Terlebih lagi dalam mempelajari

17
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h.36.
18
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2009), h. 155.
21

matematika yang struktur ilmunya berjenjang dari yang paling sederhana sampai
yang paling kompleks, dari yang konkret sampai ke abstrak.
Perubahan-perubahan tersebut merupakan tujuan dari proses pembelajaran
yang telah dilakukan, oleh karena itu jika seseorang telah mengalami perubahan
setelah belajar maka orang tersebut telah memperoleh hasil belajarnya. Hasil
belajar dikatakan sebagai pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik yang
mengikuti proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran bersifat ideal, sedangkan
hasil belajar bersifat aktual. Hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan
pembelajaran, oleh karena itu hasil belajar yang diukur sangat tergantung kepada
tujuan pembelajarannya.
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah
psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa.19
Hasil belajar merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat
keberhasilan peserta didik dalam mengetahui dan memahami suatu mata
pelajaran, biasanya dinyatakan dengan nilai yang berupa huruf atau angka-angka.
Hasil belajar dapat berupa keterampilan, nilai dan sikap setelah peserta didik
mengalami proses belajar. Melalui proses belajar mengajar diharapkan peserta
didik memperoleh kepandaian dan kecakapan tertentu serta perubahan-perubahan
pada dirinya.
Menurut Sudjana, ―Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil peristiwa belajar
dapat muncul dalam berbagai jenis perubahan atau pembuktian tingkah laku
seseorang‖.20 Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh seseorang setelah
melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar tampak dari perubahan tingkah laku
pada diri peserta didik, yang dapat di amati dan diukur dalam bentuk perubahan
pengetahuan sikap dan keterampilan. Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh
setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar diperoleh setelah diadakannya
evaluasi. Hasil belajar ditunjukan dengan prestasi belajar yang merupakan
indikator adanya perubahan tingkah laku peserta didik.
19
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 216.
20
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009). h. 21.
22

Hasil belajar dapat diamati dan diukur dengan penilaian. Penilaian hasil
belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses
belajar dan pembelajaran telah berjalan secara efektif. Ke efektifan pembelajaran
tampak pada kemampuan peserta didik mencapai tujuan belajar yang telah
ditetapkan. Dari segi guru, penilaian hasil belajar akan memberikan gambaran
mengenai ke efektifan mengajarnya, apakah dengan pembelajaran tertentu yang
digunakan mampu membantu peserta didik mencapai tujuan belajar yang
ditetapkan (ketuntasan belajar).
Dari proses belajar diharapkan peserta didik memperoleh prestasi belajar
yang baik sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang ditetapkan sebelum
proses belajar berlangsung. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan belajar adalah menggunakan tes. Tes ini
digunakan untuk menilai hasil belajar yang dicapai dalam materi pelajaran yang
diberikan guru di sekolah. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan tolok ukur atau patokan yang menentukan tingkat keberhasilan
peserta didik dalam mengetahui dan memahami suatu materi pelajaran dari proses
pengalaman belajarnya yang diukur dengan tes.
Matematika bukan merupakan suatu hal yang asing yang terdengar di
telinga kita, setiap saat pasti kita selalu dihadapkan dengan yang namanya
matematika. Matematika berasal dari bahasa latin "mathematika" yang mulanya
diambil dari bahasa yunani "mathematike" yang berarti mempelajari. Matematika
terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi,
aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil yang telah dibuktikan kebenarannya
berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.
Matematika merupakan suatu pelajaran yang tersusun secara beraturan, logis,
berjenjang dari yang paling mudah hingga yang paling rumit. Dengan demikian,
pelajaran matematika tersusun sedemikian rupa sehingga pengertian terdahulu
lebih mendasari pengertian berikutnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia matematika diartikan sebagai ―ilmu
tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur bilangan operasional
23

yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan‖. 21 James


menyatakan bahwa: ―Matematika adalah konsep ilmu tentang logika mengenai
bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang
lainnya dengan jumlah yang banyak yang terjadi ke dalam tiga bidang yaitu :
aljabar, analisis, dan geometri‖.22
Dari berbagai pendapat yang di kemukakan oleh para ahli tentang definisi
matematika di atas, maka dapat dikemukakan bahwa matematika adalah konsep
ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang
memiliki struktur besar yang berhubungan satu dengan yang lainnya yang terbagi
dalam tiga bidang yaitu: aljabar, analisis, dan geometri.
Hasil belajar matematika adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajar matematikanya atau dapat
dikatakan bahwa hasil belajar matematika adalah perubahan tingkah laku dalam
diri peserta didik, yang diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan,
tingkah laku, sikap dan keterampilan setelah mempelajari matematika. Perubahan
tersebut diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan ke arah yang
lebih baik dari sebelumnya.
Dari definisi di atas, serta definisi-definisi tentang belajar, hasil belajar, dan
matematika, maka dapat dirangkai sebuah kesimpulan bahwa hasil belajar
matematika adalah merupakan tolok ukur atau patokan yang menentukan tingkat
keberhasilan peserta didik dalam mengetahui dan memahami suatu materi
pelajaran matematika setelah mengalami pengalaman belajar yang dapat diukur
melalui tes.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Matematika


Hasil belajar setiap individu berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Purwanto memaparkan, berhasil atau tidaknya belajar tergantung pada beberapa
faktor. ― Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar meliputi
faktor eksternal (lingkungan dan instrument pembelajaran) dan faktor internal
21
Tim Penyusun KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. (Jakarta: Balai
Pustaka. 2007). h. 723
22
Suherman. Strategi Belajar Mengajar Matematika. ( Jakarta: Depdikbud. 2001). h. 16
24

(fisiologi dan psikologi).‖23 Penjelasan mengenai faktor-faktor tesebut adalah


sebagai berikut:
1) Faktor eksternal, faktor eksternal terdiri dari:
a) Faktor lingkungan.
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan
dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti
keadaaan yang segar akan lebih baik hasilnya. Lingkungan sosial, misalnya
peserta didik yang sedang memecahkan masalah matematika akan membutuhkan
konsentrasi dan ketenangan sehingga akan terganggu bila ada suara berisik.

b) Faktor instrumental.
Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan kegunaannya
dirancang sesuai dengan hasil belajar yang di harapkan. Faktor instrumental dapat
berupa gedung sekolah, kurikulum, bahan-bahan yang harus dipelajari dan
sebagainya.

2) Faktor internal.
Faktor internal adalah kondisi individu atau peserta didik yang belajar. Faktor
ini dibagi menjadi dua bagian yaitu kondisi fisiologi dan psikologi. Kondisi
fisiologi seperti kesehatan baik, tidak capai, tidak cacat alat inderanya dan
sebagainya. Kondisi psikologi yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar
meliputi minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan
kognitif yaitu persepsi, ingatan, dan kemampuan berpikir.
Hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh kamampuan peserta didik dan
kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang
dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik dibidang kognitif
(intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika peserta didik tidak
hanya peran guru dalam membimbing dan mendidik peserta didik, faktor

23
Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2005), h. 105-111.
25

lingkungan, dan faktor kemauan diri peserta didik dalam pembelajaran saja. Akan
tetapi faktor eksternal dan internal pun mempengaruhi hasil belajar matematika
peserta didik.

B. Penelitian yang Relevan


Hasil penelitian yang relevan ini, diambil dalam skripsi mahasiswa UIN
Jakarta. Penelitian relevan yang mencakup judul ini, yaitu:
Mahmudah (2012), melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing. Hasil penelitiannya
dituangkan dalam jurnal yang berjudul ―Pengaruh Pembelajaran Metode
Penemuan Terbimbing terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa‖.
Penelitian ini dilaksanakan dengan sampel sebanyak 64 siswa kelas VIII yang
berasal dari dua kelas pada salah satu SMP Islam Terpadu di Parungpanjang.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa yang
diajarkan dengan metode penemuan terbimbing diperoleh thit sebesar 2,09 dan ttab
sebesar 1,67. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara
metode penemuan terbimbing terhadap pemahaman konsep matematika siswa.
Iman Sukirman (2006), melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing. Hasil penelitiannya
dituangkan dalam jurnal yang berjudul ―Perbandingan Hasil Belajar Matematika
antar Siswa yang Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing dengan Siswa
yang Menggunakan Metode Ekspositori‖. Penelitian ini dilaksanakan dengan
sampel sebanyak 52 siswa kelas VIII yang berasal dari dua kelas pada salah satu
SMP Islam di Bumi Serpong Damai Tangerang Selatan. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode
penemuan terbimbing diperoleh thit sebesar 3,786 dan ttab sebesar 1,676. Dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa
yang menggunakan metode penemuan terbimbing dengan metode ekspositori.
Mulia Rusmawati (2013), melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing. Hasil penelitiannya
dituangkan dalam jurnal yang berjudul ―Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja
26

Siswa (LKS) Berbasi Penemuan Terbimbing terhadap Hasil Belajar Fisika


Siswa‖. Dengan sampel sebanyak 65 siswa kelas VII yang berasal dari dua kelas
pada salah satu SMP Negeri di Tangerang Selatan. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang menggunakan Lembar
Kerja Siswa (LKS) berbasis penemuan terbimbing diperoleh rata-rata N-gain
sebesar 0,29 dan rata-rata N-gain kelas yang tidak menggunakann lembar kerja
siswa (LKS) berbasis penemuan terbimbing sebesar 0,47. Dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh penggunaan lembar kerja siswa (LKS) berbasis
penemuan terbimbing terhadap hasil belajar fisika siswa pada konsep zat dan
wujudnya akan tetapi pengaruh tersebut belum memberikan kontribusi yang
maksimal terhadap hasil belajar peserta didik.

C. Kerangka Berpikir
Belajar pada dasarnya merupakan suatu perubahan. Proses usaha aktif
seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk prilaku baru menuju
arah yang lebih baik. Kenyataannya, para peserta didik sering kali tidak mampu
mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku
sebagaimana yang diharapkan. Mereka tidak mendapatkan kesempatan yang besar
dalam proses pembelajaran.
Guru sebagai pendidik di tuntut untuk kreatif dalam mencari cara agar materi
yang ingin disampaikan dapat diterima peserta didik dengan mudah. Untuk
mengatasi hal tersebut salah satunya adalah melalui metode penemuan
terbimbing. Dengan di terapkannya pembelajaran melalui metode penemuan
terbimbing, para peserta didik diberi kesempatan yang lebih besar dalam proses
belajar mengajar untuk menemukan konsep sendiri dengan bantuan dan arahan
guru, dengan kata lain guru tidak lagi mendominasi kegiatan pembelajaran
melainkan seluruh perangkat (tenaga pengajar dan peserta didik) yang berada di
dalam kelas di libatkan secara aktif, sehingga peserta didik mudah memahami
rumus-rumus bangun dan hasil belajar peserta didik meningkat.
Pada metode penemuan, dalam diri peserta didik dapat tumbuh sikap inquiry
(menemukan), dapat memecahkan persoalan dengan mandiri, belajar bagaimana
27

menghargai diri sendiri dan lebih mudah mentransfer, memperkecil atau


menghindari menghafal. Metode ini juga memberikan peluang pada peserta didik
untuk saling menukar informasi yang diterimanya atau yang diperoleh dengan
pemahaman yang didapat pada temannya atau kelompok lain.
Metode penemuan adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Peserta didik bekerja berkelompok menemukan sendiri suatu konsep melalui
bimbingan dan arahan dari guru. Ciri dari pembelajaran ini adalah menekankan
pada aktivitas mencari dan menemukan, sehingga peserta didik diarahkan untuk
membangun sendiri pengetahuannya. Peran guru hanya membantu peserta didik
mengarahkan untuk menemukan solusi dari masalahnya dalam materi bangun
datar. Dengan demikian pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing
diduga dapat berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

D. Pengajuan Hipotesis Penelitian


Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berpikir di atas, maka diajukan
hipotesis sebagai berikut:
Hasil belajar matematika yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing
lebih tinggi dari hasil belajar matematika yang diajar dengan metode
pembelajaran konvensional.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di MI I’anatul Huda Tangerang Selatan yang ber
alamat di jalan Bayangkara Raya Perum Pondok Pakulonan Kelurahan Pakualam
Kabupaten Serpong Utara Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini dilaksanakan
pada kelas IV Semester ganjil Tahun ajaran 2014/2015 pada Bulan November-
Desember.

B. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.1 Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh peserta didik MI I’anatul Huda Tangerang Selatan
tahun pelajaran 2014/2015 dan populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah
seluruh peserta didik kelas IV MI I’anatul Huda Tangerang Selatan yang terbagi
atas 2 kelas. Penempatan peserta didik MI I’anatul Huda Tangerang Selatan
dilakukan secara merata dalam hal kemampuan, artinya peserta didik tidak
dikelompokkan berdasarkan atas peringkat atau nilai dan kurikulum yang
diberikan pun sama. Dengan demikian, maka karakteristik antar kelas dikatakan
homogen. Sedangkan karakteristik dalam kelas cukup heterogen, artinya ada
siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Sampel yang diambil dari populasi terjangkau sebanyak dua kelas. Kelas IVB
sebagai kelas eksperimen dan kelas IVA sebagai kelas kontrol. Sampel diambil
dari populasi terjangkau dengan teknik cluster random sampling yaitu memilih
sampel bukan berdasarkan pada individual, tetapi berdasarkan subyek yang secara
alami berkumpul bersama.

1
Sugiyono, Metode Peneitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010),h. 117.

28
29

C. Metode dan Desain Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode quasi eksperimen.
Metode quasi eksperimen pada dasarnya sama dengan eksperimen semu, bedanya
adalah dalam pengontrolan variabel. Pengontrolannya hanya dilakukan terhadap
suatu variable saja, yaitu variable yang dipandang paling dominan.2 Eksperimen
penelitian dilakukan terhadap kelompok-kelompok yang homogen terdiri dari 2
kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok dengan perlakuan yakni dengan
menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing dan kelompok kedua
adalah kelompok dengan pendekatan pembelajaran ekspositori sebagai kelompok
kontrol pada penelitian ini
Desain penelitian yang digunakan adalah The Randomized Postest Control
Group Design. Rancangan desain penelitiannya sebagai berikut:3
Tabel 3.1
Rancangan Desain Penelitian
Kelompok Perlakuan Posttest
Acak A (KE) X1 Y
Acak B (KK) X2 Y
Keterangan:
KE : Kelas eksperimen.
KK : Kelas kontrol.
X1 : Pemberian materi dengan metode penemuan terbimbing.
X2 : Pemberian materi dengan metode konvensional.
Y : Pemberian posttest.
Setelah selesai mempelajari pokok bahasan, kedua kelompok diberi tes yang
sama. Hasil tes kemudian diolah sehingga dapat diketahui apakah hasil belajar
matematika kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada hasil kelompok kontrol.

D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini metode pembelajaran penemuan terbimbing
merupakakan variable independent (variabel bebas), sedangkan hasil belajar

2
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010), h.59.
3
Ibid, h.206.
30

merupakan variable dependent (variable terikat). Instrumen yang digunakan


dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar matematika. Tes hasil belajar
matematika berupa tes dalam bentuk uraian sebanyak 15 soal, dengan kisi-kisi
instrumen sebagai berikut:
Tabel 3.2
Kisi-Kisi Instrumen
Standar Kompetensi : Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar
sederhana dalam pemecahan masalah.
Indikator Kompetensi Tingkat Jumlah
Kemampuan Soal
C1 C2 C3
Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang 1 2
(menetukan banyak sisi dan titik sudut pada 4
Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

jajar genjang).
Menemukan rumus dan menentukan luas 3 2 7
dan keliling jajargenjang. 6 5
7
Kompetensi Dasar:

8
9
Mengidentifikasi sifat-sifat sigitiga 11 1
(menetukan banyak sisi dan titik sudut
pada segitiga).
Menemukan rumus dan menentukan luas 10 3
dan keliling segitiga. 12
14
Memecahkan masalah yang berkaitan 13 2
dengan luas dan keliling jajargenjang dan 15
segitiga.
Jumlah total 3 8 4 15
31

E. Teknik Pengumpulan Data


Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes. Tes yang akan
diberikan merupakan tes tertulis berupa tes uraian atau essai. Teknik yang
digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah dengan memberikan tes
akhir (posttest). Posttest adalah tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan
akhir setelah pembelajaran dilakukan. Sebelum tes tersebut diujikan pada objek
penelitian maka terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen.
Uji coba instrumen dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas
instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini,
uji coba instrumen di lakukan pada siswa di luar kelas eksperimen dan kelas
kontrol, yaitu kelas 5 yang terdiri dari 32 siswa di MI I’anatul Huda. Uji coba
dilakukan di kelas 5 karena objek penelitian yang di angkat adalah kelas 4, maka
uji coba instrumen di lakukan pada level kelas di atas kelas objek penelitian.
Setelah melakukan uji coba instrumen, langkah selanjutnya adalah mengelola
data hasil uji coba dengan mencari validitas, reabilitas, tigkat kesukaran dan daya
pembeda.
1. Uji Validitas
Validitas (kesahihan) adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara
suatu pengukuran (diagnosis) dengan arti atau tujuan kriteria belajar atau tingkah
laku.4 Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai
validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki
validitas rendah.5 Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur
apa yang kita inginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti
secara tepat.

4
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja
Rosda Karya, 2010), h.137.
5
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: RT:
Rieneka Cipta, 2010), h. 211.
32

Pada penelitian ini, untuk mengukur validias butir soal atau validitas item
pada tes hasil belajar matematika digunakan korelasi Product Moment Pearson
sebagai berikut:6
( )( )
rxy =
√* ( ) +* ( ) )

Keterangan :
rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment.
N = Number of cases (jumlah responden).
XY = Jumlah hasil perkalian antara skor x dan y.
X = Jumlah skor X.
Y = Jumlah seluruh skor Y.
Uji validitas instrumen dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan
di atas dengan rtabel pada taraf signifikansi 5%, dengan ketentuan bahwa jika rxy
sama atau lebih besar dari rtabel maka soal tersebut dinyatakan valid.
Setelah dilakukan uji validitas, dari 15 soal yang di uji cobakan terdapat 4 soal
yang tidak valid yaitu soal dengan nomor 4,5,7 dan 8, soal ini tidak valid karena
memiliki nilai rhitung rtabel. Hal ini berarti 11 butir soal yang valid yang akan
diikut sertakan dalam tes akhir penelitian. Soal-soal yang tidak valid tidak akan
diikut sertakan dalam tes pada akhir penelitian, karena kedua soal tersebut dinilai
tidak handal untuk mengukur hasil belajar matematika peserta didik. Selanjutnya
penguji melakukan uji reliabilitas.

2. Uji Reliabilitas
Suatu alat ukur memiliki reliabilitas yang baik jika alat ukur itu memiliki
konsistensi yang handal walau dikerjakan oleh siapa pun (dalam level yang sama),
dimana pun dan kapan pun. Dalam penelitian ini, untuk mengukur koefisien
reliabilitas instrumen tes hasil belajar matematika digunakan rumus Alpa
Cronbach sebagai berikut:7

6
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2009), h. 78.
7
Ibid, h. 109.
33

( )( )

Keterangan:
= Reliabilitas yang di cari
= Banyaknya item soal.
= Jumlah varians skor tiap-tiap item.
= Varians total.
Klasifikasi reliabilitas yang digunakan menurut Subana dan Sudrajat
mengacu8 pada klasifikasi interpetasi kolerasi yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.3
Klasifikasi Interpretasi Korelasi Reliabilitas
Nilai Korelasi Interpretasi
r11 ≤ 0,20 Tidak ada korelasi
0,20 < r11 ≤ 0,40 Korelasi rendah
0,40 < r11 ≤ 0,70 Korelasi sedang
0,70 < r11 ≤ 0,90 Korelasi tinggi
0,90 < r11 ≤ 1,00 Korelasi sangat tinggi
r11 = 1,00 Korelasi sempurna

Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas instrumen, diperoleh nilai 0,78.


Maka instrumen penelitian tersebut dapat disimpulkan memiliki kriteria korelasi
reliabilitas yang tinggi, dan memenuhi persyaratan instrumen yang memiliki
ketetapan jika digunakan.

3. Uji Pembeda Butir Soal


Daya pembeda soal adalah kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara
siswa yang menjawab dengan benar (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang

8
Subana dan Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. (Bandung, Pustaka Setia, 2005),h.
132
34

menjawab salah (berkemampuan rendah). Dalam penelitian ini, untuk mengetahui


daya pembeda tiap butir soal digunakan rumus:9

D= – = PA - PB

Keterangan :
D = Indeks daya pembeda suatu butir soal.
BA = Banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar.
BB = Banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar.
JA = Banyaknya siswa pada kelas atas.
JB = Banyaknya siswa pada kelas bawah.
PA = Proporsi kelompok atas yang menjawab benar.
PB = Proporsi kelompok bawah yang menjawab benar.

Tolok ukur untuk menginterpretasi daya pembeda tiap butir soal digunakan
kriteria sebagai berikut:10
Tabel 3.4
Klasifikasi Interpretasi Daya Pembeda
Nilai DP Interpretasi
0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek
0,20 < DP ≤ 0,40 Cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 Baik
0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat baik

Dari hasil perhitungan daya beda soal, ditemukan bahwa dari 15 soal yang
diujikan, 7 soal memiliki daya pembeda “cukup”, dan 8 soal memiliki daya
pembeda “ baik”.

9
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2009), h. 213.
10
Ibid, h. 218.
35

4. Uji Kesukaran Butir Soal


Tingkat kesukaran untuk setiap item soal menunjukan apakah butir soal itu
tergolong sukar, sedang atau mudah. Dalam penelitian ini, untuk menghitung
tingkat kesukaran tiap butir soal berbentuk pilihan ganda digunakan rumus
berikut:11

P=

Keterangan:
P = Indeks kesukaran.
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar.
JS = Jumlas seluruh siswa peserta tes.

Tolok ukur untuk menginterpretasikan taraf kesukaran tiap butir soal


digunakan kriteria sebagai berikut:12
Tabel 3.5
Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran
Nilai DP Interpretasi
0,00 < IK ≤ 0,30 Soal sukar
0,30 < IK ≤ 0,70 Soal sedang
0,70 < IK ≤ 1,00 Soal mudah

Berdasarkan hasil perhitungan taraf kesukaran instrumen tes terdapat 3 soal


yang mempunyai tingkat kesukaran mudah dan 12 soal dengan kriteria sedang.

F. Teknik Analisis Data


Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif, yaitu suatu teknik analisis
yang dilakukan dengan perhitungan, karena berhubungan dengan angka, yaitu
skor tes hasil belajar matematika yang diberikan kepada kedua kelompok sampel.

11
Ibid, h.223.
12
Ibid, h.225.
36

Dari data yang telah diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan statistik dan
melakukan perbandingan terhadap dua kelas tersebut untuk mengetahui kontribusi
metode pembelajaran penemuan terbimbing terhadap hasil belajar matematika
siswa, namun sebelumnya dilakukan terlebih dahulu pengujian normalitas dan
homogenitas, sebagai berikut:
1. Uji Prasyarat Analisis Data
a. Uji Normalitas
Uji normalitas untuk mengetahui apakah data sampel berasal dari populasi
yang berdistribusi normal.
Langkah-langkah uji normalitas adalah:
1) Urutkan data sampel dari yang terkecil hingga yang terbesar.

2) Tentukan nilai Zi =

Dengan:
Zi = Skor baku.
Xi = Skor data.
X = Nilai rata-rata.
S = Simpangan baku.
3) Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Zi berdasarkan tabel Zi dan
disebut dengan F (Zi) dengan aturan:
Jika Zi > 0, maka F (Zi) = 0,5 + nilai tabel
Jika Zi > 0, maka F (Zi) = 1 – (0,5 + nilai tabel)
4) Selanjutnya hitung proporsi Z1, Z2, ..., Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi
jika proporsi ini dinyatakan oleh S (Z), maka:

S(Zi) =

5) Hitunglah selisih F(Zi) – S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.


6) Ambil nilai terbesar antara harga-harga mutlak selisih tersebut.
7) Mengambil kesimpulan berdasarkan harga Lhitung dan Ltabel yang telah didapat.
Apabila Lhitung < Lttabel maka sampel berasal dari distribusi normal.
37

b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel
berasal dari populasi yang sama (homogen) atau tidak. Dalam penelitian ini,
pengajuan homogenitas menggunakan uji Fisher (F). Prosedur pengujiannya
sebagai berikut:13
1) Tentukan hipotesis.
2) Bagi data menjadi dua kelompok.
3) Tentukan simpangan baku dari masing-masing kelompok.
4) Tentukan Fhitung dengan rumus.
( ) ( )
F= dengan S gab =
( )

Keterangan :
= Jumlah sampel pada kelompok eksperimen.
= Jumlah sampel pada kelompok kontrol.
̅ = Rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen.
̅ = Rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.
= Varians kelompok eksperimen.
= Varians kelompok kontrol.
5) Tentukan taraf nyata yang akan digunakan.
6) Tentukan db pembilang (varians terbesar) dan db penyebut (varians terkecil).
7) Tentukan kriteria pengujian :
a) Jika Fhitung < Ftabel maka Ho di terima, yang berarti varians kedua populasi
homogen.
b) Jika Fhitung > Ftabel maka Ho di tolak, yang berarti varians kedua populasi
tidak homogen.

2. Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data dan pada uji normalitas
didapatkan bahwa kelompok eksperimen dan kontrol berasal dari populasi yang

13
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), Cet. III, h. 250.
38

berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis ini


dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan metode pembelajaran penemuan
terbimbing ini berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Langkah-
langkah untuk menguji hipotesis:
a. Menentukan hipotesis deskriptif
H0 : Rata-rata hasil belajar matematika kelas yang menggunakan metode
pembelajaran penemuan terbimbing kurang dari sama dengan kelas yang
menggunakan metode konvensional.
H1 : Rata-rata hasil belajar matematika kelas yang menggunakan metode
pembelajaran penemuan terbimbing lebih tinggi dari kelas yang
menggunakan metode konvensional.
b. Menentukan hipotesis statistik
H0 : µ1 ≤ µ2
H1 : µ1 > µ2
Keterangan:
µ1 = Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen.
µ2 = Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas kontrol.
c. Hitung statistik uji-t.
1) Jika varian populasi homogen:

̅ ̅
Rumus t  =

( ) ( )
Dimana  ²=

Keterangan:
thitung : Harga uji statistik.
̅ : Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen.
̅ : Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas control.
S gab : Varian gabungan.
n1 : Jumlah sampel kelas eksperimen.
39

n2 : Jumlah sampel kelas kontrol.


S12 :Varians kelompok eksperimen.
S22 :Varians kelompok kontrol.

2) Jika varian populasi heterogen:

̅ ̅
Rumus t  =

Keterangan :
thitung : Harga uji statistik.
̅ : Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen.
̅ : Skor rata-rata hasil belajar matematika kelas kontrol.
S1 2 : Varian kelompok eksperimen.
2
S2 : Varian kelompok kontrol.
n1 : Jumlah sampel kelas eksperimen.
n2 : Jumlah sampel kelas kontrol.

d. Menentukan tingkat signifikansi


Tingkat signifikansi yang diambil dalam penelitian adalah dengan derajat
bebas α = 0,05.
e. Menentukan kriteria pengujian
Untuk menentukan kriteria pengujian pada pengolahan data dilakukan dengan
operasi perhitungan, pengujiannya dengan melihat perbandingan antara thitung
dan ttabel.
f. Pengambilan kesimpulan
Jika hasil operasi perhitungan pada poin (3) ternyata :
a) thitung < harga ttabel, maka terima Ho.
b) thitung > harga ttabel, maka tolak Ho.

Apabila data populasi tidak berdistribusi normal atau tidak homogen, maka
pengujian hipotesis selanjutnya menggunakan analisis statistik non parametrik.
Bab IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan di MI I’anatul Huda Tangerang Selatan yang
dilakukan sebanyak delapan kali pertemuan pembelajaran. Peneliti mengambil
dua kelas untuk dijadikan sebagai kelas penelitian. Sampel yang digunakan
sebanyak 68 peserta didik, 34 peserta didik kelas eksperimen dan 34 peserta didik
kelas kontrol. Pada penelitian ini kelas IV-B sebagai kelas eksperimen yang diajar
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing, sedangkan IV-A sebagai
kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran
konvensional.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah nilai hasil belajar matematika
siswa kelas eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing dan
hasil belajar matematika siswa kelas kontrol yang tanpa menggunakan metode
penemuan terbimbing. Data diambil dengan menggunakan instrumen berupa tes
hasil belajar yang terdiri dari 11 soal berbentuk essai yang diberikan setelah kedua
kelas mempelajari mata pelajaran yang sama.
Sebelum soal tersebut digunakan, soal-soal tersebut telah di uji coba untuk
memenuhi persyaratan tes yaitu uji validitas, reliabilitas, daya kesukaran dan daya
pembeda soal. Materi matematika yang diajarkan pada penelitian ini adalah luas
dan keliling segitiga dan jajargenjang. Untuk mengetahui hasil belajar ke dua
kelas, setelah diberikan perlakuan yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol lalu ke dua kelas tersebut diberikan tes akhir (posttest) yang sama.
1. Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen
Hasil tes indikator hasil belajar matematika yang terdiri dari lima indikator
telah diberikan kepada kelompok eksperimen yang menggunakan metode
penemuan terbimbing. Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai
hasil belajar matematika, dari 34 peserta didik yang dijadikan sampel diperoleh

40
41

nilai terendah 68 dan nilai tertinggi 92. Untuk lebih jelasnya, deskripsi data hasil
belajar matematika kelas eksperimen dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Statistik Kelompok Eksperimen
Banyak sampel 34
Rata-rata 82,22
Median 83
Modus 88,91
Maksimum 92
Minimum 68
Simpangan baku 6,91
Varians 47,80367
Kemiringan -0,97
Berdasarkan data Tabel 4.1 terlihat bahwa banyak sampel pada kelas
ekperimen yaitu sebanyak 34 peserta didik. Selisih nilai tertinggi dan nilai
terendah hasil belajar peserta didik adalah 24, dengan nilai terendah yaitu 68
sedangkan nilai tertinggi yaitu 92. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai
rata-rata 82,22, median 83, dan modus 88,91. Varians kelompok eksperimen
sebesar 47,80367 berarti penyebaran data kelompok eksperimen merata, dengan
simpangan baku 6,91.
Sebagai rincian data hasil belajar matematika kelas eksperimen yang
diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika
Kelas Eksperimen
No Nilai (fi) (Xi) fiXi Xi2 fiXi2 Frekuensi (%)
1. 68 - 71 4 69,5 278 4830 19321 11,76
2. 72 - 75 3 73,5 220,5 5402 16206,75 8,82
3. 76 - 79 3 77,7 233,1 6037 18111,87 8,82
4. 80 - 83 8 81,5 652 6642 53138 23,52
5. 84 - 87 5 85,5 427,5 7310 46551,25 14,70
6. 88 - 92 11 89,5 984,5 8010 88112,75 32,35
JUMLAH 34 2795,6 38232,54 231441,6 100
42

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi, dapat diketahui bahwa nilai terbanyak


terdapat pada interval 88-92 sebanyak 11 peserta didik dengan presentase sebesar
32,35% dan peserta didik yang memperoleh nilai terendah berada pada interval
68-71 sebanyak 4 peserta didik dengan presentase sebesar 11,76%. Dengan rata-
rata 82,22, nilai di atas rata-rata hasil belajar matematika peserta didik mencapai
31 orang (1 peserta didik pada interval 68-71, 3 peserta didik pada interval 72-75,
3 peserta didik pada interval 76-79, 8 peserta didik pada interval 80-83, 5 peserta
didik pada interval 84-87, dan 11 peserta didik pada interval 88-92) dengan
presentase 91,18%, sedangkan peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah
rata-rata sebanyak 3 orang (3 peserta didik pada interval 68-71) dengan presentase
8,82%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik kelompok
eksperimen atau kelompok yang diajarkan dengan metode penemuan terbimbing
mendapat nilai di atas rata-rata.
Nilai KKM pada tempat penelitian yaitu sebesar 70 untuk mata pelajaran
matematika, maka sebanyak 31 peserta didik kelompok eksperimen mendapat
nilai di atas KKM. Sedangkan peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM
sebanyak 3 peserta didik. Secara visual, penyebaran data hasil post test kelas
eksperimen dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dapat dilihat
pada Gambar 4.1 sebagai berikut:

12
10
Frekuensi

8
6
4
2
0
68-71 72-75 76-79 80-83 84-87 88-92
Nilai

Gambar 4.1
Diagram Batang Hasil Post test Kelas Eksperimen

Berdasarkan Gambar 4.1 terlihat bahwa skor interval 88-92 merupakan skor
yang paling banyak diperoleh peserta didik kelas eksperimen, yaitu sebanyak 11
43

peserta didik. Skor rata-rata hitung yang diperoleh pada kelompok eksperimen
yaitu 82,22. Dengan modus 88,91 dan median sebesar 83. Dari gambar di atas,
median dan modus berada di atas rata-rata. Ini menunjukkan bahwa X < Me < Mo.
Gambar hasil post test kelas eksperimen di atas memiliki koefisien -0,97 (negatif).
Hal ini menggambarkan bahwa data menyebar pada nilai-nilai di atas rata-rata.
Sehingga peserta didik yang memeperoleh nilai di atas rata-rata lebih banyak
dibandingkan peserta didik yang memperoles nilai di bawah rata-rata.

2. Hasil Belajar Matematika Kelompok Kontrol.


Hasil tes indikator hasil belajar yang terdiri dari lima indikator telah diberikan
kepada kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil belajar matematika,
dari 34 peserta didik yang dijadikan sampel diperoleh nilai terendah 48 dan nilai
tertinggi 76. Untuk lebih jelasnya, deskripsi data hasil belajar matematika kelas
kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Hasil Belajar Kelas Kontrol
Statistik Kelompok Kontrol
Banyak sampel 34
Rata-rata 65,14
Median 65,35
Modus 61,38
Maksimum 76
Minimum 48
Simpangan baku 7,12
Varians 50,7353
Kemiringan 0,52
Berdasarkan data Tabel 4.3 terlihat bahwa banyak sampel pada kelas kontrol
yaitu sebanyak 34 peserta didik. Selisih nilai tertinggi dengan nilai terendah pada
kelompok kontrol adalah 28, dengan nilai terendah kelompok kontrol yaitu 48,
sedangkan nilai tertinggi kelompok kontrol yaitu 76. Berdasarkan hasil
44

perhitungan diperoleh nilai rata-rata sebesar 65,14, median sebesar 65,35 dan
modus sebesar 61,38. Varians kelompok kontrol sebesar 50,7353, berarti
penyebaran data merata dengan simpangan baku sebesar 7,12. Tingkat kemiringan
di kelas kontrol sebesar 0,52. Karena bernilai positif, maka kecendrungan data
mengumpul di bawah nilai rata-rata.
Sebagai rincian data hasil tes hasil belajar matematika peserta didik kelas
kontrol yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sebagai
berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika
Kelas Kontrol
No Nilai (fi) (Xi) fiXi Xi2 fiXi2 Frekuensi (%)
1. 48 – 52 2 50 100 2500 5000 5,88
2. 53 – 57 2 55 110 3025 6050 5,88
3. 58 – 62 9 60 540 3600 32400 26,47
4. 63 – 67 7 65 455 4225 29575 20,58
5. 68 – 72 8 70 560 4900 39200 23,52
6. 73 – 77 6 75 450 5625 33750 17,64
JUMLAH 34 2215 23875 145975 100
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi, dapat diketahui bahwa nilai terbanyak
terdapat pada interval 58 – 62 sebanyak 9 peserta didik dengan presentase sebesar
26,47% dan peserta didik yang memperoleh nilai terendah berada pada interval 48
– 52 sebanyak 2 peserta didik dengan presentase sebesar 5,88%. Dengan rata-rata
65,14, nilai di atas rata-rata hasil belajar matematika peserta didik mencapai 11
orang (5 peserta didik pada interval 68-72 dan 6 peserta didik pada interval 73-77)
dengan presentase 32,35%, sedangkan peserta didik yang mendapatkan nilai di
bawah rata-rata sebanyak 23 orang (2 peserta didik pada interval 48 – 52, 2 peserta
didik pada interval 53 – 57, 9 peserta didik pada interval 58 – 62, 7 peserta didik
pada interval 63 – 67 dan 3 peserta didik pada interval 68 – 72) dengan presentase
53,49%. Hal ini nilai peserta didik yang di atas rata-rata pada kelompok
eksperimen sama dengan nilai peserta didik yang di bawah rata-rata pada
kelompok kontrol.
Nilai KKM pada tempat penelitian yaitu sebesar 70 untuk mata pelajaran
matematika, maka sebanyak 11 peserta didik kelompok eksperimen mendapat
45

nilai di atas KKM. Sedangkan peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM
sebanyak 23 peserta didik. Secara visual, penyebaran data hasil posttest kelas
kontrol dapat disajikan dalam Gambar 4.2 sebagai berikut:
10

8
Frekuensi

0
48-52 53-57 58-62 63-67 68-72 73-77
Nilai

Gambar 4.2
Diagram Batang Hasil Posttest Kelas Kontrol

Berdasarkan Gambar 4.2 terlihat skor interval 58 – 62 merupakan skor yang


paling banyak diperoleh peserta didik kelompok kontrol, yaitu sebanyak 26,47%.
Skor rata-rata hitung yang diperoleh pada kelompok kontrol yaitu 65,14 dengan
modus 61,38 dan median sebesar 65,35. Dari gambar di atas, nilai modus
memiliki nilai lebih kecil dari nilai rata-rata dan nilai median, nilai rata-rata
berada di antara nilai modus dan nilai median. Ini menunjukkan bahwa Mo < X <
Me. Gambar hasil posttest kelas kontrol di atas memiliki koefisien 0,52 (positif).
Hal ini menggambarkan bahwa data menyebar pada nilai-nilai di bawah rata-rata.
Sehingga peserta didik yang memeperoleh nilai di bawah rata-rata lebih banyak
dibandingkan peserta didik yang memperoles nilai di atas rata-rata.

3. Perbandingan Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok


Kontrol
Berdasarkan tes hasil belajar peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol,
terlihat adanya perbedaan pada ukuran pemusatan dan penyebaran data kedua
kelas tersebut. Berikut ini diberikan data hasil belajar untuk kelas eksperimen dan
kelas kontrol pada Tabel 4.5 sebagai berikut:
46

Tabel 4.5
Perbandingan Data Hasil Belajar
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Banyak sampel 34 34
Rata-rata 82,22 65,14
Median 83 65,35
Modus 88,91 61,38
Maksimum 92 76
Minimum 68 48
Simpangan baku 6,91 7,12
Varians 47,80367 50,7353
Kemiringan -0,97 0,52
Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai minimum yang didapat oleh
kelas eksperimen sama nilai kelas kontrol yaitu 68 dan 48. Untuk nilai rata-rata
yang diperoleh kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan kelas
eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Nilai rata-rata kelas eksperimen
yaitu 82,22 dan kelas kontrol yaitu 65,14. Begitu juga dengan perbandingan
median dan modus kelas kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Secara
visual, perbandingan data hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat
disajikan dalam Gambar 4.3. Penulis juga melakukan perhitungan pada hasil
belajar peserta didik disetiap indikator instrumen berupa persentase jenjang
kognitif Taksonmi Bloom yaitu mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan
(C3) dari hasil posttest peserta didik kelas eksperimen dan kontrol.
Hasil perhitungan persentase tiap jenjang kognitif peserta didik disajikan pada
Tabel 4.6. Sedangkan untuk perhitungan lebih lengkap dapat dilihat pada
lampiran. Terlihat bahwa rata-rata persentase peserta didik kelas eksperimen lebih
tinggi dibandingkan rata-rata persentase kelas kontrol.
47

Tabel 4.6
Perhitungan Persentase Jenjang Kognitif Hasil Posttest
Kelas Eksperimen dan Kontrol
Kelas Jenjang Kognitif
C1 C2 C3
X % X % X %
Eksperimen 6,85 85,62% 15,73 65,54% 7,62 63,5%
Kontrol 5,62 70,25% 12,62 52,58% 6,65 55,42%

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa terdapat 3 indikator hasil belajar yaitu pada
jenjang kognitif C1, C2, dan C3. Ditinjau dari indikator hasil belajar kelas
eksperimen diperoleh rata-rata secara keseluruhan sebesar 10,1, dengan rincian C1
sebesar 6,85, C2 sebesar 15,73, dan C3 sebesar 7,62. Pada kelas kontrol diperoleh
rata-rata secara keseluruhan sebesar 8.3, dengan rincian C1 sebesar 5,62, C2
sebesar 12,62, dan C3 sebesar 6,65.
Untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol, presentase tertinggi pada jenjang
kognitif di peroleh pada jenjang kognitif C1 yaitu 85,62% pada kelas eksperimen
dan 70,25 pada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa, untuk jenjang kognitif
C1 seluruh peserta didik kelas eksperimen hanya mampu mencapai 85,62% dari
skor ideal yang diharapkan. Pada kelas kontrol, untuk jenjang kognitif C1 seluruh
peserta didik hanya mampu mencapai 70,25 dari skor yang diharapkan.
Sedangkan presentase terendah pada jenjang kognitif kelas eksperimen pada
jenjang kognitif C3 yaitu 63,5% dan presentase terendah kelas kontrol pada
jenjang kognitif C2 sebesar 52,58%.

B. Pengujian Persyaratan Analisis


Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah data tes hasil belajar luas
dan keliling bangun datar segitiga dan jajargenjang. Analisis data tes hasil belajar
luas dan keliling bangun datar segitiga dan jajargenjang dilakukan untuk menguji
kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian, yaitu kemampuan tes hasil
belajar luas dan keliling bangun datar segitiga dan jajargenjang yang
pembelajarannya menerapkan metode penemuan terbimbing lebih tinggi dari pada
peserta didik yang pembelajarannya menerapkan pembelajaran konvensional.
48

Akan tetapi, sebelum dilakukan pengujian hipotesis penelitian, terlebih dahulu


akan dilakukan uji prasyarat analisis data dengan menggunakan uji normalitas dan
uji homogenitas data.
1. Uji Normalitas Tes Hasil Belajar Matematika
Dalam penelitian ini, uji normalitas didapat dengan menggunakan rumus
liliefors, uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi
normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi normal jika
memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel di ukur pada taraf signifikan dan tingkat
kepercayaan tertentu.
Pasangan hipotesis yang akan di uji adalah sebagai berikut:
Ho : data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
H1 : data sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas kedua kelompok sampel penelitian dapat dilihat pada
tabel berikut:
Table 4.7
Hasil Uji Normalitas Hasil Belajar
Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
N 34 34
̅ 48,47 64,70
S 10,22 7,06
Lhitung 0,1163 0,1427
Ltabel 0,1519 0,1519
Kesimpulan Data berdistribusi normal Data berdistribusi normal
Dari hasil pengujian untuk kelompok eksperimen di peroleh Lhitung = 0,1163
dan dari tabel nilai kritis uji liliefors diperoleh nilai Ltabel = 0,1519. Karena Lhitung
kurang dari Ltabel (0,1163 < 0,1519) maka Ho di terima, artinya data yang terdapat
pada kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas hasil belajar luas dan keliling bangun datar segitiga dan
jajargenjang kelompok kontrol, diperoleh nilai peroleh Lhitung = 0,1427 dan dari
tabel nilai kritis uji liliefors diperoleh nilai Ltabel = 0,1519. Karena Lhitung kurang dari
49

Ltabel (0,1163 < 0,1519) maka Ho di terima, artinya data yang terdapat pada
kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) untuk kedua
kelompok sampel penelitian. Dari tabel dapat disimpulakan bahwa kedua
kelompok sampel penelitian berdistribusi normal karena memenuhi Lhitung < Ltabel.

2. Uji Homogenitas Tes Hasil Belajar Matematika


Setelah kedua kelompok sampel penelitian dinyatakan berdistribusi normal,
selanjutnya dicari nilai homogenitasnya. Dalam penelitian ini, nilai homogenitas
didapat dengan menggunajkan uji fisher. Uji homogenitas ini dilakukan untuk
mengetahui apakah kedua varians populasi homogen. Kriteria pengujian yang
digunakan yaitu kedua kelompok di nyatakan homogen apabila Fhitung < Ftabel
diukur pada taraf signifikan dan tingkat kepercayaan tertentu.
Hasil uji homogenitas kedua kelompok sampel penelitian dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:
Tabel 4.8
Hasil Uji Homogenitas Hasil Belajar
Statistik
S2Eksperimen 58,88
S2Kontrol 49,91
Fhitung 1,18
Ftabel 1,79
Kesimpulan Homogen

Berdasarkan Tabel 4.5, hasil uji homogenitas untuk data posttest didapat Fhitung
= 1,18. Dengan taraf signifikan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan (dk1) =
33 dan (dk2) = 33 di dapat Ftabel = 1,79. Dari kedua data tersebut dapat
disimpulkan bahwa data hasil belajar dari kedua sampel tersebut mempunyai
varians yang sama atau homogen karna memenuhi kriteria Fhitung < Ftabel.
50

3. Pengujian Hipotesis Penelitian


Setelah dilakukan uji prasyarat analisis ternyata populasi berdistribusi normal
dan homogen. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis menggunakan uji-t.
pengujian hipotesis ini dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata tes hasil
belajar luas dan keliling bangun datar segitiga dan jajargenjang kelompok
eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing lebih tinggi
dibandingkan dengan rata-rata tes hasil belajar luas dan keliling bangun datar
segitiga dan jajargenjang yang menggunakan metode pembelajaran konvensional.
a. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesiss dilakukan untuk mengetahui apakah skor hasil belajar
kelompok eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran penemuan
terbimbing lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan skor hasil belajar
kelompk kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Untuk
pengujian tersebut diajukan hipotesis sebagai berikut:
Ho : µ1 ≤ µ2
Rata-rata hasil belajar matematika yang diajar dengan menggunakan metode
penemuan terbimbing lebih kecil sama dengan dari pada yang diajar dengan
menggunakan metode pembelajaran konvensional.
H1 : µ1 > µ2
Rata-rata hasil belajar matematika yang diajar dengan menggunakan metode
penemuan terbimbing lebih tinggi dari pada yang diajar dengan menggunakan
metode pembelajaran konvensional. Pengujian hipotesis tersebut akan di uji
dengan menggunakan rumus uji-t, dengan kriteria pengujian yaitu : jika thitung >
ttabel maka Ho ditolak dan H1 diterima pada tingkat keperayaan 95%.

b. Hasil Uji Hipotesis


Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data, diketahui bahwa data hasil
belajar kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen,
sehingga pengujian data hasil belajar kedua kelompok dilanjutkan pada analisis
data berikutnya, yaitu uji hipotesis menggunakan uji-t dengan kriteria pengujian
51

yaitu jika t hitung < ttabel maka H0 diterima H1 ditolak. Jika thitung > ttabel maka H0
ditolak, H1 diterima.
Perhitungan lengkap hasil pengujian hipotesis data posttest kelas eksperimen
maupun kelas kontrol dapat dilihat pada lampiran. Berikut adalah tabel pengujian
hipotesis penelitian data post test.
Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Uji Hipotesis
Statistik
Data
Sample (n) Mean Sgab thitung t tabel Kesimpulan
Eksperimen 34 81,29 7,375 8,95 2,00 H0 di tolak
Post Test

Kontrol 34 64,71

Dari Tabel 4.6, hasil perhitungan uji hipotesis di atas untuk nilai post test
kelas eksperimen dan kelas kontrol pada taraf signifikan α = 0,05 di peroleh thitung
post test sebesar 8,95 dengan ttabel 2,00, maka dapat dilihat bahwa hasil thitung post
test lebih besar di bandingkan dengan ttabel. Berdasarkan kriteria pengujian yang
telah ditetapkan, yaitu: jika thitung > ttabel, maka H1 diterima, dan dapat dinyatakan
bahwa metode penemuan terbimbing berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika peserta didik. Dari hasil post test, rata-rata hasil belajar kelompok
eksperimen lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar kelas kontrol.

C. Pembahasan Hasil Penelitian


Penelitian ini membahas hasil belajar luas dan keliling bangun datar segitiga
dan jajargenjang, pembelajaran kelas eksperimen yang menggunakan metode
penemuan terbimbing dan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional
Hasil penelitian yang peneliti dapat bisa dibandingkan dengan penelitian lain yang
relevan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa hasil tes yang
dilakukan setelah pembelajaran (posttest) diketahui nilai rata-rata kelompok
eksperimen sebesar 82,22 dan nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 65,14.
52

Terjadi perbedaan hasil belajar pada kedua kelompok disebabkan karena adanya
perbedaan perlakuan dalam belajar. Pada kelompok eksperimen diterapkan
dengan metode pembelajaran penemuan terbimbing dan pada kelompok kontrol
tidak diterapkan metode pembelajaran penemuan terbimbing.
Dari hasil perhitungan pengujian hipotesis juga menunjukkan adanya
perbedaan hasil belajar matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dengan thitung lebih besar dari ttabel yaitu 8,95 dan 2,00. Berdasarkan
perhitungan analisis data melalui uji hipotesis dengan uji-t, maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing
berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika.
Pada kelas eksperimen pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan
metode penemuan terbimbing, sedangkan pada kelas kontrol metode pembelajaran
kovensional. Tahapan-tahapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
metode penemuan terbimbing menjadikan hasil belajar peserta didik lebih tinggi
dari pada kelas kontrol.
Penelitian ini hasil uji hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan pada penggunaan metode penemuan terbimbing terhadap hasil belajar
peserta didik pada konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang. Hal ini
terlihat dari hasil uji hipotesis bahwa thitung > ttabel yaitu 8,95 > 2,00, maka H1
diterima H0 ditolak. Selain itu, terlihat juga dari nilai rata-rata posttest kelas
eksperimen lebih tinggi dibanding dengan kelas kontrol, yaitu 82,22 untuk kelas
eksperimen dan 65,14 untuk kelas kontrol. Selain itu, terlihat juga dari nilai rata-
rata posttest kelas eksperimen lenih tinggi dibandingkan dengan kelas konrol,
yaitu 82,22 untuk kelas eksperimen dan 60,14 untuk kelas kontrol.
Jika hasil belajar dari penelitian ini dilihat dari jenjang kognitif nya, maka
akan terlihat bahwa di kelas eksperimen lebih tinggi disetiap jenjang nya (C1, C2,
dan C3) dibandingkan kelas kontrol. Pada jenjang kognitif C1 kelas eksperimen
memperoleh presentase sebesar 85,62% sedangkan kelas kontrol memperoleh
70,25%. Hal ini disebabkan karena dalam proses belajar dengan metode
penemuan terbimbing peserta didik menjadi aktif karena peserta didik melakukan
sebuah percobaan menemukan konsep dengan menggunakan alat peraga
53

sederhana. Dengan percobaan, peserta didik dilatih untuk merekam semua data
fakta yang diperolehnya, melalui hasil pengamatan dan bukan data opini hasil
rekayasa pemikiran. Peserta didik belajar tidak hanya menghafal teori tetapi
mencoba untuk menemukannya, sehingga teori yang dipelajari lebih lama
tersimpan dalam ingatannya.
Pada jenjang kognitif C2 pada kelas eksperimen juga lebih tinggi
dibandingkan kelas kontrol yaitu kelas eksperimen memperoleh presentase
sebesar 65,54% dan 52,58% untuk kelas kontrol. Adanya diskusi setelah peserta
didik melakukan penemuan menambah pemahaman peserta didik baik secara lisan
maupun tulisan karena selain melakukan penemuan, peserta didik juga harus
membuat rangkuman hasil diskusi bersama kelompoknya kemudian
menginformasikan dan mengkomunikasikannya kepada teman-teman tentang
hasil penemuan dan diskusi yang telah dilakukannya. Dengan demikian, peserta
didik dapat mengingat kembali tentang hasil penemuannya dan memperoleh
tambahan informasi tentang hal-hal yang mungkin tidak didapatkan nya pada saat
pelaksanaan penemuan. Hal ini lah yang membuat jenjang kognitif C2 pada kelas
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
Pada jenjang kognitif C3 presentase untuk kelas eksperimen juga lebih tinggi
yaitu 63,5% dan kelas kontrol 55,42%. Hal ini disebabkan karena peserta didik di
beri kesempatan untuk menemukan fakta, menemukan masalah, menemukan
gagasan, menemukan solusi, menemukan penerimaan dan dapat menarik
kesimpulan sendiri dari proses yang dialaminya. Sejalan dengan pendapat
Martinis Yamin yang menyatakan bahwa dengan melibatkan siswa berperan
dalam kegiatan pembelajaran, berarti mengembangkan kapasitas belajar dan
potensi yang dimiliki siswa secara penuh.1 Dengan melakukan penemuan, diskusi,
menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil penemuan kepada orang lain,
peserta didik dapat memahami konsep matematika secara sistematis khususnya
pada konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang sehingga membuahkan
hasil belajar yang lebih baik.
1
Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, (Jakarta: Gunung Persada Press,2010), h.
78
54

Pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing merupakan


metode pembelajaran yang berpusat pada keterampilan mencari temuan, yang
diikuti dengan penguatan kreatifitas. Sehingga dalam pembelajaran ini, selain
dilatih menyelesaikan suatu permasalahan, kreatifitas peserta didik juga dapat
terlatih. Peserta didik akan terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan cara
yang peserta didik temukan sendiri.
Sebelum memulai pembelajaran peneliti memberikan ice breaking, guru
melakukan apersepsi dengan meminta peserta didik untuk menyebutkan apa saja
macam-macam bangun datar dan rumus mencari luas dan keliling persegi dan
jajargenjang. Kegiatan apersepsi, peneliti lakukan di kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Adapun langkah pembelajaran yang menggunakan metode penemuan
terbimbing di kelas eksperimen yaitu, pertama-tama peserta didik dibagi menjadi
4-5 orang peserta didik. Setiap kelompok terdiri dari anak yang berkemampuan
tinggi, sedang dan rendah, sehingga tiap kelompok memiliki anggota kelompok
yang berkemampuan heterogen, setelah berkumpul dengan teman-teman
sekelompoknya, guru memberikan media pembelajaran berupa replica segitiga
dan jajargenang, kertas origami, gunting, banang dan Lembar Kerja Siswa (LKS)
yang harus diselesaikan peserta didik secara berkelompok.
Pada pertemuan pertama, peserta didik masih merasa kebingungan dalam
mengerjakan LKS yang diberikan guru karena peserta didik belum terbiasa
melakukan pembelajaran secara mandiri. Peserta didik juga tidak biasa
menggunakan media pembelajaran. Guru mendampingi peserta didik saat peserta
didik mengerjakan LKS dan membimbing peserta didik dalam menggunakan
media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mengerjakan LKS tersebut. Dalam
LKS tersebut, peserta didik dihadapkan dengan langkah-langkah dan pertanyaan-
pertanyaan yang akan membimbing peserta didik untuk menemukan suatu
unsur/sifat dan rumus yang akan memudahkan peserta didik dalam menyelesaikan
masalah nantinya, tahap pertama yaitu peserta didik dalam kelompok
merumuskan masalah yang diberikan.
55

Gambar 4.3.
Peserta Didik Sedang Melakukan Penemuan Secara Berkelompok
Peserta didik membuat perkiraan dari apa yang mereka ketahui., setelah itu
peserta didik membuat argument untuk menyelesaikan masalah. Dalam tahap ini,
tiap anggota kelompok diberikan kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya
mengenai solusi penyelesaian dari permasalahan tersebut. Setelah terkumpul
beberapa solusi penyelesaian, peserta didik menyeleksi solusi-solusi tersebut atau
menganalisis argumen yang lebih baik untuk mencari solusi. Solusi yang dipilih
merupakan solusi yang paling efisien. Setelah menemukan solusi yang
dianggapnya paling efisien, kemudian peserta didik membuat kesimpulan dan
menyelesaikan solusi tersebut. Setelah selesai, perwakilan dari setiap kelompok
menjelaskan hasil diskusi dari kelompok masing-masing. Kelompok lain
mendengarkan presentasi teman kelompok yang sedang berbicara di depan kelas,
setelah selesai presentasi, kelompok lain menanggapai atau memberikan pendapat
lain. Setelah diskusi selesai dilaksanakan, guru memberikan kesimpulan atau
mengoreksi agar materi pelajaran lebih jelas.
Untuk kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional.
Sementara itu kegiatan pembelajaran dengan metode pembelejaran konvensional,
dilaksanakan dengan cara ceramah yang artinya metode ini tidak terlepas dari
penjelasan secara lisan oleh guru karena dalam proses ekspositori peran peserta
didik hanya sekedar memperhatikan. Pembelajaran dengan metode konvensinal
menjadi kurang efektif karena tidak diikuti oleh aktifitas dimana peserta didik
56

turut serta dalam menemukan konsep. Peserta didik hanya memperhatikan


penjelasan materi yang dilakukan oleh guru sehingga pengalaman yang dirasakan
berbeda dengan peserta didik yang diberi perlakukan metode penemuan
terbimbing. Hal ini lah yang menyebabkan banyak peserta didik mengalami
kesulitan dalam mengerjakan soal latihan yang sama dengan soal yang diberikan
pada kelas eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing.
Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah membuat perencanaan yang
matang, diantaranya yaitu membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajran)
merancang kegiatan pembelajaran untuk kelas eksperimen yang menggunakan
metode pembelajaran penemuan terbimbing dan untuk kelas kontrol yang
menggunakan metode pembelajaran konvensional, menyiapkan media
pembelajaran tentang materi luas dan keliling segitiga dan jajargenjang,
menyiapkan lembar kerja siswa yang akan digunakan, juga menyiapkan soal-soal
post test untuk mengukur hasil belajar peserta didik.
Pemahaman peserta didik kelas eksperimen terhadap materi dalam metode
pembelajaran penemuan terbimbing yang menemukan konsep sendiri dengan
bantuan bimbingan guru membuat informasi lebih mudah diserap dan diingat
peserta didik dalam jangka waktu yang lama. Menemukan konsep sendiri
membuat peserta didik lebih mengerti dan diingat oleh peserta didik. Pemahaman
peserta didik kelas eksperimen terhadap materi juga lebih baik dari pada peserta
didik kelas kontrol yang tidak menggunakan metode penemuan terbimbing dalam
pembelajarannya.
Pelaksanaan pembelajaran di kelas kontrol menggunakan metode
pembelajaran konvensional, peserta didik hanya memperhatikan penjelasan guru.
Pembelajaran di kelas kontrol berjalan biasa saja, pertama-tama guru hanya
menerangkan materi yang akan dipelajari peserta didik hari itu, serta memberikan
beberapa contoh, kemudian keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran hanya
sebatas menulis dan mendengarkan perintah dari guru. Apabila masih ada bagian
materi yang belum dipahami, peserta didik diperbolehkan untuk bertanya kepada
guru. Setelah guru selesai menyampaikan materi, peserta didik diberi latihan
untuk penguatan. Pembelajaran di kelas kontrol cenderung pasif sehingga
57

mengakibatkan kejenuhan pada peserta didik. Hal ini jelas bertolak belakang
dengan kondisi di kelas eksperimen.
Dalam proses pembelajaran yang di lakukan di kelas kontrol ini, peserta didik
tidak terlibat secara optimal dan cenderung pasif. Peserta didik tidak diberi
kesempatan untuk bertukar pendapat dengan temannya dalam mengungkapkan ide
dan gagasannya di dalam kelas. Dengan demikian, peserta didik belajar dengan
hafalan. Namun kelebihan dari kelas kontrol ini adalah peserta didik dapat
mengerjakan dengan lancar dan sistematis soal yang diberikan guru, dengan
catatan soal tersebut sesuai dengan contoh soal yang telah dijelaskan. Apabila soal
yang diberikan berbeda dengan contoh yang dijelaskan, maka peserta didik akan
mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya.
Dengan demikian, peserta didik kurang mengerti konsep dari materi yang
disampaikan guru. Pemahaman ke dua kelas tersebut jelas berbeda. Hal ini bisa
dilihat dari perhitungan presentase hasil post test tiap jenjang kognitif peserta
didik. Hasil presentase kelas eksperimen lebih unggul pada tiap jenjang kognitif
nya dibandingkan kelas kontrol.
Presentase yang didapat oleh kelas eksprimen sebesar 85,62% pada jenjang
kognitif C1, 65,54% pada jenjang kognitif C2, dan 63,5% pada jenjang kognitif
C3. Sedangkan presentase yang diperoleh kelas kontrol sebesar 70,25% pada
jenjang kognitif C1, 52,58% pada jenjang kognitif C2, dan 55,42% pada jenjang
kognitif C3. Dari perhitungan presentase tersebut terlihat perbedaan pemahaman
peserta didik kelas eksperimen dan kontrol pada tiap jenjang kognitifnya terhadap
materi yang telah diajarkan oleh guru.
Berdasarkan uraian di atas, menunjukan perlakuan berbeda yang diberikan
pada kelas eksperimen dan kontrol dapat menghasilkan hasil akhir yang berbeda
pula. Hasil belajar kelas eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan metode
penemuan terbimbing dalam pembelajarannya berbeda dengan hasil belajar kelas
kontrol yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional.
Hasil belajar peserta didik kelas kontrol lebih rendah dari peserta didik kelas
eksperimen.
58

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa


metode penemuan terbimbing lebih efektif dalam pembelajaran matematika pada
konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang.

D. Hasil Keterbatasan Penelitian


Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, hal ini perlu diungkapkan
agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi siapa saja yang
memerlukan hasil penelitian ini.
1. Pengontrolan variabel dalam penelitian ini yang diukur hanya hasil belajar
matematika peserta didik saja, sedangkan aspek yang lain tidak di kontrol.
2. Hasil belajar kognitif peserta didik yang diukur hanya dalam jenjang kognitif
C1- C3 saja.
3. Penelitian ini hanya dilakukan pada pokok bahasan luas dan keliling segitiga
dan jajargenjang, sehingga belum dapat digeneralisasikan pada pokok bahasan
matematika yang lainnya.
4. Manajemen waktu dalam pembelajaran ini sangatlah penting karena dalam
pembelajaran ini dilakukan beberapa tahapan sehingga diperlukan waktu yang
lebih lama.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
Metode pembelajaran penemuan terbimbing memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap hasil belajar matematika peserta didik. Hal ini dapat dilihat
dari hasil perhitungan uji-t di peroleh bahwa nilai thitung > ttabel. Artinya bahwa
hipotesis H1 diterima dan H0 ditolak. Dapat dilihat juga pada nilai rata-rata peserta
didik kelas yang menggunakan metode penemuan terbimbing lebih besar di
bandingkan dengan nilai rata-rata peserta didik kelas yang menggunakan metode
konvensional, yaitu sebesar 82,22 untuk kelas yang menggunakan metode
penemuan terbimbing dan 65,14 untuk kelas yang menggunakan metode
konvensional.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas dan pengalaman yang terjadi selama
penelitian, maka peneliti dapat memberikan saran-saran berikut ini:
1. Pihak sekolah dapat menggunakan hasil penelitian metode penemuan
terbimbing yang telah dibuat oleh peneliti sebagai salah satu referensi untuk
mengembangkan atau menerapkan metode penemuan terbimbing dalam
proses pembelajaran matematika di kelas-kelas lain.
2. Guru-guru dapat menggunakan hasil penelitian metode penemuan terbimbing
yang telah dibuat oleh peneliti sebagai salah satu alternatif metode
pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam meningkatkan hasil belajar
peserta didik.
3. Peserta didik, melalui metode penemuan terbimbing peserta didik
mendapatkan pengalaman yang lebih dan dapat meningkatkan hasil belajar.

59
60

4. Bagi pembaca dan peneliti lain yang ingin mengukur pengaruh hasil belajar
matematika siswa dengan menggunakan metode penemuan terbimbing,
penelitian ini dapat memberikan gambaran/informasi tentang penerapan
metode penemuan terbimbing.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2005.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT.Bumi
Aksara, 2006.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktik”, Jakarta:
RT: Rieneka Cipta, 2006.
Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar,
Bandung: Refika Aditama, 2007.
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Markaban, Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan
Terbimbing. Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan Dan
Penataran Guru Matematika, Yogyakarta, 2006.
Purwanto, Ngalim, Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pendidikan, Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2002.
Sudjana, Metode Statistika, Bandung: Tarsito, 2005.
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Sudrajat dan Subana, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia,
2005.
Sugiyono, Metode Peneitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2010.
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah. PT. Rineka Cipta. Jakarta:
2009.
Suwangsih, Erna, Model Pembelajaran Matematika, Bandung: UPI PRESS, 2006.
Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009.
Syawiji, Kim Cakhyanyo, Metode Outdoor Learning dan Peningkatan Minat
Belajar Aritmatika Sosial, Jurnal Dinamika Penelitian, Juli 2009.

61
62

Trianto. Model Pembelajaran Terpadu. PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2010.


Uno, Hamzah B., Orientasi BBaru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta : Bumi
Aksara, 2010.
Wardani, Psikologi Belajar, Jakarta: Universitas Terbuka, 1997.
Widayanti, Esti Yuli dkk. Pembelajaran Matematika MI, Jakarta: PT: Rineka
Cipta, 2009.
Yamin, Martinis, Kiat Membelajarkan Siswa, Jakarta: Gunung Persada Press,
2010.
Zulfikar Ali Buto, Implikasi Teori Pembelajaran Jerome Bruner dalam Nuansa
Pendidikan Modern.
Lampiran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 1 (Satu)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga.
2. Menyebutkan unsur-unsur segitiga.
3. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada segitiga.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing melalui
LKS dan diskusi, siswa diharapkan:
1. Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga melalui metode penemuan.
2. Menyebutkan unsur-unsur segitiga.
3. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada segitiga.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Siswa mengemukakan apa yang mereka ketahui tentang
segitiga.
2) Siswa mencari dan menemukan benda di lingkungan sekitar
mereka yang berbentuk segitiga.
3) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai apa
yang mereka temukan tentang sifat-sifat segitiga.
4) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang sifat-sifat
segitiga.
b. Elaborasi
5) Guru memberikan gambar lain tentang segitiga kepada
siswa.
6) Siswa memperhatikan dan mengamati gambar segitiga yang
guru berikan.
7) Siswa mengerjakan LKS untuk menemukan sifat-sifat dan
unsur-usur segitiga dengan bantuan replika segitiga.
8) Siswa merumuskan masalah yang diiberikan guru melalui
lembar kerja siswa (LKS).
9) Dalam kelompok siswa menyusun informasi dari replika
bangun datar yang diberikan oleh guru.
10) Siswa berdiskusi mengolah informasi yang telah didapat
melalui replika bangun datar yang diberikan oleh guru
kemudian menyusun perkiraan hasil analisis yang
dilakukan.
11) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
12) Setiap perwakilan kelompok mempresentasikan hasil
temuannya.
c. Konfirmasi
13) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
14) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
pengertian, sifat-sifat dan unsur-unsur segitiga.
15) Guru memberikan pertanyaan tentang hasil diskusi mereka
mengenai pengertian, sifat-sifat dan unsur-unsur segitiga.
16) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
17) Guru memastikan semua siswa memahami dan mengerti
materi tentang segitiga.
18) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 6.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Guru dan siswa bersama-sama menutup pelajaran dengan
membaca doa kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 2 (Dua)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator
1. Menemukan rumus keliling segitiga
2. Menentukan keliling segitiga
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, diharapkan:
1. Siswa dapat menemukan rumus keliling segitiga melalui metode
penemuan terbimbing.
2. Siswa dapat menentukan keliling segitiga
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
segitiga.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari keliling segitiga”
kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
segitiga lain.
5) Guru memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan
keliling segitiga.
6) Siswa menjawab pertanyaan guru terkait dengan keliling
segitiga.
7) Tiap-tiap kelompok diberikan karton berbentuk segitiga.
8) Siswa diminta untuk memutari gambar segitiga dari karton
tersebut dengan menggunakan benang dan mngukurnya
terkait dengan keliling segitiga.
9) Siswa diminta untuk berdiskusi dengan kelompokya.
10) Dalam kelompok siswa menyusun informasi dari replika
bangun datar yang diberikan oleh guru terkait keliling
segitiga.
11) Siswa menyusun perkiraan hasil analisis yang dilakukan.
12) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
13) Setelah menyelesaikan hasil diskusinya, guru memilih 2
kelompok untuk mempresentasikan hasil temuannya.
14) Guru membahas hasil penyelidikan siswa apabila terdapat
miskonsepsi.
c. Konfirmasi
15) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
16) Guru memberikan penekanan hal-hal yang dianggap
penting.
17) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
18) Guru memastikan semua siswa memahami menentukan
keliling segitiga.
19) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 2.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan murid mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 3 (Tiga)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator
1. Menemukan rumus luas segitiga
2. Menentukan luas segitiga
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, diharapkan:
1. Siswa dapat menemukan rumus luas segitiga melalui metode
penemuan terbimbing.
2. Siswa dapat menentukan luas segitiga
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
segitiga.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari luas segitiga”
kepada siswa.
3) Siswa menjawab pertanyaan guru.
4) Guru menampung semua jawaban siswa
b. Elaborasi
5) Guru mengenalkan dan memperlihatkan bahan-bahan yang
akan digunakan untuk mencari luas segitiga berupa kertas
oragami dan gunting.
6) Tiap-tiap siswa dalam kelompok mendapatkan kertas
origami dan gunting.
7) Untuk menemukan luas segitiga, siswa diminta untuk
mengamati dan menggunting ujung kertas origami tersebut
sampai bertemu dengan ujung kertas origami yang lain
sehingga menghasilkan 2 buah segitiga.
8) Selanjutnya, siswa diminta untuk berdiskusi dengan teman
satu tim/kelompoknya atas percobaan dan pengamatan yang
telah dilakukan untuk menemukan luas segitiga.
9) Guru memberikan bimbingan berupa beberapa pertanyaan
terkait dengan luas segitiga.
10) Tiap siswa diminta untuk menggambar bangun segitiga
pada kertas berpetak yang mereka bawa dan menuliskan
hasil diskusi yang telah dilakukan.
11) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
12) Setelah menyelesaikan hasil diskusinya, guru memilih 2
kelompok untuk mempresentasikan hasil temuannya.
13) Guru membahas hasil penyelidikan siswa apabila terdapat
miskonsepsi.
c. Konfirmasi
14) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
15) Guru memberikan penekanan hal-hal yang dianggap
penting.
16) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
17) Guru memastikan semua siswa memahami menentukan
keliling segitiga.
18) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 3.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan murid mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Guru dan siswa bersama-sama menutup pelajaran dengan
membaca doa kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 4 (Empat)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang.
2. Menyebutkan unsur-unsur jajargenjang.
3. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada jajargenjang.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing melalui
LKS dan diskusi, siswa diharapkan:
1. Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang melalui metode penemuan.
2. Menyebutkan unsur-unsur jajargenjang.
3. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang masing-
masing kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Siswa mengemukakan apa yang mereka ketahui tentang
jajargenjang.
2) Siswa mencari dan menemukan benda di lingkungan sekitar
mereka yang berbentuk jajargenjang.
3) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai apa
yang mereka temukan tentang sifat-sifat jajargenjang.
4) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang sifat-sifat
jajargenjang.
b. Elaborasi
5) Guru memberikan gambar lain tentang jajargenjang kepada
siswa.
6) Siswa memperhatikan dan mengamati gambar jajargenjang
yang guru berikan.
7) Siswa mengerjakan LKS untuk menemukan sifat-sifat dan
unsur-usur segitiga dengan bantuan replika jajargenjang.
8) Siswa merumuskan masalah yang diberikan guru melalui
lembar kerja siswa (LKS).
9) Dalam kelompok, siswa menyusun informasi dari replika
bangun datar yang diberikan oleh guru.
10) Siswa berdiskusi mengolah informasi yang telah didapat
melalui replika bangun datar yang diberikan oleh guru
kemudian menyusun perkiraan hasil analisis yang
dilakukan.
11) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
12) Setiap perwakilan kelompok mempresentasikan hasil
temuannya.
c. Konfirmasi
13) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
14) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
pengertian, sifat-sifat dan unsur-unsur jajargenjang.
15) Guru memberikan pertanyaan tentang hasil diskusi mereka
mengenai pengertian, sifat-sifat dan unsur-unsur
jajargenjang.
16) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
17) Guru memastikan semua siswa memahami dan mengerti
materi tentang jajargenjang.
18) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 6.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Guru dan siswa bersama-sama menutup pelajaran dengan
membaca doa kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 5 (Lima)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga.
D. Indikator
1. Menemukan rumus keliling jajargenjang.
2. Menentukan keliling jajargenjang.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, diharapkan:
1. Siswa dapat menemukan rumus keliling jajargenjang melalui metode
penemuan terbimbing.
2. Siswa dapat menentukan keliling jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
jajargenjang.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari keliling
jajargenjang” kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
jajargenjang lain.
5) Guru memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan
keliling jajargenjang.
6) Siswa menjawab pertanyaan guru terkait dengan keliling
jajargenjang.
7) Tiap-tiap kelompok diberikan karton berbentuk
jajargenjang.
8) Siswa diminta untuk memutari gambar jajargenjang dari
karton tersebut dengan menggunakan benang dan
mngukurnya terkait dengan keliling jajargenjang
9) Siswa diminta untuk berdiskusi dengan kelompokya.
10) Dalam kelompok siswa menyusun informasi dari replika
bangun datar yang diberikan oleh guru terkait keliling
jajargenjang.
11) Siswa menyusun perkiraan hasil analisis yang dilakukan.
12) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
13) Setelah menyelesaikan hasil diskusinya, guru memilih 2
kelompok untuk mempresentasikan hasil temuannya.
14) Guru membahas hasil penyelidikan siswa apabila terdapat
miskonsepsi.
c. Konfirmasi
15) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
16) Guru memberikan penekanan hal-hal yang dianggap
penting.
17) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
18) Guru memastikan semua siswa memahami menentukan
keliling segitiga.
19) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 5.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan murid mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 6 (Enam)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator
1. Menemukan rumus luas jajargenjang melalui metode penemuan
terbimbing.
2. Menentukan luas jajargenjang.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, diharapkan:
1. Siswa dapat menemukan rumus luas jajargenjang melalui metode
penemuan terbimbing.
2. Siswa dapat menentukan luas jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
7) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri 5-6 orang dengan cara berhitung
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
jajargenjang.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari luas jajargenjang”
kepada siswa.
3) Siswa menjawab pertanyaan guru.
4) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
5) Guru mengenalkan dan memperlihatkan bahan-bahan yang
akan digunakan untuk mencari luas jajargenjang berupa
kertas oragami dan gunting.
6) Tiap-tiap siswa dalam kelompok mendapatkan kertas
origami dan gunting.
7) Untuk menemukan luas segitiga, siswa diminta untuk
mengamati dan menggunting ujung kertas origami tersebut
sehingga menghasilkan 1 buah segitiga untuk menemukan
luas jajargenjang.
8) Selanjutnya, siswa diminta untuk berdiskusi dengan teman
satu tim/kelompoknya atas percobaan dan pengamatan yang
telah dilakukan untuk menemukan luas jajargenjang.
9) Guru memberikan bimbingan berupa beberapa pertanyaan
terkait dengan luas jajargenjang.
10) Tiap siswa diminta untuk menggambar bangun jajargenjang
pada kertas berpetak yang mereka bawa dan menuliskan
hasil diskusi yang telah dilakukan.
11) Guru berkeliling membantu siswa agar perkiraan yang
siswa dapat menuju arah yang hendak dituju.
12) Setelah menyelesaikan hasil diskusinya, guru memilih 2
kelompok untuk mempresentasikan hasil temuannya.
13) Guru membahas hasil penyelidikan siswa apabila terdapat
miskonsepsi.
c. Konfirmasi
14) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan terhadap hasil diskusi kelompok
siswa.
15) Guru memberikan penekanan hal-hal yang dianggap
penting.
16) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
17) Guru memastikan semua siswa memahami menentukan
keliling jajargenjang.
18) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 6.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan murid mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 7 (Tujuh)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator
1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
segitiga.
2. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, diharapkan:
1. Siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan
luas segitiga.
2. Siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan
luas jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, Penemuan Terbimbing dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru bertanya tentang rumus keliling dan luas segitiga dan
jajargenjang yang telah dipelajari seblumnya.
2) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
3) Guru memberikan pertanyaan terkait dengan rumus keliling
dan luas segitiga dan jajargenjang yang telah mereka
pelajari sebelumnya.
4) Guru memberikan pertanyaan berupa pertanyaan
pemecahan masalah yang harus dijawab oleh masing-
masing siswa.
5) Guru mencatat hal-hal yang dianggap sulit oleh siswa.
6) Guru membahas bersama hasil penyelidikan siswa dan hasil
catatan yang telah ditulis oleh guru.
c. Konfirmasi
7) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
8) Guru memastikan semua siswa memahami menentukan
keliling dan luas segitiga dan jajargenjang.
9) Siswa melakukan evaluasi dengan mengerjakan LKS 7.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan murid mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru mengingatkan kepada siswa bahwa pertemuan
selanjutnya adalah ulangan/ ujian.
4) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
5) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian
Tangerang, November 2014
Mengetahui
Guru Kelas 4. Peneliti

.................................. ..................................
NIP : NIM : 1110018300040

Kepala Sekolah

..................................

NIP :
Lampiran 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 1 (Satu)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga.
2. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada segitiga
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan:
1. Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga
2. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada segitiga.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru bertanya kepada siswa mengenai apa yang mereka
ketahui tentang segitiga.
2) Guru meminta siswa untuk menemukan benda di
lingkungan sekitar mereka yang berbentuk segitiga.
3) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai apa
yang mereka temukan tentang sifat-sifat segitiga.
b. Elaborasi
4) Guru memberikan contoh lain tentang segitiga kepada
siswa
5) Guru menyebutkan sifat-sifat segitiga.
6) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
7) Guru menjelaskan alasan mengapa bisa disebut sifat-sifat
segitiga.
c. Konfirmasi
8) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
9) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
pengertian, sifat-sifat segitiga.
10) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai pengertian, sifat-sifat segitiga.
11) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
12) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang segitiga.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014

Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 2 (Dua)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Menemukan rumus keliling segitiga
2. Menentukan keliling segitiga
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan:
1. Menemukan rumus keliling segitiga
2. Menentukan keliling segitiga.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
segitiga.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari keliling segitiga”
kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru menjelaskan cara mencari keliling segitiga dan
memberikan contoh soal.
5) Guru memberikan contoh soal lain di papan tulis.
6) Siswa mengerjakan contoh soal lain yang guru berikan di
buku tulis mereka.
7) Guru meminta beberapa siswa untuk menyelesaikan contoh
soal lain yang guru berikan di papan tulis dan
membahasnya bareng-bareng.
8) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
9) Guru menjawab pertanyaan siswa.
c. Konfirmasi
10) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
11) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
keliling segitiga.
12) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai keliling segitiga.
13) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
14) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang keliling segitiga.
15) Untuk evaluasi, siswa diminta untuk mengerjakan latihan-
latihan soal yang ada di buku paket sekolah.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014

Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 3 (Tiga)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Menemukan rumus luas segitiga
2. Menentukan luas segitiga
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Menemukan rumus luas segitiga
2. Menentukan luas segitiga
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
segitiga.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari luas segitiga”
kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru menjelaskan cara mencari luas segitiga dan
memberikan contoh soal.
5) Guru memberikan contoh soal lain di papan tulis.
6) Siswa mengerjakan contoh soal lain yang guru berikan di
buku tulis mereka.
7) Guru meminta beberapa siswa untuk menyelesaikan contoh
soal lain yang guru berikan di papan tulis dan
membahasnya bareng-bareng.
8) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
9) Guru menjawab pertanyaan siswa.
c. Konfirmasi
10) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
11) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai luas
segitiga.
12) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai luas segitiga.
13) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
14) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang luas segitiga.
15) Untuk evaluasi, siswa diminta untuk mengerjakan latihan-
latihan soal yang ada di buku paket sekolah.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014

Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 4 (Empat)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang.
2. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada jajargenjang.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan:
1. Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang.
2. Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru bertanya kepada siswa mengenai apa yang mereka
ketahui tentang jajargenjang.
2) Guru meminta siswa untuk menemukan benda di
lingkungan sekitar mereka yang berbentuk jajargenjang.
3) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai apa
yang mereka temukan tentang sifat-sifat jajargenjang.
b. Elaborasi
4) Guru memberikan contoh lain tentang jajargenjang kepada
siswa
5) Guru menyebutkan sifat-sifat jajargenjang.
6) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
7) Guru menjelaskan alasan mengapa bisa disebut sifat-sifat
jajargenjang.
c. Konfirmasi
8) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
9) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
pengertian, sifat-sifat jajargenjang.
10) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai pengertian, sifat-sifat jajargenjang.
11) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
12) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang jajargenjang.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian
Tangerang, November 2014

Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 5 (Lima)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Menemukan rumus keliling jajargenjang.
2. Menentukan keliling jajargenjang.
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan:
1. Menemukan rumus keliling jajargenjang.
2. Menentukan keliling jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
jajargenjang.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari keliling
jajargenjang” kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru menjelaskan cara mencari keliling jajargenjang dan
memberikan contoh soal..
5) Guru memberikan contoh soal lain di papan tulis.
6) Siswa mengerjakan contoh soal lain yang guru berikan di
buku tulis mereka.
7) Guru meminta beberapa siswa untuk menyelesaikan contoh
soal lain yang guru berikan di papan tulis dan
membahasnya barsama-sama.
8) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
9) Guru menjawab pertanyaan siswa.
c. Konfirmasi
10) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
11) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai
keliling jajargenjang.
12) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai keliling jajargenjang.
13) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
14) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang keliling jajargenjang.
15) Untuk evaluasi, siswa diminta untuk mengerjakan latihan-
latihan soal yang ada di buku paket sekolah.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 6 (Enam)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Menemukan rumus luas jajargenjang
2. Menentukan luas jajargenjang
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Menemukan rumus luas jajargenjang
2. Menentukan luas jajargenjang
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru membawa alat peraga dari karton yang berbentuk
jajargenjang.
2) Guru bertanya “bagaimana cara mencari luas jajargenjang”
kepada siswa.
3) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
4) Guru menjelaskan cara mencari luas jajargenjang dan
memberikan contoh soal.
5) Guru memberikan contoh soal lain di papan tulis.
6) Siswa mengerjakan contoh soal lain yang guru berikan di
buku tulis mereka.
7) Guru meminta beberapa siswa untuk menyelesaikan contoh
soal lain yang guru berikan di papan tulis dan
membahasnya bersama-sama.
8) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
9) Guru menjawab pertanyaan siswa.
c. Konfirmasi
10) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
11) Guru memberikan penegasan kepada siswa mengenai luas
jajargenjang.
12) Memberikan pertanyaan kepada siswa tentang pemahaman
mereka mengenai luas jajargenjang.
13) Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
14) Memastikan semua siswa memahami dan mengerti materi
tentang luas jajargenjang.
15) Untuk evaluasi, siswa diminta untuk mengerjakan latihan-
latihan soal yang ada di buku paket sekolah.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk bahan
penguatan.
4) Guru mengingatkan kepada siswa mengenai materi ajar yang
akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
6) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Peneliti

Khairun Nufus
NIM : 1110018300040
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Mata Pelajaran


Sekolah : MI I’anatul Huda
Kelas/ Semester : IV (empat)/ Ganjil
Mata Pelajaran : Matematika
Pertemuan Ke- : 7 (Tujuh)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
B. Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam
pemecahan masalah.
C. Kompetensi Dasar
4.1 Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang dan segitiga
D. Indikator Pembelajaran
1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
segitiga.
2. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang
E. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
segitiga.
2. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas
jajargenjang.
F. Karakter siswa yang diharapkan:
1. Rasa ingin tahu
2. Kerja sama
3. Ketelitian
4. Komunikatif
5. Mandiri
6. Disiplin
7. Rasa hormat dan perhatian
8. Tanggung jawab
G. Materi Pembelajaran
Keliling dan Luas Bangun Datar Sederhana : Segitiga, Jajargenjang dan
Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Keliling dan Luas
Jajargenjang dan Segitiga.
H. Metode Pembelajaran
Metode : Diskusi, Tanya Jawab, konvensional/ceramah dan Penugasan
I. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Guru datang dan mengucapkan salam.
2) Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa.
3) Guru mengecek kehadiran dan mempersiapkan siswa.
4) Guru memberitahukan kepada siswa materi yang akan
dipelajari dan tujuan pelajaran yang ingin dicapai.
5) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar mengikuti
pelajaran dengan baik.
6) Guru memberikan ice breaking berupa nyanyian agar siswa
dapat lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Eksplorasi
1) Guru bertanya tentang rumus keliling dan luas segitiga dan
jajargenjang yang telah dipelajari seblumnya.
2) Guru menampung semua jawaban siswa.
b. Elaborasi
3) Guru menjelaskan materi pelajaran tentang masalah keliling
dan luas jajargenjang dan segitiga.
4) Guru memberikan contoh soal lain di papan tulis.
5) Siswa mengerjakan contoh soal lain yang guru berikan di
buku tulis mereka.
6) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
tentang materi yang sudah dijelaskan.
c. Konfirmasi
7) Guru memastikan semua siswa memahami materi yang
telah dipelajari.
8) Guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan atau tulisan kepada siswa.
9) Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
10) Untuk evaluasi, siswa diminta untuk mengerjakan latihan-
latihan soal yang ada di buku paket sekolah.
11) Guru membahas latihan soal bersama dengan siswa
12) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
jika ada yang belum jelas.
3. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru bersama-sama dengan siswa mengulang kembali dan
memberikan kesimpulan melalui proses tanya jawab.
2) Guru memberikan kesempatan siswa apabila masih ada siswa
yang ingin bertanya.
3) Guru mengingatkan kepada siswa bahwa pertemuan
selanjutnya adalah ujian/ulangan.
4) Bersama-sama menutup pelajaran dengan membaca doa
kafaratul majlis.
5) Guru mengucapkan salam.
J. Alat Dan Sumber Belajar
Alat : white board, spidol dan replika segitiga
Sumber : Buku Paket Matematika SD Kelas IV dan buku referensi
lain yang relevan.
K. Penilaian Hasil Belajar
Teknik : Tertulis
Bentuk Instrument : Tes Uraian

Tangerang, November 2014


Mengetahui
Guru Kelas 4. Peneliti

.................................. ..................................
NIP : NIM : 1110018300040
Kepala Sekolah

..................................

NIP :
Lampiran 3

Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing melalui LKS dan diskusi,
siswa diharapkan mampu:
 Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga melalui metode penemuan.
 Menyebutkan unsur-unsur segitiga.
 Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada segitiga.

......................................................................................................................................................
Segitiga
Perhatikan gambar-gambar di bawah ini!

1. Dari gambar-gambar di atas, gambar apa saja kah yang berbentuk segitiga?
2. Amati, selidiki dan identifikasi panjang sisi dan besar sudut segitiga yang ibu berikan!
Jenis-jenis Segitiga
3. Ukurlah panjang sisi dan besar sudut segitiga dibawah ini dengan menggunakan
penggaris dan busur derajat.
a. C Panjang sisi AC = .... cm Besar sudut ACB = .... °
Panjang sisi AB = .... cm Besar sudut BAC = .... °
Panjang sisi BC = .... cm Besar sudut ABC = .... °
Apakah AC = BC ?
A B Apakah sudut ABC = BAC?

ABC disebut segitiga ....

b. R Panjang sisi RP = .... cm Besar sudut RPQ = .... °


Panjang sisi PQ = .... cm Besar sudut PQR = .... °
Panjang sisi QR = .... cm Besar sudut QRP = .... °
Sudut manakah yang besarnya 90°?

P Q Disebut apakah sudut yang besarnya 90°?

RPQ disebut segitiga .....

c. U Panjang sisi ST = .... cm Besar sudut STU = .... °


Panjang sisi TU = .... cm Besar sudut TUS = .... °
Panjang sisi SU = .... cm Besar sudut UST = .... °
Apakah RS = TU = SU ?

S T Apakah sudut STU = sudut TUS = sudut UST ?

STU disebut segitiga .....

d. J Panjang sisi HI = .... cm Besar sudut HIJ = .... °


I Panjang sisi IJ = .... cm Besar sudut IJH = .... °
H Panjang sisi HJ = .... cm Besar sudut HJI = .... °
Apakah besar sudut HIJ = sudut IJH = sudut HJI?
Apakah panjang sisi-sisinya sama panjang?
Apakah terdapat sudut yang besarnya 90 °?
HIJ disebut segitiga ....
1. Tulislah unsur-unsur pada segitiga dibawah ini!
a) C b) S

A B Q R

2. Gambarlah bangun datar berikut!


a) Segitiga sama kaki KLM
b) Segitiga sama sisi MNO
c) Segitiga sembarang OPQ

Semoga berhasil,
kamu pasti bisa!!!! ^_^
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
 Menemukan rumus keliling segitiga melalui metode penemuan terbimbing.
 Menentukan keliling segitiga

......................................................................................................................................................

Segitiga
Segitiga adalah bentuk bangun datar yang dibatasi oleh tiga ruas garis (sisi) dan
mempunyai tiga buah titik sudut. Besar jumlah ketiga sudut tersebut adalah 180°.
Jenis-jenis segitiga

Segitiga sama kaki Segitiga sama sisi Segitiga siku-siku Segitiga sembarang
 Segitiga sama kaki memiliki dua sisi yang sama panjang dan sudut-sudut alasnya yang
sama besar.
 Segitiga sama sisi memiliki tiga buah sisi yang sama panjang dan mempunyai tiga buah
sudut yang sama besar ( ).
 Segitiga siku-siku memiliki salah satu sudut yag berbentuk siku-siku yang besarnya 90°.
 Segitiga sembarang, ketiga ukuran panjang sisi-sisinya berbeda atau tidak sama.
Keliling segitiga
 Tiap-tiap kelompok diberikan bahan berupa benang, model-model segitiga dan alat
ukur panjang berupa penggaris.
 Siswa diminta untuk memutari model-model segitiga dengan menggunakan benang,
kemudian mengukurnya dengan menggunakan alat ukur panjang yang telah
disediakan (penggaris).
 Setelah mengetahui hasilnya, siswa kemudian diminta untuk mengukur setiap sisi
pada model segitiga dan menjumlahkan semua sisi-sisinya.
 Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa mengenai keliling segitiga.
C
Apakah hasil memutari model dengan benang =
menjumlahkan sisi-sisinya?
Keliling= AB + BC + CA = sisi I + sisi II + sisi
III
Maka, keliling segitiga?
A B
a) C b) S c) N
4cm 11cm

5cm 11cm 14cm L

A 6cm B Q 9cm R 14cm M

1. Isilah tabel dibawah ini sesuai dengan bangun diatas.


Nama Bangun Sisi Segitiga Jumlah Sisi Keliling
I II III

2. Iitsilah titik-titik pada kolom yang kosong dibawah ini degan benar!
No. Sisi Segitiga Keliling
I II III
1 5cm ...cm 6cm 15cm
2 7cm 8cm ...cm 22cm
3 12cm 4cm 9cm ...cm
4 ...cm 4cm 5cm 18cm
5 15cm 3cm 4cm ...cm
6 9cm 5cm 7cm ...cm
7 4cm ...cm 15cm 27cm
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
 Menemukan rumus luas segitiga melalui metode penemuan terbimbing.
 Menentukan luas segitiga

..............................................................................................................................................

Segitiga
Segitiga adalah bentuk bangun datar yang dibatasi oleh tiga ruas garis (sisi) dan
mempunyai tiga buah titik sudut. Besar jumlah ketiga sudut tersebut adalah 180°.
Jenis-jenis segitiga

Segitiga sama kaki Segitiga sama sisi Segitiga siku-siku Segitiga sembarang
 Segitiga sama kaki memiliki dua sisi yang sama panjang dan sudut-sudut alasnya yang
sama besar.
 Segitiga sama sisi memiliki tiga buah sisi yang sama panjang dan mempunyai tiga buah
sudut yang sama besar ( ).
 Segitiga siku-siku memiliki salah satu sudut yag berbentuk siku-siku yang besarnya 90°.
 Segitiga sembarang, ketiga ukuran panjang sisi-sisinya berbeda atau tidak sama.
Luas Segitiga
 Tiap-tiap kelompok diberikan bahan berupa kertas origami dan sebuah gunting.
 Siswa diminta untuk mengamati dan menggunting salah satu bagian kertas origami
sehingga menjadi sebuah bangun segitiga.
 Guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk menemukan luas segitiga.

l l t

p p a

 Bagaimana kalian menentukan luas bangun di bawah ini? Jelaskan!

Jawab :
a) C b) S c) N
11cm

6cm 11cm L

A 6cm B Q 9cm R 14cm M

1. Isilah tabel dibawah ini sesuai dengan bangun diatas.


Bangun Alas (a) Tinggi (t) Luas
Segitiga a
Segitiga b
Segitiga c

2. Isilah titik-titik pada kolom yang kosong dibawah ini degan benar!
No Alas (cm) Tinggi (cm) Luas (cm²)
1 6 cm ...cm 30 cm²
2 9 cm 9 cm ... cm²
3 ... cm 8 cm 48 cm²
4 8 cm ... cm 72 cm²
5 12 cm 12 cm ... cm²
6 ... cm 12 cm 156 cm²
7 14 cm 6 cm ... cm²
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing melalui LKS dan diskusi,
siswa diharapkan mampu:
 Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang melalui metode penemuan.
 Menyebutkan unsur-unsur jajargenjang.
 Menentukan banyak sisi dan titik sudut pada jajargenjang.

......................................................................................................................................................
Jajargenjang
Perhatikan gambar-gambar di bawah ini!

1. Dari gambar-gambar di atas, gambar apa saja kah yang berbentuk jajargenjang?
2. Amati, selidiki dan identifikasi panjang sisi dan besar sudut jajargenjang yang ibu
berikan!
3. Ukurlah panjang sisi dan besar sudut jajargenjang dibawah ini dengan menggunakan
penggaris dan busur derajat.

a.
Panjang sisi AD = .... cm Besar sudut ADC = .... °
Panjang sisi AB = .... cm Besar sudut BAD = .... °
Panjang sisi BC = .... cm Besar sudut ABC = .... °
Panjang sisi DC = .... cm Besar sudut BCD = .... °
Apakah AB = DC ?
Apakah DA = CB?
Apakah sudut ABC = BAC?
1. Tulislah sifat-sifat pada jajargenjang di bawah ini!

a)

b)

2. Gambarlah bangun datar berikut!


a) Jajargenjang KLMN
b) Jajargenjang ABCD
c) Jajargenjang RSTU

Semoga berhasil,
kamu pasti bisa!!!! ^_^
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
 Menemukan rumus keliling jajargenjang melalui metode penemuan terbimbing.
 Menentukan keliling jajargenjang.

......................................................................................................................................................

Jajargenjang
C D

A B
Jajargenjang adalah bangun datar segiempat yang mempunyai dua pasang sisi sejajar
dan jumlah pasang sudut yang saling berdekatan adalah 180°.
Sifat-sifat jajargenjang
 Mempunyai 4 buah titik sudut yaitu, A, B, C, dan D.
 Mampunyai 4 buah sisi yaitu, AB, BD, DC dan CA.
 Mempunyai 2 sisi yang sama panjang dan sejajar yaitu, AB = CD, AC = BD.
Keliling jajargenjang
 Tiap-tiap kelompok diberikan bahan berupa benang, model-model jajargenjang dan
alat ukur panjang berupa penggaris.
 Siswa diminta untuk memutari model-model jajargenjang dengan menggunakan
benang, kemudian mengukurnya dengan menggunakan alat ukur panjang yang telah
disediakan (penggaris).
 Setelah mengetahui hasilnya, siswa kemudian diminta untuk mengukur setiap sisi
pada model jajargenjang dan menjumlahkan semua sisi-sisinya.
 Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa mengenai keliling jajargenjang.
C D
Apakah hasil memutari model dengan
benang = menjumlahkan sisi-sisinya?
Keliling= AB + BD + DC +CA
(sifat jajargenjang: memiliki 2
sisi yang sama panjang)
A B Maka, keliling jajargenjang?
a) b) c)
12cm 4cm 16cm

9cm 18cm

8cm

d) e)

22cm 24cm

27 cm

21cm

1.
Bangun Panjang (P) Lebar (L) Keliling
Jajargenjang a
Jajargenjang b
Jajargenjang c
Jajargenjang d
Jajargenjang e

2. Isilah titik-titik pada kolom kosong dibawah ini dengan benar!


Panjang (P) Lebar (L) Keliling
4 cm 6 cm ....cm
7 cm ....cm 32 cm
9 cm 7 cm ....cm
....cm 8 cm 40 cm
12 cm 6 cm ....cm
Semangat!!
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Menemukan rumus luas jajargenjang melalui metode penemuan terbimbing.
2. Menentukan luas jajargenjang.

......................................................................................................................................................
Jajargenjang
C D

A B
Jajargenjang adalah bangun datar segiempat yang mempunyai dua pasang sisi sejajar
dan jumlah pasang sudut yang saling berdekatan adalah 180°.
Sifat-sifat jajargenjang
A. Mempunyai 4 buah titikk sudut yaitu, A, B, C, dan D.
B. Mampunyai 4 buah sisi yaitu, AB, BD, DC dan CA.
C. Mempunyai 2 sisi yang sama panjang dan sejajar yaitu, AB = CD, AC = BD.
Luas jajargenjang
1. Tiap-tiap kelompok diberikan bahan berupa kertas origami dan sebuah gunting.
2. Siswa diminta untuk mengamati dan menggunting salah satu bagian kertas origami
sehingga menjadi sebuah bangun jajargenjang.
3. Guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk menemukan luas jajargenjang.
l l l t

p p p p

 Bagaimana kalian menentukan luas bangun di bawah ini? Jelaskan!

Jawab :
a) b) c)
5 cm4cm 12 cm 16cm
6 cm

9cm 18cm

8cm

d) e)
12 cm 22 cm
22cm

27 cm

21cm
1.
Bangun Alas (a) Tinggi (t) Luas
Jajargenjang a
Jajargenjang b
Jajargenjang c
Jajargenjang d
Jajargenjang e

2. Isilah titik-titik pada kolom kosong dibawah ini dengan benar!


Alas (a) Tinggi (t) Luas
4 cm 7 cm ....cm
7 cm ....cm 28 cm
9 cm 7 cm ....cm
....cm 5 cm 30 cm
12 cm 8 cm ....cm
Kelompok : ..........................................
Nama Anggota:
1. ..................................................... 4. ........................................................
2. ..................................................... 5. ........................................................
3. ..................................................... 6. ........................................................

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas segitiga.
2. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas jajargenjang

......................................................................................................................................................

Jajargenjang dan Segitiga


Jajargenjang adalah bangun datar segiempat yang mempunyai dua pasang sisi sejajar dan
jumlah pasang sudut yang saling berdekatan adalah 180°.
Segitiga adalah bentuk bangun datar yang dibatasi oleh tiga ruas garis (sisi) dan mempunyai
tiga buah titik sudut. Besar jumlah ketiga sudut tersebut adalah 180°.
Keliling
1. Tiap-tiap kelompok diberikan bahan berupa model-model jajargenjang dan segitiga,
benang dan lem.
2. Siswa diminta menghiasi semua sisi model-model jajargenjang dan segitiga dengan
menggunakan benang dan lem.
Berapa panjang benang yang dibutuhkan untuk
3. menghiasi semua sisi pada bangun-bangun
tersebut?
Apakah panjang benang = keliling bangun
tersebut?

Jawab:
Luas
 Menyerahkan bahan kepada siswa. Setiap kelompok diberikan kertas origami
dan gunting.
 Siswa diminta untuk membuat bangun segitiga dan jajargenjang. Siswa
menentukan/ membuat sendiri garis tinggi bangun tersebut dan menhitungnya.

Luas segitiga: Luas jajargenjang:


Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!

1. Sebuah kebun berbentuk jajargenjang dengan panjang alas 18m dan tinggi 14m.
Berapakah luas kebun tersebut?

2. Haidir mempunyai kacu pramuka berbentuk segitiga dengan panjang alas 12cm dan
tinggi 6cm. Berapakah luas kacu pramuka Haidir?

3. Radit memiliki sapu tangan berbentuk segitiga dengan panjang alas 20cm dan
tinggi 15cm. Hitunglah luas sapu tangan Radit.

4. Taman didepan rumah berbentuk jajargenjang. Panjang sisi yang berbeda 12m dan
16m. Disekeliling taman dipasang lampu taman tiap 8m. Berapa banyak lampu
yang terpasang?

5. Ibent sedang mengecet papan triplek berbentuk jajargenjang. Biaya yang diperlukan
Rp. 6.000,00 untuk setiap 1m2. Panjang papan 1200cm dan tingginya 900cm.
Hitunglah biaya yang diperlukan!
Lampiran. 4

Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar


Sebelum Uji Validasi

Indikator Kompetensi Tingkat Jumlah


Kemampuan Soal
C1 C2 C3
Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang 1 2
(menetukan banyak sisi dan titik sudut pada 4
Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

jajar genjang).
Menemukan rumus dan menentukan luas 3 2 7
dan keliling jajargenjang. 6 5
7
Kompetensi Dasar:

8
9
Mengidentifikasi sifat-sifat sigitiga 11 1
(menetukan banyak sisi dan titik sudut
pada segitiga).
Menemukan rumus dan menentukan luas 10 3
dan keliling segitiga. 12
14
Memecahkan masalah yang berkaitan 13 2
dengan luas dan keliling jajargenjang dan 15
segitiga.
Jumlah total 3 8 4 15
Lampiran. 5

Soal Instrumen Tes Hasil Belajar Sebelum Uji Validasi

Kerjakanlah soal-soal dibawah ini!

1. Diketahui sebuah jajargenjang memiliki ukuran sebagai berikut:


a. DE = 5 dan EF = 4
b. OP = 6 dan PQ = 4
c. AB = 8 dan BC = 7

2. Jelaskan dan tentukan kalian menemukan luas dan keliling bangun


dibawah ini!

3. Anton memiliki halaman rumah seperti gambar dibawah ini.


Keliling halaman rumah tersebut
akan diberi pagar. Berapa panjang
pagar yang dibutuhkan Anton?

200 m

300 m

4. Perhatikan gambar bangun datar dibawah ini!


M N a. Tentukan pasang sudut yang sama
besar.
b. Tentukan pasang sisi yang sama
panjang.

K L
5. Nani mempunyai sebidang kebun dengan bentuk dan ukuran jajargenjang.
Berapakah luas kebun Nani jika kebun tersebut memiliki panjang 12m dan
tinggi 7m?
6. Diketahui keliling sebuah jajargenjang PQRS 34cm. Jika panjang PQ = 7,
maka panjang QR =....
7. Hitunglah keliling jajargenjang dibawah ini!

16cm

27cm

8. Hitunglah luas daerah yang diarsir dibawah ini!


27cm
13cm

21cm

9. Sebuah jajargenjang memiliki luas 182cm². Jika tingginya 13cm, maka


alasnya .... cm
10. Segitiga KLM, segitiga sama kaki dengan KL = 6cm dan LM = 19cm.
Berapa cm keliling segitiga KLM tersebut?
11. Tentukanlah panjang sisi segitiga yang belum diketahui dibawah ini!
S J

12cm

Q 23cm R H 4cm I
12. Diketahui keliling segitiga ABC adalah 60cm. Jika panjang
AB=BC=22cm, maka panjang AC=.....
13. Ahfadz mempunyai sawah berbentuk jajargenjang dengan luas 198 cm².
Berapakah tinggi jajargenjang tersebut?

20cm

22cm

14. Subuah segitiga mempunyai alas 32cm, mempunyai luas 448cm². Tinggi
sebuah segitiga tersebut adalah ....
15. Sebuah karton berbentuk segitiga siku-siku dengan panjang sisi-sisi yang
saling tegak lurus adalah 28cm dan 39cm. Berapakah luas karton tersebut?
Lampiran. 6

Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar


Setelah Uji Validasi

Indikator Kompetensi Tingkat Jumlah


Kemampuan Soal
C1 C2 C3
Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

Mengidentifikasi sifat-sifat jajargenjang 1 1


(menetukan banyak sisi dan titik sudut pada
jajar genjang).
Menemukan rumus dan menentukan luas 3 2 4
dan keliling jajargenjang. 6
Kompetensi Dasar:

9
Mengidentifikasi sifat-sifat sigitiga 11 1
(menetukan banyak sisi dan titik sudut
pada segitiga).
Menemukan rumus dan menentukan luas 10 3
dan keliling segitiga. 12
14
Memecahkan masalah yang berkaitan 13 2
dengan luas dan keliling jajargenjang dan 15
segitiga.
Jumlah total 2 6 3 11
Lampiran. 7

Soal Instrumen Tes Hasil Belajar Setelah Uji Validasi

Kerjakanlah soal-soal dibawah ini!

1. Diketahui sebuah jajargenjang memiliki ukuran sebagai berikut:


a. DE = 5 dan EF = 4
b. OP = 6 dan PQ = 4
c. AB = 8 dan BC = 7

2. Jelaskan dan tentukan kalian menemukan luas dan keliling bangun


dibawah ini!

3. Anton memiliki halaman rumah seperti gambar dibawah ini.


Keliling halaman rumah tersebut
akan diberi pagar. Berapa panjang
pagar yang dibutuhkan Anton?

200 m

300 m

4. Diketahui keliling sebuah jajargenjang PQRS 34cm. Jika panjang PQ = 7,


maka panjang QR =....
5. Ahfadz mempunyai sawah berbentuk jajargenjang dengan luas 198 cm².
Berapakah tinggi jajargenjang tersebut?

20cm

22cm
6. Sebuah jajargenjang memiliki luas 182cm². Jika tingginya 13cm, maka
alasnya .... cm
7. Segitiga KLM, segitiga sama kaki dengan KL = 6cm dan LM = 19cm.
Berapa cm keliling segitiga KLM tersebut?
8. Tentukanlah panjang sisi segitiga yang belum diketahui dibawah ini!
S J

12cm

Q 23cm R H 4cm I
9. Diketahui keliling segitiga ABC adalah 60cm. Jika panjang
AB=BC=22cm, maka panjang AC=.....
10. Sebuah segitiga mempunyai alas 32cm, mempunyai luas 448cm². Tinggi
sebuah segitiga tersebut adalah ....
11. Sebuah karton berbentuk segitiga siku-siku dengan panjang sisi-sisi yang
saling tegak lurus adalah 28cm dan 39cm. Berapakah luas karton tersebut?
Lampiran 8

Hasil Perhitungan Uji Validitas

No Butir Soal
Siswa Y
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15
a 4 4 4 4 2 3 1 1 2 3 3 4 4 4 4 47
b 4 4 4 2 1 2 1 2 4 4 4 4 4 4 1 45
c 4 4 4 3 3 3 1 2 4 3 3 4 4 4 4 50
d 1 4 4 2 2 1 1 3 4 3 3 1 4 3 4 40
e 2 4 3 3 2 3 1 1 3 4 3 3 2 4 3 41
f 3 4 4 3 2 4 1 2 4 1 1 1 2 4 4 40
g 2 4 2 3 4 2 3 1 3 4 4 4 2 4 3 45
h 3 2 3 4 1 2 2 3 1 3 2 2 4 4 4 40
i 3 4 3 2 2 4 2 1 3 4 2 4 4 4 3 45
j 4 4 4 1 4 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 42
k 2 1 4 4 2 2 1 2 1 2 3 3 1 3 3 34
l 1 2 4 4 2 1 3 1 4 2 3 3 2 3 2 37
m 4 4 4 1 1 2 1 2 4 1 2 4 4 3 2 39
n 4 1 3 2 3 4 1 1 4 3 3 3 4 2 4 42
o 4 3 2 3 2 3 1 2 3 3 3 3 2 2 4 40
p 2 1 4 4 3 2 1 1 4 1 3 1 1 4 4 36
q 2 1 2 4 4 3 3 2 3 1 3 1 1 4 4 38
r 2 1 4 3 2 3 4 1 2 3 4 2 2 4 3 40
s 3 3 4 2 1 2 2 3 1 3 4 3 2 4 3 40
t 3 1 4 3 3 4 1 1 3 2 2 4 1 1 3 36
u 4 4 4 3 1 3 1 2 3 2 1 4 1 1 4 38
v 1 1 4 1 2 2 1 4 4 3 1 4 2 2 2 34
w 4 2 3 1 2 2 3 1 2 1 3 2 1 1 3 31
x 4 3 3 1 1 2 1 2 3 3 1 2 2 1 2 31
y 3 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 25
z 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 2 21
aa 4 3 4 1 2 2 2 2 3 4 4 4 2 1 3 41
bb 2 3 1 2 3 1 2 1 3 3 4 2 1 2 3 33
cc 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 3 1 3 1 25
dd 1 2 3 3 2 2 1 1 2 3 2 2 2 2 1 29
Jumlah 83 79 97 74 64 71 49 50 83 77 77 83 67 84 87 1125
Rhitung 0.10936 0.10657 0.10065 0.09954 0.11362 0.11199 0.10282 0.10802 0.09214 0.09836 0.10059 0.11441 0.12481 0.11417 0.09739
Rtabel 0.374
Status valid valid valid invalid invalid valid invalid invalid valid valid valid valid valid valid valid
Lampiran 9

Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas

No Butir Soal
Siswa Y
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15
a 4 4 4 3 2 3 3 4 4 4 4 47
b 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 1 45
c 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 50
d 1 4 4 1 4 3 3 1 4 3 4 40
e 2 4 3 3 3 4 3 3 2 4 3 41
f 3 4 4 4 4 1 1 1 2 4 4 40
g 2 4 2 2 3 4 4 4 2 4 3 45
h 3 2 3 2 1 3 2 2 4 4 4 40
i 3 4 3 4 3 4 2 4 4 4 3 45
j 4 4 4 3 2 3 1 3 3 3 2 42
k 2 1 4 2 1 2 3 3 1 3 3 34
l 1 2 4 1 4 2 3 3 2 3 2 37
m 4 4 4 2 4 1 2 4 4 3 2 39
n 4 1 3 4 4 3 3 3 4 2 4 42
o 4 3 2 3 3 3 3 3 2 2 4 40
p 2 1 4 2 4 1 3 1 1 4 4 36
q 2 1 2 3 3 1 3 1 1 4 4 38
r 2 1 4 3 2 3 4 2 2 4 3 40
s 3 3 4 2 1 3 4 3 2 4 3 40
t 3 1 4 4 3 2 2 4 1 1 3 36
u 4 4 4 3 3 2 1 4 1 1 4 38
v 1 1 4 2 4 3 1 4 2 2 2 34
w 4 2 3 2 2 1 3 2 1 1 3 31
x 4 3 3 2 3 3 1 2 2 1 2 31
y 3 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 25
z 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 21
aa 4 3 4 2 3 4 4 4 2 1 3 41
bb 2 3 1 1 3 3 4 2 1 2 3 33
cc 1 2 2 1 1 2 2 3 1 3 1 25
dd 1 2 3 2 2 3 2 2 2 2 1 29
Jumlah 83 79 97 71 83 77 77 83 67 84 87 1125
s₁² 1.288505747 1.550574713 0.943678161 0 0 0.86091954 0 0 1.150574713 1.012643678 1.081609195 1.21954023 1.426436782 1.406896552 0.989655172
∑s₁² 12.93103448
St² 45.22413793
r₁₁ 0.785474647
Lampiran 10

Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran

Siswa No Butir Soal


Y
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15
a 4 4 4 4 2 3 1 1 2 3 3 4 4 4 4 47
b 4 4 4 2 1 2 1 2 4 4 4 4 4 4 1 45
c 4 4 4 3 3 3 1 2 4 3 3 4 4 4 4 50
d 1 4 4 2 2 1 1 3 4 3 3 1 4 3 4 40
e 2 4 3 3 2 3 1 1 3 4 3 3 2 4 3 41
f 3 4 4 3 2 4 1 2 4 1 1 1 2 4 4 40
g 2 4 2 3 4 2 3 1 3 4 4 4 2 4 3 45
h 3 2 3 4 1 2 2 3 1 3 2 2 4 4 4 40
i 3 4 3 2 2 4 2 1 3 4 2 4 4 4 3 45
j 4 4 4 1 4 3 3 2 2 3 1 3 3 3 2 42
k 2 1 4 4 2 2 1 2 1 2 3 3 1 3 3 34
l 1 2 4 4 2 1 3 1 4 2 3 3 2 3 2 37
m 4 4 4 1 1 2 1 2 4 1 2 4 4 3 2 39
n 4 1 3 2 3 4 1 1 4 3 3 3 4 2 4 42
o 4 3 2 3 2 3 1 2 3 3 3 3 2 2 4 40
p 2 1 4 4 3 2 1 1 4 1 3 1 1 4 4 36
q 2 1 2 4 4 3 3 2 3 1 3 1 1 4 4 38
r 2 1 4 3 2 3 4 1 2 3 4 2 2 4 3 40
s 3 3 4 2 1 2 2 3 1 3 4 3 2 4 3 40
t 3 1 4 3 3 4 1 1 3 2 2 4 1 1 3 36
u 4 4 4 3 1 3 1 2 3 2 1 4 1 1 4 38
v 1 1 4 1 2 2 1 4 4 3 1 4 2 2 2 34
w 4 2 3 1 2 2 3 1 2 1 3 2 1 1 3 31
x 4 3 3 1 1 2 1 2 3 3 1 2 2 1 2 31
y 3 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 25
z 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 2 21
aa 4 3 4 1 2 2 2 2 3 4 4 4 2 1 3 41
bb 2 3 1 2 3 1 2 1 3 3 4 2 1 2 3 33
cc 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 3 1 3 1 25
dd 1 2 3 3 2 2 1 1 2 3 2 2 2 2 1 29
Jumlah 83 79 97 74 64 71 49 50 83 77 77 83 67 84 87 1125
P 0.69167 0.65833 0.80833 0.61667 0.53333 0.59167 0.40833 0.41667 0.69167 0.64167 0.64167 0.69167 0.55833 0.7 0.725
Kriteria Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Mudah Mudah
Lampiran 11

Hasil Perhitungan Uji Daya Pembeda

No Butir Soal
Siswa Y
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15
a 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 42
b 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 41
c 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 47
d 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 36
e 4 4 4 4 3 3 3 2 4 4 4 4 4 4 4 41
f 4 4 4 4 3 3 3 2 4 3 4 4 4 4 4 40
g 4 4 4 3 3 3 2 2 4 3 3 4 4 4 4 45
h 4 4 4 3 3 3 2 2 4 3 3 4 4 4 4 38
i 4 4 4 3 2 3 2 2 4 3 3 4 3 4 4 42
j 4 4 4 3 2 3 2 2 3 3 3 4 2 4 4 41
k 4 4 4 3 2 3 2 2 3 3 3 3 2 4 3 34
l 3 3 4 3 2 3 2 2 3 3 3 3 2 4 3 37
m 3 3 4 3 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 37
n 3 3 4 3 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 40
o 3 3 4 3 2 2 1 2 3 3 3 3 2 3 3 40
Pembeda 1 56 56 60 51 41 46 34 35 54 50 51 55 47 57 55 601
q 3 3 4 2 2 2 1 1 3 3 3 3 2 3 3 38
r 3 2 3 2 2 2 1 1 3 3 3 3 2 3 3 40
s 2 2 3 2 2 2 1 1 3 3 2 3 2 3 3 38
t 2 2 3 2 2 2 1 1 3 2 2 2 2 2 3 36
u 2 2 3 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 3 36
v 2 2 3 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 34
w 2 2 3 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 41
x 2 1 3 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 30
y 2 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 25
z 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 2 21
aa 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 41
bb 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 33
cc 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25
dd 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 29
p 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 36
Pembeda 2 27 23 37 23 23 25 15 15 29 27 26 28 20 27 32 503
Daya Pembeda 0.48333 0.55 0.38333 0.46667 0.3 0.35 0.31667 0.33333 0.41667 0.38333 0.41667 0.45 0.45 0.5 0.38333
Kriteria Baik Baik Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Cukup
Lampiran. 12

Rekapitulasi Analisis Butir Soal

No Taraf
Validitas Daya Beda Keterangan
Soal Kesukaran
1. Valid Sedang Baik Digunakan
2. Valid Sedang Baik Digunakan
3. Valid Mudah Cukup Digunakan
4. Invalid Sedang Baik Tidak Digunakan
5. Invalid Sedang Cukup Tidak Digunakan
6. Valid Sedang Cukup Digunakan
7. Invalid Sedang Cukup Tidak digunakan
8. Invalid Sedang Cukup Tidak digunakan
9. Valid Sedang Baik Digunakan
10. Valid Sedang Cukup Digunakan
11. Valid Sedang Baik Digunakan
12. Valid Sedang Baik Digunakan
13. Valid Sedang Baik Digunakan
14. Valid Mudah Baik Digunakan
15. Valid Mudah Cukup Digunakan
Derajat Reliabilitas 0,78
Lampiran 13

Hasil Posttest Kelompok Eksperimen

NO NAMA NILAI

1. A 92
2. B 80
3. C 76
4. D 80
5. E 84
6. F 68
7. G 84
8. H 80
9. I 84
10. J 72
11. K 84
12. L 76
13. M 68
14. N 88
15. O 88
16. P 92
17. Q 92
18. R 80
19. S 88
20. T 68
21. U 68
22. V 84
23. W 80
24. X 76
25. Y 88
26. Z 92
27. ZZ 72
28. ZA 88
29. ZB 80
30. ZC 88
31. ZF 92
32. ZG 72
33. ZH 80
34. ZI 80
Lampiran 14

Hasil Posttest Kelompok Kontrol

NO NAMA NILAI
1. A 64
2. B 68
3. C 64
4. D 64
5. E 60
6. F 60
7. G 68
8. H 68
9. I 76
10. J 64
11. K 60
12. L 68
13. M 56
14. N 76
15. O 68
16. P 68
17. Q 60
18. R 60
19. S 64
20. T 76
21. U 60
22. V 56
23. W 76
24. X 64
25. Y 60
26. Z 60
27. ZZ 48
28. ZA 52
29. ZB 60
30. ZC 68
31. ZF 68
32. ZG 76
33. ZH 76
34. ZI 64
Lampiran 15

PERHITUNGAN DISTRIBUSI DATA POSTTEST


SISWA KELAS EKSPERIMEN
A. Posttest

Diketahui data nilai posttest data kelas eksperimen adalah sebagai berikut:`

92 80 76 80 84 68 84 80 84 72
84 76 68 88 88 92 92 80 88 68
68 84 80 76 88 92 72 88 80 88
92 72 80 80

1. Banyak data (n) = 34


2. Rentang data (R) = Xmax – Xmin
= 92 – 68
= 24
Keterangan : R = Rentangan
Xmax = Nilai maksimum (tertinggi)
Xmin = Nilai minimum (terendah)
3. Banyak kelas interval (K) = 1+ 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 34
= 1 + (3,3 x 1,53)
= 1 + 5,05
= 6,05 ≈ 6
Keterangan : K = Banyak kelas
n = Banyak siswa

4. Panjang kelas (i) =

=4
5. Menyusun Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
N NILAI (fi) (Xi) fiXi Xi 2 fiXi2 FREKUENSI
O (%)
1. 68 – 71 4 69,5 278 4830 19321 11,76
2. 72 – 75 3 73,5 220,5 5402 16206,75 8,82
3. 76 – 79 3 77,7 233,1 6037 18111,87 8,82
4. 80 – 83 8 81,5 652 6642 53138 23,52
5. 84 – 87 5 85,5 427,5 7310 46551,25 14,70
6. 88 – 92 11 89,5 984,5 8010 88112,75 32,35
JUMLAH 34 2795,6 38232,54 231441,6 100

6. Menghitung Rata-rata ( X ), Median, Modus, dan Standar deviasi

a. Mean/Nilai Rata-rata ( X ) = 
fi X i
f i

= 82,22

Keterangan :

Me = Mean/ Nilai Rata-rata

fX i i = Jumlah dari hasil perkalian midpoint (nilai tengah) dari masing-masing

interval dengan frekuensinya.

f i = Jumlah frekuensi/ banyak siswa


1 
 n  fk 
b. Median/ Nilai Tengah (Md)  BB   2 P
 fi 
 
 

1 
 34  10 
= 79,5   4
2
 8 
 
 

 17  10 
 79,5   4
 8 

= 79,5 + ( ). 4

= 79,5 + 3,5

= 83

Keterangan :

Md = Median/ Nilai Tengah

BB = Batas bawah dari interval kelas median

n = Jumlah frekuensi/ banyak siswa

fk = Frekuensi kumulatif yang terletak di atas interval kelas median

fi = Frekuensi kelas median

P = Panjang kelas

 1 
c. Modus (Mo)  BB     P
 1   2 

 6 
= 87,5   4
 6  11 
6
 87,5     4
 17 
= 87,5 + 1,41
= 88,91
Keterangan :

Mo = Modus/ Nilai yang paling sering muncul

BB = Batas bawah dari interval kelas modus)

1 = Selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya

2 = Selisih frekuensi kelas modus dengan kelas setelahnya

P = Interval kelas

∑ ∑
d. Simpangan baku (s) =√


=√


=√

=√

=√

= 6,91

e. varians (s2) = 47,80367


Lampiran 16

PERHITUNGAN DISTRIBUSI DATA POSTTEST

SISWA KELAS KONTROL

A. Posttest

Diketahui data nilai posttest data kelas kontrol adalah sebagai berikut:`

64 68 64 64 60 60 68 68 76 64
60 68 56 76 68 68 60 60 64 76
60 56 76 64 60 60 48 52 60 68
68 76 76 64

1. Banyak data (n) = 34


2. Rentang data (R) = Xmax – Xmin
= 76 - 48
= 28
Keterangan : R = Rentangan
Xmax = Nilai maksimum (tertinggi)
Xmin = Nilai minimum (terendah)
3. Banyak kelas interval (K) = 1+ 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 34
= 1 + (3,3 x 1,53)
= 1 + 5,05
= 6,05 ≈ 6
Keterangan : K = Banyak kelas
n = Banyak siswa

4. Panjang kelas (i) =

= 4,67 ≈ 5
5. Menyusun Interval Kelas
Tabel Distribusi Frekuensi Penyusunan Interval Kelas
NO NILAI (fi) (Xi) fiXi Xi 2 fiXi2 FREKUENSI
(%)
1. 48 – 52 2 50 100 2500 5000 5,88
2. 53 – 57 2 55 110 3025 6050 5,88
3. 58 – 62 9 60 540 3600 32400 26,47
4. 63 – 67 7 65 455 4225 29575 20,58
5. 68 – 72 8 70 560 4900 39200 23,52
6. 73 – 77 6 75 450 5625 33750 17,64
JUMLAH 34 2215 23875 145975 100

6. Menghitung Rata-rata ( X ), Median, Modus, dan Standar deviasi

a. Mean/Nilai Rata-rata ( X ) = 
fi X i
f i

= 65,14

Keterangan :

Me = Mean/ Nilai Rata-rata

fX i i = Jumlah dari hasil perkalian midpoint (nilai tengah) dari masing-masing

interval dengan frekuensinya.

f i = Jumlah frekuensi/ banyak siswa

1 
 n  fk 
b. Median/ Nilai Tengah (Md)  BB   2 P
 fi 
 
 
1 
 34  13 
= 62,5   5
2
 7 
 
 

 17  13 
 62,5   5
 7 

= 62,5 + ( ). 5

= 62,5 + 2,85

= 65,35

Keterangan :

Md = Median/ Nilai Tengah

BB = Batas bawah dari interval kelas median

n = Jumlah frekuensi/ banyak siswa

fk = Frekuensi kumulatif yang terletak di atas interval kelas median

fi = Frekuensi kelas median

P = Panjang kelas

 1 
c. Modus (Mo)  BB     P
 1   2 

 7 
= 57,5   5
72
7
 57,5     5
9

= 57,5 + 3,88
= 61,38
Keterangan :

Mo = Modus/ Nilai yang paling sering muncul

BB = Batas bawah dari interval kelas modus)

1 = Selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya

2 = Selisih frekuensi kelas modus dengan kelas setelahnya

P = Interval kelas

∑ ∑
d. Simpangan baku (s) =√


=√

=√

=√

=√

= 7,12

e. varians (s2) = 50,735


Lampiran 17

Perhitungan Uji Normalitas Hasil Tes Kelompok Eksperimen

A. Posttest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest
No X f Z Z tabel F (Z) Fk S (Z) | F (Z) - S (Z) |
1. 68 4 -1,73 0,4582 0,0418 4 0,117647 0,07585
2. 72 3 -1,21 0,3869 0,1131 7 0,205882 0,09278
3. 76 3 -0,69 0,2549 0,2451 10 0,294118 0,04902
4. 80 8 -0,17 0,0675 0,4352 18 0,529412 0,09691
5. 84 5 0,353 0,1368 0,6368 23 0,676471 0,03967
6. 88 6 0,875 0,4693 0,9693 29 0,852941 0,116359
7. 92 5 1,396 0,4192 0,9192 34 1 0,0808
Jumlah 34 Lhitung : 0,116359

Berdasarkan tabel di atas, hasil uji normalitas untuk data postes dilakukan pada taraf
signigfikansi 95% (α = 0,05) dengan menggunakan tabel nilai kritis uji liliefors, yaitu Ltabel
dengan n = 34 adalah 0,1519. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil pretes
berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel (0,116359 < 0,1519).
Lampiran 18

Perhitungan Uji Normalitas Hasil Tes Kelompok Kontrol

A. Posttest
Tabel Hasil Perhitungan Uji Normalitas Nilai Posttest
No X f Z Z tabel F (Z) Fk S (Z) | F (Z) - S (Z) |
1. 48 1 -2,36 0,4909 0,0091 1 0,029412 0,02031
2. 52 1 -1,8 0,4641 0,0359 2 0,058824 0,02292
3. 56 2 -1,23 0,3907 0,1093 4 0,117647 0,00835
4. 60 9 -0,67 0,2486 0,2514 13 0,382353 0,13095
5. 64 7 -0,1 0,0398 0,4602 20 0,588235 0,12804
6. 68 8 0,466 0,1808 0,6808 28 0,823529 0, 14273
7. 76 6 1,599 0,4452 0,9452 34 1 0,0548
Jumlah 34 Lhitung : 0,14273

Berdasarkan tabel di atas, hasil uji normalitas untuk data postes dilakukan pada taraf
signigfikansi 95% (α = 0,05) dengan menggunakan tabel nilai kritis uji liliefors, yaitu Ltabel
dengan n = 34 adalah 0,1519. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil pretes
berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel (0,14273 < 0,1519).
Lampiran 19

Perhitungan Uji Homogenitas


A. Data Posttest

Perhitungan uji homogenitas di lakukan dengan menggunakan uji homogenitas 2 varians


yaitu dengan menggunakan uji Fisher, dengan rumus:

Fhitung = = = 1,18

Keterangan:
F = Homogen
2
S1 = Varians Terbesar
2
S2 = Varians Terkecil

Menentukan kriteria pengujian:


a) Jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima,
b) Jika Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak.
Dengan demikian, di peroleh Fhitung = 1,18 sedangkan Ftabel = 1,79 dengan db pembilang =
34-1=33, dan db penyebut = 34-1=33 (dengan derajat signifikan 95%). Karena Fhitung < Ftabel
(1,18 < 1,79), maka dapat di simpulkan bahwa data dari kedua kelompok memiliki varians yang
sama atau homogen.
Lampiran 20

Perhitungan Uji Hipotesis Statistik

A. Perhitungan uji “t”-posttest

Diketahui:
EKSPERIMEN KONTROL
N1 = 34 N2 = 34
̅ 82,22 ̅ 65,14
2 2
S1 (varian) 47,804 S2 (varian) 50,735

Penyelesaian:

( ) ( )
² =√

( ) ( )
=√

( ) ( )
=√

=√ = 7,019

̅ ̅
thitung =


=

=

=

=
=

= 8,95

Dari hasil perhitungan hipotesis di atas, nilai posttest kelas eksperimen dan
kelas kontrol pada taraf signifikansi = 0,05 di peroleh t hitung posttest sebesar 8,95
dengan ttabel 2,00, maka dapat di lihat bahwa hasil thitung < ttabel. Jadi dapat di
simpulkan bahwa H1 diterima dan dapat di nyatakan bahwa terdapat pengaruh
metode penemuan terbimbing terhadap hasil belajar matematika siswa.
Lampiran 21

Presentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Eksperimen

No Nama X1 X2 X4 X3 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 Total


1 A 4 4 2 4 2 3 2 1 2 3 3 30
2 B 4 4 1 3 1 4 4 3 4 3 4 35
3 C 3 4 1 3 1 2 2 4 4 3 1 28
4 D 3 4 2 4 2 1 1 4 4 3 2 30
5 E 3 1 4 3 2 3 2 1 1 2 2 24
6 F 4 1 1 4 1 3 1 1 1 3 2 22
7 G 4 4 2 4 4 4 3 3 2 3 3 36
8 H 4 3 2 3 4 3 3 3 1 3 2 31
9 I 4 3 3 3 2 4 3 2 4 1 3 32
10 J 4 3 4 4 4 3 2 3 4 2 3 36
11 K 4 4 1 2 2 3 3 3 1 2 1 26
12 L 4 4 3 3 3 4 3 3 3 1 3 34
13 M 4 4 4 3 2 3 4 3 1 1 2 31
14 N 4 3 1 2 1 3 4 1 1 3 3 26
15 O 3 4 3 3 3 3 3 2 2 3 2 31
16 P 4 4 1 1 1 1 2 1 1 2 2 20
17 Q 4 4 3 3 2 3 3 1 3 2 3 31
18 R 4 3 1 2 4 1 1 3 1 3 1 24
19 S 3 1 1 1 3 1 2 1 1 1 1 16
20 T 4 1 1 3 2 1 1 1 1 3 2 20
21 U 4 1 4 4 4 3 3 3 3 1 2 32
22 V 4 4 1 3 2 4 2 3 2 4 3 32
23 W 4 4 4 4 4 3 4 4 2 3 4 40
24 X 4 4 2 4 4 3 2 4 4 2 3 36
25 Y 4 3 2 4 3 4 4 3 3 2 3 35
26 Z 3 2 2 3 3 3 2 4 4 3 4 33
27 Aa 4 3 3 3 3 4 2 3 2 1 1 29
28 Bb 4 2 3 2 2 4 3 3 4 3 4 34
29 Cc 4 3 3 4 2 2 3 3 3 3 3 33
30 Dd 4 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 32
31 Ee 4 3 3 2 1 1 3 1 2 3 2 25
32 Ff 4 3 3 3 3 1 3 1 2 3 2 28
33 Gg 4 2 4 3 3 4 3 3 3 3 4 36
34 Hh 4 3 2 3 2 2 3 4 3 3 2 31
Jumlah 130 103 79 102 85 94 89 86 82 84 93 1.019
Jenjang
Kognitif C1 C2 C3
Persentase 93,375% 31,125% 62,25%
Lampiran 22

Presentase Jenjang Kognitif Nilai Posttest Kelas Kontrol

NO NAMA X1 X2 X4 X3 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 Total


1 A 3 1 4 2 2 3 1 2 4 1 1 24
2 B 4 1 1 3 1 3 1 3 4 1 3 25
3 C 3 3 4 2 2 3 1 1 4 3 3 29
4 D 3 1 1 3 1 4 4 3 1 2 1 24
5 E 4 1 1 3 2 4 1 1 4 3 2 26
6 F 4 3 1 2 1 3 4 3 3 1 1 26
7 G 4 4 1 2 2 3 4 2 2 3 3 30
8 H 4 1 1 3 1 3 3 2 2 3 3 26
9 I 4 4 1 3 1 3 4 2 2 1 1 26
10 J 1 3 1 1 2 3 4 1 1 2 3 22
11 K 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 3 16
12 L 4 4 2 3 1 3 4 4 3 2 3 33
13 M 4 4 2 3 2 3 4 2 2 3 2 31
14 N 2 1 1 1 1 4 1 1 1 2 2 17
15 O 4 4 1 3 1 4 1 1 2 2 2 25
16 P 4 1 2 1 1 4 2 1 1 2 3 22
17 Q 4 4 1 1 2 3 4 2 4 4 3 32
18 R 3 2 1 1 1 2 3 3 2 1 2 21
19 S 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2 1 19
20 T 4 3 1 2 1 2 2 1 1 2 3 22
21 U 4 3 1 1 1 2 1 3 2 1 1 20
22 V 4 2 1 1 1 2 1 1 3 2 1 19
23 W 4 2 1 3 1 2 1 1 1 3 1 20
24 X 4 4 4 4 2 4 3 3 4 3 3 38
25 Y 4 4 3 4 1 4 4 3 2 3 3 35
26 Z 4 4 3 4 4 2 3 1 4 3 1 33
27 Aa 4 4 3 4 2 4 3 3 4 3 3 37
28 Bb 4 1 1 3 1 1 4 1 1 1 2 20
29 Cc 4 4 4 4 1 1 4 3 4 3 1 33
30 Dd 1 2 2 3 4 3 1 1 1 1 1 20
31 Ee 1 3 3 2 3 1 1 1 4 1 1 21
32 Ff 1 4 2 2 3 1 1 4 4 1 2 25
33 Gg 2 1 2 1 2 2 4 3 2 3 3 25
34 Hh 1 1 1 4 2 1 2 4 2 3 3 24
Jumlah 107 84 58 78 52 88 84 69 83 73 70 866
Kognitif C1 C2 C3
Persentase 70,25% 52,58% 55,42%
KEMENTERIAN AGAMA No. Dokumen : FITK-FR-AKD-082
UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010
FORM (FR) No. Revisi: : 01
FITK
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1
SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN

Nomor : Un.01/F.1/KM.01.3/......../2014 Jakarta, 23 Oktober 2014


Lamp. : Outline/Proposal
Hal : Permohonan Izin Penelitian

Kepada Yth.

Kepala Sekolah
MI Yayasan Pendidikan Islam Pakualam
di
Tempat

Assalamu’alaikum wr.wb.
Dengan hormat kami sampaikan bahwa,

Nama : Khairun Nufus


NIM : 1110018300040
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibthidayah
Semester : IX
Judul Skripsi : Pengaruh Metode Penemuan Terbimbing terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa.
adalah benar mahasiswa/i Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Jakarta yang sedang menyusun skripsi, dan akan mengadakan penelitian
(riset) di instansi/sekolah/madrasah yang Saudara pimpin.

Untuk itu kami mohon Saudara dapat mengizinkan mahasiswa tersebut


melaksanakan penelitian dimaksud.

Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

a.n. Dekan
Ketua Jurusan PGMI

Drs. Fauzan, MA
NIP. 19761107 200701 1 013
Tembusan:
1. Dekan FITK
2. Pembantu Dekan Bidang Akademik
3. Mahasiswa yang bersangkutan