Anda di halaman 1dari 8

YESUS SEBAGAI GURU DAN SATYAGRAHI

Ringkasan dan Tanggapan terhadap


Refleksi Teologis Amalados

PENGANTAR
Tulisan ini merupakan ringkasan sekaligus tanggapan atas buku karya Michael
Amalados, The Asian Jesus, New York: Orbis Books, hlm. 69-85, 86-104. Khususnya
kami akan membahas refleksi Amalados mengenai Yesus sebagai Guru dan
Satyagrahi. Bagian pertama akan menguraikan ringkasan mengenai Yesus sebagai
guru. Bagian Kedua adalah ringkasan mengenai Yesus sebagai Satyagrahi. Bagian
ketiga merupakan tanggapan kami atas kedua refleksi tersebut.
YESUS SEBAGAI GURU
Refleksi teologis Amalados mengenai Yesus sebagai guru bertolak dari
konteks umum masyarakat India memahami status seorang guru. Guru merupakan
istilah umum dalam perbendaharaan bahasa India. Mereka adalah pribadi yang
telah menapaki jalan spiritual dan telah mengalaminya, atau sekurang-kurangnya
pernah melihat tujuan spiritual yang orang-orang cari, lantas memperkenalkan dan
membimbing para murid kepada pemenuhan spiritual. Dalam masyarakat India
murid yang mencari guru dan bukan sebaliknya. Adapun seorang murid bisa
menjadi guru apabila mengalami pengalaman personal yang mendalam dan diakui
oleh orang lain. Dalam tradisi Advaitik, para guru dilihat ilahi karena mereka telah
mengalami kesatuan advaitik dengan Hyang Ilahi (Brahman), sehingga mereka
pantas dijuluki bhagawan atau dewa.
Dari konteks umum Amalados lantas mencari kesamaan sekaligus perbedaan
konsep Guru dalam alam pikiran Hindu dengan konsep guru yang ditampilkan
Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci. Dari perbandingan tersebut, dapat
ditunjukkan kekhasan Yesus sebagai guru.
Pendasaran biblis paling penting sebagai berikut: “Siapa yang datang dari
Surga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya
dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksianNya itu.”
(Yoh. 3: 31-32). Mereka mengalami-Nya pertama sebagai seorang manusia (Luk. 2:
52), bahkan menolakNya (Yoh. 6:66; Mrk. 3:22). Kesamaannya terletak pada Yesus
yang telah mengalami kesatuan intim dengan Yang Ilahi, tetapi Yesus berbeda
dalam hal nasibnya yang disalahpahami, ditolak dan disingkirkan oleh banyak
orang.
Yesus sama seperti guru di India juga mengalami proses formasi. Bagi
Amalados, tiga macam pencobaan di Padang Gurun terus dialami Yesus selama
hidupnya (Mat. 4:10; Luk. 23:37; Mrk. 8: 11). Merubah batu menjadi roti
mengungkapkan godaan menggunakan kuasa untuk memuaskan kebutuhan dan
hasrat pribadiNya. Terjun dari Bait Allah menungkapkan godaan egoisme,
kegelisahan yang berlebihan, menganggap diri penting dan memaksa Allah untuk
mengakuinya. Menyembah Iblis adalah godaan untuk berkuasa. Sekalipun sebagai
guru tidak menjamin bisa terlepas dari godaan, Yesus tidak pernah menyetujuinya.

1
Dengan mengambil jalan yang berbeda dari gambaran guru dalam
masyarakat Yahudi, Yesus menunjukkan model seorang guru yang sejati. Model
Guru Yahudi yang ideal tampak dalam para Rabbi yang ahli mengomentari KS dan
hukum serta dalam diri para Farisi yang mengklaim menaati semua ketentuan
hukum dengan setia. Sedangkan bagi Yesus, guru sejati a) menjalankan hukum
dengan menekankan pada kejujuran (authenticity) dan disposisi batin (interiority).
Selain itu, jalan menuju Allah bukan terletak pada kesetiaan untuk taat pada ritual
dan hukum melainkan melalui kesetiaan pada tuntutan mendasar untuk mengasihi
yang terungkap dalam keberpihakan pada kaum miskin dan tertindas bahkan
dengan konsekuensi terjauh seperti yang dialami oleh Yesus sendiri, yakni
kematian. Namun justru dalam kematian, Yesus mengalami puncak pengelaman
akan Allah, “Ya Bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan nayawa-Ku. ” Kecuali
Mahatma Gandhi yang melihat salib dan kematian Yesus sebagai contoh perjuangan
tanpa kekerasan, hampir cara pandangan Asia memandang Yesus sekedar sebagai
guru moral.
Tidak seperti Guru India yang menunjukkan adanya satu tahapan
pengalaman puncak yang berlangsung secara stabil, Yesus menampilkan diri
sebagai guru musafir sampai pada kematiannya. Artinya Yesus mengalami proses
perjalanan menjadi seorang guru. Ia pernah mengalami Allah dalam melaksanakan
misi-Nya, dalam doa (Mrk. 1:35), peristiwa transfigurasi (Mrk. 9:7). Akan tetapi
pengalaman tersebut tidak berlaku secara penuh pada satu waktu lantas
berlangsung seterusnya, tetapi berjalan bersama dengan perjuangan terus-menerus
yang semakin mendalam dalam peristiwa penderitaan dan salib. Pengalaman-Nya
berkembang dan disempurnakan melalui berbagai pertemuan dengan lawan-lawan-
Nya maupun orang-orang yang membuatnya terkagum-kagum karena imannya
(Mrk. 7:24-30) dan tindakan mereka yang membuat kekuatan Yesus keluar (Luk.
8:43-48). Akhirnya, pengajaran dan status-Nya sebagai guru baru menjadi lengkap
dalam peristiwa kebangkitan.
Apabila guru India yang didatangi murid, tidak demikian dengan Yesus.
Kekhasannya adalah komunitas kemuridan yang dibentuk Yesus merupakan buah
dari hubungan timbal balik antara guru dan murid. Dari pihak Yesus, Ia memanggil
dengan kasih yang tidak melampui kebebasan dan tanpa memaksa para murid
(Mrk. 10:21). Dari pihak para murid, ada kemungkinan para murid terlebih dahulu
mengalami Yesus sebelum memutuskan untuk mengikuti-Nya (Mat. 4: 18-22).
Sebagai guru, Yesus juga tidak pergi secara tetap ke tempat terasing, tetapi
justru menjadi guru untuk gerakan sosial kerasulan. Dalam gerakan itu, Yesus
menampilkan proyek sosial ganda ( Ef. 1: 3-10), yakni kehendak-Nya agar setiap
orang mencapai kepenuhan (Yoh. 17) dan agar semua ciptaan/kosmik mengalami
kepenuhan (1 Kor. 15: 28). Selanjutnya, para murid tidak hanya diajarkan untuk
mencapai kepenuhan diri tetapi berkarya demi datangnya kerajaan Allah bagi
manusia dan seluruh semesta. Dengan kata lain, kedua belas rasul berperan khusus
untuk meneruskan pewartaan Yesus tentang kedatangan kerajaan Allah dan seruan-
Nya untuk bertobat.
Dalam perannya sebagai guru, seluruh tindak-tanduk Yesus mengarah pada
suatu visi Kerajaan Allah. Kerajaan Allah tersebut dijelaskan Yesus dalam bentuk
perumpamaan, yang menunjuk pada suatu persekutuan semua orang (bdk.
2
Perumpamaan Perjamuan Nikah) yang dimulai dalam diri setiap orang
(Perumpamaan Biji Sesawi). Sekalipun datangnya Kerajaan Allah pertama-tama
berkat kemurahan hati Allah (Perumpamaan Tuan para pekerja), tanggapan bebas
manusia juga diperlukan yakni dalam bentuk penyerahan diri. Penyerahan diri itu
dalam bentuk pelepasan dari egoisme (perumpamaan tentang harta karun),
pertobatan (kisah wanita berdosa yang mengurapi-Nya), kepercayaan akan
pengampunan Allah (perumpamaan anak yang hilang), dan kasih pada sesama
dalam wujud pengampunan (perumpamaan hamba yang berhutang) maupun
pelayanan (perumpamaan orang Samaria yang baik hati).
Sebagai Guru Yesus juga memberikan tuntutan khas kepada para murid-Nya.
Para murid dituntut untuk berada dan hidup dengan Yesus, belajar dari pengajaran
dan tindakan-Nya, bahkan dalam cara-cara yang khusus seperti ketika Ia meredakan
angin ribut atau bahkan saat Ia disalibkan. Mereka juga dituntut untuk
meninggalkan segala sesuatunya demi mengikuti Yesus dan berkomitmen secara
personal untuk setia pada komunitas dan meneruskan misi Yesus.
Agar para murid menjadi misionaris yang handal, Yesus memberikan
latihan dan menangani murid-Nya dalam hubungan yang intim. Latihannya
dengan mengutus para murid untuk mewartakan kabar baik tentang kedatangan
Kerajaan Allah serta melakukan penyembuhan dan eksorsisme. Selain itu mereka
diminta tinggal di tengah penduduk dan mewartakan dalam kemiskinan. Yesus
menangani para murid dengan mengajarkan, dengan kata-kata dan teladan, bahwa
peran istimewa berarti memiliki tanggung jawab khusus dan siap untuk menderita.
Dalam arti ini, kekhasan Yesus adalah mendorong para murid untuk tidak hanya
belajar di sebuah tempat khusus yang ‘steril’, tetapi justru belajar di tengah
masyarakat ramai.
Dari rangkaian deskripsi Amalados mengenai Yesus sebagai guru, ia
akhirnya memberikan kesimpulan. Di India sekurang-kurangnya terdapat dua
macam guru. Pertama, Sannyasi adalah kumpulan guru yang menolak dunia dan
hidup sebagai pengembara demi mencapai moksha atau pembebasan. Kedua, guru
Ashram adalah komunitas yang terdiri dari guru sebagai pusatnya, para murid yang
tetap, tempat tinggal semacam asrama, dan bertujuan untuk mencapai pemenuhan
hidup (sadhana). Menurut Amalados, Yesus mengkombinasi keduanya tanpa
terperangkap. Ia menolak dunia, hidup sebagai musafir tetapi membangun
komunitas tanpa ashram. Ia menyerukan gerakan sosial demi perubahan personal
dan sosial, melalui pembentukan komunitas yang mencakup pria dan wanita.
Namun kebesaranNya sebagai guru adalah menjadi inspirasi bagi guru-guru besar
lainnya sampai sekarang.

YESUS SEBAGAI SATYAGRAHI


Dalam konteks umum alam pikiran masyarakat India, Satyagraha berarti berpegang
teguh pada kebenaran. Adapun nilai-nilai intinya adalah kebebasan, kesetaraan,
keadilan yang melingkupi baik aspek personal maupun sosial. Sedangkan Satyagrahi
berarti orang yang melakukan satyagraha. Satyagraha menurut Gandhi bisa berciri
moral sekaligus religius sejauh kebenaran dipahami sebagai Allah. Oleh karena itu
bagi Gandhi, seseorang tidak memiliki kebenaran tetapi justru kebenaran yang

3
adalah Allah memiliki seseorang. Seorang mencapai kebenaran melalui manifestasi
perjuangannya akan kebenaran dalam sejarah dan kehidupan.
Seorang Satyagrahi adalah seseorang yang berkomitmen pada kebebasan, kebenaran,
dan keadilan serta terlibat dalam tindakan sosio-politis tanpa kekerasan demi
mencapai nilai-nilai tersebut, baik secara personal maupun dalam kehidupan sosial.
Gandhi yang dikenal sebagai tokoh yang menghayati satyagrahi secara konsisten
memandang Yesus sebagai Satyagrahi dan mengaku sebagai murid-Nya.
Dari konteks umum di atas, Amalados lantas mengeksplorasi bagaimana Yesus
memperjuangkan kebebasan, kebenaran, dan keadilan. Jadi dalam uraiannya
mengenai Yesus sebagai satyagrahi, Amalados tampak kurang menunjukkan posisi
khas Yesus dalam mengupayakan perwujudan nilai-nilai inti satyagraha, tetapi
sejauh mana Yesus menampilkan dalam ajaran dan kehidupan-Nya.
Satyagaraha diwujudkan Yesus pertama-tama dalam perannya sebagai seorang
nabi. Menurut Amalados, Yesus termasuk ke dalam tradisi para Nabi sesudah
pembuangan, yang menyerukan kepada khalayak untuk menyongsong Kerajaan
Allah Baru yang akan datang. Berbeda dengan Yohanes Pembaptis, Ia tidak
berbicara Kerajaan Allah yang datang tetapi menyatakan: “Waktunya sudah genap,
Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk. 1: 15). Kerajaan Allah itu dinyatakannya dengan
keberpihakannya pada orang miskin dan tertindas dan mengecam para penindas
yakni orang Farisi dan para pemimpin masyarakat (Mrk 2: 16).
Sebagai seorang Nabi, Dia mengajar dengan otoritas sebagaimana dikisahkan dalam
Injil Ia selalu mengajar dengan tegas, “Aku berkata kepadamu…”. Berbeda dari
Nabi sebelumnya yang tidak memiliki penerus, Yesus memiliki para murid yang
siap untuk melanjutkan misi-Nya, baik pria maupun wanita. Namun seperti para
nabi sebelumnya, Ia mengalami penolakan, bahkan sampai dibunuh. Bukan berarti
Yesus senang menderita, seperti seorang masokis, tetapi dalam kepercayaan kepada
Allah Ia tetap teguh dan siap menghadapi penderitaan itu sebagai konsekuensi
perjuangan-Nya mewujudkan nilai-nilai yang dalam konteks India dipahami
sebagai satyagraha.
Dalam perjuangan-Nya sebagai Nabi, Yesus mengalami konflik tanpa dimaksudkan
Ia sengaja mencari konflik sebagai tujuan pada dirinya. Namun, tujuan konflik
dimaksudkan sekaligus sebagai konsekuensi tak terelakkan dalam rangka
memperjuangkan kebenaran. Tujuan tersebut tampak dalam percakapan-Nya
dengan Pilatus pada kisah sengsara. Pilatus yang bertanya pada Yesus mengenai
‘apa itu kebenaran’ sebenarnya tidak mengerti bahwa Yesus sebenarnya adalah
kebenaran itu sendiri.
Secara konsisten Yesus menghadapi konflik itu dengan sikap tanpa kekerasan.
Perjuangan kaum Zelot pada masa Yesus bersifat politis, yakni memperjuangkan
pembebasan Palestina dari Imperialisme Roma dengan jalan kekerasan. Yesus
berbeda dengan mereka karena fokus-Nya pada komunitas Yahudi dan penindasan
yang dilakukan oleh pemimpin Yahudi, para imam dan para farisi. Mereka inilah
yang mengantarai lestarinya penindasan romawi. Dalam rangka pembebasan, Yesus
tidak menawarkan revolusi tetapi pembangunan komunitas yang didasarkan pada
kasih dan sikap tanpa kekerasan. Sekalipun ujungnya adalah hukuman mati
terhadap Yesus, tetapi penderitaan, salib, dan kebangkitan malah menguatkan para

4
pengikutNya untuk meneruskan misiNya menjadi revolusi yang berlanjut tanpa
akhir.
Di dalam penderitaan yang secara manusiawi cenderung ditolak banyak orang,
Yesus justru menghadapinya dan bahkan memaknai penderitaan itu. Ketika banyak
budaya dan tradisi meyakini penderitaan merupakan hukuman atas kejahatan dan
dosa. Keyakinan itu mengambil bentuk dalam konsep ‘kambing hitam’, ‘kurban
penebusan dosa’, ‘hukuman atas dosa’. Akan tetapi Yesus melihat penderitaan
orang buta dari lahir (Yoh 9: 2-3) dimaksudkan untuk menunjukkan kemuliaan
Allah. Penderitaan dilihat sebagai ungkapan radikal dari kasih dan pemberian diri
(Yoh. 15:13). Sekali lagi harus ditegaskan bahwa Yesus tidak ingin menderita, tetapi
penderitaan itu merupakan konsekuensi dari keberpihakanNya pada korban tanpa
menggunakan kekerasan. Selain itu, ketahanan untuk menolak penggunaan
kekerasan sekalipun dalam situasi penderitaan juga memiliki nilai strategis untuk
merubah cara pikir dan disposisi hati para penindas. Akhirnya, Kebangkitan Yesus
menunjukkan tanggapan Allah atas mereka yang menderita, yakni mengaruniakan
keselamatan.
Bahkan di hadapan orang-orang yang membuatNya menderita, Yesus justru
menunjukkan kasih dan pengampunan. Artinya, Yesus bukan hanya menuntut
mengasihi sesama, tetapi juga para musuh (Mat. 5: 38-39). Kasih yang demikian juga
mengambil bentuk dalam pengampunan yang menyembuhkan (Mat. 9: 2-6). Jadi,
sikap tanpa kekerasan adalah jalan hidup dan bukan hanya strategi efektif dalam
konflik sosio-politik.
Lebih aneh lagi, penderitaan dan kematian dalam salib justru menjadi tanda
kemenangan sekaligus ungkapan kenosis. Berbeda dengan orang Asia pada
umumnya sulit menerima dewa (Pribadi Ilahi) yang menderita. Bagi Yesus,
penderitaan sebagai konsekuensi perjuangan sangat efektif menghancurkan spiral
kekerasan sekaligus mencapai titik tertinggi perjuangan. Seorang yang berjuang
sampai menderita bahkan menolak menjadi obyek tetapi justru mengafirmasi
subyektifitasnya. Secara biblis langsung kelihatan bahwa penderitaan Kristus
menunjukkan manifestasi perendahan diri, ketaatan, dan pengosongan diri-Nya.
Melalui kehidupan-Nya, sikap tanpa kekerasan berkaitan dengan dialog. Sepanjang
hidupnya Yesus memang dikisahkan sering berdialog dengan banyak pihak seperti
Nikodemus, Natanael, wanita Samaria, wanita Siro-Fenisia, Maria magdalena, dan
orang-orang Farisi.
Selain memperjuangkan kebenaran, satyagraha juga dimaksudkan untuk mencapai
pembebasan. Dalam tradisi India, tujuan akhir hidup adalah mokhsa atau
pembebasan. Yesus sebagai pembebas mengarahkan kita pada mokhsa. Beberapa
orang lainnya melihat Yesus sebagai revolusioner dengan mengutip Mat. 10: 34.
Pertanyaannya: apakah kekerasan dalam revolusi membawa kepada pembebasan
sejati dan kedamaian, atau hanya mengganti kekuasaan?
Untuk menjawabnya, maka penting untuk memaknai proyek pembebasan pada
peristiwa Eksodus bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Tentu saja ada bahaya
pandangan yang demikian bisa melupakan dimensi eskatologis yang berciri trans-
historis. Yesus sendiri tidak mengajukan blueprint bagi masyarakat ideal yang rentan
menjadi ideologi yang terkait erat dengan proses historis belaka. Akan tetapi, Ia

5
memfokuskan pada sikap dasariah dan relasi yang mewujud dalam tindakan kasih
dan pengampunan.
Penderitaan di sini dimaknai sebagai bagian protes atas kekerasan dan penindasan.
Selain itu penderitaan dipahami sebagai manifestasi pemberian diri, meliputi tujuan
yang melampui dunia tetapi dimulai di dunia, mencangkup pembebasan personal
maupun sosial. Para pengikut Yesus juga akan mengalami penderitaan sebagai
konsekuensi bagi perjuangannya. Sedangkan Ia sendiri memanggil setiap pengikut-
Nya menjadi satyagrahi (Yoh. 8:31-32; 16: 13).
TANGGAPAN TERHADAP REFLEKSI KRISTOLOGIS AMALADOS
Membaca refleksi mengenai Yesus sebagai guru dan satyagrahi memberi kesan
bahwa Amalados cenderung menarasikan kembali kisah Injil secara tematis. Gaya
bercerita yang demikian bisa terasa kurang akrab bagi cara berteologi Barat yang
menuntut sistematika, keketatan logis, dan presuposisi filosofis tertentu. Harus
diakui bahwa arus besar teologi Kristiani, sekurang-kurangnya Katolik dan
Ortodoks, memberikan ciri scientia pada teologi dengan ungkapannya yang tidak
terlepas dari ontologi dan logika. Bahkan gaya bercerita yang dipakai oleh Yesus
sendiri justru asing bagi sistem teologi. Yesus, manusia dari Asia, malah menjadi
asing bagi orang Asia lantaran kajian naratif atas diri-Nya tergeser oleh teologi
spekulatif, kecuali bagi kalangan umat sederhana.
Masih terkait dengan problem Yesus manusia Asia di atas, kami melihat sasaran
refleksi Amalados tidak dimaksudkan sebagai bentuk demonstratio christiana atau
apologetika di hadapan klaim kebenaran agama-agama Asia, secara khusus
hinduisme dan budhisme. Hal ini tampak dari penjabarannya mengenai Yesus
sebagai guru dan satyagrahi jauh dari kepentingan untuk menunjukkan kekurangan
perspektif hinduisme dan budhisme di satu pihak sekaligus menunjukkan
keunggulan Yesus dibandingkan guru dan satyagrahi lainnya.
Amalados malahan menunjukkan kesulitan orang Asia menerima beberapa konsep
kristologi biblis, seperti pribadi ilahi yang menderita, perbedaan relasi guru dan
murid, sikap Yesus terhadap ritual, dsb. Kesulitan ini juga tidak dipahami sebagai
ketertutupan orang-orang non-Kristiani melihat kebenaran sejati, tetapi dibiarkan
terbuka sebagai suatu fakta pluralitas agama-agama. Dengan kata lain, Amalados
sekedar menjabarkan kekhasan masing-masing agama dan seakan membiarkan
pembaca mulai membiasakan diri dengan perbedaan dan menerimanya. Bisa jadi
juga pola perbandingan seperti ini –dengan bertolak pada satu konsep yang dilihat
persamaan dan perbedaannya, lantas dideskripsikan tanpa menilai—malah
memungkinkan orang-orang di luar kekristenan bisa melihat universalitas pesan
Injil dan kehidupan-Nya bagi semua orang. Apabila ditarik lebih jauh pada sasaran
berteologi, Amalados tampaknya bermaksud menunjukkan keunikan Yesus tetapi
tanpa lanjutan memasukkan orang-orang non Kristiani ke dalam institusi Gereja.
Proyek Amalados untuk mengakrabkan kembali Yesus bagi orang-orang Asia sekali
lagi berkaitan erat dengan gaya berteologi. Tradisi lisan dan bercerita yang kuat
dalam dunia Asia hendak diterapkan pada kajian mengenai Yesus. Gaya narasi ini
juga bisa jadi lebih memungkinkan orang-orang Kristen di Asia lebih mengakrabi
Yesus daripada melalui teologi spekulatif. Konsekuensinya tidak lain adalah

6
kembali pada Injil itu sendiri, dan bahkan cenderung melepaskan presuposisi
helenis dalam refleksi.
Sekalipun gaya berteologi naratif ini menjanjikan harapan bagi iman di Asia, tetapi
ada fakta yang dilupakan berkaitan dengan bahaya dehelenisasi. Tahap
perkembangan krusial dari iman Kristiani berlangsung dalam kurun waktu di saat
alam pikiran Yunani mempengaruhi cara pikir dan ungkapan bahasa para penerus
para rasul. Dengan kata lain, memasuki pewahyuan Yesus dan iman akan Dia tidak
mungkin tanpa terlebih dahulu memasuki ‘pintu filsafat’. Iman kristiani tidak
bertumbuh dalam alam pikiran hinduisme dan budhisme, demikian juga hidup
Yesus. Kalau bisa dikatakan sebagai kelemahan dari gaya berteologi Amalados,
kekurangan ini pun tidak dapat dipandang sebagai keburukan tetapi sebagai resiko
dari pilihan pada perspektif tertentu.
Dari sudut isinya, Amalados menguraikan secara singkat-padat konsep-konsep khas
hinduisme atau budhisme, dan kemudian menjelaskan konsep khas situ secara
panjang lebar dalam perspektif biblis dan iman kristiani. Apa yang kurang
dielaborasi adalah presuposisi-presuposisi etis, metafisis, dan soteriolegis yang
mendasari orang Hindu dan Budha memahami konsep guru atau satyagraha.
Misalnya, penolakan terhadap pribadi ilahi yang menderita mengandaikan adanya
konsep soteriologis bahwa keselamatan berarti lepas dari samsara. Atau orang yang
tercerahkan dan mencapai tahap ilahi adalah mereka yang tidak menderita lagi.
Dengan mengetahui presuposisi-presuposisi, terbukalah kemungkinan untuk
melihat secara mendalam iman non-kristiani bukan dari sekedar rumusan yang
diajarkan tetapi sejauh mana para penganutnya menghayati dunia dalam kerangka
iman mereka. Misalnya konsep bodhisattva yang turun ke dunia menjadi titik temu
antara orang Kristiani dan budhis bahwa mereka sama-sama mengalami
ketidakmampuan usaha insani untuk mencapai kesempurnaan tanpa bantuan dan
telada ilahi. Teologi pun bisa lebih didaratkan karena memberikan kepekaan lebih
pada dimensi antropologis dari mereka yang menghayati.
Selain persoalan metode, gaya, dan isi dari refleksi teologis Amalados, kami juga
bermaksud menunjukkan implikasi refleksi Amalados bagi kebaharuan teologi
Kristiani.
Pertama, deskripsi Amalados mengenai Yesus sebagai sosok yang
mengkombinasikan antara pendekatan Sannyasi dan Ashram memberikan
sumbangan bagi eklesiologi dewasa ini agar tetap menjaga gambaran Gereja yang
selalu menjaga keseimbangan antara statusnya sebagai institusi di dunia dan sebagai
tubuh mistik Kristus yang bukan berasal dari dunia. Kemapanan institusional tidak
boleh mengurung karisma yang melahirkan pembaharuan dalam Gereja. Guru
Yesus yang menghimpun pria dan wanita sebagai murid-Nya menjadi model bagi
Gereja untuk melibatkan semua pihak dalam dinamika Gereja. Seperti para Sannyasi
Gereja harus tetap menjadi musafir yang berjalan menuju Allah dengan jalan
pertobatan dan melawan godaan.
Kedua, refleksi Amalados tentang penderitaan dan Salib Yesus semakin memperkaya
refleksi teologi Salib. Penderitaan Yesus tidak dilihat sebagai suatu keniscayaan
demi pemuasan korban silih, tetapi sebagai konsekuensi dari perjuangan Yesus
mewartakan Kerajaan Allah. Perjuangan tanpa kekerasan demi kebenaran ini selain

7
dilihat sebagai strategi untuk merubah disposisi penindas, tetapi juga sebagai jalan
hidup. Perspektif satyagraha dalam melihat perjuangan Yesus tersebut bisa
memperkaya paradigma orang Kristiani dari hanya melihat salib sebagai penghapus
noda dosa menjadi salib sebagai lambang perjuangan melawan kejahatan dalam
masyarakat.
Kedua implikasi di atas menunjukkan dua hal penting. Pertama, pertemuan dengan
agama dan budaya lain dalam arti terentu bisa mengingatkan kembali segi-segi
penting iman Kristiani yang sempat terkubur oleh segi tertentu yang terlalu
ditekankan. Dengan demikian, iman Kristiani justru diperkaya dan diperdalam
dalam pertemuan dengan ‘yang lain’. Kedua, refleksi akan Yesus sebagai guru atau
satyagrahi ini lebih memberi ruang bagi perkembangan teologi dari bawah. Teologi
yang demikian lebih bisa dipahami oleh umat karena bertolak pada narasi biblis
yang lebih mudah diakses dan dipahami.***