Anda di halaman 1dari 16

PENYEHATAN TANAH DAN PENGELOLAAN

SAMPAH - B

Komposting dan Vermikompositng

Dibuat oleh Kelompok 4 :

Aprilia Prihatiwi

Dinda Aulia Shakinah

Fathul Fitriyah

Larasati Wijayanti

2-DIV Kesehatan Lingkungan

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II


2014
A. COMPOSTING
1. Pengertian Komposting
Pengomposan (Composting) merupakan salah satu metode pengelolaan
sampah, dimana metode tersebut bertujuan untuk mengurangi volume sampah atau
merubah komposisi dan bentuk sampah menjadi produk yang bermanfaat.
Pengomposan dapat didefinisikan juga sebagai proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Wahyono (2005) menyatakan bahwa pengomposan sampah didefinisikan
sebagai proses dekomposisi sampah organik oleh mikroorganisme dalam kondisi yang
terkendali menjadi produk kompos
Dalam SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah
Perkotaan, pengomposan didefinisikan sebagai sistem pengolahan sampah organik
dengan bantuan mikroorganisme sehingga terbentuk pupuk organik (pupuk kompos).
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-
bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik
(Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).

2. Metode Pengomposan

Terdapat bermacam-macam metode pengomposan yang telah dikembangkan


dan dipraktekkan di Indonesia, baik yang sederhana sampai yang modern dengan
Skala industri. Berikut ini beberapa metode pengomposan yang banyak dipraktekkan
di beberapa negara.
a. Metode Indore
Pengomposan dengan metode indore dikembangkan oleh Howard yang
bekerjasama dengan Jackson dan Ward pada tahun 1924 — 1926 (Haug, 1980,Gaur,
1982). Bahan dasar yang diperlukan untuk pengomposan adalah campuran residu
tanaman, kotoran ternak, kencing ternak, abu bakarankayo, dan air. Semua bahan
yang berasal dari tumbuhan langsung tersediatermasuk gulma, batang jagung, daun
yang rontok, pangkasan daun, sisa pakan ternak, pupuk hijau dikumpulkan dan
ditimbun di lubang yangsudah disiapkan. Bahan-bahan yang tersedia kemudian
disusun menurut lapisan-lapisan dengan ketebalan 15 cm, total ketebalan timbunan
dapat dibuat sampai 1,2 — 1,5 m. Apabila bahan yang dibuat kompos beraneka maka
proses pengomposan berjalan lebih baik. Lokasi pembuatan kompos dipilih tempat
yang agak tinggi sehingga terbebas kemungkinan tergenang selama proses
pengomposan berlangsung. Lubang galian dibuat dengan kedalaman 1 m, dan lebar
antara 1,5 — 2 m, dengan panjang bervariasi tergantung ketersediaan bahan. Untuk
melindungi lubang, pengomposan maka di sekeliling lubang diberi tanggul kecil.
Lubang pembuatan kompos sebaiknya dekat kandang ternak dan sumber air. Kotoran
ternak yang dikumpulkan dari kandang kemudian disebar secara merata dalam bentuk
lapisan setebal 10 — 15 cm. Untuk setiap lapisan bahan yang dikomposkan ditahuri
dengan kotoran dan tanah yang terkena kencing atau dibuat dari campuran 4,5 kg
kotoran ternak, 3,5 kg tanah yang terkena kencing dan 4,5 kg inokulan fungi yang
diambil dari bahan kompos yang sedang aktif.
Selama proses pengomposan harus dalam keadaan basah sehingga secara
berkala disiram. Untuk membuat lapisan-lapisan bahan yang di komposkan tidak
boleh dari satu minggu. Masalah yang harus diperhatikan bahwa lapisan-lapisan
bahan kompos tidak menjadi padat. Selama proses pengomposan berlangsung
dilakukan pembalikan 3 kali, pertama 15 hari setelah proses berlangsung, kemudian
setelah 30 hari dan ketiga setelah 2 bulan proses pengomposan berlangsung. Setiap
kali dilakukan pembalikan maka bahan kompos diaduk dengan baik, dan tetap dalam
keadaan lembap. Metode ini sesuai untuk daerah yang mempunyai curah hujan tinggi.
Ada dua macam metode indore yang cukup populer, yaitu dengan cara
menumpuk bahan yang dikomposkan di atas tanah (indore heap method) dan
dimasukkan dalam lubang galian (indore pit method).

b. Metode Heap
Ukuran timbunan untuk metode indore bagian dasar dengan lebar 2 m, tinggi
1,5 m dan panjang 2 m atau lebih. Bagian tepi atas agak dipadatkan sehingga lebih
sempit kurang lebih 0,5 m. Untuk melindungi timbunan kompos dari tiupan angin
maka di sekitar timbunan diberi peneduh atau pelindung. Timbunan bahan kompos
dimulai dari lapisan bahan yang kaya karbon setebal 15 cm, termasuk: daun, jerami,
serbuk gergaji, serpihan kayu, potongan batang jagung,. Kemudian lapisan berikutnya
adalah bahan yang kaya nitrogen setebal 10 — 15 cm, termasuk rumput segar, gulma
atau residu tanaman pekarangan, sampah, kotoran ternak segar yang kering, sari
limbah kering. Lapisan-lapisan diulang sampai mencapai ketinggian 1,5 m. Selama
proses pengomposan berlangsung harus dalam keadaan lembap dan tidak terlalu
basah. Untuk mempertahankan panas yang timbul selama proses pengomposan, maka
bahan kompos ditutup dengan tanah atau lumpur.
Proses pembalikan dilakukan setelah 6 minggu dan 12 minggu. Apabila bahan
dasar yang dikomposkan terbatas, maka lapisan-lapisan bahan kaya karbon dan
nitrogen menyesuaikan dengan ketersediaannya, atau semua bahan yang tersedia
dicampur terlebih dahulu kemudian diperhalus dengan cara dicacah. Bahan yang lebih
halus akan lebih cepat terdekomposisi. Beberapa hal berikut ini merupakan dasar yang
dapat digunakan sebagai acuan untuk mempercepat proses pengomposan tetapi
dengan hasil yang baik :
 Timbunan bahan kompos harus cukup mengandung nitrogen atau protein.
Kotoran ternak, rerumputan dan gulma muda kaya nitrogen.
 Dua atau lebih bahan dasar kompos dicampur merata untuk mendorong proses
dekomposisi berjalan dengan baik.
 Bahan dasar kompos diperhalus dengan cara dicacah.
 Jaga kelembapan kompos selama proses pengomposan berlangsung, tetapi
tidak terlalu basah.
 Apabila tanah dalam keadaan asam, maka diberi kapur. Untuk memperkaya
kandungan hara kompos dapat ditambahkan batuan fosfat.

Metode heap ini mempunyai kendala, antara lain :


 Banyak memerlukan tenaga kerja
 Tidak terlindung dari terpaan hujan dan angin
 Memerlukan lebih banyak air sehingga tidak sesuai untuk daerah yang curah
hujannya rendah.
 Proses fermentasi berjalan secara aerob, sehingga proses pengomposan
berjalan lebih cepat, tetapi mendorong kehilangan bahan organik dan nitrogen
lebih besar.

c. Metode Bangalore
Metode ini mempunyai banyak kelemahan. Selama proses pengomposan
berlangsung, maka bahan yang dikomposkan harus selalu berada dalam lubang atau
bak pengomposan. Selama proses pengomposan tidak dilakukan penyiraman atau
pembalikan. Karena timbunan kompos ditutup dengan tanah atau lumpur, maka
penyiraman harus cukup banyak sampai proses selesai. Setelah 8 — 10 hari proses
berjalan secara aerob, selanjutnya proses berjalan secara semi aerob. Proses ini
berjalan secara lambat dan sedikit demi sedikit sehingga diperlukan waktu 6 — 8
bulan, sampai kompos siap dipakai. Proses ini tidak terjadi kehilangan karbon maupun
nitrogen, sehingga kualitas kompos sangat tergantung pada bahan dasar yang
digunakan.
Metode pengomposan ini dikembangkan di Bangalore ( India) oleh Acharya
(1939). Bahan yang dikomposkan terdiri atas campuran tinja dan sampah kota.
Metode ini sangat sesuai untuk wilayah yang curah hujannya rendah. Diperlukan
waktu antara 6 — 8 bulan untuk memperoleh kompos yang siap pakai. Pengomposan
dengan cara ini memperoleh hasil yang lebih banyak dari-pada proses pengomposan
aerob, kehilangan nitrogen relatif sedikit dan tidak banyak memerlukan tenaga. Akan
tetapi memerlukan waktu yang lebih panjang. Kemungkinan yang merupakan masalah
adalah bau yang busuk dan lalat yang cukup banyak.

d. Metode Berkeley
Bahan yang dikomposkan merupakan campuran bahan organik kaya selulosa
(2 bagian) dan bahan organik kaya nitrogen (1 bagian). Bahan ditimbun secara
berlapis-lapis dengan ukuran 2,4 x 2,2 x 1,5 tn. Setelah dicapai suhu termofilik kurang
lebih selama 2 — 3 hari, pada hari keempat timbunan bahan kompos dibalik.
Pembalikan dilakukan lagi pada hari ke-7 dan ke-10.
Keunggulan: proses pengomposannya terjadi dengan cepat dan dalam waktu
yang relatif singkat telah siap dimanfaatkan.

e. Metode Vermikompos
Pengomposan model ini memanfaatkan aktivitas cacing tanah, di samping itu
cacing tanah mempunyai peranan penting dalam mempertahankan produktivitas
tanah. Cacing tanah hanya membutuhkan 5% — 10% makanan untuk tumbuh dan
mempertahankan kegiatan fisik, dan sisanya dibuang dalam bentuk ekskresi. Bahan
sekresi mengandung senyawa organik dengan ukuran partikel reknit’ seragam, kaya
unsur hara makro dan mikro yang segera tersedia untuk tanaman, vitamin, ensim dan
mikroorganisme. Vermikompos adalah pupuk organik yang mengandung sekresi
cacing, humus, cacing hidup dan organisme lainnya. Populasi cacing akan meningkat
secara dramatis apabila biomassa kaya nutrisi, misalkan limbah organik. Limbah
organik lembap sebanyak 1 ton akan menghasilkan sebanyak 300 kg vermikompos.
Beberapa negara di Asia, seperti India, Filipina dan Indonesia memanfaatkan
teknologi ini untuk menanggulangi masalah sampah kota. Pengomposan
menggunakan teknik kultur cacing tanah dapat dilaksanakan dengan kapasitas besar
100-200 ton limbah organik/hari. Karena kegiatan cacing tanah dengan cepat
menurunkan volume biomassa dalam beberapa hari, maka tidak perlu dilakukan
pembalikan bahan dan hampir tidak menimbulkan bau busuk: kultur vermikompos
bersifat efektif, sederhana dan merupakan proses pengomposan limbah organik yamg
hemat energi. Pengomposan model ini dilaksanakan melalui tiga tahap, ialah:
(a) pengadaan cacing tanah,
(b) perbanyakan cacing tanah,
(c) proses pengomposan.
Kelebihan model pengomposan ini dapat dilakukan di wilayah permukiman
padat dengan menggunakan kotak kayu ukuran kecil yang ditempatkan di pekarangan
atau teras rumah. Dalam pembuatan vennikompos hanya ada beberapa jenis cacing
yang sangat aktif dalam perombakan bahan organik. Jenis cacing tanah yang paling
efisien dalam program pengomposan adalah Eisenia fetida dan E. eugeniae, sedang
jenis yang cukup baik adalah genus Perionyx. Pengomposan model ini selain
diperoleh vermikompos yang kaya hara, juga dihasilkan biomassa cacing sebagai
sumber protein hewani. Cacing tanah dalam pertanian organik sebagai agensia yang
mampu meng- hancurkan bahan organik, kecuali bahan-bahan yang tidak mudah
terdekomposisi. Apabila sejak awal pertumbuhan vermikompos digunakan sebagai
sumber pupuk, maka penggunaan pupuk kimia dapat ditekan sebesar 50%.
Vermikompos sangat baik sebagai media campuran untuk pembibitan tanaman, dan
dapat dikembangkan untuk kegiatan agribisnis, terutama di tempat-tempat
pembuangan sampah.
Pembuatan vermikompos memerlukan sumber daya manusia yang sepadan.
Kegiatan vermikompos baru terbatas pada skala penelitian laboratorium. di samping
itu, belum dijumpai jenis cacing lokal yang mampu berperanan dalam proses
pengomposan, selama ini masih menggunakan cacing impor.
f. Metode Jepang
Sebagai pengganti lubang galian digunakan bak penampung yang terbuat dari
anyaman kawat atau bambu, ban mobil bekas yang disusun bertingkat, atau bahan lain
yang tersedia setempat. Dinding bak dirancang sedemikian rupa sehingga aerasi
berjalan dengan lancar. Bagian dasar dari bak ditutup rapat dengan tujuan untuk
menghindarkan terjadinya pelindian unsur hara ke tanah yang ada di bawahnya.
Bahan dasar kompos yang cocok untuk metode Jepang adalah: kotoran sapi dan
kotoran ayam, rumput, daun segar dan kering, limbah tanaman dan gulma limbah
agroindustri (belotong, limbah pabrik pengalengan sayuran dan buah), bahan mineral
(batuan fosfat), sampah kota dan rumah tangga serta Iimbah padat dan cair yang
berasal dari instalasi penyehatan.
Keunggulan metode ini disebabkan karena bak penampung diletakkan di atas
permukaan tanah sehingga memudahkan dalam mengaduk bahan yang dikomposkan.
Tidak seperti halnya proses pengomposan yang menghasilkan suhu mencapai 65°C —
70°C, maka dengan metode ini kehilangan nitrogen dalam bentuk nitrat akibat
pelindian dapat dihindarkan. Teknologi proses pengomposan dari waktu ke waktu
mengalami perbaikan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan terutama
dalam mengantisipasi meningkatnya sampah kota dan permukiman yang makin
beragam sesuai dengan makin meningkatnya penduduk perkotaan termasuk
kegiatannya.
Beberapa kelebihan yang dapat diinventarisasi adalah usaha untuk memper-
cepat proses dekomposisi Iimbah serealia, tetapi juga dengan bantuan inokulan seperti
bakteri pelarut fosfat (Aspergilus) dan Azotobakter sejauh bahan kompos diinokulasi
dengan batuan fosfat. Kompos dapat diperkaya dengan pupuk N dan P. lnokulan lain
yang sering digunakan untuk mempercepat proses pengomposan bahan organik adalah
Trichoderma sp. Berdasarkan prosesnya, beberapa metode pengomposan yang dapat
dikembangkan antara lain :
a) Pengomposan dengan proses anaerobic
Merupakan proses pengomposan yang tidak memerlukan oksigen. Pengomposan ini
biasanya dilakukan dengan diperam dalam tanah, dimasukkan tempat yang tertutup
rapat, dsb. Proses pengomposan ini biasanya membutuhkan waktu total sekitar 3-4
bulan atau lebih.

b) Pengomposan dengan proses aerobic


Merupakan proses pengomposan yang memerlukan oksigen. Pengomposan ini
biasanya dilakukan dengan membuat terowongan (windrow) yang akan melewatkan
udara dingin yang mengandung oksigen, sehingga terjadi pelapukan sampah. Proses
pengomposan ini biasanya membutuhkan waktu yang lebih pendek daripada proses
pengomposan secara anaerobic, yaitu sekitar 55 hari.

c) Pengomposan dengan proses fermentasi menggunakan EM4 (bioactivator)


Merupakan metode pengomposan dengan bantuan zat EM4 untuk fermentasi dan
waktu pengomposan dapat dipercepat sehingga hanya memerlukan waktu 3-4 hari dan
bahkan bisa ekspress 24 jam. Salah satu metode ini juga dikenal dengan nama
BOKASHI. Ada 3 macam BOKASHI yaitu BOKHASI Biasa, BOKHASI Pupuk
Kandang Tanah dan BOKASHI Ekspress.

d) Pengomposan dengan menggunakan cacing (Vermi Composting)


Merupakan proses pengomposan yang menggunakan cacing. Dalam proses ini
sampah-sampah yang mengandung bahan organik akan menjadi bahan makanan
cacing dan kompos akan dihasilkan dari kotoran-kotoran hasil pencernakan cacing
tersebut. Metode ini telah berhasil dikembangkan di Bandung (oleh Ir. Budi
Listyawan, PT.Kartika Pradiptaprisma) dalam berbagai skala yaitu skala Rumah
Tangga atau Modul Persada dengan jumlah sampah terserap 0,10 m3/hari, Modul
Alam dengan sampah terserap 0,50 m3/hari, Modul Asri dengan sampah terserap 2
m3/hari, Modul Lestari dengan sampah terserap 10 m3/hari dan skala Kawasan
dengan sampah terserap 15 m3/hari.

3. Manfaat Pengomposan
Usaha pengkomposan sampah kota memiliki beberapa manfaat yang dapat
ditinjau baik dari segi teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial maupun kesehatan.
a. Dari segi teknologi manfaat pembuatan kompos antara lain :
 Teknik pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan
menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih
dengan peralatan modern.
 Secara teknis, pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal
yang dibutuhkan relatif murah atau secara masinal (padat modal) untuk mengejar
skala produksi yang tinggi.

b. Dari segi ekonomi, manfaat pembuatan kompos antara lain :


 Pengkomposan dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi
biaya operasinal pemusnahan sampah.
 Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih
lama, karena sampah yang dikumpulkan berkurang. Dengan demikian akan
menguragi investasi lahan TPA.
 Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini
berarti kompos memiliki nilai kompetetif dan ekonomis yang berarti kompos
dapat dijual.
 Penggunaan pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan
efisiensi penngunaannya.

c. Dari segi lingkungan manfaat pembuatan kompos antara lain :


 Pengkomposan merupakan metode daur ulang yang alamiah dan mengembalikan
bahan organik ke dalam siklus biologis. Kebutuhan energi dan bahan makanan
yang diambil tumbuhan dari dalam tanah dikembalikan lagi ke dalam tanah.
 Mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang dibuang
ke sungai ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang. Ini berarti
mengurangi pencemaran udara maupun air tanah.
 Pemakaian kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan
kemampuan lahan dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air. Kompos
mempuyai kemampuan memperbaiki dan meningkatkan kondisi kesuburan tanah
(konservasi tanah).

d. Dari segi sosial, manfaat pembuatan kompos antara lain :


 Dapat mebuka lapangan kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran.
 Dapat dijadikan obyek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun
dunia pendidikan.
e. Dari segi kesehatan, manfaat pembuatan kompos antara lain :
 Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan
sehat.
 Proses pengkomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan
berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.
 Secara teoritis apabila program daur ulang sampah dengan sistem terpadu dapat
dilakukan, maka sampah yang tersisa hanya tinggal 15 – 20% saja, sehingga akan
mengurangi ritasi transportasi sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan
umur TPA akan semakin panjang. Pada akhirnya aspek peran serta masyarakat
merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan persampahan. Dalam
strategi jangka panjang peran aktif masyarakat menjadi tumpuan bagi suksesnya
pengelolaan sampah kota, dan dalam program jangka panjang setiap rumah
tangga disarankan mengelola sendiri sampahnya melalui program 3 R (Reduce,
reuse dan recycle).

B. VERMIKOMPOSTING
1. Pengertian Vermikomposting
Vermikomposting berasal dari bahasa inggris vermes (cacing) dan composting
(pengomposan). Vermicomposting adalah proses pengomposan secara bioteknologi
sederhana yang menggunakan beberapa spesies cacing tanah untuk
meningkatkanproses perombakan limbah dan menghasilkan hasil akhir yang lebih
baik (Gandhi et al. 1997). Hand et al. (1988) mendefinisikan vermicomposting
sebagai sistemteknologi pengomposan dengan biaya yang kecil untuk memproses atau
mendegradasi sampah organik.
Oleh karena itu, vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah
lingkungan dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan kompos lain
yang kita kenal selama ini. Hasil akhir vermicomposting adalah vermicast atau
vermikompos. Kandungan yang terdapat di dalam vermikompos antara lain :
a) Humus
b) Hormon pertumbuhan tanaman
c) Mikroba tanah
Kualitas vermikompos tergantung pada jenis bahan media atau pakan yang
digunakan, jenis cacing tanah, dan umur vermikompos. Vermikompos yang
berkualitas baik ditandai dengan warna hitam kecoklatan hingga hitam, tidak berbau,
bertekstur remah dan matang (C/N < 20).

2. Aplikasi Vermikompos

Vermikompos dapat digunakan sebagai pupuk organik tanaman sayur-sayuran,


buah-buahan, bunga, padi dan palawija, serta untuk pemupukan rumput (misalnya
untuk lapangan golf).

3. Keunggulan Vermikompos

Berikut ini beberapa keunggulan yang dimiliki vermikompos:

1) Vermikompos mempunyai kemampuan menahan air sebesar 40-60% sehingga


mampu mempertahankan kelembapan.

2) Memperbaiki struktur tanah dan menetralkan pH tanah.

3) Vermikompos mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti


N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Al, Na, Cu, Zn, Bo, dan Mo tergantung pada bahan
yang digunakan.

4) Membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman.

5) Meningkatkan kesuburan tanah.

6) Membantu proses penghancuran limbah organik.

7) Vermikompos berperan memperbaiki kemampuan menahan air.

8) Percobaan penggunaan vermikompos pada tomat, kentang, bawang putih, melon,


dan bunga-bungaan menunjukkan hasil yang nyata, baik terhadap pertumbuhan
maupun produksi tanaman.

4. Cara Pembuatan Vermikompos


Pembuatan vermikompos dapat dibagi menjadi 3 tahap:

1) Tahap Pengumpulan Bahan


Kumpulkan sampah-sampah organik, misalnya rumput-rumputan, jerami,
sampah daun, sisa sayuran, atau sisa makanan (sampah rumah tangga). Sampah
jenis ini umumnya mengandung unsur C. Di daerah pedesaan yang umumnya
membudidayakan hewan ternak, kotoran ternaknya dapat pula dipakai. Kotoran
ini digunakan sebagai sumber N. Jika tidak ada kotoran ternak, pake aja kotoran lu
sendiri bisa menggunakan tanaman jenis polong-polongan.

2) Tahap Fermentasi Substrat

a) Cacah (potong-potong menjadi bagian yang lebih kecil) rumput-rumputan,


jerami, sampah daun, atau sisa sayuran, kemudian campurkan. Pencacahan
dan pencampuran ini bertujuan agar bahan menjadi lebih homogen dan
pengomposan akan relatif lebih cepat.

b) Susun/tumpuk secara bergantian antara sampah dedaunan dan kotoran ternak.


Volume (p x l x t) tumpukan ini kira-kira 1m x 1m x 1m.

c) Tutup dengan terpal/karung beras/trash bag/bahan yang mampu menahan air.

d) Aduk 3 hari sekali hingga 2 minggu.

e) Kompos dasar telah jadi setelah kira-kira 2 minggu dan siap digunakan
sebagai media cacing.

3) Tahap Komposting Sampah oleh Cacing


Kompos yang sudah jadi dimasukkan ke dalam ember atau wadah yang
memadai. Kemudian masukkan cacing ke dalam wadah tersebut dan biarkan
selama kira – kira 2 minggu. Dan vermikompos siap digunakan.

5. Penggunaan Vermikompos

Setelah jadi, vermikompos dapat digunakan. Contoh takarannya adalah


sebagai berikut :

 Untuk tanaman dalam pot, 1 kg vermikompos dicampur dengan 3 kg tanah.

 6-10 kg vermikompos untuk setiap 10 m2 luas lahan atau 6-10 ton/ha lahan
sawah.

Takaran penggunaan ini sangat bergantung pada jenis tanaman dan tingkat
kesuburan tanah yang akan dipupuk.

6. Nilai Ekonomis Vermikompos

1) Untuk membuat vermikompos tidak membutuhkan biaya yang mahal. Peralatan


dan bahan (teknologi) yang digunakannya sederhana.

2) Tempat/lahan usaha pembuatan vermikompos relatif kecil.

3) Dapat dikerjakan oleh anak-anak hingga dewasa (lansia), pria maupun wanita.
4) Dapat mencegah pemcemaran lingkungan akibat limbah organik yang belum
dimanfaatkan.

5) Bahan media atau pakan cacing tanah merupakan limbah organik yang tidak perlu
dibeli.

6) Dapat mengurangi jumlah sampah organik karena hasil vermikompos kira-kira


sebesar 10-40% dari jumlah bahan yang ditumpuk.

7) Dapat dijadikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

7. Tipe-Tipe Sistem Vermicomposting


a. System Windrow
Pada system ini prinsipnya adalah
penumpukan bahan yang dikomposkan dalam
barisan yang disusun sejajar. Makanan cacing
(sampah) diletakkan pada lapisan atas.
Tumpukan secara berkala bolak-balik untuk
meningkatkan aerasi, menurunkan suhu
apabila suhu terlalu tinggi dan menurunkan
kelembaban kompos, system ini sesuai untuk
vermicomposting skala besar.

b. Sistem Bed atau Bin


Sistem bed atau bin adalah system
vermicomposting yang menggunakan wadah
yang telah dilubangi bagian bawahnya untuk
menjaga aerasi. Pada system ini makanan
diletakkan di bagian sisi atas bedding dan
secara berkala dibolak - balik seperti pada
system windrow.
c. Sistem Flow-Through Reactor
Pada sistem flow-through reactor cacing ditempatkan dikotak yang tinggi,
biasanya berbentuk bujur sangkar dan lebarnya tidak lebih dari tiga meter. Bahan
makanan diletakkan di bagian atas dan hasilnya dipindahkan melalui saluran dibagian
bawah. Istilah flow-through reactor merujuk pada fakta bahwa cacing tidak pernah
terganggu didalam medianya, bahan makanan masuk dari bagian atas kotak, mengalir
melalui reaktor dan keluar dari bawawh. Cara untuk mendorong bahan makanan
keluar dari bawah biasanya menggunakan perangkat hidrolik. Tetapi sistem ini masih
belum sering digunakan untuk keperluan vermikomposting karena membutuhkan
teknologi dan biaya tinggi.
REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos

http://id.scribd.com/doc/152926879/PROSES-PEMBUATAN-KOMPOS

http://jst.eng.unri.ac.id/index.php/jst/article/download/22/63

http://novrizalfami.blogspot.com/2012/05/manfaat-pengomposan.html

http://indoagrow.wordpress.com/2012/02/10/beberapa-metode-pengomposan/

http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2129590-metode-pengomposan/

http://lingkunganhijau-noor.blogspot.com/2008/03/pengomposan-1-metode-pembuatan-

kompos.html

http://www.scribd.com/doc/19420131/Mengolah-Sampah-Dengan-Vermicomposting

http://eprints.undip.ac.id/36746/1/47.jurnal2.pdf

http://bioter.wordpress.com/2010/03/28/pembuatan-kompos-dengan-bantuan-cacing-
vermikompos/

http://www.scribd.com/doc/19420131/Mengolah-Sampah-Dengan-Vermicomposting