Anda di halaman 1dari 29

PENYEHATAN TANAH DAN PENGELOLAAN SAMPAH – B

“Briket Bioarang dan Biogas”

Dibuat oleh Kelompok 4 :

Aprilia Prihatiwi

Dinda Aulia Shakinah

Fathul Fitriyah

Larasati Wijayanti

2-DIV Kesehatan Lingkungan

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II

2014
A. BRIKET BIOARANG
1. Pengertian Briket Bioarang

Briket adalah gumpalan yang terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan.
Briket merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang memiliki prospek bagus
untuk dikembangkan. Karena, selain dari proses pembuatannya yang mudah,
ketersediaan bahan bakunya juga mudah didapat. Beranjak dari kondisi tersebut,
peneliti berupaya membuat arang briket dengan kombinasi bahan arang tempurung
kelapa dan ampas tebu. Untuk mengetahui kualitas yang baik pada arang briket yang
dihasilkan dapat dilihat dari hasil pengujian kimia meliputi kadar air, kadar abu dan
kadar zat menguap sedangkan pengujian fisik dengan pengujian indrawi terhadap
tekstur, warna dan lama pembakaran (Anonim 2009).
Biorang merupakan sumber energi biomassa yang ramah lingkungan dan
biodegreble, sebagai pengganti bahan bakar minyak, baik itu minyak tanah, maupun
elpiji. Biomassa ini merupakan sumber energi massa depan yang tidak akan pernah
habis, bahkan jumlahnya akan bertambah, sehingga sangat cocok sebagai sumber
bahan bakar rumah tangga.
Briket bioarang adalah gumpalan-gumpalan atau batangan-batangan arang
yang terbuat dari bioarang, kualitas dari bioarang ini tidak kalah dengan batu bara
atau bahan bakar jenis arang lainnya (Joseph dan Hislop, 1981). Bioarang diolah
menjadi bahan yang sebenarnya termasuk bahan lunak yang dengan proses tertentu diolah
menjadi bahan arang keras dengan bentuk tertentu. Pada dasarnya briket bioarang
adalah salah satu inovasi energi alternatif sebagai pengganti arang konvensional
yang berasal dari kayu. Bahan dasarnya dapat di ambil dari serasah dan daun-daun
kering lainnya.

2. Bahan dasar pembuatan briket


Tempurung kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah atau diolah sebagai
arang kelapa tengah dikembangkan menjadi briket. Briket tersebut mempunyai nilai
tambah dibandingkan dengan arang batok.
Tempurung kelapa merupakan salah satu bagian dari produk pertanian yang
memiliki nilai ekonomis tinggi yang dapat dijadikan sebagai basis usaha.
Pemanfaatan tempurung kelapa secara garis besar dapat dikategorikan berdasarkan
kandungan zat dan sifat kimianya, kandungan energinya, dan sifat-sifat fisiknya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat briket arang adalah :
1. Berat jenis bahan bakar atau berat jenis serbuk arang
2. Kehalusan serbuk
3. Suhu karbonisasi
4. Tekanan pengempaan
5. Pencampuran formula dengan briket.

Tujuan dari pembriketan adalah untuk meningkatkan kualitas bahan sebagai bakar,
mempermudah penanganan dan transportasi serta mengurangi kehilangan bahan
dalam bentuk debu pada proses pengangkutan. Syarat briket yang baik adalah:
1. Permukaannya halus dan rata.
2. Tidak meninggalkan bekas hitam di tangan.
3. Mudah dinyalakan
4. Tidak mengeluarkan asap.
5. Emisi gas hasil pembakaran tidak mengandung racun.
6. Kedap air dan hasil pembakaran tidak berjamur bila disimpan pada waktu lama.
7. Menunjukkan upaya laju pembakaran (waktu, laju pembakaran, dan suhu
pembakaran) yang baik.
8. Tidak mengeluarkan bau, tidak beracun dan tidak berbahaya.
Tahapan Pembuatan Briket Sabut Kelapa

Dalam pembuatan briket sabut kelapa, dapat dilakukan dengan 2 cara:

A. Cara Kerja I
Proses pembuatan briket sabut kelapa ini mengacu pada proses pembuatan briket dari
bahan lainnya, misalnya briket dari tempurung kelapa, daun – daun kering, dan lain –
lain. Adapun bahan dan alat yang dipergunakan:
1. Bahan
Bahan–bahan yang digunakan dalam proses pembuatan briket sabut kelapa adalah :
a. Sabut kelapa
b. Tepung tapioka
c. Air

2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan briket sabut kelapa adalah :
a. Kaleng bekas
b. Paralon
c. Korek api
d. Ayakan
e. Baskom
f. Mutu

3. Tahap – tahap pembuatan briket sabut kelapa


a. Tahap pertama yaitu pemisahan
Tahap ini penulis melakukan pemisahan sabut dengan tempurung kelapa.
Selanjutnya kelapa dikupas hingga sabut terpisah dengan tempurungnya untuk
kemudian dibuat ke dalam ukuran kecil.

b. Tahap kedua yaitu pembakaran


Tahap ini penulis melakukan pemotongan sabut kelapa yang terpisah
dengan tempurungnya dan menjadi ukuran yang lebih kecil. Kemudian sabut
kelapa dimasukkan ke dalam kaleng bekas dan dibakar selama 50 menit lalu
didiamkam selama 1 malam.

c. Tahap ketiga yaitu pencetakan


Tahap ini dilakukan setelah arang sabut kelapa didiamkan selama 1 malam.
Selanjutnya arang tersebut dihancurkan. Kemudian diayak menggunakan ayakan.
Masukkan arang yang telah diayak ke dalam baskom lalu masukkan tepung
tapioka aduk hingga rata, kemudian masukkan air dan aduk hingga semua bahan
menyatu. Siapkan paralon sebagai pencetak, adonan yang telah tercampur
dimasukkan ke dalam paralon lalu ditekan hingga menjadi padat.

d. Tahap keempat yaitu penjemuran


Tahap ini dilaksanakan setelah adonan tadi dicetak menggunakan peralon,
dikeluarkan dari dalam paralon dan diletakkan di atas papan. Kemudian hasil
cetakan tadi dijemur di bawah sinar matahari selama 1 hari.
Berdasarkan percobaan pertama, briket yang dihasilkan kurang padat.
Dengan kondisi itu, briket tersebut kurang keras sehingga bara yang dihasilkan
kurang maksimal atau tidak tahan lama. Selain itu, briket tersebut juga mudah
hancur. Dengan hasil percobaan di atas, penulis melakukan percobaan untuk
tahap kedua. Percobaan tahap ini, penulis menyempurnakan kekurangan yang
ditemukan pada tahap pertama.

B. Cara Kerja II
Percobaan kedua ini dilakukan dengan mengoven sabut kelapa yang telah
kering dalam kaleng bekas yang sebelumnya telah diberi lubang diatasnya, yang
bertujuan agar asap dari dalam kaleng mengalami sirkulasi udara. Adapun bahan dan
alat yang dipergunakan :
1. Bahan
Bahan – bahan yang digunakan dalam proses pembuatan briket sabut kelapa
adalah :
a. Sabut kelapa kering.
b. Tepung tapioka.
c. Air .
d. Kayu bakar.

2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan briket sabut kelapa adalah :
a. Kaleng bekas.
b. Bambu berbentuk pipa.
c. Bambu bulat.
d. Ayakan.
e. Baskom.
f. Korek.
g. Mutu.

3. Tahap – tahap pembuatan briket


a. Tahap pertama yaitu Penyayatan
Tahap ini penulis melakukan penyayatan terhadap sabut kelapa yang
sudah kering menggunakan tangan menjadi ukuran yang lebih kecil.

b. Tahap kedua yaitu pengovenan


Tahap ini penulis melakukan pengovenan sabut kelapa yang telah
berukuran kecil. Kemudian sabut kelapa dimasukkan ke dalam kaleng bekas
yang sebelumnya telah diberi lubang diatasnya dan dipasang bambu
berbentuk pipa, lalu diletakkan diatas api selama 1 jam dan didiamkan
selama 1 malam.

c. Tahap ketiga yaitu pencetakan


Tahap ini dilakukan setelah arang sabut kelapa didiamkan selama 1
malam. Selanjutnya arang tersebut dihancurkan. Kemudian diayak
menggunakan ayakan. Masukkan arang yang telah diayak ke dalam baskom
lalu masukkan tepung tapioka aduk hingga rata, kemudian masukkan air dan
aduk hingga semua bahan menyatu. Siapkan bambu berbentuk bulat sebagai
pencetak, adonan yang telah tercampur dimasukkan ke dalam bambu
berbentuk bulat lalu ditekan hingga menjadi padat.

d. Tahap keempat yaitu penjemuran


Tahap ini dilaksanakan setelah adonan tadi dicetak menggunakan
bambu berbentuk bulat, dikeluarkan dari dalam bambu dan diletakkan di atas
papan. Kemudian hasil cetakan tadi dijemur di bawah sinar matahari selama
1 hari.

Setelah sabut kelapa dibuat menjadi briket, selanjutnya briket tersebut dibakar untuk
mengetahui bagaimana kualitas api yang dihasilkan dan seberapa lama api itu dapat
bertahan. Pada pengujian ini penulis menggunakan minyak tanah untuk mempermudah
penggunaannya. Briket ini dapat bertahan selama satu setengah jam dengan api berwarna
merah dan besar.

Penggunaan
Penggunaan briket sabut kelapa hampir sama dengan briket batu bara yaitu dengan
merendamnya terlebih dahulu ke dalam minyak tanah atau spirtus selama 30 menit untuk
kemudian dibakar. Dengan pemanfaatan sabut kelapa sebagai briket, maka akan
meminimalisir biaya pengolahan dan dapat meningkatkan nilai guna sabut kelapa tersebut.
Selain itu, pembuatan briket ini dapat dikembangkan menjadi industri besar, sehingga akan
membuka lapangan kerja baru yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Gambar Pembuatan Briket Sabut Kelapa

Bahan Mentah 1. Tahap Penyayatan

2. Tahap Pengovenan 3. Tahap Penghalusan

4. Tahap Pengayakan 5. Tahap Pencampuran


6. Tahap Penambahan Air 7. Tahap Pencetakan

8. Tahap Penjemuran 9. Hasil Akhir

3. Kualitas Briket Bioarang


Kualitas dari bioarang tidak kalah dengan batu bara atau bahan bakar jenis
arang lainnya. Briquetting terhadap suatu material merupakan cara mendapatkan
bentuk dan ukuran yang dikehendaki agar dipergunakan untuk keperluan tertentu
(Josep dan Hislop, 1981). Kualitas briket bioarang ditentukan oleh bahan
pembuat/penyusunnya, sehingga mempengaruhi kualitas nilai kalor, kadar air, kadar
abu, kadar bahan menguap, dan kadar karbon terikat pada briket tersebut (Hartoyo,
1983).

4. Manfaat Briket Bioarang


 Untuk alam
Dengan adanya pembuatan bioarang ini maka sampah-sampah organic
kering seperti tempurung kelapa dapat diolah kembali menjadi sampahyang
masih berguna. Sehingga sampah-sampah yang terlihat tidak berguna di alam
jumlahnya berkurang karena telah diolah. Dan juga dapat mengurangi pencemaran
udara karena asap yang dikeluarkan sangat sedikit.

 Untuk manusia
Biorang ini memberikan keuntungan untuk manusia karena biayanya
amat murah. Alat yang digunakan untuk pembuatan br=iket bioarang cukup
sederhana dan bahan bakunya pun sangat murah, bahkan tidak perlu membeli karena
berasal dari sampah, limbah pertanian yang tidak digunakan lagi. Bahan baku
untuk pembuatan arang umumnya telah tersedia disekitar kita. Briket bioarang
dalampenggunaannya menggunakan tungku yang relatif kecil dibandingkan tungku lainnya
(Andry, 2000).

5. Kelebihan dan Kelemahan Briket Bioarang


 Kelebihan Briket Bioarang
Kelebihan atau keuntungan yang diperoleh dari briket bioarang ini antara lain
adalah :
o Dapat menghasilkan panas pembakaran yang tinggi.
o Asap yang dihasilkan lebih sedikit daripada arang konvensional, sehingga
meminimalisir pencemaran udara.
o Bentuknya lebih seragam dan menarik, karena dicetak dengan menggunakan
alat cetasederhana.
o Pembuatan bahan baku tidak menimbulkan masalah dan dapat mengurangi
pencemaran lingkungan.
o Pada kondisi tertentu dapat menggantikan fungsi minyak tanah dan kayu
bakar sebagai sumber energi bahan bakar untuk keperluan rumah tangga.
o Lebih murah bila dibandingkan dengan minyak tanah atau arang kayu.
o Masa bakar jauh lebih lama daripada arang biasa.

 Kelemahan Briket Bioarang


Salah satu keterbatasan dari biomassa adalah ketersediaannya
(availabilty). Meskipun secara agregat, biomassa memiliki jumla yang melimpah,
namun pada kenyatannya sumber daya tersebut tersebar jauh di beberapa lokasi
dalam kuantitas yang lebih kecil. Selain itu, biomassa memiliki karakter musiman
yang berarti tidak selalu tersedia sepanjang waktu. Biomassa juga memiliki
konten energi yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan para pesaingnya.
Masalah ketersediaan ini menjadikan sistem logistik menjadi isu penting dalam
pemberdayaan biomassa. Penggunaan sistem multi-biomass resources,
pemilihan lokasi, sistem transportasi, kapasitas pabrik, dan ketersediaan dana
tentunya akan menjadi faktor pembatas yang vital. Isu lain yang sering
mengundang perdebatan adalah bahwa pengembangan biomassa dapat mengancam
ketahanan pangan. Bagaimanapun, hal tersebut bisa menjadi logis. Ketika
masyarakat memilih untuk mengembangkan biomassa, mereka membutuhkan
lahan-lahan untuk ditanami jagung, kedelai, ataupun kelapa sawit sebagai bahan
dasar utama. Tentu secara tidak langsung hal tersebut akan membawa pada kompetisi
penggunaan lahan sebagai sumberdaya energi atau sumber daya pangan. Selain itu
penanaman jenis tunggal pada lahan dikhawatirkan akan mengancam keberagamanhayati
dan merusak kesuburan tanah (Wibowo, 2009).

KUALIFIKASI BRIKET BIOARANG

1. PENENTUAN NILAI KALOR


Nilai kalor suatu bahan bakar adalah jumlah energi panas yang dapat dilepaskan
pada setiap satu satuan massa bahan bakar tersebut apabila terbakar habis dengan
sempurna (dalam satuan kkal/kg). Penetapan nilai kalor bakar briket merupakan salah
satu parameter untuk menentukan kualitas briket dalam penggunaannya, layak atau
tidak digunakan sebagai bahan bakar.
Nilai kalor merupakan parameter utama pengukuran kualitas bahan bakar, bertujuan
untuk mengetahui nilai panas pembakaran yang dihasilkan briket. Prinsip penentuan
nilai kalor adalah mengukur energi yang ditimbulkan pada pembakaran satu gram arang
dengan mengukur perubahan suhu pada volume tetap. Perhitungan nilai kalor
menggunakan rumus:
Semakin tinggi nilai kalor, semakin baik kualitas briket yang dihasilkan dan harga
jualnya pun akan tinggi. Semakin besar kerapatan briket menyebabkan semakin tinggi
pula nilai kalornya.

2. KERAPATAN (DENSITAS)
Kerapatan suatu bahan adalah jumlah massa suatu bahan setiap satuan
volumenya(perbandingan). Kerapatan dipengaruhi oleh ukuraan serbuk dan kekuatan
tekanan pada proses pencetakkan yang diberikan. Hal ini berpengaruh pada efisiensi
pembakaran briket sebagai bahan bakar. Nilai kerapatan berpengaruh terhadap laju
pembakaran dan nilai kalor briket. Kerapatan dipengaruhi oleh homogenitas campuran
perekat dengan arang, dengan pengadukan yang semakin merata, maka briket arang
yang dihasilkan akan semakin kuat, hal ini menyebabkan partikel arang cukup merata.
Prinsip penentuan kerapatan atau berat jenis dinyatakan dalam hasil perbandingan
antara berat dan volume briket.

Semakin tinggi kerapatan, maka semakin lambat laju pembakarannya, dan semakin
baik kualitas briket tersebut.

3. LAJU PEMBAKARAN
Prinsip yang digunakan adalah untuk mengetahui berat briket terbakar habis per
satuan waktu. Laju pembakaran ini terkait dengan kerapatan briket. Laju pembakaran
dinyatakan dengan persamaan berikut :

dimana : v = Laju pembakaran briket(gr/det),

Mt = Massa briket yang terbakar (gram)

t = Waktu pembakaran (detik)

Laju pembakaran berhubungan dengan kerapatan briket. Semakin besar kerapatan


(density) biobriket maka semakin lambat laju pembakaran yang terjadi.
4. PENETAPAN KADAR ABU
Abu merupakan bagian yang tersisa dari proses pembakaran yang sudah tidak
memiliki unsure karbon lagi. Kadar abu briket arang dipengaruhi oleh kandungan abu,
silika, bahan baku, dan kadar perekat yang digunakan. Salah satu unsure utama
penyusun abu adalah silika dan pengaruhnya kurang baik terhadap nilai kalor briket
arang yang dihasilkan.
Cara: Cawan porselin yang masih kosong ditempatkan dalam tanur listrik pada suhu
600 °C sampai berat cawan konstan. Kemudian contoh dimasukkan ke dalam cawan
porselin tersebut. Cawan berisi contoh ditempatkan kembali dalam tanur listrik dengan
suhu 600 °C selama 3 jam. Selanjutnya didinginkan dalam eksikator dan ditimbang.

Kadar abu berbanding terbalik dengan nilai kalor. Makin kecil kadar abu kualitasnya
makin baik.

5. PENETAPAN KADAR ZAT MENGUAP


Kadar zat mudah menguap adalah zat (volatile matter) yang dapat menguap sebagai
hasil dekomposisi senyawa-senyawa yang masih terdapat di dalam arang selain air.
Kandungan kadar zat menguap yang tinggi di dalam briket arang akan menyebabkan
asap yang lebih banyak pada saat briket dinyalakan. Kandungan asap yang tinggi
disebabkan oleh adanya reaksi antar karbon monoksida (CO) dengan turunan
alcohol.Tinggi rendahnya kadar zat menguap briket arang yang dihasilkan dipengaruhi
oleh jenis bahan baku, sehingga perbedaan jenis bahan baku berpengaruh nyata
terhadap kadar zat menguap briket arang, kesempurnaan proses karbonisasi dan juga
dipengaruhi oleh waktu dan suhu pada proses pengarangan.Semakin besar suhu dan
waktu pengarangan maka semakin banyak zat menguap yang terbuang, sehingga pada
saat pengujian kadar zat menguap akan diperoleh kadar zat menguap yang rendah.
Prinsip penetapan kadar zat menguap adalah dengan menguapkan bahan yang tidak
termasuk air dengan menggunakan energi panas. Cawan porselin yang berisi contoh
yang berasal dari penentuan kadar air dipanaskan dalam tanur listrik dengan suhu 950
°C selama 6 menit dan didinginkan dalam eksikator selanjutnya ditimbang.
Dimana: A = berat contoh kering dari kadar air
B = berat contoh kering
C = berat contoh mula-mula pada kadar air.

6. PENETAPAN KADAR KARBON TERIKAT


Karbon terikat (fixed carbon) yaitu fraksi karbon (C) yang terikat di dalam arang
selain fraksi air, zat menguap, dan abu. Keberadaan karbon terikat di dalam briket arang
dipengaruhi oleh nilai kadar abu dan kadar zat menguap. Kadarnya akan bernilai tinggi
apabila kadar abu dan kadar zat menguap briket arang tersebut rendah. Karbon terikat
berpengaruh terhadap nilai kalor bakar briket arang. Nilai kalor briket akan tinggi apabila
nilai karbon terikatnya tinggi. Briket arang yang baik memiliki kadar karbon terikat yang
tinggi.
Prinsip penetapan kadar karbon terikat adalah dengan menghitung fraksi karbon
dalam briket, tidak termasuk zat menguap dan abu. Kadar karbon terikat dapat dihitung
dengan rumus:

Kadar Karbon Terikat = 100 – (Kadar abu + Kadar zat menguap)%

7. PENETAPAN KADAR AIR


Kadar air briket berpengaruh terhadap nilai kalor. Semakin kecil nilai kadar air maka
semakin bagus nilai kalornya. Briket arang mempunyai sifat higroskopis yang tinggi.
Sehingga penghitungan kadar air bertujuan untuk mengetahui sifat higroskopis briket
arang hasil penelitian. Kadar air dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut:

Dimana: w0 = berat contoh mula-mula

wk = berat contoh setelah dikeringkan


Prinsip penetapan kadar air adalah dengan menguapkan bagian air bebas yang
terdapat dalam briket sampai terjadi keseimbangan antara kadar air briket dengan udara
sekitar dengan menggunakan energi panas.

TABEL KUALIFIKASI BRIKET ARANG

B. BIOGAS
1. Pengertian Biogas

Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan dari aktivitas bakteri


metanogenik pada kondisi anaerobik atau fermentasi bahan-bahan organik
(Wahyuni 2010).
Biogas merupakan produk dari pendegradasian substrat organik secara
anaerobik. Karena proses ini menggunakan kinerja campuran mikroorganisme
dan tergantung terhadap berbagai faktor seperti suhu, pH, hydraulic retention,
rasio C:N dan sebagainya sehingga proses ini berjalan lambat (Yadvika et
al. 2004).
Menurut Indiartono (2006), teknologi biogas pada dasarnya
memanfaatkan proses pencernaan yang dilakukan oleh bakteri metanogen yang
produknya berupa gas metan (CH4) yang mencapai 60 %. Bakteri ini bekerja
pada lingkungan yang tidak ada udara (anaerob), sehingga proses ini juga
disebut pencernaan anaerob (anerob digestion).
Menurut beberapa literatur, sejarah keberadaan biogas sendiri
sebenarnya sudah ada sejak kebudayaan Mesir, China, dan Romawi Kuno.
Masyarakat pada waktu itu diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang
dibakar untuk menghasilkan panas.
Namun, orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses
pembusukan bahan sayuran adalah Alessandro Volta (1776), sedangkan Willam
Henry pada tahun 1806 mengidentifikasikan gas yang dapat terbakar tersebut
sebagai metan. Becham (1868), murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882)
memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan metan.

Sasaran dari program pengembangan biogas ini adalah:


1. Penerapan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan berupa energi
biogas dapat tersosialisasi dan diterapkan dengan baik di tingkat
masyarakat.

2. Adanya contoh model biogas di tingkat masyarakat.

Diharapkan penerapan teknologi tepat guna berupa biogas ini akan


memberi manfaat untuk :
1. Penyediaan energi untuk rumah tangga di desa,
2. Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan energi
konvensional, yaitu minyak tanah dan gas elpiji/LPG,
3. Meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat desa,
4. Mengurangi penggunaan sumberdaya alam (kayu) sehingga kelestarian
sumber daya alam dapat terjaga, khususnya di hutan.
5. Mengurangi pencemaran. Konversi limbah/sisa bahan organic menjadi
biogas akan dapat mengurangi tingkat pencemaran sehingga dapat
menciptakan lingkungan yang bersih,
6. Mengurangi pemanasan global (Global Warming). Gas metana (CH4)
merupakan salah satu penyumbang utama terhadap fenomena efek rumah
kaca. Limbah atau sisa organic yang dibuang di tempat sampah dapat
mengeluarkan gas metana melalui proses anaeron oleh berbagai
mikroorganisme. Hal ini tentunya membahayakan lingkungan. Namun, jika
limbah tersebut dimanfaatkan untuk membuat biogas, maka gas metana
tidak terlepas ke atmosfer.
7. Ampas biogas dapat digunakan sebagai pupuk. Ampas biogas yang telah
kehilangan gasnya (slurry) mengandung nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh
tumbuhan.

2. Terbentuknya Biogas

Komponen biogas yang paling penting adalah gas methan, selain itu juga
gas-gas lain yang dihasilkan dalam ruangan yang disebut digester. Biogas yang
dihasilkan oleh biodigester sebagian besar terdiri dari 54% – 70% metana (CH4),
27%– 35% karbondioksida (CO2), nitrogen (N2), hidrogen (H2), 0,1% karbon
monoksida (CO), 0,1% oksigen (O2) dan hidrogen sulfida (H2S). (Hadi dan
Kadarwati_1981).
Biogas dapat dihasilkan pada hari ke 4–5 sesudah biodigester terisi
penuh, dan mencapai puncaknya pada hari ke 20–25. Akan tetapi perlu juga
dipertimbangan ketinggian lokasi pembuatannya karena pada suhu dingin
biasanya bakteri lambat berproses sehingga biogas yang dihasilkan mungkin
lebih lama.
Ada tiga kelompok bakteri yang berperan dalam proses pembentukan biogas:
1. Kelompok bakteri fermentatif, yaitu : Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa
jenis Enterobactericeae,

2. Kelompok bakteri asetogenik, yaitu Desulfovibrio,

3. Kelompok bakteri metana, yaitu Mathanobacterium, Mathanobacillus,


Methanosacaria, dan Methanococcus.

Sedangkan terkait dengan temperatur, secara umum ada 3 rentang


temperatur yang disenangi oleh bakteri, yaitu:
1. Psicrophilic (suhu 4o–20oC), biasanya untuk negara-negara subtropics atau
beriklim dingin,
2. Mesophilic (suhu 20o–40oC),
3. Thermophilic (suhu 40o–60oC), hanya untuk men-digesti material, bukan
untuk menghasilkan biogas.
Dengan demikian, untuk negara tropis seperti Indonesia digunakan unheated
digester (digester tanpa pemanasan) pada kondisi temperatur tanah 20 o–
30oC.

Berikut ini diagram fase-fase dalam pembentukan biogas

Prinsip utama proses pembentukan biogas adalah pengumpulan


kotoran ternak (sapi) ke dalam tangki kedap udara yang disebut dengan tangki
digester. Di dalam digester kotoran-kotoran tersebut akan dicerna dan
difermentasi oleh bakteri.

Gas yang dihasilkan akan tertampung pada bagian atas digester.


Terjadinya penumpukan produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dari
tekanan tersebut gas dapat disalurkan melalui pipa yang dipergunakan untuk
keperluan bahan bakar atau pembangkit listrik.
Gas tersebut sangat baik untuk pembakaran karena menghasilkan
panas yang tinggi, tidak berbau, tidak berasap, dan api yang dihasilkan berwarna
biru. Selain itu, pupuk kandang yang dihasilkan dari pembuangan bahan biogas
ini akan menaikkan kandungan bahan organik sehingga menjadi pupuk kandang
yang sangat baik dan siap pakai.

Kesetaraan biogas dengan sumber energi lain, yaitu 1 m3 biogas setara


dengan : elpiji 0,46 kg, minyak tanah 0,62 liter, minyak solar 0,52 liter, bensin
0,80 liter, gas kota 1,50 m3, dan kayu bakar 3,50 kg. Sedangkan produksi biogas
dari berbagai bahan organik dapat dilihat pada tabel 2

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Biogas

Selain jenis bahan baku yang digunakan dan kondisi aerob yang diperlukan,
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembuatan biogas, antara lain :

1). Pengenceran bahan baku pembuatan biogas.

Bahan Baku pembuatan biogas perlu diencerkan. Umumnya pengenceran bahan


baku dilakukan dengan perbandingan 1 : 1 sampai 2 antara bahan baku : air.

2). Jenis Bakteri

Ada dua kelompok bakteri yang berpengaruh pada pembuatan biogas yaitu
bakteri-bakteri pembentuk asam dan bakteri-bakteri pembentuk gas metana. Bakteri
pembentuk asam ini antara lain: Pseudomonas, Escherichia, Flavobacterium, dan
Alcaligenes. Bakteri-bakteri ini memecah bahan organik menjadi asam-asam lemak.
Asam-asam lemak hasil penguraian oleh bakteri asam kemudian diuraikan lebih lanjut
menjadi biogas oleh bakteri metana seperti Methanobacterium, Methanosarcina, dan
Methanococcus. Jenis-jenis bakteri ini sudah terdapat di dalam kotoran-kotoran hewan
yang digunakan.

3). Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman juga mempengaruhi kerja dari mikrobia yang ada dalam
digester. pH yang terlalu asam atau terlalu basa sangat mempengaruhi kerja mikroba ini.
pH antara 6.8 sampai 8 merupakan pH optimum dalam proses pembentukan biogas.
Peranan pH berhubungan dengan media untuk aktivitas mikroorganisme. Bakteri-bakteri
anaerob membutuhkan pH optimal antara 6,2 – 7,6, tetapi yang baik adalah 6,6 – 7,5.
Pada awalnya media mempunyai pH ± 6 selanjutnya naik sampai 7,5. Tangki pencerna
dapat dikatakan stabil apabila larutannya mempunyai pH 7,5 – 8,5. Batas bawah pH
adalah 6,2, dibawah pH tersebut larutan sudah toxic, maksudnya bakteri pembentuk
biogas tidak aktif. Pengontrolan pH secara alamiah dilakukan oleh ion NH4+ dan HCO3-.
Ion-ion ini akan menentukan besarnya pH (Yunus, 1991).

4). Bahan Penghambat

Perlu diingat bahwa terdapat bahan-bahan yang dapat menghambat


pertumbuhan dari mikro organisme. Bahan-bahan seperti logam berat, desinfektan,
deterjen dan antibiotik dapat menghambat pertumbuhan bakteri dalam digester.
Dengan demikian dapat mempengaruhi jumlah biogas yang dihasilkan. Untuk itu, maka
perlu diperhatikan agar bahan-bahan ini tidak tercampur dalam bahan. Disamping itu,
air yang digunakan sebagai pelarut atau pengencer bahan baku harus dipastikan tidak
mengandung bahan-bahan tersebut.

5). Temperatur / Suhu

Faktor suhu lingkungan juga sangat menentukan aktif tidaknya bakteri yang
berperan dalam pembuatan biogas. Perkembangbiakan bakteri sangat dipengaruhi oleh
suhu. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan kurang atau tidak
aktifnya mikrobia penghasil biogas, sehingga kurang baik untuk proses pembentukan
biogas. Kisaran suhu antara 32 - 37oC merupakan suhu yang baik untuk proses
pembentukan biogas, sedangkan suhu optimumnya adalah 35oC. Oleh karena itu pada
saat kalian membuat biogas sebaiknya diukur terlebih dahulu suhunya agar proses
pembuatan biogas ini dapat berlangsung dengan baik.

6). Perbandingan C dan N bahan.

Perbandingan (imbangan) karbon (C) dan Nitrogen (N) yang terkandung dalam
bahan organik yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas sangat
menentukan kehidupan dan aktivitas mikroorganisme. Imbangan antara C dan N yang
optimum bagi mikroorganisme perombak adalah 25-30. Proses anaerobik akan optimal
bila diberikan bahan makanan yang mengandung karbon dan nitrogen secara
bersamaan. CN ratio menunjukkan perbandingan jumlah dari kedua elemen tersebut.
Pada bahan yang memiliki jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan memiliki C/N
ratio 15 berbanding 1. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1 atau karbon 30 kali dari
jumlah nitrogen) akan menciptakan proses pencernaan pada tingkat yang optimum, bila
kondisi yang lain juga mendukung. Bila terlalu banyak karbon, nitrogen akan habis
terlebih dahulu. Hal ini akan menyebabkan proses berjalan dengan lambat. Bila nitrogen
terlalu banyak (C/N ratio rendah; misalnya 30/15), maka karbon habis lebih dulu dan
proses fermentasi berhenti (Anonymous, 1999a).

Sehingga kalau menggunakan limbah ternak ruminansia hanya berbentuk jerami


dengan rasio-C/N di atas 65, maka walaupun CH4 dan CO2 akan terbentuk, perbandingan
CH4 : CO2 = 65 : 35 tidak akan tercapai. Mungkin perbandingan tersebut bernilai 45 : 55
atau 50 : 50 atau 40 : 60 serta angka-angka lain yang kurang dari yang sudah ditentukan,
maka hasil biogasnya akan mempunyai nilai bakar rendah atau kurang memenuhi syarat
sebagai bahan energi.

Juga sebaliknya kalau limbah ternak ruminansia yang digunakan berbentuk


kotoran saja, semisal dari kotoran kambing dengan rasio C/N sekira 8, maka produksi
biogas akan mempunyai bandingan antara CH4 dan CO2 seperti 90 : 10 atau nilai lainnya
yang terlalu tinggi. Dengan nilai ini maka hasil biogasnya juga terlalu tinggi nilai
bakarnya, sehingga mungkin akan rnembahayakan pengguna
7). Ketersediaan Unsur Hara

Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi yang


mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, sodium, mangan, kalsium dan kobalt (Space
and McCarthy didalam Gunerson and Stuckey, 1986). Level nutrisi harus sekurangnya
lebih dari konsentrasi optimum yang dibutuhkan oleh bakteri metanogenik, karena
apabila terjadi kekurangan nutrisi akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan bakteri.
Penambahan nutrisi dengan bahan yang sederhana seperti glukosa, buangan industri,
dan sisa sisa tanaman terkadang diberikan dengan tujuan menambah pertumbuhan di
dalam digester (Gunerson and Stuckey, 1986).

8). Kandungan Padatan dan Pencampuran Substrat

Menurut Anonymous (1999a), walaupun tidak ada informasi yang pasti, mobilitas
bakteri metanogen di dalam bahan secara berangsur – angsur dihalangi oleh
peningkatan kandungan padatan yang berakibat terhambatnya pembentukan biogas.
Selain itu yang terpenting untuk proses fermentasi yang baik diperlukan pencampuran
bahan yang baik akan menjamin proses fermentasi yang stabil di dalam pencerna. Hal
yang paling penting dalam pencampuran bahan adalah menghilangkan unsur – unsur
hasil metabolisme berupa gas (metabolites) yang dihasilkan oleh bakteri metanogen,
mencampurkan bahan segar dengan populasi bakteri agar proses fermentasi merata,
menyeragamkan temperatur di seluruh bagian pencerna, menyeragamkan kerapatan
sebaran populasi bakteri, dan mencegah ruang kosong pada campuran bahan.

9). Kadar Air

Kadar air bahan yang terkandung dalam bahan yang digunakan, juga seperti rasio
C/N harus tepat. Jika hasil biogas diharapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku,
maka semisal limbah ternak ruminansia yang digunakan berbentuk kotoran kambing
kering dicampur dengan sisa-sisa rumput bekas makanan atau dengan bahan lainnya
yang juga kering, maka diperlukan penambahan air.

Tapi berbeda kalau bahan yang akan digunakan berbentuk lumpur selokan yang
sudah mengandung bahan organik tinggi, semisal dari bekas dan sisa pemotongan
hewan atau manure dari peternakan. Dalam bahannya sudah terkandung air, sehingga
penambahan air tidak akan sebanyak pada bahan yang kering.

Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya
jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan), ada
perbandingan yang

10). Aerasi

Aerasi atau kehadiran udara (oksigen) selama proses. Dalam hal pembuatan
biogas maka udara sama sekali tidak diperlukan dalam bejana pembuat. Keberadaan
udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat
biogas harus dalam keadaan tertutup rapat.

Masih ada beberapa persyaratan lain yang diperlukan agar hasil biogas sesuai
dengan yang diharapkan semisal, pengadukan, pH dan tekanan udara. Tetapi kelima
syarat tersebut sudah merupakan syarat dasar agar proses pembuatan biogas berjalan
sebagaimana mestinya.

1. Reaktor Biogas

Ada beberapa jenis reactor biogas yang dikembangkan diantaranya adalah


reactor jenis kubah tetap (Fixed-dome), reactor terapung (Floating drum), raktor jenis
balon, jenis horizontal, jenis lubang tanah, jenis ferrocement. Dari keenam jenis digester
biogas yang sering digunakan adalah jenis kubah tetap (Fixed-dome) dan jenis Drum
mengambang (Floating drum). Beberapa tahun terakhi ini dikembangkan jenis reactor
balon yang banyak digunakan sebagai reactor sedehana dalam skala kecil.

a. Reaktor kubah tetap (Fixed-dome)

Reaktor ini disebut juga reaktor china. Dinamakan demikian karena reaktor
ini dibuat pertama kali di chini sekitar tahun 1930 an, kemudian sejak saat itu reaktor
ini berkembang dengan berbagai model. Pada reaktor ini memiliki dua bagian yaitu
digester sebagai tempat pencerna material biogas dan sebagai rumah bagi
bakteri,baik bakteri pembentuk asam ataupun bakteri pembentu gas metana. bagian
ini dapat dibuat dengan kedalaman tertentu menggunakan batu, batu bata atau
beton. Strukturnya harus kuat karna menahan gas aga tidak terjadi kebocoran.
Bagian yang kedua adalah kubah tetap (fixed-dome). Dinamakan kubah tetap karena
bentunknya menyerupai kubah dan bagian ini merupakan pengumpul gas yang tidak
bergerak (fixed). Gas yang dihasilkan dari material organik pada digester akan
mengalir dan disimpan di bagian kubah.

Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi lebih murah daripada
menggunaka reaktor terapung, karena tidak memiliki bagian yang bergerak
menggunakan besi yang tentunya harganya relatif lebih mahal dan perawatannya
lebih mudah. Sedangkan kerugian dari reaktor ini adalah seringnya terjadi kehilangan
gas pada bagian kubah karena konstruksi tetapnya.

b. Reaktor floating drum

Reaktor jenis terapung pertama kali dikembangkan di india pada tahun 1937
sehingga dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester yang sama
dengan reaktor kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung gas
menggunakan peralatan bergerak menggunakan drum. Drum ini dapat bergerak naik
turun yang berfungsi untuk menyimpan gas hasil fermentasi dalam digester.
Pergerakan drum mengapung pada cairan dan tergantung dari jumlah gas yang
dihasilkan.

Keuntungan dari reaktor ini adalah dapat melihat secara langsung volume gas
yang tersimpan pada drum karena pergerakannya. Karena tempat penyimpanan
yang terapung sehingga tekanan gas konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya
material konstruksi dari drum lebih mahal. faktor korosi pada drum juga menjadi
masalah sehingga bagian pengumpul gas pada reaktor ini memiliki umur yang lebih
pendek dibandingkan menggunakan tipe kubah tetap.

c. Reaktor Balon

Reaktor balon merupakan jenis reaktor yang banyak digunakan pada skala
rumah tangga yang menggunakan bahan plastik sehingga lebih efisien dalam
penanganan dan perubahan tempat biogas. reaktor ini terdiri dari satu bagian yang
berfungsi sebagai digester dan penyimpan gas masing masing bercampur dalam satu
ruangan tanpa sekat. Material organik terletak dibagian bawah karena memiliki
berat yang lebih besar dibandingkan gas yang akan mengisi pada rongga atas.

2. Jenis Bahan Pembuat Biogas

Bahan baku pembuatan biogas sangat melimpah di sekitar kita. Beragam jenis
limbah kotoran selalu tersedia, terutama di daerah pemukiman dan sentra peternakan.
Bahan baku juga dapat diperoleh dari limbah pertanian, berupa sisa hasil panen dan
tumbuhan-tumbuhan liar. Namun, setiap bahan baku memiliki nilai tertentu yang mesti
Anda tentukan jenisnya, baik berdasarkan nilai ekonomis maupun kemampuannya
dalam menghasilkan biogas. Berikut ini beberapa jenis bahan baku yang bisa digunakan
untuk biogas.

 Limbah peternakan.
Kotoran hewan ternak, seperti sapi, kerbau, kambing, dan ayam dapat dibuat
bahan baku biogas. Satu ekor sapi 400—500 kilogram dapat menghasilkan 20—29
kilogram kotoran.

 Limbah pertanian.
Sisa hasil panen, seperti padi, gandum, kedelai, kelapa sawit, dan singkong dapat
dijadikan bahan baku biogas. Kemudian, bekas pemanfaatannya dapat dijadikan
kompos untuk kesuburan tanah.

 Limbah perairan.
Tanaman air, seperti eceng gondok, rumput laut, dan alga memiliki karakteristik
baik untuk dijadikan bahan baku biogas. Eceng gondok sangat tepat
dimanfaatkan, karena sering menjadi gulma di daerah perairan, seperti rawa dan
danau.
 Sampah organik yang dihasilkan dari rumah tangga, pasar, atau industri
Sampah ini dapat juga diolah menjadi biogas. Proses pembuatannya dapat
diitegrasikan dengan produksi kompos sehingga mendaptkan dua keuntungan
sekaligus.

 Limbah manusia yang belum banyak dimanfaatkan

Sebenarnya bisa dijadikan bahan baku biogas. Bahkan, dengan kandungan C/N yang lebih
rendah daripada kotoran ternak menyebabkan limbah kotoran manusia lebih mudah
terfermentasi sehingga lebih cepat menghasilkan biogas.

Tahapan Pembuatan Biogas


Alat/Bahan yang dibutuhkan:
1. Galon air mineral

2. Pisau untuk melubangi tutup galon

3. Pipa logam kecil denga diameter kira-kira 1 cm

4. Selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm

5. Air.

6. Eceng gondong atau sisa sayuran mentah dari dapur.

Cara membuatnya:
1. Masukkan eceng gondok atau sisa sayuran sampai 1/2 galon.

2. Isilah galon tersebut dengan air secukupnya lalu tutup yang rapat (jangan sampai ada
lubang sedikit pun).

3. Simpan selama 7 hari

4. Siapkan pipa logam dengan diameter 1 cm sepanjang 10 cm dan 20 cm (2 buah)

5. Siapkan selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm, sepanjang 1 meter.


6. Lubangi tutup galon air mineral sedikit saja (Jangan dibuka tutupnya agar gas tidak
hilang/habis menguap).

7. Lalu tusukkan pipa logam pada tutup tersebut.

8. Kemudian sambungkan selang palstik ke pipa logam pada tutup galon tersebut.

9. Di ujung selang satunya, sambungkan pipa loga 20 cm.

10. Sulutlah dengan korek api. Jika pembusukannya baik, maka pasti akan menyala.

Pemanfaatan:
Dalam kapasitas yang lebih besar, misalnya menggunakan drum bekas minyak, dapat
digunakan untuk bahan bakar kompor gas dengan biogas ini.

Keuntungan

 Energy yang dihasilkan lebih tinggi daripada gas alam


 Emisinya yang lebih rendah karena tidak mengandung S dan CO2 yang dihasilkan
juga rendah
 Menghasilkan pupuk organic berkualitas tinggi sebagai hasil samping
 Mengurangi kualitas udara yang buruk akibat pencemaran emisi oleh bahan bakar
fosil
Kelemahan

 Sifat CH4 yang tidak berbau maka sulit mendeteksi bila ada kebocoran
 Mudah terbakar

REFERENSI

http://diploma.ipb.ac.id/uploads/images/jurnal/file/6b42f48deab0be47d8589d7fefca5917_Pap
er_Jurnal_Fahrizal_Hazra_-_A5.pdf
http://prosiding.papsi.org/index.php/SFN/article/viewFile/496/504

http://ummuworld.blogspot.com/2013/08/pengertian-briket.html
http://id.scribd.com/doc/85580880/Briket-Adalah-Gumpalan-Yang-Terbuat-Dari-Bahan-
Lunak-Yang-Dikeraskan
http://madanitec.com/knowledge/pembuatan-briket-arang/
http://eprints.undip.ac.id/3682/1/makalah_ANGGA.pdf
http://id.scribd.com/doc/117609052/pembuatan-briket-Bioarang
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7528/1/10E00091.pdf

http://lpmunsri.files.wordpress.com/2011/04/biogas_-full.pdf

http://cibodas-itto.org/wp-content/uploads/2013/04/Buku-Modul-BioGAS-ITTO_Yapeka.pdf

http://www.biologi.lipi.go.id/bio_indonesia/mTemplate.php?h=3&id_berita=267

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/DIANA_ROCHINTANIAWATI/BIO
LOGY_TERAPAN/PEMBUATAN_BIOGAS.pdf

http://nalinsumarlin.blogspot.com/2011/11/karbonasi-sabut-kelapa-dengan.html

Indiartono Y. S. 2006. Reaktor Biogas Skala Kecil/Menengah


http://www.indeni.org/content/view/63/48/. [21 Des 2010]

Meynell P. J. 1976. Methane : Planning Digester. Great Britain : Prism Press.

Wahyuni S. 2010. Biogas. Jakarta : Penebar Swadaya.


http://ternak-ruminansia.blogspot.com/2010/09/faktor-faktor-yang-berpengaruh-dalam.html

http://permimalang.wordpress.com/2009/09/06/faktor-faktor-yang-berpengaruh-pada-proses-
pembentukan-biogas/

http://nunaahabsyi.blogspot.com/2012/12/energi-biogas.html

http://www.alpensteel.com/article/67-107-energi-bio-gas/2604--penerapan-biogas-sebagai-energi-
alternatif

http://www.agromedia.net/artikel/Beragam-Pilihan-Tepat-Bahan-Baku-Pembuatan-
Biogas.html