Anda di halaman 1dari 14

JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

PENGARUH DANA ALOKASI UMUM (DAU) DAN PENDAPATAN ASLI


DAERAH (PAD) TERHADAP BELANJA LANGSUNG PEMERINTAH
KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2011-2015

M. Fahriansyah
Surna Lastri
(Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh)

Teuku Muhammad Nur Lija Batee


(Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh)

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah
(BPKD) Kabupaten Aceh Selatan, dengan tujuan untuk menguji pengaruh dana
alokasi umum (DAU) dan pendapatan asli daerah (PAD) terhadap belanja
langsung tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan teknik analisis
datanya menggunakan regresi linear berganda. Sumber data penelitian
menggunakan data sekunder dalam bentuk laporan realisasi anggaran Pemerintah
Kabupaten Aceh Selatan Tahun Anggaran 2011-2015.
Hasil penelitian menunjukkan DAU secara parsial berpengaruh negatif
terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015, sedangkan
PAD secara parsial berpengaruh positif terhadap belanja langsung Pemerintah
Aceh Selatan tahun 2011-2015. DAU dan PAD secara simultan juga berpengaruh
terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015, dengan
besarnya pengaruh sebesar 79,4%, sedangkan sisanya sebesar 20,6% dipengaruhi
oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini, seperti dana
alokasi khusus (DAK), dana bagi hasil (DBH), dan lain sebagainya.

Kata Kunci : Belanja Langsung, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD).

I. PENDAHULUAN
Berlakunya Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan
keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, berimplikasi pada perubahan
mendasar pada sistem dan mekanisme pengelolaan keuangan pemerintah. Dalam
Undang-Undang ini juga dijelaskan pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah,
pemerintah pusat akan mentransferkan dana perimbangan kepada pemerintah
daerah. Dana perimbangan tersebut terdiri atas Dana Alokasi Umum (DAU),
Dana Alokasi Khusus (DAK), dan bagian daerah dari bagi hasil pajak pusat.
Selain dana transfer atau dana perimbangan pemerintah daerah juga memiliki
sumber penerimaan sendiri yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), pinjaman
daerah, maupun lain-lain PAD yang sah. Sedangkan untuk kebijakan alokasi dan
penggunaan anggaran diserahkan kepada pemerintah daerah.

1
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Adanya transfer dana ini bagi pemerintah daerah merupakan sumber


pendanaan dalam melaksanakan kewenangannya, sedangkan kekurangan
pendanaan diharapkan dapat digali melalui sumber pendanaan sendiri yaitu PAD.
Namun kenyataannya, transfer dari pemerintah pusat merupakan sumber dana
utama pemerintah daerah untuk membiayai operasi utamanya sehari-hari atau
belanja daerah, yang oleh pemerintah daerah dilaporkan diperhitungkan dalam
APBD. Harapan pemerintah pusat dana transfer tersebut dapat digunakan secara
efektif dan efisien untuk meningkatkan pelayanaan kepada masyarakat. Kebijakan
penggunaan dana tersebut sudah seharusnya pula dilakukan secara transparan dan
akuntabel.
Kemampuan keuangan suatu pemerintah daerah dapat diukur dengan
derajat kemandirian keuangan daerah dimana, semakin tinggi derajat kemandirian
suatu daerah menunjukan bahwa daerah tersebut semakin mampu untuk
membiayai pengeluaranya sendiri tanpa bantuan dari pemerintah pusat Jika dilihat
menggunakan rasio desentralisasi fiskal maka akan terlihat kontribusi PAD
terhadap pendapatan daerah secara keseluruhan.
Secara umum, semakin tinggi kontribusi PAD dan semakin tinggi
kemampuan daerah untuk membiayai belanjanya sendiri menunjukan kinerja
keuangan yang positif. Dalam hal ini penilaian kinerja keuangan, kinerja
keuangan yang positif dapat diartikan sebagai kemandirian keuangan daerah
dalam membiayai kebutuhan daerah dan mampu melaksanakan otonomi deaerah.
Namun jika pemerintah daerah merespon belanja daerahnya lebih besar
menggunakan dana perimbangan dalam hal ini Dana Alokasi Umum (DAU)
dibandingkan dengan memaksimalkan potensi daerahnya untuk meningkatan
PAD maka daerah tersebut mengalami fenomena Flypaper Effect. Hal inilah yang
dialami oleh Kabupaten Aceh Selatan selama ini.
Keuangan Kabupaten Aceh Selatan masih sangat bergantung pada
penerimaan DAU. Ketergantungan tersebut sangat beresiko terhadap
kesinambungan pembangunan Kabupaten Aceh Selatan karena apabila kedua
sumber penerimaan ini terganggu maka akan terganggu pula penerimaan
Kabupaten Aceh Selatan. Pemerintah Aceh Selatan sudah sewajarnya mulai
memikirkan dan bertindak guna menggali potensi penerimaan daerah yang lain.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No 28 tahun 2009 yang merupakan
perubahan atas Undang-Undang No 34 tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, yang memberikan peluang dalam menggali potensi sumber-
sumber keuangannya termasuk objek pajak baru dengan catatan sepanjang
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Tindakan ini merupakan sebuah konsekuensi atas ditetapkannya Undang-
undang mengenai otonomi daerah yang menyebabkan pemerintah daerah harus
dapat mengurangi ketergantungan anggaran dari pemerintah pusat dalam bentuk
DAU. Ketergantungan ini dapat dilihat dari data PAD dan DAU serta belanja
langsung Kabupaten Aceh Selatan dari tahun 2012-2015 sebagai berikut.

2
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Tabel 1.1
PAD, DAU dan Belanja Langsung Aceh Selatan
Tahun 2012-2015
Disajikan Dalam Milyar Rupiah
PAD DAU Belanja Langsung
Tahun
Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi %
2012 70.876 33.021 46,6 465.287 465.278 100 108.193 74.840 67,8
2013 42.809 36.152 84,5 528.579 528.579 100 130.094 127.431 97,5
2014 73.784 78.487 106 582.668 582.668 100 239.562 224.391 93,7
2015 92.937 92.665 99,8 604.474 604.474 100 379.064 337.270 88.9
Sumber: BPKD Aceh Selatan, 2017
Berdasarkan data pada Tabel 1.1, diketahui bahwa penerimaan PAD dan
DAU Kabupaten Aceh Selatan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Peningkatan PAD dan DAU tersebut berdampak pada belanja langsung
Kabupaten Aceh Selatan, sebagai contoh pada tahun 2012 realisasi belanja
langsung sebesar Rp. 74.840.849.911,- (67,8%) meningkat menjadi
Rp.127.431.161.961,- (97,5%) yang diperkirakan akibat peningkatan PAD dan
DAU pada tahun 2013. Hal yang sama juga berlaku pada tahun-tahun berikutnya,
dimana setiap peningkatan PAD dan DAU selalu diikuti oleh peningkatan belanja
langsung yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.
Meskipun terjadi peningkatan jumlah belanja langsung, tetapi tingkat
realisasinya justru sebaliknya yang menunjukkan kurangnya kemampuan
Pemerintah Aceh Selatan dalam merealisasikan belanja langsung, padahal PAD
dan DAU selalu mengalami peningkatan. Rendahnya penyerapan belanja
langsung dapat dilihat pada tahun 2012 yang hanya terealisasi sebanyak 67,8%.
Demikian juga dengan tahun 2015 Pemerintah Aceh Selatan menghabiskan
belanja langsung hanya 88,9%.
Berbagai macam retorika di atas merupakan asumsi penulis yang
dibutuhkan kajian ilmiah untuk mengkaji secara mendalam tentang pengaruh
DAU dan PAD terhadap kemampuan Pemerintah Aceh Selatan merealisasikan
belanja langsung, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
terhadap Belanja Langsung Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan Tahun
2011-2015”.

II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Dana Alokasi Umum (DAU)
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Dana Alokasi Umum,
selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU
bersifat Block Grant yakni hibah yang penggunaannya cukup fleksibel (dalam
artian tidak banyak larangan) seperti halnya hibah kategori. Hibah ini dapat
digunakan untuk banyak tujuan sesuai dengan kebutuhan. DAU merupakan jenis
transfer dana antar tingkat pemerintahan yang tidak terikat dengan program
pengeluaran tertentu. Adapun tujuan dari transfer ini adalah untuk menutup

3
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

kesenjangan fiskal (fiscal gap) dan pemerataan kemampuan fiskal antara daerah
antar daerah sehingga dana alokasi umum tiap daerah tidak akan sama besarnya.
Penggunaan DAU ditetapkan oleh daerah dimana pada bagian ini
dianggarkan jumlah DAU sesuai dengan alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Dalam perhitungannya DAU menggunakan formula yang menggunakan beberapa
aspek seperti luas daerah, jumlah penduduk, kepadatan penduduk, indeks harga
bangunan, dan jarak tingkat kemiskinan. Pratiwi (2007) mengidentifikasi
beberapa tujuan pemerintah pusat memberikan dana bantuan dalam bentuk grant
kepada pemerintah daerah, yaitu:
a. Untuk mendorong terciptanya keadilan antar wilayah (geographical
equity);
b. Untuk meningkatkan akuntabilitas (promote accountability);
c. Untuk meningkatkan sistem pajak yang lebih progresif. Pajak daerah
cenderung kurang progresif, membebani tarif pajak yang tinggi kepada
masyarakat yang berpenghasilan rendah;
d. Untuk meningkatkan keberterimaan (acceptability) pajak daerah.
e. Pemerintah pusat mensubsidi beberapa pengeluaran pemerintah daerah
untuk mengurangi jumlah pajak daerah.

2.2 Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Untuk menyelenggarakan otonomi daerah yang luas, nyata dan
bertanggungjawab diperlukan kewenangan dan kemampuan untuk menggali
sumber keuangan sendiri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Pasal 157 (Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan) terdiri dari Pendapatan Asli
Daerah, Dana Perimbangan, Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Menurut
Permendagri No. 13/2006 tentang “Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
menyebutkan bahwa Pendapatan Asli Daerah dibagi menurut jenis pendapatan
yang terdiri atas:
a. Hasil pajak daerah
Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber
pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan
pemerintahan daerah, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dan kemandirian daerah, perlu dilakukan perluasan objek
pajak daerah dan retribusi daerah dan pemberian diskresi dalam penetapan
tarif (UU No. 28/2009).
b. Hasil retribusi daerah
Menurut UU No. 28/2009, Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut
Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan meliputi bagian laba
atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD; bagian laba
atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN; dan
bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau
kelompok usaha masyarakat. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil

4
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan


penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah
Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah disediakan untuk
menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam pajak
daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekyaan daerah yang
dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan mencakup: hasil penjualan
kekayaan daerah yang tidak dipisahkan; jasa giro; pendapatan bunga;
keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; komisi,
potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau
pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah; penerimaan keuntungan dari
selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; pendapatan denda atas
keterlambatan pelaksanaan pekerjaan; pendapatan denda pajak;
pendapatan denda retribusi; pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
pendapatan dari pengembalian; fasilitas sosial dan fasilitas umum;
pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; dan
pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.

2.3 Belanja Langsung


Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 36
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja langsung merupakan
belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program
dan kegiatan. Belanja langsung terdiri dari:
1. Belanja Pegawai
Belanja pegawai adalah belanja kompensasi, baik dalam bentuk uang
maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil
(PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum
berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan
dimana pekerjaan tersebut yang berkaitan dengan pembentukan modal.
2. Belanja Barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa adalah pengeluaran untuk menampung pembelian
barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa
yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang
dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja
perjalanan.
3. Belanja Modal
Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aktiva tetap
dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Untuk mengetahui apakah suatu belanja dapat dimasukkan sebagai belanja
modal atau tidak, maka perlu diketahui definisi aset tetap atau aset lainnya
dan kriteria kapitalisasi aset tetap.

5
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

2.4 Kerangka Pemikiran


Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dibuat suatu kerangka pemikiran
teoritis yang menggambarkan variabel-variabel yang telah dijelaskan sebelumnya.
Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran

DAU H1
(X1)

Belanja Langsung
(Y)

H2

PAD
(X2)

H3

Dalam APBD terkandung unsur pendapatan dan belanja, dimana


pendapatan yang dimaksud adalah sumber-sumber penerimaan untuk daerah
dikenal dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sedangkan belanja adalah
pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan pemerintah daerah dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya.
PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang terdiri dari Hasil Pajak Daerah,
Retribusi Daerah, Pendapatan dari Laba Perusahaan Daerah dan lain-lain
Pendapatan Yang Sah. DAU (Dana Alokasi Umum) adalah dana yang berasal dari
Belanja Langsung Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Alokasi Umum (DAU).
APBN, yang dialokasikan dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan
antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi. Belanja langsung merupakan belanja yang memiliki
keterkaitan secara langsung dengan program dan kegiatan yang meliputi belanja
pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal.
Besar-kecilnya transfer yang dilakukan oleh pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU), yang termasuk
dalam bagian Dana Perimbangan mempengaruhi alokasi belanja langsung.
Keberhasilan pengembangan otonomi daerah bisa dilihat dari derajat otonomi
fiskal daerah yaitu perbandingan antara PAD dengan total penerimaan APBDnya
yang semakin meningkat, diharapkan di masa yang akan datang ketergantungan
daerah terhadap transfer dana pusat hendaknya diminimalisasi guna
menumbuhkan kemandirian pemerintah daerah dalam pelayanan publik dan
pembangunan.

6
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Sesuai dengan undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah


daerah, pemerintah daerah berhak untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintah menurut asas otonomi daerah. Hal ini diarahkan untuk mempercepat
tercapainya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaan dan peran serta semua masyarakat. Selain itu juga untuk
meningkatkan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

III METODE PENELITIAN


3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah di Kantor Badan Pengelolaan
Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Aceh Selatan, yang beralamat di Jl. T. Ben
Mahmud No. 24 Tapaktuan.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian


Menurut Sugiyono (2012:115), populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan,
sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah realisasi anggaran
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan selama tahun anggaran 2011-2015.
Dikarenakan jumlah populasi dalam penelitian ini terbilang sedikit, yaitu
hanya 5 (lima) tahun, maka seluruh populasi dijadikan sampel. Dengan demikian,
penelitian ini termasuk ke dalam kategori penelitian sensus, yaitu penelitian yang
meneliti pada seluruh populasi.

3.3 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data


Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data
sekunder, yaitu laporan keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Aceh Selatan
selama tahun anggaran 2011-2015, yang diperoleh dengan teknik pengumpulan
data yaitu:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian ini dilakukan dengan cara mendatangi langsung ke lapangan
untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan masalah yang dibahas,
penelitian ini dilakukan melalui teknik pengumpulan data dokumentasi,
yaitu pengumpulan data dengan mempelajari dan menganalisa dokumen-
dokumen dan laporan mengenai data yang berhubungan dengan penelitian.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan untuk memperoleh data
secara teoritis yaitu dengan mempelajari buku-buku dan literatur yang lain
yang berkaitan dengan pembahasan penelitian.

3.5 Operasional Variabel


Berikut tabel yang menyajikan tentang operasional variabel yang
digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

7
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Tabel 3.1
Operasional Variabel Penelitian
No Variabel Definisi Pengukuran Skala
DAU adalah transfer
yang bersifat umum dari
pemerintah pusat ke
pemerintah daerah untuk
DAU mengatasi ketimpangan DAU
1 = 𝑥100 Rasio
(X1) horisontal dengan tujuan Total APBD
utama pemerataan
kemampuan keuangan
antar daerah (Halim,
2009)
PAD) adalah Pendapatan
Asli Daerah yang terdiri
dari Hasil Pajak Daerah,
Retribusi Daerah,
PAD PAD
2 Pendapatan dari Laba = 𝑥100 Rasio
(X2) Total APBD
Perusahaan Daerah dan
lain-lain Pendapatan
Yang Sah (Bastian,
2002)
Belanja langsung
merupakan belanja yang
Belanja dianggarkan terkait Belanja Langsung
3 Langsung secara langsung dengan = 𝑥100 Rasio
(Y) pelaksanaan program Total Belanja
dan kegiatan
(Permendagri 13/ 2006).

3.5 Metode Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi
linear berganda. Penggunaan analisis regresi linear berganda dikarenakan mampu
menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, dan sekaligus
menunjukkan arah pengaruhnya. Persamaan regresi linear dalam penelitian ini,
yaitu:
Y = α + β1X1+ β2X2 + ε
Keterangan:
Y = Belanja langsung
a = Intercept persamaan Regresi
X1 = DAU
X2 = PAD
β1 β2 = Koefisien regresi masing-masing variabel
e = Kesalahan estimasi

8
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

IV HASIL PENELITIAN
4.1 Pengujian Statistik
4.1.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan data penelitian yang
meliputi nilai maksimal, nilai minimal, nilai rata-rata, dan tingkat penyimpangan
data (standar deviasi). Adapun hasil statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif
Standar
Keterangan N Minimum Maximum Mean
Deviation
DAU 5 0,466 0,768 0,66000 0,132240
PAD 5 0,035 0,078 0,05820 0,017196
Belanja Daerah 5 0,234 0,478 0,33640 0,113729
Sumber: Output SPSS (2017)
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi data penelitian ini yang
meliputi nilai minimal, nilai maksimal, nilai rata-rata, dan standar deviasi dari
setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Untuk variabel DAU
memiliki nilai terendah sebesar 46,6% yang diperoleh Pemerintah Aceh Selatan
pada tahun 2015, sedangkan nilai maksimum sebesar 76,8% yang diperoleh pada
tahun 2012. Perolehan rata-rata DAU pada Pemerintah Aceh Selatan selama
kurun waktu 2011-2015 adalah sebesar 66,0% pertahun, dengan standar deviasi
dari jumlah tersebut sebesar 13,2%, yang berarti kecenderungan perubahan jumlah
DAU sebesar 13,2% selama tahun 2011-2015.
Kemudian untuk variabel PAD memiliki nilai terendah sebesar 3,5% yang
diperoleh Pemerintah Aceh Selatan pada tahun 2011, sedangkan nilai maksimum
sebesar 7,8% yang diperoleh pada tahun 2014. Perolehan rata-rata PAD sebesar
5,8% pertahun, dengan kecenderungan perubahan jumlahnya sebesar 1,7% selama
tahun 2011-2015. Selanjutnya untuk variabel belanja langsung memiliki nilai
terendah sebesar 23,4% yang diperoleh Pemerintah Aceh Selatan pada tahun
2012, sedangkan nilai maksimum sebesar 47,8% yang diperoleh pada tahun 2014.
Jumlah rata-ratanya sebesar 33,6% pertahun, dengan kecenderungan perubahan
jumlahnya sebesar 11,3% selama tahun 2011-2015.

4.1.2 Statistik Inferensial


Statistik inferensial merupakan statistik yang digunakan untuk
menganalisis data, dan membuat keputusan yang berlaku untuk umum
(generalisasi). Statistik inferensial dalam penelitian ini yaitu pengujian regresi
linear berganda, dengan hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

9
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Tabel 4.2
Pengujian Regresi Linear
Unstandardized Standardized
Parsial
Keterangan Coefficients Coefficients
B Std Error Beta T Sig
(Constant) 0,362 0,322 10,124 0,378
DAU -0,372 0,307 -0,433 -10,211 0,350
PAD 30,782 20,364 0,572 10,600 0,251
Sumber: Data Diolah (2017)
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diperoleh persamaan regresi yaitu:
Y = 0,362 - 0,433X1 + 572X2 + e
Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta (α) sebesar 0,362. Artinya jika variabel DAU dan PAD
dianggap konstan (tetap), maka besarnya belanja langsung Pemerintah
Aceh Selatan selama tahun 2011-2015 adalah sebesar 36,2%.
2. Nilai koefisien regresi variabel DAU sebesar -0,433, yang berarti setiap
peningkatan penerimaan DAU maka belanja langsung Pemerintah Aceh
Selatan akan menurun sebesar 43,3%
3. Nilai koefisien regresi variabel PAD sebesar 0,572, yang berarti setiap
peningkatan penerimaan PAD maka belanja langsung Pemerintah Aceh
Selatan juga akan meningkat sebesar 57,2%.

4.2 Pengujian Hipotesis


Pengujian hipotesis mengacu pada perumusan hipotesis yang telah
dirumuskan pada bab sebelumnya, yaitu:
1. Uji parsial
H1 : Nilai βı= -0,433, maka βı≠0. Dengan demikian H01 ditolak dan Ha1
diterima. Artinya secara parsial DAU berpengaruh negatif terhadap
belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015.
H2 : Nilai β2= 0,572, maka β2≠0. Dengan demikian H02 ditolak dan Ha2
diterima. Artinya secara parsial PAD berpengaruh positif terhadap
belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015.

2. Uji Simultan
H3 : Nilai βı= -0,433, dan β₂= 0,572, maka βı=β₂≠0. Dengan demikian H03
ditolak dan Ha3 diterima. Artinya secara simultan DAU dan PAD
berpengaruh terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun
2011-2015.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh DAU dan PAD Terhadap Belanja Langsung Pemerintah
Aceh Selatan Tahun 2011-2015
Hasil penelitian yang dijelaskan di atas menunjukkan DAU dan PAD
secara simultan berpengaruh terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan

10
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

selama kurun waktu 2011-2015. Adapun besarnya pengaruh dari kedua variabel
independen tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3
Koefisien Determinasi
Adjusted R Std, Error of
R R Square
Square the Estimate
0,947a 0,897 0,794 0,051600
a. Predictors: (Constant), DAU, PAD

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai adjusted R Square atau


koefisien determinasi sebesar 0,794, yang berarti bahwa besarnya pengaruh dari
variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 79,4%, sedangkan
sisanya sebesar 20,6% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan
dalam penelitian ini. Kemudian berdasarkan tabel di atas pula dapat dilihat nilai
koefisien korelasi (R), yaitu sebesar 0,947 yang menunjukkan besarnya hubungan
antar variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 94,7%.

4.3.2 Pengaruh DAU Terhadap Belanja Langsung Pemerintah Aceh


Selatan Tahun 2011-2015
Secara parsial hasil penelitian ini menunjukkan DAU berpengaruh negatif
terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015 dengan arah
pengaruh negatif, sehingga hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya
penerimaan DAU, maka belanja langsungnya akan menurun. Hasil penelitian ini
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Prakoso (2004) yang menyatakan
DAU berpengaruh negatif terhadap belanja daerah di Provinsi DIY dan Jawa
Tengah. Namun hasil penelitian ini juga berlawanan dengan hasil penelitian yang
dilakukan Maimunah (2006), yang menyatakan DAU berpengaruh positif
terhadap belanja daerah di Kabupaten/Kota pada Provinsi Sumatera Utara.
Interpretasi terkait dengan berpengaruhnya DAU secara negatif terhadap
belanja langsung adalah DAU digunakan untuk membayar gaji dan tunjangan
pegawai negeri sipil (PNS), dimana gaji dan tunjangan tersebut termasuk dalam
kategori belanja tidak langsung. Oleh karena itu, peningkatan DAU sudah tentu
akan meningkatkan belanja tidak langsung, dan jika belanja tidak langsung
meningkat maka proporsi belanja langsungnya akan menurun. Adapun dasar
hukum penggunaan DAU untuk membayar gaji dan tunjangan PNS adalah
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh atau yang
disingkat dengan UUPA, dimana pada pasal 123 ayat (1) dinyatakan bahwa gaji
dan tunjangan Pegawai Negeri Sipil di daerah dibebankan pada APBA/APBK
yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum.

4.3.3 Pengaruh PAD Terhadap Belanja Langsung Pemerintah Aceh Selatan


Tahun 2011-2015
Secara parsial hasil penelitian ini menunjukkan PAD berpengaruh positif
terhadap belanja langsung Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015 dengan arah
pengaruh negatif, sehingga hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya
penerimaan PAD, maka belanja langsungnya juga akan meningkat. Hasil

11
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Maimunah (2006),
yang menyatakan PAD berpengaruh positif terhadap belanja daerah di
Kabupaten/Kota pada Provinsi Sumatera Utara.
Interpretasi terkait dengan berpengaruhnya PAD secara positif terhadap
belanja langsung karena komponen utama PAD terdiri atas pajak daerah dan
retribusi daerah yang dibayarkan oleh masyarakat, dan tentunya dana tersebut
akan dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat karena asas penyelenggaran pemerintahan kita yang menganut
sistem dari rakyat kepada rakyat, dan bentuk belanja atas pelayanan tersebut
umumnya bersifat belanja langsung. Maka dari itu, PAD berpengaruh positif
terhadap pengalokasian belanja langsung pada Pemerintah Aceh Selatan tahun
2011-2015.

V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di bahas pada bab
sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan yaitu:
1. DAU secara parsial berpengaruh terhadap belanja langsung Pemerintah
Aceh Selatan tahun 2011-2015, dengan arah pengaruh negatif karena
berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 dinyatakan bahwa
gaji dan tunjangan PNS di daerah dibebankan pada DAU, dimana gaji dan
tunjangan tersebut termasuk dalam kategori belanja tidak langsung.
2. PAD secara parsial berpengaruh terhadap belanja langsung Pemerintah
Aceh Selatan tahun 2011-2015, dengan arah pengaruh positif karena
berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dinyatakan
bahwa kewenangan pengelolaan PAD adalah milik pemerintah daerah
sebagai perwujudan pelaksanaan asas desentralisasi.
3. DAU dan PAD secara simultan berpengaruh terhadap belanja langsung
Pemerintah Aceh Selatan tahun 2011-2015, dengan besarnya pengaruh
sebesar 79,4%, sedangkan sisanya sebesar 20,6% dipengaruhi oleh
variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti
dapat menyarankan beberapa saran yaitu:
1. Melihat masih belum berimbangnya pengalokasian belanja langsung
dengan belanja tidak langsung pada Pemerintah Aceh Selatan, disarankan
kedepannya untuk dapat meningkatkan lagi kinerjanya dalam menyusun
perencanaan belanja daerah sehingga pengalokasian belanja langsung bisa
lebih besar atau berimbang dengan pengalokasian belanja tidak langsung.
2. Masih rendahnya peran PAD dalam struktur APBD Aceh Selatan,
disarankan kedepannya untuk dapat meningkatkan lagi kinerjanya dalam
upaya menggali potensi-potensi keuangan daerah untuk dijadikan PAD.
3. Penelitian ini hanya dilakukan pada Pemerintah Aceh Selatan, sehingga
tidak menutup kemungkinan akan hasil berbeda jika dilakukan pada

12
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

pemerintah daerah lainnya. Oleh karena itu, disarankan kepada peneliti


selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian sejenis pada pemerintah
daerah lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. (200). Sistem Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Darise, Nurlan. (2008). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Indeks.


Darwanto dan Yustikasari, Yulia, Pengaruh pertumbuhan ekonomi, Pendapatan
Asli Daerah, dan Dana Alokasi Umum terhadap pengalokasian
anggaran belanja modal, Makalah disajikan pada Seminar
Antarbangsa di Universitas Hassanudin, Makassar, 26-28 Juli 2007.
Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Edisi Ke-Empat. Semarang: Universitas Diponegoro.
Gujarati, D.N. (2012). Dasar-dasar Ekonometrika, Terjemahan Mangunsong,
R.C., buku 2, Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
Halim, Abdul. (2004). Akuntansi Sektor Publik : Akuntansi Keuangan Daerah.
Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.
Halim, Abdul. (2007). Akuntansi Sektor Publik : Akuntansi Keuangan Daerah.
Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.
Isdijoso, Brahmantio, Analisis Kebijakan Fiskal Pada Era Otonomi Daerah (Studi
Kasus: Sektor Pendidikan di Kota Surakarta), Kajian Ekonomi Dan
Keuangan Vol. 6 No. 1, 2002.
Maimunah, Mutiara. (2006). Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum (DAU)
dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Daerah pada
Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera. Padang: Simposium Nasional
Akuntansi IX.
Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen keuangan daerah. Yogyakarta:
Andi.
Riduwan. (2010). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.
Sekaran, Uman. (2006). Metode Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.
Sidik, Machfud, dkkk. (2002), Dana Alokasi Umum-Konsep Hambatan, dan
Prospek di Era Otonomi Daerah, Jakarta: Buku Kompas.

13
JURNAL AKUNTANSI MUHAMMADIYAH

Peraturan Pemerintah RI No. 58 Tahun 2005, tentang Pengelolaan Keuangan


Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Pratiwi, Novi. (2007). Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) Dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Terhadap Prediksi Belanja Daerah Pada
Kabupaten/Kota di Indonesia. Skripsi Sarjana (dipublikasikan).
Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UII.
Umar, Husein. (2009). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Edisi
kedua, Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah.
Undang-Undang No 18 Tahun 1987 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

14