Anda di halaman 1dari 5

Dampak Pubertas bagi Psikologi Remaja

1. Penampilan Tubuh dan Pengontrolan Berat Badan yang Tidak Sehat

Dampak dari masa pubertas yang dialami oleh remaja selalu berbeda
antara laki-laki dan perempuan. Tetapi, pada dasarnya, para remaja menginginkan
tubuh dan penampilan yang bagus menurut mereka. Bagi remaja perempuan,
kelebihan berat badan akan sangat mengganggu mereka. Mereka akan sangat tidak
percaya diri, apabila penampilan mereka tidak menarik karena kelebihan berat
badan. Mereka cenderung menyukai tubuh yang kurus daripada tubuh yang berisi.
Remaja perempuan akan melakukan berbagai cara untuk membuat tubuhnya
terlihat kurus. Cara yang biasa mereka lakukan adalah dengan diet.

Banyak remaja perempuan melakukan diet yang bertujuan untuk


menurunkan berat badan mereka. Namun, yang menjadi permasalahan adalah jika
cara mereka sudah melewati batas kewajaran. Mereka dapat melakukan cara-cara
yang extreme untuk menurunkan berat badan. Mereka akan rela melakukan diet
yang sangat ketat, mengonsumsi obat pencahar atau bahkan sedikit mengonsumsi
buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian. Cara seperti ini justru akan membuat
remaja-remaja tersebut kekurangan asupan protein, mineral, dan kalsium. Dengan
kurangnya gizi mereka, akan muncul gangguan-gangguan pencernaan yang akan
memperburuk kondisi mereka, misalnya mereka akan menderita anoreksia
nervosa dan bulimia nervosa. Jika mereka sudah menderita gangguan seperti itu,
mereka cenderung akan selalu mempertahankan berat badan mereka. Mereka akan
memakan banyak makanan, kemudian memuntahkan kembali makanan tersebut,
melakukan banyak aktivitas, dan meminum obat pencahar.

Pada remaja laki-laki, naiknya berat badan akan lebih membuat mereka
percaya diri. Mereka beranggapan bahwa tubuh yang kecil merupakan tubuh yang
lemah dan mudah untuk dikalahkan. Dalam hal ini, kenaikan berat badan menurut
mereka adalah kenaikan massa otot. Mereka akan mengonsumsi biji-bijian, buah-
buahan dan sayur-sayuran yang lebih banyak daripada remaja lain. Mereka juga
akan melakukan berbagai macam olahraga untuk membentuk otot mereka.

2. Perilaku Remaja
a. Ingin Menyendiri

Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, remaja biasanya menarik
diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sering bertengkar
pada teman-teman dan pada anggota keluarga. Remaja puber kerap melamun,
sering tidak dimengerti dan diperlakukan dengan kurang baik, dan ia juga
mengadakan ekperimen seks melalui masturbasi. Gejala menarik diri ini
mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain. Dalam masa
remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari milieu orang tua dengan
maksud untuk menemukan dirinya. Erikson menyebutnya untuk menemukan
identitas diri (Monks, Knoers, Hadiyanto, S. R, 1982)

b. Bosan

Remaja puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari,


tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan pada umumnya.
Akibatnya, remaja sedikit sekali bekerja sehingga prestasinya diberbagai bidang
menurun. Remaja menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi khususnya karena
sering timbul perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal.

c. Inkoordinasi

Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi


gerakan, dan remaja akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu.
Setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.

d. Antagonisme sosial

Remaja puber seringkali tidak mau bekerja sama, sering membantah, dan
menentang. Permusuhan terbuka anatara dua seks yang berlainan diungkapkan
dalam kritik, dan komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya
masa puber, remaja kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama dan
lebih sabar kepada orang lain.

e. Emosi yang meninggi


Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk
menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa
puber. Pada masa ini remaja merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah. Sedih,
mudah marah, dan suasana hati yang negative sangat sering terjadi selama masa
prahaid dan awal periode haid. Dengan semakin matangnya keadaan fisik remaja,
ketegangan lambat laun berkurang dan remaja sudah mulai mampu
mengendalikan emosinya.

f. Hilangnya kepercayaan diri

Remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri sekaran menjadi
kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun
dank arena kritik yang bertubi-tubi datang dari orang tua dan teman-temannya.
Banyak remaja laki-laki dan perempuan setelah masa puber mempunyai perasaan
rendah diri.

g. Terlalu sederhana

Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan remaja


menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang-orang
lain akan memperhatikan perubahan yang dialaminya dan member komentar yang
buruk.

3. Perkembangan Perilaku Seksual Remaja

a. Berpacaran

Berpacaran dikalangan remaja bukanlah merupakan hal yang biasa,


dibuktikan dari hampir sebagian responden menyatakan bahwa mereka pernah
atau sedang berpacaran. Sebagian remaja berpendapat bahwa pacaran juga
memberikan dampak yang positif, misalnya terpacu untuk belajar lebih giat atau
memberikan dampak negatif terhadap perilaku remaja mengarah keseksualitas.
Usia pertama berpacaran berkisar 14-17 tahun. Hal ini di dukung juga dari
kegiatan yang biasa dilakukan remaja ketika berpacaran adalah ngobrol, namun
tak jarang juga berpacaran diselingi dengan berciuman. Banyak faktor pendorong
yang menyebabkan remaja memilih berpacaran. Dikalangan remaja muncul trend
yang menyatakan bahwa jika seseorang remaja berpacaran berarti remaja tersebut
modern. Perkembangan terhadap informasi juga menjadi salah satu pendorong
(Harfina, D. S, tanpa tahun)

b. Mengenal Media pornografi

Sebagian besar remaja pernah menggunakan/melihat media pornografi


pada saat berusia 14-17 tahun. Pada masa tersebut merupakan masa remaja
dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan sepatutnya pada masa ini, remaja
memperoleh informasi seks yang benar sehingga remaja tidak salah dalam
bertingkah laku. Informasi tersebut memang sangat diperlukan oleh remaja.
Informasi mengenai kesehatan reproduksi merupakan hal yang perlu diketahui
bagi remaja. Lembaga pendidikan hendaknya memikirkan bagaimana agar
informasi tersebut dapat diberikan melalui sekolah oleh seorang guru tau
dijadikan suatu mata pelajaran penunjang byang memiliki kurikulum pelajaran.

Media yang biasa atau sering digunakan remaja yaitu foto/gambar semakin
marak di internet sehingga remaja memanfaatkannya untuk hal yang negatif
dengan mengunjungi situs-situs X yang memberikan informasi seks yang tidak
terbatas. Kebanyakan remaja menggunakan media pornografi di rumah, sekolah,
bioskop atau rumah teman. Remaja cenderung memilih di rumah teman, karena
merasa lebih leluasa. Sumber media pornografi sebagian besar diperoleh melalui
teman, menyewa atau membelinya sendiri akibat dorongan rasa ingin tahu yang
tinggi. Keingintahuan remaja adalah hal yang wajar, namun bagaimana
mengemasnya dan cara penyampaian informasi yang tepat, agar remaja tidak
salah menafsirkannya.

c. Mengalami Masalah Masturbasi dan Hubungan seksual

Pemahaman remaja mengenai masturbasi atau onani masih sangatlah


rendah. Dan dikalangan remaja berpendapat bahwa jika melakukan masturbasi
atau onani berarti melakukan perbuatan yang melanggar norma. Hubungan
seksual merupakan perilaku seksual yang tertinggi, karena jika remaja berani
melakukan hal tersebut berarti remaja telah dan harus siap menerima segala resiko
yang akan dihadapi.
Pada umumnya usia pertama kali melakukan hal tersebut berkisar 15-19
tahun. Pada masa ini memang secara fisik telah siap, namun banyak hal lain perlu
diingat bahwa resikonya pun akan besar. Pacar merupakan pasangan utama
melakukan hubungan seks tersebut. Hal ini berarti kondisi pacaran dapat
mendorong dan merangsang untuk melakukannya. Didukung dengan pacaran
yang dilakukan di rumah tanpa adanya pengawasan dari orang tua atau saudara.
Alasan utama remaja melakukan hubungan seksual adalah karena cinta atau sama-
sama mau, terangsang dan rasa ingin tau. Jika dilihat dari umur remaja pertama
kali melakukan hubungan seksual, telah dapat tercermin bahwa memang ketiga
alasan di atas lah yang mendorong seorang remaja menyerahkan kehormatannya
(Papalia.dkk,2008)

d. Mengalami berbagai Permasalahan Remaja

Apabila remaja dihadapkan dalam suatu kondisi yang tidak diinginkan


maka tjika terjadi kehamilan, remaja kebanyakan akan memilih akan
meneruskannya dan menikah, karena menurut kalangan remaja bahwa
pengguguran kandungan merupakan perbuatan yang tercela. Dan jika pun
pengguguran kandungan yang dipilih maka hal tersebut akan dilakukan dengan
seorang dokter kandungan.( Harfina, D. S, tanpa tahun)

Monks, Knoers, Hadiyanto, S. R. 1982. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam


berbagai bagiannya.Yogjakarta : UGM Press.

Harfina, D. S. Perilaku Seksual Remaja dan Tingkat Pendidikan. Kasus di Kota


Bengkulu dan Surabaya. Available from : URL:http://www.katalog.pdii.lipi.go.id.

Papalia, D. E., Old, S. W., Feldman, R. T. 2008. Human Development (Psikologi


Perkembangan) Bagian V s/d IX. Jakarta : Penerbit Kencana.

Harfina, D. S. Perilaku Seksual Remaja dan Tingkat Pendidikan. Kasus di Kota


Bengkulu dan Surabaya. Available from : URL:http://www.katalog.pdii.lipi.go.id.