Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Oleh Kelompok 6 :
1. SIGIT TRIMAYANTO (15030194060)
2. SORAYA (15030194061)
3. RUSDIANA DEWI (15030194073)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2015
A. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan yang saling berhubungan untuk satu
tujuan tertentu,dan saling berkualifikasi yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi
Pancasila pada dasarnya satu bagian/unit-unit yang saling berkaitan satu sama lain,dan
memiliki fungsi serta tugas masing-masing.

 Definisi Sistem :
Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan, yang bagian dan unsurnya saling
berkaitan (singkron), saling berhubungan (konektivitas), dan saling bekerjasama satu
sama lain untuk satu tujuan tertentu dan merupakan keseluruhan yang utuh
 Definisi Filsafat :
Filsafat dalam Bahasa Inggris yaitu Philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari
Bahasa Yunani yaitu Philosophia, yang terdiri atas dua kata yaitu Philos (cinta)
atau Philia (persahabatan, tertarik kepada) dan Sophos (hikmah, kebijaksanaan,
pengetahuan, keterampilan, intelegensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta
kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filosof yang dalam
bahasa Arab disebut Failasuf. Dalam artian lain Filsafat adalah pemikiran fundamental
dan monumental manusia untuk mencari kebenaran hakiki (hikmat, kebijaksanaan);
karenanya kebenaran ini diakui sebagai nilai kebenaran terbaik, yang dijadikan
pandangan hidup (filsafat hidup, Weltanschauung). Berbagai tokoh filosof dari
berbagai bangsa menemukan dan merumuskan sistem filsafat sebagai ajaran terbaik
mereka; yang dapat berbeda antar ajaran filosof. Karena itulah berkembang berbagai
aliran filsafat: materialisme, idealisme, spiritualisme; realisme, dan berbagai aliran
modern: rasionalisme, humanisme, individualisme, liberalisme-kapitalisme, sosialisme
dll.
 Definisi Pancasila:
Pancasila adalah lima sila yang merupakan satu kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur
yang bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan
beragam dalam artian BHINEKA TUNGGAL IKA. Esensi seluruh sila-silanya
merupakan suatu kasatuan. Pancasila berasal dari kepribadian Bangsa Indonesia dan
unsur-unsurnya telah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sejak dahulu. Objek materi filsafat
adalah mempelajari segala hakikat sesuatu baik materal konkrit (manusia,binatang,alam
dll) dan abstak (nilai,ide,moral dan pandangan hidup).
 Intisari Pancasila Sebagai Sistem Filsafat:
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada paragraf pertama, makna dasar Pancasila
Sebagai Sistem Filsafat adalah dasar mutlak dalam berpikir dan berkarya sesuai dengan
pedoman diatas, tentunya dengan saling mengaitkan antara sila yang satu dengan
lainnya. Misal : Ketika kita mengkaji sila kelima yang intinya tentang kedilan. Maka
harus dikaitkan dengan nilai sila-sila yang lain artinya :
 Keadilan yang ber keTuhanan (sila 1)
 Keadilan yang berPrikemanusian (sila 2)
 Keadilan yang berKesatuan/Nasionalisme,Kekeluargaan (sila 3)
 Keadilan yang Demokratis
Dan kesemua sila-sila tersebut saling mencakup,bukan hanya di nilai satu
persatu. Semua unsur (5 sila) tersebut memiliki fungsi/makna dan tugas masing-masing
memiliki tujuan tertentu.
Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan
organisasi. Antara sila-sila itu saling berhubungan, saling berkaitan, bahkan saling
mengkualifikasi.
B. Pokok – Pokok Pikiran dalam Pancasila
a) SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
 Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
 Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut
kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
 Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya.
 Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
b) SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
 Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama
manusia.
 Saling mencintai sesama manusia.
 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
 Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu
dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
c) SILA PERSATUAN INDONESIA
 Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara
di atas kepentingan pribadi atau golongan.
 Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
 Cinta Tanah Air dan Bangsa.
 Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
d) SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
 Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
 Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
musyawarah.
 Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-
nilai kebenaran dan keadilan.
e) SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
 Bersikap adil, Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
 Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
 Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
C. Pengertian Nilai, Moral, dan Norma
Pengertian nilai, menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat,
atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara
fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan
kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Sedangkan menurut Dictionary
dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap
memiliki nilai apabila sesuatu tersebut secara instrinsik memang berharga.
Nilai memiliki tingkatan tertentu, yaitu :
1. Nilai dasar adalah nilai yang mendasari nilai instrumental, mendasari semua aktivitas
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang tercermin di dalam Pancasila
yang secara eksplisit tertuang dalam UUD 1945. Nilai dasar sifatnya sangat
fundamental.
2. Nilai instrumental merupakan manivestasi dari nilai dasar, berupa pasal-pasal UUD
1945, perundang-undangan, ketetapan-ketetapan, dan peraturan-peraturan lainnya
yang berfungsi menjadi pedoman, kaidah, petunjuk kepada masyarakat untuk
mentaatinya.
3. Nilai praksis merupakan penjabaran dari nilai instrumental dan berkaitan langsung
dengan kehidupan nyata, yaitu suatu kehidupan yang penuh diwarnai oleh
pertimbangan-pertimbangan tertentu yang sifatnya cenderung pada hal yang
bermanfaat dan menguntungkan.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian dan makna nilai
adalah suatu bobot/kualitas perbuatan kebaikan yang terdapat dalam berbagai hal yang
dianggap sebagai sesesuatu yang berharga, berguna, dan memiliki manfaat.

Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang,


baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan
pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadaikan anak manusia bermoral dan
manusiawi. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik-buruk
yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri
individu, tetapi moral berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan moralitas
memiliki sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk sedangkan moralitas
merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, hakekat dan makna moralitas
bisa dilihat dari cara individu yang memiliki moral dalam mematuhi maupun menjalankan
aturan.
Menurut Lickona ada tiga kerangka pikir moral yang dikenal dengan educating for
charakter (1992) :

 Konsep moral (moral knowing) mencakup kesadaran moral (moral awarness),


pengetahuan nilai moral (knowing moral value), pandangan ke depan (perspective
talking), penalaran moral (reasoning), pengambilan keputusan (decision making), dan
pengetahuan diri (self knowledge).
 Sikap moral (moral feeling) mencakup kata hati (conscience), rasa percaya diri (self
esteem), empati (emphaty), cinta kebaikan (loving the good), pengendalian diri (self
control), dan kerendahan hati (and huminity).
 Prilaku moral (moral behavior) mencakup kemampuan (compalance), kemauan (will)
dan kebiasaan (habbit).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian moral/ moralitas adalah
suatu tuntutan prilaku yang baik yang dimiliki individu sebagai moralitas, yang tercermin
dalam pemikiran/konsep, sikap, dan tingkah laku. Dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila,
moral sangat penting untuk ditanamkan pada mahasiswa, karena proses pembelajaran
Pancasila bertujuan untuk membentuk moral mahasiswa, yaitu moral yang sesuai dengan nilai
falsafah hidupnya.

Pengertian norma adalah tolok ukur/alat untuk mengukur benar salahnya suatu sikap
dan tindakan manusia. Normal juga bisa diartikan sebagai aturan yang berisi rambu-rambu
yang menggambarkan ukuran tertentu, yang di dalamnya terkandung nilai benar/salah. Dari
segi bahasa Norma berasal dari bahasa inggris yakni norm. Dalam kamus
oxford norm berarti usual or expected way of behaving yaitu norma umum yang berisi
bagaimana cara berprilaku.
Norma adalah patokan prilaku dalam satu kelompok tertentu, norma memungkinkan
sesorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai oleh orang
lain, norma juga merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau menolak prilaku
seseorang.
Norma juga merupakan sesuatu yang mengikat dalam sebuah kelompok masyarakat,
yang pada keselanjutannya disebut norma sosial, karena menjaga hubungan dalam
bermasyarakat. Norma pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena awal dari sebuah
budaya itu sendiri adalah intraksi antara manusia pada kelompok tertentu yang nantinya akan
menghasilkan sesuatu yang disebut norma.
Norma terdiri dari beberapa macam/jenis, antara lain yaitu :
1. Norma Agama
2. Norma Kesusilaan
3. Norma Kesopanan
4. Norma Kebiasaan (Habit)
5. Norma Hukum
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa norma adalah petunjuk hidup bagi
warga yang ada dalam masyarakat, karena norma tersebut mengandung sanksi. Siapa saja, baik
individu maupun kelompok, yang melanggar norma dapat hukuman yang berwujud sanksi,
seperti sanksi agama dari Tuhan dan dapartemen agama, sanksi akibat pelanmggaran susila,
kesopanan, hukum, maupun kebiasaan yang berupa sanksi moral dari masyarakat.
D. Pancasila Sebagai Nilai Dasar dan Maknanya

Pancasila diterima sebagai pandangan hidup dan dasar negara membawa


konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu dijadikan landasan pokok,
landasan fundamental bagi pengaturan serta penyelenggaraan negara.
Makna Pancasila Sebagai Dasar Negara ialah Pancasila berperan sebagai landasan
dan dasar bagi pelaksanaan pemerintahan, membentukan peraturan, dan mengatur
penyelenggaraan negara. Melihat dari makna pancasila sebagai dasar negara kita tentu
dapat menyimpulkan bahwa pancasila sangat berperan sebagai kacamata bagi bangsa
Indonesia dalam menilai kebijakan pemeritahan maupun segala fenomena yang terjadi di
masayrakat.

1. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa


Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti keyakinan dan pengakuan yang
diekspresikan dalam bentuk perbuatan Zat Yang Maha Tunggal tiada duanya. Hal ini
menuntut manusia Indonesia untuk bersikap hidup, berpandangan hidup taat (setia pada
perintah dan hormat/cinta kepada Tuhan) dan Taklim (memuliakan Tuhan, memandang
Tuhan teragung, tertinggi dan terluhur).
Nilai ini memberikan kebebasan kepada pemeluk agama sesuai dengan
keyakinannya, tak ada paksaan dan saling menghormati dan kerjasama dengan antar umat
beragama.

2. Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, bermakna : kesadaran sikap dan
perilaku yang sesuai dengan nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan mutlak
hati nurani dengan memperlakukan suatu hal sebagaimana mestinya.
Perwujudan dari sila keempat yaitu pengakuan hak asasi manusia, menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa.
Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan.

3. Nilai Persatuan Indonesia


Nilai persatuan Indonesia mengandung arti usaha kea arah bersatu dalam
kebulatan rakyat untuk membina Nasionalisme dalam negara .
Dalam nilai persatuan terkandung adanya perbedaan-perbedaan dalam kehidupan
masyarakat dan bangsa baik berbedaan bahasa, kebudayaan, adat-istiadat, agama maupun
suku. Perbedaan-perbedaan itu bukan untuk diperselisihkan namun justru menjadi daya
tarik kea rah kerjasama, kea rah resultante/sintesa yang lebih harmonis sesuai semboyan
Bhineka Tunggal Ika.
Dalam membangun kebersamaan sebagai wujud nilai persatuan itu antar elemen
yang terlibat di dalamnya, satu sama lain saling membutuhkan-saling ketergantungan-
saling memberi yang pada gilirannya dapat menciptakan kehidupan selaras serasi dan
seimbang.
4. Nilai Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Nilai sila keempat mengandung makna suatu pemerintahan rakyat dengan cara
melalui badan-badan tertentu dala menetapkan sesuatu peraturan di tempuh dengan jalan
musyawarah untuk mufakat atas dasar kebenaran dari Tuhan dan putusan akal sesuai
dengan rasa kemanusiaan yang memperhatika dan mempertimbangkan kehendak rakyat
untuk mencapai kebaikan hidup bersama.
Demokrasi pancasila pahamnya adalah kekeluargaan, kebersamaan. Dalam
mewujudkan nilai demokrasi pancasila, semua manusia Indonesia sebagai warga Negara
dan warga masyarakat mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
Menghormati dan mentaati keputusan bersama melalui lembaga perwakilan rakyat yang
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nulai-nilai kebebasan dan keadilan
yang mengutamakan kepentingan bangsa.
Nilai demokrasi di bidang ekonomi dengan mewujudkan kesejahteraan
bersama. Demokrasi keadilan sosial berfungsi memenuhi kebutuhan hidup.

5. Nilai keadilan social Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Makna yang terkandung di dalam nilai-nilai sila kelima adalah suatu tata
masyarakat yang adil dan makmur sejahtera lahiriah batiniah, yang setiap warga negara
mendapat segala sesuatu yang menjadi haknya sesuai dengan essensi adil dan beradab.
Wujud pelaksanaannya adalah bahwa setiap warga negara harus mengembangkan
sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan, keserasian, keselarasan antara hak dan
kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
Nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama yaitu:
a. Keadilan Distributif
Suatu hubungan keadilan dari Negara terhadap warganya, Negara wajib
memberikan apa yang telah menjadi hak warganya. Seperti kesejahteraan, bantuan, subsidi
serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban.
b. Keadilan komutatif
Suatu hubungan keadilan antara warga negara satu dan lainnya secara timbal
balik. Memperlakukan sesama manusia sebagai pribadi yang sama martabatnya dan wajib
memberikan sesama warga masyarakat sesuatu yang telah menjadi haknya.

c. Keadilan legal/ keadilan untuk bertaat


Suatu hubungan keadilan dari warga Negara terhadap Negara, pihak warga
negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk menaati peraturan perundang-
undangan yang berlaku dalam Negara.
Selain keadilan diatas, ada juga dua bentuk keadilan lagi, yaitu:
a) Keadilan Tuhan
Menyangkut masalah perbuatan dan ganjaran.
b) Keadilan Lingkungan
Kita wajib menjaga dan melestarikan lingkungan sehinnga memperoleh imbalan
yang dihasilkan oleh lingkungan kita.
DAFTAR PUSTAKA

http://coretanseadanya.blogspot.co.id/2012/09/pengertian-nilai-moral-dan-norma-
dalam.html, Diakses pada hari Jumat, 25 September 2015
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2014/06/makna-pancasila-sebagai-dasar-
negara.html, Diakses pada hari Jumat, 25 September 2015
http://setyamaini.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-nilai-moral-dan-norma.html,
Diakses pada hari Minggu, 27 September 2015
http://nadiyyazummi.blogspot.co.id/2012/10/4-pokok-pikiran-pendidikan-
pancasila.html, Diakses pada hari Sabtu, 26 September 2015
http://cecepsuhardiman.blogspot.co.id/2013/06/pancasila-sebagai-sistem-filsafat.html,
Diakses pada hari Jumat, 25 September 2015
https://www.academia.edu/4968743/Pancasila_sebagai_Sistem_Filsafat, Diakses pada
hari Jumat, 25 September 2015