Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator dalam menentukan
derajat kesehatan anak. Periode neonatal (28 hari pertama kehidupan)
merupakan waktu yang paling rentan untuk kelangsungan hidup anak.
Tahun 2013 hampir 1 juta bayi baru lahir meninggal pada 24 jam pertama
kehidupan, artinya sebesar 16% dari total kematian balita dan lebih dari sepertiga
dari total kematian neonatal. Dua juta bayi baru lahir meninggal dalam tujuh hari
pertama kehidupan (73% dari kematian neonatal). Tahun 1990 sampai dengan
tahun 2013, 86 juta bayi baru lahir yang lahir di seluruh dunia meninggal 28 hari
pertama kehidupan (WHO, 2015).
Penyebab utama kematian neonatal secara global meliputi komplikasi dari
kelahiran prematur (35%), komplikasi yang terjadi pada saat intrapartum
(komplikasi selama persalinan dan melahirkan) (24%), dan sepsis (15%). Ketiga
penyebab kematian neonatal menyebabkan hampir tiga perempat dari seluruh
kematian neonatal (UNICEF, 2015). Komplikasi dari kelahiran prematur dan
komplikasi persalinan merupakan penyebab dari terjadinya asfiksia neonatorum.

Penyebab utama kematian neonatal dini di Indonesia berdasarkan trend


kematian neonatal dari tahun 2001–2007 adalah gangguan pernapasan ketika
lahir (birth asphyxia, respiratory distress syndrome, aspirasi meconium),
prematur dan berat badan lahir rendah untuk bayi neonatal dini, serta sepsis
neonatorum (Djaja dkk, 2009).
Kehamilan postterm, disebut juga kehamilan serotinus, kehamilan lewat
waktu, kehamilan lewat bulan, prolonged pregnancy, extended pregnancy,
postdate/ pos datisme atau pasca maturitas , adalah kehamilann yang
berlangsung 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid
terakhir menurut rumus Neagle dengan siklus haid rata-rata 28 hari
(Prawirohardjo, 2014).
Pada kehamilan postterm terjadi perubahan biokimia, yaitu adanya
insufisiensi plasenta menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA

1
(deoxyribonucleid Acid) dibawah normal, sedangkan konsentrasi RNA
(Ribonucleid Acid) meningkat. Transport kalsium tidak terganggu, aliran natrium,
kalium, dan glukosa menurun. Pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi
seperti asam amino, lemak, dan gama globulin biasanya mengalami gangguan
sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intauterin
(Prawirohardjo, 2014).
Tumbuh dan berkembangnya janin di dalam rahim tergantung pada fungsi
penting plasenta yaitu sebagai respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin,
penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau
sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi tersebut terganggu, maka janin
seperti “tercekik”. Dalam kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami
proses penuaan sehingga fungsinya akan menurun atau berkurang. Menurunnya
fungsi plasenta ini akan berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Bayi mulai kekurangan asupan gizi dan persediaan oksigen dari ibunya. Selain
itu cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau. Sehingga cairan
dapat terhisap masuk ke dalam paruparu dan menyumbat pernafasan bayi. Janin
juga dapat lahir dengan berat badan yang berlebih (Hasnah Siregar, 2009 dalam
jurnal penelitian oleh Eka Wijayanti).
Berdasarkan buku karangan Dewi (2010) asfiksia neonatorum merupakan
suatu keadaan pada bayi baru lahir yang mengalami gagal bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan
oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya. Asfiksia
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu Vigorous baby yaitu asfiksia ringan (nilan APGAR
7-10) bayi sehat kadang tidak membutuhkan tindakan istimewa, Moderate
asphyksia atau asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6), dan Severe asphyksia atau
asfiksia berat (nilai APGAR 0-3) (Sukarmi, 2014).
Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru
lahir, diantaranya adalah faktor dari ibu yaitu, Preeklampsia dan eklampsia,
pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta), partus lama atau
partus macet, demam selama persalinan Infeksi berat, kehamilan Lewat Waktu
(sesudah 42 minggu kehamilan). Kemudian faktor tali pusat yaitu, lilitan tali
pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus tali pusat. Faktor dari fetus
(keadaan bayi) yaitu, bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan
dengan tindakan, kelainan bawaan (kongenital), air ketuban bercampur
2
mekonium (warna kehijauan) (Asri, 2010).
Pengaruh kehamilan postterm atau serotinus terhadap janin sampai saat ini
masih di perdebatkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kehamilan serotinus
menambah bahaya pada janin, sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan
bahwa bahaya kehamilan postterm atau serotinus terhadap janin terlalu
dilebihkan (Prawirohardjo, 2014).

B. Tujuan Menganalisis Jurnal


Tujuan dari analisis jurnal ini adalah:
1. Mengetahui ada tidaknya hubungan kehamilan postterm dengan kejadian
Asfiksia Neonatorum
2. Mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian asfiksia
pada Neonatus.
3. Membandingkan hasil penelitian tentang ada tidaknya hubungan kehamilan
postterm dengan kejadian Asfiksia Neonatorum di dua intitusi yang berbeda

C. Manfaat Analisis Jurnal


1. Dapat mengetahui ada tidaknya hubungan kehamilan postterm dengan
kejadian Asfiksia Neonatorum
2. Sebagai acuan dalam memberikan health education tentang faktor-faktor
penyebab Asfiksia.
3. Membandingkan hasil jurnal dengan teori yang telah ada

3
BAB II
RESUME JURNAL

A. Hubungan Kehamilan Postterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum


Nama peneliti : Laeli Sukmawati
Judul peneitian : HUBUNGAN KEHAMILAN POSTTERM DENGAN
KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RSUD
AMBARAWA TAHUN 2015
Tempat dan waktu : Ruang Bersalin RSUD Ambarawa tahun 2015
penelitian
Tujuan penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara kehamilan post term
dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ambarawa
tahun 2015
Metode penelitian : Desain penelitian dalam penelitian ini adalah Observasional
analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional,
Sampel dalam penelitian yaitu seluruh populasi yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yakni sebanyak 270
orang yang di peroleh dengan teknik purposive sampling.
Analisis data menggunakan uji chi square dengan α 0,05
Hasil penelitian : Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD
Ambarawa yaitu terdapat hubungan antara kehamilan
postterm dengan kejadian asfiksia neonatorum dengan p-
value = 0,004 < α (0,05) dan nilai OR (Odd Rasio) = 3,538
atau OR > 1 artinya wanita yang melahirkan pada usia
kehamilan postterm mempunyai peluang 3,538 kali lebih
beresiko untuk melahirkan bayi dengan asfiksia
neonatorum di bandingkan wanita yang bersalin pada usia
kehamilan aterm

B. Hubungan Kehamilan Serotinus dengan Kejadian Asfiksia pada Bayi Baru


Lahir
Nama peneliti : Anggit Eka Ratnawati
Judul peneitian : HUBUNGAN KEHAMILAN SEROTINUS DENGAN

4
KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR
Tempat dan waktu : Penelitian ini dilakukan di Ruang Bersalin RSUD
penelitian Panembahan Senopati Bantul, Kabupaten Bantul,
Yogyakarta dilakukan selama delapan hari dari tanggal 10
Juni 2015 - 18 juni 2015
Tujuan penelitian : untuk mengetahui hubungan kehamilan serotinus dengan
kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD
Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Tahun 2015
Metode penelitian : Metode penelitian yang digunakan berupa deskriptif
korelatif, Teknik sampling menggunakan purposive
sampling, Analisis data dengan uji Mann-Whitney.
Hasil penelitian : ada hubungan kehamilan serotinus dengan kejadian
asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Panembahan
Senopati Bantul Yogyakarta tahun 2015.

C. Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum


(Studi Di RSUD Tugurejo Semarang)
Nama peneliti : Gilang, Harsoyo Notoatmodjo dan Maya Dian Rakhmawatie
Judul peneitian : Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum (Studi Di RSUD Tugurejo Semarang)
Tempat dan waktu : Penelitian ini dilakukan di RSUD Tugurejo Semarang,
penelitian Januari - Maret 2012
Tujuan penelitian : Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum (Studi Di RSUD Tugurejo Semarang)
Metode penelitian : Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan
pendekatan cross sectional dengan menggunakan data
rekam medis pasien asfiksia neonatorum dengan
persalinan letak sungsang dan penyulit kehamilan
persalinan lainnya dari 1 Januari 2009- 31 Desember 2010
di RSUD Tugurejo Semarang sebanyak 69 kasus. Analisis
data dilakukan secara univariat, bivariat dengan Uji Chi-
Square dan Uji Fisher’s Exact pada beberapa variabel
tertentu dan multivariat dengan uji regresi logistik.

5
Hasil penelitian : Dalam penelitian ini ada 11 variabel yang diduga
berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum,
Berdasarkan tabel diatas ternyata ada
tujuh variabel yang berhubungan dengan kejadian asfiksia
neonatorum dengan nilai p-value nya <0,05 yaitu, umur,
perdarahan antepartum, Berat Badan Lahir (BBL),
pertolongan persalinan letak sungsang perabdominam,
pertolongan persalinan letak sungsang pervaginam, partus
lama atau macet dan Ketuban Pecah Dini (KPD).

D. ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN


ASFIKSIA NEONATORUM
Nama peneliti : Agustin Dwi Syalfi dan Shrimarti Rukmini Devy
Judul peneitian : ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH
TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM
Tempat dan waktu : Penelitian ini dilakukan di RSUD Prof. Dr. Soekandar
penelitian Mojosari kabupaten Mojokerto, pada bulan Maret–Juni
2015
Tujuan penelitian : untuk menganalisis pengaruh kualitas antenatal care
terhadap neonatorum asfi ksia di kabupaten Mojokerto
Metode penelitian : Jenis penelitian observasional analitik dengan desain case
control dengan besar sampel kasus dan kontrol sebesar 80
bayi. Data dianalisis menggunakan univariat, bivariat dan
analisis multivariat dengan uji regresi logistik
Hasil penelitian : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas antenatal
care berpengaruh signifi kan terhadap asfi ksia neonatorum
(OR = 8.556; 95% CI: 2,777–26,358). Variabel perancu
yang berpengaruh terhadap asfi ksia neonatorum adalah
pekerjaan ibu (OR = 4.558; 95% CI: 1,391–14,298),
pendidikan dasar (OR = 21.620; 95% CI: 1,932–241,886),
pendidikan menengah (OR = 20.977; 95% CI: 1,819–
241,872).

E. TERAPI NEBULIZER
6
Nama peneliti : Nur Rochmah Kurniati
Judul peneitian : Perbedaan efektifitas Pemberian Nebulizer dengan
Menggunakan Mouthpice Dibandingkan dengan Masker
pada Penderita TB Paru di BBKPM Surakarta
Tempat dan waktu : Di Balai Besar Kesehatan Paru masyarakat Surakarta
penelitian bulan pada tanggal 5 Desember 2014 – 6 Januari 2015
Tujuan penelitian : Untuk mengetahui perbedaan efektifitas penggunaan
Nebulizer dengan menggunakan mouthpiece dibandingkan
dengan masker pada penderita TB Paru
Metode penelitian : Quasi experimental dengan pendekatan time series design,
pengambilan sample dengan tehnik purposive sampling
Saran penelitian : Terdapat perbedaan yang bermakna antara efektifitas
pemberian nebulizer dengan menggunakan mouth piece
disbanding dengan masker, didapatkan p=0,007 (p<0,05)

F. Korelasi antara isi jurnal dengan realita sudah ada


Hasil penelitian di jurnal ini menyatakan bahwa frekuensi pernapasan
sebelum diberikan posisi semi fowler sebagian besar termasuk frekuensi sesak
napas sedang sampai berat. dan frekuensi pernapasan setelah diberikan posisi semi
fowler sebagian besar termasuk frekuensi pernapasan normal, Hal tersebut berbeda
dengan kondisi riil di klinis atau lapangan perawatan dilakukan lansung
mengarah pada tindakan medis atau farmakologi seperti dilakukan pemasangan O2
dan pemberian nebulizer. tanpa menggunakan tindakan keperawatan dan
memandirikan pasien.

G. Perbandingan isi jurnal dengan teori yang lain


Isi jurnal : Menunjukkan bahwa adanya pengaruh pemberian posisi
semi fowler terhadap kestabilan pola napas pada pasien TB
paru dengan nilai p value = 0,000. Dengan demikian pada
pasien TB paru dapat diberikan posisi semi fowler yang
merupakan salah satu cara untuk membantu mengurangi
sesak napas
Posisi yang paling efektif bagi pasien dengan penyakit

7
kardiopulmonari adalah diberikannya posisi semi fowler dengan
derajat kemiringan 30-45° (Yulia, 2008)
Teori yang lain : Penggunaan Nebulizer
Menunjukkan bahwa adanya pengaruh pemberian nebulizer
terhadap kestabilan pola napas pada pasien TB Paru dengan
nilai p value = 0,007. Dengan demikian pada pasien TB paru
dapat diberikan Nebulizer yang merupakan salah satu cara
untuk membantu mengurangi sesak napas
Nebulizer merupakan jenis sediaan farmasi dengan cara
penggunaan yang khusus, keberhasilan terapi sangat
dipengaruhi oleh ketepatan cara penggunaannya. Pasien yang
menggunakan nebulizer harus dilatih secara hati-hati mengenai
cara penggunaannya, karena mereka mungkin akan tergantung
alat tersebut. Percobaan terapi dengan nebulizer perlu
dilakukan 3-4 minggu untuk menilai manfaat yang didapatkan
secara signifikan dan untuk dinyatakan bermanfaat, terapi ini
normalnya harus dapat memberikan perbaikan sedikitnya 15%
dari nilai sebelum terapi (Cates et al., 2002). Nebulizer dapat
digunakan pada semua usia, dan untuk beberapa tingkat
keparahan penyakit tertentu (Geller, 2005). Kerugian dari
nebulizer adalah kurang diperlukannya koordinasi pasien
terhadap alat ini, umumnya kesalahan yang terjadi pada pasien
yang menggunakan nebulizer adalah kebanyakan pasien
menghirup terlalu cepat (Al showair et al., 2007)

8
BAB III
PEMBAHASAN

A. Posisi semi fowler


Posisi semi fowler (setengah duduk) adalah posisi tidur pasien dengan
kepala dan dada lebih tinggi dari pada posisi panggul dan kaki dimana kepala
dan dada dinaikkan dengan sudut 30-450
Posisi semi fowler membuat oksigen didalam paru-paru semakin
meningkat sehingga memperingan kesukaran napas. Posisi ini akan mengurangi
kerusakan membrane alveolus akibat tertumpuknya cairan. Hal tersebut
dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga O2 delivery menjadi optimal. Sesak
nafas akan berkurang dan akhirnya perbaikan kondisi klien lebih cepat.
Terlepas dari pemberian posisi semifowler , tidak terhadap reaksi kurang
baik yang ditemukan dengan kata lain posisi semi fowler tidak menyebakan
malfungsi jaringan paru. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa posisi
semi fowler dapat memberikan kestabilan pola napas pada pasien TB paru

B. Keuntungan dan kerugian


Beberapa keuntungan atau implikasi hasil dari penelitian terhadap profesi
keperawatan yaitu dapat berguna dalam menyebarluaskan informasi terhadap

9
rekan – rekan seprofesi tentang pengaruh pemberian posisi semi fowler terhadap
kestabilan pola napas, mewujudkan evidence based practice terutama dalam hal
pengelolaan pasien TB paru yang mengalami sesak napas untuk meningkatkan
kualitas pernapasannya dengan menggunakan terapi nonfarmakologi, serta
menjadikan salah satu acuan bagi rekan – rekan profesi keperawatan untuk
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dengan cara pemberian intervensi
keperawatan yang mandiri khususnya terhadap pasien TB paru yang mengalami
sesak napas, Sedangkan kerugian pemberian posisi semi fowler secara empiris
belum ditemukan secara signifikan

C. Analisis perbandingan kasus dengan jurnal


Berdasarkan hasil pengkajian pada kasus binaan saya pada Ny. R dengan
diagnose TB paru dan di dapat data sebagai berikut :
DS:
Keluarga klien mengatakan klien selalu selalu sesak
Klien mengatakan tidurnya sangat terganggu
Keluarga klien mengatakan klien selalu batuk
DO:
Klien tampak sesak
Terpasang O2 3 liter/menit
Klien tampak pucat
RR 32x/menit
Dari data tersebut diambil masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak
efektif bd penumpukan secret(peningkatan produksi mucus)
Dari hasil penelitian di jurnal berdasarkan ,
Hasil penelitian frekuensi pernapasan sebelum diberikan posisi semi fowler
termasuk frekuensi sesak napas sedang sampai berat dan frekuensi pernapasan
setelah diberikan posisi semi fowler termasuk frekuensi pernapasan normal.
Simpulan Terdapat pengaruh pemberian posisi semi fowler terhadap kestabilan pola
napas pada pasien TB paru dengan nilai p value = 0,000. Rekomendasi
Mewujudkan evidence based practice terutama dalam hal pengelolaan pasien TB

10
paru yang mengalami sesak napas untuk meningkatkan kualitas pernapasannya
dengan terapi nonfarmakologi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diterapkan pada kasus Ny. R dengan diagnose
TB paru dengan rencana keperawatan sebagai berikut :
Setelah dilalakukan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan sesak
nafas klien berkurang dengan kriteria hasil:
 Klien tampak rileks
 Klien tidak sesak
 RR 16-24 x/mt
 Tidak ada tarikan dinding dada

Intervensi :
1. Pertahankan O2 3 liter/ menit
2. Berikan posisi semifowler dengan derajat kemiringan 30-450
3. Evaluasi pola nafas klien dan frekuensi pernafasan setelah dilakuakan posisi
semifowler
4. Anjurkan klien untuk melakukan posisi semi fowler ketika sesak nafas
Implementasi :
1. Mempertahankan O2 3 liter/ menit
2. Memberikan posisi semifowler dengan derajat kemiringan 30-450
3. Mengevaluasi pola nafas klien dan frekuensi pernafasan setelah dilakuakn posisi
semifowler
4. Menganjurkan klien untuk melakukan posisi semi fowler ketika sesak nafas

Evaluasi
S:
 Klien mengatakansesak sudah berkurang
 Klien mengatakan merasa nyaman
O:
 Klien terlihat rileks
 Posisi klien semi fowler
 R : 28 x/ menit.
11
A: masalah sesak nafas pada klien bisa terkontrol
P: lanjutkan intervensi
1. Evaluasi pola nafas klien dan frekuensi pernafasan setelah dilakuakn posisi
semifowler
2. Anjurkan klien untuk melakukan posisi semi fowler ketika sesak nafas

D. Analisa SWOT
Berdasarkan analisis dari jurnal Pengaruh Pemberian Posisi Semi Fowler
Terhadap Kestabilan Pola Napas Pada Pasien Tb Paru Di Irina C5 Rsup Prof Dr.
R. D. Kandou Manado untuk di terapkan pada klien pasien TB paru yang
berada diruang IGD RSUD dr. R. Soetrasno Rembang didapatkan sebagai
berikut:
S (kekuatan ) : 1. Tenaga kesehatan yang berada ruang alamanda terdiri
dari perawat yang memiliki pengetahuan tentang
pemberian posisi semi fowler
2. Perawat mengajarkan keluarga dan pasien tentang tata
cara memberikan posisi semi fowler dalam menurunkan
sesak nafas klien
W ( Kelemahan) : Pada pasien yang diberikan semifowler anak anak sehingga
perlu bantuan untuk mengondisikan ketenangan anak yang
gelisah saat mengalami sesak nafas
O (Kesempatan ) : 1. Keluarga klien menerima dengan baik semua kegiatan
yang di berikan
2. tertuang didalam Standar SOP dalam pemberian posisi
semifowler
3. Membantu intervensi dalam pemberian suatu therapy
T (Ancaman) : 1. klien yang mengalami TB paru diruang IGD RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang adalah orang tua
2. Orang tua beranggapan dirinya selalu merepoti orang lain

12
E. Penelitian terkait

PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER TERHADAP RESPIRATORY


RATE PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DI RSUD
KABUPATEN PEKALONGAN

Marwah Burhan, Nida Ani Shofia, Rita Dwi Hartanti

ABSTRACT

Non invasive nursing actions that can independently reducing the shortness of
breath in patients with pulmonary tuberculosis is the provision of semi fowler position
with a slope of 450 level. The prevalence of pulmonary tuberculosis patients in
Kabupaten Pekalongan in 2011 amounted to 339 people. In 2012 amounted to 278
people. In 2013 amounted to 368 people. In 2014 amounted to 289 people. Semi
fowler position aimed at reducing the risk of static pulmonary secrestions and
reduces the risk of a decrease in the devolopment of the chest. The purpose of this
study was to determine the effect of semi fowler position to the respiratory rate of
pulmunary tuberculosis patients in RSUD Kabupaten Pekalongan. This study uses
quasy experiment design with one group pretest and posttest approutch. Sampling
using purposive sampling with a total of 20 respondents. Based on statistical test

13
sample paired T-test ρ value of 0,0001 < α (0,05). Which mean there is the effect of
semi fowler position to the respiratory rate of pulmonary tuberculosis patients in
RSUD Kabupaten Pekalongan. Provision of semi fowler position can be used by
health workers as intervention in overcoming shortness of breath in patients with
pulmonary tuberculosis.
Keywords : Pulmonary tuberculosis, Dyspnea, Semi fowler

KEEFEKTIFAN PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER TERHADAP PENURUNAN


SESAK NAFAS PADA PASIEN ASMA DI RUANG RAWAT INAP KELAS III RSUD
Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Refi Safitri, Annisa Andriyani


Prodi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta

Abstrak;

Berdasarkan survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001 diketahui bahwa


penyakit saluran nafas merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di
Indonesia setelah penyakit gangguan pembuluh darah. Sebanyak antara 1,5 juta
sampai 3 juta orang di Indonesia mengidap penyakit asma, dan kurang lebih
sepertiga dari kasus asma diantaranya adalah usia dewasa. Asma merupakan suatu
penyakit obstruksi saluran nafas yang memberikan gejala–gejala batuk, mengi, dan
sesak nafas. Masalah utama pada pasien asma yang sering dikeluhkan adalah
sesak napas. Untuk mengurangi sesak nafas yaitu antara lain dengan pengaturan
posisi saat istirahat. Posisi yang paling efektif bagi pasien dengan penyakit
kardiopulmonari adalah posisi semi fowler dengan derajat kemiringan 45°, yaitu
dengan menggunakan gaya gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan
mengurangi tekanan dari abdomen pada diafragma. Tujuan; Mengetahui keefektifan
pemberian posisi semi fowler pada pasien asma guna mengurangi sesak nafas.

14
Metode; Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Quasi
Eksperiment dengan rancangan One Group Pre test-Post tets. Hasil; Terbukti ada
perbedaan sesak nafas antara sebelum dan sesudah pemberian posisi semi fowler,
dapat penelitian diperoleh hasil T-test sebesar -15,327 dengan p = 0,006.
Kesimpulan; Pemberian posisi semi fowler dapat efektif mengurangi sesak nafas
pada pasien asma.
Kata Kunci : Posisi semi fowler, Sesak nafas, Asma.

Jurnal ini di dukung oleh:


Burhan, Marwah (2014) : Pengaruh Pemberian Posisi Semi Fowler Terhadap
Respiratory Rate Pasien Tuberkulosis Paru Di RSUD
Kabupaten Pekalongan
Hasil: Based on statistical test sample paired T-test ρ
value of 0,0001 < α (0,05). Which mean there is the
effect of semi fowler position to the respiratory rate of
pulmonary tuberculosis patients in RSUD Kabupaten
Pekalongan. Provision of semi fowler position can be
used by health workers as intervention in overcoming
shortness of breath in patients with pulmonary
tuberculosis
Safitri, Refi (2011) : Keefektifan Pemberian Posisi Semi Fowler Terhadap
Penurunan
Sesak Nafas Pada Pasien Asma Di Ruang Rawat Inap
Kelas Iii Rsud Dr. Moewardi Surakarta
Hasil; Terbukti ada perbedaan sesak nafas antara
sebelum dan sesudah pemberian posisi semi fowler,
dapat penelitian diperoleh hasil T-test sebesar -15,327
dengan p = 0,006. Kesimpulan; Pemberian posisi semi
fowler dapat efektif mengurangi sesak nafas pada

15
pasien asma

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengaruh Pemberikan posisi semi fowler terhadap kestabilan pola napas pada
pasien TB paru merupakan terapi nonfarmakologi yang dapat meningkatkan
kualitas pernapasannya dan memberikan kemandirian khususnya terhadap
pasien TB paru serta menurunkan komplikasi dan mortalitas pasien TB paru.

B. Saran
1. Bagi pihak ruang IGD RSUD dr. Soetrasno Rembang diharapkan lebih aktif
lagi dalam memberikan asuhan keperawatan dengan cara pemberian
intervensi keperawatan yang mandiri khususnya terhadap pasien TB paru
yang mengalami sesak napas, dengan posisi semi fowler sehingga
diharapkan dapat menurunkan komplikasi dan mortalitas pasien TB paru.
2. Bagi pasien yang mengalami TB Paru untuk dapat melakukan posisi semi
fowler secara mandiri ketika mengalami sesak napas setelah pulang dari
rumah sakit.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Aneci Boki Majampoh (2013) ejournal keperawatan (e-Kp) Volume 1. Nomor 1.


2. Nur Rochmah Kurniati (2015) ejournal keperawatan (e-Kp) Volume 1. Nomor 1.
3. Hidayat Azis Alimul, Uliyah Musrifatul. 2012. Kebutuhan dasar Manusia Buku
saku Praktikum Edisi revisi. Jakarta. EGC.
4. Junaidi Iskandar. 2010. Penyakit Paru dan saluran Napas. Jakarta. Bhuana Ilmu
Populer
5. Suparmi Yulia, dkk. 2008. Panduan Praktik Keperawatan : Kebutuhan Dasar
Manusia. Yogyakarta. PT Intan Sejati

17