Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

  • I. LATAR BELAKANG Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan aktif (active ingredient) yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu dan bahan ramuan (inert ingredient). Jika dilihat dari struktur kimianya, bahan aktif ini bisa digolongkan menjadi kelompok organic sintetik, orgnik alamiah dan inorganic. Bahan aktif ini jenisnya sangat banyak sekali. Tahun 1986 badan proteksi lingkungan amerika serikat mencatat ada 2600 bahan aktif yang sudah dipasarkan. Dan diseluruh dunia ada 35000 formulasi atau merek dagang.Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman, (e-petani, 2010). Penggunaan pestisida dan tertinggalnya residu dapat sangat menurunkan populasi hewan tanah. Dibandingkan dengan besarnya kandungan residu pestisida dalam tanah, kandungan pestisida dalam air memang lebih rendah. ( Panut, Djojosurmarto. 2000 ) Pestisida mencakup bahan bahan yang beracun sehingga perlu hati hati dalam penggunaannya. Oleh karena itu pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan terlebih dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisidan. Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya, pemakai tinggal mengikuti petunjuk yang ada dilabel.

Jika melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu (Sukoco, 1999).

II.

TUJUAN

 

1.

Untuk mengetahui

nilai

asiditas

/

asam

dan

alkalitas

/

basah, dari suatu

 

larutan yang bercampur atau untuk mendapatkan gambaran jenis aplikator

 

2.

yang digunakan. Untuk mengetahui daya larut suatu larutan atau untuk mendapatkan

gambaran

3.

ukuran nozzel yang akan digunakan. Untuk menentukan nilai toksisitas suatu larutan yang dapat menimbulkan sinergisme adhitif dan kompabilitas.

BAB II TINJAUAN TEORI

  • 2.1 Susunan Formulasi Pestisida Formulasi adalah campuran bahan aktif pestisida dengan pembawa/carrier-nya. Bahan aktif bersifat sangat toksik dan mudah menguap sehingga harus ada bahan carrier-nya yang bersifat netral Secara garis besar, formulasi pestisida yang diperdagangkan umumnya terdiri dari 3 bagian, yaitu bahan aktif, bahan pembantu, dan bahan pembawa.

    • A. Bahan Aktif Bahan aktif merupakan senyawa kimia atau bahan-bahan lain yang memiliki efek sebagai pestisida. Bahan aktif pestisida dapat berbentuk padatan, cair, dan gas. Bahan aktif yang digunakan dalam produksi komersil disebut bahan aktif teknis. Bahan aktif yang biasanya digunakan dalam formulasi berasal dari bahan aktif teknis dalam bentuk aslinya, yang kemudian dicampur dengan bahan pembantu dan bahan pembawa.

    • B. Bahan Pembantu (Adjuvant) Bahan pembantu merupakan bahan-bahan atau senyawa kimia yang ditambahkan ke dalam pestisida dalam proses formulasinya agar mudah diaplikasikan atau digunakan untuk memperbaiki efikasi pestisida tersebut. Bahan-bahan pembantu yang sering ditambahkan pada formulasi antara lain:

Solvent Solvent adalah bahan cair pelarut misalnya alkohol, minyak tanah, xylene dan air.Solvent ditambahkan ke dalam formulasi untuk melarutkan bahan aktik karena bahan aktif pestisida tidak larut dalam air atau minyak. Beberapa

contoh solvent organik yang

biasa digunakan yaitu asetonitril, aseton,

diklorometan, etanol, etilasetat, heksan, methanol, toluene, dan xylene.

Diluent

Diluent umumnya ditambahkan ke dalam formulasi untuk membantu melarutkan atau membawa bahan aktif. Beberapa contoh adalah silica gel,

hydrated alumunium oxide dan kalsium silikat. Suspension Agent Suspension Agent adalah bahan pembantu yang digunakan untuk membantu pembentukan suspensi, umumnya dicampurkan dalam formulasi WP. Suspension Agentini membantu pestisida dalam bentuk tepung untuk tidak cepat mengendap.

Emulsifier

Emulisifier adalah bahan pembantu yang digunakan untuk membantu pembentukan emulsi. Emulsifier merupakan bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air. Umumnya ditambahkan ke dalam formulasi EC. Buffer

Buffer merupakn bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi untuk menstabilkan pH formulasi pestisidan antara 5,5 7. Umumnya adalah campuran asam lemah dengan garamnya, misalnya CH 3 COOH (asam lemah) plus CH 3 COONa (garam natrium). Surfactant (surfaktan) Surfactant membantu membasahi bidang sasaran dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Dengan demikian maka butiran semprot akan lebih mudah menempel pada bidang sasaran.

Sticker

Sticker membantu merekatkan butiran semprot pada bidang sasaran dengan cara meningkatkan adhesi partikel ke bidang sasaran. Sticker menurunkan

kemungkinan pestisida luruh atau tercuci akibat hujan. Beberapa diantaranya juga mengurangi penguapan.

Plant Penetrants

Plant Penetrants mampu meningkatkan penetrasi beberapa pestisida ke dalam jaringan tanaman tertentu. Umumnya digunakan untuk bahan aktif pestisida

dan tanaman yang spesifik.

Tickener

Tickener berfungsi untuk meningkatkan kekentalan larutan semprot. Digunakan untuk mengendalikan butiran semprot terbawa angina dan menghambat penguapan. Kebanyakan pestisida hanya akan mampu menembus kulit daun tanaman selama pestisida tersebut dalam bentuk larutan. Jika kering pestisida tidak lagi mampu menembus jaringan tanaman, Tickener inilah yang memecahkan masalah tersebut.

Deforming Agent

Deforming Agent digunakan sebagai penghambat terbentuknya busa pestisida jika dituang atau diaduk dalam tanki, biasanya digunakan dalam jumlah kecil.

Safener

Safener merupakan bahan yang ditambahkan untuk mengurangi fitotoksik (daya racun pestisida terhadap tanaman yang disemprot) Synergist Synergis, sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun, walaupun bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji wijen), dan piperonil butoksida.

  • C. Bahan Pembawa (Carrier) Bahan pembawa digunakan untuk menurunkan konsentrasi produk pestisida, tergantung pada cara penggunaan yang diinginkan. Bahan pembawa bisa berupa air (pada water basedformulation), minyak (pada oil based formulation), talk, attapulgit, bentonit, tepung diatomae (pada formulasi tepung), pasir (pada formulasi butiran), dan sebagainya. Sebagai contoh, formulasi WP (wettable powder) tersusun atas bahan aktif, sistem solvent, carrier yang sangat adsobtif, diluent, deactivator, wetting agent, dispersant, dan sticker.

2.2

Kode Formulasi pada Nama Dagang

  • 1. Jika diformulasikan dalam bentuk padat (misalnya tepung dan butiran), angka dibelakang nama dagang menunjukkan kandungan bahan aktif dalam persen. contoh :

  • 2. herbisida Karmex 80 WP mengandung 80% bahan aktif (diuron) dan diformulasikan dalam bentuk WP (tepung yang bisa disuspensikan dalam air)

  • 3. Jika formulasinya dalam bentuk cair, angka di belakang nama dagang menunjukkan jumlah gram atau mililiter bahan aktif untuk setiap liter produk. Contoh :fungisida Score 250 EC mengandung 250 ml bahan aktif (difenokonazol) dalam setiap liter produk Score 250 EC.

  • 4. Jika produk tersebut mengandung lebih dari satu macam bahan aktif maka kandungan bahan bahan aktifnya dicantumkan semua dan dipisahkan dengan garis miring. Contoh : fungisida Ridomil Gold MZ 4/64 WP mengandung bahan bahan aktif metalaksil-M 4% dan mankozeb 64% dan diformulasikan dalam bentuk WP.

  • 2.3 Kode Formulasi Pestisida Global Crop Protection Federation (GCPF) atau Federasi Perlindungan Tanaman Dunia) telah menyusun kode standart untuk menandai berbagai macam formulasi pestisida.Berikut adalah beberapa formulasi yang sering ditemukan di Indonesia.

    • A. Sediaan (Formulasi) Cair.

Emulsifiable Concentrate atau Emulsiable Concentrate (EC) EC merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan kandungan (konsentrasi) bahan aktif yang cukup tinggi. EC umumnya digunakan dengan cara disemprotkan. Bersama formulasi WP, formulasi EC merupakan formulasi klasik yang paling banyak digunakan saat ini.

Kelebihan formulasi EC sebagai berikut:

  • - Konsentrasi tinggi yang berarti harga persatuan berat bahan aktif relatif murah.

  • - Dalam penggunaannya memerlukan sedikit pengadukan.

  • - Tidak atau sedikit meninggalkan “residu yang tampak” pada bidang sasaran.

Kelemahan formulasi EC sebagai berikut:

mudah menimbulkan overdosing karena kesalahan perhitungan pengenceran.

 

Resiko terjadinya peracunan tanaman lebih besar.

Mudah diserap kulit manusia.

Solvent bisa merusak selang karet, bagian bagian pompa sprayer, dan

bagian lainnya. Kemungkinan korosif.

Solube Concentrate in Water (SCW) atau Water Solube Concentrate (WSC) Formulasi ini mirip EC, tetapi karena menggunakan sistem solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. Umumnya, sediaan ini diaplikasikan dengan cara disemprotkan.

Aquaeous Solution (AS) atau Aquaeous Concentrate (AC)

AS dan AC merupakan pekatan yang bisa dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasikan dalam bentuk AS atau AC umumnya berupa pestisida berbahan aktif dalam bentuk garam yang memiliki kelarutan tinggi dalam air. Pestisida yang diformulasikan dalam bentuk ini digunakan dengan cara disemprotkan. Formulasi AS juga bisa mengacu pada formulasiaquaeous suspensions. Solube liquid (SL)

SL merupakan pekatan cair. Jika dicampur air, pekatan cair ini akan membentuk

larutan. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan. SL bisa mengacu pada formulasi slurry.

Flowable (F) atau Flowable in Water (FW) Formualsi F atau FW berbentuk konsentrasi cair yang sangat pekat (mendekati pasta, tetapi masih bisa dituangkan. Jika dicampurkan air, sediaan ini akan membentuk suspensi (partikel padat yang melayang dalam media cair) seperti halnya WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan. Keuntungan formulasi flowable, diantaranya:

Jarang menyumbat nosel,

Penanganan dan aplikasinya mudah dilakukan, dan Tidak memercik (bandingkan dengan EC).

Kelamahan formualsi flowable, diantaranya:

Membutuhkan pengadukan terus menerus, dan

Sering meninggalkan residu yang tampak pada bidang sasaran.

Ultra Low Volume (ULV) Sediaan ini merupakan sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yaitu volume semprot antara 1-5 liter/hektar. Formualsi ULV umumnya berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan butiran semprot yang sangat halus.

Micro-encapsulation Micro-encapsulation merupakan bentuk formulasi yang relatif baru, yaitu partikel pestisida (baik cair atau padat) dimasukkan dalam kapsul (semacam selubung plastik yang larut dalam air) berukuran sangat kecil (lebih kecil dari diameter rambut manusia). Bentuk mikrokapsul juga bisa dibuat menjadi formulasi CF (capsule suspensions for seed treatment), yaitu bentuk mikrokapsul khusus untuk perawatan benih.

  • B. Sediaan Padat

Wettable Powder (WP)

Formulasi WP bernama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan hingga saat ini. WP merupakan sediaan berbentuk tepung (ukuran partikel beberapa mikron) dengan kadar bahan aktif relatif tinggi (50-80%), yang

jika dicampurkan dengan air akan membentuk suspensi. Pengaplikasian WP dengan cara disemprotkan.

Kelebihan penggunaan formulasi WP sebagai berikut:

  • - Relatif murah.

  • - Resiko fitotoksisitas lebih rendah (dibandingkan EC dan formulasi cair lainnya).

  • - Kurang diserap oleh kulit (dibandingkan dengan formulasi cair).

Kelemahan penggunaan formulasi WP sebagai berikut:

  • - Menimbulkan debu ketika dituang (bahaya inhalasi).

  • - Memerlukan pengadukan secara terus menerus.

  • - Bersifat abrasif.

  • - Bisa meninggalkan residu yang tampak pada bidang sasaran.

Soluble Powder (S atau SP) Formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air akan membentuk larutan homogen. Digunakan dengan cara disemprotkan.

Butiran (Granule, G) Umumnya butiran merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi bahan aktif rendah (sekitar 2%). Ukuran butiran bervariasi antara 0,7-1 mm. Pestisida butiran umumnya digunakan dengan cara ditaburkan dilapangan (baik secara manual maupun dengan mesin penabur). Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

Kelebihan formulasi butiran seperti berikut:

Siap pakai sehingga tidak perlu mencampur.

Tidak memerlukan drift, tidak berdebu, dan tidak memercik.

Tidak mudah diserap kulit.

Tidak memerlukan alat aplikasi yang rumit.

Kelemahan formualsi butiran seperti berikut:

Lebih mahal (dibandingkan ECV atau WP).

Memerlukan pengolahan tanah setelah penaburan.

Memerlukan kondisi tertentu (misalnya kelembaban tanah) agar aktif.

Water Dispersible Granule (WG atau WDG); Dry Flowable (DF) WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G, tetapi penggunaannya sangat berbeda. Formulasi WG/WDG harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan. WDG juga sering disebut sebagai dry flowable (DF). Keuntungan formulasi WDG (dan SG) yaitu:

pengukuran dan pencampurannya mudah, dan

risiko bagi keselamatan pengguna lebih kecil (tidak memercik dan tidak berdebu). Solube Granule (SG)

SG (solube granule) mirip dengan WG yang juga harus diencerkan dalam air dan digunakan dengan cara disemprotkan. Bedanya, jika dicampur air, SG akan membentuk larutan sempurna. Tepung Hembus (Dust;D)

Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).Sediaan siap pakai (tidak perlu dicampur dengan air) berbentuk tepung (ukuran partikel 10-30 mikron) dengan konsentrasi bahan aktif rendah (2%) digunakan dengan cara dihembuskan (dusting). Seed Dressing (SD) atau Seed Treatment (ST) SD dan ST adalah formulasi khusus berbentuk tepung atau cairan yang digunakan dalam perawatan benih.

Umpan Bait (B) atau Ready Mix Bait (RB atau RMB) Umpan merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan dalam formulasi rodentisida untuk mengendalikan hama berupa binatang besar (tikus, babi hutan). RB atau RMB merupakan umpan siap pakai (sudah dicampur pakan, misalnya beras); sedangkan B harus dicampur sendiri oleh pemakaianya.

BAB III

CARA KERJA

  • 3.1 WAKTU DAN TEMPAT PENGAMATAN Pengamatan dilakukan pada:

Hari

: Rabu

Tanggal

:

Tempat

: Laboraturium workshop Jurusan Kesehatan Lingkungan

  • 3.2 ALAT DAN BAHAN.

    • 1. Tabung reaksi

    • 2. Rak tabung

    • 3. Beker glass

    • 4. Stop Watch

    • 5. Masker

    • 6. PH Universal

    • 7. Batang pengaduk

    • 8. Pipet tetes

    • 9. Corong gelas

10. Insektisida / pestisida 11. Sarung tangan 12. Insekta : lalat, Kecoa, Jangkrik, Belalang @ 10 ekor

3.3.1

CARA KERJA.

  • 1. Siapkan alat dan bahan insektisida / pestisida yang akan digunakan.

  • 2. Siapkan insektisida / pestisida (Mustang 25 EC) sebanyak 2 3 ml.

  • 3. Ukur nilai PH, dan masukkan dalam tabung reaksi.

  • 4. Siapkan insektisida / pestisida (Biflex 25 EC) yang bersifat sinergisme / daya toksis. Adhitif / daya rekat pada beker glass sebanyak 2 ml.

  • 5. Ukur nilai PH dan masukkan ke dalam tabung reaksi.

7.

Identifikasi bentuk dan jenis formulasi.

  • 8. Lakukan treatment/perlakuan terhadap insekta dengan insektisida / pestisida yang sudah dicampur antara lain :

    • a. Pada media : kaca, porselin, dan hart boart / triplek masing masing 3 ( tiga kali ) percobaan setiap media.

    • b. Siapkan dan tutup insekta dengan corong gelas

    • c. Hitung dengan stopwatch.

  • 9. Amati perubahan periodesasi waktu terhadap tingkat kematian insekta.

  • BAB IV HASIL PENGAMATAN

    • 4.1 Hasil Pengamatan Insektisida Pestisida Sebelum Dicampur

    Dalam percobaan yang dilakukan, insektisida yang digunakan adalah Biflex 25EC dan Mustang

    25EC

     

    NO

    INSEKTISIDA

     

    KARAKTERISTIK

     

    pH

     
     
    • 1 Baycarb

     

    Bening

     

    4

     
    • 2 Icon

     

    Bening kekuningan

     

    6

     
    • 3 Rider

     

    Putih keruh dan ada endapan

       

    2

     
    • 4 Pro Vap

     

    Kuning bening tanpa endapan

       

    5

     
    • 5 Basileum

    Merah kecoklatan ( seperti air

    teh

    )

     

    7

     
    • 6 Biflex

     

    Bening kekuningan

     

    9

     
    • 7 Baygon

     

    Kuning bening

     

    10

     
    • 8 Lentrek

     

    Bening kecoklatan

     

    5

     
    • 9 Mustang

     

    Bening

     

    4.2 Hasil Pengamatan insektisida Setelah Dicampur

     

    No

    Insektisida

    Karakteristik

    pH

    Sifat formulasi

    Koligatif

    Adhitif

    1

    Biflex +

    Bening

     

    EC

       

    Mustang

    kekuningan ada

    • 1. Bening/berwarna

    endapan

    • 2. Nozzel 0,2 1,4

    • 3. Jika bercampur air menjadi keruh putih susu, tidk ada endapan

    • 4. Aplikator (

    sprayer,blower,U LV)
    sprayer,blower,U
    LV)

    4.3 Hasil Treatment Pada Insekta Setelah Dicampur

    N

         

    Media

    o

    Insektisida

    Insekta

     

    Triplek

     

    Kaca

     

    Porselain

    GC

    GL

    GM

    GC

    GL

    GM

    GC

    GL

    GM

       

    Lalat 1

    12’’

    40’’

    19’’

    5’’

    15’’

    20’’

    13’’

    33’’

    17’’

    Lalat 2

    12’’

    45’’

    55’’

    8’’

    10’’

    17’’

    13’’

    30’’

    51’’

    Lalat 3

    12’’

    45’’

    1’05’’

    6’’

    10’’

    16’’

    13’’

    33’’

    16’’

    Jangkrik 1

    54’’

    16’’

    1’10’’

    37’’

    13’’

    10’’

    12’’

    4’’

    28’’

    Jangkrik 2

    37

    3’25’’

    6’15’’

    37’’

    14’’

    15’’

    15’’

    23’’

    38’’

    Jangkrik 3

    3’20”

    7’24’’

    8’54’’

    21’’

    29’’

    21’’

    10’’

    18’’

    28’’

    1

    Biflex +

    Kecoa 1

    1’19’’

    3’16’’

    4’35’’

    1’7’’

    3’11’’

    5’38’’

    21’’

    53’’

    1’14’’

    Mustang

    Kecoa 2

    2’06’’

    12’49

    14’55’’

    5’18’’

    4’

    1’58’’

    1’38’’

    6’1’’

    7’39’’

    Kecoa 3

    2’46’’

    13’4’’

    15’50’’

    4’18’’

    3’24’’

    8’52’’

    1’45’’

    8’19

    9’04’’

    Belalang 1

    27’’

    45’’

    1’22’’

    39’’

    1’28’’

    2’47’’

    26’’

    1’4’’

    1’16’’

    Belalang 2

    22’’

    44’’

    1’44’’

    42’’

    1’18’’

    2’30’’

    29’’

    1’

    1’41’’

    Belalang 3

    27’’

    48’’

    2’10’’

    23’’

    1’36’’

    2’16’’

    20’’

    33’’

    43’’

    4.4 Hasil Perhitungan 1) LALAT

    Lalat pada media trirplek

     

    R1= 101,67-71 = 30,67

    P1 = 71 P2 = 112

     

    R2= 101,67-112= 10,33 R3=101,67-122 = 20,33

    P3 = 122

     

    R= 30,67 +10,33 +20,33

     
     

    3

    P rata-rata =

    71+112+122

    = 101,67 (X)
    3

    R= 61,33 (Y)

     

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR 1

    =

    101,67+ 61,33 = 163

     

    KR

    2

    = 101,6761,33 = 40,34

    KP

    =

    x100%

     
     

     

    61,33

     

    =

    101,67 x

    100%

    = 0,6 %

    Lalat pada media kaca P1 = 40 P2 = 35 P3 = 32

    P rata-rata =

    40 + 35 + 32

    3

    = 35,67 (X)

    R1 = 35,67 40 = 24,33 R2 = 35,67 35 = 0,67 R3 = 35,67 32 = 3,67

    R = R = 9,56 (Y)

    3

    24,33+0,67+3,67

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    = 35,67

    +

    9,56

    =

    45,23

    KR

    = 35,67

    -

    9,56

    = 26,11

    KP =

    x

    100%

     

    =

    x

    100%

     
     

     

    =

    9,56

    100

     

    35,56

     

    Lalat pada media porselain P1 = 63 P2 = 94 P3 = 62

    P rata-rata =

    63 + 94 + 62

     

    3

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    =

    73

    +

    14

    KR

    =

    73

    -

    14

    KP =

    x

    100%

     

     

    14

     

    =

     

    73

    = 73 (X)

    =

    87

    = 59

    100% = 0,19 %

    R1 = 73 63 = 10 R2 = 73 94 = 21 R3 = 73 62 = 11

    R =

    1+ 2+ 3

    3

    10 +21+11

    =

    = 14 (Y)

     

    3

     

    2) Jangkrik

     

    Jangkrik pada media triplek

    P1 = 140 P2 = 617 P3 = 1178

     

    R1 = 645 140 = 505 R2 = 645 617 = 28 R3 = 645 1178 = 533

    P rata-rata =

     

    140 + 617 + 1178

    R =

    1+ 2+ 3

     
     

    3

    = 645 (X)

     

    3

     

    505

    +28+533

     

    =

    3

    = 355,3 (Y)

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    =

    645

    + 355,3

    =

    1000,3

    KR

    =

    645

    - 355,3

    = 289,7

    KP =

    x

    100%

     

    =

    355,3

    100% = 0,55 %
    645

     

    Jangkrik pada media kaca P1 = 60 P2 = 66 P3 = 71

     

    R1 = 197 60 = 137 R2 = 197 66 = 131 R3 = 197 71 = 126

     

    60 + 66 + 71

    1+ 2+ 3

     

    P rata-rata =

     

    = 65,67 (X)
    3

     

    R =

    3

     

    137

    +131+126

    = 131,3 (Y)

     

    =

    3

    KR

    =

    X

    +

    Y

    KR

    = 65,67

    + 131,3

    = 196,97

    KR

    = 65,67

    -

    131,3

    = 65,63

    KP =

    x

    100%

    131,3

    =

    65,63

    100% = 2 %

    Jangkrik pada media porselain P1 = 44 P2 = 76 P3 = 48

    P rata-rata =

    44 + 76 + 48

    3

    = 56 (X)

    KR

    =

    X

    +

    Y

    KR

    =

    56

    +

    20

    =

    76

    KR

    =

    56 -

    20 = 36

    KP =

    x

    100%

    20

    = 56

    100% = 0,35 %

    3) KECOA

    Kecoa pada media triplek

    P1 = 550 P2 = 1290 P3 = 1900

    R1 = 56 44 = 12 R2 = 56 76 = 20 R3 = 56 48 = 8

    R =

    1+ 2+ 3

    =

    3

    12 +20+28

    3

    = 20 (Y)

    P rata-rata =

    550 + 1290 + 1900

    3

    = 1246,7 (X)

    R1 = 1246,7 550 = 696,7 R2 = 1246,7 1290 = 43,3 R3 = 1246,7 1900 = 653,3

    R =

    1+ 2+ 3

     

    696,7 +43,3+653,3

    = 464,43 (Y)

     

    =

     

    3

    3

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    =

    1246,7

    + 464,43 = 1711,13

     

    KR

    = 1246,7

    - 464,43

    = 782,27

    KP =

    x

    100%

     

    464,43

     

    =

    100% = 0,37 %

    1246,7

    Kecoa pada media kaca P1 = 596 P2 = 676 P3 = 994

     

    R1 = 755,3 596 = 159,3 R2 = 755,3 676 = 79,3 R3 = 755,3 994 = 238,7

    P rata-rata =

     

    596 + 676 + 994

    = 755,3 (X)

    R =

    1+ 2+ 3

     
     

    3

    3

     

    159,3 +79,3+238,7

    KR

    =

    X

    +

    Y

    =

    3

    = 159,1 (Y)

     

    KR

    =

    755,3

    +

    159,1

    = 914,4

    KR

    = 755,3

    -

    159,1

    = 596,2

    KP =

    x

    100%

     

    159,1

     
     

    = 755,3

    100% = 21,06 %

    Kecoa pada media porselain P1 = 148 P2 = 918 P3 = 1328

    R1 = 798 148 = 650 R2 = 798 918 = 120 R3 = 798 1328 = 530

    P rata-rata =

    • = 798 (X)

    148

    + 918 + 1328

    +

    Y

    R =

    1+ 2+ 3

    650 +120+530

    KR

    =

    X

    3

    3

    =

    = 433,3 (Y)
    3

     

    KR

    =

    798

    + 433,3

    = 1231,3

    KR

    =

    798 - 433,3 = 364,7

     

    KP =

    x

    100%

     

    433,3

     

    =

    798

    100% = 54,2 %

    3) BELALANG

     

    Belalang pada media triplek

    P1 = 134 P2 = 170 P3 = 205

     

    R1 = 169,67 134 = 35,67 R2 = 169,67 170 = 0,33 R3 = 169,67 205 = 35,33

     

    P rata-rata =

    • = 169,67 (X)
      3

    134

    + 170 + 205

    R =

    1+ 2+ 3

    3

     

    35,67 +0,33+35,33

     
     

    =

    = 23,7 (Y)
    3

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    = 169,67

    +

    23,7

    KR

    = 169,67

    -

    23,7

    KP =

    x

    100%

     

     

    23,7

     
     

    = 169,67

    Belalang pada media porselain P1 = 166 P2 = 190 P3 = 96

    P rata-rata =

    166 + 190 + 96

     
     
     

    3

    KR

    =

    X

    +

    Y

     

    KR

    = 150,67

    + 36,44

    KR

    = 150,67

    - 136,44

    KP =

    x

    100%

     
     

     

    136,44

     
     

    =

     

    150,67

     

    = 193,37

    = 145,97

    100% = 13,9 %

    = 150,67 (X)

    = 187,11

    = 114,23

    100% = 90,55 %

    Belalang pada media kaca P1 = 286

    R1 = 150,67 166 = 15,33 R2 = 150,67 190= 39,33 R3 = 150,67 96 = 54,67

    R =

    1+ 2+ 3

    3

    15,33+39,33+54,67

    =

    = 36,44 (Y)
    3

    P2 = 270 P3 = 255

    P rata-rata =

    286+270+255

    = 270,3 (X)
    3

    R1 = 270,3 286 = 15,7

    KR

    =

    X

    +

    Y

    KR

    =

    270,3

    + 10,43

    = 280,73

    KR

    =

    270,3 - 10,43 = 259,87

    KP =

    x

    100%

    10,43

    = 270,3 100% = 3,85

    R2 = 270,3 270 = 0,3 R3 = 270,3 255 = 15,3

    R =

    1+ 2+ 3

    15,7+0,3+15,3

    =

    3

    = 10,43 (Y)
    3

    Analisis hasil

    Dari percobaan formulasi yang kami lakukan didapatkan hasil sifat formulasi yaitu EC, bening/berwarna, nozzel 0,2 1,4, jika bercampur air menjadi keruh putih susu, tidak ada endapan, aplikator ( sprayer,blower,ULV).Setelah insektisida dicampur, rata-rata waktu kematian yang paling cepat yaitu pada insekta lalat. Dan rata-rata waktu kematian yang paling lama yaitu pada insekta Kecoa. Hal ini dikarenakan nilai aciditas yang didapat dari larutan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan sehingga dapat memudahkan dalam pengendalian insekta tersebut.

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

    • 5.1 KESIMPULAN

      • 1. Waktu kematian hewan insekta dari cepat lama adalah lalat-belalang-jangkrik- kecoa.

      • 2. Pencampuran 2 atau lebih pestisida dapat meningkatkan daya toksisitas terhadap insekta jika merupakan insektisida campurannya bersifat aditif, sinergis dan kompatabel namun sebaiknya akan menurunkan nilai toksisitas bila campuran tersebut bersifat antagonis.

      • 3. Dari hasil pengmatan didapatkan bahwa media juga berpengaruh pada efektivitas penggunaan pestisida. Porselain-kaca-triplek

  • 5.2 SARAN

  • Perlu diadakan pengamatan lebih lanjut

    REFERENSI

    http://masechoamcp.blogspot.com/2012/12/formulasi-pestisida.html

    http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24225/4/Chapter%20II.pdf

    PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGGU B

    FORMULASI PESTISIDA

    PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGGU – B “ FORMULASI PESTISIDA ” Disusun oleh: Tingkat 2D4 Kelompok

    Disusun oleh:

    Tingkat 2D4 Kelompok 2

    • 1. Fakhry Muhammad

    • 2. Fathul Fitriyah Rosdiyani

    • 3. Erni Tri Wulandari

    • 4. Indah Nur Abidah

    5. Larasati Wijayanti

    6. Latri Hidayah

    7. Wahyu Widi Santoso

    8. Widhy Reza Putra

    Kesehatan Lingkungan POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II

    2014