Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan konsep

kesetaraan dan keberagaman. Konsep kesetaraan biasanya dihubungkan dengan

gender, status, hirarki sosial dan berbagai hal lainnya yang mencirikan perbedaan-

perbedaan serta persamaan-persamaan. Sedangkan konsep keberagaman merupakan

hal yang wajar terjadi pada kehidupan dan kebudayaan umat manusia.

Manusia juga memiliki keragaman salah satunya bisa dilihat dari segi jenis

kelamin, yaitu pria dan wanita. Tetapi dalam kasus ini terjadi ketidak jelasan antar

status jenis kelamin yang dia miliki. Contohnya dia seorang laki-laki tetapi dalam

jiwanya dia memiliki jiwa seorang wanita dan kasus sebaliknya dan ada juga orang

yang memiliki dua jenis kelamin yang tidak jelas apakah status yang sebenarnya. Hal

tersebut membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. Mereka dianggap tidak

normal atau biasa disebut TRANSGENDER.

Pada realita yang berkembang dalam masyarakat modern saat ini, banyak

ditemui di kalangan masyarakat problematika pergantian kelamin, sudah bukan

rahasia umum banyak masyarakat merubah kelaminnya dengan berbagai alasan .

Dari kasus diatas menjelaskan bahwa seseorang yang tidak jelas dengan status

kelaminnya disebut transgender atau transseksualisme yang merupakan suatu gejala

1
ketidak puasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik

dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidak puasan dengan alat kelamin

yang dimilikinya.

Orang awam mungkin tidak akan tahu tentang apa itu transgender atau

transeksual. Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti “jenis kelamin”. Dalam

Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak

antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Indentitas

gender mengacu pada perasaan internal seseorang ‘makna menjadi laki-laki,

perempuan atau sesuatu yang lain.

Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu

konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran,

prilaku ,pakaian, gaya rambut, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki

dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Gender secara umum digunakan

untuk mengindentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segisosial budaya,

maka sex secara umum digunakan untuk mengindentifikasi perbedaan laki-laki dan

perempuan dari segi anatomi biologi.

Istilah sex (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih

banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi

kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis

lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek

sosial,budaya,psikologis, dan aspek non biologis lainnya.

2
. Transgender adalah orang yang cara berperilaku atau penampilannya tidak

sesuai dengan peran gender pada umumnya. Transgender adalah orang yang dalam

berbagai level “melanggar” norma kultural mengenai bagaimana seharusnya pria dan

wanita itu. Seorang wanita, misalnya, secara kultural dituntut untuk lemah lembut.

Kalau pria yang berkarakter demikian, itu namanya transgender. Orang-orang yang

lahir dengan alat kelamin luar yang merupakan kombinasi pria-wanita juga termasuk

transgender. Transgender adapula yang mengenakan pakaian lawan jenisnya, baik

sekali maupun rutin. Perilaku transgenderlah yang mungkin membuat beberapa orang

mengganti jenis kelaminnya, seperti pria menjadi wanita begitu pula sebaliknya.

Bagi kebanyakan orang , mereka tidak pernah harus bertanya “Apakah aku

laki-laki atau perempuan ? “ Namun terdapat sekelompok orang –orang dimana

sekse tubuh mereka dirasakan salah total, karena mereka merasa berjenis kelamin

berlawanan dengan sekse fisik mereka.

Seorang transgender ataupun transeksual adalah sesorang yang mengalami

sebuah kondisi gangguan yang amat berat yang membutuhkan bantuan dari orang-

orang terdekatnya yang terjadi biasanya justru sebaliknya, mereka terlepas dari

lingkungan terdekat karena keadaan dan keberadaannya ditolak dalam kondisi dimana

mereka sebenarnya tidak memiliki pilihan atas apa yang dihadapi. Terbatasnya

pengetahuan masyarakat akan kondisi ini membuat mereka mengecam atas apa yang

dialami – lebih jauh lagi terhadap langkah yang kemudian diambil oleh seorang

transeksual.

3
Banyak hal-hal tersembunyi dari kedua hal tersebut yang belum dipaparkan

secara jelas mengapa dan bagaimana mereka melakukan hal yang melanggar

tersebut. Dari sinilah akar permasalahan mulai timbul dan bagaimana solusi yang

tepat untuk bisa menjadikan semua kehidupan masyarakat berjalan seperti biasa tanpa

adanya diskriminasi kepada mereka.Untuk itu penulis memilih judul karya tulis

“CARA PANDANG TERHADAP TRANSGENDER .”

Tujuan dari pembahasan karya tulis ini adalah memberikan pandangan yang

benar tentang keberadaan komunitas transgender , dapat lebih mengerti keberadaan

kaum transgender sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama, agar

kita mengerti tindakan yang harus kita lakukan tanpa harus berindak secara tidak

wajar terhadap orang yang memiliki perbedaan. Serta melakukan perubahan tanpa

harus terjadinya pemaksaan yang mengakibatkan tindakan kurang baik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian transgender dan transeksual ?
2. Apa faktor penyebab transgender dan transeksual ?
3. Bagaimanakah tanda-tanda dan akibat dari pelaku transgender ?
4. Apakah dampak dan pandangan masyarakat terhadap kasus

transgender ?

1.3. Metode Penulisan


Dalam pembuatan karya tulis ini, penulis menggunakan metode studi pustaka.

Penulis mempelajari beberapa artikel yang sesuai dengan permasalahan yang penulis

bahas pada karya tulis ini dari internet dan buku.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Transgender dan Transseksual

5
Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang

melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan

saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari

orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan

dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau

aseksual. Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup:

 "Tentang, berkaitan dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya

tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki

atau perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak di antara

keduanya."

 "Orang yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan

didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah

atau tidak sempurna bagi dirinya."

 "Non-identifikasi dengan, atau non-representasi sebagai, gender yang

diberikan kepada dirinya pada saat kelahirannya."

Gender terdiri dari dua aspek :

6
 Indentitas gender, yaitu persepsi internal dan pengalaman sesorang tentang

gender mereka , menggambarkan indentifikasi psikologis didalam otak

seseorang sebagai laki-laki atau perempuan.

 Peran gender,dimana merupakan sebuah cara seseorang hidup dalam

masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain, berdasarkan indentitas gender

mereka.

Transgender dianggap sebuah masalah yang tidak asing lagi.Pengertian

transgender bermacam-macam. Menurut Wikipedia transgender adalah istilah yang

digunakan untuk mendiskripsikan orang yang melakukan , merasa, berpikir atau

terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. “ Transgender”

tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya.

Orang-orang transgender dapat saja mengindentifikasikan dirinya sebagai

heteroseksual , homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual atau aseksual .

Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup :

 “Tentang, berkaitan dengan atau menetapkan seseorang yang indentitasnya

tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki

atau perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak diantara

keduanya,”

7
 ‘ “Orang yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan

didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deskripsi ini salah

atau tidak sempurna bagi dirinya.”

 Non-indentifikasi dengan, atau non-representasi sebagai gender yang

diberikan kepadanya.”

Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang merasa bahwa dirinya tidak

sesuai dengan alat kelamin yang dimilikinya. Ini termasuk suatu penyakit yang sudah

tidak asing lagi dari jaman dulu dan jenis penyakit ini belum ada obatnya . Tetapi

berbeda dengan penyakit aids, seorang yang mengidap penyakit aids mempunyai

jangka waktu hidup yang singkat. Tetapi seseorang yang menderita jenis penyakit ini

menjalani hidupnya seperti layaknya orang sehat.

Pada hakikatnya masalah kebingunan jenis kelamin ataupun transgender

merupakan suatu gejala ketidak puasan sesorang karena merasa tidak adanya

kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun ketidakpuasan

dengan yang ada pada dirinya.

Transseksual adalah orang yang indentitas gendernya berlawanan dengan jenis

kelaminnya secara biologis. Misal mereka yang terlahir sebagai laki-laki tapi merasa

bahwa dirinya wanita . Ketika seorang laki-laki merasa terperangkap dalam tubuh

perempuan ,atau sebaliknya seorang prempuan merasa terperangkap dalam tubuh

laki-laki disebut transseksual. Transseksual yang dapat menimbulkan perilaku homo

8
tau lesbian, namun prilaku ini tidak dapat disamakan dengan homo atau lesbian. Bisa

saja pria transeksual tertarik dengan pria lain karena merasa bahwa dia seorang

wanita.

2.2 Faktor Penyebab Transgender

Faktor penyebab sesorang menjadi pelaku transgender adalah :

1. Faktor bawaan (hormon dan gen)

Faktor genetik dan fisiologis adalah factor yang ada dalam diri individu

karena ada masalah antara lain dalam susunan kromosom , ketidak

seimbangan hormon , struktur otak maupun kelainan susunan syaraf otak.

Pada dasarnya kromosom laki-laki memiliki genetic XY, sedangkan

perempuan normal adalah XX. Bagi beberapa orang laki-laki memiliki genetic

XXY. Dalam kondisi ini, laki-laki tersebut memiliki satu lagi kromosom X

sebagai tambahan , maka prilakunya agak mirip dengan seorang perempuan.

Karakter laki-laki dari segi suara , phisik, gerak gerik dan kecenderungan

terhadap wanita banyak dipengaruhi oleh hormon testeron. Jika hormone

testeron seseorang rendah, bisa mempengaruhi perilaku laki-laki tersebut

mirip kepada perempuan.

9
2. Faktor lingkungan

a. Keluarga

.Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa

kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang dalam

tingkah laku perempuan.

Pengalaman atau trauma dimasa anak-anak, misalnya dikasari oleh

ibu/ ayah sehingga si anak beranggapan semua pria/ perempuan

bersikap kasar,yang memungkinkan si anak merasa benci kepada

orang itu.Predominan dalam pemilihan indentitas yaitu melalui

hubungan kekeluargaan yang renggang.

Bagi seorang lesbian misalnya, pengalaman atau trauma yang

dirasakan oleh para wanita pada waktu anak-anak akibat kekerasan

yang dilakukan oleh para pria yaitu bapa, kakaknya maupun

saudara laki-lakinya. Kekerasan yang dialami dari segi phisik,

mental dan seksual itu membuat seorang wanita itu bersikap benci

terhadap semua pria.

10
b. Pergaulan

Kebiasaan pergaulan dan lingkungan salah satu pendorong prilaku

transgender. Pergaulan dan lingkungan anak ketika berada di

sekolah berasrama yang berpisah antara laki-laki dan perempuan

turut mengundang terjadinya hubungan gay dan lesbian. Pada

masa pubertas bergaul dengan homoseksual yang kecewa ,trauma

pergaulan seks dengan pacar,

Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan . Pada kasus

transseksual karena keseimbangan hormon yang menyimpang (bawaan),

menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan kecenderungan biologis jenis

kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki

kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan

lawan jenis hanya untuk menurukan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu

yang menyimpang dan tidak dibenarkan menurut agama.

2.3 Tanda-tanda dan Akibat dari Pelaku Transgender

Adapun tanda- tanda seorang pelaku Transgender bisa dilacak melalui tes

DSM ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), yaitu :

 Perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan keadaan anatomi seksnya.

 Berharap dapat berganti jenis kelamin dan hidup dengan jenis kelamin lain.

11
 Mengalami guncangan yang terus menerus untuk sekurang-kurangnya selama

dua tahun dan bukan hanya ketika stress.

 Adanya penampilan phisik interseks atau genetic yang tidak normal.

 Dan dapat ditemukannya kelainan mental seperti schizophrenia yaitu menurut

J.P Chaplin dalam Dictionary of Phychologi (1981) semacam reaksi psikotis

dicirikan diantaranya dengan gejala pengurungan diri, gangguan pada

kehidupan emosional dan afektif serta tingkah laku negativisme.

Salah satu akibatnya transgender muncullah istilah waria yaitu wanita pria.

Waria adalah seorang pria yang secara psikis merasakan adanya ketidakcocokan

antara jati diri yang dimiliki dengan bentuk anatomi tubuhnya , sehingga akhirnya

memilih dan berusaha untuk memiliki sifat dan prilaku lawan jenisnya yaitu wanita.

Fisik mereka laki-laki namun cara berjalan, dandanan dan berpakaian mirip wanita.

Orang yang secara genetik mempunyai potensi penyimpangan ini dan apabila

didukung oleh lingkungan ,keinginannya sangat besar untuk merubah diri menjadi

waria. Misalnya ada laki-laki yang tidak percaya diri atau tidak nyaman bila tidak

berdandan atau berpakaian wanita.

Salah satu akibatnya trangender muncullah istilah waria yaitu wanita pria.

Waria adalah seorang pria yang secara psikis merasakan adanya ketidakcocokan

antara jati diri yang dimiliki dengan alat kelaminnya, sehingga akhirnya memilih dan

12
berusaha untuk memiliki sifat dan perilaku lawan jenisnya yaitu wanita. Fisik mereka

laki-laki namun cara berjalan, berbicara dan dandanan mereka mirip perempuan.

Orang yang secara genetik mempunyai potensi penyimpangan ini dan apabila

didukung oleh lingkungan keinginannya sangat besar untuk merubah diri menjadi

waria. Misalnya ada laki-laki yang tidak percaya diri atau tidak nyaman bila tidak

berdandan atau berpakain wanita. Selain itu, faktor lingkungan juga sangat

mempengaruhi yaitu faktor ekonomi misalnya. Awalnya hanya untuk mendapatkan

uang tapi lama-kelamaan jadi keterusan.

2.4 Dampak dan Pandangan Masyarakat Terhadap Kasus Trangender

Dampak menjadi Transgender

Semua orang yang bersifat transgender tidak menginginkan hal itu terjadi.

Seorang waria pasti akan berkata tidak meminta dilahirkan sebagai waria dengan

mendadani diri sebagai wanita, mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam,ia

seolah terlepas dari beban psikologis yang selama ini masih memberatkannya.

Sehingga kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kepada orang yang mengalami

kasus transgender tetapi kita harus sama-sama menyikapinya dengan baik. Pada

umumnya seseorang yang berbeda atau tidak normal dianggap berbeda dan tidak bisa

masuk dalam kelompok yang sama, karena mereka dianggap memiliki perbedaan

yang membuat orang memandangnya itu tidak layak untuk hidup berdampingan.

13
Biasanya mereka dikucilkan dari lingkungan dan dijadikan bahan pembicaraan atau

dicemooh oleh masyarakat.

Pandangan Masyarakat

Masalah gender dan kesetaraannya selalu menjadi pembicaraan tanpa ujung di

negara kita. Meskipun gerakan pembelaan kesetaraan gender telah banyak

bermunculan namun pratik ketidakadilan tetap saja menjamur disetiap lapisan

masyarakat.

Mendengar istilah transgender ataupun transseksual sudah mampu membuat

orang salah persepsi tentang kondisi ini. Ini terjadi karena sangat minimnya

informasi yang tersedia tentang transgender dan transseksual, minimnya pengetahuan

dan lebarnya kesenjangan yang ada antara keadaan sebenarnya yang dialami

transgender dan transseksual dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat

.Kebanyakan masyarakat yang memang dalam kondisi ketidaktahuan . Kesenjangan

ini terjadi karena sangat jarang ada transgender yang mampu dan berani membuka

dirinya untuk mengungkap apa yang sebenarnya dialaminya. Jangankan kepada

masyarakat secara luas, kepada lingkungan terdekat pun hal ini sangat sulit dilakukan.

Hampir sepanjang hidupnya transgender. transseksual bergelut dalam konflik internal

dan eksternal karena kondisi yang dialaminya. Ketidak mampuan transgender

ataupun transseksual untuk membuka diri terutama disebabkan transgender maupun

transseksual harus menghabiskan sebagian waktu mereka mengatasi diri sendiri.

14
Jikapun seorang transseksual mampu dan berani mengungkapkan kondisi dirinya

kepada orang lain selain lingkungan terdekatnya mereka takut semakin tidak diterima

dan ditolak.

Kita ketahui kebanyakan masyarakat memandang seorang yang terkait kasus

transgender seperti waria memiliki pandangan negatif , kerena mereka mengangap

bahwa seorang transgender itu telah mengubah kodrat yang diberikan Tuhan sejak

lahir dan itu merupakan larangan agama. Ironisnya, keberadaan transgender selain

mendapat perlakuan yang diskriminasi dari masyarakat namun juga banyak yang

menjadi objek penghinaan bahkan kekerasan, karena dianggap bertentangan dengan

kebudayaan dan agama.

Contoh jelas dapat kita lihat dari lingkungan waria di negara kita. Perasaan jijik dan

berbagai penolakan masyarakat sangat besar terhadap kaum ini. Tidak hanya

masyarakat, pemerintah dan aparat negara bahkan menjadi pelaku penolakan terbesar

terhadap kaum waria. Bebagai razia yang dilakukan seringkali berbuntut pada

kekerasan . Bahkan dalam beberapa kasus, waria ditemukann meninggal akibat

kekerasan saat razia terjadi. Dalam berbagai razia, waria cenderung mendapatkan

kekerasan fisik yang dinilai melanggar HAM ( Hak Azasi Manusia). Dalam Undang-

undang Dasar 1945 dkatakan Negara memberikan hak kepada semua warga untuk

hidup dan mendapatkan penghasilan secara layak. Dalam praktiknya justru

pemerintah menyulitkan kehidupan kaum waria. Berbagai razia yang dilakukan

terhadap kaum waria disinyalir karena waria-waria tersebut tidak memiliki Kartu

15
Tanda Penduduk ( KTP) . Kartu Tanda Penduduk kaum waria kerap kali tidak

dilayani dengan baik , biasanya melewati proses yang sangat rumit dan bahkan

berakhir dengan kegagalan.

Sebagai warga negara seorang transgender memiliki HAM ( Hak Azasi

Manusia) yang sama . Dalam sosial kemasyarakatan jelas mereka menjadi anomali

bagi ‘keberadaban” suatu kaum,sehingga timbul ekses menolak bahkan cenderung

memberikan label buruk bagi mereka. Dari sisi birokrasi pun melahirkan sebuah

permasalahan yang cukup pelik, misalnya , bagi dinas sosial yang ingin

merehabilitasi mereka karena sulitnya mengelompokan mereka dengan label

“gender” tertentu, yang efek jangka panjangnya berimbas pada dinas kependudukan.

Dalam ranah hukum dan birokrasi selayaknya pemerintah memberikan status yang

jelas bagi mereka. Karena tidak dipungkiri mereka masih warga negara yang sah

secara hukum .

Indonesia sudah memiliki Instrumen HAM. akan tetapi di Indoesia, negara

belum penuh melaksanakan hak-hak bagi kelompok transgender. Kelompok

transgender untuk mendapatkan hak ekonomi, hak sosial, hak politik susah. Hak

berserikat hak berpendapat bebas dan harus dipenuhi tanpa diskirminasi Contohnya

dalam mendapatkan pekerjaan bagi kelompok trangender di Indonesia sangatlah

susah. Ketika mereka susah mendapatkan pekerjaan, maka mereka akan mendapatkan

kesusahan untuk menghidupi dirinya. Oleh sebab itu, beberapa waria akhirnya lari

16
pada pekerjaan-pekerjaan yang mengundang cibiran masyarakat seperti pengamen,

serta Pekerja Seks Komersial (PSK).

Bagi kaum transgender dan transseksual yang berprofesi sebagai pekerja seks

komersial , maka pemerintah perlu jeli untuk melakukan penanggulangan yang tepat.

Karena pekerja seks komersial yang berlatar belakang transgender dan transseksual

sama riskannya dengan wanita pekerja seks komersial dalam fungsi laten sebagai

medium penularan virus HIV/AID.

Sejalan dengan tuntutan akan kesetaraan gender antara laki-laki dan

perempuan, tuntutan untuk kesetaraan terhadap kaum transgender, transeksual, gay

dan lesbian juga mulai menjamur. Beberapa komunitas yang sebelumnya hanya fokus

pada masalah kesetaraan gender bagi kaum perempuan kemudian melebarkan

sayapnya. Kaum transseksual, transgender, gay, lesbian dan lainnya tersebut kini

dikenal dengan sebutan queer. Queer sendiri berarti menyimpang. Kata tersebut

dipilih karena mereka yang masuk dalam transeksual, transgender, gay serta lesbian

dikatakan tidak sesuai dengan apa yang "seharusnya". Konsep tersebut tentu

dimunculkan oleh masyarakat esensialis. Gerakan kesetaraan bagi queer muncul

karena banyaknya pratik-praktik kekerasan baik fisik maupun non-fisik yang terjadi.

Di negara kita sendiri dapat kita lihat secara jelas perbedaan kualitas hidup antara

mereka yang queer dengan mereka yang disebut “normal”. Kaum queer masih

mendapatkan berbagai stigma negatif serta penolakan dari masyarakat luas.

17
Melihat berbagai praktik ketidakadilan terhadap kaum transgender dan queer

di negara kita tidak lepas dari kajian mengenai pandangan seksualitas masyarakat.

Oleh Divisi Litbang dan Pendidikan Komnas Perempuan, masyarakat Indonesia

masuk dalam golongan masyarakat esensialis. Masyarakat esensialis hanya menerima

dan mengakui dua identitas gender, yaitu perempuan dan laki-laki. Maka, perempuan

dalam pandangan masyarakat esensialis seharusnya berlaku sebagaimana konsep

perempuan dalam masyarakat. begitu pula dengan laki-laki. Selain itu, hanya ada satu

orientasi seksual yang diakui, yaitu heteroseksual. Mereka yang tidak masuk dalam

kategori tersebut disebut kelompok-kelompok menyimpang. Dengan pandangan

esensialis yang masih sangat lestari di negara kita, maka bukan hal yang aneh bila

terjadi penolakan yang begitu kuat terhadap kaum queer. Selain pandangan esensialis

tersebut, masyarakat Indonesia juga cenderung menyamaratakan karakter tiap

Individu. Masyarakat masih kurang memahami bahwa tiap individu diciptakan

berbeda satu sama lain baik dalam penampilan maupun sifat. Penyamarataan tersebut

mengukuhkan berbagai stigma negatif terhadap kaum queer yang telah menyebar di

masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan gender, seharusnya perihal cara pandang

menjadi salah satu fokus utama. Untuk mengubah perilaku seseorang, perlu pula

untuk mengubah cara pandang dari orang tersebut . Ketika tuntutan kesetaraan yang

banyak diserukan tidak menyentuh masalah cara pandang, maka perjuangan tersebut

hanyalah sia-sia. Menyerukan cara pandang baru memang bukan hal yang mudah.

Ketika suatu pandangan telah mengakar bahkan dikultuskan oleh masyarakat, maka

membawa pandangan baru adalah seolah mencari jarum dalam tumpukan jerami.

18
Namun, hal tersebut bukan berarti tidak mungkin. Realitas dan cara pandang adalah

bentukan manusia, maka manusia pasti memiliki kemampuan untuk mengubahnya.

Pandangan dari Segi Agama, Hukum, Sosial, dan Medis terhadap kasus transgender

Terdapat berbagai pandangan mengenai transseksualisme dan sex

reassignment surgery yang merupakan ujung gender-reassignment. Berikut adalah

penjelasan pandangan dari sisi sosial, agama, hukum dan medis (kedokteran).

a. Dari Segi Sosial

Dari sisi sosial, masyarakat dapat dikatakan terbagi ke dalam jenis kaum

esensalisme dan kontruksionisme. Menurut pandangan esensalisme, transseksualisme

merupakan sesuatu yang berjalan di luar kewajaran dan hal tersebut dianggap tidak

benar. Kaum transseksual sendiri dianggap membawa keburukan. Menurut

pandangan kaum konstruksionisme, transseksual juga merupakan bagian dari

masyarakat. Kelompok ini lebih bersifat terbuka dengan melandaskan tindakannya

kepada Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka membuat beragam peraturan terkait

kaum transseksual sebagai bentuk perlindungan atas ketidakadilan.

b. Dari Segi Agama

1. Agama Protestan

Menurut ajaran protestan, transseksualisme dianggap sebagai dosa karena

cenderung menolak ketetapan Tuhan. Namun, hal ini dianggap sebagai fenomena

19
yang terjadi bukan karena Tuhan yang menciptakan orang-orang seperti itu,

melainkan karena manusia sudah berdosa sejak semula (konsep dosa awal). Menurut

pandangan ajaran ini juga, orang transseksual bisa percaya kepada Tuhan Yesus sama

seperti orang berdosa lainnya. Karena itulah tidak ada alasan bagi orang berdosa

untuk menghina dan menjauhi sesama orang berdosa. Artinya, meskipun termasuk

kaum berdosa, tidak ada pembenaran bagi umat protestan untuk menghina kaum

transseksual.

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Menurut

interpretasi atas ayat ini, meskipun transseksualisme bukanlah bahan ejekan dan

hinaan, adalah tidak bijak bagi masyarakat untuk memberi celah bagi kaum

transseksual untuk membentuk kelompok besar apalagi jika sampai mendapat

pembenaran dan dukungan dari kalangan gereja.

2. Agama Katolik

Ajaran katolik memiliki pandangan yang serupa dengan ajaran protestan dalam

memandang transseksualisme. Menurut KGK 2297, penggantian kelamin dianggap

melanggar penghormatan terhadap integritas tubuh manusia. Menurut KGK 369, pria

dan wanita lah diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang

sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan

kewanitaannya. “Kepriaan” dan “kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan

dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat

20
hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya (Bdk Kej

2:7.22).

3. Agama Hindu

Ajaran hindu memandang keberadaan 3 (tiga) jenis kelamin, yaitu pums-prakriti

(pria), stri-prakriti (perempuan), tritiya-prakriti (seks ketiga). Jenis seks ketiga ini

terdiri dari shanda (male to female) dan shandi (female tomale). Karena adanya

pengakuan, pemilik tritiya prakriti diijinkan hidup bebas dan terbuka. Contohnya

dalam kisah Baratayudha terdapat masa dimana Arjuna berperan sebagai Brihannala.

Dengan begitu, operasi pergantian kelamin pun bebas dilakukan.

4. Agama Budha

Ajaran Budha merupakan ajaran yang menjunjung tinggi toleransi. Lebih dari itu,

ajaran Budha juga menyimpan akar kebudayaan Hindu yang menguasai jenis kelamin

ketiga. Siapapun yang telah banyak mengembangkan kebajikan dengan badan,

ucapan dan juga pikiran, setelah meninggal dunia mempunyai kesempatan terlahir di

alam bahagia tanpa terpengaruh oleh jenis kelamin Meskipun begitu, dalam tripitaka

dinyatakan bahwa seorang waria tidak berhak ditasbihkan sebagai bhiksu atau

bhiksuni.

21
5. Agama Islam

Dalam Islam, kita dapat melihat pandangan akan transseksualisme dari beberapa

dasar berikut:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan

seorang perempuan …” (QS. Al-Hujurat: 13)

“… dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah …” (QS. An-Nisa: 119)

“Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-

laki.” (HR. Ahmad)

Menurut konsep ini, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak ada jenis

kelamin ketiga. Pengubahan jenis kelamin dianggap sebagai pengubahan atas ciptaan

Allah sebagaimana titah setan yang tertulis dalam Q.S. An-Nisa: 119. Bahkan, Allah

mengutuk individu yang berpenampilan dan bertindak menyerupai anggota jenis

kelamin lain.

Bagi manusia yang memiliki kecenderungan psikologis ke arah transseksualisme

maupun jenis kelainan gender yang lain, haruslah ditangani melalui terapi spiritual

dan psikologis, bukan dengan mengubah ciptaan Allah. Operasi kelamin sendiri,

diharamkan bagi tujuan transseksualisme pada pemilik kelamin normal sejak lahir

(Munas II MUI 1980). Operasi kelamin yang diperbolehkan adalah operasi untuk

22
perbaikan atau penyempurnaan kelamin dan operasi pembuangan salah satu dari

kelamin ganda.

c. Dari Segi Common Law (Hukum Konvensional)

Dalam skala internasional, United Nation Commision on Human Rights

menolak untuk ketiga kalinya perihal Human Rights and Sexual Orientation (2005)

dan Economic and Social Council menolak untuk ketiga kalinya untuk memberi

status konsultatif kepada ILGA (International Lesbian and Gay Association) (2006).

Dalam skala nasional di Indonesia, belum ada peraturan yang tegas mengatur

transseksualisme. Meskipun begitu, secara hukum, kaum transseksual memiliki hak

yang sama dengan manusia pada umumnya sesuai dengan Undang-Undang No.9

tahun 1999 mengenai hak asasi manusia. Menurut pasal 1 Undang-undang nomor 1

tahun 1974 tentang perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang

pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau

rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan begitu, pernikahan homoseksual adalah dilarang. Bagi kaum transseksual

yang telah mengalami operasi pengubahan kelamin, status kewarganegaraannya

berubah dalam sisi jenis kelamin. Karena itu, tidak ada masalah dalam hal jika kaum

transseksual menikah selama ia menikah dengan jenis kelamin yang berlawanan

dengan jenis kelaminnya yang sah dan terdaftar (sesuai dengan Kartu Tanda

Penduduk).

23
d. Dari Segi Medis dan Kedokteran

Secara konsep dan teknis, sex-reassignment surgery bersifat irreversibel

sehingga pasien yang menjalani operasi ini harus memiliki keyakinan yang kuat

untuk menerima segala konsekuensi dari operasi bedah ini. Operasi pengubahan

kelamin merupakan proses yang mahal secara medis (sekitar $ 7000-24000 untuk

MtF dan $ 50000 untuk FtM). Operasi pengubahan jenis kelamin perempuan menjadi

laki-laki sangat sulit dilakukan dan memiliki kemungkinan kegagalan atau kematian

pasien yang tinggi. Dalam hal ini, sangat riskan untuk membuat clitoris menjadi

gland penis yang ukurannya jauh lebih besar dan harus dilakukan operasi tambahan

histerektomi dan ooforektomi.

Bagi MtF (male to female) pun, operasi tidak dilakukan tanpa resiko. Berikut

adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi :

· Pendarahan/hematoma

· Infeksi

· Masalah penyembuhan luka

· Recto-vaginal fistula (lubang berkembang antara kolon dan vagina)

· Urethra-vaginal fistula

24
· Pulmonary thromboembolism

· Necrosis parsial/menyeluruh pada flap

· Pertumbuhan rambut intravaginal

· Ketakutan hipertrofik

· Vagina pendek

Setelah SRS dilakukan pun, dibutuhkan waktu tahunan untuk benar-benar

berganti gender dari hal pembentukan sikap dan gaya yang sesuai. Selain itu, terapi

hormon tetap harus dilakukan. Biasanya hal ini memakan waktu hingga 5 tahun.

Praktisi medis juga seringkali menolak untuk melakukan operasi pada penderita

HIV/hepatitis C karena tingkat kesulitan dan kegagalan yang lebih tinggi.

Terlepas dari banyaknya perbedaan pandangan atas transseksualisme dan

aplikasi teknologi biologis-kedokteran yang digunakan untuk memfasilitasinya,

fenomena ini merupakan fenomena yang sangat tidak sulit ditemukan. Berikut adalah

3 negara yang diambil sebagai contoh gambaran transseksualisme di dunia :

a. Thailand

Kebudayaan Budha di Thailand, memiliki akar kepercayaan Hindu. Dalam

kebudayaan bangsa ini, diakui adanya gender ketiga yang disebut sao praphet song

atau kathoey (wanita jenis kedua). Dalam kepercayaannya, kathoey merupakan hasil

karma (transgresi kehidupan lampau). Kathoey dikenal secara luas dan merupakan

25
salah satu komoditas pariwisata yang penting. Kathoey Beauty Contest dilaksanakan

secara luas baik di tinggal lokal maupun nasional. Bahkan, di Thailand terdapat toilet

bagi laki-laki, perempuan dan kathoey (khusus). Meskipun begitu, kathoey tidak

dapat mengubah identitas legal kewarganegaraan, sehingga tetap terdaftar sebagai

laki-laki. Dengan segala keterbukaannya terhadap kathoey, Thailand merupakan

negara yang memfasilitasi SRS terbanyak di dunia.

b. Iran

Di negara ini, transseksualisme adalah legal selagi diikuti oleh SRS. Ayatullah

Ruhollah Khomeini menyatakan fatwa SRS boleh bagi kaum transseksual. Namun,

kenyataannya SRS yang dibayar penuh oleh pemerintah pun banyak diselewengkan

kaum homoseksual yang tidak ingin tertangkap dan dihukum penjara atau hukuman

gantung. Padahal, transseksual tidak sama dengan homoseksual. Dalam kasus seperti

ini, kebijakan negara ini harus dikawal dengan penerapan prosedur yang valid

mengenai justifikasi keberadaan transseksualitas dalam diri seseorang. Terlepas dari

semua itu, Iran adalah negara pelaksana SRS terbanyak di dunia kedua setelah

Thailand.

c. Indonesia

Di Indonesia, fenomena transseksual bukan hal yang asing. Dorce Gamalama

yang terlahir dengan nama Dedi Yuliardi Ashadi merupakan contoh kaum

transseksual yang banyak dikenal publik. Karena hukum di Indonesia tidak dengan

26
jelas mengatur transseksualitas, Dorce bahkan sudah menikah secara legal sebanyak 3

kali. Selain tokoh-tokoh transseksual, banyak juga kelompok kaum ini yang

ebroperasi di Indonesia. Diantaranya GAYa (Jakarta), Arus Pelangi (Surabaya),

ILGA, Rumah Mode Komunitas Transseksual Surabaya, Pesantren LGBT

Yogyakarta, dll. Di bulan Oktober 2010 ini bahkan rencananya dilaksanakan Q Film

Festival di Jakarta.

Selain kelompok yang pro dan memang mengakomodir kaum transseksual, di

Indonesia juga banyak terdapat kelompok masyarakat yang menolak transseksualitas

dan SRS yang memfasilitasinya. Diantara kelompok atau organisasi masyarakat itu

adalah Gerakan Pemuda Anti Penyimpangan-Malang Raya, Front Pembela Islam

(FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

27
. BAB III.

KESIMPULAN

Seseorang yang tidak jelas dengan status kelaminnya disebut transgender atau

transseksual yang merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa

tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun

adanya ketidak puasan dengan alat kelamin yang dimilikinya.

Transgender dan transseksual tak lain adalah salah satu dari varian

peyimpangan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Terbatasnya pemahaman

masyarakat tentang transgender dan transseksual mempengaruhi sikap –sikap yang

diambil oleh individu yang mengalaminya .

28
Untuk menghindari resiko mendapatkan penolakan atau bahkan perlakuan yang tidak

sepantasnya, mereka mengambil tindakan menarik diri dari lingkungan

pergaulannya.

Terlepas dari alasan apapun transgender ataupun transseksual adalah

seseorang yang kebetulan mengalami suatu kondisi yang berat, dalam kondisi

dimana mereka sebenarnya tidak memiliki pilihan atas apa yang dihadapinya , oleh

karenanya mereka membutuhkan bantuan dan dukungan. Namun sayangnya

lingkungan justru hampir selalu memberikan kebalikan dari apa yang mereka

butuhkan. Hanya karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang kondisi

transgender dan transseksual, membuat masyarakat mengecam mereka.

Permasalahan mengenai mereka seringkali bersinggungan dengan berbagai

pihak, mulai dari oknum agama, sosial dan birokrasi. Dalam agama kaum –kaum

transgender ataupun transseksual adalah kaum –kaum yang melawan kodrat Tuhan.

Dalam sosial kemasyarakatan mereka menjadi anomali bagi “ keberadaban” suatu

kaum, sehingga timbul ekses menolak bahkan cenderung memberikan “label” buruk

bagi mereka. Disisi birokrasi karena ketidak jelasan status ,menimbulkan

permasalahan bagi dinas kependudukan.

Orang-orang yang terjebak dalam raga tak sesuai dengan jiwa mereka

seharusnya dibantu dengan solusi bukan dikucilkan

29
Gerakan pembelaan kesetaraan gender telah banyak bermunculan, namum

praktik ketidak-adilan tetap saja menjamur di tiap lapisan masyarakat. Globalisasi

membawa nilai-nilai kesetaraan gender meluas ke seluruh penjuru dunia.

Indonesia sudah memiliki Instrumen HAM. Akan tetapi di Indonesia, negara

belum penuh melaksanakan hak-hak bagi kelompok transgender. Kelompok

transgender untuk mendapatkan hak ekonomi, hak sosial, hak politik susah. Hak

berserikat hak berpendapat bebas dan harus dipenuhi tanpa diskirminasi. Menteri

Ristek M Nasir melarang keberadaan lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT)

masuk kampus adalah melanggar hak azasi manusia. Padahal LGBT tidak dilarang

masuk ke Istana Presiden dan Negara. Dorce Gamalama sebagai transgender pun

hadir di istana Negara dalam kapasitas sebagai seniman Indonesia atas undangan

Presiden Jokowi. Larangan Mentri Nasir menimbulkan kasus ini melanggar hak azasi

manusia. Lesbian,gay,biseksual dan transgender (LGBT) merupakan fenomena global

belakangan dan mulai mendapatkan tempat diseluruh penjuru dunia. LGBT adalah

kenyataan sejarah sejak lahirnya umat manusia sebagai bagian dari evolusi alam

semesta.

Menghargai hak orang lain , toleransi dan orientasi seksual adalah bagian dari

keyakinan bangsa Indonesia. Presiden Jokowi menerima Dorce Gamalama sebagai

transgender di Istana Negara sebagai bagian dari toleransi terhadap manusia ,

termasuk perbedaan keyakinan dan kepercayaan orientasi seksual. Maka kebijakan

30
Mentri M,Nasir melarang eksistensi dan pergerakan hak azasi manusia terkait LGBT

ini merupakan pelanggaran HAM. Para mahasiswa dan mahasiswi dan juga dosen

yang memiliki orientasi seksual tersendiri tak akan bisa dikontrol. Mereka harus tetap

menyuarakan secara santun dan beradab perjuangan menyuarakan nilai-nilai

kesamaan hak azasi manusia.

Setiap tahun sejak 17 Mei 1990 di seluruh dunia merayakan Hari

Internasional Melawan Homofibia dan Transfobia tanggal dihapuskannya

homoseksual dari kategori penyakit mental oleh Organisasi Kesehatan Dunia

( WHO). Tahun 2015 bertema penghapusan kekerasan terhadap LGBT. LGBT di

Indonesia masih menghadapi berbagai masalah, masih sering menjadi korban

kekerasan dari diskriminasi atau malah kriminalisasi.

Transgender belum dapat diterima masyarakat .pemuka agama dan

masyarakat secara umum menganggap mereka sebagai kaum pendosa sehingga tidak

layak beribadah bersama – sama maka terjadilah konflik dalam agama . Saat ini

keberadaan transgender dan transseksual memang sulit dipahami apalagi diterima.

31