Anda di halaman 1dari 11

PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS PENANAMAN MODAL ASING

___________________________________________________________________________
1. Untuk memulai investasi, penting untuk sebelumnya memastikan apakah bidang usaha
yang menjadi target investasi merupakan bidang usaha yang terbuka untuk penanaman
modal asing, dengan memperhatikan Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010 tentang
Bidang Usaha yang Terbuka dan Tertutup Untuk Penanaman Modal Asing (untuk
selanjutnya disebut sebagai “Perpres 36/2010”) serta besaran komposisi penanaman
modal asing yang diperbolehkan. It is also essential untuk mengetahui klasifikasi bidang
usaha dengan mengacu pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia/KBLI
Peraturan Kepala BPS No. 57 Tahun 2009).
Commencement of investment initiated by verifying whether the targeted field of business
falls into the category of ‘open for foreign investment’ as referred to the Presidential
Regulation also the percentage of ownership allowed. Moreover, it is also
2. Calon pendiri membentuk perseroan terbatas ( “PT”) dengan memenuhi syarat, ketentuan,
serta prosedur sebagaimana diatur dalam UU Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007
(antara lain, Pendiri minimum 2 orang, Akta Pendirian berbentuk akta notaris, pengesahan
status badan hukum oleh Menkumham). Dalam hal calon pendiri adalah individu dan/atau
badan hukum asing, maka PT tersebut merupakan PT dalam rangka penanaman modal
asing (“PT PMA”) yang memerlukan persetujuan lebih lanjut dari Badan Koordinasi
Penanaman Modal (“BKPM”). Dalam hal pendiri adalah badan hukum asing, maka
nomor dan tanggal pengesahan badan hukum pendiri adalah dokumen yang sejenis
dengan akta pendirian, misalnya certificate of incorporation.
Candidates of founders establish limited liability company (“LLC”) according to the
requirements and procedure as set out in the Law No. 40 of 2007 on Limited Liability
Companies (e.g. minimum founder of 2 persons, article of association in form of notarial
deed, legalization of incorporation by the Minister of Justice). In the event of the founder
is foreign individual and/or legal entitiy, the established LLC shall be a foreign
investment LLC where further approval by the Investment Coordinating Board is
required. In the event of the founder is foreign legal entity, the reference number and the
legality date of such founder referred to its certificate of incorporation or similar
document.
3. Setelah memperoleh status badan hukum, ditindaklanjuti dengan pengurusan perizinan
penunjang yang diperlukan, yaitu:
a. NPWP
NPWP bagi wajib pajak badan diperoleh dengan melakukan pendaftaran ke Kantor
Pelayanan Pajak (“KPP”) yang wilayah kerjanya meliputi alamat atau domisili PT,
sesuai dengan Per-44/Pj/2008 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pendaftaran Nomor
Pokok Wajib Pajak (WP) dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP),
Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana terakhir kali diubah oleh Peraturan Dirjen Pajak No. Per-62/PJ/2010.
Tax Reference Number
Tax Reference Number for tax payer obtained by registration to the Tax Service Office
where its jurisdiction within the registered domicile of the LLC, pursuant to the
Regulation of the Director General of Tax Per-44/Pj/2008.
b. Surat Keterangan Domisili Perusahaan/SKDP dari kelurahan setempat

Page 1 of 11
SKDP digolongkan sebagai perizinan yang terkait dengan retribusi daerah, sehingga
dasar hukumnya merujuk pada peraturan daerah (perda) di tempat kedudukan ataupun
alamat PT terkait.
Untuk wilayah DKI Jakarta mengacu pada Peraturan Daerah DKI No. 1 Tahun 2006
tentang Retribusi Daerah (“Perda DKI 1/2006”) dan Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 505 Tahun 1989 tentang Pedoman
Penyelengaraan Pelayanan Masyarakat di Kantor Lurah DKI Jakarta (“Pergub DKI
505/1989”). Pengertian “domisili” sebagaimana dimaksud pada SKDP pada
prinsipnya adalah surat keterangan atas alamat perusahaan yang diterbitkan oleh
kelurahan.
Merujuk pada Kepgub DKI 505/1989, dokumen-dokumen yang diperlukan:
1) surat pengantar RT dan RW;
2) KTP pemilik;
3) Akta Notaris pendirian perusahaan.
Selain SKDP sebagaimana diuraikan di atas, dikenal juga Surat Keterangan Domisili
("SKD") sehubungan dengan kewajiban perpajakan digunakan dalam kaitannya
dengan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda ("P3B"). SKD digunakan untuk
membuktikan bahwa wajib pajak tertentu adalah subjek pajak dalam negeri
(residence) dari suatu negara tertentu yang menandatangani P3B. Dengan demikian,
SKD tersebut harus diterbitkan oleh negara di mana seseorang atau badan terdaftar
sebagai wajib pajak dalam negeri. Sementara itu, negara lain yang merupakan negara
sumber penghasilan akan mengenakan tarif sesuai P3B jika orang atau badan tersebut
dapat menunjukkan SKD dari negara mitra P3B-nya. SKD bagi wajib pajak dalam
negeri diatur dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-35/PJ/2010 tentang Surat
Keterangan Domisili Bagi Subjek Pajak Dalam Negeri Indonesia Dalam Rangka
Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.
c. Tanda Daftar Perusahaan/TDP dari Kantor Pendaftaran Perusahaan;
Berdasarkan Pasal 1 huruf a UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan,
daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang memuat hal-hal yang wajib
didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari
kantor pendaftaran perusahaan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 37/M-
Dag/Per/9/2007 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan
("Permendag 37/2007"), pendaftaran dilakukan oleh pemilik, pengurus atau kuasa
perusahaan pada KPP dan dokumen yang diperlukan:
1) Fotokopi Akta Pendirian Perseroan;
2) Fotokopi Akta Perubahan Pendirian Perseroan (apabila ada);
3) Asli dan fotokopi Keputusan Pengesahan sebagai Badan Hukum dan persetujuan
4) perubahan bagi PT yang telah berbadan hukum sebelum diberlakukannya
Undang-Undang Perseroan Terbatas;
5) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau Paspor pemilik, pengurus, atau
penanggungjawab perusahaan;
6) Fotokopi Izin Usaha atau Surat Keterangan yang dipersamakan dengan itu yang
diterbitkan oleh Instansi yang berwenang;dan
7) Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak.

Page 2 of 11
d. Izin Gangguan/Hinder Ordonanntie/HO dari pemerintah daerah setempat;
Izin HO (hinder ordonantie) atau izin UU Gangguan ditetapkan berdasarkan
Staatsblad Tahun 1926 Nomor 226 sebagaimana telah beberapa kali diubah
dan ditambah, terakhir dengan Staatsblad Tahun 1940 Nomor 450.
Sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 27 Tahun 2009
tentang Pedoman Penetapan Izin Gangguan di Daerah, pemberian izin HO merupakan
kewenangan masing-masing pemerintah daerah, dalam hal ini bupati/walikota,
sehingga perda mengenai pemberian izin HO dapat berbeda di setiap daerah.
Untuk DKI Jakarta, persyaratan pengajuan izin HO adalah:
1) Fotokopi Surat tanah atau bukti lainnya
2) Fotokopi KTP, NPWP
3) Fotokopi Akte Pendirian
4) Fotokopi Tanda Pelunasan PBB
5) Persyaratan tidak berkeberatan dari tetangga atau masyarakat yang berdekatan
6) Daftar bahan baku penunjang
7) Fotokopi IMB/siteplan
e. SIUP dari dinas perdagangan atau pelayanan terpadu satu pintu/PTSP Pemerintah
daerah setempat.
SIUP diberikan kepada perusahaan sebagai izin untuk dapat melaksanakan kegiatan
perdagangan (kegiatan usaha transaksi barang atau jasa), yang terbagi ke dalam SIUP
kecil, menengah, atau besar sesuai dengan besaran kekayaan bersih yang dimiliki
perusahaan.
SIUP diberikan dengan mengisi formulir permohonan dilengkapi dengan:
1) Fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan;
2) Fotokopi Akte Perubahan Perusahaan (apabila ada);
3) Fotokopi Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas
4) dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia;
5) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Penanggungjawab/Direktur
6) Utama Perusahaan;
7) Surat Pernyataan dari Pemohon SIUP tentang lokasi usaha perusahaan,
8) Foto Penanggungjawab atau Direktur Utama Perusahaan ukuran 3x4 cm (2
lembar).
4. Pengajuan Izin Sementara untuk pendirian PT PMA melalui BPKM.
5. Dalam hal pengurusan pendirian PT PMA diwakilkan, maka surat kuasa diperlukan.
Sesuai dengan Pasal 63 ayat (1) Peraturan Kepala BKPM No. 12 Tahun 2009 (untuk
selnjutnya disebut sebagai ”Perka BKPM 12/2009”): “Penandatanganan dan pengurusan
permohonan penanaman modal ke PTSP BKPM, PTSP PDPPM, atau PTSP PDKPM
dapat dilakukan sendiri oleh pemohon atau pihak lain yang diberi kuasa oleh pemohon
dengan surat kuasa asli bermaterai cukup yang dilengkapi identitas diri yang jelas dari
penerima kuasa”
Sesuai Pasal 1792 KUHPerdata:

Page 3 of 11
“Pemberian kuasa adalah perjanjian dengan mana seseorang memberikan kekuasaan
kepada orang lain, untuk atas namanya melakukan suatu urusan”
Dalam hal terdapat lebih dari satu calon pendiri PT PMA, maka surat kuasa tersebut harus
berasal dari masing-masing calon pendiri PT PMA tersebut.
6. Untuk pendirian PT PMA, maka pertama harus mengajukan aplikasi kepada BKPM untuk
pendaftaran penanaman modal, yaitu dengan mengisi formulir aplikasi sesuai Lampiran I
Perka BKPM 12/2009, dengan melampirkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
a. surat dari instansi pemerintah negara yang bersangkutan atau surat yang dikeluarkan
oleh kedutaan besar/kantor perwakilan negara yang bersangkutan di Indonesia untuk
pemohon adalah pemerintah negara lain;
b. rekaman (copy) paspor yang masih berlaku untuk pemohon adalah perseorangan
asing;
c. rekaman Anggaran Dasar (Article of Association) dalam Bahasa Inggris atau
terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dari penterjemah tersumpah untuk pemohon
adalah untuk badan usaha asing;
d. rekaman KTP yang masih berlaku untuk pemohon adalah perseorangan Indonesia;
e. rekaman Akta Pendirian perusahaan dan perubahannya beserta pengesahan dari
Menteri Hukum dan HAM untuk pemohon adalah badan usaha Indonesia;
f. rekaman NPWP baik untuk pemohon adalah perseorangan Indonesia maupun badan
usaha Indonesia;
g. permohonan Pendaftaran ditandatangani di atas meterai cukup oleh seluruh pemohon
(bila perusahaan belum berbadan hukum) atau oleh direksi perusahaan (bila
perusahaan sudah berbadan hukum);
h. Surat Kuasa asli bermeterai cukup untuk pengurusan permohonan yang tidak
dilakukan secara langsung oleh pemohon/direksi perusahaan;
i. ketentuan tentang surat kuasa sebagaimana dimaksud pada butir h diatur dalam Pasal
63 Peraturan ini.
7. Setelah izin pendaftaran penanaman modal dari BKPM dikeluarkan, selanjutnya perlu
mengajukan permohonan izin prinsip penanaman modal dari BKPM, yaitu izin untuk
memulai kegiatan penanaman modal di bidang usaha yang dapat memperoleh fasilitas
fiskal dan dalam pelaksanaan penanaman modalnya memerlukan fasilitas fiskal (Pasal 1
angka 15 Perka BKPM 12/2009) untuk industri yang memperoleh pembebasan bea masuk
sesuai Peraturan Menkeu No 176 Tahun 2009. Izin prinsip diajukan dengan mengisi
formulir aplikasi yang telah ditentukan oleh BKPM, dan melampirkan:
a. bukti diri pemohon, yaitu:
1) Pendaftaran bagi badan usaha yang telah melakukan pendaftaran
2) Salinan Akta Pendirian perusahaan dan perubahannya
3) Salinan Pengesahan Anggaran Dasar Perusahaan dari Menteri Hukum dan
HAM
4) Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
b. keterangan rencana kegiatan, berupa:
1) Uraian proses produksi yang mencantumkan jenis bahan-bahan dan dilengkapi
dengan diagram alir (flowchart);
2) uraian kegiatan usaha sektor jasa.

Page 4 of 11
c. rekomendasi dari instansi pemerintah terkait, bila dipersyaratkan
8. Setelah izin prinsip keluar dan perusahaan telah siap melakukan kegiatan/berproduksi
komersial, maka perusahaan tersebut wajib memperoleh izin usaha dari BKPM (Pasal 20
Perka BKPM No. 12 Tahun 2009). Izin usaha didapat dengan mengajukan permohonan
pada BKPM, dengan mengisi formulir aplikasi yang telah ditentukan dan melampirkan
dokumen-dokumen sebagai berikut:
a. Laporan Hasil Pemeriksaan proyek (LHP), untuk permohonan Izin Usaha atau Izin
Usaha Perluasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) dan ayat (2) yang
kegiatan usahanya memerlukan fasilitas bea masuk atas impor barang dan bahan;
b. Salinan akta pendirian dan pengesahan serta akta perubahan dan pengesahan dari
Kementerian Hukum dan HAM;
c. Salinan Pendaftaran/Izin Prinsip/Izin Prinsip Perluasan/Surat persetujuan Penanaman
Modal/Izin Usaha dan/atau Surat Persetujuan Perluasan Penanaman Modal/Izin Usaha
Perluasan yang dimiliki;
d. Salinan NPWP;
e. Bukti penguasaan/penggunaan tanah atas nama:
1) Salinan sertifikat Hak Atas Tanah atau akta jual beli tanah oleh PPAT, atau
2) Salinan perjanjian sewa-menyewa tanah.
f. bukti penguasaan/penggunaan gedung/bangunan:
1) Salinan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), atau
2) Salinan akta jual beli/perjanjian sewa menyewa gedung/bangunan
g. Salinan izin Gangguan (UUG/HO) atau Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) bagi
perusahaan yang berlokasi di luar kawasan industri;
h. Salinan Laporan Kegiatan Penanaman modal (LKPM) periode terakhir;
i. Salinan persetujuan/pengesahan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
atau Salinan persetujuan/pengesahan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL);
j. Persyaratan lain sebagaimana diatur dalam peraturan instansi teknis terkait dan/atau
peraturan daerah setempat;

Dasar hukum:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek Voor Indonesie
atau KUHPerdata, Staatsblad 1847 No. 23)
2. Undang Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
3. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
4. Peraturan Presiden No. 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu
di Bidang Penanaman Modal (Perpres No. 27 Tahun 2009);
5. Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha yang
tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman
Modal (Perpres DNI);
6. Peraturan Kepala BKPM No. 12 Tahun 2009 tentang Pedoman dan Tata Cara
Permohonan Penanaman Modal (Perka BKPM No. 12 Tahun 2009).

Page 5 of 11
DASAR DAN RUANG LINGKUP PENDAPAT DARI SEGI HUKUM
Pendapat dari Segi HUkum ini didasaran pada hasil penelaahan atas Undang-Undang dan
peraturan lainnya yang terkait dengan pembentukan perseroan terbatas penanaman modal
asing yang berlaku berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, dan tidak dimaksudkan
untuk berlaku atau ditafsirkan menurut hukum atau jurisdiksi lain.

ASUMSI-ASUMSI
Pendapat dari segi hukum ini (selanjutnya disebut sebagai “PSH”) didasarkan pada asumsi
bahwa Undang-Undang dan peraturan lainnya yang dijadikan acuan di dalam pembuatan
PSH ini beserta penjelasan atas masing-masing pasal berlaku dan memiliki kekuatan hukum
untuk dipatuhi dan dilaksanakan. Dalam memberikan PSH ini, kami berasumsi akan
kebenaran dan ketepatan terhadap ketenruan yang diatur dalam Undang-Undang dan
peraturan lainnya yang dijadikan acuan di dalam PSH ini.
Di dalam memberikan PSH ini, kami tidak memberikan pendapat atau penilaian aas
kewajaran nilai komersil atau financial dai suatu transaksi dimana ___ menjadi pihak atau
mempunyai kepentingan di dalamnya atau harta kekayaannya yang terkait.
Demikian Pendapat dari Segi Hukum ini kami berikan dengan objektif, bebas dan mandiri,
tidak terafiliasi danatau terasosiasi secara langsung maupun tidak langsung dan kami
bertanggungjawab atas isi pendapat hukum ini.
____________________________
PERUBAHAN ALAMAT PERUSAHAAN
Terdapat perbedaan antara alamat dengan domisili sebagaiana diuraikan pada Pasal 5 UUPT.
Pasal 17 ayat (1) UU PT yang mengatur mengenai tempat kedudukan/domisili menyatakan
bahwa Perseroan mempunyai tempat kedudukan di daerah kota atau kabupaten dalam
wilayah negara Republik Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar. Kemudian, pada
Pasal 17 ayat (2) dinyatakan bahwa tempat kedudukan (domisili) tersebut merupakan kantor
pusat Perseroan.
Dengan demikian, kedudukan perseroan (domisili) berbeda dengan alamat perusahaan,
dimana kedudukan perseroan (domisili) sebagaimana disebutkan di dalam anggaran dasar,
Perseroan berada di dalam suatu kota atau kabupaten. Sedangkan, suatu alamat tidak wajib
ditentukan di dalam anggaran dasar tetapi hal tersebut dapat ditentukan oleh perseroan
berada di dalam wilayah suatu kedudukan perseroan (domisili) yang ditentukan di dalam
anggaran dasar.
Sebagai konsekuensi dari hal ini adalah perubahan alamat yang dilakukan oleh perseroan
yang masih berada dalam satu wilayah kota atau kabupaten tidak memerlukan perubahan
domisili dalam anggaran dasarnya. Sebaliknya, apabila perubahan alamat tersebut menjadi
berada di luar wilayah kota/kabupaten yang dicantumkan dalam anggaran dasar, maka hal ini
akan mewajibkan perseroan untuk melakukan perubahan domisili, sebagaimana diatur
dalam Pasal 21 dan Pasal 23 UUPT.
Berdasarkan ketentuan Pasal 21 UUPT, perubahan anggaran dasar terbagi menjadi dua
kelompok yaitu perubahan anggaran dasar yang harus mendapat persetujuan Menteri dan
perubahan anggaran dasar yang cukup diberitahukan kepada Menteri. Perubahan anggaran
dasar yang merubah tempat kedudukan sesuai dengan Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) huruf a
harus mendapat persetujuan Menteri dan perubahan tersebut harus dinyatakan dalam akta
notaris berbahasa Indonesia. Dalam Pasal 23 ayat (1) UUPT dinyatakan bahwa Perubahan
anggaran dasar terkait dengan tempat kedudukan tersebut mulai berlaku, sejak diterbitkannya
keputusan menteri mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar.

Page 6 of 11
Kewajiban yang Timbul dari Perubahan Alamat Perusahaan dan Dasar Hukumnya
Dengan perubahan alamat suatu perusahaan maka terdapat beberapa kewajiban yang harus
dipenuhi oleh suatu perusahaan di antaranya adalah:
1. Perubahan Surat Izin Usaha Perdagangan ("SIUP")
Berdasarkan Pasal 1 ayat (5) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 46/M-
Dag/Per/9/2009 jo. No. 36/M-Dag/Per/9/2007 Tahun 2007 tentang Penerbitan Surat Izin
Usaha Perdagangan ("Permendag 46/2009"), “Perubahan Perusahaan adalah perubahan data
perusahaan yang meliputi perubahan nama perusahaan, bentuk perusahaan, alamat kantor
perusahaan, nama pemilik/penanggung jawab, modal dan kekayaan bersih, kelembagaan,
kegiatan usaha, dan barang/jasa dagangan utama.”
Setiap terjadi perubahan data perusahaan mewajibkan Pemilik, Pengurus atau Penanggung
jawab Perusahaan Perdagangan mengajukan Surat Permohonan Surat Izin Usaha
Perdagangan ("SP-SIUP") perubahan dengan menggunakan formulir:
a) Lampiran I Permendag 46/2009 (SP SIUP); dan melampirkan
b) Lampiran II (Dokumen Permendag 46/2009 persyaratan permohonan SIUP Baru,
pendaftaran ulang, pembukaan Kantor Cabang/Perwakilan, perubahan, pengganti yang
hilang atau rusak, dan contoh surat pernyataan)
Paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak diterima SP-SIUP, Pejabat Penerbit SIUP
menerbitkan SIUP perubahan dengan menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III (Formulir SIUP Kecil/Menengah /Besar) (Pasal 14).
Syarat-syarat yang diperlukan dalam melaporkan perubahan data perseroan tercantum dalam
Lampiran II Permendag 46/2009, sebagai berikut:
a) Surat Permohonan SIUP (Lampiran I);
b) SIUP Asli;
c) Neraca Perusahaan (tahun terakhir khusus untuk Perseroan Terbatas);
d) Data pendukung perubahan;
e) Foto Pemilik atau Penanggungjawab Perusahaan ukuran 3×4 cm (2 lembar).

2. Kewajiban di bidang pajak Nomor Pokok Wajib Pajak ("NPWP")


Perubahan alamat tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat usaha keluar wilayah
kerja KPP tempat Wajib Pajak Terdaftar tidak termasuk dari definisi Perubahan Data WP atau
PKP (Pasal 1 Butir 15 PerDirjen Pajak), selanjutnya untuk permohonan perubahan data untuk
WP pindah dan/atau PKP pindah disampaikan ke KPP/KP4/KP2KP tempat WP terdaftar
untuk memberitahukan dan memohon perubahan data (Pasal 1 Butir 19 PerDirjen Pajak).
Pemindahan WP atau PKP diartikan sebagai memindahkan administrasi perpajakan Wajib
Pajak dan/atau PKP dari tata usaha KPP lama ke tata usaha KPP baru, karena alasan pindah
tempat tinggal atau tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha (Pasal 1 Butir 16
PerDirjen Pajak 62/2010).
Perubahan alamat wajib pajak (perseroan) tidak terikat kepada domisili perusahaan
sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar. Dalam hal wajib pajak (perseroan)
melakukan perpindahan alamat, yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai wilayah
Kantor Pelayanan Pajak ("KPP"). Apabila perubahan alamat mengakibatkan perubahan KPP
maka wajib pajak yang bersangkutan harus mengajukan permohonan perpindahan KPP

Page 7 of 11
kepada KPP lama dan KPP baru dan mengenai tata cara pelaporan dan pemindahan tersebut
diatur dalam Pasal 5 dan Pasal 6 PerDirjen Pajak 62/2010.

3. Perubahan Surat Keterangan Domisili Perusahaan ("SKDP")


Bahwa mengenai SKDP, sampai dengan saat ini tidak ada peraturan khusus yang mengatur
mengenai hal ini, untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta peraturan yang bisa
dijadikan dasar mengenai hal ini terdapat dalamPeraturan Daerah DKI No. 1 Tahun 2006
tentang Retribusi Daerah ("Perda DKI 1/2006"), walaupun tidak secara tegas menyatakan
SKD, namun SKD dapat digolongkan pada perizinan yang berhubungan dengan Retribusi
daerah, peraturan lainnya adalah Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 506 Tahun 1989 tentang Pedoman Penyelengaraan Pelayanan Masyarakat Dikantor
Lurah DKI Jakarta ("KepGub 505/1989").

Dokumen yang diperlukan untuk melakukan pengurusan SKDP ini sebagaimana terdapat
di dalam KepGub 505/1989 yaitu:
1. surat pengantar RT dan RW;
2. KTP pemilik;
3. Akta Notaris pendirian perusahaan;

4. Surat Tanda Daftar Perusahaan ("TDP")


Setiap perusahaan yang melakukan perubahan terhadap data yang
didaftarkan wajib melaporkan perubahan data kepada KPP Kabupaten/Kota/Kotamadya
setempat dengan mengisi formulir pendaftaran sebagaimana tercantum dalam Lampiran
II.A sampai dengan II.F Peraturan Menteri ini dan melampirkan dokumen sebagaimana
tercantum dalam Lampiran VI Peraturan Menteri ini.
1). Kewajiban melaporkan perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh:
a. PT paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal persetujuan perubahan atau bukti
penerimaan pemberitahuan perubahan dari Menteri yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan; atau
b. Koperasi, CV, Firma, perorangan, dan BUL paling lambat 3 (tiga) bulan
terhitung sejak tanggal perubahan (Pasal 10 Permen 37/2007 ayat [1] dan ayat [2])

Selanjutnya dalam Pasal 11 Permendag 37/2007 disebutkan bahwa perubahan alamat


perusahaan dapat mengakibatkan penggantian TDP, masa berlaku TDP pengganti adalah
sampai dengan masa berlaku TDP diubah/diganti. TDP pengganti akan diterbitkan oleh
Kepala Kantor Pendaftaran Perusahaan (KPP) paling lambat 3 hari terhitung sejak
permohonan perubahan diterima secara benar dan lengkap.

Lampiran VI Permendag 37/2007:

Dokumen persyaratan perubahan daftar perusahaan untuk masing-masing bentuk usaha


adalah sebagai berikut :

Page 8 of 11
1. Asli dan fotokopi persetujuan perubahan atau bukti penerimaan pemberitahuan
2. perubahan dari Menteri Hukum dan HAM;dan
3. TDP asli.
dalam hal perubahan alamat dan tidak mengubah domisili tidak diwajibkan untuk
melakukan perubahan anggaran dasar sehingga persetujuan Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia tidak diperlukan

Konsekuensi dari Penundaan Izin karena Penggabungan

- SIUP

Pasal 20 Permendag 46/2009:

1. Pemilik atau Pengurus atau Penanggungjawab Perusahaan Perdagangan yang telah


memiliki SIUP, yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(2), Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 17, Pasal 18 ayat (1) dikenakan sanksi
administratif berupa Peringatan Tertulis oleh Pejabat Penerbit SIUP.
2. Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak 3
(tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu terhitung sejak
tanggal surat peringatan dikeluarkan oleh Pejabat Penerbit SIUP.
3. Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan formulir
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Peraturan ini.

Pasal 21 Permendag 46/2009:

1. Pemilik, Pengurus, atau Penanggungjawab Perusahaan Perdagangan yang telah


memiliki SIUP, yang tidak menghiraukan peringatan tertulis sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 ayat (2) atau Pasal 5 huruf a, dikenakan sanksi administratif berupa
pemberhentian sementara SIUP.
2. Pemberhentian sementara SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3
(tiga) bulan, dilakukan oleh Pejabat Penerbit SIUP dengan mengeluarkan Keputusan
Pemberhentian Sementara SIUP.
3. Keputusan Pemberhentian Sementara SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
menggunakan Formulir sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII Peraturan
Menteri ini.

- TDP
1. Perubahan alamat suatu perusahaan mewajibkan perusahaan untuk melakukan
pelaporan perubahan alamat tersebut (Pasal 11 ayat (1) Permendag 37/2007);
2. Perusahaan yang tidak melaporkan perubahan alamat, daftar perusahaannya
dihapus, TDP dinyatakan tidak berlaku, dan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan
yang diatur dalam UU-WDP (Pasal 11 ayat (6) Permendag 37/2007).

Page 9 of 11
3. Dalam hal perusahaan melakukan kelalaian untuk melaporkan kewajiban ini maka
perusahaan tersebut akan dikenakan sangsi berupa:
a. Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak
3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu terhitung sejak
tanggal surat peringatan dikeluarkan oleh Pejabat Penerbit SIUP;
b. Dalam hal peringatan tertulis tersebut tidak dihiraukan dikenakan sanksi
administratif berupa pemberhentian sementara SIUP paling lama 3 (tiga) bulan.
Melihat konsekuensi di atas sebaiknya tetap dilakukan pelaporan, sambil meminta
rekomendasi dari instansi terkait atas perubahan izin-izin tersebut sebagaimana diatur
dalam ketentuan perundang-undangan. Apabila masih dalam tahap dilakukan
penggabungan (merger) maka terhadap perusahaan yang selamat (surviving company)
harus melakukan kewajiban pelaporan perubahan setelah merger, untuk perusahaan yang
akan menggabungkan diri resiko tidak memperpanjang izin-izin adalah kemungkinan
pihak ketiga tidak mau melakukan perbuatan hukum dengan perusahaan, sampai izin-izin
perusahaan disesuaikan.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum :

1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ;


2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan;
3. Peraturan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1 tahun 2006 tentang
Retribusi Daerah;
4. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 506 Tahun 1989
Tentang Pedoman Penyelengaraan Pelayanan Masyarakat Dikantor Lurah DKI Jakarta;
5. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-35/PJ/2010 tentang Surat Keterangan Domisili
Bagi Subjek Pajak Dalam Negeri Indonesia Dalam Rangka Penerapan Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda
6. Peraturan Terkait Surat Izin Usaha Perdagangan :
a. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 36/M-Dag/Per/9/2007
Tahun 2007 Tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan;
b. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 46/M-Dag/Per/9/2009
Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Republik
Indonesia Nomor 36/M-Dag/Per/9/2007 Tentang Penerbitan Surat Izin Usaha
Perdagangan;
c. Surat Edaran Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor
01/Pdn/Se/01/2010 Tahun 2010 Tentang Percepatan Penerbitan Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP) Dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
7. Peraturan Terkait Dengan Tanda Daftar Perusahaan :
a. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 37/M-Dag/Per/9/2007
Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan;
b. Surat Edaran Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor
01/Pdn/Se/01/2010 Tahun 2010 Tentang Percepatan Penerbitan Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP) Dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Page 10 of 11
8. Peraturan Mengenai Nomor Pokok Wajib Pajak :
a. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-62/PJ/2010 tentang perubahan kedua
Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per 44/Pj/2008;
b. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-41/PJ/2009 tentang perubahan
pertama Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per 44/Pj/2008;
c. Per-44/Pj/2008 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib
Pajak Dan/Atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Perubahan Data Dan
Pemindahan Wajib Pajak Dan/Atau Pengusaha Kena Pajak

Page 11 of 11