Anda di halaman 1dari 6

SENYUM PALSU

Aku heran kenapa kata CINTA selalu dijadikan prioritas utama dalam kisah hidup setiap
manusia. Seperti tidak ada hal lain saja yang lebih penting dari sekedar kisah romantis antara
sepasang manusia laki –laki dan perempuan. Bukanlah karier, cita -cita masa depan yang
diperjuangkan, melainkan restu CINTA yang diperjuangkan hingga mencapai bingkai pelaminan.
Setelah semua itu, barulah kembali mengingat karier tujuan semula. Aku hanya bisa tersenyum
saja, apalagi saat aku merasakannya. Aku benar –benar mengerti kenapa kata CINTA selalu jadi
menu utama dalam daftar cobaan hidup. Sedih, susah, senang, itu sudah biasa, bahkan wajib
untuk dirasakan hidup dalam mengiringi kisah cinta.
Secuil kisah cintaku dimasa lalu… Awalnya aku memang ‘masa bodoh’ dengan urusan
cinta. Tapi, ketika hati kecilku ini telah memandang seseorang yang biasa dengan sebuah
ketulusan dan kasih sayang, rasanya aku tidak mau memperdulikan lainnya lagi. Hanya dia yang
terpandang dalam hidupku. Ya, aku jatuh cinta padanya… Kata orang, anak SMP itu baru belajar
apa yang namanya cinta tapi masih tahap monyet, alias cinta monyet. Dan mengenali Cinta yang
sesungguhnya saat SMA. Begitu juga denganku. Semua berawal sejak dia selalu mencuri
pandanganku. Saat itu sedang kegiatan classmeeting pertandingan final antara kelasku, a dan
kakak kelas b. Pertandingan voli yang sangat seru dan cukup menegangkan, karena kedua tim
sama – sama kuat. Saking serunya, tak ada satu orang guru maupun murid yang beranjak dari
tempat penonton. Semua bagian luar lapangan terpenuhi oleh orang –orang itu. Jika kamu
terlambat maka kamu tidak akan mendapatkan satu tempat untuk berdiri sekalipun.
“Ami! Semangat!!” Teriak kawan –kawan menyemangati aku. Satu sekolah pun tahu kalau aku
pentolan pemain voli nomor satu di sekolah. Sekejap memejamkan mata, mengingat akan
Tuhan sang pencipta. Aku lempar bola ke atas dan SmaaSh! Permainan di mulai. Ribuan pasang
mata tak henti –hentinya mengikuti lari bola kesana –kemari. Aku sangat menikmati permainan
ini, dibawah terik matahari yang mulai meninggi hampir tepat keatas kepala. Lompat sana,
pukul sini, dan Goal! Tim ku unggul tellak dalam dua babak. Dan sekarang babak terakhir.

Babak penentuan siapa pemenang yang sesungguhnya. Pertandingan semakin sengit,


mereka mengatur kembali strategi baru yang cukup membuatku lebih lelah lagi. Kini mataku
mulai terasa panas, sejenak aku alihkan pandangan pada kerumunan penonton. Satu hal
menarik di pandangan mataku, di jauh sana di tengah –tengah gerombolan manusia ada satu
orang lelaki yang tidak rapi, bajunya keluar, dasinya miring, dan penampilannya agak acak –
acakan. Dia melontarkan senyum padaku. O’oww, sontak jantungku berdebar kencang sekali.
Aku takut ini akan membuyarkan konsentrasiku. Lekas aku tarik nafas dan menghembuskannya
lagi dan kembali focus pada bola kuning biru itu. Aku kembali bermain, tapi perasaanku masih
gugup. Aku rasa aku mulai merasa Ge-er dengan satu pasang mata yang sejak tadi mengintai
setiap gerak tubuhku. Kembali aku menolehi arah kerumunan penonton itu, lelaki itu tetap
tersenyum padaku. Ya Tuhan! Aku mulai hilang kendali, konsentrasiku mengoyah, aku tak bisa
bermain seperti ini. “BhaaaaKK!!!” Akhirnya bola kuning biru itu menghantam mukaku. Aku
terjatuh dan rasanya sakit sekali. “Goaaalll!!!!!” Semua orang berteriak, teamku kebobolan bola
dan mereka menang. Sorakan itu berbarengan dengan bunyi peluit wasit yang menandakan
permainan telah berakhir. Sial! Aku kalah karena kecurangan mereka. Sementara aku sendiri
segera
dilarikan ke unit kesehatan sekolah karena hidungku mengucur darah. “Ini gak adil!” Teriakku
sambil meronta –ronta ingin lekas kabur menemui kakak kelas yang jail itu. Petugas kesehatan
dan guruku tetap menahan. Mereka memegangi aku dengan kuat, sampai aku seperti orang gila
yang sedang mengamuk.
“Sudah, kalau memang kalah ya mau diapakan lagi sekarang? Jangan panas hati begitu,
obati dulu hidungmu, untung saja kamu belum kehilangan hidungmu yang mancung itu.” Sahut
pak guru sembari menggodaku. “Tapi ini tidak bisa dibiarkan pak!” Teriakku kesal. “Sudah lah,
semua orang tahu koq kalau kamu itu dicurangi.” “Tapi caranya konyol pak. Kan jadinya saya
yang malu Pak..”Pak guru hanya tertawa cekikikan sendiri. Abaikan itu. Panas hati, aku tidak bisa
begitu saja membiarkan kecurangan mereka yang sangat memalukan aku. Kejadian tadi benar –
benar merusak reputasiku sebagai pemain voli nomor satu hanya karena sebuah

Senyumannya yang palsu itu. Ah, aku tak bisa terima itu, mereka harus dapat
pembalasanku dulu. “Ami, Ami… jangan. Percuma yang ada kamu sendiri yang malu…” Dessy,
teman terbaikku sejak SD dulu, terus menahan agar aku tak menemui lelaki tadi. “Tidak bisa!
Dia harus terima pembalasan dariku!!” Sahutku geram. Aku tak perdulikan semua murid
tertawa melihat langkah kakiku yang gerasa grusu penuh amarah. Aku sungguh –sungguh harus
menghentikan tawa orang –orang itu. “Ami…” Cemas Dessy terus mengekoriku. Aku sampai di
depan kelas mereka. Aku melongo kedalam kelas, mencari sesuatu. “Cari siapa lo?” Tanya
seorang laki –laki menghampiriku. Tapi bukan lelaki yang aku cari. Ia berdiri dihadapanku
menopangkan kedua tangannya di pinggang. “Aku cari temen lo yang keganjennan ngedip –
ngedipin matanya sama aku!”
Tiba –tiba tersirat rasa takut membuat aku kacau melontarkan kalimatku. Aku masuk
kandang macan, kanan kirinya hanya Dessy satu –satunya temanku. “Huahahahaa…” Lelaki itu
tertawa keras. “Dasar bollywood, ngomong aja gak benner lo! Lagian, ngapain juga loe cari
temen gue? Gak terima kalau kalah?!” “Aku bukan Bollywood!” Teriakku tepat di depan
mukanya. Sunguh aku semakin kesal dibuatnya. Mereka semua selalu menyebutku bollywood
padahal aku bukan orang india. Aku hanya seorang gadis berketurunan Pakistan saja! “Katanya
pentolan nomor satu? Tapi mana?” Mulailah satu ledekan dari seorang lagi yang menghampiri
kami. Wajah –wajah usil menyinyir membuat semakin panas hatiku. Arrgghh! Rasanya aku ingin
menghajar mereka satu persatu. Sayang sekali aku tak berkuasa apapun, jika aku menghajarnya
bisa –bisa aku masuk bp. Akupun bingung harus melakukan apa saat itu. “Udah Ami…” Dessy-
pun menyeret aku kembali meninggalkan kelas mereka. Beralih dari ketegangan, aku bersantai
di kantin sambil mengepal –ngepal hidungku yang semakin terasa sakit. “Kalau kamu marah –
marah di depan dia, pastinya semua orang akan dengar dan fatal kalau mereka tahu kamu geer
cuman gara –gara tuh orang..” “Agrh! Anak siapa sih dia?! Beraninya dia bikin ge-er aku.” Dessy
menggeleng. “Hai…” Sapa seorang lelaki yang tak lain lelaki yang tengah dibahas kami berdua.
Pandanganku kembali sengit menatapnya. “Kau?!” “Gak patah kan hidungnya?” “Dasar kau

lelaki sinting! Kau itu curang! Harusnya aku yang menang!” Ocehku kesal.
Dia tetap tersenyum mengabaikan ocehanku. “Owh, okay… sorry…” “Just it?! Kamu sadar
kamu telah buat kesalahan fatal?!” “Enggak…” “Dasar sinting!” “Sepertinya aku sukses
mengecohmu ya?” “Hey! Let see siapa yang bakalan lebih ge-er dari pada ini okay…” “Okay…”
Aku berbalik meninggalkan dia. “Tunggu!” Aku hanya menghentikan langkahku tanpa menolehi
panggilannya. “Namaku Ibrahim…” Katanya. Aku menoleh dan menyunggingkan senyum hanya
di ujung bibirku. Sejak hari itu, aku semakin sering bertemu dengan dia di sekolah. Dia selalu
menyambutku saat pagi datang sekolah, dan mengantarku hingga gerbang saat pulang. Tanpa
bicara apapun, kami berdua hanya bertukar senyum penuh arti. Bagaimana tidak, aku masih
terus menginginkan dia rasakan apa yang aku rasakan waktu itu. Geer, dia harus lebih ge-er dari
pada aku waktu itu. Sayangnya bertukar senyum itu hanya berlangsung selama sebulan sampai
ia dinyatakan resmi lulus dari sekolah, dan melanjutkan ke SMA yang tidak popular.
Pagi yang cerah… Aku duduk mengotak atik handphoneku sembari menunggu bel
berbunyi pertanda pelajaran dimulai. Kali ini aku bukan lagi murid kelas satu, aku sudah naik
satu tingkat jadi kelas dua. Sebuah amplop berwarna merah jambu diberikan padaku. “Ini surat
buatmu…” Aku mengeryitkan dahiku. “Surat dari siapa?” “Surat dari cowok yang dah bikin team
kita kalah dulu.” Aku tersenyum. “Ibrahim maksudmu?” Dessy hanya mengangguk. Senyumku
semakin lebar saja. Surat merah jambuku yang pertama, aku tak menyangka dia akan
mengirimkan aku sebuah surat cinta. Kali ini aku yang bertambah semakin ge-er saja. Berbalas
surat merah jambu, mengantikan berbalas senyum selama sebulan yang sempat menghilang
karena kepergiannya. Hal pertama yang merwarnai hari – hariku dengan warna merah jambu,
itulah surat darinya. Dia Ibrahim Imran, dan aku panggil dia Aim… Hingga… “Ini, surat cinta
lagi….!!!” Dessy menjulurkan amplop merah hati itu padaku. Mukanya terlihat kesal karena lelah
jadi tukang pos tanpa bayaran. Aku tersenyum, aku rangkul sahabat baikku itu. “Makasih
sayang….” Perlahan aku buka amplop berlem dengan rupa dan hati agak –ge-er. “Heran, hari gini
masih jaman ya pake surat cinta?!!” Tangannya melipat kesal.

Aku tersenyum geli. “Maaf Dessyku sayang… makanya kamu bilang sama dia, yang gentle
dong. Aku gak masalah koq kalau dia mau ketemu langsung sama aku. Justru aku malah tambah
senneng.. hehe…” “Yee iya deh. Tapi dia tetep gak mau, malu katanya…” “Hmmm.. cowok koq
pemalu ya? Dulu aja waktu ngecoh dia gak tau malu.” “Tau ah pangeranmu…” Dessy mencabut
suratku yang masih ada dalam amplopnya. “Eh apa lagi ini isinya??” Aku hanya menggeleng
sambil menaik turunkan bahuku. Surat merah jambu… Aku tak segan untuk membacakan isinya
pada dessy. Isi surat itu konyol, hanya bertaburan kegombalan ala penyair cinta muda. Haha!
Begok ah!
Dear Ami…
Hai…
Apa kabar? Aku tidak akan berhenti bertanya kabarmu. Walau aku hanya bias melihat kamu dari
jauh tapi aku ingin mendengar kabarmu langsung darimu sendiri. Aku sangat senang saat
kemarin mendengar kabar tetang keberhasilan kamu mengikuti lomba memasak. Aku
tercengang sejenak. “Dari mana dia tahu kalau aku ikut lomba masak?” Dessy mengangkat dua
tangannya seraya menggeleng. Memamerkan wajah tak paham juga kenapa Aimku bisa tahu
“Yakin bukan kamu yang bilang?” Tatapku selidik. “Sumpah deh, kan aku dah janji sama kamu…”
Lanjut kembali pada surat… Aku ucapkan selamat, walau runner up tapi aku sangat bangga sama
kamu. Kamu itu sangat berbeda dengan perempuan manapun yang pernah aku temui. Menarik
dan unik, pandai dan sangat enawan hati. Sampai –sampai aku tak bisa berhenti memikirkan
kamu…. Aku dan Dessy saling memandang sambil menahan tawa geli. “Akh… sintting nih anak.”
Aku lekas melipat surat itu sebelum aku tandaskan kegombalannya. Tulisan itu terlihat biasa dan
tak romantis untukku dan kalian juga tentunya. Aku lebih berharap untuk mendapatkan puisi ala
penyair cinta sungguhan. Yang romantic dan membuat aku melayang tinggi di udara. Di dalam
semua suratnya, selalu saja hanya puji –pujian yang baik ia tuliskan. Sampai –sampai aku jadi
risih sendiri membacanya. Aku tak suka jika ia terus memujiku seperti itu. “Udah ah Dess, bilang
sama dia aku gak akan bales surat dia lagi kalau dia gak

mau memberanikan diri buat ketemu langsung sama aku.” “Wokeh deh boss..” Tangannya
bergeran dan kemudian berposisi seperti sedang hormat. “Bilang juga, kalau dia gak mau ya
udah, gak usah kirim –kirim surat ke aku lagi…” “Iya iya deh…” Selama lebih dari tiga tahun, aku
selalu mendapatkan surat beramplop merah jambu dari dia. Tapi selalu saja tak punya
keberanian bertemu denganku, padahal kami berdua sudah sama saling tahu. Aku Ami dan dia
Aim, hehe beda dikit ya namanya.
Jodoh kale… Ngarep deh…!!!
Pada suatu hari, Aim pun sudah mulai berani untuk mengungkapkan isi hatinya pada ku
dan akhirnya kami pun jadian. Sejak hari itu, hidupku lebih berwarna lagi dari biasanya.
Sekarang Aim bukan lagi mengirimkan surat merah jambu, tapi sudah jadi pengingatku.
Pengingat untuk makan, tidur, istirahat, ibadah, dan lain –lain. Gombal! Itu dulu saat aku belum
tahu bagaimana jadi seorang yang sangat diperhatikan oleh pasangannnya. Dulu aku bilang.
“Ikh, Norak!” pada teman –teman yang selalu berdialog mesra di telpon bersama kekasihnya.
Tapi sekarang, norak sih tapi… biarin aja deh yang penting aku senang …