Anda di halaman 1dari 3

TATALAKSANA MASTITIS

No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman :
PUSKESMAS KARANGREJO
KABUPATEN Hari Uminarti,S.Kep.Ners
TULUNGAGUNG NIP. 19661207 198901 2 001

1. Pengertian Mastitis adalah suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen
payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi

2. Tujuan Prosedur ini sebagai acuan dalam melakukan penanganan terhadap


pasien dengan mastitis
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Karangrejo
No. 440/ /103.26/2017
tentang tatalaksana mastitis.
4. Referensi Permenkes RI No. 5 tahun 2014
5. Prosedur 1. Tanyakan keluhan seperti nyeri didaerah payudara
Gejala klinis :
 Demam disertai menggigil
 Mialgia
 Nyeri didaerah payudara
2. Factor resiko
 Primipara
 Stress
 Tehnik meneteki yang tidak benar, sehingga proses
pengosongan payudara tidak terjadi dengan baik
 Pemakaian kutang yang terlalu ketat
 Penghisapan bayi yang kurang kuat, dapat menyebabkan
statis dan obstruksi kelenjar payudara
 Bentuk mulut bayi yang abnormal (ex: cleft lip or palate),
dapat menimbulkan trauma pada putting susu
 Terdapat luka pada payudara
3. Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan tanda vital : nadi meningkat (takikardi)
 Pemeriksaan payudara :
- Payudara bengkak
- Lebih teraba hangat
- Kemerahan dengan batas tegas
- Adanya rasa nyeri
- Unilateral
- Dapat pula ditemukan luka pada payudara
4. Diagnosis klinis mastitis
Berdsarkan tempatnya, mastitis dapat dibedakan menjadi 3
macam, antara lain :
 Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola
mammae
 Mastitis ditengah payudara yang menyebabkan abses
ditempat itu
 Mastitis pada jaringan dibawah dorsal kelenjar-kelenjar
yang menyebabkan abses antara payudara dan otot-otot
dibawahnya
5. Penatalaksanaan
a. Memberikan informasi kepada para ibu menyusui sebagai
upaya pencegahan terjadinya mastitis, dengan melakukan
perawatan payudara yang baik, pemberian laktasi yang
adekuat, dan membersihkan sisa air susu yang ada dikulit
payudara.
b. Melakukan pencegahan terjadinya komplikasi abses dan
sepsis dengan cara: bedrest, Pemberian cairan yang
cukup, tetap dianjurkan untuk laktasi dan pengosongan
payudara.
c. Lakukan kompres hangat.
d. Lakukan massage pada punggung untuk merangsang
pengeluaran oksitosin agar ASI dapat menetes keluar.
e. Bila sudah terjadi abses : dapat dilakukan insisi/sayatan
untuk mengeluarkan nanah dan dilanjutkan dengan
drainase dengan pipa/handscoen drain agar nanah dapat
keluar. Sayatan sebaiknya dibuat sejajar dengan duktus
laktiferus untuk mencegah kerusakan pada jalannya
duktus tersebut.
f. Memberikan farmakoterapi :
- Obat penghilang rasa sakit
- Obat anti inflamasi
- Obat antibiotic
- Pemberian antibiotic berdasarkan hasil kepekaan
kultur kuman yang diambil dari air susu sehingga
keberhasilan terapi dapat terjamin.
- Namun karena kultur kuman tidak secara rutin
dilakukan, maka secara empiris pilihan pengobatan
pertama pada stafilokokus aureus sebagai
penyebab terbanyak dan streptokokus yaitu dengan
:
 Amoxicillin : 875 mg, 2x sehari; atau
 Cephalexin : 500 mg, 4x sehari; atau
 Ciprofloxacin : 500 mg, 2x sehari; atau
 Clindamicin : 300 mg, 4x sehari; atau
 Trimethroprim/sulfamethoxazole: 160 mg/800
mg, 2x sehari.

6. Konseling dan edukasi


a. Memberikan pengertian dan pengetahuan kepada pasien,
suami dan keluarga mengenai pemberian laktasi dengan
baik dan benar, dampak dari pemberian laktasi yang tidak
sesuai.
b. Memberikan motivasi dengan pemompaan payudara.
c. Menjaga kebersihan payudara dan putting susu ibu.
d. Menjaga kebersihan mulut dan hidung bayi ( sumber
utama masuknya kuman jika ada luka pada putting susu
ibu)
6. Langkah-
Langkah
7. Bagan Alir
8. Hal – hal yang -
diperhatikan
9. Unit Terkait  Loket
 Poli Umum / Gigi / KIA
 Apotek
10. Dokumen Terkait
11. Rekaman Historis
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan