Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Allah SWT Menciptakan nabi adam as dari tanah sebagai
manusia pertama dan menciptakan pasangannya Hawa dari tulang rusuk
adam, kemudian dari pertemuan keduannya terjadilah reproduksi dan
regerenasi secara sah dan diridhai-Nya melalui hubungan suami isteri
antara seorang ibu dan bapak, begitulah seterusnya allah
swt.menetapkan sunnah-Nya.1 Sesuai dengan firman Allah swt. Dalam
surat Az-Zariyat ayat 49, Allah swt berfirman:

   


 
 
“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu
mengingat kebesaran Allah”.2

Orang tua adalah manusia yang paling dekat hubungannya


dengan anaknya, karena mereka adalah asal jasmani dari anaknya3. Ibu
telah menderita kepayahan dan kelemahan berbulan-bulan lamanya
ketika anak masih dalam rahimnya. Setelah si anak lahir ke dunia ini
dirawatnya dengan segala kasih sayang.4Bapak tidak ikut mengandung

1
Yunahar Ilyas Kuliah Akhlaq( Yogyakarta: Lembaga pengkajian dan Pengalaman
Islam, 1999 ), h. 151.
2
Depag RI, Al-Quran dan Terjemahannya, h.520.
3
Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak (Jakarta: Rineka Cipta, 1994 ), h. 162.
4
Burhanuddin salam, Etika Sosial Asas moral dalam Kehidupan Manusia ( Jakarta:
Rineka Cipta, 1997), h. 19.
dan menyusui, tapi ia berperan besar dalam mencari nafkah,
membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya sehinga
mampu berdiri sendiri, bahkan sampai waktu yang tidak terbatas.5
Tiada orang yang jasanya melebihi dari jasa orang tua kepada
anaknya. Keduannya telah menanggung kesulitan dalam memelihara
dan merawat anak-anaknya.6Allah swt. Meletakkan perintah berterima
kasih kepada ibu bapak langsung sesudah perintah berterima kasih
kepada Allah swt. Seperti dalam Al-Quran surah Lukman ayat 14:
 
 
   
  
  
 
 

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua


orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat di atas menegaskan setelah berterima kasih kepada kedua


orang tua langsung berterima kasih kepada allah.7Pada fase bayi,
manusia tidak mampu mengurus kepentingannya sendiri.Ketika masa-

5
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h. 151-152.
6
Burhanuddin Salam, Etika Sosial Asas MoralDalam Kehidupan Manusia, h. 19.
7
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h. 149
masa ia membutuhkan uluran tangan orang lain, terutama ibu bapaknya
untuk membantu mereka memenuhi kebutuhannya. Semua orang
sepakat bahwa anak-anak atau bayi perlu mendapatkan bantuan dari
orang-orang terdekatnya. Jika mereka mengabaikan kepentingan bayi
atau anak-anaknya, mereka di nilai sebagai orang yang berbuat dzalim.8
Seiring Berjalannya waktu, posisi mulai berbalik dari yang
awalnya anak lah yang membutukkan bantuan dari orang tua, setelah
orang tua lanjut usia, maka mereka lah yang membutuhkan uluran
tangan dari anak-anaknya yang telah tumbuh dewasa untuk membantu
segala kebutuhan mereka. Selain tercukupinya kebutuhan sandang,
pangan, dan tempat berteduh, hal yang paling di butuhkan orang tua
pada masa senjanya adalah pelayanan dan pergaulan yang baik dari
anak-anaknya.9Namun pada pada kenyataannya dalam kehidupan
sehari-hari, sering kita temui anak tidak mau mengurus atau
menelantarkan Orang tua mereka yang sudah Lanjut usia, Membiarkan
orang tua lanjut usia di tampung di rumah jompo tanpa sedikitpun ada
kepedulian anak kepadannya, sehinga seolah-olah yang bersangkutan
tidak mempunyai anak.Akan tetapi, apabila anak menitipkan orang
tuanya yang lanjut usia dipanti jompo karena kekurangan ekonomi dan
orang tuanya juga menyukai tempat trrsebut, maka perbuatan anak tidak
di kategorikan sebagai menelantarkan.10

8
M. Thalib,20 Perilaku Durhaka Anak Terhadap Orang Tua ( Bandung: Irsyad Baitus
Salam/IBS, 1996 )h.101
9
M. Thalib, 40 Tanggung Jawab Anak Terhadap Orang Tua ( bandung: Irsyad Baitus
Salam/IBS, 1995 ), h. 77
10
M.Thalib, 20 perilaku anakdurhaka terhadap orang tua,h. 101-102.
Sebenarnya tuntutan orang tua yang telah lanjut usia secara
mental sama dengan tuntutan bayi atau anak-anak.11Orang tua yang
sudah lanjut usia kadang-kadang lemah ( Tidak mampu mengurus
dirinya sendiri ), sehinga mereka sangatlah membutuhkan bantuan dari
orang lain terutama anaknya, oleh karenanya kesejahteraan hidup orang
tua lanjut usia harus diperhatikan dengan baik.12Hal inilah yang
seharusnya kita sadari agar kepentingan orang orang lanjut usia
terlindungi sepenuhnya sejalan dengan tuntutan islam.13
Mempergauli dan merawat orang tua yang telah lanjut usia
dengan penuh rasa kasih sayang dan hormat merupakan perintah allah
kepada seorang anak. Hasan Ayyub mengutip dari al-imam al-nisaburi
mengatakan dalam tafsirnya sebagai penjelasan atau catatan kaki tafsir
Ath-Thabari, 1: 323, bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua itu di
sebutkan setelah bertauhid dan menyembah allah swt.14
Orang islam menghargai dan percaya terhadap apa yang
menjadi hak kedua orang tua dan Kewajiban berbuat baik dan ikhlas
kepada nya.15Hal itu di percayainya bukan karena semata-mata kedua
orang tua telah menjadi sebab kehadirannya di dunia dan telah
mendidiknya sehinga tidak ada pemberian yang lebih baik dari pada
pemberian mereka, pemberian yang di berikan kedua orang tua terhadap

11
M.Thalib, 20 perilaku anakdurhaka terhadap orang tua,h. 101
12
Abdullah AhmadQodiry Al-Ahdal, Tanggung jawab dalam islam, cet.3 _Semarang:
Dina utama semarang, 1992), h.68
13
M.Thalib, 20 perilaku anakdurhaka terhadap orang tua,h. 101
14
Hasan Ayyub,Etika Islam : menuju kehidupan yang hakiki, terj.Tarmana Ahmad
Qasim, h. Endang Suhinda,cet. 1 (bandung; Trigenda Karya,1994),h.323
15
Abu Bakar Jabir al-jaza’iri, pedoman Hidup Muslim, terj. Hasanuddin dan Didin
hafidhuddin,cet.3 ( Jakarta: litera antar nusa,2008 ),h.136
anaknya tidak mengharapkan pujian dan balasan ( imbalan ) dari yang di
beri.Kedua orang tua, mereka pada umumnya tidak tidak pernah
memutuskan tali kasih sayangnya kepada semua anaknya,
termasukkepada yang paling nakal dan puncak kasih sayang orang tua
adalah mereka tak pernah husud ( iri ) jika anaknya lebih baik dari pada
keduanya.Berbeda dengan orang lain, mereka selalu iri sedikit ataupun
banyak pada siapa saja yang melebihinya.16
Islam dengan jelas memerintahkan agar anak harus berbuat baik
pada kedua orang tuanya dan hukumnya wajib.17Terbukti dengan
banyaknya ayat dalam al-Quran tentang perintah tersebut ( QS. 17: 23,
2:83, 6:151, 29:8, 46:15, dan 31: 14-15 ).18 Oleh karenanya, anak di
tuntut untuk berbuat kebaikan sebaik-baiknya kepada kedua orang
tuanya dan di larang keras mendurhakai keduanya.19
Namun, pada kenyataanya menitipkan orang tua dipanti jompo
sekarang sudah menjadi pilihan bagi kebanyakan anak yang tidak biasa
merawat sendiri orang tuanya. Jelas tidak mencerminkan kehendak dari
perintah untuk berbakti tersebut anak yang menempatkan orang tuanya
dipanti jompo. Hal inilah yang benar-benar harus menjdi perhatian
orang-orang modern sekarang.20
Memang tidak di pungkiri bahwa dalam setiap masyarakat itu
mempunyai adat-istiadat yang berbeda. Pada masyarakat barat,
penempatan orang tua mereka yang telah lanjut usia di panti jompo

16
Hasan Ayyub, Etika Islam, h. 323-324.
17
Abdul Fattah Abu Ghuddah, 35 Adab Islam ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,1996 ), h
.71.
18
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h. 148-152.
19
Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, h.152
20
M.Thalib, 40 Tanggung Jawab Anak Terhadap Orang Tua, h. 78
merupakan suatu bukti kebaktian anak terhadap orang tuanya. Namun,
Hal ini tidak serta merta sesuai dengan adat-istiadat di masyarakat kita,
yang menurut penulis masyarakat kita khususnya di Minang Kabau di
kenal mempunyai sifat kekeluargaannya yang lebih kuat. Akan tetapi,
mengapa sekarang masyarakat yang di kenal ramah, mempunyai sifat
rasa kekeluargaan yang kuat justru tidak sedikit yang bersikap
individualistis dan kurang bertanggung jawab.
Melihat dari kenyataan bahwa tidak sedikit orang yang memilih untuk
menitipkan orang tuanya yang sudah lanjut usia dipanti jompo, penulis pernah
bertemu langsung dengan anaknya orang tua yang sudah lanjut usia yang
bertujuan untuk mengantarkan orang tuanya ke panti jompo.Penulis bekerja di
panti jompo, saat penulis melakukan wawancara langsung dengan keluarga
lansia, penulis mendapatkan data bahwa anaknya mengantarkan orang tuanya
ke panti jompo dengan alasan tak sanggup menjaga orang tuanya karena
kesibukannyadan di tambah lagi dengan kondisi orang tuanya yang sudah
pikun.21

Dari Observasi awal yang penulis lakukan di Panti Sosial Tresna


Werdha Kasih Saying Ibu Batusangkar di Nagari Cubadak Kecamatan Lima
Kaum Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.penulis Melakukan
wawancara dengan pimpinan panti sosial tresna werdha kasih sayang ibu
batusangkar Bahwa Syarat untuk menjadi WBS ada 2 yaitu Terlantar dan di
Telantarkan. Terlantar yaitu WBS sudah tak mampu lagi untuk berusaha untuk
mencukupi kehidupannya dan tidak mempunyai anak dan keluarga dekat,dan
ada juga WBS yang mempunyai anak namun tak bisa menampung kebutuhan
hidup orang tuanya di sebabkan kekurangan ekonomi.Syarat yang kedua adalah

21
Wawancara langsung dengan Ibu Mardiana
di telantarkan yaitu WBS tak mampu lagi untuk berusaha, mempunyai anak
yang bisa menampung kehidupan orang tunya tetapi anak tidak mau
memanpung orang tuanya, dengan alasan sibuk dengan pekerjaan serta ada
juga yang tidak bersedia menampung kebutuhan hidup orang tuanya karena di
sebabkan prilaku orang tuanya yang dahulunya banyak suami/isteri sehinga hak
anak tak terpenuhi. Ada juga anak yang dahulunya di penuhi hak nya oleh
orang tuanya namun setelah berhasil dia lupa sama orang tuanya sehinga orang
tuanya diantarkan oleh tetangganya ke Panti karena kasihan melihat orang tua
hidup sendiri dan ada juga yang di antarkan oleh Dinsos.Penulis juga
mewawancarai WBS dari hasil wawancara dengan wbs dapat penulis simpulkan
bahwa lansia yang di antarkan oleh keluarga nya kurang mendapat perhatian
dari anak-anaknya dan ada juga yang tidak pernah di kunjungi oleh
keluarganya.

Dari uraian Latar Belakang yang penulis paparkan diatas penulis


tertarik untuk melanjutkan meneliti tentang PERALIHAN KEWAJIBAN
ANAK TERHADAP LEMBAGA SOSIAL

A. Fokus dan Subfokus Masalah


1. Fokus Masalah
Fokus Masalah yang akan penulis teliti yaitu mengenai Bagaimana Kewajiban
Anak Terhadap orang Tua nya yang di serahkan ke Panti sosial, Studi Kasus Di
Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Batusangkar Nagari Cubadak
Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar.

2. Subfokus Masalah
Untuk memperoleh kejelasan dalam pembahasan ini, agar
penelitian ini lebih tepat dan mencapai sasaran, maka penulis membatasi
masalah yang akan diteliti yaitu:
a. Bagaimana Proses dan pelaksanaan pemeliharaan lansia di Panti
Sosial
b. Faktor Penyebab Anak Mengantarkan Orang Tua ke Panti Sosial
c. Analisa UU dan Hukum Islam terhadap kewajiban anak yang
menelantarkan Orang Tuanya ke Panti Sosial

B. Rumusan Fokus dan Subfokus


Dari fokus dan subfokus di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan
yang akan diteliti yaitu Peralihan Kewajiban Anak Terhadap Lembaga
Sosial Studi Kasus di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu
Batusangkar Nagari Cubadak Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah
Datar Provinsi Sumatera Barat.

C. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ada dua bentuk, yaitu:
1. Kegunaan penelitian secara teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memperkaya wacana
intelektual bagi para peminat dan pengkaji Hukum Islam khususnya
dalam bidang Peralihan Kewajiban Anak Terhadap Lembaga Sosial
2. Kegunaan penelitian secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan di dalam
perumusan ketentuan terhadap Peralihan Kewajiban Anak Terhadap
Lembaga sosial Studi kasus Di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih
Sayang Ibu Batusangkar Nagari Cubadak Kecamatan Lima Kaum
Kabupaten Tanah Datar.