Anda di halaman 1dari 11

NASKAH PUBLIKASI

Uji Efek Hepatoprotektor Ekstrak Metanol Daun Sambiloto


(Andrographis paniculata Ness) terhadap Kadar
Malondialdehid (MDA) Jaringan Hepar Rattus novergicus
Galur Wistar yang Diinduksi Parasetamol

GUNTUR SUSENO

I11112012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
Lembar Pengesahan Naskah Publikasi
Uji Efek Hepatoprotektor Ekstrak Metanol Daun Sambiloto
(Andrographis paniculata Ness) terhadap Kadar
Malondialdehid (MDA) Jaringan Hepar Rattus novergicus
Galur Wistar yang Diinduksi Parasetamol

Tanggung Jawab Yuridis Material Pada

GUNTUR SUSENO
NIM I11112012

Disetujui Oleh

Pembimbing I Pembimbing II

dr. Andriani, M.Biomed dr. Effiana


NIP. 198204172008122003 NIP. 198609062014042001

Ketua Program Studi


Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura

dr. Ita Armyanti ii


NIP. 198110042008012011
Uji Efek Hepatoprotektor Ekstrak Metanol Daun Sambiloto
(Andrographis paniculata Ness) terhadap Kadar
Malondialdehid (MDA) Jaringan Hepar Rattus novergicus
Galur Wistar yang Diinduksi Parasetamol
Guntur Suseno1; Andriani2; Effiana3

Abstrak
Latar Belakang N-asetil-p-benzoquinoneimine (NAPQI) sebagai produk
metabolisme parasetamol menyebabkan kerusakan fungsi hepar dengan
menyebabkan stress oksidatif yang ditandai dengan peningkatan kadar
Malondialdehid (MDA) jaringan hepar. Tanaman sambiloto mengandung
zat aktif androgapholide dan flavonoid yang memiliki efek hepatoprotektif.
Metodologi Desain penelitian yaitu post-test only with control group.
Sampel penelitian adalah jaringan hepar tikus yang telah diberikan
perlakuan. Sebanyak 30 ekor tikus berusia tiga minggu dibagi dalam 6
kelompok, yaitu kelompok Kontrol Normal, Kontrol Positif (kurkumin),
Kontrol Negatif (parasetamol), Dosis 1 (500 mg/KgBB), Dosis 2 (1000
mg/KgBB), Dosis 3 (2000 mg/KgBB) (n=5). Jaringan hepar diuji dengan
metode Wills kemudian data dianalisis menggunakan uji One-way Anova.
Hasil Nilai kadar MDA jaringan hepar berurutan: Kontrol Normal (0,324
nmol/L), Kontrol Positif (0,330 nmol/L), Dosis 1 (0,442 nmol/ml), Dosis 2
(0,548 nmol/L), Dosis 3 (0,636 nmol/L), Kontrol Negatif (1,368 nmol/L).
Pada uji post hoc kelompok Dosis 2 dan 3 menunjukkan kadar MDA
jaringan hepar yang berbeda bermakna dibandingkan kelompok Kontrol
Positif dan Kontrol Normal (ANOVA, p≤ 0,05). Tidak terdapat perbedaan
bermakna antara Kadar GSH jaringan hepar kelompok Dosis 1 dengan
Kontrol Positif dan Kontrol Normal (ANOVA, p>0.05). Kesimpulan Ekstrak
metanol daun sambiloto (A. Paniculata) memiliki efek hepatoprotektor
dengan dosis efektif ekstrak metanol sambiloto (A. Paniculata) pada
penilitian ini adalah 500 mg/KgBB.

Kata Kunci : Androgaphis paniculata, ekstrak sambiloto, hepatoprotektor,


MDA

1) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas


Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat
2) Departemen Biokimia, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas
Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat
3) Departemen Mikrobiologi, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas
Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat
Hepatoprotective Effect of Methanol Extract of Sambiloto Leaves
(Andrographis paniculata Ness) Againts Malondialdehyde (MDA)
Levels in Liver Tissues of Paracetamol-Induced
Wistar Rat (Rattus novergicus)
Guntur Suseno1; Andriani2; Effiana3
Abstract
Background N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI) as a product of
metabolism of paracetamol causes damage to liver function by causing
oxidative stress which is characterized by increased levels of
malondialdehyde (MDA) of liver tissue. Sambiloto leaves contain active
substances, androgapholide and flavonoids that have hepatoprotective
effect. Methods The study design was posttest-only control group.
Samples were liver tissues of rats that had been given treatment. A total of
30 rats aged three weeks were divided into 6 groups, namely the Normal
control, Positive Control (curcumin), Negative Control (paracetamol), Dose
1 (500 mg/Kg), Dose 2 (1000 mg/Kg), Dose 3 (2000 mg/Kg) (n = 5). Liver
tissue were tested by the method of Wills. The data was analyzed using
One-way ANOVA. Result MDA levels of liver tissues sequentally; Normal
Control (0,324 nmol/L), Positive Control (0,330 nmol/L), Dose 1 (0,442
nmol/ml), Dose 2 (0,548 nmol/L), Dose 3 (0,636 nmol/L), Negative Control
(1,368 nmol/L). Post hoc test showed that MDA levels of rats that were
treated by dose 2 and dose 3 were significantly different from Positive
Control and Normal Control groups (ANOVA, p≤ 0.05). There were no
significant differences between MDA levels of liver tissue Dose 1 with
Normal Control and Positive Control (ANOVA, p>0.05). Conclusion The
methanol extract of A. paniculata has a hepatoprotective effect with an
effective dose of 500 mg/Kg.

Keywords: Androgaphis paniculata, extract of sambiloto, hepatoprotective,


MDA

1) Medical Science, Faculty of Medicine, Tanjungpura University,


Pontianak, West Kalimantan
2) Department of Biochemistry, Faculty of Medicine, Tanjungpura
University, Pontianak, West Kalimantan
3) Department of Microbiology, Faculty of Medicine, Tanjungpura
University, Pontianak, West Kalimantan

LATAR BELAKANG
Inflamasi adalah suatu respons protektif yang ditujukan untuk
menghilangkan penyebab awal jejas sel serta membuang sel dan jaringan
nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan asal. Terdapat lima tanda lokal
inflamasi, yaitu: kalor, rubor, tumor, dolor dan functio laesa.1 Untuk
mengatasi gejala inflamasi, salah satu golongan obat yang dapat
digunakan dan tersedia secara bebas di Indonesia adalah parasetamol.2
Parasetamol telah menggantikan posisi aspirin sebagai lini pertama dalam
mengatasi nyeri inflamasi. Namun penggunaan parasetamol yang beredar
bebas dalam dosis besar dapat mengakibatkan efek toksik dan
menginduksi penyakit hepar (drug induced liver disease/DILD).
Hepatotoksisitas dapat terjadi apabila penggunaan parasetamol melebihi
4000 mg per hari ataupun 2000mg per hari untuk penderita alkoholisme.3
Penyakit hepar di Indonesia umumnya masih menjadi masalah kesehatan
yang perlu diperhatikan. Menurut data Departemen Kesehatan Republik
Indonesia (DEPKES RI, 2010), jumlah kasus penyakit hepar menempati
urutan ketiga di Indonesia setelah penyakit infeksi dan paru. 4 Terdapat
sekitar 2000 kasus gagal hepar akut yang terjadi setiap tahun dan 50 %
diantaranya disebabkan oleh toksisitas obat (39 % karena parasetamol,
13 % karena reaksi idiosinkrasi dan 8 % disebabkan medikasi lainnya). 5
Hepatotoksisitas yang disebabkan parasetamol terjadi karena adanya
senyawa toksik hasil metabolisme parasetamol yaitu senyawa N-acetyl-p-
benzo-quinoneimine (NAPQI) oleh sitokrom P450 2E1 (CYP2E1). Dalam
kondisi normal, NAPQI akan didetoksifikasi oleh konjugasi dengan
glutation (GSH) sebagai antioksidan endogen. Konsekuensinya NAPQI
yang dikonjugasi oleh GSH bertambah banyak sedangkan hepatoseluler
kekurangan GSH sehingga NAPQI akan berikatan kovalen dengan
makromolekul sel hati seperti lipid dan protein membran sel sehingga
menyebabkan kerusakan sel hati dan tercetusnya senyawa radikal bebas. 6
Radikal bebas didefinisikan sebagai atom atau molekul yang mempunyai
elektron tak berpasangan di orbital terluarnya. Elektron tak berpasangan
ini sangat reaktif untuk berikatan dengan elektron lainnya. Namun, bila
radikal bebas bertemu dengan polyunsaturated fatty acid (asam lemak tak
jenuh rantai panjang) akan terjadi proses peroksidasi lipid. Proses
peroksidasi lipid ini menghasilkan beberapa produk akhir diantaranya
adalah senyawa malondialdehid (MDA). Jumlah radikal bebas yang
berlebih meningkatkan proses peroksidasi lipid sehingga produksi MDA
juga meningkat. Oleh karena itu kadar MDA yang dapat diperiksa dari
jaringan hepar dapat merupakan penanda adanya kerusakan jaringan
akibat stress oksidatif. 7
Sambiloto mengandung senyawa andrographolide dan flavonoid yang
terbukti berkhasiat dapat memperbaiki fungsi sel hati. Andrographolide
dan flavonoid yang terkandung dalam daun Sambiloto berperan sebagai
antioksidan dan agen scavenger yang berperan penghambatan
peroksidasi lipid yang dapat ditunjukan dengan penurunan kadar MDA
sebagai produk peroksidasi lipid. 8 Zat aktif lain yang telah diakui memiliki
efek hepatoprotektor adalah kurkumin. 9 Penelitian ini juga akan
membandingkan efek hepatoprotektor zat aktif daun Sambiloto dengan
kurkumin.

METODOLOGI

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain post-test


only with control group dengan menggunakan sampel jaringan hepar tikus
yang telah diberikan perlakuan. Sebanyak 30 ekor tikus berusia tiga
minggu dibagi dalam 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol Normal, kontrol
positif (kurkumin), kontrol negatif (parasetamol), dosis 1 (500 mg/KgBB),
dosis 2 (1000 mg/KgBB), dosis 3 (2000 mg/KgBB). Dilakukan masa
adaptasi selama 7 hari dan perlakuan diberikan selama 7 hari berikutnya,
kemudian jaringan hepar diambil. Homogenat jaringan hepar diuji dengan
metode Wills yaitu mengukur absorbansi ikatan antara Asam
Thiobarbiturat (TBA) dengan MDA pada alat spektofotometer. Data
dianalisis secara statistik menggunakan uji One-way Anova.
HASIL

Urutan rerata kadar MDA jaringan hepar tikus secara berurutan dari yang
tertinggi ke kadar yang terendah adalah dimulai dari kelompok Kontrol
Negatif, Dosis 3, Dosis 2, Dosis 1, Kontrol Positif dan Kontrol Normal.

Tabel 1. Nilai Rerata Kadar GSH Jaringan Hepar


Kelompok Kadar MDA Jaringan Hepar Tikus
dalam nmol/mL Homogenat (Mean ±
SD)
N 0,324 ± 0,073
K+ 0,330 ± 0,059
K- 1,368 ± 0,227
D1 0,442 ± 0,071
D2 0,548 ± 0,085
D3 0,636 ± 0,068
N = Kelompok Normal, KN = Kontrol Negatif, KP = Kontrol Positif, D1 :
Sambiloto Dosis 500 mg/kgBB, D2: Sambiloto Dosis 1000 mg/kgBB, D3:
Sambiloto Dosis 2000 mg/kgBB.

Secara statistik, kadar MDA jaringan hepar kelompok Kontrol Negatif,


Dosis 3 dan Dosis 2 berbeda bermakna bila dibandingkan dengan
kelompok Kontrol Positif dan Kontrol Normal. Kadar MDA jaringan hepar
kelompok Dosis 1 tidak berbeda bermakna bila dibandingkan dengan
kelompok Kontrol Positif dan Kontrol Normal.
*/**

*
*/**
*
*/**

Gambar 1. Rerata Kadar GSH Jaringan Hepar. N = Kelompok Normal,


KN = Kontrol Negatif, KP = Kontrol Positif, D1 : Sambiloto Dosis 500
mg/kgBB, D2: Sambiloto Dosis 1000 mg/kgBB, D3: Sambiloto Dosis 2000
mg/kgBB. (One Way ANOVA, p= 0,000); *Post Hoc Test LSD (p <0,05 vs
K+). ** Post Hoc Test LSD (p <0,05 vs KN)

PEMBAHASAN

Hasil yang didapat adalah ketiga kelompok dosis memiliki kadar MDA
jaringan hepar yang lebih rendah bermakna dibandingkan dengan
kelompok Kontrol Negatif, dengan kadar MDA pada ketiga dosis
meningkat secara berurutan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa ekstrak Sambiloto memiliki efek hepatoprotektor dengan
menghambat radikal bebas pada tikus yang diinduksi parasetamol
dibuktikan dengan penurunan kadar MDA jaringan hepar sebagai produk
peroksidasi lipid akibat stress oksidatif. Keadaan ini sesuai dengan hasil
penelitian Bardi (2014), bahwa dengan pemberian ekstrak Sambiloto
dengan dosis 500 mg/kgBB sudah memberikan efek penurunan bermakna
kadar MDA jaringan hepar tikus yang diinduksi parasetamol. 10
Efek penurunan kadar MDA jaringan hepar oleh ekstrak Sambiloto
disebabkan oleh 2 zat aktif yang terkandung di dalam daun dan batang
Sambiloto, yaitu Andrographolide dan Flavonoid. Kamdem dan Ho (2002)
melakukan penelitian terhadap senyawa aktif andrographolide.
Andrographolide merupakan zat aktif utama di dalam tumbuhan Sambiloto
yang bekerja dengan berperan sebagai antioksidan eksogen.
Andrographolide memiliki gugus hidrogen alilik pada atom karbon C-11
yang dapat berperan sebagai donatur hidrogen untuk berpasangan
dengan elektron tidak berpasangan dari radikal bebas. Dengan kata lain,
Andrographolid berperan sebagai scavanger radikal bebas yang memutus
rantai peroksidasi lipid dalam rangkaian stres oksidatif sehingga
menyebabkan penurunan kadar MDA jaringan hepar sebagai produk dari
peroksidasi lipid.11

Flavonoid menurunkan kadar MDA jaringan dengan bekerja sebagai


antioksidan eksogen dan meningkatkan biosintesis antioksidan endogen.
Flavonoid diketahui memiliki efek antioksidan yang dapat menghambat
kerusakan sel akibat metabolisme parasetamol. Flavonoid memiliki gugus
hidroksi fenolik dalam struktur molekulnya yang memiliki peran
menyerupai gugus hidrogen alilik pada andrographolide. Gugus hidroksi
fenolik (OH) berperan sebagai agen scavanger radikal bebas karena
bersifat menarik radikal bebas. Gugus OH pada senyawa flavonoid akan
menggantikan antioksidan endogen GSH yang telah terdeplesi oleh
radikal bebas akibat pemberian parasetamol dosis toksik. Gugus OH
pada flavonoid akan membantu konjugasi parasetamol menjadi asam
merkapturat dan mengubah NAPQI menjadi metabolit non-aktif yang
bersifat hidrofilik sehingga mudah dieksresikan melalui urin. 12 Flavonoid
berperan dalam biosintesis GSH melalui jalur de novo yaitu dengan
merangsang ekspresi gen GCL yang berperan sebagai katalis dan
modulator pembentukan GSH secara de novo. Kadar MDA sebagai
produk peroksidasi lipid menurun karena mekanisme stress oksidatif
dihambat dengan meningkatnya produksi antioksidan endogen GSH. 13
Dosis efektif pada penelitian ini diambil dari kelompok dosis terkecil yang
memiliki efek dan mendekati kelompok Kontrol Positif, pada penelitian ini
didapat hasil bahwa pada kelompok Dosis 1 memiliki kadar MDA jaringan
hepar yang secara statistik tidak berbeda bermakna dengan kelompok
Kontrol Positif. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa dosis efektif pada
penelitian ini adalah Dosis 1 yaitu ekstrak Sambiloto dosis 500 mg/kgBB.

KESIMPULAN

Ekstrak Metanol Sambiloto (Andrographis paniculata) memiliki efek


hepatoprotektor yang dibuktikan dengan penurunan kadar MDA jaringan
pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur wistar yang diinduksi
parasetamol. Dosis efektif ekstrak metanol Sambiloto (Andrographis
paniculata) pada penelitian ini yang dapat menurunkan kadar MDA
jaringan hepar secara in vivo pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan
galur wistar yang diinduksi parasetamol adalah 500 mg/kgBB.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kumar V, Cotran R.S, dan Robbins S.L. Buku Ajar Patologi Robbin
and Kumar. Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007: p31-3
2. Wilmana P. Freddy, Gan Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran UI. 2007: p237-39
3. Laurence Brunton, John Lazo, Keith Parker. Goodman & Gilman's
The Pharmacological Basis of Therapeutics. New York : McGraw Hill.
2005: p625-27
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Jendela Data
dan Informasi Kesehatan. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2010; 2(2); 1-20.
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas 2013). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2013: p6-13
6. Rang, H. P., M. M. Dale, J. M. Ritter, and R. J. Flower. Rang and
Dale’s Pharmacology 7th Ed. London: Elsevier’s Health Sciences
Rights Department. 2007: p699-700.
7. Agnes Ratna Yustika, Aulanni’am dan Sasangka Prasetyawan. Kadar
Malondialdehid (MDA) dan Gambaran Histologi pada Ginjal Tikus
Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Induksi Cylosporine-A. Kimia
Student Journal Vol. 1, No. 2, p. 222-228)
8. Edijanti Goenarwo, Chodidjah, Rosy Kusuma. Perbedaan Kadar
SGOT antara Pemberian Air Rebusan Daun Sendok (Plantago
major) dan Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) Studi
Eksperimen pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar yang Diinduksi
Parasetamol. Jurnal Sains Medika 2010 Vol. 2; No.1:41-45
9. Sadikin, et al. Efek Kurkumin terhadap Aktivitas Enzim Glutation
Peroksidase Mitokondria Hati Tikus yang Diinduksi dengan
Butilhidroperoksida-tersier. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2012
10. Daleya Abdulaziz Bardi, Mohamed Farouq Halabi, Pouya
Hassandarvish, Elham Rouhollahi, Mohammadjavad Paydar, et al.
Andrographis paniculata Leaf Extract Prevents Thioacetamide-
Induced Liver Cirrhosis in Rats. Plos One 2014: Vol.9 No.10 p1-14
11. Kamdem RE et al. Transfers Allylic Hidrogen as the Antioxidant
Mechanism of Diterpene Lactone Androgapholide. {internet}. 2002.
[cited 21 Oktober 2014] diunduh dari :
http://ift.corvex.com/fit/2008/technoprogremme.html
12. Harborne JB. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan, Terbitan Kedua. Bandung: ITB. 2006.
13. Mari M, Nieto N. Cytochrome P450 2E1 responsiveness in the
promoter of glutamate-cysteine ligase catalytic subunit. Journal of
Hepatology; Elseiver 2003: Vol. 37 No. 1 p. 96-106