Anda di halaman 1dari 27

Biografi Sultan Hasanuddin - Ayam Jantan Dari Timur

Biografi Sultan Hasanuddin. Nama Sultan Hasanuddin dikenal sebagai nama pahlawan
Indonesia yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau dikenal sebagai penguasa
kerajaan islam Gowa yang ketika itu menguasai jalur perdagangan perdagangan wilayah timur
Indonesia. Sultan Hasanuddin bahkan membawa kerajaan Islam Gowa mencapai puncak
kejayaannya pada abad ke 16 sebagai salah satu kerajaan terbesar di bagian timur ketika itu.

Biografi dan Profil Sultan Hasanuddin

Beliau lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar,
Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan
nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng
Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.

Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri
Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Oleh Belanda ia di
juluki sebagaiAyam Jantan Dari Timur atau dalam bahasa Belanda disebut de Haav van de
Oesten karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. Beliau diangkat menjadi Sultan ke 6
Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid
yang wafat.

Selain bimbingan dari ayahnya, Sultan Hasanuddin mendapat bimbingan mengenai


pemerintahan melalui Karaeng Pattingaloang, seorang Mangkubumi kerajaan Gowa. Beliau juga
merupakan guru dari Arung Palakka, yang merupakan raja Bone.
Perjuangan Sultan Hasanuddin

Dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya.


Beliau merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin
memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili VOC sedang berusaha menguasai
perdagangan rempah-rempah.

VOC Belanda sedang berusahan melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah melihat


Sultan Hasanuddin dan kerajaan Gowa sebagai penghalang mereka. Orang Makassar dapat
dengan leluasa ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hal inilah yang menyebabkan
Belanda tidak suka.

Reruntuhan Benteng Somba Opu

Sejak pemerintahan Sultan Alauddin hingga Sultan Hasanuddin, Kerajaaan Gowa tetap
berpendirian sama, menolak keras monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda.
Saat itu Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur
perdagangan.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha
menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa yang dikenal
memiliki armada laut yang tangguh. dan juga pertahanan yang kuat melalui benteng Somba
Opu.

Tak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh Belanda selain menghancurkan kerajaan Gowa
yang dianggap mengganggu mereka. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia
berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk
melawan Kompeni Belanda. Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin)
dimulai pada tahun 1660.
Sejarah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka

Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung Palakka yang merupakan
kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Namun armada kerajaan Gowa yang masih sangat kuat
membuat Kerajaan Gowa tidak dapat ditaklukkan.

Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Arung Palakka berhasil
meloloskan diri bahkan kerajaan Gowa mencarinya hingga ke Buton. Perang tersebut berakhir
dengan perdamaian. Berbagai peperangan kemudian perdamaian dilakukan.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang
merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan
Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Arung Palakka yang dari tahun 1663 berlayar dan menetap di Batavia menghindari kejaran
kerajaan Gowa kemudian membantu VOC dalam mengalahkan kerajaaan Gowa yang ketika itu
dipimpin oleh Sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

VOC Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis
Speelman. Ia dibantu oleh Kapiten Jonker dan pasukan bersenjatanya dari Maluku serta Arung
Palakka, penguasa Kerajaan Bone yang ketika itu mengirimkan 400 orang sehingga total
pasukan berjumlah 1000 orang yang diangkut 21 kapal perang bertolak dari Batavia menuju
kerajaan Gowa pada bulan November 1966.

Perang besar kemudian terjadi antara Kerajaan Gowa melawan Belanda yang dibantu oleh
Arung Palakka dari Bone. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk
menandatangani perjanjian paling terkenal yaitu Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November
1667.

Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda.
Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan
terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Yang akhirnya membuat Sultan Hasanuddin
mengakui kekuasaan Belanda.
Sultan Hasanuddin Wafat

Walaupun begitu, Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama
dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan Gowa
dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Gowa
di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

I Bate Daeng Tommi, I Mami Daeng Sangnging, I Daeng Talele dan I Hatijah I Lo'mo Tobo
merupakan nama-nama dari Istri Sultan Hasanuddin. Ketika beliau wafat, beliau digantikan
oleh I Mappasomba Daeng Nguraga atau dikenal dengan Sultan Amir Hamzah yang merupakan
anak dari Sultan Hasanuddin, selain anak bernama Sultan Muhammad Ali dan karaeng
Galesong.

Perjuangan melawan Belanda selanjutnya dilaukan oleh Karaeng Galesong yang berlayar hingga
ke Jawa membantu perlawanan dari Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten melawan
Belanda.

Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar


Pahlawan Nasional kepada Sultan Hasanuddin dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973. Nama
Sultan Hasanuddin juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Makassar yakni Bandar
Udara Internasional Sultan Hasanuddin, selain itu namanya juga dipakai sebagai nama
Universitas Negeri di Makassar yakni Universitas Hasanuddin dan menjadi nama jalan di
berbagai daerah
Biografi Pangeran Antasari

Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan
suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi "Panembahan Amiruddin Khalifatul
Mukminin", yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.[6]

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima
kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad
melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Perlawanan terhadap Belanda

Lanting Kotamara semacam panser terapung di sungai Barito dalam pertempuran dengan Kapal
Celebes dekat pulau Kanamit, Barito Utara Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan
300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859.
Selanjutnya peperangan demi peperangan dipkomandoi Pangeran antasari di seluruh wilayah
Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari
menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong,
sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan
pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh
bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan
Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada
pendirinnya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave
Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.

Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu
menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai
perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini. Setelah berjuang di tengah-tengah
rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah
menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di
Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang
wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya
pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.

Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan
rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan
pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak,
tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali
Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Kompleks Makam Pangeran Antasari


Jika Pangeran Antasari selalu menekankan bahwa "Haram Menyerah" kepada musuh, maka
semestinya ini bisa kita jadikan pencerahan untuk diri kita. Bisa saja kita menyemangati diri kita
dengan semangat "Haram Menyerah" kepada kemiskinan, ketidak adilan atau apa saja yang
hendak kita capai! Terkadang dengan kata semangat dan keingin dari diri sendiri, bukan
mustahil ini bisa menjadi penambah kekuatan untuk diri kita dalam menggapai apa yang kita
inginkan-dalam arti tujuan yang mulia tentunya!!!

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh
pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret
1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan
Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan P. Antasari kepada masyarakat
nasional, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan
gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000.
Biografi Kapitan Pattimura - Pahlawan Nasional Indonesia dari
Maluku
Biografi Kapitan Pattimura. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang
berasal dari Maluku yang dikenal sangat gigih melawan penjajah Belanda.

Mengenai profil Pattimura, Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Pattimura
memiliki nama asli Thomas Matulessy ada juga yang mengatakan nama aslinya adalah Ahmad
Lussy. Hal ini sampai sekarang menjadi polemik dikalangan masyarakat.

Perdebatan Mengenai Asal Usul Pattimura


Ayah Pattimura bernama Frans Matulessy dan ibunya bernama Fransina Tilahoi, Pattimura
lahir pada tanggal 8 Juni 1783, di wilayah bernama Haria di daerah Saparua, Maluku Tengah
menurut versi pemerintah Indonesia. M. Sapija yang menulis buku mengenai Sejarah
Perjuangan Pattimura (1954), mengatakan bahwa Pattimura lahir di daerah bernama Hualoy,
Seram Selatan, ia menulis
“Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina
(Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali
Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahualu. Sahualu bukan nama
orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan - M.
Sapija (1954).”
Kemudian sejarawan Prof. Mansyur Suryanegara punya pendapat lain dalam bukunya yang
berjudulApi Sejarah (2009) mengatakan bahwa nama asli Pattimura adalah Ahmad Lussy atau
dalam bahasa Maluku disebut sebagai Mat Lussy yang lahir di Hualoy, Seram Selatan.

Pattimura menurut Mansyur adalah seorang bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang
ketika itu diperintah oleh Sultan Abdurrahman yang dikenal pula dengan nama Sultan
Kasimillah. Dalam bahasa Maluku disebut

Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar Kapitan adalah pemberian Belanda.
Padahal menurut Sejarawan Prof. Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah
dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis).

Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka,
menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya
dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki
seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila
ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah
pemimpin yang dianggap memiliki kharisma.

Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah
memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau
kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu
bermula menurut Prof. Mansyur Suryanegara.

Mengenai Silsilah Pattimura, Pada tahun 1960an pemerintah Indonesia mengirim tim ke
maluku, tim ini terdiri dari Kapten Siahainenia bersama dengan Kapten TNI Ma’wa mereka dari
dari Kodam XV/Pattimura pergi ke Saparua dalam misi menggali sejarah Pattimura. tim ini
menyurati Subuh Patty Ayau seorang (Raja) Negeri Latu, desa yang bertetangga dengan Desa
Hualoy.

Mereka memintanya untuk membawa data atau informasi mengenai Kapitan Pattimura,
setelah didapat banyak petunjuk dari warga Saparua. Kemudian lima orang diutus sebagai
perwakilan Raja Latu yang membawa data dan informasi mengenai sejarah Kapitan Pattimura
kepada dua perwira TNI.

Tanggal 20 Mei 1960 Kapten Infantri F.L. Siahainenia dan Wattimena menandatangani sebuah
daftar silsilah dari Itawaka tentang Thomas Matulessy oyang berjudul Turun Temurun Kapitan
Matulessy. Silsilah ini baru ditandatangani oleh wakil pemerintah negeri Itawaka bernama A.
Syaranamual, pada 26 Mei 1967
Yang pada akhirnya kemudian silsilah tersebut disahkan di Jakarta dan ditandatangani oleh
Frans Hitipeuw atas nama Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Ditjenbud, Depdikbud.
Daftar silsilah inilah yang menjadi rujukan mengenai sejarah Kapitan Pattimura menurut versi
pemerintah.

Di tanggal 28 Mei 1967, F.D. Manuhutu mengatasnamakan Ketua Saniri Negeri Haria, ia
menandatangani sebuah daftar silsilah Thomas Matulessy berjudul Silsilah Pattimura, Silsilah ini
berbeda di nama ayah Thomas Matulessy. Versi Itawaka menyebut nama ayah Thomas dengan
Frans Matulessy, sedangkan versi Haria menyebut nama ayah Thomas dengan Frans Pattimura.

Daftar silsilah Thomas versi Haria ini juga ditandatangani Frans Hitipeuw atas nama Pemerintah
pada 5 Oktober 1987. Jadi pada hari yang sama, Frans Hitipeuw atas nama Pemerintah
mengesahkan dua daftar silsilah Thomas Matulessy. Kemudian pada bulan September 1976,
ada versi lain mengenai daftar silsilah Thomas Matulessy yang diberi judul Silsilah Pattimura
versi Ulath. Versi ini disusun oleh I.O. Nanulaita.

Kemudian pada tanggal 5-7 Nopember 1993, diadakan sebuah forum ilmiah seminar tentang
sejarah perjuangan Pahlawam Nasional Pattimura di Kodam XV Pattimura yang dihadiri oleh
para ahli sejarah, analis, dan pemerhati sejarah. Pertemuan ini diselenggarakan oleh Kanwil
Depdikbud Provinsi Maluku di Ambon. Namun hingga berakhirnya Seminar, belum bisa
dipastikan siapa tokoh Kapitan Pattimura yang sesungguhnya (Suara Maluku edisi 8 November
1993).

Perjuangan dan Perlawanan Pattimura Terhadap Belanda


Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai
mantan sersan Militer Inggris. Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik
yang berarti Tanah Raja-Raja. mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan

Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan
kemudian Belanda menetrapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente),
pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat
London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus
merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur.

Dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris
berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak
untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer,
akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan Kedatangan kembali
kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat.
Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk
selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan
Kapitan Pattimura Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817

Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan
panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai
panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.

Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan
pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun
benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja
Patih maupun rakyat biasa.

Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate
dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu
dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri
Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut
dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior
Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha.

Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng


Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah
Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi
hangus oleh Belanda. Pattimura bersama para tokoh pejuang lain yang bersamanya akhirnya
dapat ditangkap.

Pattimura ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda di sebuah Rumah di daerah Siri Sori.
Pattimura kemudian diadili di Pengadilan Kolonial Belanda dengan tuduhan melawan
pemerintah Belanda.

Pattimura kemudian dijatuhi hukuman gantung, sebelum eksekusinya di tiang gantungan,


Belanda ternyata terus membujuk Pattimura agar dapat bekerja sama dengan pemerintah
kolonial Belanda, namun Pattimura menolaknya.
Pattimura kemudian mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember
1817 di depan Benteng Victoria di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan
Pattimura dikukuhkan sebagai “Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” oleh pemerintah Republik
Indonesia.
Perdebatan Mengenai Nama Asli dari Kapitan Pattimura.

Banyak yang mengatakan bahwa Pattimura sebenarnya bernama Ahmad Lussy yang beragama
Islam, tetapi banyak juga yang meyakini bahwa Pattimura lebih dikenal dengan Thomas
Mattulessy yang identik Kristen. Inilah yang menjadikan perdebatan sampai sekarang ini.

Untuk meluruskan hal tersebut memang perlu dilakukan penelusuran sejarah tentang asal usul
Pattimura dengan data-data pendukung berupa penelitian yang berasal dari sumber-sumber
yang sifatnya otentik serta faktual.
Sosok diatas merupakan lukisan dari wajah Kapitan Pattimura ketika ia ditangkap oleh Belanda
pada tahun 1817. Lukisan tersebut dibuat oleh Verheul yang merupakan seorang perwira dan
penulis asal Belanda.
Lukisan tersebut ditemukan di KITLV di Leiden, Belanda. Untuk mengetahui lebih jelasnya,
pembaca dapat membaca buku yang berjudul 'Ini Dia Aslinya Kapitan Pattimura' yang ditulis
oleh Luthfi Pattimura dan Kisman Latumakulita sebagai sumber referensi pembaca sekalian.

Potret wajah Pattimura yang biasa dilihat pada pecahan Uang Seribu konon dibuat setelah
kemerdekaan. Sebenarnya tidak ada yang mengetahui wajah asli dari Pattimura sebab sangat
sedikit sekali dokumentasi mengenai hal tersebut.
Lukisan Pattimura yang biasa kita lihat mungkin hanya rekaan berdasarkan imajinasi oleh
pelukis sesuai dengan karakter atau tipe orang Maluku.
Pattimura pernah berkata
...Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin
besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan
kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling
tapi batu lain akan menggantinya
Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Pattimura, pahlawan dari Maluku
yang juga merupakan pahlawan nasional. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung
telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Pattimura seorang patriot yang
berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut.
Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Kapitan Pattimura
juga tampak optimis. Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh
penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku
tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan :
Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura
muda akan bangkit”
Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas
karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya
zaman itu. Di bagian lain, Sapija menafsirkan,
Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”
Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang
patriotik dan optimis. Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad
Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen.
Dan Inilah yang menjadi perdebatan sejarah hingga sekarang ini. Bagaimana menurut pembaca
sendiri??

Catatan Sejarah Yang Memuat Mengenai Kepahlawanan Pattimura :

 “Verhuel Herinneringen van een reis naar Oost Indien” (1835-1836),


 J.B. Van Doren (1857), “Thomas Matulesia, Het Hoofd Der Opstandelingen Van Het
Eiland Honimoa”,
 P.H. van der Kemp (1911), “Het herstel van het Nederlandsche gezag in de Molukken in
1817″,
 M. Sapija (1954), Sejarah Perjuangan Pattimura”, Penerbit Djambatan,
 Ben van Kaam (1977), “Ambon door de eeuwen”,
 M. Nour Tawainella (2012), "Menggali sejarah dan kearifan lokal Maluku"
 Mansyur Suryanegara (2009). "Api Sejarah"
Biografi Sisingamangaraja XII - Pahlawan Kemerdekaan
Nasional
Sisingamangarajaadalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Jika di baca dari
biografinya, sebagian besar masa hidup Sisingamangaraja didedikasikan untuk melawan
penjajah Belanda. Sisingamangaraja sebenarnya adalah sebuah gelar yang disematkan
padanya ketika dilantik menjadi Raja. Nama aslinya adalah Patuan Bosar Ompu Boru. Beliau
terkenal keras menentang Belanda, hal ini terlihat dari beberapa pertempuran sengit yang
pernah dihadapinya. Hingga akhirnya, disalah satu pertempuran, Sisingamangaraja wafat
sebagai pahlawan bangsa. Share biografi kali ini, akan menceritakan sejarah hidup dari
Sisingamangaraja, selamat membaca

Biodata Sisingamangaraja XII


Lahir: Bakkara, Tapanuli, 18 Februari 1845
Meninggal: Simsim, 17 Juni 1907
Makam: Palau Samosir

Anak: Lopian, Patuan Anggi, Patuan Nagari


Pasangan/Istri: Boru Simanjuntak, Boru Situmorang, Boru Sagala, Boru Nadeak, Boru Siregar

Biografi Sisingamangaraja XII


Sisingamangaraja XII dalam biografi hidupnya, terlahir dengan nama Patuan Bosar Ompu Boru
Situmorang. Pada 1867, ayahnya meninggal akibat penyakit kolera. Kemudian, ia diangkat
menggantikan ayahnya menjadi raja dengan bergelar Sisingamangaraja XII. Pada awal masa
pemerintahannya, kegiatan pengembangan agama Kristen yang dipimpin
oleh Nommensen dari Jerman sedang berlangsung di Tapanuli. Belanda ikut masuk dengan
berlindung di balik kegiatan tersebut. Namun, lambat laun Belanda mulai menunjukkan itikad
tidak baik dan bermaksud ingin menguasai wilayah kekuasaan Sisingamangaraja XII.
Sisingamangaraja XII kemudian mengadakan musyawarah bersama raja-raja dan panglima
daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak. Kemudian, ketegangan antara Belanda dan
Sisingamangaraja meningkat hingga menimbulkan konflik. Upaya jalan damai sudah tidak dapat
lagi ditempuh.

Pada 19 Februari 1878, Sisingamangaraja XII bersama rakyat Tapanuli mulai melancarkan
serangan terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung. Pertempuran yang tak
seimbang membuat Sisingamangaraja dan pasukannya kalah dan terpaksa mundur dari Bahal
Batu. Namun, perlawanan pasukan Sisingamangaraja masih tetap tinggi, terutama di desa-desa
yang belum tunduk pada Belanda, seperti Butar, Lobu Siregar, Tangga Bantu, dan Balige.
Sebaliknya, Belanda semakin gencar mengejar Sisingamangaraja XII sampai ke desa-desa dan
melakukan pembakaran serta menawan raja-raja desa. Akibatnya pertempuran meluas hingga
ke beberapa daerah seperti Sipintu-pintu, Tangga Batu, Balige, dan Bakkara. Namun,
Sisingamangaraja tetap gigih melakukan perang gerilya.

Pada Mei 1883, pos Belanda di Uluan dan Balige kembali diserang oleh Sisingamangaraja.
Setahun kemudian (1884), kekuatan Belanda di Tangga Batu berhasil dilumpuhkan. Belanda
melakukan upaya pendekatan dan menawarkan penobatan Sisingamangaraja sebagai Sultan
Batak dengan berbagai hak istimewa. Namun, beliau menolaknya dengan tegas. Pada 1904,
Belanda melakukan pengepungan ketat. Pada 1907 Sisingamangaraja berhasil lolos. Namun,
upaya keras Belanda akhirnya membuahkan hasil dengan mengetahui tempat persembunyian
Sisingamangaraja di Hutan Simsim. 17 Juni 1907, markas Sisingamangaraja dikepung Belanda.
Dalam suatu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya
menyerah dan menjanjikan akan menobatkan Sisingamangaraja menjadi Sultan Batak. Namun,
Sisingamangaraja tetap tidak mau tunduk dan memilih lebih baik mati.

Terjadilan pertempuran sengit yang menewaskan hampir seluruh keluarga dan pasukannya.
Akhirnya, Patuan Bosar Ompu Pulo alias Raja Sisingamangaraja XII bersama dua putra dan satu
putrinya, serta beberapa panglimanya yang berasal dari Aceh gugur sebagai kusuma bangsa.
Biografi dan Profil Sultan Ageng Tirtayasa - Pahlawan Nasional
Dari Banten
Biografiku.com - Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai raja kesultanan Banten. Beliau dikenal
gigih melakukan perlawanan terhadap penajajah Belanda. Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa
melawan Belanda di Serang, Banten membuat beliau diberi gelar Pahlawan Nasional oleh
pemerintah Indonesia.

Nama lengkap : Sultan Ageng Tirtayasa (Abu al-Fath Abdulfattah)


Lahir: 1631, Banten
Meninggal: 1695, Jakarta
Masa Pemerintahan : 1651–1683
Anak Sultan Ageng Tirtayasa : Haji dari Banten, Arya Purbaya, Raden Muhsin, LAINNYA
Orang Tua: Ratu Martakusuma (ibu), Abdul Ma'ali Ahmad (ayah).

Biografi dan Profil Sultan Ageng Tirtayasa

Siapa nama asli Sultan Ageng Tirtayasa? Beliau diketahui lahir di Banten pada tahun 1631.
Sejak kecil beliau memiliki banyak nama namun nama kecil Sultan Ageng Tirtayasa adalah
Abdul Fatah atau Abu al-Fath Abdulfattah. Ayahnya bernama Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad
yang merupakan sultan Banten dan ibunya bernama Ratu Martakusuma.

Sultan Ageng Tirtayasa masih memiliki darah keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon
melalui anaknya Sultan Maulana Hasanuddin. Diketahi bahwa Sunan Gunung Jati merupakan
pendiri dari Kesultanan Banten. Sejak kecil sebelum diberi gelar Sultan Ageng Tirtayasa,
Abdul Fatah diberi gelar Pangeran Surya.
Beliau diangkat sebagai Sultan Muda dengan gelar Pangeran Dipati ketika ayahnya Sultan
Abu al-Ma'ali Ahmad wafat. Abdul Fatah atau pangeran Dipati merupakan pewaris tahta
kesultanan Banten. Namun saat ayahnya wafat belum belum menjadi sultan sebab
kesultanan Banten ketika itu kembali dipimpin oleh kakeknya Sultan Abul Mufakhir Mahmud
Abdul Qadir.
Sultan Ageng Tirtayasa dan Kejayaan Kesultanan Banten

Ketika kakeknya Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir wafat di tahun 1651, Abdul Fatah
atau pangeran Dipati kemudian naik tahta sebagai Sultan Banten ke 6 dengan nama Sultan Abul
Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa. Sewaktu naik tahta menjadi Sultan Banten,
beliau masih sangat muda.

Beliau dikenal sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan agama Islam di daerahnya.
Ia mendatangkan banyak guru agama dari Arab, Aceh dan daerah lain untuk membina mental
para pasukan Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai ahli strategi
dalam perang.

Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pula kesultanan Banten mencapai puncak
kejayaan dan kemegahannya. Ia membuat memajukan sistem pertanian dan irigasi baik dan
juga berhasil menyusun armada perangnya. Satu hal yang penting mengapa Kesultanan Banten
ketika itu mencapai puncak kejayaannya adalah hubungan diplomatik yang kuat antara
kesultanan Banten dengan kerajaan lainnya di Indonesia seperti Makassar, Cirebon, Indrapura
dan Bangka.

Disamping itu Sultan Ageng Tirtayasa juga menjalin hubungan baik dibidang perdagangan dan
pelayaran serta diplomatik dengan negara-negara Eropa seperti Inggris, Turki, Denmark serta
Perancis. Hubungan inilah yang membuat pelabuhan Banten sangat ramai dikunjungi oleh para
pedagang-pedagang dari luar seperti Persia, Arab, India, china, melayu serta philipina.

Sultan Ageng Tirtayasa juga sempat membantu Trunojoyo dalam pemberontakan di Mataram.
Beliau bahkan membebaskan Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya yang ketika itu
ditahan di Mataram sebab hubungan baiknya dengan Cirebon.

Di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Konflik antara Kesultanan Banten dan Belanda
semakin meruncing. Persoalannya adalah ikut campurnya Belanda dalam internal kesultanan
Banten yang saat itu sedang melakukan pemisahan pemerintahan. Belanda melalui politik adu
dombanya (Devide et Impera) menghasut Sultan Haji (Abu Nasr Abdul Kahar) melawan
Pangeran Arya Purbaya yang merupakan saudaranya sendiri.
Sultan Haji mengira bahwa pembagian tugas pemerintahan oleh Sultan Ageng Tirtayasa kepada
ia dan saudaranya merupakan upaya menyingkirkan dirinya dari pewaris tahta kesultanan
Banten dan diberikan kepada adiknya, Pangeran Arya Purbaya. Sultan Haji yang didukung oleh
VOC Belanda kemudian berusaha menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa.

Perang keluarga pun pecah. Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa ketika itu mengepung pasukan
Sultan Haji di daerah Sorosowan (Banten). Namun pasukan pimpinan Kapten Tack dan Saint-
Martin yang dikirim oleh Belanda datang membantu Sultan Haji.

Sultan Ageng Tirtayasa Tertangkap dan Wafat


Perang antar keluarga yang berlarut-larut membuat Kesultanan Banten melemah. Akhirnya di
tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan kemudian dibawa ke Batavia dan dipenjara
disana. Di tahun 1692, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya wafat. Beliau kemudian dimakamkan
di Kompleks Pemakaman raja-raja Banten di Provinsi Banten.

Pemerintah Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Ageng
Tirtayasa pada tanggal 1 agustus 1970 melalui SK Presiden Republik Indonesia No.
045/TK/Tahun 1970. Nama Sultan Ageng Tirtayasa juga diabadikan sebagai nama salah satu
universitas di Banten bernama Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Biografi Pangeran Diponegoro Pahlawan Nasional
Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan yang berjasa bagi Indonesia. Ia seorang
keturunan dari Keraton Yogyakarta bersama dengan rakyat Indonesia ia melawan
pemerintahan Belanda yang dimulai pada tahun 1825 hingga 1830. Lima tahun berperang
dengan Belanda telah memakan korban jiwa dan kerugian yang cukup banyak dialami oleh dua
pihak oleh sebab itu sejarah mencatat bahwa perang tersebut merupakan perang dengan
korban jiwa paling besar di Indonesia.

Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November di Yogyakarta. Ia adalah putra pertama
dari Hamengkubuwana III yang pada saat itu menjabat sebagai Raja ke tiga di Kesultanan
Yogyakarya. Ibunya bernama R.A.Mangkarawati, seorang garwa ampeyan (istri selir) yang
berasal dari Pacitan.

Pangeran Diponegoro mempunyai nama asli, yaitu Bendara Raden Mas Antowirya. Ia pernah
menolak tawaran dari Sultan Hamengkuwuana III, untuk mengangkatnya sebagai raja di
Kesultanan Yogyakarta. Salah satu alasannya menolak tawaran tersebut adalah mengingat
ibunya bukanlah permaisuri (istri raja yang pertama).
Walaupun merupakan keturunan ningrat, Diponegoro lebih suka pada kehidupan yang
merakyat sehingga membuatnya lebih suka tinggal di Tegalrejo yang merupakan tempat tinggal
dari eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, Gusti Kangjeng Ratu
Tegalrejo daripada di Keraton.

Perang Diponegoro (1825-1830)


Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh
Belanda selama menjajah di Indonesia. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka
disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa. Salah faktor kuat yang mempengaruhi terjadinya
Perang Diponegoro adalah saat pihak Belanda memasang patok di tanak milik Diponegoro di
desa Tegalrejo.

Setelah kekalahan Belanda dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada
dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan keuangan mereka dengan
memberlakukan pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda (Indonesia). Belanda
juga melakukan monopoli perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak dan praktek
monopoli tersebut yang dilakukan oleh Belanda membuat rakyat Indonesia menderita.

Tidak hanya itu, untuk memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha
untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan
Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku
Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat sebagai Raja Kesultanan sehingga membuat
pemerintahan pada waktu itu dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda.
Pangeran Diponegoro memulai pemberontakannya terhadap keraton karena Patih Danuredjo
sangat mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda banyak mengubah susunan
tata cara kehidupan di Keraton. Sejak saat itulah pemberontakan dilakukan oleh Diponegoro
karena ia menganggap bahwa Belanda tidak menghargai adat istiadat setempat dan menarik
pajak kepada masyarakat setempat untuk kepentingan pihak Belanda.

Perang yang terjadi antara pribumi yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dengan pasukan
Belanda yang dipimpin oleh Jendral De Kock. Perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran
Diponegoro untuk menentang Belanda mendapat dukungan dari rakyat. Atas saran dari
pamannya, ia membuat sebuah markas di Gua Selarong. Semenjak saat itu, ia mulai
menyatakan untuk perang melawan Belanda. Perang Sabil itulah nama perlawanan dari
Diponegoro yang mempunyai maksud "perlawanan menghadapi kaum kafir".
Perang Sabil membawa pengaruh sampai luas hingga ke wilayah Jawa. Salah satu seorang tokoh
agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong.
Perjuangannya mendapat dukungan dari Sunan Pakubuwana VI dan Raden Tumenggung
Prawiradigdaya Bupati Gagatan.

Belanda juga melakukan sayembara untuk penangkapan Pangeran Diponegoro, yang dimana
siapa yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro akan diberi hadiah oleh Belanda mengingat
saat peperangan yang dimulai pada tahun 1825 hingga 1830 tersebut beliau sering berpindah-
pindah tempat.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan


menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai
Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.

Pada tanggal 28 Maret 1830, saat Jenderal De Kock membuat sebuah perundingan yang dimana
ia meminta agar langsung bertemu dengan Pangeran Diponegoro di Magelang, namun dalam
perundingan tersebut Belanda sudah menyiapkan rencana untuk menangkap Diponegoro.
Beliau menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggotanya dilepaskan.
Diponegoro mengalami pengasingan selama beberapa kali mulai dari Ungaran, Batavia,
Manado, hingga Makassar. Pada tanggal 8 Januari 1855, beliau meninggal dunia di Benteng
Rotterdam. Selama berlangsungnya peperangan ini Belanda mengalami kerugian dari segi
finansial dan pasukan yang gugur saat berperang.

Penghargaan sebagai Pahlawan


Namanya digunakan sebagai Jalan di beberapa kota besar Indonesia. Tidak hanya jalan,
namanya juga digunakan sebagai nama-nama tempat antara lain: Stadion Diponegoro,
Universitas Diponegoro. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November
1973 melalui Keppers No.87/TK/1973.

Pada tanggal 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan
Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri
oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada tahun 1832-
1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro.

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan,
didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan
"Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran
Diponegoro.
Biografi Silas Papare Pahlawan Papua

Silas Papare adalah seorang yang berjuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah
Indonesia. Silas Papare lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918. Ia menyelesaikan pendidikan di
Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda.
Kegigihannya dalam berjuang untuk kemerdekaan Papua membuatnya sering berurusan
dengan aparat keamanan Belanda. Usahanya untuk mempengaruhi Batalyon Papua untuk
memberontak pada akhirnya membuat ia harus masuk penjara di Jayapura.

Saat menjalani masa tahanan di Jayapura, Silas berkenalan dengan Dr. SamRatulangi, Gubernur
Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda di tempat tersebut. Perkenalannya dengan Sam
Ratulangimembuat semakin yakin bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik
Indonesia. Hal tersebut membuat ia akhirnya mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian
(PKII). Akibatnya Silas kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun
kemudian ia berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.

Pada bulan Oktober 1949, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka
membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam
wilayah RI. Silas meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1978.

Guna mengenang jasa besarnya, nama Silas Papare di abadikan sebagai salah satu kapal selam
perang, yakni KRI Silas Papare. KRI Silas Papare adalah sebuah Korvet kelas Parchim yang dibuat
untuk Volksmarine / AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa
adalah Project 133. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam di perairan dangkal/pantai.
Oleh TNI AL kapal ini dimodifikasi dengan menambahkan kapasitas BBM untuk patroli lebih
lama di laut.

Riwayat Singkat
Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja sebagai
pegawai pemerintah Belanda. Ia sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua
sehingga ia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam memerangi kolonialisme
Belanda dan pada akhirnya ia dipenjarakan di Jayapura karena memengaruhi Batalyon Papua
untuk memberontak.

Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur
Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin
menambah keyakinan ia bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia.
Akhirnya, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, ia kembali
ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, ia kemudian melarikan diri menuju
Yogyakarta.

Pada bulan Oktober 1949, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka
membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam
wilayah RI

Latar belakang
Di Yogyakarta, Silas Papare membentuk Badan Perjuangan Irian yang berusaha keras untuk
memasukkan wilayah Irian Jaya ke dalam negara Indonesia. Silas Papare kemudian ditunjuk
menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus
1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat. Perjanjian
itu ditindaklanjuti dengan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969 di mana
rakyat Irian Barat memilih bergabung dengan NKRI. Silas Papare wafat dan dimakamkan di Serui
pada tanggal 7 Maret 1978.

Atas jasa-jasanya Silas Papare dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No.
077/TK/1993, Tgl. 14 September 1993.

Salah satu kapal perang milik TNI AL mendapat kehormatan menggunakan nama KRI Silas
Papare yaitu sebuah korvet kelas Parchim.
TUGAS
TOKOH – TOKOH YANG MEMIMPIN PERLAWANAN
TERHADAP BELANDA

DISUSUN OLEH :
 RENALDI NOVIANTO .W
KELAS
 V. D
SEKOLAH
 SDN BOJONG GEDE 01