Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat yang memberikan asuhan keperawatan pada klien harus melakukan
pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Data yang dikumpulkan selama pengkajian digunakan
sebagai dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien.
Proses pengkajian keperawatan harus dilakukan dengan sangat individual (sesuai
masalah dan kebutuhan klien saat ini). Dalam menelaah status kesehatan klien, perawat
melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk memaksimalkan data yang
dikumpulkan. Setelah pengkajian awal perawat memilih komponen pemeriksaan yang sesuai
dengan tingkat distres pernapasan yang dialami klien.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan mencakup semua sistem yang ada di dalam tubuh,
seperti sistem pernapasan, sistem endokrin, sistem perkemihan, dan lain-lain melibatkan
organ-organyang berfungsi terhadap sistem, seperti sistem pernafasan melibatkan paru,
sistem endokrin melibatkan hormon,dan sistem perkemihan melibatkan ginjal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pemeriksaan fisik sistem pernapasan pada anak?
2. Bagaimana pemeriksaan fisik sistem perkemihan pada anak?
3. Bagaimana pemeriksaan fisik sistem endokrin pada anak?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik sistem pernapasan pada anak
2. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik sistem perkemihan pada anak
3. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik system endokrin pada anak

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemeriksaan Fisik Sistem Pernapasan pada Anak


1. INSPEKSI
Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang
diperiksa melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat
membedakan warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Inspeksi dimulai dengan
pengamatan kepala dan area leher untuk megetahui setiap kelainan utama yang dapat
mengganggu pernapasan. Perhatikan rasio inpirasi-ekspirasi, karena lamanya ekspirasi
normal dua kali dari lamanya inspirasi normal. Amati penampilan umum pasien, frekuensi
serta pola pernapasan, dan konfigurasi toraks.
Pemeriksaan secara inspeksi, sebagai berikut:
1. Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.
2. Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
3. Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, lesi, massa, gangguan
tulang belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis, jumlah irama, kedalaman
pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
4. Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan
penggunaan otot bantu pernafasan.
5. Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E).
ratio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya
obstruksi pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation
(CAL)/COPD.
6. Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter
lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1:2 sampai 5:7, tergantung dari cairan
tubuh klien.
7. Kelainan pada bentuk dada :
a. Barrel Chest, Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan
diameter AP : T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema.
b. Funnel Chest (Pectus Excavatum), Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah
dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang
mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan’s syndrome
atau akibat kecelakaan kerja

2
c. Pigeon Chest (Pectus Carinatum), Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan
sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan
kyphoscoliosis berat.
d. Kyphoscoliosis, Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan
mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan
kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax.
e. Kiposis ,meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis
menyebabkan klien tampak bongkok.
f. Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.
8. Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya
ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura.
9. Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat
mengindikasikan obstruksi jalan nafas.

INSPEKSI NORMAL
Penampilan Umum  Pernapssan tenang
 Duduk atau bangun bersandar tnapa
kesulitan
 Kulit tranlusen, tampak kering
 Bidang kuku merah muda
 Membran mukosa merah muda dan
lembab
 Sianosis atau pucat dikaji dengan
menetapkan nilai dasar individual
sebelumnya
Trachea Bagian tengah leher
Frekuensi Eupnea: 13-30 kali
Pola Pernapasan  Upaya inspirasi minimal pasif, ekspirasi
tenang
 Rasio inspirasi/ekspirasi = 1:2. Pada anak
laki-laki pernapasan diafragma,
sedangkan anak perempuan pernapasan
toraks

3
Konfigurasi Toraks  Tampak simetris
 Diameter anteroposterior (AP) lebih kecil
dari diameter transversal
 Tulang belakang lurus
 Skapula pada bidang horizontal yang
sama

2. PALPASI
Palpasi dilakukan dengan menggunakan tangan untuk meraba struktur di atas atau di
bawah pemukaan tubuh. Dada dipalpasi untuk mengevaluasi kulit dan dinding dada. Untuk
mengevaluasi ekskursi toraks, pasien diminta untuk duduk tegak (jika memungkinkan), dan
tanagn pemeriksa diletakkan pada dinding dada posterior pasien (bagian punggung). Ibu jari
tangan pemeriksa saling berhadapan satu sama lain pada kedua sisi tulang belakang, dan jari-
jari lainnya menghadap ke atas membentuk posisi, seperti kupu-kupu. Saat pasien menghirup
napas tangan pemeriksa harus bergerak ke atas dan keluar secara simetri. Adanya gerakan
simetri dapat menunjukan proses penyakit pada region tersebut.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi :
 Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai.
 Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
 Kuku jari perawat harus dipotong pendek.
 Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.
Misalnya : adanya tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
Pemeriksaan secara palpasi, sebagai berikut:
1. Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi
abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal premitus (vibrasi).
2. Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa,
lesi, bengkak.
3. Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri
4. Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.

PALPASI NORMAL
Kulit dan Dinding Dada  Kulit tak nyeri tekan, lembut, hangat,

4
dan kering
 Tulang belakang dan iga tak nyeri
tekan
Fremitus Simetris, vibrasi ringan teraba pada dinding
dada selama bersuara
Ekspansi Dada Lateral Ekspansi simetris 3-8 cm

3. PERKUSI
Perkusi adalah teknik pengkajian yang menghasilkan bunyi dengan mengetuk dinding
tangan. Bunyi resonan terdengar di aatas jaringan paru normal. Bunyi hiperesonan terdengar
pada adanya peningkatan udara dalam paru-paru atau spasium pleural. Bunyi datar akan
terdengar saat perkusi dilakukan pada jaringan yang tidak mengandung udara. Perkusi
dimulai pada apeks dan diteruskan sampai ke dasar, beralih dari area posterior ke are lateral
dan kemudian ke area anteror. Dada posterior paling baik diperkusi dengan posisi klien
berdiri tegak dan tangan disilangkan di depan dada untuk memisahkan skapula.
Perkusi juga dilakukan untuk mengkaji ekskursi diafragma. Minta pasien untuk
menghirup napas dalam dan menahannya ketika memperkusi ke arah bawah bidang paru
posterior dan dengarkan bunyi perkusi yang berubah dan bunyi resonan ke pekak. Perawat
melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya dan
pengembangan (ekskursi) diafragma.
Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah :
 Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
 Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada
pneumonia.
 Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung, perkusi
daerah hepar.
 Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong, misalnya
daerah caverna paru, pada klien asthma kronik.

PERKUSI NORMAL
Bidang Paru Bunyi resonan, tingkat kenyaringan rendah,
menggaung mudah terdengar, kualitas sama
pada kedua sisi

5
Gerakan dan Posisi Diafragma Letak diafragma pada vertebrata torakik ke-
10, setiap hemidiafragma bergerak 3-6 cm

4. AUSKULTASI
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dengan menggunakan stetoskop. Dengan
mendengarkan paru-paru, dapat dikaji karakter bunyi nafas, adanya bunyi napas tambahan,
dan karakter suara yang diucapkan atau dibisikan. Dengarkan semua area paru dan dengarkan
pada keadaan tanpa pakaian agar bunyinya lebih jelas.
Status patensi jalan nafas dan paru dapat dikaji denagn mengauskultasi napas dan
bunyi suara yang ditransmisikan melalui dinding dada. Untuk dapat mendengarkan bunyi
nafas diselurh bidang paru, klien diminta untuk bernafas lambat, sedang sampai nafas dalam
melalui mulut. Bunyi nafas dikaji selama inspirasi dan ekspirasi. Lama masa inspirasi dan
ekspirasi, intesitas dan puncak bunyi napas juga dikaji. Umumnya bunyi nafas tidak terdengar
pada lobus kiri atas, intesitas dan karakter bunyi napas harus mendekati simetris bila
dibandingkan pada kedua paru. Bunyi nafas nafas normal disebut sebagai vesikular,
bronkhial, dan bronkhovesikular.
Perubahan dalam bunyi nafas yang mungkin menandakan keadaan patologi termasuk
penurunan tau tidak terdengar bunyi nafas, peningkatan bunyi nafas akan terdengar bila
kondisi seperti atelektasis dan pneumonia meningkatkan densitas (ketebalan) jaringan paru.
Penurunan atau tidak terdengarnya bunyi nafas terjadi bila transmisi gelombang bunyi yang
melewati jaringan paru atau dinding dada berkurang.
Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :
 Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan
mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia,
TBC.
 Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat
ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema
paru.
 Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun
ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.
 Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan amplas pada
kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.

Sumber Internet : http://nursingbegin.com/pengkajian-keperawatan-3/


6
2.2 Pemeriksaan Fisik Sistem Perkemihan pada Anak
1. INSPEKSI
Inspeksi secara umum
a. Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan dan
ada/tidaknya sedimen.
b. Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta
riwayat infeksi saluran kemih.
c. Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau
urostomy atau supra pubik kateter.
d. Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait
dengan sistem perkemihan.

a. Abdomen
Pasien posisi terlentang, catat ukuran, kesimetrisan, adanya massa atau
pembengkakan, kembung, Kulit dan membran mukosa yang pucat, indikasi gangguan
ginjal yang menyebabkan anemia. Tampak ekskoriasi, memar, tekstur kulit kasar atau
kering. Penurunan turgor kulit merupakan indikasi dehidrasi. Edema, indikasi retensi
dan penumpukkan cairan. Stomatitis, napas bau ammonia.
Moon face
Pembesaran atau tidak simetris, indikasi hernia atau adanya massa. Nyeri permukaan
indikasi disfungsi renal. Distensi atau perut yang nyeri menetap, distensi, kulit
mengkilap atau tegang.

b. Meatus urinary
Laki-laki posisi duduk atau berdiri, tekan ujung gland penis dengan memakai sarung
tangan untuk membuka meatus urinary.
Pada wanita : posisi dorsal litotomi, buka labia dengan memakai sarung tangan.
2. PALPASI
a. Ginjal
1) Ginjal kiri jarang dapat teraba, meskipun demikian usahakan untuk mempalpasi
ginjal untuk mengetahui ukuran dan sensasi.
Jangan lakukan palpasi bila ragu karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
2) Posisi pasien supinasi, palpasi dilakukan dari sebelah kanan.

7
 Untuk melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien.
Tangan kiri diletakkan di belakang penderita, paralel pada costa ke-12, ujung
cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke
depan). Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di
lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi
tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal
di antar kedua tangan (tentukan ukuran, nyeri tekan ga). Pasien diminta
membuang nafas dan berhenti napas, lepaskan tangan kanan, dan rasakan
bagaimana ginjal kembali waktu ekspirasi.
 Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita,
Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Tangan kiri
diletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas di lateral otot rectus, minta
pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-
dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan
(normalnya jarang teraba).
3) Letakkan tangan kiri dibawah abdomen diantara tulang iga dan lengkung iliaka.
Tangan kanan dibagian atas. mengkilap dan tegang, indikasi retensi cairan atau
ascites. Distensi kandung kemih, pembesaran ginjal. Kemerahan, ulserasi,
bengkak, atau adanya cairan, indikasi infeksi. Pada laki-laki biasanya terdapat
deviasi meatus urinary seperti defek kongenital. Jika terjadi pembesaran ginjal,
maka dapat mengarah ke neoplasma atau patologis renal yang serius. Pembesaran
kedua ginjal, indikasi polisistik ginjal. Tenderness/lembut pada palpasi ginjal
maka indikasi infeksi, gagal ginjal kronik. Ketidaksimetrisan ginjal indikasi
hidronefrosis.
4) Anjurkan pasien nafas dalam dan tangan kanan menekan sementara tangan kiri
mendorong ke atas.
5) Lakukan hal yang sama untuk ginjal kanan

b. Kandung Kemih
Secara normal, kandung kemih tidak dapat dipalpasi, kecuali terjadi distensi urin
maka palpasi dilakukan di daerah simphysis pubis dan umbilicus.

8
3. PERKUSI
a. Ginjal
1) Atur posisi klien duduk membelakangi pemeriksa.
2) Letakkan telapak tangan tidak dominan diatas sudut kostovertebral (CVA),
lakukan perkusi atau tumbukan di atas telapak tangan dengan menggunakan
kepalan tangan dominan.
3) Ulangi prosedur untuk ginjal kanan. Jika kandung kemih penuh maka akan teraba
lembut, bulat, tegas, dan sensitif. Tenderness dan nyeri pada perkusi CVA
merupakan indikasi glomerulonefritis atau glomerulonefrosis.

b. Kandung kemih
1) Secara normal, kandung kemih tidak dapat diperkusi, kecuali volume urin di atas
150 ml. Jika terjadi distensi, maka kandung kemih dapat diperkusi sampai setinggi
umbilicus.
2) Sebelum melakukan perkusi kandung kemih, lakukan palpasi untuk mengetahui
fundus kandung kemih. Setelah itu lakukan perkusi di atas region suprapubic.
Jika kandung kemih penuh atau sedikitnya volume urin 500 ml, maka akan
terdengar bunyi dullness (redup) di atas simphysis pubis.

4. AUSKULTASI
Gunakan diafragma stetoskop untuk mengauskultasi bagian atas sudut kostovertebral
dan kuadran atas abdomen. Jika terdengar bunyi bruit (bising) pada aorta abdomen
dan arteri renalis, maka indikasi adanya gangguan aliran darah ke ginjal (stenosis
arteri ginjal)

Sumber : http://nefrologyners.wordpress.com/2010/11/03/pengkajian-keperawatan-sistem-
perkemihan/
http://ithaalthofunnisa.blogspot.com/2011/06/pemeriksaan-fisik-persistem.html
http://www.peutuah.com/pengkajian-gangguan-sistem-perkemihan/

2.3 Pemeriksaan Fisik Sistem Endokrin pada Anak


Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan
memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk
mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan,

9
namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan
kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya
dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh
sistem saraf.
Pemeriksaan fisik terhadap kondisi kelenjar hanya dapat dilakukan terhadap
kelenjar tiroid dan kelenjar gomad pria (testes).Secara umum,tekhenik pemeriksaan fisik
yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimpangan fungsi adalah :
1. INSPEKSI
Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai dampaknya
terhadap pertumbuhan dan perkembangan, kesembangan cairan dan elektrolit , seks dan
reproduksi, metabolisme dan energi.Berbagai pperubahan fisik dapat berhubungan
dengan satu atau lebih gangguan endokri, oleh karena itu dalam melakukan pemeriksaan
fisik, perawat tetap berpedoman pada pengkajian yang komprehensif dengan penekanan
pada gangguan hormonal tertentu dan dampaknya terhadap jaringan sasaran dan tubuh
secara keseluruhan. Jadi menggunakan pendekatan head-to-toe saja atau
menggabungkannya dengan pendekatan sistem, kedua-duanya dapat digunakan.
Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat,
sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan proporsi tubuh. Pada pemeriksaan
wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk
dahi, rahang dan bibir.pada mata amati adannya edema periorbita dan exopthalmus serta
apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhadap kelainan bebtuk dan
penebalan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Kondisi ini biasanya
terjadi pada gangguan tiroid.
Didaerah leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau tidak. Pembesaran
leher dapat disebabkan pembesaran kelenjar tiroid dan untuk meyakinkannya perlu
dilakukan palpasi. Distensi atau bendungan pada vena jugularis dapat
mengidemtifikasikan kelebihan cairan atau kegagalan jantung. Amati warna
kulit(hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) pada lehe, apakah merata dan cacat lokasinya
dengan jelas. Bila dijumpai kelainan kulit leher, lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang
lain di tubuh selakigus. Infeksi jamur, penembuhan luka yang lama, bersisik dan
petechiae lebih sering dijumpai pada klien dengan hiperfungsi adrenokortikal.
Hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut dijumpai pada klien hipofungsi kelenjar
adrenal.Vitiligo atau hipopigmentasi pada kulit tampak pada hipofungsi kelenjar adrenal
sebagai akibat destruksi melanosit dikulit oleh proses autoimun. Hipopigmentasi biasa

10
terjadi di wajah, leher, dan ekstremitas. Penumpukan masa otot yang berlebihan pada
leher bagian belakang yang biasa disebut Bufflow neck atau leher/punuk kerbau dan terus
sampai daerah clavikula sehingga klien tampak seperti bungkuk, terjadi pada klien
hiperfungsi adrenokortikal. Amati bentuk dan ukuran dada, pergerakan dan simetris
tidaknya.
Ketidakseimbangan hormonal khususnya hormon seks akan menyebabkan
perubahan tanda seks sekunder, oleh sebab itu amati keadaan rambut axila dan dada.
Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada dada dan wajah wanita disebut hirsutisme.
Pada buah dada amati bentuk dan ukuran, simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya
pengeluaran cairan. Striae pada buah dada atau abdomen sering dijumpai pada
hiperfungsi adrenokortikal.Bentuk abdomen cembung akibat penumpukan lemak
centripetal dijumopai pada hiperfungsi adrenokortikal.Pada pemeriksaan genetalia, amati
kondisi skrotum dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk.

2. PALPASI
Kelenjar tiroid dan testes, dua kelenjar yang dapat diperiksa melalui rabaan. Pada
kondisi normal, kelenjar tiroid tidak teraba namun isthmus dapat diraba dengan
menengadahkan kepala klien. Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran,
nodul tinggal atau multipel, apakah ada rasa nyeri pada saat di palpasi. Pada saat
melakukan pemeriksaan, klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari
kelelahan klien sebaiknya posisi duduk.Untuk hasil yang lebih baik, dalam melakukan
palpasi pemeriksa berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian
belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid.
Palpasi testes di lakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam
keadaan hangat. Perawat memegang lembut began ibu jari dan dua jari lain, bandingkan
yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran/besarnya, simetris tidaknya nodul.
Normalnya testes teraba lembut, peka terhadap sinaar dan sinyal seperti karret.

3. AUSKULTASI
Mendengarkan bunyin tertentu dengan bantuan stetoskop dapat menggambarkan
berbagai perubahan dalam tubuh.Auskultasi pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid dapat
mengidentifikasi“ bruit“. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada
pembuluh darah tiroidea. Dalam keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat

11
diidentifikasi bila terjadi peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak
peningkatan aktivitas kelenjar tiroid.
Auskultasi dapat pula dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada
pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung yang dapat
menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan katekolamin dan
perubahan metabilisme tubuh.

PEMERIKSAAN HORMON
 Kadar Growth Hormon
Nilai normal 10µg/ml pada anak dan orang dewasa. Pada bayi di bulan-bulan
pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah venalebih
kurang 5 cc. Persiapan khusus secara fisik tidak ada.
 Kadar Tiroid Stimulating Hormon (Tsh)
Nilai normal 6-10 µg/ml. Dilakukan untuk menentukan apakah gangguan tiroid
bersifat primer atau sekunder. Dibutuhkan darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan
secara khusus.
 Kadar Adenokartiko Tropik (Acth)
Pengukuran dilakukan dnegan test supresi deksametason. Spesimen yang
diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urin 24 jam.

Persiapan :
1. Tidak ada pembatasan makan dan minum
2. Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol dan antagonisnya,
dihentikan lebih dahulu 24 jam sebelumnya.
3. Bila obat-obatan harus diberikan, lamirkan jenis obat dan dosisnya pada lembar
pengiriman spesimen
4. Cegah stress fisik dan psikologis

Pelaksanaan:
1. Klien diberi deksametason 4 × 0.5 ml/hari selama-lamanya dua hari
2. Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc
3. Urine ditampung selama 24 jam
4. Kirim spesimen ( darah dan urin ) ke laborator

12
Hasil Normal bila :
ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl
17-Hydroxi-Cortico-Steroid (17-OHCS ) dalam urin 24 jam kurang dari 2.5 mg.
Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametason 1 mg per oral
tengah malam , baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urin
ditampung selama 5 jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar
kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dl dan ekskresi OHCS dalam urin 24
jam kurang dari 2.5 mg.

Sumber : http://ita2a05200id09017.blogspot.com/2011/05/tugas-ii-pengkajian-pada-
sistem.html
http://ismar71.wordpress.com/2007/12/12/anfis-sistem-endokrin-2/

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan fisik secara sistem menggunakan teknik inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi. Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan objek
dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan dengan
wawancara. Dalam melakukan pemeriksaan fisik, perlu diperhatikan beberapa hal yang
sangat mendasar yaitu selalu meminta kesediaan/ izin pada pasien untuk setiap
pemeriksaan, jagalah privasi pasien, pemeriksaan harus seksama dan sistimatis, jelaskan
apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan, kegunaan, cara dan bagian yang
akan diperiksa ),beri instruksi spesifik yang jelas, berbicaralah yang komunikatif, ajaklah
pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan, perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal
dari pasien.
Pemeriksaan fisik pada sistem pernapasan, sistem endokrin dan sistem
perkemihan melibatkan organ-organyang berfungsi terhadap sistem, seperti sistem
pernafasan melibatkan paru, sistem endokrin melibatkan hormon,dan sistem perkemihan
melibatkan ginjal.

3.2 Saran
Penulis berharap makalah ini dapat digunakan sebaik-baiknya untuk
meningkatkan kinerja perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik pada system
pernafasan, endokrin, dan pekemihan. Perawat harus memperhatikan hal-hal yang
berhubungan dengan pemeriksaan fisik.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://ita2a05200id09017.blogspot.com/2011/05/tugas-ii-pengkajian-pada-sistem.html
http://ismar71.wordpress.com/2007/12/12/anfis-sistem-endokrin-2/
http://nefrologyners.wordpress.com/2010/11/03/pengkajian-keperawatan-sistem-perkemihan/
http://ithaalthofunnisa.blogspot.com/2011/06/pemeriksaan-fisik-persistem.html
http://www.peutuah.com/pengkajian-gangguan-sistem-perkemihan/
http://nursingbegin.com/pengkajian-keperawatan-3/

15