Anda di halaman 1dari 5

Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun oleh:

Cencen Apriyanto (1507248)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH


FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan
seseorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan atau hal mengenai diri seeorang.
Peribahasa mencakup ungkapan, pepatah, perumpaan ibarat tamsil (Kamus Umum Bahasa
Indonesia susunan Baudu-zain (1994)).
Peribahasa merupakan ungkapan yang walaupun tidak langsung namun secara tersirat
menyampaikan suatu hal yang dapat dipahami oleh pendengarnya karena sama-sama hidup
dalam ruang lingkup budaya yang sama. (Ubay:2014).

1. Basa téh cicirén bangsa : Bahasa yang dipergunakan oleh seseorang menunjukan asal-
usulnya, status sosial, dsb; bahasa itu menjadi ciri yang membedakan satu bangsa dengan
suku bangsa lainnya (Ansory:2013).

Maknanya :
Dalam kehidupan sehari-hari kita selaku warga negara Indonesia harus
menggunakan bahasa yang baik dan benar serta santun kepada orang lain, baik itu
menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yaitu
bahasa Sunda. Warga negara Indonesia harus mencerminkan sebagai masyarakat yang
santun serta berbudaya. Misalnya ketika kita berkunjung ke negara tetangga misalnya
Malaysia atau Singapura, kita selaku warga negara Indonesia harus menggunakan bahasa
yang baik dan benar serta santun. Jangan sampai kita menggunakan bahasa yang acak-
acakan atau campur aduk dengan dengan bahasa lain atau dalam istilah bahasa Sunda
“Kamalayon”. Dan jangan pula negara lain menilai kepada Negara kita yaitu Indonesi
sebagai negara yang bahasanya acak-acakan dan amburadul. Bahasa merupakan salah
satu indentitas dari sebuah bangsa, oleh sebab itu gunakan bahasa yang santun serta baik
dan benar.

2. Kudu paheuyeuk-heuyeuk leungeun paantay-antay tangan: Saling bekerjasama


membangun kemitraan yang kuat (Nurhayati:2014).

Maknanya:
Dalam kehidupan bermasyarakat hendaknya kita saling tolong menolong dengan
semua orang serta bekerjasama dalam membangun kemitraan yang kuat, agar kehidupan
bermasyarakat menjadi damai dan tentram. Jika ada masalah yang harus di selesaikan
bersama-sama, selesaikanlah dengan seksama dengan cara bermusyawarah.
Begitu juga dalam kehidupan bernegara, kita selaku warga negara Indonesia harus
senantiasa bekerjasama dalam membangun negara kita agar semakin maju. Jangan
sampai dalam kehidupan bernegara justru terjadi konflik-konflik dalam masyarakat yang
membuat negara kita semakin kacau. Disini pemerintah juga berperan penting dalam
membangun kemitraan yang kuat dalam masyarakat dan negara kita. Pemerintah yang
jujur dan adil serta dekat dengan masyarakat akan menciptakan kemitraan yang kuat.

3. Kudu silih asah, silih asih jeung silih asuh: Harus saling mencintai, memberi nasihat dan
mengayomi (Nurhayati:2014).

Maknanya:
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita harus saling menyanyangi
antar sesama, jangan ada permusuhan di antara masyarakat yang satu dengan yang
lainnya, dan juga kita harus memberi nasihat yang baik kepada orang lain, misalnya ada
yang masyarakat yang berbuat kesalahan, kita selaku warga negara yang baik harus
mengingatkan bahwa itu adalah hal yang salah jangan sampai membiarkannya. Serta kita
harus saling mengayomi, misalnya orang yang pintar harus mengayomi orang yang
kurang pintar, jangan sampai malah menindasnya, orang kaya harus mengayomi orang
yang kurang mampu, jangan sampai malah menjauhinya. Dengan begitu kehidupan di
dalam masyarakat bernegra akan menjadi damai dan tentram.

4. Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salogak: Solid atau kompak (Nurhayati:2014).

Maknanya:
Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus senantiasa bergotong-royong dalam
segala hal. Misalnya kalau ada kerja bakti membersihkan kampung, kita selaku warga
masyarakat yang baik harus mengikutinya jangan sampai tidak mengikutinya. Dan juga
kita harus bergaul atau bersosialisasi dalam hal yang positif dengan orang lain agar
tercipta masyarakat yang rukun dan harmonis. Jangan sampai kita menjadi manusia yang
individualistis.
Begitu juga dalam kehidupan bernegara kita harus bekerjasama dan kompak
dalam membangun negara kita agar semakin maju. Karena dengan cara bersama-sama
semua permasalahan akan terselesaikan dengan baik.

5. Ngeduk cikur kedah mihatur nyokél jahé kedah micarék: Tidak boleh korupsi, maling
atau sebagainya. Kalau mau engambil sesuatu harus seijin yang punya (Nurhayati:2014).

Maknanya:
Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus jujur dalam segala hal. Jika kita
menginginkan sesuatu dan itu milik orang lain, kita harus meminta izin terlebih dahulu
serta tidak boleh mencurinya. Jika kita mencuri yang bukan hak kita, maka akan terjadi
masalah besar.
Begitu juga dalam bernegara, seandainya menjadi seorang pemimpin tidak boleh
korupsi mengambil uang yang bukan haknya. Pemimpin yang baik harus jujur dalam
segala hal dan mengedepankan kepentingan rakyatnya. Dengan kejujuran kehidupan
bermasyarakat dan bernegara menjadi tentram dan damai. Jadilah pemimpin yang jujur
dan serta adil dan bijaksana dalam segala hal.

6. Amis budi: Ramah, bahasanya santun dan murah senyum (Ansory:2013).

Maknanya:
Sejak dahulu orang Indonesia terkenal sebagai orang yang ramah dan murah
senyum pada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus saling menyapa dan
ramah tamah pada orang lain. Misalnya ketika kita sedang berjalan dan bertemu dengan
seseorang kita harus menyapanya jangan sampai tidak. Apabila kita sedang berada di
negara orang lain, kita harus tetap menunjukan jati diri sebagai orang Indonesia yang
ramah dan santun pada orang lain dengan cara tetap menyapa kepada orang lain dengan
bahasa yang santun. Begitu juga dalam berbicara kita selaku warga negara Indonesia
harus menggunakan bahasa yang santun serta baik dan benar, baik itu di negara kita
maupun di negara lain. Karena bahasa merupakan identitas dari suatu bangsa. Cintai dan
gunakan bahasa yang kita punya agar lebih meningkatkan rasa nasionalisme kita.

7. Kacang poho ka lanjaran: Melupakan asal-usulnya atau berubah sikap dan sifatnya
setelah sukses (Ansory:2013).

Maknanya:
Misalnya kita sebagai seorang pelajar yang mengeyam pendidikan di luar negeri,
ketika kita sudah mencapai kesuksesan kita tidak boleh lupa kepada asal negara kita
sendiri. Kita harus menerapkan ilmu-ilmu yang sudah didapat agar negara kita semakin
berkembang dan lebih maju. Jangan sampai malah diterapkan di negara lain. Serta ketika
kita sudah mencapai kesuksesan, kita tidak boleh melupakan orang yang mendukung
penuh pada kesuksesan kita yaitu orang tua. Kepada orang lain kita juga tidak boleh
sombong karena sudah sukses, hendaknya kita saling meghargai dan membantu antar
sesama. Karena kita hidup di dunia tidaklah sendiri, pasti akan membutuhkan orang lain.

8. Ulah ngaliarkeun taleus ateul: Jangan memfitnah (Nurhayati:2014)

Maknanya:
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita tidak boleh memfitnah orang
lain. Jika kita tidak tahu kebenarannya lebih baik kita diam daripada membicarakannya
pada orang lain. Dengan adanya fitnah maka kehidupan di dalam masyarakat akan
menjadi kacau dan tidak damai serta akan terjadi kehancuran. Seperti yang sudah kita
ketahui contohnya saja di kehidupan para artis yang sering terjadi fitnah memfitnah.
Banyak fitnah-fitnah yang ditujukan pada para artis ketika mereka sedang mencapai
kesuksesan dan akhirnya terjadi konflik besar. Di dalam agama juga dilarang karena
fitnah itu lebih besar dosanya daripada dosa membunuh (manusia yang tidak bersalah),
Allah S.W. T.berfirman yang maksudnya “berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada
membunuh” (Q.S Al-Baqarah:217). Sebab dan akibat dari fitnah akan mengakibatkan
korban yang sungguh dahsyat, bukan saja nama yang diftnah itu yang mendapat aib,
tetapi bisa saja mengakibatkan lenyapnya satu bangsa, ataupun jatuhnya sebuah negara,
akibat korban fitnah.

DAFTAR PUSTAKA

http://kholiel96.blogspot.co.id/2013/04/kumpulan-pribahasa-dalam-bahasa-sunda.html
Holiel Ansory

http://semangatku55.blogspot.co.id/2014/05/kumpulan-kata-bijak-bahasa-sunda.html

YEYET NURHAYATI
http://www.seputarpendidikan.com/2014/09/pengertian-peribahasa-beserta-contohnya-
lengkap.html
ubay