Anda di halaman 1dari 19

Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat

Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

BAB. IV. PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

IV. 1. UMUM

1.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi :


1.1.1. Pekerjaan kendali ketinggian (level) bangunan dan letak as
bangunan.
1.1.2. Pekerjaan galian/urugan pada bagian – bagian tertentu yang
ditentukan sesuai dengan gambar;
1.1.3. Pekerjaan struktur atas;
1.1.4. Pekerjaan reservoir, dan lain sebagainya sesuai dengan gambar.

1.2. Penentuan Tinggi Peil (Leveling)

Penentuan tinggi peil (leveling) didasarkan atas apa yang telah termuat
pada Bab sebelumnya dalam RKS ini.

IV. 2. PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

2.1. Bahan-bahan dan Syarat Bahan

2.1.1. Semen, Agregat dan Syarat Atas

Bahan-bahan bangunan berupa semen, agregat dan air kerja


harus sesuai dengan persyaratan yang termuat dalam RKS ini
pada bab sebelumnya.

2.1.2. Adukan dan Campuran

Perbandingan dari berbagai adukan (specie) diberikan sesuai


dengan proporsi bawah ini, dimana angka – angka tersebut
menyatakan perbandingan jumlah isi ditakar dalam keadaan
kering, yaitu :
- beton tumbuk 1 pc : 2 ps : 4 kr
- lantai kerja 1 pc : 3 ps : 5 kr
- pondasi batu kali 1 pc : 4 ps
- pasangan dinding kedap air 1 pc : 2 ps
- pasangan dinding biasa 1 pc : 4 ps
- plesteran sudut 1 pc : 3 ps
- plesteran beton 1 pc : 3 ps
- kamprotan 1 pc : 6 ps
- pasangan lantai 1 pc : 4 ps
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membuat takaran yang
sama ukuran – ukurannya dan harus mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas.
BAB. IV - 1
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Selanjutnya takaran tersebut dapat dipergunakan sebagai


takaran untuk berbagai campuran, untuk pasangan, plesteran dan
lain – lain.
Adukan dan campuran untuk beton bertulang dan pekerjaan –
pekerjaan khusus lainnya akan ditentukan dalam pasal tersendiri.

2.1.3. Bahan Campuran Tambahan (Admixtural)

Pemakaian bahan – bahan campuran tambahan (admixture)


harus mendapat persetujuan Konsultan Perancang atau
Konsultan Pengawas.

2.2. Pekerjaan Beton

2.2.1. Besi Beton Polos (BJTP) dan Ulir (BJTD)

Semua besi beton yang digunakan harus memenuhi syarat –


syarat dan ketentuan berikut :
- Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982.
- Standard Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung (SK.SNI-15-1991-03).
- Standard Industri Indonesia (SII) 0136-84.
- Bebas dari kotoran – kotoran, lapisan lemak/minyak, karat
dan tidak cacat (retak – retak, mengelupas, luka dan
sebagainya).
- Jenis baja mild – steel dengan tegangan leleh (fy) minimum
2400 kg /cm2 untuk diameter tulangan < ø 12 dan 3900 kg
/cm2 untuk diameter tulangan > 13.
- Untuk tegangan leleh 3200 kg/cm 2 untuk diameter tulangan =
13.
- Mempunyai penampang yang sama rata.
- Disesuaikan dengan gambar – gambar.
Pemakaian besi beton dari jenis yang berlainan dari ketentuan
ketentuan di atas, harus mendapat persetujuan dari Perancang/
Konsultan Pengawas.
Pemilihan perusahaan ataupun merk dari besi tulangan harus
dari perusahaan/merk yang sudah sangat dikenal mutu/kualitas
maupun reputasinya. Pemilihan ini harus mendapat persetujuan
Perancang. Tidak dibenarkan untuk mencampur adukan
bermacam – macam produk besi beton untuk seluruh pekerjaan
konstruksi.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan mengadakan
pengujian mutu besi beton yang akan dipakai sesuai dengan
petunjuk – petunjuk Konsultan Pengawas dengan biaya
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor, dimana batang percobaan yang diambil
BAB. IV - 2
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

berjumlah minimal 5 (lima) batang untuk tiap – tiap jenis


percobaan yang diameternya sama dengan panjang 1000 mm.
Pemasangan besi beton dilakukan sesuai dengan gambar –
gambar yang ada dan mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas. Hubungan antara besi beton satu dengan yang lain
harus menggunakan kawat beton, diikat dengan erat, tidak
menggeser selama pengecoran beton dan bebas dari tanah
ataupun papan bekisting.
Penggunaan besi beton yang sudah jadi seperti steel wiremesh
dan semacamnya, harus mendapat persetujuan Konsultan
Perancang / Konsultan Pengawas.
Besi beton yang tidak memenuhi syarat karena kualitas tidak
sesuai dengan spesifikasi harus segera dikeluarkan dari site,
setelah menerima instruksi tertulis dari Konsultan Pengawas,
dalam waktu 24 jam.

2.2.2. Penyetelan Besi Beton

Pembengkokan besi beton harus dilakukan secara hati – hati


dan teliti, tepat pada ukuran posisi pembengkokan sesuai
dengan gambar dan tidak menyimpang dari SK.BI-1.4.53.1989 -
UDC : 693.s.
Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga yang ahli dengan
menggunakan alat – alat sedemikian rupa, sehingga tidak
menimbulkan cacat, patah, retak – retak dan sebagainya.
Sebelum penyetelan dan pemasangan dimulai, Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor harus membuat rencana kerja
pemotongan dan pembengkokan baja tulangan (bending
schedule), yang sebelumnya harus diserahkan kepada konsultan
– konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan peil – peil sesuai
dengan gambar dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi
penurunnya. Pemasangan dengan menggunakan pelindung
beton (beton dekking) harus sesuai dengan gambar. Apabila hal
tersebut tidak tercantum di dalam gambar, maka digunakan
spesifikasi SK.SNI T-15-1991-03 pasai 3.16.7.

2.2.3. Adukan (Adonan) Beton

Adukan beton harus memenuhi syarat – syarat SKBI


1.4.53.1989UDC:6953.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membuat adukan beton
menurut komposisi adukan dan proporsi antara split, air dan
semen dan bertanggung jawab penuh atas kekuatan beton yang
disyaratkan.
Penggunaan air harus sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan beton yang padat dengan daya kerja yang baik

BAB. IV - 3
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

sehingga dapat memberikan daya lekat yang baik dengan besi


beton.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan membuat adukan
percobaan (trial mixed) untuk mengontrol daya kerjanya
sehingga tidak ada kelebihan air pada permukaan ataupun
menyebabkan terjadinya pengendapan (segregation) dari
agregat.
Percobaan slum diadakan menurut syarat – syarat dalam Tata
Cara Perancangan dan Pelaksanaan Konstruksi Beton 1989
(SK.BI1.4.53.1989) dan Peraturan Umum Bahan Bangunan di
Indonesia (PUBI-1982). Pengadukan harus dilakukan di dalam
suatu mesin pengaduk dari tipe yang disetujui dan berputar pada
kecepatan yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat mesin
tersebut.
Adukan beton dibuat setempat di dalam site (site mixing) dan
harus memenuhi syarat – syarat :
- Semen diukur menurut berat per kantong;
- Agregat diukur menurut beratnya;
- Pasir diukur menurut beratnya;
- Adukan beton harus dibuat menggunakan alat pengaduk
mesin (batch mixer), type dan kapasitasnya harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas;
- Kecepatan adukan sesuai dengan rekomendasi dari pembuat
mesin tersebut;
- Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi dari kapasitas
mesin pengaduk;
- Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua
bahan sudah berada dalam mesin pengaduk;
- Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus
dibersihkan dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai.
- Untuk beton struktur atas dan bawah, harus menggunakan
beton readymix, dari perusahaan Readymix yang telah
disetujui oleh Pengawas. Beton yang dibuat didalam site,
adalah hanya beton praktis, seperti kolom praktis balok
praktis, dan beton lantai kerja.

2.2.4. Tes Kubus Beton (Penguiian Mutu Beton)

Cetakan kubus coba harus berbentuk bujur sangkar dalam segala


arah serta memenuhi persyaratan seperti dalam SK.BI-
1.4.53.1989. Ukuran kubus coba adalah 150 x 150 x 150 mm 3.
Pengambilan adukan beton, pencetakan kubus coba dan
curingnya harus di bawah pengawasan.
Konsultan – Konsultan Pengwas. Kubus coba harus ditandai
untuk identifikasi dengan suatu kode yang dapat menunjukkan
tanggal pengecoran dan hal lain yang perlu dicatat. Semua kubus
coba dites dalam laboratorium yang berwenang dan disetujui
Konsultan Pengawas.

BAB. IV - 4
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Laporan hasil percobaan harus diserahkan kepada Konsultan


Pengawas selambat – lambatnya 3 (tiga) hari setelah percobaan
selesai dengan mencantumkan harga karakteristik, nilai deviasi,
stump, tanggal pengecoran dan pengetesan yang dilakukan.

2.2.5. Standard Mutu (Standard of Acceptance)

Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan membuat


percobaan pendahuluan (trial test) atas kubus coba sejumlah
minimum 30 buah untuk setiap proporsi adukan yang
dikehendaki dan untuk masing masing percobaan pada umur 3,7
dan 28 hari.
Trial test ini harus sudah diselenggarakan segera setelah adanya
Surat Perintah Kerja atau penunjukkan Pelaksana Pekerjaan /
Kontraktor.
Biaya dan jaminan akan mutu dari hasil percobaan ini tetap
menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan / Kontraktor.
Penentuan nilai kuat tekan beton (fc') boleh didasarkan pada
nilai kuat tekan beton yang didapat dari hasil uji tekan benda uji
kubus berisi 150 mm (fc'k).
Dalam hal ini nilai fc' didapat dari perhitungan konversi :
fck¹
fc' = 0,76 + 0,2¹ºlog ( ) fck¹
15

Dimana :
fc¹ = kuat tekan beton yang disyaratkan .......... mPa
fck¹ = kuat tekan beton yang disyaratkan .......... mPa
didapat dari uji kubus berisi 150 mm.
Apabila dalam pelaksanaan kedapatan bahwa mutu beton gagal
memenuhi syarat spesifikasi, maka Konsultan Pengawas berhak
meminta Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor supaya mengadakan
percobaan non destruktif atau kalau memungkinkan mengadakan
percobaan coring.
Percobaan – percobaan ini harus memenuhi syarat – syarat
dalam :
- Method for Making Test Cubus from Fresh Concrete (BS 1881
part 108 : 1983).
- Method for Determination for Compressive Strength of
Concrete Cubus (BS 1881 part 16 : 1983).
Mutu/nilai kuat tekan beton yang disyaratkan adalah fc' = 500
kg/cm 2 untuk beton balok prestressed, sedangkan untuk
struktur lainnya mempunya; kuat tekan beton fc' = 300 kg/cm 2
dengan proporsi campuran coba serta pelaksanaan produksinya
harus didasarkan pada teknik penakaran berat (weight batching).
Untuk mutu beton kolom praktis, balok praktis adalah K 175,
dengan kuat tekan yang disyaratkan adalah fc' = 175.

BAB. IV - 5
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Kuat Tekan Rata – Rata yang Ditargetkan


Kuat tekan rata – rata yang ditargetkan (fcr') yang digunakan
sebagai dasar dalam menentukan proporsi campuran beton harus
diambil sebagai nilai yang terbesar dari 2 (dua) persamaan, yaitu:
fcr' = fc' + 1,64.s
fcr = fc' + 2,64.s – 4
dimana s = deviasi standard.
Bila suatu fasilitas produksi beton tidak mempunyai rekaman uji
lapangan untuk menghitung deviasi standard maka target fcr'
haruslah diambil tidak kurang dari (fc' + 12) mPa.
Tingkat kekuatan dari suatu mutu beton dinyatakan tercapai
secara memuaskan bila kedua persyaratan berikut ini dipenuhi,
yaitu :
- Nilai fcr' dan semua pasangan hasil uji yang masing – masing
terdiri dari 3 hari uji kuat tekan tidak kurang dari (fc' +
0,82.s) mPa.
- Tidak satupun dari hasil uji tekan fcr dari 2 silinder)
mempunyai nilai dibawah 0,85 fc'.
Bila salah satu dari kedua syarat di atas tidak dipenuhi, maka
harus diambil langkah untuk meningkatkan rata – rata dari hasil
uji kuat tekan berikutnya.

2.2.6. Pengecoran Beton

Adukan beton harus secepatnya dibawa ke tempat pengecoran


dengan menggunakan cara yang sepraktis mungkin, sehingga
tidak memungkinkan adanya pengendapan agregat dan
tercampurnya kotoran – kotoran atau bahan lain dari luar.
Penggunaan alat – alat pengangkut mesin haruslah mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas sebelum didatangkan ke
tempat pekerjaan. Semua alat – alat pengangkut yang digunakan
pada setiap waktu harus dibersihkan dari sisa – sisa adukan
yang mengeras. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk
dimulai sebelum pemasangan besi beton selesai diperiksa dan
mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat – tempat yang akan
dicor terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala kotoran –
kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan lain – lain) kemudian
dibasahi dengan air semen.
Pengecoran dilakukan selapis demi selapis dan tidak dibenarkan
menuangkan adukan dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian
yang akan menyebabkan pengendapan agregat.
Pengecoran dilakukan secara terus menerus. Adukan yang tidak
dicor (ditinggalkan) dalam waktu lebih dari 15 menit setelah

BAB. IV - 6
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

keluar dari mesin adukan beton dan juga adukan yang tumpah
selama pengangkutan tidak diperkenankan untuk dipakai lagi.
Pada pengecoran baru (sambungan antara beton lama dan beton
baru), maka permukaan beton lama terlebih dahulu harus
dibersihkan dan dikasarkan dengan menyikat sampai agregat
kasar tampak, kemudian disiram dengan air semen. Tempat
dimana pengecoran akan dihentikan harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas.

2.2.7. Pemadatan Beton

Beton didapatkan dengan menggunakan vibrator selama


pengecoran berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak merusak acuan maupun posisi tulangan.
Kontraktor harus menyediakan vibrator – vibrator untuk
menjamin efisiensi tanpa adanya penundaan.
Pemadatan beton secara berlebih – lebihan sehingga
menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran – kebocoran
melalui acuan dan lain lain, harus dihindarkan.
Beton harus dicorkan lapis demi lapis dengan tidak melebihi 460
mm tebalnya. Lapis – lapis ini harus dijaga supaya mempunyai
pengikatan satu sama lain yang baik.

2.2.8. Siar Pelaksanaan dan Siar Dilatasi

Posisi dan pengaturan siar – siar ini harus mendapat persetujuan


Konsultan Pengawas, dimana :
- Siar dalam kolom sebaiknya ditempat sedekat mungkin
dengan bidang bawah dari balok tertinggi;
- Siar dalam balok dan pelat ditempatkan pada tengah – tengah
bentang;
- Siar vertikal dalam dinding supaya dihindarkan;
- Siar harus dibuat sekecil mungkin dan atas persetujuan
Konsultan Pengawas.
Sebelum pengecoran beton baru, permukaan dari beton lama
supaya dibersihkan dengan seksama dan dikasarkan. Kotoran –
kotoran disingkirkan dengan cara menyemprotkan permukaan
dari beton lama supaya dengan cara menyemprotkan permukaan
dengan air dan menyikat sampai agregat kasar tampak.
Setelah permukaan siar tersebut bersih, bubur semen (grout)
yang tipis dilapiskan merata keseluruh permukaan.
Bahan yang dipakai untuk expansion joint adalah heavy duty
sealant dengan pelat hitam berukuran 200 mm x 2 mm yang
diletakkan sepanjang dilatasi dan dipasang sesuai petunjuk
Konsultan Pengawas.

BAB. IV - 7
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

2.2.9. Adukan Beton Monolitik

Pada pertemuan dari balok dengan kolom, perbedaan adukan


beton supaya dicorkan serentak atau berseling, yaitu beton yang
bermutu tinggi dicorkan lebih dahulu, atau berselang tidak lebih
dari 20 menit antar waktu pengecoran kedua mutu beton. Beton
tersebut digetarkan sampai kedua mutu beton tersebut mengikat
bersama.

2.2.10. Curing dan Perlindungan Atas Beton

Beton harus dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan


terhadap sinar matahari, angin, hujan atau aliran air dan
pengrusakan secara mekanis atau pengeringan sebelum waktunya.
Semua permukaan beton yang terbuka harus dijaga tetap basah
selama 4 hari dengan menyemprotkan air atau menggenangi
dengan air pada permukaan beton tersebut.
Terutama pada pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing
dan perlindungan atas beton harus diperhatikan. Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor harus bertanggung jawab atas retaknya
beton karena kelalaian ini .

2.2.11. Bekisting (Formwork)

Bekisting yang dibuat dari kayu dan besi harus memenuhi syarat –
syarat kekuatan, daya tahan dan mempunyai permukaan yang baik
untuk pekerjaan finishing.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus memberikan sample dan
perhitungan kekuatan bahan yang akan dipakai untuk bekisting,
untuk disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Bekisting harus dipasang sesuai dengan ukuran – ukuran jadi yang
ada di dalam gambar dan menjamin bahwa ukuran – ukuran
tersebut tidak akan berubah sebelum dan selama pengecoran.
Bekisting harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan
terjadi kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran, tetap
lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak bergoyang.
Bekisting harus dibersihkan dari potongan – potongan seperti
kayu, paku, serbuk gergaji, tanah dan sebagainya yang
akan/dapat merusak beton yang sudah jadi pada waktu
pembongkaran bekisting.
Bekisting untuk bagian konstruksi (pelat, balok dan kolom)
diharuskan memakai multiplek dengan ketebalan minimal 9 mm
dan cukup kuat, disesuaikan dengan jarak rusuk – rusuk pengaku
bekisting.
Untuk mengejar kecepatan pengecoran struktural, maka
disyaratkan agar Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor membuat
panel – panel bekisting yang standard untuk bagian konstruksi
yang typical.

BAB. IV - 8
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

2.2.12. Pembongkaran Bekisting

Pembongkaran bekisting dilakukan sesuai dengan standard


dalam SKBI- 1.4.53.1989.
Bagian – bagian konstruksi yang akan dibongkar bekistingnya
harus sudah dapat memikul berat sendiri dan baban – beban
pelaksanaan.
Acuan – acuan bagian konstruksi di bawah ini boleh dilepas
dalam waktu sebagai berikut :
- Sisi-sisi balok, dinding dan kolom yang tidak dibebani 2 hari
- Pelat beton (tiang penyangga tidak dilepas) 7 hari
- Tiang-tiang penyangga pelat 28 hari
- Tiang tiang penyangga balok yang tidak dibebani 16 hari
- Tiang-tiang penyangga overstek (cantilever) 28 hari
Pekerjaan pembongkaran bekisting harus dilaporkan dan
disetujui sebelumnya oleh Konsultan Pengawas.
Apabila setelah bekisting dibongkar ternyata terdapat bagian –
bagian beton yang keropos atau cacat konstruksi maka Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor harus segera memberitahukan kepada
Konsultan Pengawas, untuk meminta persetujuan mengenai cara
pengisian atau menutupnya.
Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan
biaya – biaya pengisian atau penutupan bagian tersebut menjadi
tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.

2.2.13. Alat - alat di dalam Beton

Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor tidak dibenarkan untuk


membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi, beton
yang sudah jadi tanpa sepengetahuan dan seijin Konsultan
Pengawas. Ukuran dari pembuatan lubang, pemasangan alat –
alat di dalam beton, pemasangan sparing dan sebagainya harus
menurut petunjuk Konsultan Pengawas.

2.2.14. Beton Kedap Air

Untuk pembuatan beton kedap air (sesuai dengan gambar –


gambar), maka Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor terlebih dahulu
harus meminta persetujuan Konsultan Pengawas perihal bahan
waterproofing (additive) sebagai campuran dalam adukan beton
dan proporsi adukannya.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor bertanggungjawab atas
pekerjaan pembuatan beton kedap air tersebut. Apabila
dikemudian hari ternyata kedapatan bocor atau terjadi
rembesan, maka Kontraktor harus mengadakan perbaikan –
perbaikan dengan biaya dari Kontraktor sendiri.

BAB. IV - 9
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Prosedur perbaikan tersebut harus sesuai dengan petunjuk dari


Konsultan Pengawas sedemikian rupa sehingga tidak merusak
bagian bagian lain yang sudah selesai.

2.2.15. Pekerjaan Atap Beton

Atap beton dikerjakan sesuai dengan syarat – syarat yang


tercantum dalam pasal lain dalam RKS ini (Bagian III Bab IV butir
IV.2).

2.2.16. Beton Rabat dan Kansteen

Beton rabat dan kansteen dikerjakan sesuai dengan syarat –


syarat yang tercantum dalam pasal lain dalam RKS ini (Bagian III
Bab I butir 1.7.).

IV. 3. PEKERJAAN BAJA

3.1. Umum

Syarat – syarat mutu dan pemasangan harus menurut dan atau


disesuaikan dengan standard – standard sebagai berikut : JIB, B>S>
PPBBI 1983, ASTM, VOSB, TGB, PUBI 1982, SII, mutu baja adalah ST
37/BJ 37.
Semua bahan yang dipakai harus disertai jaminan mutu dari pabrik
(manufacture) atau sertifikat pengujian dari laboratorium penguji bahan
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Bahan – bahan yang dipakai buatan produsen dalam negeri yang dikenal
baik dan produknya memenuhi Standard Industri Indonesia yang
berlaku.
Bahan struktur baja tidak boleh cacat dan bengkok – bengkok, jadi harus
betul – betul lurus. Profil yang tepat, bentuk, tebal, ukuran, berat dan
detail – detail konstruksinya harus sesuai dengan gambar rencana.
Penyambungan dengan pengelasan harus dilaksanakan dengan
ketepatan dan keahlian tinggi. Pengelasan harus menggunakan las listrik
untuk bagian – bagian yang struktural. Permukaan yang dilas harus
sama dan rata, dan kelihatan teratur. Las – las yang menunjukkan cacat
harus dipotong dan dilas kembali atas biaya Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor.
Penyambungan dengan baut – baut dan mur – mur harus dilakukan
dengan seksama dan kokoh, ukuran – ukuran baut – baut beserta ring-
ringnya harus disesuaikan.
Gambar – gambar untuk itu serta jenis bajanya setidaknya sama dengan
mutu baja profil. Penyambungan dengan baut harus diselenggarakan
sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik dan tidak
menimbulkan cacat. Mutu bahan baut yang dipergunakan harus
memenuhi syarat mutu bahan standard pabrik dan rencana.

BAB. IV - 10
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pembakaran di bengkel atau di lapangan untuk pemotongan atau


penyambungan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
Dalam hal persetujuan diberikan, maka bagian yang dibakar tersebut
harus diselesaikan sedemikian baik sehingga sama dengan hasil
pemotongan.
Permukaan besi baja kemudian dibersihkan dari korosi sehingga
permukaan memperoleh warna metalic. Bekas las – lasan harus dikikir
dan dihaluskan tanpa mengurangi kekuatan lasnya. Segera setelah
dibersihkan, permukaan baja dicat dengan manie kapal merk Hemple.
Apabila ditentukan pekerjaan galvanisasi untuk pelat baja atau pipa
pipa maka yang dimaksud adalah proses galvanisasi celup panas.
Kawat las yang digunakan adalah ARCH-Welding dengan menggunakan
Mild Steel Electrode jenis Eutelic Rod Unimatic 6.000 (AC-DC) dengan
tensile Strenght 68.000 psi = 47,6 kg/mm' atau kawat las lain yang
setara. Pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar
konstruksi dan mengikuti prosedur yang berlaku seperti PPBB! 1983,
AISC, dan VOSB.
Pelaksana Pekerjaan / Kontraktor maupun Sub-nya harus bertanggung-
jawab atas pekerjaan ini. Persetujuan yang diberikan oleh Konsultan
Pengawas / Perancang tidak berarti membebaskan Pelaksana Pekerjaan
/ Kontraktor maupun sub-nya dari tanggungjawab.
Perubahan ukuran/dimensi dari profil baja rencananya harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan membuat gambar kerja
(Shop-Drawing) dari pekerjaan baja ini dan perhitungan konstruksi
apabila diadakan perubahan – perubahan praktis atas rencana semuta.
Gambar kerja dan perhitungan ini diserahkan kepada Konsultan
Pengawas untuk diperiksa dan disetujui dahulu sebelum pekerjaan
dilaksanakan.
Gambar kerja tersebut di atas meliputi seluruh bagian dari pekerjaan
konstruksi seperti detail – detail pemasangan, penyambungan, lubang –
lubang, baut – baut, las, pemotongan, pertemuan pada pemutusan,
penguatan, ukuran – ukuran, dimensi, designation dari bahan dan lain –
lain yang secara teknis sangat diperlukan.
Gambar rencana berlaku sebagai gambar referensi untuk gambar kerja.

3.2. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan baja meliputi pekerjaan struktur penyangga atap serta


bagian – bagian lain yang ditunjuk dalam gambar. Rangka atap
digunakan SMART TRUSS, atau kuda kuda ringan yang ter fabrikasi
dari pabrik.

3.3. Fabrikasi

3.3.1. Umum

Tenaga – tenaga yang dipergunakan haruslah tenaga – tenaga


ahli pada bidangnya, yang melaksanakan pekerjaan dengan baik

BAB. IV - 11
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

dan teliti sehingga dapat menjamin bahwa seluruh bagian


pekerjaan dapat cocok satu sama lain pada waktu pemasangan.
Konsultan Pengawas Proyek mempunyai kebebasan sepenuhnya
untuk setiap waktu melakukan pemeriksaan pekerjaan. Tidak
satu pekerjaanpun dibongkar dan disiapkan untuk dikirim
sebelum diperiksa dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Setiap pekerjaan yang catat atau tidak sesuai dengan gambar
rencana atau spesifikasi ini akan ditolak dan harus segera
diperbaiki.
Sub Kontraktor Fabrikasi harus menyediakan atas biaya sendiri,
semua alat – alat perancah dan sebagainya yang diperlukan
sehubungan dengan pemeriksaan pekerjaan.
Sub Kontraktor Fabrikasi harus memperkenankan Sub
Kontraktor Montase untuk sewaktu – waktu memeriksa
pekerjaan dan untuk mendapatkan keterangan mengenai cara –
cara dan lain – lain yang berhubungan dengan pemasangan ini
ditempat pekerjaan, dimana Sub Kontraktor Montase tidak
mempunyai wewenang untuk memberikan instruksi – instruksi
mengenai cara penyelenggaraan fabrikasi.

3.3.2. Pola Penqukuran

Pola (maal) pengukuran dan peralatan – peralatan lain yang


dibutuhkan untuk menjamin ketelitian pekerjaan harus
disediakan oleh Sub Kontraktor Fabrikasi. Semua pengukuran
harus dilakukan dengan menggunakan pita – pita baja yang
telah disetujui Konsultan Pengawas. Ukuran – ukuran dari
pekerjaan baja yang tertera pada gambar rencana dianggap
ukuran pada 25° C.

3.3.3. Pelurusan

Sebelum pekerjaan lain dilakukan pada pelat, maka semua pelat


harus diperiksa kerataannya, semua batang – batang diperiksa
kelurusannya, harus bebas dari puntiran, apabila diperlukan
harus diperbaiki, sehingga apabila pelat – pelat disusun akan
terlihat rapat seluruhnya.

3.3.4. Pemotongan

Pekerjaan baja dapat dipotong dengan cara mengguntingnya,


menggergajinya atau dengan las pemotong. Permukaan yang
diperoleh dari hasil pemotongan harus diselesaikan siku
terhadap bidang yang dipotong, tepat dan rata menurut ukuran
yang diperlukan.
Kalau pelat digunting, digergaji atau dipotong dengan las
pemotong, maka pada pemotongan tersebut terbuangnya metal
diperkenankan sebanyak – banyaknya 3 dengan 12 mm dan

BAB. IV - 12
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

sebanyak – banyaknya 6 mm pada pelat yang tebalnya lebih


besar dari 12 mm.
Las pemotong untuk memotong digerakkan secara mekanis dan
diarahkan dengan sebuah mal serta bergerak dengan kecepatan
tetap. Pinggiran yang dihasilkan oleh 1as pemotong harus bersih
serta iurus clan untuk menghaluskannya harus menggunakan
gerinda yang bergerak searah dengan arah las. pemotongan,
sehingga pinggiran tersebut bebas dari bekas kotoran besi.

3.3.5. Pekerjaan Las

Pekerjaan las harus dikerjakan oleh tenaga las, dibawah


pengawasan langsung seorang yang menurut anggapan
Konsultan Pengawas mempunyai training dan pengalaman yang
sesuai untuk menyelenggarakan pekerjaan tersebut. Sub
Kontraktor harus mengajukan cara pengelasan kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan, dan
persetujuan yang telah diberikan tidak dapat diubah tanpa
persetujuan lebih lanjut. Detail – detail khusus yang menyangkut
cara persiapan sambungan, cara pengelasan jenis dan ukuran
elektrode, tebalnya masing – masing bagian yang dilas dan
ukuran dari fas serta kekuatan arus listrik untuk las tersebut
harus diajukan Sub Kontraktor terlebih dahulu untuk
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas sebelum
pekerjaan las listrik tersebut dilakukan. Ukuran elektroda, arus
dan tegangan listrik serta kecepatan busur listrik, yang
digunakan pada las listrik, harus seperti yang dinyatakan oleh
pabrik las listrik tersebut dan tidak dapat diadakan
penyimpangan tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas. Pelat – pelat yang akan dilas harus bebas dari kotoran
- kotoran besi, minyak, cat, karat atau lapisan lain yang dapat
mempengaruhi mutu las. Las dengan retak susut, retak pada
bagian dasar lubang dan kurang tepat letaknya harus
disingkirkan.

3.3.6. Lubang

Semua lubang harus dibor untuk seluruh tebal dari material. Bila
memungkinkan semua potongan – potongan pelat dan
sebagainya harus dijepit bersama – sama pada saat
dilubangi/dibor sehingga mata bor menembus seluruh tebal
secara sekaligus.
Cara lain batang – batang tersebut dilubangi sendiri – sendiri
dengan menggunakan mal. Setelah bor selesai, seluruh kotoran
besi harus disingkirkan dan apabila diperlukan pelat – pelat dan
sebagainya dapat dilepas kembali.
Diameter lubang untuk baut HTB adalah satu sampai dengan 1,50
mm lebih besar dari pada diameter yang tertera pada gambar
rencana.

BAB. IV - 13
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Dalam hal lubang tidak dibor sekaligus untuk seluruh tebal


elemen – elemennya, lubang dapat dibor dengan ukuran yang
lebih kecil dan diperbesar kemudian pada saat montase
percobaan.

3.3.7. Montase Percobaan

Sebelum dikirim ke lapangan, pekerjaan baja harus dipasang


sementara (montase percobaan) pada lokasi Sub Kontraktor
Fabrikasi yang terlindung dari cuaca untuk diperiksa oleh
Konsultan Pengawas mengenai alignemen serta tepatnya seluruh
bagian dan sambungan.
Kalau terjadi perbedaan kedudukan, maka batang yang
berdampingan harus dimontase bersama – sama pada
kedudukan yang dikehendaki lengkap dengan perletakan –
perletakannya, gelegar melintang dan seluruh batang – batang
penguat.
Sambungan sementara harus betul – betul berhubungan secara
menyeluruh dengan menggunakan cara yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas seperti wartel, jack, baut – baut dan
sebagainya.
Pemahatan yang dilakukan pada saat montase hanyalah untuk
membawa bagian – bagian itu pada posisi yang dikehendaki dan
bukan untuk memperbesar lubang atau merusak material.
Pemberitahuan harus diberikan kepada Konsultan Pengawas
apabila pekerjaan sudah siap untuk diperiksa dan semua
fasilitas yang diperlukan untuk maksud pemeriksaan itu harus
disediakan oleh Sub Kontraktor.
Montase percobaan tidak boleh dilepas dahulu sebelum
mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.

3.3.8. Penandaan

Setelah montase percobaan mendapat persetujuan dari


Konsultan Pengawas setiap bagian harus diberi tanda yang jelas
(dengan pahatan dan cat) sebelum montase percobaan tersebut
dilepas.
Cat warna yang berbeda dipergunakan untuk membedakan
bagian – bagian yang sama. Copy dari gambar rencana
menyatakan dengan tepat tanda – tanda itu, harus diberikan
dengan Cuma – Cuma kepada Konsultan Pengawas dan Sub
Kontraktor Montase pada saat pengiriman pekerjaan baja
tersebut ke lapangan.

3.3.9. Pengecatan Awal

Setelah dibongkar, maka pada permukaan seluruh pekerjaan


baja, kecuali pada bagian yang dikerjakan dengan mesin
perkakas dan pada perletakan, harus dibersihkan seluruhnya

BAB. IV - 14
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

sampai menjadi logam yang bersih yang disetujui oleh Konsultan


Pengawas.
Setelah semua permukaan dalam keadaan bersih dan kering,
kemudian dicat dasar dengan satu lapisan manie kapal merk
Hemple.

3.3.10. Penyediaan Baut

Sub Kontraktor Fabrikasi harus menyediakan jumlah sepenuhnya


dari mur – mur, baut – baut, cincin baut atau ring dan sebagainya,
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan
dengan tambahannya 5% untuk setiap ukuran baut mur dan
cincin baut.
Diameter lubang cincin baut adalah 1 s/d 1,5 mm lebih besar dari
0 baut.
Pada saat pengiriman, Sub Kontraktor Fabrikasi harus
mengajukan/menyerahkan dengan Cuma – Cuma kepada
Konsultan Pengawas dan Kontraktor Montase penentuan letak
dari seluruh baut – baut yang akan dipasang.

3.3.11. Transportasi dan Handling

Cara transport dan handling pekerjaan besi harus sesuai dengan


cara yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Untuk
menjamin terlindungnya dari kerusakan pada saat transportasi,
maka perhatian khusus pada saat pengepakan sangat diperlukan
dan pada saat transport harus diberikan perkuatan.

3.3.12. Penyerahan

Sub Kontraktor Fabrikasi bertanggungjawab untuk menjaga


keamanan pekerjaan besi dan memperbaiki semua kerusakan
sampai diserahkan dan diterimanya oleh Sub Kontraktor
Montase.
Sub Kontraktor Montase akan menerima seluruh pekerjaan besi
ditempat pekerjaan, atau di tempat penyerahan lain seperti yang
telah ditetapkan, menyimpannya dengan aman dan bebas dari
kerusakan – kerusakan. Sub Kontraktor Montase akan
menyerahkan tanda terima untuk semua penyerahan, dan
tanggungjawab untuk setiap kehilangan dan kerusakan –
kerusakan setelah penyerahan serta sewa gudang yang
diperlukan.

BAB. IV - 15
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

3.4. Pemasangan (Erection)

3.4.1. Umum

Sub Kontraktor Montase harus menyediakan seluruh perancah


dan alat – alat yang diperlukan untuk pekerjaan memasang baut
dan atau las dari seluruh pekerjaan besi tersebut.
Pekerjaan besi tidak boleh dipasang sebelum cara, alat dan
sebagainya yang akan digunakan mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas. Semua pekerjaan harus dikerjakan secara
hati – hati dan dipasang dengan teliti.
Drift yang dipakai mempunyai diameter yang lebih kecil dari
lubang baut, dan digunakan untuk membaca bagian – bagian pada
posisinya yang tepat seperti disyaratkan dibawah ini. Penggunaan
martil yang berlebihan yang dapat merusak atau mengganggu
material tidak diperkenankan.
Setiap kesalahan pada pekerjaan di bengkel yang menyulitkan
pekerjaan montase serta menyulitkan pengepasan bagian – bagian
pekerjaan yang ada harus dilaporkan kepada Konsultan Pengawas.
Permukaan yang dikerjakan dengan mesin perkakas harus
dibersihkan sebelum dipasang.

3.4.2. Kerangka Baja

Struktur baja harus dipasang sedemikian rupa, sehingga struktur


tersebut dapat membentuk lawan lendut seperti tertera pada
gambar rencana.
Pemasangan permanen baut tidak boleh dilakukan sebelum
mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas. Sambungan –
sambungan dibuat permanen setelah struktur baja terpasang
seluruhnya.

3.5. Pengecatan Baja

Semua konstruksi baja yang akan dipasang perlu dicat di pabrik dengan
cat dasar yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas kecuali pada
bidang – bidang yang dikerjakan dengan mesin perkakas misalnya pada
perletakan.
Pengecatan terdiri dari :
3.5.1. Pembersihan seluruh sambungan lapangan dan bidang – bidang
yang telah dicat dibengkel, yang telah rusak pada saat transportasi
atau pada saat pemasangan serta bidang – bidang lain seperti yang
diperintahkan oleh Konsultan Pengawas.
3.5.2. Pemakaian cat dasar dan bahan sejenis seperti yang disyaratkan
dalam RKS ini pada bidang – bidang yang tertera pada point di
atas.
3.5.3. Pemakaian cat akhir dengan menie kapal merk Hemple untuk
seluruh bidang pekerjaan besi yang terbuka.

BAB. IV - 16
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

3.5.4. Sebelum pengecatan dilaksanakan, permukaan baja harus


dibersihkan dengan amplas (sand blasting) sesuai yang
diperuntukkan oleh Konsuitan Pengawas
Seluruh permukaan dari pekerjaan besi bangunan harus
dibersihkan, agar menjadi logam yang bersih, bebas dari gemuk,
olie, karat, lumpur atau lain – lain yang melekat padanya. Luas
bidang permukaan yang dibersihkan harus segera ditutup
dengan cat dasar, sebelum terjadi oksidasi (karat), permukaan
harus dibersihkan kembali sebelum pengecatan dasar
dilakukan.
Pengecatan akhir dapat dilakukan dengan kuas tangan yang
disetujui atau dengan cara yang disyaratkan oleh Konsultan
Pengawas. Pengecatan tidak dapat dilakukan pada cuaca
berkabut, lembab atau berdebu atau pada cuaca lain yang jelek,
kecuali diusahakan tindakan – tindakan seperlunya yang sesuai
dengan pendapat Konsultan Pengawas untuk menghindari
pengaruh – pengaruh cuaca tersebut.
Permukaan yang akan dicat harus kering dan tidak berdebu.
Lapisan berikutnya tidak dilakukan sebelum lapisan cat
sebelumnya kering betul.
Lapisan penutup dilakukan di atas lapisan cat dasar dalam
tempo kurang lebih enam bulan dan tidak boleh dilakukan lebih
cepat dari 48 jam setelah pengecatan dasar.
Bila terjadi demikian maka permukaan baja perlu dibersihkan
kembali atau dicat dasar lagi sepeti diuraikan di atas.
Cat (termasuk penyemprotan) bila diperintahkan oleh
Konsultan Pengawas harus disapu dengan kaut pada permukaan
baja, baut – baut pada setiap sudut – sudut, sambungan pelat
lekuk – lekuk sebagainya. Kemudian diratakan dengan baik.
Setiap bagian yang dapat menampung air, atau dapat dirembesi
air, diisi dengan cat tebal, atau bila diperintahkan oleh Konsultan
Pengawas dapat mempergunakan semen kedap air atau bahan
lain yang disetujui sebelum penyelesaian cat dasar.
Setiap lapisan yang telah selesai harus tampak sama rata.
Pemakaian cat rata ialah 12,5 m 2 sampai 15 m2 per liter untuk cat
dasar, dan 15 sampai 20 m 2 per liter untuk lapisan berikutnya.

IV. 4. PEKERJAAN PEMASANGAN BAHAN-BAHAN PELINDUNG DAN


PENGAWET

Pekerjaan pelindung (curing) dan pengawet meliputi pekerjaan terakhir yang


biasanya dilakukan untuk menjaga agar pekerjaan struktur atas yang telah
diselesaikan dapat lebih tahan lama dan bebas dari pengaruh – pengaruh yang
tidak dikehendaki dikemudian hari.
Pekerjaan Pelindung (curing) dan pengawet meliputi semua jenis pekerjaan
finising berdasarkan petunjuk – petunjuk dari pabrik dan dengan persetujuan
Konsultan Pengawas.

BAB. IV - 17
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor Utama bertanggungjawab penuh atas


terselenggaranya pekerjaan tersebut dengan baik.

IV. 5. PEKERJAAN JOINT SEALANT

Pekerjaan ini meliputi pengadaan, persiapan, pelaksanaan dan pemasangan


pada celah beton di lantai yang akan disambung menjadi batu.
Pekerjaan ini harus menjamin tidak akan terjadi kebocoran pada batas batas
sambungan beton yang termaksud di atas.
Ukuran sesuai dengan detail gambar, Merk dan bahan joint sealant yang
digunakan adalah GE Silicone.

IV. 6. ALAT – ALAT BANTU YANG DILETAKKAN PADA BANGUNAN

Penggunaan alat – alat bantu pekerjaan seperti, alat – alat yang akan diletakkan
dan membebani bagian – bagian struktur bangunan, harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas. Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus
memperbaiki kembali segala kerusakan kerusakan akibat penggunaan alat –
alat bantu tersebut.

IV. 7. TOLERANSI PELAKSANAAN

Penyimpangan dari toleransi seperti tersebut dibawah ini, Pelaksana


Pekerjaan/Kontraktor harus bertanggung jawab atas perbaikan dan biaya –
biayanya. Perbaikannya harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
Toleransi ini diberikan atas pekerjaan yang bertalian dengan setting out, garis
as bangunan, kedataran atau ketinggian, ketegakkan, ukuran dan tebal dari
suatu ketinggian struktur dan lain – lain.
Kedudukan suatu bagian dari bidang bangunan yang ditunjukkan pada
gambar adalah 6 mm per 3 meter panjang bidang bangunan dengan
maksimum 25 mm. Lepas dari ketentuan diatas, bidang bangunan tidak boleh
melampui garis batas pemilikan dan garis bangunan (sempadan).

7.1. Ketegaklurusan

Penyimpangan dari bidang tembok dan kolom terhadap garis vertikal


tidak melampui 6 mm per meter dengan maksimum 13 mm.

7.2. Kedataran

Tinggi 3meter dari lantai, penyimpangannya - 6 mm.

BAB. IV - 18
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Tinggi 6meter dari lantai, penyimpangannya - 13 mm.


Tinggi>12meter dari lantai, penyimpangannya -13 mm.

7.3. Penampang

Penyimpangan maksimum terhadap dimensi penampang nominal dari


kolom balok, pelat dan lain – lain adalah :
Dimensi < 15 cm, penyimpangannya = + 10 mm - 13 mm
Dimensi >15 cm, penyimpangannya = + 13 mm - 6 mm

7.4. Lubang (opening)

Penyimpangan maksimum terhadap ukuran nominal dan fokasinya pada


lantai dan dinding + 6 mm.

BAB. IV - 19