Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mengetahui Tingkat Kecemasan


1. Definisi Kecemasan
Kecemasan berasal dari kata cemas yang artinya khawatir, gelisah,
dan takut. Kecemasan juga bisa didefinisikan sebagai rasa takut yang
tidak diketahui dari mana rasa takut itu berasal. Tetapi, faktor yang
paling banyak membentuk kecemasan ialah faktor lingkungan.
Kecemasan adalah istilah yang telah digunakan dalam berbagai
regam cara oleh ahli psikologi. Beberapa ahli mengkonsentrasikan diri
pada aspek situasional dari kecemasan. Dalam bidang kedokteran gigi;
pencabutan gigi, pengeboran, dan penyuntikan adalah keadaan yang
paling memicu kecemasan. Meskipun demikian, ada perbedaan
individual yang penting dalam bagaimana orang bereaksi terhadap
prosedur tersebut, dan telah dikembangkan beberapa kuesioner untuk
menilai besarnya kecemasan yang dirasakan pasien secara subjektif.
Kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang
mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai
perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah
dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.
Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas
yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan akan
menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya.
Kecemasan juga berarti suatu keadaan emosional yang mempunyai
ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak
menyenangkan, dan kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan
terjadi.
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat di atas
bahwa kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tentunya
yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena
adanya ketidakpastian di masa mendatang serta ketakutan bahwa
sesuatu yang buruk akan terjadi.
2. Klasifikasi kecemasan
Kecemasan pada anak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Kecemasan realitas atau objektif
Kecemasan ini bersumber dari adanya ketakutan yang
mengancam di dunia nyata. Kecemasan ini menuntun kita
bagaimana bersikap dalam menghadapi bahaya. Tidak jarang
ketakutan ini berubah menjadi ekstrim.
b. Kecemasan neurosis
Kecemasan ini berdasar pada masa kecil. Orang tua sering
menghukum anak akibat pemenuhan kebutuhan impulsive
anak. Kecemasan akan terjadi apabila insting tersebut
mengalami pemenuhan kebutuhan terhadap hukuman.
c. Kecemasan moral
Kecemasan ini merupakan ketakutan akan suara hati individu
itu sendiri. Ketika individu termotivasi mengekspresikan
impuls yang bertentangan dengan nilai moral, maka yang
timbul adalah rasa malu atau rasa bersalah.
3. Etiologi kecemasan
Kecemasan atau rasa takut pada anak merupakan suatu keadaan
yang multifaktorial. Kecemasan terhadap perawatan gigi sering kali
dinyatakan dengan penolakan perawatan gigi atau ketakutan terhadap
dokter gigi. Namun, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa
mereka yang membentuk dan mewujudkan tingkah laku anak yang
bisa kooperatif dalam menerima perawatan gigi.
Kecemasan yang dialami oleh anak dalam perawatan gigi tidak
terlepas dari peranan orang tua. Hal-hal yang dilakukan orang tua
tanpa disadari memberikan dampak langsung kepada anak, antara lain:
a. Orang tua sering membawa anaknya ke dokter ketika mendekati
waktu tidurnya, anak akan menjadi tidak kooperatif dan mudah
marah karena sudah mendekati waktu tidurnya.
b. Orang tua sering membawa anaknya ketika gigi telah sakit.
Sehingga selama perjalanan anak akan semakin cemas dan takut
menuju ke dokter gigi.
c. Beberapa orang tua membawa anaknya ke dokter gigi sebagai
bentuk hukuman sehingga anak akan berfikir negative mengenai
dokter gigi.
d. Orang tua paling berperan untuk mencegah anak mendengar cerita
yang menakutkan tentang perawatan gigi sehingga anak akan
merasa cemas saat kunjungan.

Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu hidup seseorang,


peristiwa-peristiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan
kecemasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya kecemasan yaitu:

a. Lingkungan keluarga
Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan ketidakpedulian orang
tua terhadap anak-anaknya, dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta
kecemasan pada anak baik saat berada di dalam maupun di luar rumah.
b. Lingkungan sosial
Jika individu tersebut berada pada lingkungan yang tidak baik dan
individu tersebut menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan
menimbulkan adanya berbagai perilaku buruk, sehingga dapat
menyebabkan munculnya kecemasan.
Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya yang tidak nyata
dan sewaktu-waktu terjadi pada diri individu serta adanya penolakan dari
masyarakat menyebabkan kecemasan berada di lingkungan yang baru
dihadapi. Pendapat lain yang mengemukakan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan adalah:
a. Faktor fisik
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga
memudahkan timbulnya kecemasan.
b. Trauma atau konflik
Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu,
dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau konflik
mental yang terjadi pada individu akan memudahkan timbulnya gejala-
gejala kecemasan.
c. Lingkungan awal yang tidak baik
Lingkungan adalah faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan
individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi
pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.
4. Prevalensi kecemasan
Kecemasan dalam perawatan gigi menduduki peringkat ke-lima
sebagai kecemasan yang paling umum ditakuti. Berdasarkan prevalensi
yang sangat tinggi ini, tidak mengherankan kalau banyak pasien yang
sebenarnya mengakui bahwa dirinya merasa cemas apabila akan ke
dokter gigi. Sebuah studi yang dilakukan oleh Armfied di Australia
melaporkan sekitar 14% orang merasa cemas ketika mengunjungi
dokter gigi. Sementara hampir 40% walaupun sudah pernah ke dokter
gigi namun tetap merasa cemas pada kunjungan berikutnya. Terdapat
22% lainnya menyatakan sangat cemas apabila harus mengunjungi
dokter gigi.
5. Gejala kecemasan
Kecemasan juga memiliki karakteristik berupa munculnya
perasaan takut dan kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas
dan tidak menyenangkan. Gejala-gejala kecemasan yang muncul
dapat berbeda pada masing-masing orang. Pendapat lain
menyebutkan bahwa takut dan cemas merupakan dua emosi yang
berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa takut
muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari
lingkungan dan tidak menimbulkan konflik bagi individu.
Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri,
tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu.
Gejala kecemasan di klasifikasikan dalam tiga jenis gejala, antara
lain:
a. Gejala fisik, yaitu kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak
berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa
lemas, panas dingin, mudah marah atau tersinggung.
b. Gejala behavorial, yaitu berperilaku menghindar, terguncang,
melekat dan dependen.
c. Gejala kognitif, yaitu khawatir tentang sesuatu, perasaan
terganggu akan ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi di masa
depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan segera
terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi
masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit
berkonsentrasi.
6. Dampak kecemasan
Pasien yang menunggu perawatan pada umumnya cemas dan
kecemasan dapat ditingkatkan oleh persepsi pasien tentang ruang
praktek sebagai lingkungan yang mengancam, tentang perawat,
cahaya, bunyi, dan bahasa teknis yang asing bagi pasien. Pada
kenyataannya menunggu perawatan lebih traumatic daripada
perawatan itu sendiri.
Kecemasan dapat menyebabkan pasien mengeluh nyeri walau tidak
didapatkan adanya dasar patofisiologis, misalnya saat preparasi pada
gigi dengan pulpa non vital, kadang pasien tetap mengeluh nyeri
walaupun telah dilakukan anestesi lokal.
7. Kategori tingkah laku seorang anak
Tingkah laku seorang anak dikategorikan menjadi 4 kategori
sesuai kriteria berikut:
a. Sangat negatif: menolak perawatan, meronta-ronta dan
membantah, amat takut, menangis kuat-kuat, menarik atau
mengisolasi diri, atau keduanya.
b. Sedikit negatif: tindakan negatif minor, atau mencoba bertahan,
menyimpan rasa takut, dari minimal sampai sedang, nervus
atau menangis.
c. Sedikit positif: berhati-hati menerima perawatan, dengan agak
segan, dengan taktik bertanya atau menolak, cukup bersedia
bekerja sama dengan dokter gigi.
d. Sangat positif: bersikap baik dengan operator, tidak ada tanda-
tanda takut, tertarik pada prosedur, dan membuat kontak verbal
yang baik.
B. Pelayanan kesehatan
Pelayanan pembangunan kesehatan bertujuan mewujudkan tercapainya
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu
unsure kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Pelayanan kesehatan adalah upaya peningkatan (promotif),
pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif)
yang dilakukan terhadap peserta didik dan lingkungannya.
1. Tujuan Pelayanan Kesehatan
Ada beberapa tujuan pelayanan kesehatan ialah:
a. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan
hidup sehat dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat.
b. Meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit
dan mencegah terjadinya penyakit, kelainan dan cacat.
c. Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat
penyakit/kelainan pengembalian fungsi dan peningkatan
kemampuan peserta didik yang cedera/cacat agar dapat berfungsi
optimal.
2. Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan
a. Kegiatan peningkatan (promotif);
Kegiatan peningkatan (promotif) dilaksanakan melalui kegiatan
penyuluhan kesehatan dan latihan keterampilan yang
dilaksanakan secara ekstrakurikuler, yaitu:
1. Latihan keterampilan teknis dalam rangka pemeliharaan
kesehatan, dan pembentukan peran serta aktif peserta didik
dalam pelayanan kesehatan, antara lain:
a) Dokter kecil;
b) Kader kesehatan remaja;
c) Palang merah remaja; dan
d) Saka bhakti husada/pramuka
2. Pembinaan sarana keteladanan yang ada di lingkungan
sekolah antara lain:
a) Pembinaan warung sekolah sehat;
b) Lingkungan sekolah yang terpelihara dan bebas dari
faktor pembawa penyakit.
3. Pembinaan keteladanan berperilaku hidup bersih dan sehat.
b. Kegiatan Pencegahan (preventif)
Kegiatan pencegahan dilaksanakan melalui kegiatan
peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan mata rantai
penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit
pada tahap dini sebelum timbul penyakit, yaitu:
1. Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang
bersifat khusus untuk penyakit-penyakit tertentu, antara lain
demam berdarah, kecacingan, dan muntaber.
2. Penjaringan (screening) kesehatan bagi anak yang baru
masuk sekolah.
3. Pemeriksaan berkala kesehatan setiap 6 bulan.
4. Mengikuti (memonitor/memantau) pertumbuhan peserta
didik.
5. Imunisasi peserta didik dari kelas I sampai kelas VI di
sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
6. Usaha pencegahan penularan penyakit dengan jalan
memberantas sumber infeksi dan pengawasan kebersihan
lingkungan sekolah dan perguruan agama.
7. Konseling kesehatan remaja di sekolah dan perguruan
agama oleh kader kesehatan sekolah, guru BP dan guru
agama dan Puskesmas oleh Dokter Puskesmas atau tenaga
kesehatan lain.
c. Kegiatan penyembuhan dan pemulihan (kuratif dan
rehabilitatif):
Kegiatan penyembuhan dan pemulihan dilakukan melalui
kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses
penyakit atau untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
yang cedera atau cacat agar dapat berfungsi optimal, yaitu:
1. Diagnosis dini;
2. Pengobatan ringan;
3. Pertolongan pertama pada kecelakaan dan pertolongan
pertama pada penyakit; dan
4. Rujukan mediks.

3. Metode Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan di sekolah, dilakukan sebagai berikut:
a. Sebagai kegiatan pelayanan kesehatan dapat didelegasikan kepada
guru apabila di sekolah sudah ada guru yang telah ditatar atau
dibimbing tentang UKS oleh puskesmas. Kegiatan yang dapat
didelegasikan itu adalah kegiatan promotif, preventif dan kuratif
sederhana yang dilakukan pada saat terjadi kecelakaan atau
penyakit.
b. Sebagian lagi kegiatan pelayanan kesehatan hanya boleh dilakukan
oleh petugas puskesmas dan dilaksanakan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan secara terpadu (antara kepala sekolah dan
petugas puskesmas)..
4. Pelayanan Kesehatan Gigi Anak Usia Sekolah
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut diberikan pada anak usia sekolah
dengan maksud agar mendapatkan generasi yang sehat dan bangsa
yang kuat, seperti yang diharapkan oleh pemerintah yang dituangkan
dalam undang-undang pokok kesehatan bab 1 pasal 3 ayat 1 yang
berbunyi “pertumbuhan anak sempurna dalam lingkungan hidup yang
sehat adalah penting untuk mencapai generasi yang sehat dan bangsa
yang kuat”. Untuk mendapatkan pertumbuhan anak yang sempurna
dan lingkungan hidup yang sehat, dalam lingkungan sekolah perlu
diselenggarakan program kesehatan yang meliputi 3 aspek:
a. Pelayanan kesehatan sekolah
b. Penyuluhan kesehatan
c. Lingkungan sekolah yang sehat.
5. Pelayanan Program UKGS
a. Upaya Promotif
Upaya promotif yang dilaksanakan di UKGS, lebih diarahkan pada
pendekatan pendidikan kesehatan gigi. Upaya ini biasanya
dilakukan oleh guru setelah guru sekolah memperoleh
pegangan/pedoman hasil dari penataran, mereka dapat menjalankan
program penerangan pendidikan kesehatan gigi dengan jalan
memasukkan pelajaran tentang kesehatan gigi dan mulut.
b. Upaya preventif
Upaya preventif meliputi upaya pembersihan karang gigi, sikat gigi
missal, pemberian fluor.
Pembersihan karang gigi dilakukan secara selektif kepada anak-
anak yang membutuhkan.
Contoh cara menjalankan upaya menyikat gigi missal.
Menggosok gigi missal merupakan salah satu dari program
pencegahan yang paling mudah dan murah tetapi sangat
berpengaruh besar terhadap pencapaian program kesehatan, karena
bila si anak disiplin melaksanakan gosok gigi.
6. Profesi Kedokteran Gigi
Istilah “profesi” merupakan sesuatu yang menarik dari kaca mata
sosiologi. Masih diperdebatkan mengenai peran unik dari tenaga
professional dalam masyarakat karena banyak dari pekerjaan mereka
mencakup nilai-nilai penting seperti kesehatan, keadilan, dan
pendidikan sehingga dokter gigi diperlukan demi kesejahteraan semua
kelompok sosial (Parsons, 1952). Oleh karena itu, pekerjaan golongan
ini seharusnya mendapat prestise dan penghargaan yang tinggi.
Namun, tidak semua orang menganut pandangan semacam ini.
Beberapa ahli sosiologi mengatakan bahwa kelompok professional
mempunyai pengaruh yang besar pada masyarakat yang mereka rawat,
yang dapat membawa keuntungan tersendiri bagi kelompok
professional tersebut daripada bagi masyarakat luas. Kuncinya adalah
hak khusus yang dimiliki beberapa kelompok professional untuk
menguji kecakapan dari anggotanya. Di bawa ini adalah daftar
gabungan karakteristik tenaga professional:
a. Mendapat pelatihan yang luas yang mencakup penguasaan
keterampilan berdasarkan pengetahuan teoretis.
b. Hak untuk memonitor standar pendidikannya tersendiri dan
membatasi jumlah tenaga profesional.
c. Kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri melalui sistem perizinan
dan di tuntun oleh kode etik.
d. Melayani masyarakat dan tidak mementingkan diri sendiri.
e. Peraturan pemerintah yang memberikan batasan dan perlindungan
terhadap hak istimewa dari anggota tenaga profesional.
Karenanya, seorang tenaga profesional adalah pemberi pelayanan
terpantau untuk keuntungan pasien dan bagian dari kelompok yang
mencoba mempertahankan posisinya dalam persaingan.
7. Pengaruh Layanan Kesehatan Terhadap Derajat Kesehatan
Teori Blum sangat terkenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu dan
tetap dipakai sebagai acuan perencanaan program pembangunan
kesehatan sampai saat ini. Menurut Blum (1981) kesehatan sebagai
kesehatan individu maupun sebagai kesehatan masyarakat, merupakan
interaksi harmonis antara beberapa faktor, yaitu lingkungan, gaya
hidup/perilaku, keturunan, dan pelayanan kesehatan.