Anda di halaman 1dari 11

Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat

Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

BAGIAN II
SYARAT TEKNIS

BAB. III. PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH

III. 1. UMUM

1.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi :


1.1.1. Pekerjaan galian dan Urugan
1.1.2. Pekerjaan Pondasi Setempat.

1.2. Pengukuran Peil (Leveling)

Sebagai patokan tinggi peil (level) bangunan, adalah peil titik ukur
yang ditentukan bersama antara Owner, Perencana Dan Pengawas
(bila ada titik BM).
Penentuan ini harus diperiksa kembali dan mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas.
Bilamana terdapat perbedaan ukuran-ukuran harus segera
melaporkan kepada Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.
Pemakaian ukuran yang kelina sebelum dan selama pelaksanaan
pekerjaan, menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan /
Kontraktor.
Pelaksana Pekerjaan / Kontraktor diharuskan menggunakan alat-alat
(instrumen) yang perlu (dan tidak rusak) untuk mendapatkan ukuran,
sudut- sudut dan ukuran tegak secara tepat dan dapat dipertanggung
jawabkan. Untuk itu, dihindari cara-cara pengukuran dengan
perasaan, penglihatan dan secara kira-kira.

1.3. Bahan-bahan dan Syarat Bahan

1.3.1. Semen

Semua semen yang digunakan adalah semen portland yang


memenuhi syarat-syarat :
- Standard Industri Indonesia dalam SII-0013-81.
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung 1991 (SK. SNI T-15-1991-03).
- Tata Cara Perancangan dan Pelaksanaan Konstruksi Beton
1989 (SK. Bl-1.453.1989).
- Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982.
- Standard Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986.
- Mempunyai sertifikat uji (test certificate).
- Mendapat persetujuan Konsultan-Konsultan Pengawas.

BAB. III - 1
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Semua semen yang akan dipakai harus dari satu produksi yang
sama untuk konstruksi/struktur, dalam keadaan baru dan asli,
dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih disegel dan
tidak pecah.
Semua semen disimpan di dalam gudang yang tertutup dan
terlindung dari kerusakan-kerusakan akibat salah penyimpanan
dan cuaca.
Semen curah harus disimpan didalam silo yang terbuat dari baja
atau beton dan harus terhindar dari kemungkinan bercampur
dengan bahan lain.
Untuk semen yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas
dapat ditolak penggunaannya. Bahan yang telah ditolak harus
segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 x
24 jam.

1.3.2. Agregat (Aggregates)

Semua pemakaian split (batu pecah) dan pasir beton harus


memenuhi syarat-syarat :
- Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982.
- Specification for Concrete Aggregates (ASTM 33).
- Specification for Lightweight Aggregates for Structural
Concrete (ASTM 33).
- Standard lndustri Indonesia (S11) 0052-80.
- Tidak mudah hancur (tetap keras), tidak porus.
- Bebas dari tanah/tanah liat.
Split (batu pecah) yang mempunyai ukuran lebih besar dari
38mm, untuk penggunaannya harus mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas.
Gradasi dari agregat-agregat tersebut secara keseluruhan harus
dapat menghasilkan mutu beton yang baik, padat dan
mempunyai daya kerja yang baik dengan air dalam proporsi
campuran yang akan dipakai. Konsultan Pengawas dapat
meminta kepada Pelaksana Pekerjaan/ Kontraktor untuk
mengadakan tes kualitas dari agregat-agregat tersebut dari
tempat penimbunan yang ditunjuk oleh Konsultan Pengawas
setiap saat di laboratorium yang diakui.
Semua pengetesan untuk hal tersebut diatas menjadi
tanggungjawab Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.
Dalam hal adanya perubahan sumber dari mana agregat
tersebut akan disuplai, Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor wajib
untuk memberitahukan kepada Konsultan Pengawas.

BAB. III - 2
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

1.3.3. Air Kerja

Air yang digunakan untuk semua pekerjaan di lapangan adalah


air bersih, tidak berwarna, tidak mengandung bahan-bahan
kimia (asam, alkali) dan tidak mengadung zat organis atau
bahan lainnya yang dapat memberikan efek merusak beton dan
tulangan serta tidak mengandung minyak atau lemak.
Disamping itu, air kerja tersebut haruslah memenuhi syarat-
syarat:
- Tata Cara Perancangan dan Pelaksanaan Konstruksi Beton
1989 (SK. BI-1.4.53.1989).
- Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982.
- Diuji oleh laboratorium yang diakui sah oleh yang
berwenang, dimana air yang digunakan dalam pembuatan
beton pratekan yang didalamnya akan tertanam (ogam
aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam
agregat, tidak boleh mengandung ion klorida lebih besar dari
0,06% dalam masa dari semen. Sedangkan untuk beton
lainnya maksimum ion klorida adalah 0,30%.

1.3.4. Adukan dan Campuran

Perbandingan dari berbagai adukan (specie) diberikan sesuai


dengan daftar proporsi adukan dan campuran di bawah ini,
yaitu :
- Lantai Kerja = 1 pc : 3 ps : 5 kr
- Pondasi batu kali = 1 pc : 4 ps
Angka-angka tersebut dinyatakan dalam perbandingan jumlah
isi ditakar dalam keadaan kering.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor bertanggung jawab penuh atas
terlaksananya proporsi adukan dan campuran itu.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membuat takaran-
takaran yang sama ukurannya dan harus mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas.
Adukan dan campuran untuk beton bertulang dan pekerjaan-
pekerjaan khusus lainnya, akan ditentukan dalam pasal
tersendiri.

1.3.5. Bahan Campuran Tambahan (Admixtural)

Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran


tambahan untuk memperbaiki suatu sifat campuran beton. Jenis,
jumlah bahan yang ditambahkan dan cara penggunaan bahan
campuran tambahan tersebut harus disetujui terlebih dahulu
oleh Konsultan Pengawas.

BAB. III - 3
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Manfaat dari bahan campuran tambahan harus dapat dibuktikan


melalui hasil pengujian dengan menggunakan jenis semen dan
agregat yang dipakai.
Kalsium klorida atau bahan campuran tambahan yang
mengandung klorida tidak boleh digunakan.
Pada dasarnya suatu bahan campuran tambahan harus mampu
memperlihatkan komposisi dan untuk kerja yang sama
sepanjang waktu pekerjaan selama bahan tersebut digunakan
dalam racikan beton.
Bahan campuran tambahan yang berfungsi untuk mengurangi
jumfah air pencampur, memper4ambat pengikatan dan atau
pengerasan beton, mengurangi jumlah air dan sekaligus
mempercepat pengikatan dan atau pengerasan beton harus
memenuhi Standard Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986
atau Specification for Chemical Admixtural for Concrete (ASTM
C.494).

III. 2. PEKERJAAN URUGAN DAN GALIAN

2.1. Pekerjaan Urugan.

2.1.1. Bahan Urugan

Bahan Urugan harus dipadatkan sekurang-kurangnya mencapai


kepadatan minimum 85% dari kepadatan maksimum yang
dicapai dilaboratorium.

2.1.2. Tanah Asli

Bagian teratas sedalam 150 mm dari tanah asli haruslah


mempunyai kepadatan minimum 85% AASHO pada
laboratorium

2.1.3. Urugan Tanah

Bahan urugan untuk pelaksanaan pengerasan harus disebarkan


dalam lapisan-lapisan yang rata dalam ketebalan yang tidak
melebihi 300 mm pada kedalaman gembur.
Gumpalan-gumpalan tanah yang harus digemburkan dari bahan
urugan tersebut dicampur dengan cara menggaru atau cara
sejenisnya sehingga diperoleh lapisan kepadatannya sama.
Setiap urugan haruslah sama dalam hal bahan, kepadatan dan
kelembabannya, sebelum pengeraan dilaksanakan.
Setiap lapisan harus diarahkan pada kepadatan yang
dibutuhkan dan diperiksa melalui pengujian lapangan yang
memadai, sebelum dimulai dengan lapisan yang berikutnya.
Bilamana bahan urugan tidak mencapai kepadatan yang

BAB. III - 4
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

dikehendaki, lapisan tersebut harus diulang dikerjakan atau


diganti dan cara-cara pelaksanaan akan dihentikan guna
mendapatkan kepadatan yang dibutuhkan. Jadwal pengujian
akan ditentukan/ditetapkan oleh Konsultan Pengawas.
Setelah pemadatan selesai, urugan tanah yang berlebihan harus
dipindahkan ke tempat yang ditentukan oleh Konsultan
Pengawas. Ketinggian (peil) disesuaikan dengan gambar.

2.2. Pekerjaan Galian.

Galian tanah untuk pondasi dan galian-galian lainnya harus dilakukan


menurut ukuran dalam, lebar dan sesuai dengan peil-peil yang
tercantum pada gambar. Semua bekas-bekas pondasi bangunan lama
dan akar-akar pohon yang terdapat pada bagian pondasi yang akan
dilaksanakan harus dibongkar dan dibuang. Bekas-bekas pipa saluran
yang tidak dipakai harus disumbat.
Apabila pada lokasi tersebut terdapat pipa air, pipa gas, pipa-pipa
pembuangan, kabel-kabel listrik, telepon dan sebagainya yang masih
dipergunakan, maka secepatnya diberitahukan kepada Konsuttan.
Pengawas atau instansai yang berwenang untuk mendapatkan
petunjuk-petunjuk seperlunya.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor bertanggungjawab penuh atas segala
kerusakan-kerusakan sebagai akibat dari pekerjaan galian tersebut.
Apabila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah
ditentukan, maka Kontraktor harus mengisi/mengurangi daerah
tersebut dengan bahan-bahan yang sesuai dengan syarat-syarat
pengisian bahan pondasi yang sesuai dengan spesifikasi pondasi.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus menjaga agar lubang-lubang
galian pondasi tersebut bebas dari longsoran-longsoran tanah di kiri
dan kanannya (bila perlu dilindungi oleh alat-alat penahan tanah) dan
bebas dari genangan air (bila perlu dipompa), sehingga pekerjaan
pondasi dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan spesifikasi.
Pengisian kembali dengan tanah bekas galian, dilakukan selapis demi
selapis, sambil disiram air secukupnya dan ditumbuk sampai padat.
Pekerjaan pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah
diadakan pemeriksaan dan mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas, baik mengenai kedalaman, lapisan tanahnya maupun jenis
tanah bekas galian tersebut.

III. 3. PEKERJAAN PONDASI

3.1. Pondasi Setempat / Telapak

3.1.1. Umum

Peraturan umum yang digunakan adalah Tata Cara Perhitungan


Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK.SNI T-15-1991-03)

BAB. III - 5
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

dan untuk hal – hal yang belum terjangkau, dapat menggunakan


peraturan-peraturan lain, seperti ASTM.

3.1.2. Besi Beton (Steel Reinforcement)

Semua besi beton yang digunakan harus memenuhi syarat-


syarat seperti yang tercantum dalam RKS ini dan dilaksanakan
sesuai dengan gambar rencana yang ada.

3.1.3. Beton

Umum

- Kekuatan beton (fc') untuk pondasi dangkal adalah 225 kg /m2


menurut SK.SNI T-15-1991-03.
- Beton harus merupakan bahan yang kuat dan tahan terhadap
bahan- bahan berbahaya (seperti asam dan garam) karena
terletak di dalam tanah.
- Panjang stek untuk penyambungan kolom atau untuk
penyambungan batang-batang harus memenuhi ketentuan
SK.SNI T-15-1991-03.

Pengecoran Beton

- Pengecoran beton dilakukan pada lokasi yang tidak berair,


sehingga air tanah yang ada harus terus menerus dipompa
untuk mencegah rusaknya beton akibat adanya air dari luar.
- Adukan beton yang dipakai dan proses pengecoran beton
dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah tercantum pada
pasal lain dalam RKS ini.

3.2. Pekerjaan Sloof dan Stek Kolom

3.2.1. Pekerjaan Sloof

Pekerjaan beton bertulang untuk sloof harus menggunakan


beton dengan kuat tekan beton fc' = 225 kg/m2 dan besi beton
U.24 untuk diameter tulangan < 12 dan U.39 untuk diameter
tulangan > 12. Besi- besi harus ditempatkan seperti pada
gambar detail. Setelah selesai pekerjaan sloof, tanah yang harus
ditimbun dan dipadatkan harus sampai pada peil diperlukan.

3.2.2. Pekerjaan Stek Kolom

Pekerjaan stek kolom, stek tangga dan stek kolom praktis :


- Besi stek kolom harus memenuhi syarat spesifikasi;

BAB. III - 6
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

- Besi beton harus terpasang sesuai gambar rencana dan turut


dicor pada waktu sloof dicor sampai batas permukaan atas
sloof;
- Besi stek harus dijaga letaknya dan harus tetap lurus setelah
selesai pekerjaan sloof.

3.3. Pekerjaan Lantai Kerja

Penggalian tanah sampai pada lapisan sebagai dasar untuk perletakan


merata, lapisan rata dari beton (lean concrete 1 pc : 3 ps : 5 kr) supaya
dibuat sebagai lantai kerja dengan tebal tidak kurang dari 50 mm.
Dibawah lantai kerja diberi lapisan pasir yang dipadatkan setebal tidak
kurang dari 150 mm.

3.4. Pekerjaan Lantai Dasar

Pada lantai dasar yang berhubungan dengan tanah, sebelum


pemasangan bahan penutup lantai harus dibuatkan lantai kerja dari
beton bertulang dengan tebal 10 cm dengan tulangan susut.

3.5. Pekerjaan Pondasi Batu Kali

Bahan batu kali harus memenuhi syarat-syarat :


3.5.1. Standar Umun Bahan Bangunan Indonesia 1986
3.5.2. Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982
3.5.3. Bahan batu kali adalah sejenis batu yang keras, liat, berat, tidak
porous dan berwarna kehitam-hitaman.
3.5.4. Bahan asal adalah batu besar.
Untuk pondasi setempat dugunakan adukan 1 pc : 4 ps.
Pemasangan sesuai dengan ukuran-ukuran didalam gambar atau atas
petunjuk-petunjuk Konsultan Pengawas. Batu harus dipasang dengan
adukan selapis demi selapis sehingga tidak ada rongga diantara batu –
batu tersebut, dan mencapai massa yang kuat dan integral. Adukan –
adukan untuk pemasangan lainnya harus mendapat petunjuk –
petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.

III. 4. DRAINAGE.

4.1. Lingkup Pekerjaan

Kontraktor harus mengatur pekerjaan drainage sedemikian sehingga


aliran air hujan, air bekas dari lavatory, floor drainage atau dari sumber-
sumber lain, selama dan sesudah pekerjaan selesai, berjalan baik dan
lancar.
Untuk menghindarkan kerusakan pekerjaan Kontraktor harus
mengusahakan alat-alat untuk melindungai pekerjaan tersebut,

BAB. III - 7
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

misalnya pompa air, sefokan pembuangan atau saiuran-saluran


penyimpanan air dan sebagainya.

4.2. Umum

Pekerjaan beton untuk gorong-gorong, selokan-selokan, bak kontrol dan


drainage serta untuk pekerjaan beton lainnya supaya mengikuti
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam P.B.I. 1971, baik mengenai
persyaratan material, persiapan dan cara-cara pelaksanaannya, acuan
dan lain-lainnya.

4.3. Macam Pekerjaan

Macam pekerjaan drainage meliputi pelaksanaan pemasangan gorong –


gorong/urung – urung, selokan – selokan, pemasangan bak kontrol,
saturan penyambung dari jalan kesalokan dan saluran air sesuai dengan
Spesifikasi lainnya tentang pekerjaan tersebut dan dalam batas – batas
kedudukan, kemiringan dan dimensi seperti yang tercantum dalam
gambar perencanaan dan atau petunjuk Konsultan Pengawas. Pekerjaan
ini juga mencakup pembongkaran gorong – gorong atau saluran –
saluran yang telah ada sebelumnya kecuali Konsultan Pengawas
menentukan bahwa selokan – selokan tersebut masih dapat dipakai lagi.

4.3.1. Gorong – gorong

Pekerjaan pemasangan gorong – gorong, menggunakan saluran


dari beton, batu kali dan bata berbentuk "U" dan ditutup dengan
pelat beton seperti pada gambar dengan ukuran seperti
tercantum gambar perencanaan dan dibuat dari beton mutu K.
175.

4.3.2. Bak Kontrol (Control Box)

Pada tempat-tempat tertentu, seperti yang tercantum dalam


gambar perencanaan. Kontraktor harus membuat Bak Kontrol
(Control Box) untuk mengontrol kecepatan air dan mencegah
adanya erosi kesaluran penampungan.
Kontraktor hendaknya meneliti semua gambar – gambar
Perencanaan, sebelum memulai pekerjaan.
Apabila terdapat perbedaan – perbedaan antara Gambar
Perencanaan dengan Site. Kontraktor harus menanyakan pada
Konsultan Pengawas, dan Kontraktor harus membuat gambar –
gambar Revisi dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
Kontraktor harus mengikuti gambar – gambar Perencanaan
mengenai ukuran – ukuran, letak bak kontrol, elevasi, arah
pengaliran dan dimensi-dimensi lainnya dan apabila terdapat
ukuran yang kurang jelas. Kontraktor harus mengikuti semua
petunjuk-petunjuk Konsultan Pengawas.

BAB. III - 8
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

III. 5. MANHOLE.

5.1. Umum.

Bagian ini meliputi pengadaan dan pemasangan "in let", "manhole".


Sesuai dengan yang ditunjuk/disyaratkan dalam gambar atau
persyaratan penjelasan yang akan diberikan di lapangan.

5.2. Referensi.

Semua pekerjaan ini sesuai dengan persyaratan :


NI – 2
Nl – 3
NI – 8

5.3. Material.

5.3.1. Batu bata, sesuai dengan persyaratan pada IV.A.


5.3.2. Batu kali, yang dipakai sesuai dengan persyaratan pada IV.C.
5.3.3. Adukan, yang dipakai untuk pasangan – pasangan batu harus
memakai campuran 1 Pc : 2 Ps, air yang dipakai harus bersih,
bekas dari asam alkali atau bahan – bahan organis lainnya.
5.3.4. Beton yang dipakai sesuai dengan persyaratan III.A.
5.3.5. Rangka penutup grill, dari bahan baja.

III. 6. SISTEM ALIRAN AIR HUJAN.

6.1. Umum.

Bagian ini meliputi pengadaan jaringan saluran air hujan, termasuk


penggalian, penimbunan kembali struktur yang bersangkutan dengan
jaringan ini.

6.2. Material.

6.2.1. Adukan, yang dipakai adalah campuran dari 1 pc : 2 ps untuk


menghasilkan kepadatan adukan yang tepat untuk type
sambungan.
6.2.2. Beton, yang dipakai sesuai dengan persyaratan pada ILA.
6.2.3. "Sealer", untuk sambungan – sambungan pipa adalah gasket
karet (rubber gasket), kecuali disebutkan/ditunjukan lain
ukuran dalam gambar atau dengan standard Indonesia.
6.2.4. Pipa air hujan, kecuali disebutkan lain, maka pipa air hujan yang
diapakai adalah pipa PVC type AW yang mempunyai ukuran
minimum sesuai dengan standard Indonesia.

BAB. III - 9
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

6.3. Pelaksanaan.

6.3.1. Dimana "gravity flow sewer" menyilang diatas pipa air, maka
pipa "sewer ini harus dibungkus dengan beton pada jarak 3
meter pada tiap sisi pipa air. Ketebalan beton ini, termasuk
beton pada sambungan pipa-pipa tidak boleh kurang dari 1 cm.
6.3.2. semua sambungan harus diseal kencang dengan menggunakan
gasket karet.
6.3.3. "Cradle" beton. Pipa – pipa harus didukung oleh suatu "cradle"
beton ditempat tempat sesuai dengan gambar atau petunjuk
Konsultan Pengawas. Beton ini mempunyai campuran 1 pc : 3 ps
: 5 kerikil.
6.3.4. Untuk sambungan – sambungan " Y " harus dipakai sambungan
jadi buatan pabrik, pemotongan pipa – pipa untuk dipakai
sambungan tidak diperbolehkan kecuali dalam hal – hal
istimewa atas persetujuan Konsultan Pengawas.

III. 7. PASANGAN BATU KALI.

7.1. Umum.

Bagian ini meliputi pengadaan dan pemasangan semua pondasi batu


kali atau bagian – bagian lain yang menggunakan batu kali, sesuai
dengan gambar dan persyaratan disini.

7.2. Referensi.

Pekerjaan ini harus sesuai dengan P.U.B.I NI-3 1970

7.3. Material.

7.3.1. Batu.

Bahan untuk pondasi batu kali kecuali dipersyaratkan lain,


harus sesuai dengan P. U. B. I. N I – 3 1970 dan cara
pengerjaannya harus dilakukan menurut cara terbaik yang
dikenal di sini.
Sebelum dipasang kontraktor harus memberikan contoh bahan
dan type yang akan dipasang, agar diberikan ke Konsultan
Pengawas lapangan untuk mendapatkan persetujuan
pelaksanaan.

7.4. Pelaksanaan.

Sebelum pelaksanaan pemasangan batu kali, galian tanah harus di chek


kedalaman lebar dan kondisi tanah apabila ditemukan kondisi tanah yang
tidak normal harus segera dilaporkan ke Konsultan Pengawas.
Pemasangan batu kali harus menggunakan profil – profil dari kayu (kaso)
untuk membuat bentuk pondasi batu kali yang diinginkan.

BAB. III - 10
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pemasangan batu kali menggunakan adukan 1 pc : 4 ps, untuk pondasi


penahan tanah (turap) harus dibuat lubang – lubang pengaliran air tanah,
permukaan pondasi turap yang kelihatan harus disiar.

BAB. III - 11