Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ernawati

NIM : 14030234025

Kelas : KA 2014

Analisis dan Pembahasan HPLC

Telah dilakukan percobaan dengan judul “HPLC (High Performance


Liquid Chromatography)” dengan tujuan untuk menentukan kadar Asam asetat
dalam larutan sampel dengan menggunakan instrumen HPLC dan memahami cara
kerja instrumen HPLC untuk analisis kuantitatif. HPLC (High Performance
Liquid Chromatography) bisa disebut juga dengan Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT). Menurut Khopkar (2003) HPLC berbeda dari kromatografi cair
klasik. HPLC menggunakan kolom dengan diameter umumnya kecil yaitu sekitar
2-8 mm dengan ukuran partikel penunjang 50 nm, sedangkan laju aliran
dipertinggi dengan tekanan yang tinggi.
Dalam kromatografi cair Kinerja tinggi ini fasa gerak yang digunakan
berupa cairan, sedangkan fasa diamnya berupa padatan (silica gel) yang
ditempatkan pada kolom tertutup (melekat secara kimia dalam kolom tersebut).
Maksud dan tujuan analisis dengan kromatografi yaitu didapatnya pemisahan
yang baik demikian halnya dalam HPLC diharapkan pemisahannya baik dan
dalam waktu proses yang relative singkat. Untuk mencapai Tujuan analisis ini,
maka dipilih pelarut pengembang yang sesuai dengan komponen yang dipisahkan,
kolom yang digunakan juga harus diperhatikan, dan detector yang memadai.
Fungsi utama HPLC pada dasarnya adalah kemampuannya dalam memisahkan
berbagai komponen penyusun dalam suatu sampel. Instrumen HPLC pada
dasarnya terdiri atas delapan komponen pokok yaitu :
1. Wadah fase gerak
2. Sistem penghantaran fase gerak
3. Alat untuk memasukkan sampel
4. Kolom
5. Detektor
6. Wadah penampung buangan fase gerak
7. Tabung penghubung
8. Suatu komputer atau integrator atau perekam
Untuk melakukan percobaan ini, langkah awal yang dilakukan yaitu
pengenceran larutan asam asetat (CH3COOH) dengan cara: Sebanyak 16 mL
larutan CH3COOH yang tidak berwarna dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL
dan diencerkan dengan aquades yang tidak berwarna sampai tanda batas,
kemudian dikocok hingga homogen sehingga menghasilkan larutan tidak
berwarna. Setelah itu larutan hasil pengenceran diuji dengan menggunakan
instrumen HPLC. Injeksi larutan sampel ke dalam HPLC harus dilakukan dengan
hati-hati dan dijaga agar tidak ada gas yang terinjeksikan sebab adanya gas dapat
menimbulkan gelembung dan pengumpulan gas pada komponen lain terutama di
pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis. Namun sebelum sampel
diuji, dibuat terlebih dahulu kurva standar dari luas area vs konsentrasi dengan
HPLC.

Gambar 1. Kurva standar (luas area vs konsentrasi) asam asetat

Pada kurva standar tersebut diperoleh persamaan garis linear yaitu: y =


1174,336945x – 1,595537 dengan regresi linearnya yaitu: R2 = 0,994958. Dimana
y merupakan luas area dan x sebagai konsentrasi sedangkan R2 merupakan
linearitas hasil pengukuran. Jika nilai R2 semakin mendekati 1, berarti hasil
pengukuran tersebut semakin linear (linearitas semakin tinggi). Dari persamaan
ini dapat dihitung kadar asam asetat pada larutan sampel. Setelah komponen
dalam sampel berhasil dipisahkan, tahap selanjutnya adalah proses identifikasi.
Hasil analisis dengan HPLC ini menghasilkan bentuk signal kromatogram.
Kromatogram ini merupakan grafik antara intensitas komponen yang dibawa oleh
fasa gerak terhadap waktu retensi. Dalam kromatogram terdapat peak-peak yang
menggambarkan banyaknya jenis komponen dalam sampel. Dari hasil pengujian
menggunakan instrumen HPLC pada kelompok kami dihasilkan 8 peak. Dengan
peak-peak yang terbentuk yaitu:

Gambar 2. Kromatogram hasil analisis HPLC

Kromatogram yang dihasilkan memiliki banyak peak karena pada larutan sampel
terkandung banyak komponen sehingga menghasilkan kromatogram dengan
banyak peak. Komponen yang terkandung dalam larutan sampel selain asam
asetat adalah pengotor, karena pengotor juga menghasilkan peak yang terbaca
oleh detector.

Sampel melewati kolom HPLC tentunya memiliki jangka waktu yang


terukur dan juga menjadi parameter. Waktu yang dibutuhkan sampel untuk
melewati kolom ini disebut waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan
waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian
puncak maksimum pada grafik dari senyawa itu. Karena fasa diamnya yang
bersifat nonpolar, sehingga yang memiliki kepolaran rendah akan lebih lama
berada di dalam kolom, sedangkan yang memiliki kepolaran tinggi akan cepat
keluar dari kolom (waktu retensi kecil). Pada setiap peak yang dihasilkan tersebut
memiliki luas area dan waktu retensi yang berbeda-beda, dimana pada asam asetat
waktu retensi yang digunakan yaitu berkisar 3,4-3,5 menit. Dan pada hasil
kelompok kami digunakan peak yang ke 5 dengan waktu retensi yaitu 3,502
menit. Digunakan waktu retensi tersebut karena diantara waktu retensi 3,4-3,5
menit, waktu retensi 3,502 menit yang memiliki luas area paling besar. Berikut
merupakan tabel waktu retensi dan luas area yang dihasilkan:

Tabel 1. waktu retensi dan luas area yang dihasilkan

Setelah ditentukan waktu retensi yang digunakan, kemudian dihitung konsentrasi


dari CH3COOH pada larutan dengan perhitungan:

y = 1174,336945x – 1,595537

101,43719 = 1174,336945x – 1,595537

101,43719 + 1,595537 = 1174,336945x

103,033447 = 1174,336945x

103,033447
=x
1174,336945

0,08773755 M = x

𝑉
D = 𝑉 𝑙𝑎𝑏𝑢
𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡

100 𝑚𝐿
= 16 𝑚𝐿

= 6,25 mL

Kadar sampel = x . D . M

= 0,08773755 . 6,25 . 0,1

= 0,05483597 mol ≈ 0,05 mol


Sehingga bisa diketahui kadar asam asetat pada larutan adalah sebesar 0,05 mol.
Namun jika dibandingkan dengan perhitungan teoritis menggunakan rumus V 1 .
M1 = V2 . M2, dihasilkan konsentrasi sebesar 0,016 mol. Hal ini bias terjadi
karena human error yaitu ketidaktepatan pemipetan pada saat pembuatan larutan
sampel dan bisa juga karena chemical error yaitu diakibatkan karena rusaknya
larutan yang digunakan atau terdapatnya pengotor pada larutan sampel sehingga
kadar asam asetat yang diperoleh berbeda jauh dengan kadar asam asetat pada
perhitungan teoritis.