Anda di halaman 1dari 36

Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat

Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

BAGIAN I
SYARAT - SYARAT UMUM DAN ADMINISTRASI

BAB. I. SYARAT – SYARAT UMUM

Pasal 1 : Pihak - Pihak Yang Bersangkutan.

a. Pemberi Tugas, adalah PEMILIK yaitu BADAN PENGUSAHAAN


KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS
SABANG (BPKS)

Hak dan Kewajiban Pemilik :

1. Informasi Proyek :

Pemilik akan memberikan informasi dan bantuan serta semua


instruksi – instruksinya kepada pemborong melalui Konsultan
Pengawas sepanjang batas – batas wewenang dan kewajiban
pemilik.

2. Hak untuk menghentikan pekerjaan :

Apabila Kontraktor tidak sanggup atau tidak mampu memperbaiki


pekerjaan yang kurang sempuma atau Kontraktor terus menerus
gagal mengadakan bahan – bahan dan alat – alat sesuai dengan
Dokumen Kontrak, maka Pemilik berhak menghentikan pekerjaan
sebagian atau seluruhnya sampai hambatan yang bersangkutan
teratasi.

3. Hak untuk mengerjakan sendiri pekerjaan.

Apabila Kontraktor gagal atau mengabaikan perintah perbaikan


pekerjaan yang salah menurut Dokumen Kontrak, maka Pemilik
berhak namun tidak wajib sesudah 7 (tujuh) hari sebelumnya
memberikan pemberitahuan tertulis kepada Kontraktor, melakukan
perbaikan pekerjaan itu sendiri tanpa memperhatikan pengaruh –
pengaruh yang diakibatkan oleh karenanya.
Dalam hal ini akan dibuat Berita Perubahan yang mencantumkan
pembatalan pekerjaan tersebut oleh Kontraktor dan Pengurangan
biaya otomatis sebesar biaya perbaikan itu ditambah biaya – biaya
tambahan yang dikeluarkan oleh Pemilik sebubungan dengan hal
itu.
Konsultan Pengawas wajib dimintai persetujuan mengenai tindakan
dan biaya tersebut, apabila jumlah biaya tersebut melebihi jumlah
yang masih harus dibayarkan kepada Kontraktor dikemudian hari,
maka Kontraktor wajib membayar selisih tersebut.

BAB. I - 1
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

b. Panitia Lelanq, adalah anggota-anggota yang ditunjuk berdasarkan SK


No ...................... untuk melaksanakan pelelangan dan kegiatan – kegiatan
lain yang berkaitan dengan pelelangan dimaksud.

c. Peserta Lelang, adalah Kontraktor/Rekanan yang tercatat dalam


Seritifkat Perusahaan Dari LPJK yang melalui prakwalifikasi, dan
diundang untuk ikut serta dalam pelelangan dan telah mendaftarkan
diri secara resmi kepada Pemberi Tugas sesuai jangka waktu yang
ditentukan.

d. Konsultan Perencana, adalah pihak yang ditunjuk oleh Pemberi


Tugas/Pemilik untuk melaksanakan Pekerjaan Perencanaan,
penyusunan Dokumen Pelelangan dan melaksanakan peninjauan
berkala atas pelaksanaan isi Dokumen Kontrak "Perencanaan
Pembangunan dan Site Development, Perumahan Kepala, Wakil
Sekretaris dan Deputi BPKS Sabang – Kota Sabang" Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dalam hal ini yang ditunjuk adalah :

BIRO PERENCANA
PT. JAYA TATA BERSAMA
Consulting Architect & Engineering
JI. T. Nyak Arief No. 47 Lamnyong Syiah Kuala Banda Aceh

Hak dan Kewajiban :

1. Peninjauan Berkala.

Sesuai dengan tugasnya, secara berkala Perencana wajib melakukan


peninjauan kelapangan untuk memeriksa kesesuaian pelaksanaan
dengan gambar kerja, RKS dan perubahan – perubahannya. Jika
terjadi ketidak sesuaian pelaksanaan dengan dokumen – dokumen
diatas, melalui Konsultan Pengawas, Perencana akan
memberitahukan hal ini, untuk kemudian Konsultan Pengawas akan
memerintahkan kepada Kontraktor untuk memperbaiki ketidak
sesuaian tersebut.

2. Pemeriksaan Shop Drawing.

Apabila terdapat perbedaan/penyesuaian terhadap Dokumen


Pelaksanaan Perencana harus menerima 1 (satu) copy gambar
gambar shop drawing yang dibuat oleh Kontraktor untuk diperiksa.
Kontraktor tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan yang
dimaksud sebelum shop drawing disetujui Perencana dan
Konsultan Pengawas.

BAB. I - 2
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

3. Persetujuan Bahan

Untuk penggunaan bahan – bahan produk pabrik yang memerlukan


persetujuan Perencana, atau pada pelaksanaan pekerjaan
Perencana menganggap perlu memeriksa contoh bahan, maka
melalui Konsultan Pengawas, Kontraktor harus menyerahkan
contoh bahan yang dimaksud.
Sedang untuk persetujuan penggunaan bahan – bahan alam
Perencana dapat diwakili oleh Konsultan Pengawas.

4. Penggantian Bahan

Jika diperlukan penggantian dari bahan yang telah ditentukan pada


gambar dan syarat – syarat teknis, maka bahan pengganti tersebut
tidak diperkenankan dipasang sebelum mendapatkan persetujuan
tertulis dari Perencana.

5. lnterpretasi gambar

Jika terdapat keragu – raguan dalam mengintepretasikan gambar


kerja dan RKS, maka wakil Pemilik yang berhak
mengintepretasikan atau menyelesaikan ketidak sesuaian diatas
adalah Perencana.

e. Konsultan Pengawas, adalah pihak yang ditunjuk Pemberi Tugas dan


bertindak sepenuhnya mewakili Pemberi Tugas dalam pengendalian
dan Konsultan Pengawasan melaksanaan pekerjaan ini pada batas –
batas yang telah ditentukan, baik teknis maupun administrasinya,
sesuai dengan isi Dokumen Pelaksanaan .

Dalam hal ini ditunjuk :

Antara Konsultan Pengawas dan Kontraktor tidak terjadi hubungan


kontraktual sebagai akibat Dokumen Pelaksanaan.

Hak dan Kewajiban :

1. Sebagai Wakil Pemilik di Lapangan

Sebagai wakil Pemilik selama masa pelaksanaan kontrak sampai


pembayaran terakhir dilaksanakan, Konsultan Pengawas berhak
melakukan tindakan – tindakan atas nama pemilik sejauh sesuai
dengan Dokumen Kontrak, kecuali Pemilik membuat ketentuan lain
yang tertulis.
Segala instruksi Pemilik kepada Kontraktor hanya dilakukan melalui
Konsultan Pengawas, dan Konsultan Pengawas wajib memberikan
saran – saran dan pertimbangan – pertimbangan kepada Pemilik.
Kewajiban, tanggung jawab dan batasan – batasan wewenang
Konsultan Pengawas sebagai wakil Pemilik selama pelaksanaan

BAB. I - 3
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

seperti tersebut dalam syarat – syarat umum ini tidak dapat dirubah
tanpa persetujuan tertulis Pemilik, Kontraktor dan Konsultan
Pengawas.

2. Administrasi Umum

Konsultan Pengawas berkewajiban menyelenggarakan administrasi


umum mengenai pelaksanaan Kontrak, hingga tahap pelaksanaan
selesai.

3. Konsultan Pengawasan Pelaksanaan

Konsultan Pengawas akan menempatkan minimal 4 orang atau lebih


Konsultan Pengawas yang bertugas tetap di lapangan dalam jam
kerja pelaksanaan termasuk tenaga Administrasi. Konsultan
Pengawas berkewajiban untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan
konstruksi dari segi kualitas, kuantitas serta laju pencapaian volume.
Serta berkewajiban untuk mengawasi pekerja serta produknya,
mengawasi ketepatan waktu dan biaya pekerjaan konstruksi.
Konsultan Pengawas berhak untuk setiap saat memeriksa seluruh
proyek dan tempat produksi di tempat lain selama masa
pelaksanaan, tanpa mengganggu jalannya pekerjaan.

4. Intepretasi dan Keputusan

Apabila terdapat keragu – raguan mengenai kejelasan intepretasi


Dokumen Pelaksanaan, baik bagi Pemilik maupun Kontraktor, maka
Konsultan Pengawas yang berhak memberikan intepretasi. Dalam
hal ini Konsultan Pengawas wajib menyerahkan intepretasi tertulis
secepatnya sehingga tidak mengganggu kelancaran dan
kesempurnaan pelaksanaan.
Segala intepretasi dan keputusan Konsultan Pengawas harus
konsisten dengan isi dan maksud Dokumen Pelaksanaan.
Segala keputusan Konsultan Pengawas yang menyangkut keindahan
adalah bersifat mengikat dan sekaligus final sepanjang sesuai dengan
Dokumen Pelaksanaan.

5. Pemeriksaan dan koreksi Gambar – gambar

Konsultan Pengawas wajib memeriksa gambar – gambar


pelaksanaan dan contoh – contoh yang perlu dipersiapkan oleh
Kontraktor, dan akan memberikan gambar – gambar penjelasan yang
dibutuhkan oleh Kontraktor, serta memecahkan persoalan –
persoalan yang terjadi selama pekerjaan konstruksi.
Konsultan Pengawas berhak melakukan perubahan – perubahan
serta penyesuaian – penyesuaian yang perlu atas pekerjaan dan
menerbitkan Berita Perubahan.

BAB. I - 4
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

6. Rapat – rapat Lapangan.

Konsultan Pengawas diwajibkan menyelenggarakan rapat – rapat


lapangan secara berkala dan membuat laporan mingguan dan
bulanan pekerjaan Konsultan Pengawasan dengan masukan hasil
rapat – rapat lapangan, laporan – laporan harian, mingguan dan
bulanan pekerjaan konstruksi yang dibuat oleh Kontraktor, serta
membuat gambar – gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di
lapangan (as built drawings).

7. Kelalaian Kontraktor

Konsultan Pengawas tidak bertanggung jawab atas kelalaian –


kelalaian Kontraktor ataupun pegawai – pegawai Kontraktor yang
berpengaruh langsung terhadap jalannya proyek. Kelalaian ini
sepenuhnya tanggung jawab Kontraktor.

8. Penolakan hasil kerja Kontraktor

Konsultan Pengawas berhak menolak pekerjaan yang dinilainya


tidak sesuai dengan Dokumen Pelaksanaan. Bila perlu Konsultan
Pengawas berhak melakukan pemeriksaan khusus atau test – test
seperlunya dengan mengabaikan bahwa pekerjaan sudah dibuat,
dipasang atau belum.

9. Berita Acara Pembayaran

Konsultan Pengawas berhak melakukan pemeriksaan dan wajib


menyusun daftar kekurangan – kekurangan dan cacat – cacat
pekerjaan masa waktu pelaksanaan, dan menentukan saat Serah
Terima I (kesatu) pekerjaan dapat dilakukan, dan mengawasi
pelaksanaan pemeliharaan.
Serta menerima surat – surat jaminan dari Kontraktor yang
ditentukan dalam Dokumen Pelaksanaan dan menerbitkan Berita
Acara Pembayaran.
Berdasarkan hasil Konsultan Pengawasan lapangan dan Surat
Permintaan Pembayaran dari Kontraktor maka Konsultan Pengawas
menerbitkan Berita Acara Pembayaran yang menyebutkan jumlah
yang berhak diterima Kontraktor.

10. Penyelesaian Perselisihan

Segala klaim, perselisihan atau persoalan lain mengenai jalannya


pelaksanaan menurut Dokumen pelaksanaan, akan diselenggarakan
penyelesaian artinya oleh dan melalui Konsultan Pengawas. Atas
segala penyelesaian perselisihan yang dibuat Konsultan Pengawas
kecuali yang mengenai keindahan, salah satu pihak yang tidak
menerima dapat mengajukan permintaan arbitrase secara tertulis.
Permintaan arbitrase tidak dapat diajukan sebelumnya :

BAB. I - 5
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

a) Saat Konsultan Pengawas menyerahkan keputusan tertulis atau


b) Sepuluh hari setelah kedua pihak menyerahkan bukti – bukti
persoalannya kepada Konsultan Pengawas kesempatan yang wajar
untuk mengumpulkan keterangan mengenai hal itu, namun Konsultan
Pengawas belum memberikan keputusan tertulis sampai saat itu.
Apa bila keputusan tertulis Konsultan Pengawas menyatakan bahwa
keputusan adalah final namun dapat dimintakan himbauan, maka
permintaan arbitrase tidak dapat diajukan setelah sepuluh hari
sesudah kedua pihak mengetahui keputusan tersebut.

11. Pemutusan hubungan kerja.

Apabila Pemilik memutuskan hubungan kerja dengan Konsultan


Pengawas, maka Pemilik akan segera menunjuk Konsultan Pengawas
pengganti yang kemudian akan memiliki status dan hak serta kewajiban
yang sama dengan Konsultan Pengawas sebelumnya berdasarkan
Dokumen Kontrak.

Pasal 2 : Keterangan Mengenai Proyek.

Kegiatan : SATUAN KERJA PENGEMBANGAN KAWASAN


PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG
(SATKER PKPBS)

Pekerjaan : PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN SITE DEVELOPMENT,


PERUMAHAN KEPALA, WAKIL SEKRETARIS DAN DEPUTI
BPKS SABANG

Lokasi : KOTA SABANG


PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Lingkup Pekerjaan :

a. Pekerjaan Persiapan.

1. Papan nama proyek


2. Pengukuran
3. Mobilisasi dan demobilisasi peralatan
4. Administrasi dan dokumentasi
5. Pembongkaran dan Pembersihan

BAB. I - 6
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

b. Pekerjaan Sipil dan Struktur.

1. Pondasi
2. Struktur atas
3. Struktur Septic tank; Graund Tank; dll

c. Pekerjaan Arsitektur

1. Pengecatan
2. Pelapisan
3. Sanitair

d. Pekerjaan Tapak

1. Pembersihan
2. Penggalian dan pengurukan
3. Penyedian air bersih
4. Jalan dan parkir
5. Corridor
6. Saluran
7. Taman

e. Pekerjaan Plumbing dan Sanitasi


f. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
g. Pekerjaan Elektronik

Pasal 3 : Syarat – Syarat Umum Peserta Lelang.

Peserta lelang yang diundang adalah Kontraktor / Rekanan yang telah :

a. Klasifikasi / golongan M. (Menengah)


b. Diundang dengan surat resmi oleh Panitia Lelang.
c. Memiliki Surat Keterangan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Sertifikasi
dari LPJK, Surat Ijin Usaha dalam bidang Jasa Kontruksi atau SIUJK yang
masih berlaku.
Pada saat pembukaan Surat Penawaran Harga harus menunjukkan aslinya atau
copynya yang telah dilegalisasi sebagai pengganti yang asli.

Pasal 4 : Dokumen Pelelangan / Pelaksanaan Pembangunan.

a. Dokumen Pelelangan / Pelaksanaan diberikan kepada setiap peserta


pelelangan 1 (satu) set untuk dipelajari, agar dapat meminta penjelasan -
penjelasan dan mengajukan pertanyaan yang dianggap perlu kepada panitia.
b. Satu set dokumen pelelangan yang lengkap terdiri dari :

BAB. I - 7
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

1. RKS yang meliputi :


- Syarat – syarat umum
- Syarat – syarat administrasi
- Syarat – syarat teknis

2. Gambar – gambar
3. B. Q.
4. Addendum/Berita Acara penjelasan pekerjaan berikut lampiran soil test
dan boring.
c. Satu set dokumen pelaksanaan yang lengkap terdiri dari :
1. Kontrak berikut lampiran – lampirannya.
2. Dokumen Pelelangan.
3. Dokumen Penawaran Kontraktor Pemenang Lelang.
4. Berita Acara klarifikasi dan surat pemyataan tunduk dari Kontraktor.

d. Apabila terdapat perbedaan – perbedaan antara gambar – gambar dan


ketentuan – ketentuan didalam RKS ini, maka :
1. Keputusan Konsultan Perencana yang mengikat, dan diketahui oleh
Pemberi Tugas/Pemilik/Konsultan Pengawas.
2. Perbedaan antara gambar arsitektur dan gambar struktur mengenai
denah, tampak, potongan dan lain – lain yang mempengaruhi
performance, yang diikuti adalah gambar arsitektur.
3. Perbedaan antara gambar – gambar arsitektur dan gambar – gambar
struktur mengenai konstruksi dan detailnya, yang diikuti adalah gambar
struktur.
4. Perbedaan ukuran antara gambar yang satu dengan gambar arsitektur,
struktur dan lain – lain dimana skalanya berbeda, maka yang diikuti
adalah gambar yang skalanya lebih besar.
5. Apabila terdapat perbedaan – perbedaan antara gambar – gambar, RKS
dan ketentuan lain, sebelum diambil suatu keputusan sebaiknya
diadakan konsultasi lebih dahulu dengan Konsultan Pengawas,
Perencana, dan Pemberi tugas.

e. Yang dimaksud dengan gambar adalah gambar – gambar kerja, detail


dan gambar – gambar lain yang dibuat untuk pekerjaan sebelum atau
pada saat pelaksanaan pekerjaan berlangsung.
f. Kontraktor wajib meneliti gambar – gambar sebelum melaksanakan
pekerjaan. Bila ada perbedaan – perbedaan dan atau ada hal – hal yang
menurut anggapan pihak pemborong akan membahayakan harus
memberitahukan kepada Konsultan Pengawas.
g. Pada umumnya gambar – gambar detail yang bersifat prinsip dibuat
oleh perencana, tetapi bila dianggap perlu untuk pelaksanaan pekerjaan
tersebut, pemborong diharuskan pula membuat gambar kerja yang
harus mendapat persetujuan/pengesahan dari Perencana dan Konsultan
Pengawas.
h. Jika terdapat perbedaan antara gambar – gambar dan syarat – syarat
pelaksanaan pekerjaan, maka yang berlaku adalah syarat – syarat
pelaksanaan pekerjaan dan ketentuan/ perubahan yang tercantum di
dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Risalah Aanwijzing).

BAB. I - 8
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

i. Jika perbedaan menyangkut lingkup pekerjaan dan dimensi, maka


gambar yang harus diikuti. Jika menyangkut kwalitas bahan dan cara
pelaksanaan, maka syarat – syarat pelaksanaan pekerjaan harus diikuti.
j. BQ hanya sebagai penuntun (tidak mengikat), pemborong mutlak harus
mencek kembali baik macam pekerjaan maupun volume pekerjaan atau
Addendum (mana yang paling akhir dikeluarkan) sangat mengikat.

Pasal 5 : Kuantitas Pekerjaan dan Harga Satuan.

Besaran kuantitas dan jenis/item pekerjaan (B.Q.) yang disiapkan oleh


Konsultan Perencana akan diberikan oleh Panitia pelelangan. Besaran ini akan
dipakai sebagai pedoman bersama untuk perhitungan penawaran.
Kuantitas yang terdapat dalam Bill of Quantity (BQ) yang diberikan Konsultan
tidak mengikat.
Kepada para penawar diberikan kesempatan untuk melakukan koreksi atau
saran – saran atas besaran kuantitas pekerjaan tersebut pada rapat penjelasan
dan apabila koreksi dan saran – saran tersebut diterima oleh Panitia
Pelelangan, maka besaran kuantitas pekerjaan yang telah dirubah itu
ditetapkan sebagai besaran untuk penawaran.
Kuantitas dan besaran ukuran – ukuran serta petunjuk material yang mengikat
dan mempunyai nilai hukum yang sah dalam kontrak pemborong pelaksanaan
adalah apa yang tercantum dalam gambar – gambar serta spesifikasi.
Penawar harus memasukkan analisa harga satuan pekerjaan.
Tiap harga satuan harus meliputi biaya umum yang dikenakan untuk pekerjaan
itu, keuntungan pemborong dan pajak diperhitungkan secara tersendiri.
Harga satuan yang tercantum dipakai sebagai dasar untuk menentukan nilai
pekerjaan tambah dan kurang yang mungkin ditentukan oleh pemberi tugas.

Pasal 6 : Produk Dan Bahan Setara.

a. Apabila dalam spesifikasi teknis disebut suatu merk dagang ataupun


produsen tertentu, maka tidak berarti bahwa merk dagang atau hasil
produsen lain tidak akan diterima.
Penyebutan nama – nama ini dibuat untuk menunjukan kualitas yang
diinginkan agar memudahkan peserta lelang dalam membuat
penawaran.
Namun demikian pada waktu pelaksanaan harus diusahakan, bahwa
prioritas pertama yang dipakai adalah merk dengan jenis dan kualitas
seperti yang tercantum.
b. Perubahan bahan/produk dapat dilakukan dengan persetujuan terlebih
dahulu oleh pemilik, dalam hal ini penilaian dilakukan oleh Konsultan
Perencana dan Konsuttan Pengawas, asalkan pihak pengusul dapat
membuktikan bahwa bahan/produk yang diusulkan tersebut benar –
benar setara dengan bahan/produk yang akan diganti.
BAB. I - 9
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 7 : Material Pengganti.

a. Jika dalam spesifikasi teknis disebutkan adanya material pengganti,


pengertiannya adalah sebagai berikut :
1. Apabila dipandang perlu dari segi anggaran, maka beberapa
material yang disebutkan dalam gambar – gambar dan spesifikasi
teknis akan diganti dengan material pengganti.
2. Para penawar wajib membuat penawaran untuk material pengganti
sesuai dengan gambar – gambar khusus dan spesifikasi teknis
mengenai itu. Peserta lelang berhak mensubtitusikan harga
material kedalam bagian – bagian yang sejenis dalam surat
penawaran yang sama apabila dipandang perlu untuk
menyesuaikan anggaran.
3. Penawar tidak dibenarkan melakukan klaim apapun atas substitusi
harga – harga ini dan akan menerima perubahan total biaya yang
timbul karenanya.

b. Sebelum melaksanakan pekerjaan pemasangan atau penyediaan setiap


jenis bahan/peralatan baik import maupun lokal, Kontraktor harus
menyediakan contoh bahan dan brosur bahan/peralatan lengkap
dengan spesifikasi tertulis dari produsen/pabrik sebanyak 2 set
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan dengan
ketentuan sebagai berikut :
1. Untuk bahan/peralatan yang mudah didapat dipasarkan misalnya
kabel listrik pipa, ubin, wastafel, urinoir, Kontraktor harus
menyerahkan baik contoh maupun brosur.
2. 1 (satu) set dari contoh dan atau brosur peralatan tersebut akan
dikembalikan kepada Kontraktor sesudah Konsultan Pengawas
memberikan persetujuan untuk dilaksanakan sedangkan 1 (satu)
set lainnya akan disimpan oleh Konsultan Pengawas/pemberi tugas
sebagai dokumentasi.
3. Persetujuan Konsultan Pengawas atas contoh bahan dan atau
brosur bahan/peralatan tersebut sama sekali tidak mengurangi
tanggung jawab Kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan
pemasangan dan atau penyediaan bahan/peralatan sesuai dokumen
kontrak.
4. Semua pengadaan contoh bahan dan atau brosur bahan/peralatan
tersebut sepenuhnya atas tanggung jawab Kontraktor.

Pasal 8 : Petunjuk Bagi Penawar.

Penawar harus membaca dengan seksama, petunjuk – petunjuk yang tertulis


berikut ini dan tidak ada gugatan yang dapat dipertimbangkan untuk alasan
karena tidak membaca atau memenuhi petunjuk – petunjuk ini atau karena
adanya kesalah pahaman mengenai artinya.

BAB. I - 10
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 9 : Peninjauan Lapangan / Tempat Pekerjaan.

a. Penawar harus melihat dan meninjau tempat pekerjaan atas resiko dan
biaya sendiri serta memperoleh segala keterangan yang diperlukan
mengenai lapangan kerja, keadaan setempat dan sekitarnya dimana
pekerjaan akan dilaksanakan, penyediaan air dan daya, tempat –
tempat untuk gudang, los kerja, kantor dan sarana – sarana yang sudah
ada serta hal – hal lainnya yang akan mempengaruhi penawaran.
b. Peninjauan Lapangan didampingi Konsultan Perencana dan Konsultan
Pengawas pada hari, tanggal yang akan ditentukan dalam Rapat
Penjeiasan dilakukan setelah diadakan Rapat Penjelasan / anwijzing
dan setelah mengajukan pertanyaan tertulis.

Pasal 10 : Keterangan dan Prosedur Penawaran.

a. Tanggung Jawab Penawar :


Penawar berkewajiban untuk mendapatkan segala keterangan yang
diperlukan untuk mencapai harga penawaran dan tidak ada gugatan
(klaim) untuk hal ini yang akan dipertimbangkan dengan alasan karena
tidak mendapat keterangan yang seksama atau pernyataan apapun
tentang salah pengertian, salah penerangan, atau kesanggupan yang
diberikan oleh Pemberi Tugas secara lisan ataupun tertulis, yang lain
dari apa yang terdapat dalam dokumen penawaran.
b. Surat Penawaran.
Semua penawaran harus tepat mengikuti contoh surat Penawaran yang
telah ditentukan dan harus diserahkan sesuai petunjuk bagi penawar.
c. Waktu penyerahan penawaran.
Suatu penawaran dinyatakan tidak sah jika diserahkan ditempat yang
telah ditentukan itu melewati batas waktu dan tanggal penerimaan
penawaran yang ditetapkan dalam surat undangan atau addenda.
d. Masa berlakunya penawaran.
Surat penawaran tetap berlaku selama jangka waktu sekurang –
kurangnya 90 hari sejak batas waktu penyerahan yang ditetapkan dalam
undangan lelang atau addenda.
Dalam jangka waktu itu tidak diperkenankan dilakukan perubahan
apapun, pengunduran diri atau pembatalan atas surat penawaran yang
telah diserahkan dan apabila hal tersebut terjadi maka pemilik berhak
menyita jaminan penawaran dari penawar bersangkutan.
e. Pembatalan lelang.
Sesuai dengan KEPPRES No. 18 Tahun 2000, tetang Pengadaan Barang
Dan Jasa Instansi Pemerintah, pelelangan dapat dibatalkan atau
mengalami kegagalan, apabila :
1. Penawaran yang memenuhi syarat ternyata kurang dari 3 (tiga)
pemborong / rekanan.
2. Dilampauinya harga standar.
3. Dana yang tersedia tidak cukup.
BAB. I - 11
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

4. Harga yang ditawarkan dianggap tidak wajar.


5. Apabila sanggahan dari rekanan ternyata benar.
6. Berhubung dengan sesuatu hal Pemberi tugas tidak memungkinkan
mengadakan penetapan.

f. Permintaan/pengajuan penjelasan
Bilamana ada keragu – raguan atau sesuatu yang tidak jelas tentang arti
dari salah satu dokumen pelelangan atau tentang apa – apa yang harus
dilakukan atau apa saja yang berhubungan dengan kontrak pemborong,
penawar harus memberitahukan kepada Pemberi Tugas tentang keragu –
raguan tersebut, untuk diberi penjelasan dan pemberitahuan mengenai
soal – soal yang bersangkutan, selama rapat penjelasan (Aanwijzing)
dengan permohonan secara tertulis diserahkan sebelum rapat penjelasan,
dialamatkan kepada :

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN KOTA SABANG Provinsi Nanggroe


Aceh Darusslam – NAD

tembusan kepada Konsultan Perencana


BIRO PERENCANA PT. JAYA TATA BERSAMA
Consulting Architect & Engineers
JI. T. Nyak Arief No. 47 lamnyong Banda Aceh
Telp. (0651) 7555053

g. Rapat Penjelasan Pekerjaan (Anwijzing)


1. Rapat Penjelasan akan dihadiri oleh Pemberi Tugas, Panitia Lelang,
Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas yang diadakan pada
hari, tanggal, jam serta tempat yang tercantum pada undangan
lelang. Pada kesempatan tersebut akan diberikan jawaban atas
pertanyaan tertulis dari penawar/rekanan. Penawar/rekanan
dianggap telah mempelajari R.K.S., gambar kerja, B.Q., dan telah
meninjau lapangan.
2. Berita Acara dari hasil rapat penjelasan dan peninjauan lapangan
akan ditanda tangani oleh :
- Pemberi Tugas
- Panitia lelang (Ketua dan Sekretaris)
- Konsultan Pengawas
- Konsultan Perencana
- Wakil dari peserta (2 pemborong) yang mendapat
persetujuan/diketahui Panitia lelang.
Berita Acara diambil dan diberikan kepada peserta pada :
tanggal .................. jam ........... tempat yang ditentukan.

3. Pembuatan dan penyelesaian Berita Acara Penjelasan Pekerjaan


akan disiapkan Konsultan Perencana dan disetujui oleh Panitia
Lelang.
4. Setelah selesai Rapat Penjelasan/Aanwijzing dan peninjauan
lapangan, maka tidak diadakan tanya jawab atau penjelasan
berikutnya.

BAB. I - 12
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 11 : Penawaran Yang Ditolak.

Pemberi Tugas mempunyai hak penuh untuk menolak suatu surat penawaran
yang tidak memenuhi syarat – syarat prosedur, tidak sempurna isi dan
lampiran – lampirannya, kekurangan jaminan lelang atau tidak sempurna
syarat – syarat formalitasnya.
Pemberi tugas berhak menahan jaminan penawaran sampai selambat –
lambatnya 90 hari setelah batas waktu pemasukan penawaran untuk menjamin
berhasilnya pembuatan surat Perjanjian Kontraktor, apabila sampai saat itupun
surat Perjanjian Kontraktor belum berhasil ditanda tangani, maka semua
jaminan penawaran peserta yang tidak berhasil/menang akan dikembalikan
pada hari itu juga.

Pasal 12 : Jaminan Penawaran dan Jaminan Pelaksanaan.

a. Bersama penyerahan penawaran, penawar harus menyerahkan jaminan


Bank dari Bank Pemerintah atau Lembaga Keuangan lain yang berhak,
yang ditujukan kepada Panitia Lelang.
b. Jaminan dari Bank.
Kecuali ditetapkan lain dalam rapat penjelasan pelelangan, maka surat
jaminan Bank yang bisa diterima adalah surat jaminan dengan isi yang
sesuai dengan format jaminan yang ada dalam dokumen pelelangan ini
(lampiran) yang dikeluarkan oleh Bank Pemerintah atau Bank
Swasta/Lembaga Keuangan lain yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan.
c. Jaminan penawaran ditentukan sebesar 1 % s/d 3% dari harga proyek
dan jangka waktu selama 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak
tanggal pemasukan penawaran.
d. Pemberi tugas akan mengembalikan jaminan penawaran setelah
dikeluarkan surat keputusan penunjukkan pelelangan atau pada saat
semua penawaran ditolak.
e. Jaminan penawaran ini akan diuangkan oleh Pemberi Tugas bila mana
peserta lelang gagal menandatangani perjanjian kerja dalam waktu yang
telah ditetapkan setelah peserta lelang dinyatakan sebagai pemenang.
f. Peserta lelang tidak diperbolehkan menarik kembali (cancel) Jaminan
Bank yang telah diserahkan bersama – sama dengan penawarannya
dan tidak akan mengambil tindakan – tindakan yang akan dapat
membatalkan pembayaran jaminan tersebut kepada Pemberi Tugas.
g. Jaminan penawaran dimaksudkan agar supaya penawar apabila
dinyatakan menang dalam waktu 10 hari setelah menerima surat
penunjukkan pemenang melakukan penandatanganan surat perjanjian
pemborongan seperti contoh terlampir dengan harga borongan
sebesar harga penawaran dalam surat penawarannya.

BAB. I - 13
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

h. Apabila dalam waktu 10 (sepuluh) hari tersebut pemenang lelang yang


ditunjuk gagal melakukan penanda tanganan surat perjanjian
pemborongan oleh karena sebab – sebab :
1. Apabila penawar membatalkan penawarannya.
2. Apabila penawar tidak mematuhi ketentuan – ketentuan dan syarat
– syarat dalam petunjuk bagi penawar yang mempunyai
konsekwensi dimintanya jaminan penawaran.
3. Apabila penawar menolak untuk menandatangani surat perjanjian
pemborongan sesuai dengan syarat – syarat kontrak.
4. Apabila penawar menolak untuk membuat jaminan pelaksanaan
untuk pekerlaan yang dikontrakan sesuai dengan syarat – syarat
kontrak.
5. Maka jaminan penawarannya diminta dan dicairkan untuk Pemberi
Tugas. Semua penawar peserta lelang dengan ini menyatakan
setuju untuk tidak melakukan gugatan apapun atau meminta
kembali uang jaminan penawarannya, baik sebagian atau
seluruhnya apabila gagal melaksanakan kewajiban sebagai peserta
atau pemenang lelang.

i. Bagi penawar yang ditunjuk sebagai pemenang, dalam 10 (sepuluh)


hari setelah menerima surat penunjukan pemenang harus sudah
mengganti jaminan penawaran menjadi jaminan pelaksanaan yang
berjangka waktu selama masa pelaksanaan sesuai kontrak dalam surat
perjanjian pemborongan.
j. Jaminan pelaksanaan akan dikembalikan setelah pekerjaan
diselesaikan dengan sempurna dan diserahkan pada serah terima
pekerjaan kesatu.
k. Besarnya jaminan pelaksanaan akan ditentukan oleh pemilik, sebesar
5% (lima percent) dari nilai kontrak sesuai ketentuan Keppres No. 24
tahun 1995, berupa jaminan Bank dari Bank Pemerintah atau Lembaga
Keuangan yang berhak, berlaku selama masa pelaksanaan sesuai surat
perjanjian pemborongan.

Pasal 13 : Isi dan Lampiran – lampiran Surat Penawaran.

a. Surat penawaran dibuat menurut contoh terlampir.


b. Surat Penawaran ditulis diatas kertas surat perusahaan, terdiri dari 1
(satu) asli dengan 4 (empat) salinan, asli ditanda tangani, bertanggal
dan dibubuhi cap perusahaan, semuanya melintas meterai Rp. 6.000,-.
Salinan juga ditanda tangani oleh Direktur Perusahaan atau kuasa-nya,
bertanggal dan cap perusahaan tanpa meterai.
c. Bersama surat penawaran tersebut dilampirkan :
1. 5 (lima) helai foto copy dari asli surat jaminan penawaran untuk
proyek tersebut, berupa Bank garansi.
2. 5 (lima) helai foto copy yang telah dilegalisasi oleh instansi yang
berwenang N. P.W. P dan S.I.U.J.K. yang masih berlaku pada saat
pemasukan penawaran.

BAB. I - 14
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

3. 5 (lima) helai foto copy Sertifikat Perusahaan yang masih berlaku


Kelas B ( Besar ).
4. 5 (lima) set perincian biaya dengan ditambah keuntungan
pemborong dan PPN (exposed), jumlah akhir dibulatkan kebawah
dalam ribuan rupiah.
5. 5 (lima) set daftar pessonil pelaksanaan yang akan ditugaskan dalam
pelaksanaan nanti dan daftar peralatan yang akan dipakai untuk
pelaksanaan.
6. 5 (lima) set jadwal rencana kerja bar-chart dan kurva S atau Network
Planning.
7. 5 (lima) helai surat pemyataan tunduk atas keputusan Pemenang
oleh Panitia Pelelangan.
8. 5 (lima) set skema organisasi proyek.
9. 5 (lima) set analisa harga satuan pekerjaan.
10. 5 (lima) set daftar harga bahan.
11. 5 (lima) set daftar upah.
12. 5 (lima) set methode pelaksanaan pekerjaan.
13. 5 (lima) set surat kesanggupan kerja sama dengan instalatir PLN
kelas M bermeterai Rp.6.000,
14. 5 (lima) set fotocopy neraca perusahaan terakhir.
15. 5 (lima) set pengalaman pekerjaan 5 tahun terakhir, termasuk
referensi/SPK dari Pemberi Tugas.

Pasal 14 : Penyerahan Surat Penawaran.

a. Surat penawaran beserta lampiranrya seperti tersebut dalam butir


(b,c) dijilid diberi sampul serta dicap baik Asli atau Salinan.
Kemudian kelima set tersebut dimasukkan kedalam amplop tertutup
dibuat dari kertas tebal warna coklat ukuran 30 x 40 cm/ disesuaikan
yang disediakan sendiri oleh penawar, dibubuhi lak pada 5 tempat.
Pada sampul tersebut tidak boleh ada tulisan atau tanda – tanda lain
kecuali alamat sebagai berikut :

Kepada YTH,
Panitia lelang Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (PKPBS)
Kota Sabang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

b. Sebelum amplop berisi surat penawaran dibuka peserta harus


menyerahkan terlebih dahulu kepada panitia pelelangan sebagai
berikut :
1. Copy surat NPWP dan Sertifikat Perusahaan dan SIUJK yang telah
dicap legalisasi oleh instansi yang berwenang untuk itu atau dengan
memperiihatkan surat NPWP dan Tanda Daftar Rekanan dan SIUJK
yang asli.
2. Jaminan penawaran, berupa surat jaminan Bank yang asli. Surat
Jaminan penawaran tersebut dimasukkan dalam sebuah map jepit

BAB. I - 15
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

dan diserahkan ke Panitia Pelelangan yang akan memberikan bukti


penerimaan, satu jam sebelum penawaran.
Jika menurut penelitian Panitia Pelelangan ternyata salah satu atau
ketiga surat tersebut tidak sah, maka Panitia Pelelangan berhak
untuk menolak Surat Penawaran dari penawar yang bersangkutan.
Ditentukan dalam undangan lelang atau adenda apabila ada
perubahan untuk itu.
c. Batas waktu penyerahan selambatnya 1 jam sebelum pembukaan Surat
Penawaran Harga (S.P.H).

Pasal 15 : Pembukaan Penawaran.

a. Pembukaan penawaran dilakukan oleh panitia lelang dihadapan para


peserta lelang pada :
Hari/ tanggal : ...........
Mulai jam : ...........
Bertempat di : ...........

b. Diwajibkan 2 (dua) orang wakil dari peserta lelang menjadi saksi


dalam pemeriksaan surat – surat yang masuk.
c. Ketentuan sah didalam surat penawaran sepenuhnya menjadi hak
Panitia Lelang.
d. Penawaran dinyatakan tidak sah apabila :
1. Tidak memenuhi ketentuan – ketentuan seperti tersebut dalam
pasal 11.
2. Tidak jelas besamya penawaran, baik dengan angka maupun
dengan huruf.
3. Harga – harga yang tercantum dalam angka tidak sesuai dengan yang
tercantum dalam huruf.
4. Disampaikan kepada anggota atau Panitia Lelang.

e. Proses pembukaan/penilaian surat – surat oleh Panitia akan dimuat


dalam Berita acara Pelelangan Pekerjaan tersebut dan ditandatangani
oleh :
1. Pemberi Tugas
2. Panitia Lelang (Ketua dan Sekretaris)
3. Konsultan Pengawas
4. Konsultan Perencana
5. Wakil dari peserta (2 pemborong) yang mendapat persetujuan /
diketahui Panitia Lelang.

Pasal 16 : Penilaian Penawaran.

a. Pelaksanaan pekerjaan akan diberikan kepada peserta yang


penewarannya terendah dalam batas kewajaran, sejauh penawaran
tersebut memenuhi kriteria dan persyaratan yang dirumuskan dalam
rapat panitia.
BAB. I - 16
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

b. Adapun criteria dan persyaratan penelitian/penilaian penawaran –


penawaran tersebut sebagai berikut:
1. Surat penawarannya sah dan memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan didalam dokumen pelelangan dan berita acara penjelasan
pekerjaan tersebut.
2. Penawaran secara teknis dapat dipertanggung jawabkan.
3. Perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan.
4. Jangka waktu pelaksanaan yang tawarkan dapat dipertanggung
jawabkan.
5. Penawaran tersebut adalah terendah diantara penawaran –
penawaran yang memenuhi syarat – syarat.
6. Penawaran tersebut tidak melampaui harga standar dan alokasi
biaya yang telah dianggarkan.
7. Urutan penelitian/penilaian dimulai dari penawaran yang terendah.
8. Setelah panitia dalam rapatnya melakukan penelitian / penilaian
atas penawaran yang sah berdasarkan kriteria dan persyaratan
tersebut diatas, maka Panitia menentukan calon pemenang
pelelangan tersebut, 3 (tiga) peserta yang penawarannya memenuhi
persyaratan tersebut di atas untuk diusulkan kepada Pemberi Tugas.

c. Jalannya rapat panitia didalam penelitian atau penilaian penawaran -


penawaran yang sah akan dimuat didalam Berita Acara Penelitian
penawaran.
d. Pemberi tugas akan menetapkan pemenang pertama dan pemenang
cadangan diantara calon – calon pemenang yang diusulkan oleh Panitia
Pelelangan tersebut selambat – lambatnya 10 hari kerja setelah
diterimanya laporan dari Panitia.

Pasal 17 : Pengunduran Diri.

a. Pengunduran diri sebagai peserta dalam bentuk surat pemberitahuan


tidak turut lelang hanya dilakukan sebelum pemasukan surat
penawaran atau selambat – lambatnya pada waktu pemasukan surat
penawaran.
b. Setelah surat – surat penawaran masuk dan dibuka, kepada siapapun
yang berhasil ditunjuk wajib melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
gambar – gambar dan RKS serta Berita Acara Aanwijzing yang sudah
ditentukan.
c. Pengunduran diri setelah pembukaan penawaran atau setelah ada
keputusan Pemenang mengakibatkan Jaminan Lelang yang telah
diserahkan menjadi milik Pemberi Tugas.
d. Dalam hal bila yang bersangkutan tidak memenuhi sanksi ini, maka
Pemberi Tugas akan mengadakan penuntutan melalui saluran hukum
yang berlaku.
e. Bila calon pemenang pertama mengundurkan diri, penunjukan
dilakukan pada calon pemenang kedua dengan harga penawaran sama
dengan calon pemenang pertama.

BAB. I - 17
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 18 : Harga Borongan dan Uang Muka.

a. Harga borongan adalah pasti (fixed price) dengan pembulatan kebawah


menjadi ribuan rupiah, tidak diadakan klaim yang diakibatkan naiknya
harga barang, ataupun kenaikan yang diakibatkan oleh tindakan
moneter pemerintah, kecuali dalam hal apabila untuk itu ada ketentuan
dari pemeritah yang akan membenarkan diadakannya penyesuaian
harga.
b. Provisional Sump.
Sejumlah dana yang disediakan atas pekerjaan yang jenisnya akan
ditentukan kemudian oleh Pemberi Tugas dan pembayarannya
dilaksanakan sesuai dengan Volume Pekerjaan terlaksana dan Harga
Satuan Pekerjaan yang tercantum dalam Perincian Penawaran.
c. Resiko – resiko yang diakibatkan bukan karena Force Majeure adalah
menjadi tanggung jawab pemborong.
d. Apabila diinginkan ; pemborong dapat diberikan uang muka sebesar
maksimum 20 % dari harga borongan, dengan syarat pemborong harus
memberikan jaminan Bank sebesar uang muka dari Bank Pemerintah /
Lembaga keuangan lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
e. Cara – cara pengembalian uang muka diatur dalam surat Perjanjian
Kontraktor, akan diperhitungkan berangsur – angsur secara merata
pada tahap – tahap pembayaran angsuran dengan ketentuan selambat –
lambatnya telah lunas pada saat serah terima pekerjaan pertama.

Pasal 19 : Bea Materai dan Pembuatan Kontrak.

Bea materai dan biaya – biaya pembuatan kontrak beserta lampiran –


lampirannya harus dibayar oleh pemenang dan dianggap telah masuk dalam
harga penawaran.

Pasal 20 : Persyaratan Administrasi.

a. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan :

1. Waktu pelaksanaan pekerjaan adalah : ........ hari kalender dengan


pengertian telah termasuk waktu untuk :
- Persiapan.
- Pemesanan / pengadaan dan pengiriman.
- Pemasangan / pelaksanaan, sampai seluruh bangunan berfungsi.

2. Waktu pelaksanaan dimulai pada hari diterbitkannya Surat Perintah


Kerja (SPK) oleh Pemberi Tugas, lamanya adalah sesuai dengan waktu
untuk pelaksanaan termasuk waktu mobilisasi yang tercantum dalam
rencana jadwal pelaksanaan dalam dokumen penawaran.

BAB. I - 18
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

3. Waktu demobilisasi kecuali diperintahkan lain oleh Konsultan


Pengawas, dimulai sejak dikeluarkannya sertifikat penyerahan
pertama dan kecuali disepakati lain oleh Konsultan Pengawas,
lamanya adalah sesuai dengan waktu demobilisasi yang tercantum
dalam rencana jadwal pelaksanaan dalam dokumen penawaran.
4. Waktu pemeliharaan.
5. Waktu pemeliharaan untuk pekerjaan ini adalah selama ; 90 hari
kalender sejak dikeluarkannya sertifikat penyerahan pertama.

b. Tanggal penyerahan pekerjaan :


Seluruh pekerjaan harus sudah diserahkan pada serah terima ke I tanggal
.........................

Pasal 21 : Syarat – Syarat Pembayaran.

a. Pembayaran akan dilakukan oleh ;


b. Dimungkinkan adanya uang muka paling banyak sebesar 20 % (dua puluh
percent) dari harga borongan, sesuai dengan ketentuan pasal 18 butir d
dan e Surat jaminan harus berlaku sampai uang muka yang diambil lunas
dibayar.
Nilai jaminan uang muka boleh secara berangsur – angsur dikurangi
dengan pembayaran kembali uang muka tersebut
c. Pembayaran – pembayaran selanjutnya berupa pembayaran angsuran,
dilakukan sesuai dengan prestasi nilai pekerjaan yang dicapai, kecuali
pembayaran yang terakhir akan dibayarkan setelah masa
pemeliharaan selama 90 hari kalender berakhir.
d. Saran : Pembayaran angsuran dilakukan secara berangsur – angsur
menurut prosentase kemajuan nilai prestasi pekerjaan berdasarkan
hasil pemeriksaan penilaian yang dilakukan Konsultan Pengawas dan
disahkan oleh Pemberi Tugas dikurangi retensi sebesar 5% dari harga
borongan.
e. Jumlah Pembayaran angsuran sampai dengan penyerahan pertama
pekerjaan adalah sebesar :
1. 95% (sembilan puluh lima percent) dari harga borongan.
2. Dikurangi dengan angsuran pengembalian uang muka.
3. Dikurangi dengan denda kelambatan.
4. Dikurangi dengan biaya Konsultan Pengawas akibat penggunaan
pihak ketiga.
5. Dikurangi dengan biaya Konsultan Pengawas akibat dilampauinya
batas waktu pelaksanaan.

f. Besarnya pembayaran angsuran akan diatur dalam Kontrak Kontraktor


(contoh terlampir) atau dapat diadakan kesepakatan lebih dahulu
antara Pemberi Tugas dengan Kontraktor.
g. Penagihan untuk pembayaran harus didasarkan atas hal – hal berikut
ini :

BAB. I - 19
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

1. Surat perjanjian pemborongan untuk pengajuan pembayaran uang


muka dilengkapi dengan copy jaminan uang muka dan copy
jaminan pelaksanaan.
2. Sertifikat pembayaran untuk pengajuan pembayaran – pembayaran
selanjutnya, dimana sertifikat – sertifikat pembayaran tersebut
akan didasarkan pada :
- Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan untuk setiap pembayaran
angsuran pada umumnya.
- Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan dan sertifikat penyerahan
pertama untuk pembayaran kemajuan yang terakhir dan berita
acara pemeriksaan pekerjaan dan sertifikat penyerahan kedua
untuk penyerahan kedua / terakhir.

3. Pembuktian masih berlaku untuk segala jaminan Bank yang


dipersyaratkan sesuai perjanjian ini, seperti jaminan pelaksanaan
dan jaminan uang muka.

h. Setelah penyerahan pertama, pemborong berhak menagih :


Pembayaran sesuai dengan pembayaran angsuran disamping itu
pemborong berhak meminta kembali jaminan pelaksanaan.
i. Setelah penyerahan kedua, pemborong berhak menagih = 5 % (lima
percent ) dari harga borongan yang ditahan.
j. Denda kelambatan dikenakan apabila terjadi kelambatan terhadap
jadwal pelaksanaan pekerjaan.
k. Untuk setiap hari kalender kelambatan, besarnya denda kelambatan
adalah 1/1000 (satu permil) dari harga borongan dan sebanyak –
banyaknya 5 % (lima percent) dari harga borongan.
l. Kegagalan pemborongan.
Dalam hal dimana pemborong gagal ataupun kurang tanggap dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan perjanjian kerja dan atau
Konsultan Pengawas berpendapat bahwa pemborong tidak
mampu/tidak akan mampu melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan
perjanjian kerja ini maka Pemberi Tugas atas kesepakatan berhak
untuk :
1. Menunjuk Pihak Ketiga untuk melaksanakan sebagian atau seluruh
pekerjaan pemborong.
2. Segala pembiayaan untuk pelaksanaan pekerjaan/bagian pekerjaan
oleh Pihak ketiga tersebut akan ditetapkan oleh Konsultan
Pengawas atas persetujuan Pemberi Tugas, guna seterusnya
ditanggung sepenuhnya oleh pemborong dengan cara sebagai
berikut :
- Dibayar langsung oleh pemborong.
- Dipotong dari pembayaran angsuran pemborong oleh Pemberi
Tugas.
- Dibayar dari pencairan jaminan pelaksanaan oleh Pemberi Tugas.

m. Disamping itu pemborong dibebankan pula menanggung biaya


manajemen konstruksi akibat dilampauinya jangka waktu penyerahan
pertama tersebut sebesar :

BAB. I - 20
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑎𝑗𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑠𝑖


1. Rp. setiap hari keterlambatan yang
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎𝑗𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑠𝑖
diperbuat dan pembayarannya akan dipotong langsung dari harga
borongan.
2. Selain biaya diatas, pemborong juga akan dipotong akibat kerja
lembur yang memerlukan Konsultan Pengawas sebesar : (per jam)
1 𝑗𝑎𝑚 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑙𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑤𝑎𝑠
𝑥
7 𝑗𝑎𝑚 (𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑟𝑖) 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑙𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑤𝑎𝑠

n. Untuk setiap kelalaian dalam menepati peraturan – peraturan dalam


RKS ini dimana teguran – teguran dan perintah – perintah tertulis yang
telah terjadi karenanya untuk kedua kalinya tidak dipatuhi, kepada
pemborong akan dikenakan denda 1/2 /1000 (setengah permil) dari
harga borongan dan begitu pula peringatan ketiga, keempat dan
selanjutnya.
Kejadian – kejadian akan dicatat dalam laporan – laporan harian, dan
mingguan. Jangka waktu antara peringatan yang satu dan peringatan
berikutnya tergantung dari sifatnya dan akibat kelalaian / pelanggaran
yang dilakukan.

Pasal 22 : Penundaan Pembayaran.

Pembayaran angsuran akan ditangguhkan apabila :

a. Kesalahan pelaksanaan, hasil yang kurang memuaskan, kerusakan


tidak/belum diperbaiki.
b. Keraguan Pemberi Tugas atas tidak seimbangnya antara pembayaran sisa
dengan volume pekerjaan yang masih harus dilaksanakan.
c. Kegagalan pemborong dalam menyelesaikan urusan – urusan dengan sub
kontraktor, supplier – supplier maupun buruh.
d. Belum memenuhi salah satu ketentuan administratif.
e. Belum adanya penyesuaian dalam perhitungan prestasi pekerjaan untuk
angsuran tersebut.
f. Belum menyerahkan gambar bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan karena
adanya revisi (perubahan/as built drawing). Bilamana hal – hal tersebut diatas
tidak ada atau sudah dilaksanakan maka angsuran dapat dilakukan.

Pasal 23 : Pekerjaan Tambah dan Kurang.

Perhitungan pekerjaan tambah dan kurang didasarkan atas daftar harga satuan
pekerjaan, upah dan bahan – bahan dan peralatan yang dilampirkan pemborong dalam
surat penawaran.
Perhitungan pembayaran dilakukan pada pembayaran sebelum angsuran terakhir.

BAB. I - 21
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 24 : Resiko Upah / Harga.

Di dalam melaksanakan pekerjaan fluktuasi upah/harga bahan dan peralatan yang


terjadi selama masa pelaksanaan menjadi resiko pemborong sendiri.

Pasal 25 : Asuransi.

a. Semua resiko yang diakibatkan bukan karena force majeure (seperti kebakaran,
gempa bumi, petir, banjir dan sebagainya), tetapi mengakibatkan kerugian
kepada pekerjaan atau bahan – bahan yang berada ditempat pekerjaan yang
masih dalam pemasangan pemborong, maupun masih dalam pemesanan
adalah menjadi resiko pemborong.
b. Dalam lingkup pertanggungan asuransi tersebut hendaknya masuk baik
kerugian yang diakibatkan terhadap bagian – bagian pekerjaan yang
menjadi tanggung jawab Kontraktor sendiri tersebut, maupun kerugian
yang diderita oleh bagian – bagian gedung yang sudah ada disekitar
lokasi proyek beserta persyaratan yang ada didalamnya, yang
diakibatkan oleh pemborong dalam pelaksanaan pekerjaan.
c. Oleh karena itu pemborong harus mengurangi resiko ini sampai sekecil
mungkin dengan jalan menutup pertanggungan (asuransi) dalam bentuk
CAR (Contractor's All Risks), Third Party Liability (TPL), Asuransi
Kecelakaan untuk wakil – wakil Pihak Pertama (Personal Accident on
Site) serta Asuransi Tenaga Kerja (Astek) para pekerja pemborong, yang
kesemua asuransi tersebut tidak merupakan unsur biaya tambah dalam
harga penawaran.
Kontraktor harus menutup asuransi tersebut pada : ...............
d. Surat Polis tersebut atas nama Pemberi Tugas dan bersama sama
dengan kwitansi dan premi yang telah dibayar Kontraktor, harus
diserahkan kepada Pemberi Tugas.
e. Kerusakan ataupun kerugian – kerugian akibat kejadian tersebut harus
segera diperbaiki dan dikembalikan dengan perbaikan seperti semula.
Sesuai dengan perbaikan ini uang asuransi yang telah diterima oleh
Pemberi Tugas akan dibayarkan kepada Kontraktor hingga jumlah
maksimal yang telah dibayarkan oleh Maskapai Asuransi kepada
Pemberi Tugas.

Pasal 26 : Pekerjaan Kontraktor Lain.

Dalam hal dimana pekerjaan/bagian pekerjaan dari satu pemborong secara


fisik berhubungan dengan pekerjaan/bagian pekerjaan dari pemborong yang
lain maka kecuali secara khusus hal ini diatur lain oleh Konsultan Pengawas
atau dokumen kontrak yang lain, maka ketentuan-ketentuan berikut berlaku :
a. Pekerjaan merapikan/meyempurnakan finishing akhir pada bagian
pekerjaan dimana secara fisik lebih dari satu pemborong terlibat,

BAB. I - 22
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

merupakan tanggung jawab dari pemborong yang mengerjakan


pekerjaan ini dalam urutan sebagai berikut :

Untuk pekerjaan di dalam bangunan


1. Ornamen/Elemen Estetis
2. Furniture/Finishing
3. Interior Finishing
4. Arsitektur/Finishing
5. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
6. Struktur dan Konstruksi
7. Sipil dan Lansekap

b. Dalam hal dimana ada lebih dari satu pemborong, dengan tingkat
prioritas tanggung jawab yang sama, mengerjakan pekerjaan yang
secara fisik terlibat, maka ketentuan berikut ini berlaku :
1. Apabila bagian pekerjaan tersebut bertemu secara berdampingan,
maka masing – masing pemborong wajib melakukan pekerjaan
merapikan tersebut pada bagian pekerjaan masing – masing dan
pemborong yang belakangan mengerjakan bagian pekerjaan yang
bertemu tersebut bertanggung jawab untuk melindungi bagian
pekerjaan dari pemborong yang lain tersebut sedemikian sehingga
bagian tersebut tidak cacat akibat pelaksanaan bagian pekerjaan
yang menjadi tanggung jawabnya. Kontraktor ini bertanggung
jawab bahwa pertemuan kedua pekerjaan tersebut diselesaikan
dengan baik.
2. Apabila bagian pekerjaan dari satu pemborong menembus bagian
pekerjaan dari pemborong yang lain, maka kedua pemborong
bersama dengan Konsultan Pengawas harus membicarakan
pelaksanaan penembusan tersebut, sehingga didapatkan hasil yang
sebaik-baiknya. Kontraktor yang melaksanakan bagian pekerjaan
yang ditembusi bertanggung jawab untuk merapikan/melakukan
finishing akhir pada bagian yang ditembusi tersebut.
3. Apabila bagian pekerjaan dari satu pemborong akan secara
accessibilitas/visual ditutup oleh bagian pekerjaan dari pemborong
yang lain, maka pemborong yang melaksanakan bagian pekerjaan
yang menutupi bagian pekerjaan dari pemborong yang lain harus
bertanggung jawab untuk merapikanfmetiakukan finishing akhir
pada bagian-bagian pekerjaan yang merupakan acces untuk
mencapai bagian pekerjaan yang ditutupi tersebut.
4. Apabila bagian pekerjaan dari satu pemborong bersambungan
dengan bagian pekerjaan dari pemborong yang lain, maka
pemborong yang melaksanakan bagian pekerjaan yang
bersambungan tersebut bertanggung jawab untuk mengadakan dan
memasang tutup sementara pada bagian pekerjaan tersebut
sedemikian rupa, sehingga bagian itu bisa diuji secara terpisah dan
diamankan terhadap segala kemungkinan pengotoran/ kerusakan
sebelum sambungan dilaksanakan. Kontraktor yang melakukan
penyambungan bertanggung jawab untuk melakukan finishing
akhir pada sambungan tsb.

BAB. I - 23
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

5. Apabila bagian pekerjaan dari satu pemborong akan ditumpuk oleh


bagian pekerjaan dari pemborong yang lain, maka pemborong yang
bagian pekerjaannya akan ditumpuk tersebut bertanggung jawab
untuk menghubungi pemborong yang bagian pekerjaannya akan
menumpuk bagian pekerjaan yang dilaksanakannya dan dengan
disaksikan oleh Konsultan Pengawas, bersepakat mengenai
ketepatan dan koordinasi dari bagian yang bertumpuk tersebut,
serta memberi peluang yang wajar pada pemborong yang
belakangan untuk melakukan pekerjaan persiapan yang diperlukan
untuk melaksanakan bagian pekerjaannya. Bilamana pemborong
yang belakangan ini tidak bisa dihubungi, maka pemborong yang
terdahulu harus meminta petunjuk khusus dari Konsultan
Pengawas mengenai hal ini.

c. Dalam hal ini pemborong yang bertanggung jawab untuk merapikan /


melakukan finishing akhir ini tidak dapat melaksanakan pekerjaan
merapikan / finishing akhir ini sesuai dengan jadwal pekerjaannya
karena belum terlaksana bagian pekerjaan dari pemborong yang lain,
maka pemborong dengan persetujuan Konsultan Pengawas dapat
memilih salah satu dari alternatif berikut :
1. Meminta kerja kurang atas bagian pekerjaan yang tertunda serta
melimpahkan bagian pekerjaan yang tertunda tadi kepada
pemborong yang belakangan dengan memperhitungkan pengurangan
waktu pelaksanaan.
2. Meminta dilakukannya pemeriksaan kemajuan dan penyerahan
perbagian (Partial Sub Mission) atas bagian pekerjaan yang telah
selesai dilaksanakan.

Pasal 27 : Syarat – Syarat Administrasi Teknis.

a. Disamping rencana kerja dan syarat – syarat ini, maka syarat umum yang
berlaku dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan ini adalah :
1. Peraturan – peraturan untuk pemeriksaan bahan – bahan bangunan di
Indonesia :
- Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan – Bahan Bangunan
Indonesia tahun 1982.
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) NI-5-1961.
- Peraturan Cat Indonesia N I-4-1965.
- Peraturan Beton Bertulang Indonesia NI- 2/1971.
- Peraturan Umum Instalasi Listrik 1977.
- Peraturan Muatan Indonesia NI-18-1970.
- Peraturan Meneteri Kesehatan RI N0.01/ BIRHUKMASIi/1975
- Peraturan Semen Portland Indonesia S11-0013- 1981.
- Peraturan Pembebanan yang terakhir.
- Peraturan Pekerjaan konstruksi baja yang terakhir.

2. Peraturan yang berlaku yang bersifat Administrasi ialah : Algemene


Voorwaarden Voor de uitvoering bijaaneming van openbare werken

BAB. I - 24
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

in Indonesia (AV) yang disetujui dengan Gouvernement besluit


tanggal 28 May 1941 no. 9, Bagian pertama Pasal 1 sampai Pasal 65
dan tambahan lembaran Negara No.14571.
3. Peraturan – peraturan setempat dan segala penempatan dari
Peraturan Pemerintah Daerah lainnya, yang bersangkutan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang dipenuhi oleh pemborong.
4. Ketentuan – ketentuan dalam KEPPRES No. 18 Tahun 2000
dan beserta penjelasan dan lampiran – lampirannya.

b. Instansi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini harus dilaksanakan sesuai


dengan undang – undang dan peraturan – peraturan yang berlaku saat
ini di Indonesia serta tidak bertentangan dengan ketentuan – ketentuan
dari Departemen Tenaga Kerja.
c. Segala biaya pengetesan dari bahan yang akan digunakan harus sudah
termasuk dalam harga penawaran.

Pasal 28 : Perizinan.

a. Semua biaya – biaya resmi untuk pengurusan perijinan / biaya


penyambungan dan persyaratan – persyaratan yang mungkin
diperlukan untuk pembangunan ini pengurusannya harus dilakukan
oleh pemborong atas tanggungan biaya langsung dari Pemberi Tugas.
Sedang biaya – biaya tidak resmi (jika ada) menjadi beban pemborong.
b. Semua pemeriksaan / pengujiaan dan lain – lain beserta keterangan
resminya yang mungkin diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan
ini dan instalasinya harus dilakukan oleh Kontraktor termasuk
tanggungan biaya.
c. Kontraktor harus bertanggung jawab atas penggunaan alat – alat yang
dipatenkan atas kemungkinan tuntutan ganti rugi dan biaya – biaya yang
diperlukan, untuk ini pemborong wajib menyerahkan surat persyaratan
mengenai hal itu.
d. Kontraktor harus menyerahkan semua surat – surat perizinan atau
keterangan – keterangan resmi dari pihak yang berwajib yang
diperolehnya mengenai pembangunan proyek ini kepada Pemberi
Tugas, Konsultan Pengawas atau pihak yang ditunjuk untuk ini.
e. Apabila diperlukan surat – surat guna pengurusan perizinan, maka
Kontraktor dapat meminta kepada Pemberi Tugas Pemda setempat.

Pasal 29 : Pemakaian Ukuran.

a. Kontraktor tetap bertanggung jawab dalam menepati semua ukuran –


ukuran yang ditentukan dalam RKS ini beserta gambar – gambamya.
b. Kontraktor wajib memeriksa kebenaran – kebenaran, baik dari ukuran –
ukuran maupun detail – detail keseluruhan maupun bagian – bagiannya dan
serta memberitahukan kepada Konsultan Pengawas secara tertulis.
c. Pengambilan ukuran / pemilihan keputusan yang keliru didalam
pelaksanaan, didalam hal apapun menjadi tanggung jawab pemborong.
BAB. I - 25
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 30 : Konsultan Pengawasan.

a. Konsultan Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh


Konsultan Pengawas atau pilihan lain yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas,
sesuai dengan ketentuan tugas tersebut dalam Keputusan Menteri
Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 332IKPT/M/2002 Tanggal 21
Agustus 2002.
b. Pada setiap saat Pemberi Tugas, Konsultan Pengawas atau petugas –
petugas lainnya dapat dengan mudah mengawasi pemeriksaan dan
pengujian setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan. Kontraktor harus
mengadakan fasifitas – fasifitas yang diperlukan.
c. Bagi setiap tahap pekerjaan pembangunan yang telah selesai dilaksanakan
harus mendapatkan pemyataan tertulis dari Konsultan Pengawas atau pihak
yang ditunjuk bahwa tahap pekerjaan ini telah selesai dilaksanakan sesuai
dengan persyaratan yang ada.
Tahap pekerjaan pembangunan ini ditentukan kemudian berdasarkan
jadwal perincian waktu yang diserahkan oleh Kontraktor, serta disetujui
oleh Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas.
d. Bagian – bagian yang telah dilaksanakan tanpa persetujuan dari Konsultan
Pengawas adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut
jika tidak diperlukan harus segera dibongkar sebagian atau seluruhnya.
e. Di dalam setiap pelaksanaan pengujian, balancing dan "Trial Run" sistem
instalasi harus dihadiri pihak Konsultan Pengawas, pihak – pihak yang
bersangkutan dan sebaiknya juga Pemberi Tugas. Untuk itu hendaklah
diberikan pula sertifikat pernyataan hasil pengujian dari yang berwenang
memeriksanya.
f. Jika diperlukan Konsultan Pengawas diluar jam – jam kerja (diluar jam 08.00 -
17.00), maka pemborong harus mengajukan permohonan tertulis beserta
alasan – atasannya.
Izin tersebut pada umumnya diberikan :
1. Jenis pekerjaan yang pelaksanaannya tidak boleh terputus – putus.
2. Secara teknis diperlukan, atau menurut pertimbangan Pemberi Tugas dapat
dibenarkan.
3. Biaya Konsultan Pengawasan diluar jam kerja, ditanggung oleh Kontraktor
(sesuai jumlah jam tercantum pada kontrak Konsultan Pengawasan).

g. Ditempat pekerjaan, Konsultan Pengawas menempatkan petugas – petugas


Konsultan Pengawasan yang setiap saat akan mengawasi pekerjaan pemborong
akan di laksanakan sesuai dengan isi dan jiwa surat perjanjian pemborong serta
dengan cara – cara yang benar dan cermat.

Pasal 31 : Pegawai Kontraktor.

a. Pimpinan harian pada pelaksanaan pekerjaan oleh Kontraktor harus


diserahkan kepada Penyelenggara Kepala (Site Manager) yang ahli

BAB. I - 26
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

berpengalaman dan mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan serta


bertanggung jawab penuh atas segala pekerjaan pembangunan ini.
b. Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, calon Penyelenggara Kepala dan
pembantu – pembantunya berikut curiculum vitae, alamat dan nomor telpon
rumah (kalau ada), sudah harus diajukan kepada Pemberi Tugas dan Konsultan
Pengawas untuk pertimbangan. Didalamnya harus ada seorang ahli
teknis/sarjana Teknik sipil sebagai penanggung jawab dari hasil pelaksanaan
pekerjaan.
c. Penyelenggara Kepala harus terus menerus berada di tempat pekerjaan selama
jam – jam kerja dan setiap saat yang diperlukan dalam pelaksanaan atau pada
saat yang dianggap perlu oleh Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas.
d. Penyelenggara Kepala mewakili pemborong di tempat pekerjaan. Semua
langkah dan tindakannya dianggap sebagai langkah dan tindakan
pemborong.
e. Petunjuk – petunjuk dari perintah – perintah Pemberi Tugas dan Konsultan
Pengawas disampaikan langsung kepada Kontraktor atau melalui
Penyelenggara Kepala, sebagai penanggung jawab lapangan.
f. Kontraktor diwajibkan pada setiap saat menjalankan disiplin, tatatertib dan
kesopanan yang ketat terhadap semua buruh dan pegawai.
Siapapun diantara mereka yang melanggar terhadap peraturan umum,
mengganggu atau merusak ketertiban, berlaku tidak senonoh, melakukan
dan merugikan pelaksanaan pembangunan, harus segera dikeluarkan dari
tempat pekerjaan atas perintah dari Konsultan Pengawas.

Pasal 32 : Bagan Kemajuan Pekerjaan.

a. Satu minggu setelah Surat Perintak Kerja (SPK) Kontraktor harus sudah siap
dengan :
1. Bagan kemajuan pekerjaan (time schedule dan network planning)
sesuai dengan batas – batas waktu maksimal yang telah ditetapkan.
Bagan tersebut disusun secara konvensional (barchart) dan network
planning.
2. Schedule material/ bahan.
3. Schedule tenaga kerja dan Peralatan.
4. Sebelum pekerjaan dimulai, keadaan lapangan atau tempat pekerjaan
masih 0% harus diadakan pemotretan di tempat – tempat yang dianggap
penting menurut pertimbangan Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas
dengan ukuran kartu pos.

b. Di dalam bagan kemajuan pekerjaan ini dicantumkan volume masing-


masing bagian pekerjaan serta tanggal dan hari yang diperlukan.
c. Dalam progress schedule harus dibuat juga curve gambaran mengenai
nilai dan harga pekerjaan – pekerjaan sesuai dengan volume dan harga
penawaran berdasarkan hasil pelaksanaan.
d. Kontraktor harus secara terpisah menyusun "Bagan Pengerahan
Tenaga" dan bagan penyediaan bahan, peralatan dan mesin yang
diperlukan (shedule bahan material dan tenaga serta peralatan).

BAB. I - 27
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

e. Bagan – bagan tersebut diatas harus mendapatkan persetujuan dari


Konsultan Pengawas dan pengesahan dari Pemberi Tugas.
f. Kelalaian dalam memasukkan bagan – bagan yang dimaksud dapat
menyebabkan dapat ditundanya permulaan pekerjaan.
g. Kontraktor wajib melaksanakan pekerjaan tersebut sesuai dengan
patokan waktu yang telah ditetapkan dan disetujui pada waktu
menyusun Bagan Kemajuan Pekerjaan.
h. Jika terjadi penyimpangan – penyimpangan, maka pemborong wajib
merevisi net work diagram yang lama dan atau membuat net diagram
untuk bagian – bagian pekerjaan tertentu yang diminta oleh Pemberi
Tugas maupun oleh Konsultan Pengawas.
i. Jangka waktu maksimum penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan
adalah : ......... hari kalender terhitung sejak tanggal dikeluarkannya Surat
Perintah Kerja (SPK).

Pasal 33 : Rapat - Rapat.

Sekurang – kurangnya satu kali dalam satu minggu diadakan "rapat lapangan"
(site meeting) dilokasi pekerjaan yang dipimpin oleh Konsultan Pengawas.
Pokok – pokok pembicaraan dalam rapat ini antara lain:
a. Kemajuan pekerjaan (progress report) dan hal – hal yang tercantum
dalam laporan mingguan.
b. Soal – soal administrasi.
c. Soal – soal teknik (penyelesaian gambar – gambar serta instruksi –
instruksi Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas).
d. Koordinasi pekerjaan.
Dari setiap site meeting, Konsultan Pengawas Harian wajib menyusun
risalah (notulen) yang ditanda tangani oleh pihak yang hadir, terutama
Konsultan Pengawas Kontraktor kalau dapat disahkan juga oleh Pembesi
Tugas.
Setiap risalah site meeting akan berisi :
a. Tanggal, jam lamanya rapat serta daftar hadir (nama – nama yang hadir
dalam rapat).
b. Pengesahan risalah site meeting yang lalu.
c. Hal – hal yang muncul dari meeting yang lalu.
d. Posisi prestasi fisik dihubungkan dengan program (progress schedule
dan net work planning).
e. Tenaga kerja, peralatan dan bahan – bahan yang dihubungkan dengan
skema pengadaan bahan.
f. Hambatan – hambatan yang dialami oleh Kontraktor dan bagaimana
rencana pemborong menanggulangi serta follow-up dari instruksi –
instruksi minggu lalu.
g. Masalah leveransir dan pihak ketiga lainnya.
h. Pekerjaan tambah dan kurang.
i. Informasi yang diperlukan baik pemborong maupun Pemberi Tugas dan
Konsultan Pengawas.

BAB. I - 28
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

j. Instruksi – instruksi baru dari Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas.


k. Hal – hal lain serta petunjuk – petunjuk Konsultan Pengawas Harian
kepada pemborong yang wajib dituruti untuk minggu yang akan datang.
Notulen ini setiap minggu dikirimkan langsung kepada Pemberi Tugas
yang akan merupakan salah satu bahan pembahasan dalam rapat
koordinasi.

Pasal 34 : Kewajiban – Kewajiban Kontraktor.

a. Apabila Pemberi Tugas telah menunjuk Kontraktor yang akan


melaksanakan pekerjaan, maka pemborong yang bersangkutan harus
bersedia menandatangani persetujuan kontrak yang di
persiapkan/dibuat oleh Pemberi Tugas, sesuai dengan bentuk yang telah
ditentukan dalam Dokumen Pelelangan dengan perubahan – perubahan
yang dianggap perlu atas persetujuan kedua belah pihak.
b. Segera setelah pemborong ditunjuk oleh Pemberi Tugas sebagai
pelaksana pekerjaan, maka pemborong harus secepatnya mengirim
secara tertulis kepada Konsultan Pengawas :
1. Jadwal waktu dan urutan prosedur pelaksanaan pekerjaan dan
methode yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan, untuk
kemudian mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
2. Keterangan lengkap tentang struktur organisasi dan daftar
personalia yang akan memimpin dan melaksanakan pekerjaan di
proyek/di site untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas.

c. Sebelum memulai pekerjaannya, Kontraktor harus sudah benar – benar


mengetahui keadaan dan sifat – sifat tanah didaerah kerja, cuaca serta
hal – hal lain yang mungkin akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan
– pekerjaan dan memperhitungkan akibatnya.
d. Sebelum memulai pekerjaannya, pemborong harus mengetahui dan
menentukan tinggi titik duga induk di lapangan, sesuai dengan
ketentuan yang dinyatakan dalam kontrak atau dokumen lampiran
kontrak.
e. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara yang sebaik mungkin,
menggunakan tenaga – tenaga ahli dan pekerja – pekerja yang terampil,
serta menggunakan peralatan yang memadai untuk melaksanakan
pekerjaan tersebut.
f. Pelaksana Kontraktor harus selalu ada di daerah kerja dan memimpin
serta mengawasi langsung pekerjaan yang dilaksanakan. Pelaksana
Kontraktor dalam melaksanakan tugasnya harus di bantu oleh staf – staf
pemborong yang ahli, mampu dan cakap melaksanakan pekerjaan –
pekerjaan tersebut.
g. Pelaksana pemborong harus siap setiap waktu untuk menerima
petunjuk dan perintah dari Konsultan Pengawas, dan segera
melaksanakan petunjuk dan perintah tersebut.

BAB. I - 29
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

h. Kontraktor harus mengadakan peraturan untuk menjamin keamanan


dan perlindungan bagi pekerjaannya dan barang – barang miliknya, dan
dimana dipandang perlu oleh Konsultan Pengawas.
i. Dapat diminta untuk menyediakan lampu – lampu penerangan,
pemagaran dan penjagaan keamanan serta perlindungan bagi hak milik
atau kepentingan pihak lain.
j. Kontraktor bertanggung jawab atas dimulainya pekerjaan pematokan,
penentuan titik – titik dan penarikan garis – garis ketinggian sebagai
referensi, ketetapan letak ketinggian dimensi dan alignment dari semua
bagian yang harus dikerjakan.
k. Semua kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan
dari, pekerjaan pembantu, harus dilaksanakan oleh pemborong
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang tak dapat
dihindarkan.
Kontraktor harus membebaskan Pemberi Tugas dari segala tuntutan
(klaim) yang timbul akibat gangguan tersebut.

Pasal 35 : Laporan – Laporan.

a. Kontraktor harus membuat catatan berupa laporan – laporan harian


yang memberikan gambar dan catatan singkat dan jelas mengenai :
1. Taraf berlangsungnya pekerjaan – pekerjaan yang dilaksanakan oleh
Kontraktor bawahan.
2. Catatan dan perintah Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas dan
Konsultan Pengawas Harian yang telah di sampaikan secara tertulis
maupun lisan.
3. Hal ikhwal mengenai bahan – bahan, peralatan/mesin – mesin yang
masuk (atau yang dipakai maupun yang ditolak).
4. Keadaan cuaca.
5. Hal ikhwal mengenai buruh.
6. Hal ikhwat mengenai pekerjaan tambah dan kurang.
7. Hal ikhwal mengenai kesulitan – kesulitan ataupun gangguan yang
mungkin ada.
8. Bilamana ditemukan hal – hal yang tidak sesuai dan tidak serasi di
dalam pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus melaporkan dan
memberi saran secara tertulis kepada Konsultan Pengawas dan
Pemberi Tugas.
9. Sebelum pekerjaan dimulai, keadaan lapangan dan tempat
pekerjaan masih 0% harus diadakan pemotretan di tempat –
tempat yang dianggap penting menurut pertimbangan Pemberi
Tugas dan Konsultan Pengawas dengan ukuran kartu pos.

b. Setiap laporan harian pada hari dan tanggal yang sama diperiksa dan
disetujui kebenarannya oleh Konsultan Pengawas Harian. Perselisihan
mengenai hal ini mengakibatkan pekerjaan dihentikan untuk diadakan
opname.
c. Berdasarkan laporan harian tersebut, oleh kontraktor disusun laporan
mingguan yang minimal berisi :

BAB. I - 30
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

1. Jumlah hasil pekerjaan yang sudah diperoleh seminggu berupa


perbandingannya dengan skema pengarahan menurut program.
2. Jumlah pemasukan dan pemakaian bahan di bandingkan dengan
skema bahan.
3. Prestasi fisik yang dicapai, dibandingkan dengan program,
dibandingkan dengan minggu sebelumnya, dan bagaimana dengan
minggu yang akan datang.
4. Hambatan – hambatan yang timbul mengenai tenaga, bahan dan
peralatan serta rencana penanggulangannya.
5. Catatan – catatan mengenai ada tidaknya pekerjaan kurang.
6. Instruksi, teguran – teguran dan sebagainya yang telah diterima
pemborong dari Pemberi Tugas, Konsultan Pengawas dan Konsultan
Pengawas Harian dan bagaimana pemecahannya.
7. Informasi, instruksi, keputusan dan sebagainya yang diperlukan
pemborong untuk minggu – minggu yang akan datang dari Pemberi
Tugas atau Konsultan Pengawas.
8. Lain-lain :
Laporan mingguan ini dengan secepat mungkin (setiap hari senin)
sudah harus dikirim kepada Konsultan Pengawas maupun Pemberi
tugas. Salah satu tembusannya harus selalu berada ditempat
pekerjaan.
9. Untuk melengkapi laporan dan untuk tujuan dokumentasi, dibuat
pemotretan bagian – bagian pekerjaan yang sedang dikerjakan yang
pada prinsipnya berupa foto – foto dokumentasi jalannya pekerjaan.
Hal – hal mengenai jumlah serta arah pemotretan akan ditentukan
kemudian.
Gambar pemotretan adalah berwama (colour foto) ukuran kartupos,
dimana gambar – gambar tersebut harus dikirimkan pemborong
kepada pihak Pemberi Tugas dan Konsultan Konsultan Pengawas,
masing – masing 1 (satu) set dalam buku album atas biaya
pemborong.
Gambar pemotretan tersebut disertakan pada setiap akhir bulan
pada risalah rapat lapangan dengan gambar yang asli untuk pemberi
tugas.

Pasal 36 : Koordinasi Dengan Pihak Lain.

a. Kontraktor wajib mengkoordinasi dengan pihak lainnya demi lancamya


pelaksanaan pekerjaan proyek.
b. Kontraktor wajib berkonsultasi dengan pihak lain yang berkompoten
supaya sejauh mungkin dipergunakan peralatan yang seragam dan merk
yang sama untuk seluruh bangunan proyek ini, agar memudahkan
pemeliharaan.

BAB. I - 31
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

Pasal 37 : Kontraktor Bawahan (Sub Kontraktor).

Penunjukkan pemborong bawahan oleh pemborong hanyalah dapat dilakukan


dengan sepengetahuan dan seizin tertulis dari Pemberi Tugas dan pemborong
tetap bertanggung jawab sebagai kontraktor pelaksana dan ikut bertanggung
jawab atas pekerjaan pemborong bawahan.

Pasal 38 : Permulaan Pekerjaan.

Selambat – lambatnya 7 (tujuh) hari seteiah Surat Perintah Kerja dikeluarkan


pemborong harus mulai melaksanakan pekerjaan dalam arti yang nyata.
Sebelum melaksanakan pekerjaan, pemborong wajib menyerahkan gambar
kerja (shop drawing) lengkap dengan seluruh detailnya untuk diteliti dan di
setujui oleh Konsultan Pengawas.
Sebelum memulai pekerjaan, pemborong wajib membuat methode kerja dan
Net Work Planning yang akan mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas
untuk digunakan daiam peiaksanaan pekerjaan.

Pasal 39 : Penyerahan Pekerjaan.

a. Penyerahan pertama pekerjaan dalam keadaan 100 % selesai, harus


dilaksanakan selambat – lambatnya pada tanggal yang telah ditetapkan
dalam Surat Perjanjian Kontraktor.
b. Rencana dan tanggal penyerahan pertama harus diajukan kepada
Konsultan Pengawas selambat – lambatnya 14 (empat belas) hari
sebelum tanggal penyerahan yang dimaksud, dimana Pemberi Tugas dan
Konsultan Pengawas akan mengadakan pemeriksaan seksama atas hasil
keseluruhan.
c. Semua hasil pekerjaan harus dapat memenuhi syarat – syarat yang
ditentukan dalam kontrak, dan bilamana sebagian atau seluruh hasil
pekerjaan pemborong tersebut menurut Konsultan Pengawas tidak
memenuhi syarat – syarat kontrak, maka pemborong wajib untuk segera
memperbaiki tanpa hak untuk mengajukan tuntutan (kaim) tambahan
biaya.
d. Setelah Konsultan Pengawas menerima pemberitahuan secara tertulis
dari Kontraktor bahwa seluruh pekerjaan telah selesai dilaksanakan,
maka Konsultan Pengawas akan segera mengadakan pemeriksaan
bersama pemborong dan akan membuat pernyataan tertulis atas hasil
pekerjaan tersebut.
e. Apabila Konsultan Pengawas menyatakan secara tertulis bahwa hasil
pekerjaan pemborong belum dapat diterima, maka dituliskan juga hal –
hal yang masih harus diperbaiki/disempurnakan oleh pemborong, dan
pemborong berkewajiban untuk segera melaksanakan perbaikan/
penyempurnaan yang diminta oleh Konsultan Pengawas.

BAB. I - 32
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

f. Apabila Konsultan Pengawas menyatakan secara tertulis bahwa hasil


pekerjaan pemborong dapat diterima dan telah memenuhi syarat –
syarat yang ditetapkan dalam kontrak ; maka oleh Konsultan Pengawas
segera dibuat Berita Acara Penyerahan Pertama yang ditanda tangani
oleh Pemberi Tugas dan Kontraktor, dan diketahui oleh Konsultan
Pengawas.

Pasal 40 : Kelambatan dan Perpanjangan Waktu.

a. Kelalaian kontraktor atau kontraktor bawahan dalam melaksanakan


pekerjaan, memperbaiki kerusakan – kerusakan akibat kesalahan / -
kesalahan kontraktor, tidak akan diluluskan dalam klaim perpanjangan
waktu.
b. Untuk keterlambatan akibat Force Majeure dapat dipertimbangkan
untuk mendapatkan perpanjangan waktu.
c. Kontraktor perpanjangan waktu tersebut harus diajukan oleh
kontraktor selambat – lambatnya 7 (tujuh) hari setelah terjadinya
peristiwa – peristiwa tersebut, jika tidak maka perpanjangan waktu
tidak akan dipertimbangkan.
d. Pada peristiwa dihentikannya suatu bagian / keseluruhan pekerjaan
oleh Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas akibat dari kelalaian
kontraktor, tidak diadakan perpanjangan waktu.
e. Bila sampai 1 {satu} minggu sebelum batas waktu penyelesaian
pekerjaan 100%, kontraktor belum/tidak mengajukan permohonan
perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan, maka batas waktu
penyelesaian pekerjaan tetap sesuai dengan yang dinyatakan dalam
kontrak.
Denda atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan akan
diperhitungkan sejak saat berakhirnya masa pelaksanaan sesuai
dengan kontrak.

Pasal 41 : Jangka Waktu Pemeliharaan.

a. Setelah kontraktor dan Pemberi Tugas menanda tangani Berita Acara


Penyerahan Pertama, maka kontraktor berkewajiban untuk melakukan
pemeliharaan terhadap hasil pekerjaannya.
Lama jangka waktu pemeliharaan adalah ......... hari kalender berturut –
turut, terhitung sejak ditanda tanganinya Berita Acara Penyerahan
Pertama.
b. Selama masa pemeliharaan, kontraktor wajib melakukan segala
perbaikan pada hasil pekerjaannya yang disebabkan oleh penggunaan
bahan – bahan dan/atau cara – cara pelaksanaan pekerjaan yang tidak
memenuhi syarat – syarat kontrak, setelah menerima perintah tertulis
dari Konsultan Pengawas yang menyatakan hal tersebut.
c. Permintaan untuk melaksanakan perbaikan yang disampaikan oleh
selama masa pemeliharaan, harus dilaksanakan oleh kontraktor hingga

BAB. I - 33
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

selesai, walaupun masa penyelesaian ini mungkin melewati batas


waktu pemeliharaan.
d. Pekerjaan seperti dinyatakan diatas, harus di laksanakan atas biaya
kontraktor tanpa hak untuk mengajukan tuntutan (klaim) tambahan
biaya.
e. Selama masa pemeliharaan Konsultan Pengawas masih berhak untuk
mengeluarkan Perintah Perubahan pekerjaan, dan kontraktor wajib
melaksanakan perintah tersebut.
f. Segera setelah masa pemeliharaan selesai dan setelah semua
permintaan perbaikan telah di laksanakan dan hasilnya telah dapat
diterima oleh Konsultan Pengawas serta memenuhi syarat – syarat
kontrak, maka Konsultan Pengawas akan membuat Berita Acara
Penyerahan Kedua, yang ditanda tangani oleh Kontraktor dan Pemberi
Tugas serta di ketahui oleh Konsultan Pengawas.
g. Penanda tanganan Berita Acara Penyerahan Kedua tersebut tidak
berarti membebaskan pemborong dan pemberi tugas dari tanggung
jawab untuk memenuhi kewajiban – kewajibannya masing – masing
seperti ditentukan dalam kontrak, yang masih belum dilaksanakan.

Pasal 42 : Kantor Konsultan Pengawas dan Gudang Material.

Untuk dapat melaksanakan tugas pekerjaan administrasi lapangan,


penyimpangan barang/serta peralatan kerja dan tempat melaksanakan tugas
pekerjaan kasar selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, pemborong :

a. Diharuskan membuat :
1. Kantor Konsultan Pengawas (Konsultan Pengawas Keet), dengan
ukuran 6 x 10 meter (termasuk toilet) dengan bahan:
- Atap seng gelombang
- Lantai perkerasan beton tumbuk
- Dinding dari multiplex rangka kayu borneo
- Flapond dari triplex dan dicat

2. Papan nama proyek ukuran standar di daerah setempat.


3. Ruangan – ruangan dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh Pemberi
Tugas dan Konsultan Pengawas adalah :
- Ruang kerja unsur Konsultan Pengawas 3 m x 5 m.
- Ruang rapat 3 m x 6 m.
- Kamar mandi dan WC 1,5 x 2 m.
- Pantry 1,5 x 2 m.
- 1 (satu) buah meja rapat besar.
- 1 set kursi /meja tamu
- 10 (sepuluh) buah kursi rapat.
- 4 (empat) set meja tutiis.
- 1 (satu) buah white board dengan perlengkapan tulisnya
berukuran 90 x 120 cm.
- Rak dokumen.
BAB. I - 34
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

- Air minum
- AC

Pasal 43 : Penerangan Sumber Daya.

Pada los kerja, gudang dan tempat – tempat pelaksanaan pekerjaan yang
dianggap perlu, harus diberi penerangan listrik untuk sumber daya kerja yang
diusahakan pemborong.

Pasal 44 : Penjagaan / Keamanan.

a. Kontraktor wajib mengadakan penjagaan / keamanan yang baik dan


terus - menerus selama berlangsungnya pekerjaan, atas bahan,
peralatan mesin dan alat – alat kerja yang disimpan ditempat
pekerjaan (gudang lapangan).
Kehilangan yang diakibatkan kelalaian menjadi tanggung jawab
pemborong.
b. Kontraktor wajib mengadakan keamanan lingkungan proyek secara
fisik dan non fisik sampai selesai proyek.

Pasal 45 : Kecelakaan, Peti PPPK dan Keamanan.

a. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan ini


maka pemborong diwajibkan mengambil segala tindakan guna
kepentingan si korban, serta melapor kejadian tersebut kepada
instansi atau Departemen yang berwenang (Departemen Tenaga Kerja
dan Polisi dan mempertanggung jawabkan sesuai dengan peraturan
yang berlaku).
b. Peti PPPK dengan isinya yang selalu lengkap guna keperluan
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan harus ada ditempat pekerjaan.
c. Keamanan :
1. Selama pelaksanaan, pemborong diwajibkan memasang pagar
pengaman keliling bangunan, yang memenuhi syarat untuk
pengamanan.
2. Diperbolehkan membuat kantor pemborong, gudang material dan los
3. Pemadam kebakaran :
Selama pelaksanaan, pemborong diwajibkan menyediakan alat
pemadam kebakaran yang disesuaikan dengan keadaan lapangan
yang dihadapi, yaitu pada pelaksanaan pembangunan gedung yang
bertingkat pemborong wajib menyediakan alat pemadam kebakaran
pada tiap – tiap tingkat.
4. Penangkal petir :
Pekerjaan penangkal petir dilaksanakan secara bersamaan, sesuai
dengan jumlah tingkat yang sedang / telah dikerjakan, serta
memenuhi persyaratan yang berlaku.

BAB. I - 35
Rencana Kerja Dan Syarat - Syarat
Perencanaan Pembangunan dan Site Development Perumahan Kepala, Wakil, Sekretaris dan Deputi (BPKS)

5. Jaring jaring :
Selama pelaksanaan, pemborong diwajibkan memasang jaring yang
memenuhi syarat untuk pengamanan.

Pasal 46 : Kebersihan dan Ketertiban.

a. Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung di kantor, los kerja dan


tempat pekerjaan di laksanakan harus selalu bersih.
b. Penimbunan/penyimpanan barang dan peralatan, baik dalam gudang
maupun diluar (halaman) harus diatur sedemikian rupa sehingga
memudahkan jalannya pemeriksaan dan tidak mengganggu pekerjaan
lain bagian.
c. Tidak diperkenankan :
1. Buruh menginap ditempat pekerjaan, kecuali dibuat Barak untuk
Pekerja.
2. Memasak ditempat pekerjaan selama tidak mengganggu pelaksanaan
konstruksi.
3. Membawa masuk pedagang makanan, minuman, rokok dan
sebagainya yang sifatnya bebas.
4. Keluar masuk kompleks bangunan secara bebas.

d. Segera setelah pekerjaan selesai, pemborong harus memindahkan


semua sisa bahan dan peralatannya kecuali yang masih diperlukan
selama pemeliharaan.

Pasal 47 : Pengaturan Gambar RKS.

Kontraktor diharuskan menyediakan sedikitnya 1 (satu) set dokumen


pelaksanaan pekerjaan yaitu : Kontrak, RKS dan Gambar ditempat pekerjaan
yang ada dalam kedaaan rapi dan bersih yang dapat dilihat setiap saat oleh
Pemberi Tugas, Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana, serta yang
mengatur gambar – gambar revisi.

BAB. I - 36