Anda di halaman 1dari 2

Kekeringan Landa Delapan Provinsi di

Indonesia
Selasa, 28/07/2016

Reporter:Utami Diah Kusumastuti, CNN Indonesia

Salah satu telaga di Gunung Kidul mengering akibat kemarau panjang yang terjadi sejak akhir Juli ini.
(DetikFoto/BagusKurniawan)

"Semua provinsi ini sudah menggambarkan situasi di daerah masing-masing. Mereka perlu penanganan segera
terutama yang berkaitan dengan air bersih dan air minum, " kata Junjungan saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa
(28/7).

Menurut keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa musim kemarau bersifat lebih
kering karena terjadi pemanasan suhu muka laut di pasifik timur dan tengah Asia yang berdampak massa uap air di
perairan Indonesia tertarik ke wilayah tersebut. Prediksi BMKG puncak kemarau masih akan terjadi pada Agustus
mendatang.(Baca Juga: Kekeringan dan Kebakaran Lahan Mengancam Indonesia)

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan akibat bencana
kekeringan, krisis air sudah terjadi di pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Imbas krisis air salah satunya berdampak ke pertanian. Misalnya, pertanian di berbagai wilayah daerah di Jawa
Timur seluas 20.978 hektare telah kering kerontang.

"Saat ini lahan pertanian yang terkena dampak kekeringan di berbagai daerah di Jawa Timur seluas 20.978 hektare
dan puso 788,8 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur Wibowo Eko Putro kepada Detik.com,
Senin (27/7).

Selain pertanian, ancaman kekeringan dan krisis air juga melanda warga di DIY Yogyakarta. Sebanyak 384 dusun di
DIY terancam krisis air bersih.
"Dari ratusan dusun tersebut paling banyak yang mengalami krisis air bersih ada di Kabupaten Gunung Kidul. Lalu,
Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Yogyakarta," kata Komandan Tim Reaksi Cepat
Tanggap BPBD DIY, Pristiawan Buntoro.