Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Panji Nourel

1506749211
HAPTU B

2. Bagaimana pemahaman Saudara tentang terminologi ini, dan berikan alas hukumnya.
a. Pembuktian bebas tapi terbatas
b. Tenggang waktu 90 hari untuk menggugat
c. Kedudukan Penggugat dan Tergugat yang tidak seimbang
Jawab :
a. Sistem pembuktian yang mengarah pada pembuktian bebas (vrijbewijs) yang terbatas.
Ketentuan Pasal 107 UU No. 5 Tahun 1986 (UU tentang PTUN) menentukan luasnya
pembuktian, sedangkan ketentuan Pasal 100 UU No.5 Tahun 1986 membatasi alat-alat
bukti. Hakim TUN tidak seluruhnya bebas dalam menentukan jalannya pembuktian. Ia
hannya bebas menentukan apa yang harus dibuktikan, menentukan beban pembuktian.
Sedang mengenai hasil pembuktian ia dibatasi oleh ketentuan kalimat akhir dari Pasal
107 UU No.5 Tahun 1986.1

b. Tenggang waktu gugat adalah batas waktu atas kesempatan yang diberikan oleh UU
kepada seseorang atau Badan hukum perdata untuk memperjuangkan haknya dengan cara
mengajukan gugatan. Bila tenggang waktu tersebut tidak dipergunakan maka kesempatan
untuk mengajukan gugtan menjadi hilang dan gugatan akan dinyatakan tidak diterima.2
Tenggang waktu 90 hari dalam ketentuan Pasal 55 UU No. 5 Tahun 1986 ternyata tidak
ada ketentuan pengecualiannya, artinya selalu dihitung sejak diterimanya atau setelah
diumumkannya kebutusan Badan atau Jabatan TUN yang digugat. Apabila yang hendak
digugat itu keputusan TUN yang membuka upaya administratif, maka tenggang waktu
90 hari untuk mengajukan gugatan harus dihitung sejak hari diterimanya atau
diumumkannya KTUN oleh Badan/Jabatan TUN yang menangani/memutus upaya

1
Indroharto, Usaha Memahami UU Tentang PTUN, Buku II Beracara di PTUN, (Jakarta: Sinar Harapan,
2005), hlm. 200.
2
Soemaryono dan Anna Erliyana, Tuntunan Praktik Beracara di PTUN, (Jakarta: Primamedia Pustaka
Gramedia, 1999), hlm. 2-3.
administratif yang bersangkutan. Bila tidak terbuka upaya administratif, maka tenggang
waktu 90 hari tersebut sudah dapat dihitung sejak diterimanya atau diumumkannya
KTUN semula.

c. Kedudukan Penggugat (seseorang atau Badan hukum perdata menurut Pasal 1 butir 6 jo.
Pasal 53 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1986) diasumsikan dalam posisi yang lebih lemah
dibandingkan Tergugat (Badan atau Pejabata TUN menurut Pasal 1 butir 6 UU No. 5
Tahun 1986). Apalagi pada saat pembuktian, biasanya alat bukti yang diperlukan dalam
proses persidangan tidak memiliki oleh penggugat yang pada umumnya rakyat biasa,
melainkan dimiliki oleh tergugat selaku pemegang kekuasaan publik, maka dari itu
kompensasi diperlukan mengingat kedudukan Penggugat dan Tergugat dalam PTUN
yang tidak seimbang.3

6. Apa saja yang saudara pahami tentang Keputusan elektronik, ketentuan mana yang
mengatur dan bagaimana kekuatan hukumnya?

Jawab :

Dalam Pasal 1 butir 11 UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan,


ditentukan bahwa yang dimaksud dengan Keputusan berbentuk elektronis adalah
keputusan yang dibuat atau disampaikan dengan menggunakan atau memanfaatkan media
elektronik. Keputusan elektronis diatur lebih lanjut dalam Pasal 38 UU No. 30 Tahun
2014 ayat 1 sampai 6. Pejabat dan / atau Badan Pemerintahan dapat membuat Keputusan
berbentuk elektronis.4 Keputusan berbentuk elektronis wajib dibuat atau disampaikan
apabila keputusan tidak dibuat atau tidak disampaikan secara tertulis seperti yang diatur
dalam pasal 38 ayat 2 UU No. 30 Tahun 2014. Berdasarkan ketentuan yang terdapat
dalam Pasal 38 ayat 3 UU No. 30 Tahun 2014, dapat diketahui bahwa keputusan
berbentuk elektronis berkekuatan hukum sama dengan keputusan yang tertulis dan
berlaku sejak diterimanya keputusan tersebut oleh pihak yang bersangkutan. Jika

3
Soemaryono dan Anna Erliyana, Tuntunan Praktik Beracara di PTUN, hlm. 1.
4
Indonesia, Undang-Undang tentang Administrasi Pemerintahan, UU No. 30 Tahun 2014, Pasal 38 ayat (1).
keputusan dalam bentuk tertulis tidak disampaikan, maka yang berlaku adalah keputusan
dalam bentuk elektronis (Pasal 38 ayat 4). Dalam hal terdapat perbedaan antara
keputusan dalam bentuk elektronis dan keputusan dalam bentuk tertulis, yang berlaku
adalah keputusan dalam bentuk tertulis (Pasal 38 ayat 5). Namun. Berkaitan dengan hal
tersebut, Pasal 62 ayat (1) UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi menyatakan
bahwa keputusan dapat disampaikan melalui pos tercatat, kurir, atau sarana elektronis.
Dan yang dimaksud deångan “sarana elektronis” antara lain faksimile, surat elektronik
dan sebagainya (Penjelasan Pasal 62 ayat (1)). Keputusan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus segera disampaikan kepada yang bersangkutan atau paling lama lima hari
5
kerja sejak ditetapkan. Keputusan yang ditujukan bagi orang banyak atau bersifat
6
massal disampaikan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak ditetapkan keputusan
yang diumumkan melalui media cetak, media elektronik, dan/atau media lainnya mulai
berlaku paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak ditetapkan. 7 Dalam hal terjadi
permasalahan dalam pengiriman sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Badan dan/atau
Pejabat Pemerintahan yang bersangkutan harus memberikan bukti tanggal pengiriman
dan penerimaan.8

5
Ibid., Pasal 62 ayat (2).
6
Ibid., Pasal 63 ayat (3).
7
Ibid., Pasal 63 ayat (4).
8
Ibid., Pasal 62 ayat (5).