Anda di halaman 1dari 5

APLIKASI KOLOID

Adsorpsi merupakan peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan zat


lain. Zat yang diserap disebut fase terserap (adsorbat), sedangkan zat yang
menyerap disebut adsorben. Apabila terjadi penyerapan ion ada permukaan
partikel koloid maka partikel koloid dapat bermuatan listrik yang muatannya
ditentukan oleh muatan ion-ion yang mengelilinginya.
Zat-zat yang terdispersi dalam sistem koloid dapat memiliki sifat listrik
pada permukaannya. Sifat ini menimbulkan gaya Van der waals bahkan ikatan
valensi yang dapat mengikat partikel-partikel zat asing. Gejala penempelan zat
asing pada permukaan partikel koloid disebut adsorpsi. Zat-zat teradsorpsi dapat
terikat kuat membentuk lapisan yang tebalnya tidak lebih dari satu atau dua
lapisan partikel. Jika permukaan partikel koloid mengadsorpsi suatu anion maka
koloid akan bermuatan negatif. Jika permukaan partikel koloid mengadsorpsi
suatu kation maka koloid akan bermuatan positif. Jika yang diadsorpsi partikel
netral, koloid akan bersifat netral. Oleh karena kemampuan partikel koloid dapat
mengadsorpsi partikel lain maka sistem koloid dapat membentuk agregat sangat
besar berupa jaringan, seperti pada jel. Sebaliknya, agregat yang besar dapat
dipecah menjadi agregat kecil-kecil seperti pada sol. http://zenius-
study.weebly.com/uploads/6/7/3/3/6733740/kimia_224.pdf
Partikel koloid mempunyai kemampuan untuk menyerap ion atau muatan
listrik pada permukaannya. Peristiwa penyerapan pada permukaan ini disebut
adsorpsi. Beberapa contoh pemanfaatan sifat adsorpsi koloid :
a. Penyembuhan sakit perut yang diakibatkan oleh bakteri patogen dengan
menggunakan serbuk karbon/oralit. Hal ini dimungkinkan karena serbuk
karbon/oralit di dalam usus dapat membentuk sistem koloid yang mampu
mengabsorpsi dan membunuh bakteri patogen.
b. Penjernihan air keruh dengan tawas. Larutan tawas akan membentuk
koloid yang akan mampu mengadsorpsi kotoran sehingga gumpalan yang
selanjutnya akan mengendap karena gaya beratnya.
c. Penjernihan cairan tebu pada pembuatan gula pasir menggunakan tanah
diatomae. Sistem koloid yang terbentuk akan menyerap zat warna dari
cairan gula yang dialirkan melewatinya. (Anonim.2008.Bahan Ajar Kimia
Dasar. Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta)
Ketika terjadinya adsorpsi pada penjernihan air, terdapat pula proses
pengendapan zat terlarut (yang membuat larutan menjadi keruh), maka
dibutuhkan koagulan. Senyawa koagulan adalah senyawa yang mempunyai
kemampuan mendestabilisasi koloid dengan cara menetralkan muatan listrik pada
permukaan koloid sehingga koloid dapat bergabung satu sama lain membentuk
flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga mudah mengendap.
Penambahan dosis koagulan yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan
kekeruhan yang lebih rendah. Dosis koagulan yang dibutuhkan untuk pengolahan
air tidak dapat diperkirakan berdasarkan kekeruhan, tetapi harus ditentukan
melalui percobaan pengolahan. Tidak setiap kekeruhan yang tinggi membutuhkan
dosis koagulan yang tinggi. Jika kekeruhan dalam air lebih dominan disebabkan
oleh lumpur halus atau lumpur kasar maka kebutuhan akan koagulan hanya
sedikit, sedangkan kekeruhan air yang dominan disebabkan oleh koloid akan
membutuhkan koagulan yang banyak. Koagulan dapat berupa garam-garam logam
(anorganik) atau polimer (organik). Polimer adalah senyawa-senyawa organik
sintetis yang disusun dari rantai panjang molekul-molekul yang lebih kecil.
Koagulan polimer ada yang kationik (bermuatan positif), anionik (bermuatan
negatif), atau nonionik (bermuatan netral). Sedangkan koagulan anorganik
mencakup bahan-bahan kimia umum berbasis aluminium atau besi. Ketika
ditambahkan ke dalam contoh air, koagulan anorganik akan mengurangi
alkalinitasnya sehingga pH air akan turun. Koagulan organik pada umumnya tidak
mempengaruhi alkalinitas dan pH air. (Prima kristijarti, Ign Suharto, Marieanna.
2013. Laporan penelitian: penentuan jenis koagulan dan dosis optimum untuk
meningkatkan efesiensi sedimentasi dalam instalsi pengolahan air limbah pabrik
jamu X: parahyangan. Universitas katolik parahyangan)

Proses penjernihan air


Untuk memperoleh air bersih perlu dilakukan upaya penjernihan air.
Kadang-kadang air dari mata air seperti sumur gali dan sumur bor tidak dapat
dipakai sebagai air bersih jika tercemari. Air permukaan perlu dijernihkan
sebelum dipakai. Upaya penjernihan air dapat dilakukan baik skala kecil (rumah
tangga) maupun skala besar seperti yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM). Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-
partikel koloid tanah liat, lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan
negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus
dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu
dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3. Ion Al3+ yang terdapat
pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH) 3 yang
bermuatan positif melalui reaksi:

Al3+ + 3H2O  Al(OH)3 + 3H+

Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel


koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut
kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh
gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:

Gambar 1. proses penjernihan air


Beberapa fasilitas dalam pemprosesan air bersih antara lain : intake,
menara air, clarifier, pulsator, filter, dan reservoir. Semua perlatan –
peralatan tadi dapat dioperasikan melalui system computer yang ada.
Selain berbagai macam peralatan, juga digunakan bahan kimia
seperti : kaporit dan tawas dalam proses pengolahan air bersih. Air
yang diproduksi dipantau kualitasnya oleh laboratorium. Sehingga air
yang dihasilkan selalu memenuhi standar kesehatan air bersih.

Sumber: http://pengolahanairbaku.blogspot.co.id/2011/06/proses-pengolahan-air-
baku-menjadi-air.html
Skema proses penjernihan air pada system pengolahan air

Gambar 2. Skema proses penjernihan air pada sistem pengolahan air


bersih
1. Intake, proses pemompaan air baku sungai untuk dialirkan ke dalam sumur
penyeimbang.
2. Aerator, dimaksudkan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut (DO) dalam
air baku, yang disebut proses aerasi. Peningkatan kadar oksigen terlarut
tersebut berguna untuk menurunkan kadar besi, mangan, bahan organik,
ammonia dan sebagainya.
3. Prasedimentasi, proses ini dimaksudkan untuk mengendapkan partikel diskret
atau partikel kasar atau lumpur. Partikel diskret adalah partikel yang tidak
mengalami perubahan bentuk dan ukuran selama mengendap di dalam air.
4. Flash Mixer, adalah unit pengadukan cepat yang berfungsi untuk melarutkan
koagulan ke dalam air sehingga homogen. Flash Mixer merupakan bagian dari
preoses koagulasi-flokulasi.
5. Clearator, disinilah proses koagulasi dan flokulasi terjadi, dimana pada proses
koagulasi, koagulan dicampur dengan air baku selama beberapa saat hingga
merata. Setelah pencampuran ini, maka akan terjadi destabilisasi koloid yang
terdapat pada air baku. Koloid yang sudah kehilangan muatannya atau
terdestabilisasi mengalami saling tarik menarik sehingga cenderung untuk
membentuk gumpalan yang lebih besar.
6. Filter, Bangunan untuk menghilangkan partikel yang tersuspensi dan koloidal
dengan cara menyaringnya dengan media filter.
7. Desinfeksi, desinfeksi air minum bertujuan membunuh bakteri patogen yang
ada dalam air.
8. Reservior, reservoir merupakan bangunan tempat penampungan air bersih
sebelum didistribusikan ke rumah para pelanggan