Anda di halaman 1dari 6

RESUM GENETIKA LANJUT

Percobaan Hershey-Chase

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genetika Lanjut Yang Dibimbing Oleh

Prof. Dr. A.D. Corebima, M. Pd.

The Learning University

Oleh:
Mushoffa (1703864553)

Off C

PENDIDIKAN BIOLOGI PROGRAM MAGISTER


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Januari 2018
Percobaan Hershey-Chase

A. Resum

Pada tahun 1952, Alfred Hershey dan Martha Chase melakukan percobaan untuk
membuktikan bahwa DNA merupakan materi genetik bacteriophage. Dari hasil percobaan ini
mereka mendapatkan nobel pada tahun 1969. Awalnya peneliti mengira bahwa bacteriophage
menginjeksi sel bakteri (inang) dan memasukkan protein yang terdapat pada bacteriophage
tersebut ke dalam sel inang dan bukan materi genetiknya. Percobaan ini untuk membuktikan
bahwa DNA adalah meteri genetik dari bacteriophage (virus) dan aliran genetik terjadi pada
bacteriophage, yakni bacteriophage menginjeksikan DNA miliknya ke dalam sel inang (bakteri)
dan bukan memasukkan protein dari bacteriophage (Gardner, 1991).
Dalam eksperimen Hershey–Chase, percobaan menggunakan bacteriophage T2 (Phage
T2), dan bakteri yang diguanakan adalah Escherichia coli. Phage T2 memiliki komponen DNA
dan protein. Untuk menandai antara molekul DNA dan protein dari bacteriophage menggunakan
bahan radioaktif yang berbeda. Bahan radioaktif yang digunakan adalah isotop radioaktif 32P
(pelabelan DNA bacteriophage) dan isotop radioaktif 35S (pelabelan protein bakteiofage).
Eksperimen Hershey–Chase ini memanfaatkan perbedaan substansi yang terdapat pada DNA dan
protein dari bacteriophage. Protein pada bacteriophage mengandung sulfur dan tidak
mengandung fosfor, sedangkan DNA bakterifage mengandung fosfor dan tidak mengandung
sulfur. Dari perbedaan mendasar tersebutlah Hershey – Chase, membuat 2 macam eksperimen
sederhana.
Percobaan yang dilakukan oleh Hershey dan Chase ini meliputi dua tahapan atau proses,
yaitu tahap pertama dengan unsur fosfor-32 radioaktif (isotop radioaktif) sebagai indikator dan
selanjutnya tahapan kedua yaitu dengan menggunakan belerang-35 radioaktif sebagai indikator.
Singkat kata, percobaan Hershey dan Chase ini juga ingin membuktikan mengenai siapa yang
bertanggungjawab atas pemrograman ulang tubuh inang untuk memproduksi virus dalam jumlah
besar. Protein (bukan DNA) mengandung unsur belerang dan unsure-unsur radioaktif yang
digunakan dalam percobaan ini hanya masuk kedalam protein dari faga tersebut. Pada DNA
dapat ditemukan unsur fosfor, dan unsur ini tidak ditemukan pada asam amino yang merupakan
komponen dasar protein.
 Eksperimen 1- 32 P (Isotop radioaktif 32Fosfor)
Percobaan yang pertama yaitu dengan pelabelan menggunakan isotop radioaktif 32P pada
DNA bacteriophage. Pertama-tama dilakukan pelabelan DNA phage, dengan menumbuhkan
bacteriophage dalam medium yang berisi radioaktif fosfat (32P), pada keadaan normal isotop 31P.
Kemudian bacteriophage dibiakkan dalam medium yang sudah berisi bakteri E. coli (inang),
bacteriophage dibiarkan menginjeksi sel inang, lalu dilakukan pemblenderan, yang bertujuan
untuk memisahkan antara bacteriophage dengan inang (bakteri E. coli). Selanjutnya dilakukan
sentrifugal untuk mendapatkan pellet (endapan yang berisi materi bakteri E. coli), sedangkan
bacteriophage T2 yang lebih ringan akan teripisah dan berada di atas endapan (pellet). Hasilnya,
setelah diamati bagian endapan (pellet) yang berisi materi bakteri mengandung isotop radioaktif
32P, yang bersal dari DNA bacteriophage. Hasil tersebut membuktikan bahwa bacteriophage
menginjeksikan materi genetik berupa DNA ke dalam sel inang (bakteri).

Gambar 1 : Percobaan Hershey-Chase- Eksperimen 1 Menggunakan


Isotop Radiokatif 32P

 Eksperimen 2- 35S (Isotop radioaktif 35Belerang)

Percobaan yang kedua yaitu dengan pelabelan menggunakan isotop radioaktif 35S pada
protein bacteriophage. Pertama-tama dilakukan pelabelan protein selubung dari phage,
dengan menumbuhkan bacteriophage dalam medium yang berisi radioaktif sulfur (35S), pada
32
keadaan normal isotop S. Kemudian bacteriophage dibiakkan dalam medium yang sudah
berisi bakteri E. coli (inang), dan bacteriophage dibiarkan menginjeksi sel inang, lalu
dilakukan pemblenderan, yang bertujuan untuk memisahkan antara bacteriophage dengan
inang (bakteri E. coli). Selanjutnya dilakukan sentrifugal untuk mendapatkan pellet (endapan
yang berisi materi bakteri E. coli), sedangkan bacteriophage T2 yang lebih ringan akan
terpisah dan berada di atas endapan (pellet). Hasilnya, setelah diamati bagian endapan
35
(pellet) yang berisi materi bakteri tidak ditemukan isotop radioaktif S, sedangkan isotop
radioaktif 35S ditemukan pada cairan di atas pellet. Hal ini menunjukkan bahwa protein virus
tidak ikut masuk ke dalam sel bakteri.

Gambar 1 : Percobaan Hershey-Chase- Eksperimen 2 Menggunakan


Isotop Radiokatif 35 S

Daftar Pustaka

Gardner. 1991. Principles of Genetiks Eighth Edision. New York: John Wiley & Sons Peter J.
Russell. 2010. iGenetics : a Molecular Approach 3rd ed. San Francisco: Pearson Education, Inc.
Snustad, D. Peter., Michael J. Simmons. 2012. Principles of genetics 6th ed. New York: John
Wiley & Sons
Tamarin, R. H. 2001. Principles of Genetics, Seventh Edition. New York: The McGraw−Hill
Companies

B. Pertanyaan
1. Dalam eksperimen Hershey-Chase Bagaimana menggunakan radioaktif yang berbeda
untuk menandai DNA dan protein? Bagaimana hasil pengamatan radioaktivitas pada
eksperimen Hershey-Chase? Berikan kesimpulan anda!
Jawab:
Dalam eksperimen Hershey-Chase cara menggunakan radioaktif yang berbeda untuk
menandai DNA dan protein adalah Pertama, T2 ditumbuhkan dengan E.coli dalam sulfur
radioaktif (35S) untuk menandai protein karena protein mengandung sulfur. Dengan cara yang
serupa, kultur T2 yang berbeda ditumbuhkan dalam fosfor radioaktif (32P) untuk menandai
DNA karena DNA mengandung fosfor. Kedua macam kultur mengandung T2 yang sudah
berlabel radioaktif tersebut kemudian dibiakkan secara terpisah bersama kultur E. Coli yang non
radioaktif. Setelah terjadi infeksi, kultur diblender untuk melepaskan bagian faga yang terdapat
di luar sel bakteri. Hasil blender kemudian diputar dengan sentrifus, sehingga ada bagian sel
yang membentuk pelet di dasar tabung sentrifus. Bagian lainnya yang lebih ringan berada di
dalam cairan (supernatan).
Dari hasil pengamatan radioaktivitas di dalam pelet dan supernatan, dapat dibuktikan
bahwa bakteri yang terinfeksi faga T2 yang berlabel radioaktif (35S) pada proteinnya, sebagian
radioaktifnya ditemukan di dalam supernatan. Hal ini membuktikan bahwa protein faga tidak
memasuki sel inang. Pada bakteri yang terinfeksi faga T2 yang DNA-nya ditandai dengan fosfor
radioaktif (32P), sebagian besar peletnya mengandung unsur radioaktif tersebut. Hal ini
membuktikan bahwa DNA virus memasuki sel inang.
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari eksperimen Hershey-Chase adalah bahwa DNA
virus masuk ke dalam sel inang, sementara sebagian besar protein tetap berada di luar. Masuknya
materi genetik kedalam tubuh bakteri akan menyebabkan terjadinya kerusakan program genetik
bakteri karena diambil alih oleh DNA virus. Hal ini menyebabkan virus dapat dengan mudah
memperbanyak diri selama di dalam tubuh bakteri. Dengan demikian percobaan Hershey-Chase
memberikan bukti bahwa DNA merupakan materi genetik.
2. Dalam eksperimen Fraenkel & Conrate mantel protein dari strain virus satu dicampur
dengan molekul RNA dari strain virus yang lain dalam kondisi yang mengakibatkan
pemulihan lengkap. Selanjutnya keturunan dari virus ini selalu memiliki fenotip dan
genotip yang identik dengan strain induk asal dari mana RNA diambil. Mengapa
demikian dan bagaimana kesimpulan dari eksperimen Fraenkel & Conrate?
Jawab:
Dalam eksperimen Fraenkel & Conrate mantel protein dari strain virus TMV satu dicampur
dengan molekul RNA dari strain virus TMV yang lain dalam kondisi yang mengakibatkan
pemulihan lengkap. Selanjutnya keturunan dari virus ini selalu memiliki fenotip dan genotip
yang identik dengan strain induk asal dari mana RNA diambil. Keturunan yang identic dengan
strain induk asal dari mana RNA diambil tersebut, menjelaskan bahwa informasi genetic
penyusun tubuh (fag) virus TMV telah tersimpan dalam RNA bukan dalam mantel protein.
Sehingga walaupun mantel protein diperoleh dari strain virus TMV yang lain, tetap tidak akan
mempengaruhi pembentukan mantel protein pada keturunnya. Kesimpulan dari eksperimen
Fraenkel & Conrate adalah informasi genetik virus MTV tersimpan dalam RNA, bukan dalam
protein mantel.