Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BPK HW KHUSUSNYA

IBU HS DENGAN GASTRITIS DI WILAYAH RW 04 KELURAHAN


TUGU CIMANGGIS DEPOK

Oleh
SURATINI
NPM : 0906505035

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN


KEKHUSUSAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2011
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA BAPAK HW DENGAN
GASTRITIS PADA IBU HS DI WILAYAH RW 04 KELURAHAN TUGU
CIMANGGIS
I. Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga : Bpk HW
2. Umur : 30 tahun
3. Alamat : RT 01/RW 04 Kelurahan Tugu Cimanggis
4. Pekerjaan KK : Guru
5. Pendidikan KK : Perguruan Tinggi
6. Komposisi Anggota Keluarga :
Jenis Hub dgn
No. Nama Umur Pendidikan Pekerjaan
Kelamin KK
1. Ibu. HS P Ibu 63 th SMP Ibu RT
2. Ibu. Si P Istri 25 th SMP Ibu RT
3. An. R L Anak 4 th - -

Genogram keluarga :

Keterangan :
: Laki-laki

: Wanita

: Meninggal dunia

: Pasien
...................... : Tinggal dalam satu rumah
7. Tipe keluarga : Keluarga besar (Ekstended family). Keluarga bapak HW terdiri atas
Ibu bapak HW yaitu Ibu HS, Istri Bapak HW Yaitu Ny. Mt dan Anak M sebagai
putra dari pasangan Ibu Mt dan Bapak HW

8. Suku bangsa: Jawa Ibu HS mengatakan keluarga tidak memiliki kebiasaan khusus
dalam keluarga yang mempengaruhi status kesehatan keluarga yang diajarkan
turun-temurun dari orang tua kakek neneknya. Ibu HS mengatakan hanya diajari
cara merawat anak dari bayi sampai dewasa dengan penuh sayang dan perhatian,
mencukupi kebutuhan pangan dan kesehatannya.

9. Agama : Islam. Kegiatan keagamaan keluarga Bp HW baik, sholat lima waktu


dilakukan dan rajin mengikuti pengajian di masjid dekat rumahnya. Anak-anak
mulai ditanamkan nilai-nilai agama dengan ikut TPA. Ibu HS ikut kegiatan
pengajian di masjid dan kadang ikut dzikir bersama untuk lansia di wilayah RW
04.

10. Status sosial ekonomi keluarga : BPK HW bekerja sebagai guru sebuah SMA
swasta di wilayah Tugu dengan penghasilan sekitar 2 - 3 juta perbulan. Ibu HS
tidak bekerja dan menggantungkan kehidupan keluarganya pada penghasilan anak-
anaknya yang tinggal di sekitar Cimanggis. Ibu HS memiliki uang simpanan untuk
keperluan kesehatan ataupun kepentingan yang mendadak jika ada anak-anak atau
anggota keluarga yang sakit. Ibu HS memiliki jaminan atau asuransi kesehatan
bagi dirinya bila sewaktu-waktu sakit. Ibu HS mengatakan bisa menyimpan uang
yang diberikan anak-anaknya setiap bulan karena untuk makan dan kebutuhannya
sudah dipenuhi bapak HW yang tinggal dan hidup bersamanya.

11. Rekreasi Keluarga : Keluarga tidak ada waktu khusus untuk berekreasi bersama
karena Bapak HW sibuk dengan pekerjaan mengajar di SMA swasta di wilayah
Tugu dan bimbingan belajar / les anak-anak didiknya di luar jam pelajaran. Ibu HS
aktif dalam kegiatan senam lansia yang diadakan di wilayah RW 04 setiap selasa
sore. Ibu HS lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengasuh cucunya Anak
M di rumah dan memasak serta beberes rumah bersama menantunya. Hiburan
keluarga hanya melihat TV atau mendengarkan musik jawa dirumah.

12. Pola kebiasaan sehari – hari.


a. Pola Makan
Ibu HS mengatakan pola makan keluarga teratur begitu juga dengan dirinya,
Akan tetapi dari mulai remaja memiliki kebiasaan makan tidak teratur suka
makan pedas, dan asam sampai terkena maag. Ibu HS dan keluarga memiliki
kebiasaan makan 3 x sehari tetapi kadang-kadang lebih dari 3x sehari. Ibu HS
mempunyai pantangan terhadap makanan yang pedas dan asam apabila
menginginkan makan makanan pedas biasanya ibu HS memasak dengan cabe
tetapi isinya di keluarkan. Menu makanan sehari-hari keluarga adalah nasi, tahu,
tempe, sayur, ayam, daging dan makan buah-buahan setiap hari secara
bervariasi. Ibu HS juga terkena diabetes sehingga memantang makanan yang
banyak mengandung gula akan tetapi diet yang dijalani kadang dilanggar jika
melihat banyak makanan tersedia di acara-acara undangan yang menyebabkan
gula darah ibu HS meningkat dan maagnya kambuh. Ibu HS mengatakan
kadang merasa cepat lapar sehingga kadang makan makanan apa saja yang
disediakan oleh menantunya di meja makan.
b. Pola Minum
Keluarga Ibu W biasa minum air putih kurang lebih 7-8 gelas per hari / orang.
Pada pagi dan malam hari biasanya minum teh manis yang hangat yang encer.
Ibu HS mengatakan sering merasa haus sehingga harus banyak minum air putih
hangat.
c. Pola Istirahat dan Tidur
Ibu HS mengatakan keluarganya biasa tidur pukul 20.30 – 04.30 WIB. Tetapi
tidak tentu karena Ibu HS terkadang bangun jam 02.00 atau jam 03.00 malam
dan kemudian tidak bisa tidur lagi. Ibu HS jika tidak dapat tidur lagi biasanya
melakukan sholat malam dan membaca Al-qur’an kemudian menonton acara
TV. Apabila banyak fikiran ibu HS mengalami kesulitan tidur sehingga siang
hari banyak tidur. Anggota Keluarga Bpk HW tidak mengalami kesulitan dalam
tidur.
d. Pola Eliminasi
Ibu HS mengatakan dirinya dan keluarga biasa BAB 1 sampai 2 kali sehari dan
BAK ± 5 – 6 kali sehari. Ibu HS mengatakan sering kencing bila minumnya
banyak.
e. Personal Hygiene
Ibu HS mengatakan bahwa keluarganya biasa mandi dua kali sehari yaitu pagi
dan sore, mandi menggunakan sabun, keramas satu minggu tiga kali
menggunakan shampo. Gosok gigi dua kali sehari, sedangkan untuk
menggunting kuku Ibu HS dan keluarga tidak tentu dengan pasti, keluarga
menggunting kuku jika kuku sudah panjang.
f. Pola Aktivitas
Ibu HS mengatakan sehari-harinya dia tinggal di rumah paling pagi ikut bantu
bantu Ibu Mt untuk beberes rumah dan memasak. Tetapi kesahariannya Ibu HS
jarang keluar ataupun berpergian. Di rumah biasanya nonton TV, tidur siang
dan mengasuh cucunya. Sedangkan Bpk HW bekerja sebagai guru sebuah SMU
swasta berangkat pagi pukul 06.00 – 17.00 WIB.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


13. Tahap perkembangan keluarga saat ini :
Tugas perkembangan keluarga dengan lansia diamana Ibu HS yang bertatus
sebagai Ibu rumah Tangga telah dapat menyesuaikan dengan keadaanya yaitu
ditinggal pasangan hidupnya dan harus memikirkan segala masalah keluarga
dengan anak-anaknya. Ibu HS menghabiskan waktunya untuk mengasuh cucunya
yang tinggal bersamanya. Banyaknya masalah yang terjadi pada anak-anaknya
membuat Ibu HS lupa makan, makan kadang tidak teratur. Ibu HS memikirkan
anak pertamanya yang kurang baik hubungannya dengan Ibu HS dan kurang setuju
menikah dengan istrinya saat ini. Ibu HS juga banyak memikirkan anak keduanya
yang paling tidak mampu tetapi paling sayang dengan orang tua sehingga sampai
saat ini belum mapan keluarganya bila dibandingkan dengan anak-anak lain.

14. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Semenjak di tinggal pasangan hidupnya tahun 2005 Ibu HS tidak ada lagi kawan
untuk berbagi rasa, apalagi saling merawat sehingga dia merasa beban kehidupan
yang sulit harus ditanggung dirinya sendiri. Akan tetapi Ibu HS dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut dengan selalu mendekatkan diri
kepada Tuhan dan selalu memanggil anak keduannya bila ada masalah untuk
berbagi rasa. Ibu HS juga merasakan penghasilannya sangat berkurang setelah
suaminya meninggal dan hanya mendapatkan nafkah dari pensiun suaminya serta
bantuan biaya hidup dari anak-anaknya setiap bulan. Ibu HS selalu mengumpulkan
anak-anaknya setiap bulan dirumah untuk menjaga keakraban dan
mempertahankan kasih sayang diantara anak-anak ibu HS. Dalam setiap
perkumpulan mengkomunikasikan semua masalah yang terjadi dalam masing-
masing keluarga dan memecahkan masalahnya bersama. Ketika Ibu HS sakit-
sakitan mereka saling bergaian berkunjung untuk memantau kesehatan. Riwayat
keluarga Ibu HS adalah pedagang kain keliling semenjak tahun 1970 yang berasal
dari Sukoharjo Jawa Tengah. Ibu HS sering mengkonsumsi makanan yang pedas,
bersantan. Ibu HS juga telah menderita diabetes selama kurang lebih 3 tahun dan
hipertensi 3 tahun belakangan ini.

15. Riwayat keluarga inti


Ibu HS dan suaminya adalah orang pendatang yang berasal dari solo jawa tengah
akan tetapi karena suami ibu HS sebagai seorang TNI yang sering berpindah-
pindah dan akhirnya hampir 15 tahun tinggal dan menetap di kelurahan Tugu.
Menantu Ibu HS mayoritas orang jawa yang tinggal dan merantau di wilayah
kecamatan cimanggis. Ibu HS memiliki 6 orang anak yang saat ini tinggal di
kecamatan cimanggis dan ibu HS tinggal dan hidup bersama anak bungsunya,
menantu dan cucunya.
16. Riwayat keluarga sebelumnya
Keluarga Ibu HS dan Bapak K suaminya almarhum adalah berasal dari orang Solo
yang tinggal dan menetap di satu wilayah kecamatan kemudian mereka menikah
dan setelah menikah Ibu HS dan Bapak K sering berpindah tempat tinggal karena
tugas bapak K selaku TNI.

III. Lingkungan
17. Karakteristik rumah
Rumah terletak didalam perkampungan penduduk dan merupakan milik sendiri.
Luas rumah 11 x 11 Meter permanen. Terdiri dari 5 kamar tidur, 1 ruang tamu dan
keluarga, 1 ruangan makan dengan dapur yang dipisahkan dengan sekat permanen.
Rumah terdiri dua lantai, lantai atas digunakan sebagai kontrakan. Luas masing-
masing kamar 3 X 3 meter dan masing-masing memiliki jendela. Cahaya masuk
rumah karena jendela dan pintu sering dibuka, ventilasi udara baik sehingga
ruangan terlihat luas dan bersih. Kamar mandi dan WC 1 X 2 Meter. Sumber air
minum berasal dari sumur pompa yang berjarak 10 Meter dari septik tank. Air
limbah rumah tangga alirkan ke sapti thank di belakang rumah. Penerangan rumah
dari listrik. Ibu HS dan Ibu M memasak menggunakan kompor gas. Ruangan
terlihat berantakan dan berserakan mainan anak-anak. Lantai terlihat kering dan
bersih dan terbuat dari tegel. Ibu M mengatakan membersihkan rumah dengan
menyapu dan dipel sesempatnya. Rumah memiliki teras dan halaman yang cukup
luas yang bisa digunakan untuk menanam tanaman bunga. Teras cukup luas bisa
digunakan untuk bermain cucunya dan parkir motor

Denah Rumah :

Dapur
R. Makan R.Tidur

R. Tamu R. Tidur R. Tidur

Teras
Ibu HS mengatakan merasa nyaman tinggal dan hidup di rumahnya karena rumah
merupakan peninggalan suaminya dan hasil jerih payah mereka berdua.
Pembuangan sampah biasanya dikumpulkan di dulu dengan kantong kresek
kemudian di buang di tempat pembuangan sampah umum.

18. Karakteristik tetangga dan komunitas :


Rumah Keluarga Bpk HW berdempeten dengan rumah tetangganya dan berjarak
kuarang dari meteran dari tetangga sebelah barat rumahnya. Dibatasi oleh tembok
dan sebelah timunya rumah sangat berdempetan dengan tetatanggu rumahnya hanya
di batasi dengan tempok sebagi pemisah rumah. Jalan ke rumah di depan rumah
keluarga Bpk. HW cukup luas dan mudah dilalui oleh kendaraan baik mobil
maupun motor. Lingkungan dengan satus sosial ekonomi rata-rata menengah ke
bawah. Fasilitas-fasilitas ekonomi seperti warung dijalan utama masuk rumah dari
jalan raya di tepi jalan tersebut banyak penjual sayuran maupun warung yang
menyediakan kebutuhan rumah tangga. Puskesmas ada di wilayah RW 12 dengan
jarak kurang lebih 2 Km, di wilayah RT 02 terdapat klinik pengobatan mercy yang
buka setiap hari dengan jarak 200 meter dari rumah dan dapat ditempuh dengan
jalan kaki atau dengan naik sepeda motor. Lingkungan cukup aman terutama dari
pencurian, akan tetapi jalan utama cukup padat sepeda motor dan kendaraan pribadi
banyak melintas sehingga beresiko terhadap kecelakaan saat jalan kaki ataupun
mengendarai kendaraan bermotor.

19. Mobilitas geografis keluarga


Keluarga Ibu HS pindah ke kelurahan Tugu sejak tahun 1991 dan tidak pernah
pindah dari Kelurahan Tugu. Keluarga hanya berpergian ke Jawa Tengah ketempat
saudara Orang tua atau keluarga menantunya bila ada acara keluarga.
20. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyakarat
Keluarga Bpk. HW berinteraksi dengan tetangga relatif jarang karena
kesibukkannya mengajar hanya pada hari libur seperti minggu kadang ikut ronda.
Bpk HW aktif mengikuti pengajian dan arisan dengan tetangga, serta pos ronda. Ibu
Mt berinteraksi ke tetangga dengan baik dengan berkunjung saat tidak ada
pekerjaan rumah sambil ngasuh anak M. Sedangkan Ibu HS aktif ikut kegiatan
pengajian di wilayah RT terdekat apabila kondisi badannya cukup baik. Ibu HS ada
keinginan melakukan kontrol rutin terhadap kesehatannya akan tetapi tidak ada pos
pembinaan terpadu di wilayah RW 04.

21. Sistem pendukung keluarga


Keluarga Bpk HW berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi jika
mengalami kesulitan keuangan keluarga meminta pinjaman untuk kebutuhan
keluarga pada saudaranya. Bapak HW mengatakan sering meningkatkan
komunikasi dengan Ibu Mt saja apabila ada permasalahan didalam keluarga dan
menyelesaikan permsalahan yang dihadapi secara berdua. Permasalahan yang
umumya dialami adalah masalah perekonomian didalam keluarganya. Akan tetapi
saudara – saudara Bpk HW sangat kompak apabila ada salah satu keluarga yang
tidak mampu biasanya akan saling berkunjung dan membantu. Mereka selalu
bergantian datang kerumah Bpk HW untuk memantau kesehatan Ibu HS dan
membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapai Ibu HS dan Bpk HW.

IV. Struktur Keluarga


22. Pola komunikasi keluarga
Bpk HW sangat perhatian kepada Ibu Mt sebagai istrinya. Keluarga sangat terbuka
mendiskusikan segala macam permasalahan keluarga maupun kesehatannya kepada
seluruh anggota keluarga. Hubungan Ibu Mt dan Ibu HS sangat baik dan erat
mereka sering melakukan pekerjaan rumah tangga secara bersama, dan ibu Mt
sebagai menantu sangat patuh dan tunduk kepada ibu HS. Keperluan rumah tangga
saling melengkapi apabila ibu Mt tidak memiliki uang maka yang belanja untuk
keperluan hidup sehari-hari ibu HS. Komunikasi terjalin dua arah dan saling
menghormati dan menyayangi antara anggota keluarga.

23. Struktur kekuatan keluarga


Pengambil keputusan adalah Bpk HW apabila terjadi masalah dalam keluarga,
yang memutuskan dalam pengguanaan keuangan keluarga adalah Bpk HW dan
yang mengoperasionalkan adalah Ibu Mt. Cara mengambil keputusan dalam
keluarga dengan memusyawarahkan dan berdiskusi bersama sehingga semua
anggota keluarga tahu keputusan yang dambil dan biasanya pengambilan keputusan
keluarga bersifat kebersamaan dan di dasari atas musyawarah keluarga besar.
Apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit terutama Ibu HS, Bpk HW
mendiskusikan dengan anggota keluarga terutama kakak-kakaknya dengan cara
menelpon kemudian berdasarkan hasil musyawarah bersama. Hasil keputusan
biasanya disampaikan kepada ibu Mt sebagai menantu dalam keluarga tersebut.
Masalah keuangan pembiayaan apabila Ibu HS harus sakit dan berobat biasanya
anak-anaknya akan iuran untuk menopang seluruh biaya pengobatan dan perawatan
termasuk yang menunggui ibu HS ketika dirawat.

24. Struktur peran keluarga


Peran formal:
Bpk HW berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah dan pengatur rumah
tangga dan berprofesi sebagai guru salah satu SMU swasta di wilayah Tugu. Ibu Mt
berperan sebagai pengatur kebutuhan keluarga, pendidik, dan pelindung anak.
An.M berperan sebagai anak. Anak M banyak bersosialisasi dengan anak-anak
sekitarnya terlihat saat bermain dengan teman-temannya banyak di rumahnya dan
sering ke TPA untuk mengaji dengan anak-anak sekitar rumahnya.
Peran informal:
Ibu Mt sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pengasuh anak. Yang berperan
sebagai pemimpin keluarga adalah Bpk HW karena Suami Ibu HS sudah meninggal
dunia. Semua keputusan-keputusan penting dalam keluarga di serahkan kepada Bpk
HW. Budaya dan Agama islam sangat mempengaruhi terkait dengan peran-peran
informal yang dilakukan oleh semua anggota keluarga. Orang tua merupakan orang
yang harus dihormati.
25. Nilai dan norma budaya
Keluarga Bpk HW menerapkan nilai-nilai Islam seluruh anggota keluarganya.
Aturan di keluarga berlaku berdasarkan nilai-nilai agama Islam. Aturan sesuai
budaya tertentu tidak ada diterapkan oleh keluarga.

V. Fungsi Keluarga

26. Fungsi afektif


Keluarga bapak HW memiliki keterikatan kasih sayang yang kuat antara anggota
keluarga satu dengan yang lainnya. Kakak-kakak bapak HW biasanya setiap bulan
saling mengunjungi dan sering berkunjung ke rumah keluarga bapak HW terutama
untuk melihat kondisi ibunya. Anak-anak Ibu HS sangat menyayangi ibu HS setiap
bulan secara bergiliran memantau kondisi kesehatan dan memberikan uang kepada
Ibu HS untuk keperluan hidupnya.

27. Fungsi sosialisasi


Keluarga Bpk HW memperbolehkan anggota keluarga bergaul dengan siapa saja,
dengan tetangga maupun teman-teman kantornya. Anak M diperbolehkan bermain
di lingkungannya dengan anak-anak yang ada di sekitarnya dan sangat akrab
dengan teman-teman mainnya. Hampir setiap hari terlihat anak-anak main di teras
dan ruang tamu juga tetangga sebelah sering berkunjung kermahnya.

27. Fungsi perawatan keluarga


Keluarga Bpk HW mengatakan sehat merupakan hal yang utama dalam kehidupan,
apabila sakit maka Bpk HW tidak mampu bekerja dan menghasilkan uang untuk
hidup keluarga. Kalau keluarga Bpk HW atau keluarga ada yang sakit sakit
biasanya dibawa berobat ke klinik atau dokter praktek terdekat atau kadang rumah
sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Lingkungan keluarga Bpk HW
terlihat bersih, rapi akan tetapi sering terlihat mainan anak berserakan di ruang
tamu. Ibu HW mengalami sakit gastritis sudah lama diawali dengan pola makan
yang kurang baik ketika masih muda yaitu suka makan yang asam, pedas, makan-
makanan yang banyak mengandung alkohol seperti tape, kol. Keluarga memberikan
dukungan terhadap pola makan pada ibu HS dengan memasakkan makanan yang
dipantang oleh ibu HS. Akan tetapi karena banyak makanan yang di pantang
menyebabkan ibu HS terkadang kepingin makanan-makanan yang dipantangnya.
Ibu HS sering mengalami banyak fikiran terutama memikirkan anak pertamanya
yang menikah dengan orang keturunan arab tetapi sekarang kurang peduli dengan
orang tua dan kurang sayang dengan orang tua. Sedangkan anak keduannya tidak
semampu anak-anaknya yang lain sehingga ibu HS kadang membantu meringankan
ekonominya dengan menabung uang pemberian anaknya untuk menopang
perekonomian anak keduannya. Anak keduannya sangat baik terhadap saudara-
saudaranya apabila ada kekurangan dia sangat ringan membantu. Akan tetapi hal
tersebut membuat dia tidak perhitungan dengan saudara kadang meminjam tidak
dikembalikan tidak masalah menyebabkan kelihatan kurang mampu dibandingkan
dengan saudara-saudaranya yang lain. Ibu HS juga menderita Diabetes selama
kurang lebih 3 tahun yang lalu dan mendapatkan pengobatan rutin di klinik mercy
atau dokter praktek swasta terdekat. Ibu HS kurang memahami hal-hal terkait
dengan sakit yang dideritanya terutama masalah gastritis, DM dan hipertensi yang
dialaminya. Selama ini keluarga melakukan perawatan dengan memantang
makanan yang banyak menyebbakan kekambuhan penyakit maag ibu HS dan selalu
mengantar berobat ke klinik atau ke dokter praktek swasta dan memberikan
dukungan keuangan pada ibu HS.

VI. Stress dan Koping Keluarga


28. Stressor jangka pendek
Ibu HS mengatakan ingin segera mengatasi masalah kehidupan dengan menantunya
dari istri anak pertama. Ibu HS berharap manantunya mau peduli dengan
kesehatannya sehingga anaknya lebih sayang kepada ibu HS. Saat ini ibu HS juga
memikirkan anak pertamanya yang skit-sakitan tetapi harus tetap berangkat kerja
yang membuat ibu HS selalu kawatir dan menelpon anaknya di tempat anaknya
bekerja.

29. Kemampuan keluarga berespons terhadap masalah


Keluarga sangat cepat dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi apabila ada
salah satu anggota keluarga yang sakit dan segera mengantarnya untuk berobat.
Akan tetapi keluarga tidak memahmi bagimana perawatan dan diet yang tepat untuk
penderita maag dan menderita DM sekaligus mengalami hipertensinya.

30. Strategi koping yang digunakan


Ibu HS menghabiskan waktunya dengan rajin terlibat dengan kegiatan pengajian
rutin lansia, dzikir bersama untuk lansia. Ikut aktif dalam senam lansia rutin yang
dilaksanakan setiap hari jumat 1 minggu sekali

31. Strategi adaptasi disfungsional


Sampai saat ini belum ditemukan adaptasi disfungsional. Ibu HS kalau banyak
pikirin lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berdoa, sholat dan
dzikir.

VII. Pemeriksaan fisik


Hasil Pemeriksaan Mini Mental Status Exam pada Ibu HS terdapat masalah
emosional positif
Hasil pemeriksaan pada Ibu HS Short Postable Status Mental Quisioner (SPSMQ)
pada Ibu HS di dapatkan hasilnya 1 yang artinya intelektual utuh.
Hasil Pemeriksaan Mini Mental Status Exam (MMSE) hasilnya 30 artinya aspek
kognitif dari fungsi mental baik.
VIII. Harapan Keluarga terhadap Asuhan Keperawatan Keluarga
Keluarga berharap perawat dapat membantu penyelesaian masalah kesehatan yang
ada didalam keluarganya dan membantu memberikan jalan keluar untuk masalah
dengan menantunya supaya dapat berkomunikasi 2 arah.
PEMERIKSAAN FISIK Bpk HW Ibu HS Ibu Mt An. M
UMUM
1. Penampilan Umum
Kesadaran Compos mentis Compos mentis Compos mentis Compos mentis

Cara berpakaian Rapi Rapi Rapi Rapi

Kebersihan personal Bersih Bersih


Bersih Bersih
Postur dan cara berjalan Postur tubuh simetris. Berjalan Postur tubuh simetris. Berjalan Tegak, berjalan seimbang Tegak, berjalan seimbang
tanpa bantuan tanpa bantuan
Bentuk dan ukuran tubuh Proporsional sesuai dengan tinggi Kurang proporsional dengan tinggi Berat badan proposional dengan Berat badan proposional dengan
badan badan dan terlalu gemuk tinggi badan tinggi badan

TB : 170 cm, BB : 70 kg TB : 156 cm, BB : 54 kg TB : 154 cm, BB : 54 kg TB : 110 cm, BB : 14kg


Tanda-tanda vital Tgl : 6 November 2011 Tgl : 6 November 2011 Tgl : 6 November 2011 Tgl : 6 November 2011
TD : 120/80 mmHg TD : 150/90 mmHg TD : 110/70 mmHg TD : - mmHg
Nadi : 80 x/menit Nadi : 70 x/menit Nadi : 74 x/menit Nadi : 82 x/menit
O O O
Suhu : 36.6 C Suhu : 36.4 C Suhu : 36.8 C Suhu : 36OC
RR : 18 x/menit RR : 16 x/menit RR : 18 x/menit RR : 22 x/menit
2. Status mental dan cara
berbicara :
Status emosi Stabil Stabil Stabil Stabil
Orientasi Dapat mengenal waktu, tempat, Dapat mengenal waktu, tempat, dan Dapat mengenal waktu, tempat, Dapat mengenal waktu, tempat,
dan orang orang dan orang dan orang
Proses berfikir Tidak loncat-loncat dalam Tidak loncat-loncat dalam Tidak loncat-loncat dalam Tidak loncat-loncat dalam
berbicara, cepat tanggap dalam berbicara, cepat tanggap dalam berbicara, cepat tanggap dalam berbicara, cepat tanggap dalam
berkomunikasi berkomunikasi berkomunikasi berkomunikasi
Gaya bicara Bicara dengan gerakan dan lancar Bicara dengan gerakan dan lancar Bicara dengan gerakan dan Bicara dengan gerakan dan
lancar lancar
PEMERIKASAAN Kulit terlihat bersih, bebas dari Kulit terlihat bersih, bebas dari bau, Kulit terlihat bersih, bebas bau Kulit terlihat bersih, bebas bau
KULIT bau, warna sawo matang, elastis, warna sawo matang, elastis, tidak badan, warna sawao matang, badan, warna putih, tonus kulit
tidak ada lesi, senstifitas terhadap ada lesi, senstifitas terhadap benda tonus kulit kencang, elastis, kencang, elastis, tidak terdapat
benda tumpul, tajam baik tumpul, tajam baik tidak terdapat lesi, sensitifitas lesi, sensitifitas terhadap benda
terhadap benda tumpul dan tumpul dan tajam baik
tajam baik
Kuku Terlihat bersih terawat, rata, Terlihat bersih terawat, rata, Terlihat bersih terawat, rata, Terlihat bersih terawat, rata,
capilary refill < 2 detik capilary refill < 2 detik capilary refill < 2 detik capilary refill < 2 detik

PEMERIKSAAN
KEPALA
Bentuk & sensori Muka simetris, sensasi normal, Muka simetris, sensasi normal, Muka simetris, dapat Muka simetris, dapat
klien merasakan benda tumpul, klien merasakan benda tumpul, menggerakan dahi, pipi dengan menggerakan dahi, pipi dengan
tajam(N V), gerakan pipi, tajam(N V), gerakan pipi, seimbang(N V,VI,VII) seimbang(N V,VI,VII)
rahang,alis simetris(NVI,VII) rahang,alis simetris(NVI,VII)

Rambut Rambut dan kulit kepala bersih, Rambut terlihat bersih, warna Rambut terlihat bersih, warna Rambut terlihat bersih, warna
warna hitam. Distribusi menyebar pirang dan sebagian besar sudah hitam, distribusi merata, tebal, hitam, distribusi merata, tebal,
rata, tidak mudah dicabut memutih, distribusi merata, tebal, tidak mudah dicabut, tidak mudah dicabut
tidak mudah dicabut
Mata Isokor, bola mata dapat mengikuti Isokor, bola mata dapat mengikuti Isokor, bola mata dapat Isokor, bola mata dapat
arah gerakkan tangan pemeriksa, arah gerakkan tangan pemeriksa, mengikuti arah gerakkan tangan mengikuti arah gerakkan tangan
tidak ada nyeri tekan, diameter tidak ada nyeri tekan, diameter pulit pemeriksa, tidak ada nyeri pemeriksa, tidak ada nyeri
pulit + 2 mm, reaksi cahaya +/+, + 2 mm, reaksi cahaya +/+, tekan, diameter pulit + 2 mm, tekan, diameter pulit + 2 mm,
konjungtiva tidak anemis, kornea konjungtiva tidak anemis, kornea reaksi cahaya +/+, konjungtiva reaksi cahaya +/+, konjungtiva
tidak ikhterik, conjuncjitva tidak tidak ikhterik, conjuncjitva tidak tidak anemis, kornea tidak tidak anemis, kornea tidak
anemis tidak memakai kacamata anemis tidak memakai kacamata ikhterik, conjuncjitva tidak ikhterik, conjuncjitva tidak
anemis tidak memakai kacamata anemis tidak memakai kacamata
Hidung Bentuk simetris, warna kulit sama Bentuk simetris, warna kulit sama Bentuk simetris, warna kulit Bentuk simetris, warna kulit
dengan kulit sekitarnya, tidak dengan kulit sekitarnya, tidak sama dengan kulit sekitarnya, sama dengan kulit sekitarnya,
terdapat lesi atau cairan, mukosa terdapat lesi atau cairan, mukosa tidak terdapat lesi atau cairan, tidak terdapat lesi atau cairan,
hidung lembab, terdapat bulu hidung lembab, terdapat bulu mukosa hidung lembab, terdapat mukosa hidung lembab, terdapat
hidung, uji penciuman baik(N I) hidung, uji penciuman baik(N I) bulu hidung, uji penciuman bulu hidung, uji penciuman
baik(N I) baik(N I)
Telinga Daun telinga simetris kiri dan Daun telinga simetris kiri dan Telinga simetris kiri dam kanan, Telinga simetris kiri dam kanan,
kanan,bersih, tidak ada benjolan , kanan,bersih, tidak ada benjolan , bersih, tidak terdapat tonjolan bersih, tidak terdapat tonjolan
tidak bengkak, tidak ada nyeri tidak bengkak, tidak ada nyeri tekan pada mastoideus, serumen tidak pada mastoideus, serumen tidak
tekan pada masteudeus, tidak ada pada masteudeus, tidak ada ada, dapat mendengar. ada, dapat mendengar.
serumen. Klien dapat mendengar serumen. Klien dapat mendengar
Mulut Bibir simetris, mukosa lembab, Bibir simetris, mukosa lembab, Bibir terlihat simetris, lembab, Bibir terlihat simetris, lembab,
lidah simetris, dapat bergerak ke lidah simetris, dapat bergerak ke tidak terdapat tonjolan, lidah tidak terdapat tonjolan, lidah
kiri dan kekanan (N XII), tidak kiri dan kekanan (N XII), tidak dapat bergerak seimbang ke kiri dapat bergerak seimbang ke kiri
pucat, lidah dapat merasakan pucat, lidah dapat merasakan asam, dan kanan, tidak pucat. Dapat dan kanan, tidak pucat. Dapat
asam, asin, dan manis dengan baik asin, dan manis dengan baik merasakan asin, manis, pahit merasakan asin, manis, pahit
dan asam dan asam
Leher Simetris,warna sama dengan kulit, Simetris,warna sama dengan kulit, Simetris warna sama dengan Simetris,warna sama dengan
tidak terdapat pemmbesaran JVP, tidak terdapat pemmbesaran JVP, kulit, tidak terdapat pembesaran kulit, tidak terdapat
tiroid.Dapat bergerak proposional tiroid.Dapat bergerak proposional JVP, kelenjar tiroid, dapat pemmbesaran JVP, tiroid.Dapat
ke kiri, kanan, atas, dan bawah. ke kiri, kanan, atas, dan bawah. bergerak proposional ke kiri, bergerak proposional ke kiri,
kanan, atas, bawah, dan diputar kanan, atas, dan bawah.
Dada (Pernafasan) Simetris, warna sama dengan kulit, Simetris, warna sama dengan kulit, Simetris, warna sama dengan Simetris, warna sama dengan
tidak terdapat tonjolan abnormal tidak terdapat tonjolan abnormal kulit, tidak terdapat tonjolan kulit, tidak terdapat tonjolan
dapat bergerak seimbang ke atas, dapat bergerak seimbang ke atas, abnormal, dapat bergerak abnormal, dapat bergerak
nafas 20 X/i, tactil fremitus sama nafas 22 X/i, tactil fremitus sama seimbang, taktil fremitus sama seimbang, taktil fremitus sama
kiri dan kanan, vesikuler, tidak kiri dan kanan, vesikuler, tidak kiri kanan, tidak terdapat suara kiri kanan, tidak terdapat suara
terdapat suara tambahan terdapat suara tambahan tambahan tambahan
Dada (Cardiovaskuler) Tidak terdapat tonjolan dan massa, Tidak terdapat tonjolan dan massa, Tidak terdapat tonjolan dan Tidak terdapat tonjolan dan
interkostae rata, dulness, BJ 1 dan interkostae rata, dulness, BJ 1 dan massa, interkostae rata, dulness, massa, interkostae rata, dulness,
BJ 2 normal, tidak terdapat mur- BJ 2 normal, tidak terdapat mur- BJ 1 dan BJ 2 normal, tidak BJ 1 dan BJ 2 normal, tidak
mur mur terdapat mur-mur terdapat mur-mur
PERUT Inspeksi : Perut datar , warna Inspeksi : Perut datar, warna sama Inspeksi : Perut datar, warna Inspeksi : Perut datar, warna
sama dengan kulit. dengan kulit. sama dengan kulit sama dengan kulit

Palpasi : Perut terasa lemas, tidak Palpasi : Perut terasa lemas, tidak Palpasi : Perut terasa lemas, Palpasi : Perut terasa lemas,
terdapat nyeri tekan, tidak teraba terdapat nyeri tekan, tidak teraba tidak terdapat nyeri tekan, tidak tidak terdapat nyeri tekan, tidak
massa, hepar tidak teraba. massa, hepar tidak teraba. teraba massa, hepar tidak teraba. teraba massa, hepar tidak teraba.
Auskultasi : Bising usus 12 Auskultasi : Bising usus 8 x/menit. Auskultasi : Bising usus Auskultasi : Bising usus 10
x/menit. 10x/menit. x/menit.
Perkusi : suara timpani tidak ada Perkusi : suara timpani. Perkusi : suara timpani. Perkusi : suara timpani.
nyeri kostovetebra
GENETALIA DAN tidak dikaji tidak dikaji tidak dikaji tidak dikaji
ANUS
EKSTREMITAS
Ektremitas Atas dan Bahu simetris, warna sama dengan Bahu simetris, warna sama dengan Bahu simetris, warna sama Bahu simetris, warna sama
bawah kulit, tidak terdapat tonjolan dapat kulit, tidak terdapat tonjolan dapat dengan kulit, tidak terdapat dengan kulit, tidak terdapat
mengangkat dan menahan beban mengangkat dan menahan beban tonjolan dapat mengangkat dan tonjolan dapat mengangkat dan
dengan baik, refleks dengan baik, refleks brachioradialis menahan beban dengan baik, menahan beban dengan baik,
brachioradialis normal kiri dan normal kiri dan kanan, refleks refleks brachioradialis normal refleks brachioradialis normal
kanan, refleks patela normal kiri patela normal kiri dan kanan, kiri dan kanan, refleks patela kiri dan kanan, refleks patela
555 555 555 555 555 555 555 555
dan kanan, kekuatan otot ; kekuatan otot ; normal kiri dan kanan, kekuatan normal kiri dan kanan, kekuatan
555 555 555 555 555 555 555 555
otot ; otot ;
Kesimpulan hasil pemeriksaan fisik:

Bp. HW
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh simstreis. Dapat
berjalan tanpa bantuan.

Ibu .HS
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh simstreis. Dapat
berjalan tanpa bantuan akan tetapi mengalami gangguan masalah emosional.

Ibu Mt
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh simstreis. Dapat
berjalan tanpa bantuan.

An. M
Keadaan umum baik, bersih, kesadaran conposmentis, memiliki postur tubuh seimbang
dan sesuai dengan usia, tidak ada kelainan pada organ tubuh.
B. Analisa Data

Data Diagnosa Keperawatan

Data Subyektif: Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan


 Ibu HS menyatakan maagnya sering tubuh pada keluarga Bpk HW khususnyaHS
kambuh, sampai pernah dirawat di rumah
sakit
 Ibu HS mengatakan bahwa jika banyak
masalah dan fikiran sering kambuh
maagnya.
 Ibu HS mengatakan sering mencoba
makanan yang pedes, asam yang
seharusnya dipantang ketika menghadiri
hajatan
 Ibu HS menyatakan tanda maagnya
kambuh mual-mual dan di ikuti rasa penuh
pada perut
 Ibu HS menyatakan sering tidak nafsu
makan saat maagnya kambuh.
Data Obyektif:
 Berat badan 52 Kg Tinggi Badan 154 cm
 Ibu HS sering memegangi perutnya ketika
mengalami mual dan sakit saat maagnya
kambuh.
Data Subyektif : Coping tidak efektif pada keluarga Bapak HW
 Ibu Hs mengatakan sering memikirkan terutama pada Ibu HS
anak pertamanya yang hubungannya
kurang harmonis dengan istrinya
 Ibu HS mengatakan kawatir dengan
keadaan anak pertamanya yang sering sakit
 Ibu HS mengatakan kalau dirinya tidak
senang dengan anak menantu pertamanya
 Ibu HS mengatakan anak menantu
pertamanya kurang peduli dengan anaknya.
 Ibu HS mengatakan sering merasa lemas
badannya.

Data Obyektif
 Tekanan Darah 150/90 Mm Hg
 Nadi 90 x permenit
 Telapak tangan dingin
 Pandangan mata menerawang jauh
Data Subyektif: Resiko pemeliharaan kesehatan tidak efektif
 Ibu HS mengatakan sering merasa haus pada keluarga bapak HW terutama Ibu HS
dan lapar
 Ibu HS mengatakan gula darahnya sering
naik dan tak terkontrol
 Ibu HS mengatakan sering banyak minum
 Ibu HS mengatakan sering merasa lapar
dan memakan makanan apa saja yang
dimasak oleh menantunya
 Ibu Hs sering mngeluh kesemutan pada
tangan dan kaki
Data Obyektif:
 Gula darah sewaktu 366 mg/dl
 Telapak tangan berkeringat

C.Prioritas Masalah

1. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluarga Bpk HW
khususnya ibu HS
Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran
Sifat Masalah : tidak 3/3 X 1 1 Masalah merupakan tidak sehat, saat ini Ibu HS
sehat sering mengalami kekambuhan gastritisnya.
Beberapa bulan yang lalu pernah dirawat di
rumah sakit karena sering kambuh apabila banyak
fikiran dan kurang dapat mengontrol makanan.
Setiap kali banyak fikiran Ibu HS sering
merasakan tidak nafsu makan perut terasa perih
yang menyerang tiba-tiba.
Kemungkinan masalah 1/2 X 2 ½ Ibu HS mempunyai kebiasaan baik sering
dapat diubah : sebagian melakukan aktifitas seperti senam lansia yang
dilaksanakan setiap hari hari jumat.
Potensial masalah 3/3 X 1 1 Menantu Ibu HS yaitu Ibu Mt sangat berperan
dapat dicegah : tinggi dalam mengatur pola makan keluarga terutama
memasakkan makanan kesukaan Ibu HS
Menonjolnya masalah : 1/2 X 1 ½ Keluarga Bpk HW mengatakan ada masalah dan
Ada masalah dan segera di tangani supaya tidak berlanjut
segera ditangani masalahnya dan ibu Sr menjadi sehat kembali
Total 3
2. Koping tidak efektif pada keluarga Bapak HW terutama pada Ibu HS
Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran
Sifat Masalah : 2/3 X 1 2/3 Masalah merupakan ancaman, Ibu HS mengetahui
Ancaman penyakit maag akan kambuh bila mendapatkan
masalah dalam keluarga dan selalu
memikirkannya terus sehingga kadang lupa
makan.
Kemungkinan masalah 1/2 X 2 1 Ibu HS kadang membicarakan masalah ketidak
dapat diubah : sebagian sukaannya dengan menantu pertamanya yang
tidak berbakti kepada orang tuayang
menyebabkan anak pertamanya kurang perhatian
terhadap orang tua.
Potensial masalah 1/3 X 1 2/3 Ibu HS memiliki kebiasaan berolah raga dengan
dapat dicegah : Tinggi lansia dan sering menyerahkan semuanya kepada
Tuhan dengan banyak sholat malam dan dzikir.
Menonjolnya masalah : 2/2 X 1 1 Ibu HS mengatakan ada masalah dan segera perlu
Ada masalah dan perlu ditangani karena mereka takut penyakitnya makin
segera ditangani parah dan selalu masuk rumah sakit segingga
harus mengeluarkan biaya yang cukup besar
Total 3 1/3
3. Resiko pemeliharaan kesehatan tidak efektif pada keluarga bapak HW terutama Ibu HS
Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran
Sifat Masalah : 2/3 X 1 2/3 Masalah merupakan ancaman, Ibu HS sudah lama
Ancaman menderita diabetes dan kontrol rutin ke klinik
terdekat dan memantang makanan-makanan
tersentu yang dapat menyebabkan gula darah naik
Kemungkinan masalah 1/2 X 2 1 Ibu HS ada upaya untuk melakukan perawatan
dapat diubah : sebagian dengan kontrol rutin di

Potensial masalah 1/3 X 1 1/3 Adanya usaha-usaha perawatan sederhana oleh


dapat dicegah : sedang keluarga dan menggunakan fasilitas kesehatan
untuk menjaga kesehatan ibu HS
Menonjolnya masalah : 1/2 X 1 ½ Keluarga Ibu HS mengatakan ada masalah dan
Ada masalah tetapi tetapi tidak perlu ditangani karena dianggap
tidak perlu segera penyakit wajar bagi lansia
ditangani
Total 2½

Dari skoring di atas diagnosa keperawatan pada keluarga Bapak HW adalah sebagai
berikut ;
1. Koping tidak efektif pada keluarga Bapak HW terutama pada Ibu HS
2. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluarga Bpk HW
khususnya HS
3. Resiko pemeliharaan kesehatan tidak efektif pada keluarga bapak HW terutama Ibu HS
No Dx Kep Keluarga Tujuan Kriteria Evaluasi Rencana Tindakan
Umum Khusus Kriteria Standar
1. Koping individu Setelah 1. Setelah 1.1 Menyebutkan Pengertian stress adalah KIE:
tidak efektif pada dilakukan dilakukan pengeertian stress kondisi yang dialami
keluarga Bapak kunjungan kunjugan seseorang sebagai respon 1.1.1. Diskusikan pengetian stress.
HW khususnya rumah 8 kali rumah 2 kali terhadap kondisi normal 1.1.2. Anjurkan keluarga
Ibu HS selama 45 selama 45
mengungkapkan kembali
menit selama menit setiap
kunjungan, kunjungan, pengertian stress dengan bahasa
diharapkan diharapkan sedrhana
koping ibu keluarga 1.1.3. Beri pujian atas kemampuan
HS menjadi mampu keluarga
efektif mengenal
komunikasi 1.2 Menyebutkan Menyebutkan minimal 3 KIE:
yang efektif penyebab stress penyebab stress dari faktor
antara internal dan eksternal : 1.2.1 Identifikasi bersama keluarga
orangtua dan Faktor internal : penyebab stress dalam keluarga
menantu 1. Perasaan tertekan, bersalah 1.2.2 Anjurkan keluarga
2. Kurang percaya diri mengungkapkan kembali
3. Keinginan untuk mandiri 1.2.3 Beri pujian atas kemampuan
4. Penyakit kronis keluarga

Faktor ekternal
1. Keluarga sakit/ meninggal
2. Tekanan kelompok
3. Kondisi pekerjaan tidak
menentu
4. Status sosial ekonomi
tidak memadai
5. Lingkungan tidak aman
/nyaman
6. Support sistem tidak
adekuat

1.3 Mampu menyebutkan Menyebutkan minimal 4 dari KIE


tanda dan gejala stress 11 tanda dan gejala stress :
1. Keringat berlebihanan 1.3.1. Diskusikan tanda dan gejala
2. Sakit kepala stress.
3. Mudah marah 1.3.2. Bantu keluarga mengidentifikasi
4. Sulit Tidur tanda dan gejala stress yang ada
5. Tegang pada tengkuk dalam keluaga.
6. Cemas 1.3.3. Beri pujian atas kemampuan
7. Mudah lelah keluarga menyebutkan kembali
8. Sesak nafas tanda dan gejala
9. TD dan gula darah
meningkat
10. Menarik diri
11. Sulit Konsentrasi

2. Setelah 2.1 Menyebutkan akibat Menyebutkan 3 dari 7 akibat Konseling:


dilakukan lanjut dari stress lanjut dari setress bila tidak
kunjungan dikelola dengan baik 2.1.1. Jelaskan akibat lanjut bila stress
1. Munculnya penyakit fisik, tidak dikelola dengan baik
rumah 1 kali
HT, stroke, DM, jantung 2.1.2. Beri kesempatan keluarga
selama 45 menit
koroner, gastritis bertanya
setiap
2. Gangguang pesikologis : 2.1.3. Dorong keluarga untuk
kunjungan,
depersi, tidak dapat mengungkapkan kembali akibat
diharapkan
mengontrol diri, lanjut bila stress tidak dikelola
keluarga mampu
penggunaan dengan baik
mengambil
obat/minuman, 2.1.4. Berikan pujian atas kemampuan
keputusan
kertas.rokok keluarga
dalam Keluarga
3. Gangguan hubungan sisual
mampu
4. Kurang motivasi kerja
mengambil
5. Keratifitas menurun
keputusan untuk
6. Ibadah tidak optimal
melakukan
7. Resiko cidera atau
menageman
kecelakaan
stress
3 Setelah 3.1 Menyebutkan cara Menyebutkan minimal 3 dari 6 Konseling:
dilakukan 2 mencegah stress di cara mencegah timbulnya
kali kunjungan rumah stress di rumah 3.1.1 Diskusikan dengan keluarga
rumah selama 1. Makan makanan seimbang tentang cara mencegah stress
45 menit setiap 2. Hindari/kuragi makanan 3.1.2 Diskusikan dengan keluarga
kunjungan, yang dapat merangsang tentang hubungan gastritis
diharapkan dengan stress.
timbulnya sterss : makan
keluarga 3.1.3 Kembangkan metode bersama
mampu berlemak. Terlalua sin,
keluarga untuk merencanakan
melakukan terlalu manis. Kopi, teh,
strategi dalam mengatasi stress
managenan ciokelat dalam keluarga
stress 3. Hindari konsumsi rokok/ 3.1.4 Bantu keluarga untuk dapat
minuman bera;kohol memilih startegi mengatasi stress
4. Olah raga secra teratur 3.1.5 Berikan reinforcement positif
5. Stirahat/tidur cukup atas hal yang akan dilakukan
oleh keluarga
6. Berfikir positif

3.2 Melakukan tehnik Dengan melakukan tehnik Tehnik relaksasi progresif


reslaksasi progresif relaksasi progresif bermanfaat
: 3.2.1 Berikan arahan kepada keluarga
1. Menurunkan stress, nyeri untuk melakukan tehnik
kecemasan relaksasi progresif termasuk
2. Mengatasi masalah sulit gerakan dan arahan
tidur 3.2.2 Bersama keluarga melakukan
3. Mengatasi mual dan langkah-langkah tehnik relaksasi
muntah progresif
4. Mengatasi otot-otot tubuh 3.2.3 Pandu keluarga melakukan
yang tegang tehnik relakasasi progresif
5. Meningkatkan kesegaran 3.2.4 Motivasi keluarga untuk
dan daya tahan tubuh mendemontrasikan langkah-
6. Mencegah kekambuhan langkah tehnik relaksasi
penyakit progresif
3.2.5 Berikan reinfrcement positif
terhadap keluarga
4 Setelah 4.1 Mengidentifikasi Agar komunikasi efeketif ada Konseling:
dilakukan 2 situasi sosial dan beberapa kesehalan yang
kali kunjungan emosional yang harus dihindari orang tua 4.1.1 Diskusikan faktor-faktor
rumah selama mempengaruhi stress ketika menyampaikan pesan kebiasaan dan budaya yang
45 menit setiap dalam keluarga dengan menantu, antara lain : mempengaruhi komunikasi dalam
kali kunjungan, keluarga
diharapkan 1. Lebih banyak berbicara dari 4.1.2 Diskusikan dengan keluarga untuk
keluarga mendengar dapat melakukan komunikasi
mampu 2. Memotong pembicaraan terbuka pada kesempatan
memodifikasi orangtua yang sedang berkumpul keluarga misal saat
lingkugan berbicara makan malam
dalam 3. Tidak fokus ketika 4.1.3 Informasikan apakah dibutuhkan
mengatur stress mendengar pembicaraan dukungan kelompok dan keluarga
menantu untuk bantuan
4. Marah dan merasa putus asa 4.1.4 Identifikasi keterlibatkan keluarga
ketika salah satu dalam melakukan komunikasi
mengungkapkan terbuka antar anggota keluarga
perasaannya
5. Tidak menerima kenyataan
yang diungkapkan menantu.
6. Berbicara dengan nada
tinggi dan mendominasi
7. Tidak mau berbicara

5 Setelah 5.1 Menyebutkan fasilitas Fasilitas kesehatan dan sosial KIE:


dilakukan 1 social dan kesehatan yang dapat digunakan 5.1.1 Diskusikan jenis-jenis pelayanan
kali kunjungan dalam menunjang keluarga untuk menangani kesehatan yang digunakan
rumah selama komunikasi efektif komunikasi pada anggota keluarga dalam mengatasi
45 menit setiap dalam keluarga keluarga akibat komunikasi tidak terbuka
kali kunjungan, terutama yang berkaitan dengan
diharapkan 1. Puskesmas gastritis
keluarga 5.1.2 Bantu keluarga memilih fasilitas
mampu kesehatan yang akan digunakan.
2. Rumah Sakit
memanfaatkan 5.1.3 Beri pujian atas pilihan keluarga.
pelayanan
kesehatan 3. Dokter praktik
untuk fasilitasi
4. Psikolog
komunikasi 5.2 Mengunjungi fasilitas Kunjungan keluarga pada KIE
efektif dalam kesehatan dan social fasilitas jesehatan dan social 5.2.1 Fasilitasi keterlibatan tenaga
keluarga dalam menciptakan dalam menciptakan kesehatan lainnya untuk
komunikasi efektif komunikasi efektif dalam mengatasi masalah komunikasi
dalam keluarga keluarga orang tua dan menantu
5.2.2 Komunikasikan rencana
intervensi dengan tim secara
teratur
2. Risiko gangguan Setelah 1. Setelah 1.1. Mengidentifikasi Nutrisi seimbang bagi lansia KIE
pemenuhan nutrisi dilakukan 8 dilakukan 1 kebutuhan nutrisi pada dengan gastritis 1.1.1. Gali pemahaman keluarga
kurang dari kali kali kunjungan lansia dengan gastritis tentang nutrisi pada lansia
kebutuhan tubuh kunjungan keluarga dapat 1. Faktor yang mempengaruhi 1.1.2. Diskusikan dengan keluarga
pada keluarga keluarga mengenal kebutuhan nutrisi lansia menggunakan lembar balik dan
bapak HW nutrisi pada masalah nutrisi 2. Pedoman gizi seimbang leaflet tentang : faktor yang
terutama ibu HS Ibu HS pada lansia bagi lansi mempengaruhi kebutuhan nutrisi
terpenuhi 3. Kebutuhan nutrisi lansia lansia, pedoman gizi seimbang
4. Makan yang tidak boleh bagi lansia, kebutuhan nutrisi
dimakan lansia, hal-hal lansia, makan yang tidak boleh
yang penting untuk jadwal dimakan lansia, hal-hal yang
makan lansi dengan penting untuk jadwal makan
gastritis, contoh porsi lansi dengan gastritis, contoh
makan untuk lansia. porsi makan untuk lansia.
1.1.3. Diskusikan kepada keluarga
tentang hal yang belum
dimengerti tentang nutrisi bagi
lansia
1.1.4. Minta keluarga untuk lebih
mengenali masalah kekurangan
nutrisi pada lansia.

2. Mengambil 2.1. Mengidentifikasi Apabila kebutuhan nutrisi KIE


keputusan akibat jika nutrisi pada pada lansia tidak terpenuhi 2.1.1 Diskusikan bersama keluarga
untuk lansia tidak terpenuhi akibat nutrisi yang tidak
mengatasi 1. Lansia mengalami terpenuhi pada lansia
gastritis dengan kerentanan terhadap a. Dampak lebih lanjut lansia
; memutuskan penyakit yang kekurangan nutrisi
untuk merawat 2. Biaya perawatan yang b. Biaya perawatan dan
anggota dikeluarkan akan lebih pengobatan tinggi bila lansia
keluarga kurang nutrisi
dengan banyak oleh keluarga c. Produktifitas kerja/aktivitas
masalah nutrisi 3. Produktivitas kerja sehari- sehari-hari menurun akibat
pada lansia hari lansia menurun kurang nutrisi
4. Menyebabkan anemia pada 2.1.1. Berikan kesempatan keluarga
lansia untuk melakukan internalisasi
diri atas akibat yang bisa terjadi
pada dirinya.
2.1.2. Motivasi keluarga untuk
memutuskan tindakan yang akan
dilakukan untuk mengatasi
gastritis
3. Setelah 2 kali 3.1. Mengatur pola diet Diet gastritis Konseling
45 menit 3.1.1. Diskusikan tentang pentingnya
kunjungan 1. Tujuan diet gastritis pengelolaan menu makanan
keluarga dapat 2. Syarat Diet gastritis yang aman dan sesuai.
merawat 3. Prinsip pengaturan 3.1.2. Diskusikan prinsip pengaturan
anggota makanan makan pada penderita gasritis
keluarga yang 4. Bahan makanan yang 3.1.3. Diskusikan jenis makanan yang
kurang nutrisi dianjurkan dan tidak dianjurkan dan dihindari/batasi
akibat sakit dianjurkan 3.1.4. Latih keluarga dalam pengaturan
gastritis menu makanan yang aman dan
sesuai, dengan memberikan
contoh yang nyata
3.1.5. Jadwalkan kunjungan rumah
yang tidak direncanakan
3.2. Jadwal makan lansi a Jadwal makan lansia dengan Konseling
dengan gastritis gastritis dengan selang waktu 3.2.1. Identifikasi bersama keluarga
3 jam agar lambung tetap jadwal makan dengan keluarga
terisi 3.2.3. Diskusikan cara melakukan
pengaturan menu makanan.
3.2.4. Berikan contoh jadwal makan
yang benar.
3.2.5. Motivasi keluarga untuk selalu
melakukan manajemen menu
makanan lansia setipa harinya.
3.2.6. Buatkan rencana/jadual makan
dalam tiga hari kedepan
3.2.7. Jadwalkan kunjungan rumah
yang tidak direncanakan dengan
keluarga
3.3. Mendemonstrasikan Jadwal makanan yang baik 3.3.1. Tuliskan jadwal menu dalam
cara mengatur menu bagi lansia dengan gastritis food record lansia
makanan untuk lansia mengajarkan pada lansia
dengan gastritis untuk makan teratur tetapi
tidak merangsang
4. Setelah 4.1. Memodifikasi menu 1. Penyusunan jadwal KIE
kunjungan 1 x bagi lanjut usia 2. Alternatif makanan 4.1.1.Diskusikan dengan keluarga
45 menit selingan tentang modifikasi menu
3. Penyajian menarik makanan bagi lanjut usia dengan
keluarga
gastritis.
Memodifikasi
lingkungan a. Jadwal penyusunan menu
agar sesuai dalam satu bulan ke depan
b. Alternatif makan selingan
untuk
untuk lansia
mendukung c. Penyajian makanan menarik
pengelolaan bagi lansia
nutrisi bagi 4.1.2. Identifikasi jenis-jenis makanan
lansia yang disukai oleh lansia
4.1.3. Diskusikan cara menciptakan
lingkungan keluarga yang
mendukung pengelolaan makan
yang baik untuk lansia, seperti
makanan ditutup, disajikan
menarik.
4.1.4. Pada kunjungan yang tidak
direncanakan, perawat
menemukan rumah keluarga
dalam keadaan mendukung
masalah klien.menyajikan
makanan menu seimbang bagi
lansia
5. Setelah 1 kali 5.1. Jenis-jenis fasilitas Fasilitas kesehatan untuk KIE
kunjungan kesehatan yang bisa konsultasi nustrisi pada lansia 5.1.1.Diskusikan jenis fasilitas
keluarga dapat diakses bila lansia antara lain kesehatan yang tersedia
mengalami masalah dilingkungan keluarga bila
Mampu
nutrisi akibat gastritis 1. Puskesmas kurang memahami tentang
memanfaatkan masalah nutrisi bagi lansia
2. Rumah sakit
fasilitas 3. Pelayanan kesehatan 5.1.2 Bantu keluarga memilih fasilitas
kesehatan swasta lain kesehatan yang sesuai dengan
4. kondisi keluarga
5.1.3.Anjurkan keluarga memanfaatkan
fasilitas kesehatan sesuai pilihan
5.1.4. Klarifikasi pengetahuan keluarga
tentang manfaat fasilitas
kesehatan
5.1.5.Diskusikan manfaat fasilitas
kesehatan
5.1.6. Diskusikan kondisi klien yang
harus segera dibawa ke fasilitas
kesehatan

3. Pemeliharaan Setelah 1. Setelah 1.1 Mengidentifikasi Masalah diabetes meliputi KIE


kesehatan tidak dilakukan dilakukan masalah diabetes 1. Pengertian DM 1.1.1. Diskusikan tentang
efektif pada tindakan tindakan melitus 2. Penyebab DM pengertian, penyebab, tanda
keluarga bapak keperawatan 3.Tanda dan gejala DM dan gejala diabetes mellitus
keperawatan
HW khususnya selama 4 1.1.2. Gali pemahaman keluarga
Ibu HS bulan selama 1 x 45 tentang diabetes mellitus
pemeliharaan menit keluarga 1.1.3. Berikan reinforcement positif
kesehatan dapat mengenal terhadap hal yang
efektif masalah diungkapkan pasian
kembali diabetes pada
lansia

2. Setelah 2.1 Mengidentifikasi Akibat lanjut apabila DM KIE


dilakukan akibat penyakit tidak dikeola dengan baik 2.1.1 Diskusikan bersama keluarga
tindakan diabetes tidak 1.Komplikasi pada berbagai akibat dari diabetes mellitus
dikelola dengan baik organ tubuh bila tidak dikelola dengan baik
keperawatan
2. Kemampuan seksualitas 2.1.2 Motivasi keluarga untuk
selama 1 x 45 pada kaum laki-laki memutuskan tindakan yang
menit keluarga akan dilakukan untuk
dapat Pengambil mengatasi diabetes mellitus
keputusan 2.1.3 Berikan reinforcement positif
Mengelola terhadap keputusan
1. yang
kesehatannya diambil oleh keluarga

3. Setelah 3.1. Mengidentifikasi diet Tujuan diit DM membantu Konseling


dilakukan Diet DM memperbaiki kebiasaan makan 2.1.1. Timbang berat badan setiap hari
kunjungan dan olah raga untuk atau sesuai indikasi
mendapatkan kontrol 2.1.2. Tentukan program diet dan pola
keluarga selama
metabolik yang lebih baik makan
3 x 45 menit dengan cara : 2.1.3. Libatkan keluarga pada
keluarga dapat 1. Mempertahankan perencanaan diet
merawat lansia kadar gula dalam
dengan DM darah supaya normal
2. Mencapai dan
mempertahankan
lipida serum normal
3. Memberikan cukup
energi untuk
mempertahankan
berat badan normal
4. Menghindari atau
menangani
komplikasi akut
5. Meningkatkan
derajad kesehatan
3.2. Melakukan Latihan Fisik bagi penderita Demonstrasi
latihan fisik pada DM sangat penting untuk 3.3.1. Buat jadual latihan / aktivitas
penderita DM mempertahankan basal yang teratur
metabolisme dalam tubuh 3.3.2. Diskusikan pentingnya olahraga
penderita DM bagi penderita DM
3.3.3.Diskusikan cara berolahraga yang
baik
3.3.4.Motivasi keluarga untuk rutin
melakukan olah raga setiap hari

3.3. Melakukan senam Senam kaki berfungsi Demostrasi


Kaki DM memperlancar peredaran darah 3.3.1. Instruksikan pentingnya
di kaki yang cukup jauh dari pemeriksaan secara rutin pada
jantung . Baal –baal pada kaki kaki
penderita Dm akan 3.3.2. Demonstrasikan perawatan
menyebabkan mudah kaki/senam kaki DM
terjadinya luka 3.3.3. Berikan reinforcemen positif
terhadap hal yang sudah
dilakukan pasien
3.4. Melakukan Hal yang cukup berbahaya KIE
pencegahan pada penderita DM adalah 3.4.1. Observasi tanda-tanda
hipoglikemia apabila terjadi penurunan hipoglikemia
glukosa darah sehingga pasien 3.4.2. Kenalkan tanda dan gejala
dapat kehilangan kesadaran hipoglikemia
3.4.3. Ajarkan cara penanganan
hipoglikemia
4. Setelah 1 x 45 4.1. Menciptakan Lingkungan yang aman, diet KIE
menit kunjungan lingkungan yang yang tepat mendukung 4.1.1 Diskusikan dengan keluarga
keluarga dapat kondusif untuk terhadap tatalaksana dan tentang lingkungan yang aman
mempertahankan kontrol gula darah bagi lanjut usia dengan
memodifikasi
kesehatan penderita diabetes
lingkungan yang DM 4.1.2 Diskusikan cara menciptakan
mendukung untuk lingkungan keluarga yang
pengelolaan mendukung pengelolaan
diabetes melitus diabetes mellitus

5. Setelah 1 x 45 5.1. Jenis-jenis fasilitas Fasilitas kesehatan untuk


KIE
menit kunjungan kesehatan yang bisa konsultasi nustrisi pada lansia
5.1.1. Diskusikan jenis fasilitas
keluarga dapat diakses bila lansia antara lain
kesehatan yang tersedia
mengalami masalah
memanfaatkan dilingkungan keluarga
DM 1. Puskesmas
faslititas kesehatan 5.1.2. Bantu keluarga memilih fasilitas
2. Rumah sakit kesehatan yang sesuai dengan
yang ada
3. Pelayanan kesehatan kondisi keluarga
swasta lain 5.1.3. Anjurkan keluarga memanfaatkan
fasilitas kesehatan sesuai pilihan
5.1.4. Klarifikasi pengetahuan keluarga
tentang manfaat fasilitas
kesehatan
5.1.5. Diskusikan manfaat fasilitas
kesehatan