Anda di halaman 1dari 3

Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh serangga.

[1]
Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan,
kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada
kematian serangga pengganggu tanaman[2] Insektisida termasuk salah satu jenis pestisida.

Jenis-jenis insektisida[sunting | sunting sumber]


Insektisida dapat dibedakan menjadi golongan organik dan anorganik.[7] Insekstisida organik
mengandung unsur karbon sedangkan insektisida anorganik tidak.[7] Insektisida organik
umumnya bersifat alami, yaitu diperoleh dari makhluk hidup sehingga disebut insektisida hayati.

Insektisida Sintetik[sunting | sunting sumber]

Insektisida organik sintetik yang banyak dipakai dibagi-bagi lagi menjadi beberapa golongan
besar:[7]

Senyawa Organofosfat[sunting | sunting sumber]

Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan fosfat.[7] Insektisida
sintetik yang masuk dalam golongan ini adalah Chlorpyrifos, Chlorpyrifos-methyl, Diazinon,
Dichlorvos, Pirimphos-methyl, Fenitrothion, dan Malathion.[7]

Senyawa Organoklorin[sunting | sunting sumber]

Insektisida golongan ini dibuat dari molekul organik dengan penambahan klorin.[7] Insektisida
organoklorin bersifat sangat persisten, di mana senyawa ini mashi tetap aktif hingga bertahun-
tahun.[7] Oleh karena itu, kini insektisida golongan organoklorin sudah dilarang penggunaannya
karena memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Contoh-contoh insektisida golongan
organoklorin adalah Lindane, Chlordane, dan DDT.[7]

Karbamat[sunting | sunting sumber]

Insektisida golongan karbamat diketahui sangat efektif mematikan banyak jenis hama pada suhu
tinggi dan meninggalkan residu dalam jumlah sedang.[7] Namun, insektisida karbamat akan
terurai pada suasana yang terlalu basa. Salah satu contoh karbamat yang sering dipakai adalah
bendiokarbamat.[7]

Pirethrin/ Pirethroid Sintetik[sunting | sunting sumber]


Insektisida golongan ini terdiri dari dua katergori, yaitu berisfat fotostabil serta bersfiat tidak non
fotostabil namun kemostabil.[7] Produknya sering dicampur dengan senyawa lain untuk
menghasilkan efek yang lebih baik. Salah satu contoh produk insektisida ini adalah Permethrin.[7]

Pengatur Tumbuh Serangga[sunting | sunting sumber]

Insektisida golongan ini merupakan hormon yang berperan dalam siklus pertumbuhan serangga,
misalnya menghambat perkembangan normal.[7] Beberapa contoh produknya adalah Methoprene,
Hydramethylnon, Pyriproxyfen, dan Flufenoxuron.[7]

Fumigan[sunting | sunting sumber]

Fumigan adalah gas-gas mudah menguap yang dapat membunuh hama serangga.[7] Fumigan
hanya boleh digunakan oleh personel terlatih karena tingkat toksisitasnya yang tinggi.[7] Contoh-
contohnya adalah Metil Bromida (CH3Br), Aluminium Fosfit, Magnesium Fosfit, Kalsium
Sianida, dan Hidrogen Sianida.[7]

Insektisida Hayati[sunting | sunting sumber]

Meskipun insektisida lebih dikenal merupakan senyawa sintetik, namun terdapat juga insektisida
alami yang berasal dari bakteri, pohon, maupun bunga.

 Silica (SiO2) merupakan insektisida anorganik yang bekerja dengan menghilangkan


selubung lilin pada kutikula serangga sehingga menyebabkan mati lemas. Insektisida
jenis ini sering dibuat dari tanah diatom atau kieselgurh, yang tersusun dari molekul
diatom Bacillariophyceae.[7]
 Asam Borat (H3BO3) adalah insektisida anorganik yang dipakai untuk menarik perhatian
semut.[7]
 Pirethrum adalah insektisida organik alami yang berasal dari kepala bunga tropis
krisan.[7] Senyawa ini memiliki kemampuan penghambatan serangga yang baik pada
konsentrasi rendah.[7] Namun berkaitan dengan proses ekstraksinya, senyawa ini sangat
mahal.[7]
 Rotenon adalah insektisida organik alami yang diperoleh dari pohon Derris.[7] Senyawa
ini berfungsi sebagai insektisida yang menyerang permukaan tubuh hama.[7]. Salah satu
tanaman yang mengandung rotenon adalah daun kacang babi Tephrosia vogelii. Daun
kacang babi efektif dalam mengendalikan hama Crocidolomia pavonana,[8]Nilaparvata
lugens,[9]Myzus persicae.[10]
 Neem merupakan ekstrak dari pohon Neem (Azadirachta indica).[3] Penggunaan Neem
sebagai insektisida hayati dimulai sejak 40 tahun lalu.[3] Ekstrak neem mengganggu
aktivitas sistem pencernaan serangga, khususnya golongan Lepidoptera (ngengat dan
kupu-kupu beserta larvanya).[3] Selain itu neem juga berperan sebagai pengatur tumbuh di
mana menyebabkan beberapa jenis serangga terus berada pada kondisi larva dan tidak
bisa tumbuh dewasa.[3]
 Bakteri Bacillus thuringiensis memproduksi toksin Bt yang dapat mematikan serangga
yang memakannya.[6] Toksin Bt aktif pada pH basa dan menyebabkan saluran pencernaan
serangga berlubang sehingga berujung pada kematian.[6] Para peneliti telah berhasil
memindahkan gen yang berperan dalam produksi toksin Bt dari B. thuringiensis ke
tanaman kapas sehingga serangga yang memakan tanaman kapas tersebut akan mati.[6]
Kapas Bt merupakan salah satu organisme transgenik yang paling banyak ditanam di
dunia.[6]