Anda di halaman 1dari 11

Sri Ningsih Bidan Teladan dari Surabaya

Stimulasi terhadap anak perlu dilakukan sedini mungkin dan terus menerus agar anak usia 0 – 6
tahun tumbuh dan berkembang secara optimal. Pemberian stimulan ini bisa dilakukan oleh
orangtua sendiri di rumah sehingga jika terjadi penyimpangan akan segera diketahui dan bisa
ditangani segera.

Hal itulah yang kemudian membawa Sri Ningsih, AMd. Keb, bidan yang bertugas di Puskesmas
Kali Rungkut Surabaya itu menyabet penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan di
Puskesmas tingkat nasional tahun 2013.

“Sebagai Juara 1 Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Provinsi Jatim saya dikirim
ke Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas
Tingkat Nasional bersama perwakilan 33 provinsi se-Indonesia,” ujar Sri Ningsi bangga.

Ibu dua anak ini menambahkan, pemberian penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan di
Puskesmas Tingkat Nasional itu dilaksanakan pada 14 – 20 Agustus 2013 lalu oleh Kementerian
Kesehatan RI di Jakarta untuk bertemu langsung dengan Menteri Kesehatan dr.Nafsiah Mboi,
Sp.A, MPH dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lulusan D3 Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya itu pada tahun 2012 juga menyabet
penghargaan sebagai juara I Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Kota Surabaya.
Makalahnya yang berjudul “Implementasi Kelas Ibu Hamil Sebagai Upaya untuk Meningkatkan
Pengetahuan dan Keterampilan Ibu Hamil di Puskesmas Kalirungkut Surabaya” hanya sampai
di tingkat kota saja.

“Tahun 2012 sebagai perwakilan dari Kota Surabaya Saya belum berhasil sebagai juara di
tingkat Provinsi Jatim,” ungkap wanita yang mahir memainkan alat gitar dan keyboard.

Nah pada tahun 2013 ini, istri dr. Budiono, M. Kes itu kembali terpilih sebagai juara I Tenaga
Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Kota Surabaya, dengan judul makalah
“Pemberdayaan Ibu Hamil dan Keluarga Dalam Memberikan Stimulasi Tumbuh Kembang
Kepada Anak Sebagai Upaya Untuk Mempersiapkan Generasi yang Berkualitas.”

“Sebagai perwakilan dari Kota Surabaya Saya berhasil maju ke Tingkat Provinsi Jatim dengan
tahapan lulus uji tulis, termasuk kisah sukses, tes pengetahuan, psikotes, wawancara hingga
kunjungan lapangan. Syukur Alhamdulillah akhirnya Saya terpilih menjadi juara I,” ungkap
wanita kelahiran Malang 43 tahun yang lalu itu dengan bangga.

Pemilihan tenaga kesehatan tingkat Puskesmas di seluruh Indonesia ini dilakukan oleh Tim
Penilai secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota sampai propinsi. Komponen penilaian
terdiri dari kriteria umum dan kinerja. Kriteria umum meliputi berakhklak dan berbudi pekerti
baik, tidak sedang dalam kasus pidana/perdata dan penyalahgunaan Napza, berjasa terhadap
masyarakat di wilayah kerjanya baik langsung maupun tidak langsung dan lulus seleksi yang
dilakukan Tim Penilai.
Sedang komponen kinerja meliputi sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan,
sebagai tenaga pemberdayaan masyarakat, sebagai pemberi pelayanan kesehatan strata pertama,
sebagai pegawai Puskesmas, sebagai Nakes profesional (keikutsertaan dalam bidang keilmuan,
hubungan dengan pasien dan keluarga miskin, hubungan dengan rekan kerja), sebagai anggota
masyarakat (kepribadian, peran serta dalam masyarakat, berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan, berperan dalam pembinaan generasi muda dan berperan dalam organisasi
kemasyarakatan. (*)

Wiwik Mutmainah, Bidan Teladan Pertama di Indonesia


Sejak kecil, Wiwik Mutmainah sudah bercita-cita ingin menjadi bidan. Pesona pada ahli
persalinan itu muncul saat seorang bidan membantu persalinan ibunya. Karena itu, bidan teladan
yang lahir di Bandung, 2 April 1944 dan telah menggeluti dunia persalinan sejak 1965 ini sudah
nekad ingin jadi bidan di usianya yang masih belia.
"Saking inginnya, ketika saya berusia 15 tahun, saya sudah mendaftarkan diri jadi bidan,
sayangnya saya ditolak," kata Wiwik dalam workshop 4 bidan luar biasa di @amerika, Sabtu
(4/5/2013).
Penolakan itu ternyata tidak membuat Wiwik menyerah. Tahun 1965, setelah diterima di sekolah
bidan, Wiwik untuk pertama kalinya ditempatkan untuk jadi bidan di Lampung.
"Hanya dua tahun di Lampung, tahun 1967 saya dipindahtugaskan ke jakarta, tepatnya
Puskesmas Kemayoran. Saat itu, saya sudah menjadi bidan teladan pertama di Indonesia,"
katanya.
Kasus per kasus diikutinya dengan cermat. "Sampai suatu saat, saya melihat seorang bidan yang
melakukan operasi persalinan. Ketika itu, bidan yang membantu sepertinya tidak tahu mengenai
prosedur persalinan yang benar," jelasnya.
"Saya lihat, bidan itu memasukkan tangannya ke organ intim calon ibu tanpa ia tahu kondisi
pasien yang sedang kontraksi. Padahal, hal itu harus dilakukan hati-hati untuk mencegah
pendarahan. Ketika itu, ibu mengalami pendarahan hebat dan akhirnya meninggal di meja
operasi," tuturnya.
Sejak saat itu, Wiwik mulai berpikir apakah ada yang salah dalam pemberian materi di sekolah
kebidanan dan bagaimana cara ia menyampaikan hal yang benar bagi bidan lainnya.
"Saya akui kalau alat (phantom) yang biasa digunakan untuk model wanita yang akan
melahirkan kurang baik. Masa alatnya terlihat seperti sudah kontraksi, padahal kan ibu yang mau
melahirkan tidak langsung terbuka 'vagina'nya,"ujarnya.

Ciptakan alat phantom


Akhirnya, Wiwik memutuskan untuk mencari sebuah alat yang mirip dengan panggul wanita,
plasenta ang disebut phantom.
"Sulit mencarinya, setiap saya pelatihan di daerah tidak pernah ketemu. Sampai saya
menemukannya di Jakarta. Tapi orang yang mau membuatkan alat peraga tersebut bilang,
biayanya hingga ratusan juta,"ungkapnya.
Sejak itu saya berpikir untuk membuat sendiri. Awalnya juga tidak mudah, karena apa pun lem
yang saya gunakan, lepas. Tapi setelah coba-coba saya berpikir untuk menjahitnya.
"Jadilah alat yang bagus sehingga mahasiswi bisa dengan mudah melihat perbedaan alat yang
dahulu digunakan dengan yang saya buat," katanya.
Saking bagusnya, alat itu kini sudah diperjualbelikan di dalam dan luar negeri. Di Indonesia, alat
tersebut pasti ada di sekolah kebidanan.
Wiwik kini tidak lagi praktik sebagai bidan, tapi telah mendedikasikan dirinya sebagai master
trainer pada Jaringan Nasional Pelatihan Kesehatan (JNPK).
Selain aktif mengajar dan membantu penelitian di Universitas Indonesia, Wiwik juga diangkat
sebagai pelatih nasional untuk Kementerian Kesehatan.

Bidan Teladan, Sehatkan Warga Lewat Sampah


Mengakrabi sampah tak mengotori niat sang bidan membantu kesejahteraan warga desa.

Bidan Sri Partiyah (dok. Srikandi Award)


VIVAnews - Sri Partiyah bukan pemulung. Yang ia lakukan hanya membangun 'Bank Sampah'
demi menunjang serangkaian program kebidanan di area tugasnya, Desa Duwet, Kecamatan
Bendo, Magetan, Jawa Timur.
Dengan beragam program kesehatan keluarga yang ia canangkan, bidan desa itu menjadi magnet
tersendiri dalam penjurian Srikandi Award 2011.
Lewat Bank Sampah, ia mencipta mahakarya yang tak hanya mengatasi masalah sampah di
lingkungan, tetapi juga mengatasi masalah kesehatan dan ekonomi warga di desanya.
Mengakrabi sampah tak mengotori niatnya membantu kesejahteraan warga desa.
Berawal dari kasus gizi buruk yang melanda desanya, ia berjuang melanggengkan program
pemerintah, yakni Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan gizi buruk. Banyak bayi
yang kembali tersandung masalah gizi buruk ketika program dihentikan.

"Setelah survei ternyata banyak keluarga tidak mampu memberikan asupan gizi yang cukup.
Akhirnya, saya mencoba untuk memberikan penanganan yang tidak tergantung pada
pemerintah," ujarnya ketika ditemui VIVAnews.com.
Dari keinginan tersebut, muncul ide cemerlang dari hasil jalan-jalan ke pengepulan sampah.
"Waktu saya jalan-jalan bersama suami, saya menemukan tempat penampungan sampah, saya
bertanya harga berbagai jenis sampah. Dari sana, saya berkesimpulan bahwa mengolah sampah
dapat menghasilkan keuntungan yang banyak."

Beroperasi sejak Juni 2010, Bank Sampah mulanya hanya memiliki 56 nasabah dari 600 kepala
keluarga yang ada di desanya. Meski terbilang sedikit, tak disangka Bank Sampah mampu
meraih keuntungan hingga 100 persen.
"Dari jumlah tabungan sekitar Rp200-an ribu, kami mendapatkan hasil penjualan sampah ke
pengepul sekitar Rp500-an ribu," ujarnya. Dan kini, peminatnya semakin melonjak hingga 350
nasabah.
Bank Sampah memiliki sistem sama dengan bank pada umumnya. "Keluarga datang dengan
membawa sampah anorganik, kami timbang dan kami tentukan harganya. Lalu, mereka
membawa nota penimbangan ke bendahara untuk dilakukan pencatatan di buku tabungan. Warga
pun berhak mengambil uangnya atau menabungnya."
Sampah dihargai sesuai jenisnya. Besi dihargai Rp3.000 per kilogram, kardus Rp1.000 per
kilogram, kertas Rp1.000 per kilogram, dan plastik Rp300 per kilogram.
Dari hasil penjualan ke pengepul, Bank Sampah mendapat keuntungan sebagai modal
penanaman buah pepaya yang berguna dalam memenuhi asupan nutrisi warga. Selain investasi
tanaman pepaya, keuntungan juga digunakan untuk penyediaan PMT (Pemberian Makanan
Tambahan) untuk balita bergizi kurang dan buruk, serta pemenuhan gizi ibu hamil.
Tak hanya itu, keuntungan juga dipakai untuk mengadakan door prize di posyandu untuk balita
yang hadir. "Agar kalau ibu enggan ke posyandu, anaknya yang ngajak. Door prize pun
cenderung yang bermanfaat seperti payung atau handuk."
Kalau saat ini yang dikumpulkan hanya sampak anorganik, bidan pun mulai mempersiapkan
program tambahan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
"Kelompok tani yang baru saja mendapatkan bantuan berupa mesin pengolah sampah organik
sudah mengajak kerja sama. Nantinya, Bank Sampah sebagai tempat untuk mengumpulkan
sampah organik juga, lalu kami olah menjadi kompos dan dijual lagi ke masyarakat," ujarnya.
Rencananya, satu kilogram sampah organik akan dibeli dengan harga Rp300. Sampah-sampah
ini akan diolah bersama-sama kelompok tani menjadi kompos, yang hasilnya dijual lagi ke
masyarakat dan petani dengan harga Rp500 per kilogram.
Keseluruhan program Bank Sampah tentu berdampak jangka panjang pada kesejahteraan warga,
lingkungan, dan tentunya kesehatan warga Desa Duwet. Satu solusi untuk beragam masal

Sismili bidan teladan diundang presiden


Rengat (ANTARA News) - Sismili (34), seorang bidan di Puskesmas Pembantu Kuala Gading,
Kabupaten Indragiri Hulu diundang Presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk mengikuti HUT
ke-68 RI di Jakarta atas prestasinya terpilih sebagai bidan teladan tingkat Provinsi Riau.
"Dia diundang Presiden untuk mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Proklamasi
Kemerdekaan RI di Istana Negara Jakarta pada 17 Agustus 2013 atas prestasinya sebagai bidan
teladan se-Provinsi Riau terutama kategori bidan inspirasional," kata Kepala Dinas Kesehatan
kabupaten Indragiri Hulu H Suhardi di Rengat, Kamis.
Ia mengatakan undangan Presiden merupakan undangan kehormatan atas prestasi kerja bidan
Sismili, tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Karena itu, sebaiknya diikuti sehingga akan membawa nama baik daerah, nama baik diri sendiri
maupun institusi sehingga akan dapat meningkatkan prestasi kerja berikutnya.
Keberhasilan yang diraih oleh Sismili akan mendorong semangat berprestasi pada semua bidan
di daerah ini, tentunya ini bukan saja mengharumkan daerah tetapi wakil dari Provinsi Riau.
"Sebagai bidan yang bertugas di daerah Indragiri Hulu tentu juga memacu semangat untuk
menjadi yang terbaik di tingkat nasional," katanya.
Menurut Suhardi, Sismili, bidan teladan tingkat Provinsi Riau terpilih untuk mengikuti seleksi
bidan teladan nasional di Jakarta.
Sebelum berangkat ke Jakarta, bidan desa teladan Sismili juga diundang Bupati Inhu Yopi
Arianto di ruang kerjanya. Dalam pertemuan itu, bupati berharap prestasi Sismili dapat menjadi
motivasi bagi bidan desa lainnya.
Terutama untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, tanpa melihat
jauh dekatnya lokasi kerja.
"Sismili ternyata bertugas di daerah terpencil dan berhasil melakukan program inovasi dalam
pelayanan kesehatan," katanya.
Bidan yang dipilih adalah bidan inspirasional, bukan sekadar menolong persalinan, tetapi juga
inovatif membentuk kelompok yang memberi manfaat bagi ibu dan bayi.
Wati (25) salah satu warga Kuala Cinaku menyebutkan bahwa bidan Sismili adalah bidan desa
yang kreatif dan memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat, prestasi yang dia dapatkan
adalah hal yang wajar.
"Selama ini warga setempat tidak pernah mengeluh atas pelayanan yang diberikan. Saya sebagai
warga tetap memberikan dorongan dan motivasi kepada Sismili," katanya.

Erna Susanti Raih Juara II Bidan Teladan Nasional 2016


. BORNEONEWS/RAMADANI BORNEONEWS, Muara Teweh – Erna Susanti, bidan yang
bekerja di UPT Puskesmas Kandui, Barito Utara, meraih juara II bidan teladan nasional atas
program inovasinya. Erna, bidan teladan tingkat Kabupaten Barito Utara dan Provinsi
Kalimantan Tengah. Pada 14 Agustus 2016, bidan Erna mendapat surat pemanggilan peserta
tenaga kesehatan teladan di puskesmas tingkat nasional 2016 ke Jakarta untuk menerima
penghargaan dari Presiden RI.Bidan Koordinator UPT Puskesmas Kandui ini, juga
mempresentasekan program unggulan dalam penulisan makalah tenaga kesehatan teladan di
Puskesmas 2016 dengan judul “karya inovatifku dalam pelayanan kesehatan di puskesmas’.
Bupati Barito Utara, H Nadalsyah mengatakan, selamat atas keberhasilan bidan Erna susanti
yang telah berhasil meraih juara II dalam bidan teladan nasional 2016 dan membawa nama baik
Barito Utara di kancah nasional. Bupati Nadalsyah mengharapkan, ke depan juga ada bidan-
bidan yang dapat memberikan pelayanan baik terhadap masyarakat dan dapat membawa nama
harum kabupaten Barito Utara. Sementara itu, kepala dinas Kesehatan Barito Utara, H
Robansyah, Rabu (31/8/2016), mengatakan program bidan teladan Erna dapat bermanfaat bagi
pengembangan program kesehatan di Barito Utara, khususnya di masa akan datang serta dapat
dijadikan model inovasi sebagai motivasi bagi tenaga kesehatan yang lain. (RAMADANI/N).

Bidan Teladan Asal Juli, Bireuen Dapat Penghargaan Dari Presiden Dilepas
Keberangkatan Menuju Jakarta

Julia Amd,Keb Bidan Teladan Se Aceh asal Bireuen (tiga dari kana) dilepas ke Jakarta oleh
Bupati Bireun H Ruslan M Daud (empat dari kanan) untuk ke Istana untuk menerima
penghargaan dari Presiden RI.
BIREUEN. Bupati Bireuen H.Ruslan M Daud melepas keberangkatan Bidan Telada asal
Bireuen Julia Amd,Keb menuju Jakarta Selasa (9/8/2016) malam. Julia yang selama ini bertugas
sebagai bidan PTT di Desa Teupin Mane Kecamatan Juli berhasil meraih juara satu di tingkat
Provinsi Aceh setelah menyisihkan bidan PTT dari Kabupaten lain di Aceh melalui SK Gubernur
Aceh nomor 446/574/2016 Tentang Penetapan Tenaga Kesehatan Teladan Puskesmas Se Aceh
Tahun 2016. Kepala Dinas Kesehatan Bireuen dr.Amir Addani M,Kes, mengatakan Julia
Amd,Keb merupakan Bidan PTT yang bertugas di Desa Teupi Mane Kecamatan sebelum ia
berhasil mendapatkan prestasi Bidan Teladan tingkat Provinsi di Banda Aceh setelah dinilai oleh
tim juri yang turun langsung ke Desa Teupi Mane. "Julia Bidan Teladan asal Bireuen mewakili
Aceh ke Jakarta untuk mengambil penghargaan dari Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan
RI,"kata Kadinkes Bireuen. Kadiskes Bireuen ini juga menyebutkan Julia Amd,Keb berada di
Jakarta mulai 14 sampai dengan 21 Agustus 2016. Hadir dalam pelepasan tersebut Kepala
Pukesmas Juli Taufik dan sejumlah pengawai Dinkes Bireuen .(Tarmizi AG)

Ini Bidan Teladan yang Bertugas di Tengah Hutan Inhil Penerima


Anugerah ”Pahlawan untuk Indonesia”
HARIANRIAU.CO, INDRAGIRI HILIR - Masih banyak wilayah Indonesia yang memiliki
infrastruktur medis minim. Antara lain, pedalaman Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau,
tempat bidan Rosmiati bertugas. Untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat, pasien mesti ditandu dan
menyeberangi sungai berjam-jam.

Penampilannya sederhana dan apa adanya, tapi kreatif. Itulah sosok Rosmiati. Bidan yang
bertugas di Puskesmas Pembantu Desa Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Telukbelengkong,
Inhil, itu berhasil menelurkan gagasan cemerlang di tengah kondisi infrastruktur kesehatan yang
jauh dari kata layak.

Dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, peraih piala Satu Indonesia 2012 itu bertutur
panjang lebar soal suka-duka berdinas di pedalaman Inhil. "Tempat saya benar-benar terpencil,
jauh sekali dari kota. s

Alumnus D-3 Akademi Kebidanan Padang 2007 tersebut menjadi bidan PTT (pegawai tidak
tetap) mulai 2008 di Pemkab Indragiri Hilir. Dia lalu ditempatkan di desa terpencil di tengah
hutan itu.

Baru bertugas, dia sudah dihadapkan pada kondisi kesehatan masyarakat setempat yang
memprihatinkan. Yakni, angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang cukup besar. "Untuk
ukuran desa kecil, angka kematian satu jiwa saja sudah besar," katanya. Di desa itu ada sekitar
1.030 jiwa penduduk.

Istri Juslamin itu berterus terang, gaji pokok sebagai bidan PTT di Inhil Rp 1,2 juta per bulan.
Sebagai bidan yang bekerja di daerah khusus, Rosmiati mendapat tunjangan khusus Rp 2 juta per
bulan. Dia mengaku penghasilan tersebut sudah cukup untuk hidup bersama suami dan anaknya.

Rosmiati menuturkan, pada awal-awal bertugas sebagai bidan desa, dirinya sering dihadapkan
pada kasus-kasus kehamilan dan kelahiran yang ekstrem. Misalnya, dia pernah diminta
menolong menangani kasus kelahiran di pedalaman kebun sawit.

"Kasus itu terjadi di kecamatan tetangga. Tapi, karena bidan desanya kosong, saya diminta
menolong kelahiran perempuan itu," ujar ibu Rizqi Astra Nugraha, 5 bulan, tersebut.

Padahal, untuk sampai ke lokasi pasien, dirinya harus naik motor dengan jalan tanah yang
bergelombang. Karena belum hafal jalan, Rosmiati dan si pengantar berkali-kali tersesat di
tengah hutan. Setelah sampai di lokasi, ternyata sudah enam jam ari-ari si bayi tidak keluar dari
rahim ibunya.
"Pendarahannya lumayan hebat. Tetapi, bayinya berhasil dikeluarkan dengan selamat berkat
bantuan dukun," tegasnya.

Tanpa pikir panjang, Rosmiati langsung merujuk ibu yang kritis itu ke RSUD Pemkab Indragiri
Hilir. Namun, evakuasinya sungguh berat. Sebab, di desa tersebut tidak ada ambulans yang
siaga. Karena itu, evakuasi terpaksa dilakukan dengan cara manual. Pasien dibawa ke rumah
sakit dengan ditandu warga.

Agar tidak kepanasan, pasien dipayungi dengan dedaunan seadanya. Selama hampir dua jam
perjalanan, rombongan pasien akhirnya sampai di bibir sungai. Mereka harus menyeberangi
sungai yang dalam dan deras untuk bisa menuju RSUD Pemkab Indragiri Hilir.

Penyeberangan itu butuh waktu sangat lama. Lebih dari empat jam. Nahas bagi si ibu. Dia
kehabisan darah dan meninggal di atas perahu.

Kasus tersebut menjadi pelajaran berharga buat Rosmiati. Mulai saat itu, dia memperhatikan
kondisi pasiennya secara lebih saksama. "Risiko penyulit persalinan sekecil apa pun harus
diantisipasi," tegasnya sebagaimana dikutip potretnews.com dari jpnn.com (terbitan Rabu, 10
April 2013 , 00:11:00).

Rosmiati juga menyiagakan sebuah "ambulans" perahu untuk mengangkut pasien yang perlu
menyeberangi sungai menuju RSUD di kabupaten. Hanya, untuk sampai ke "ambulans" tersebut,
pasien tetap harus ditandu berjam-jam naik turun perbukitan.

Rosmiati menambahkan, persoalan tidak berhenti di situ. Biaya "ambulans" perahu yang mahal
juga menjadi ganjalan bagi warga desanya yang kebanyakan kalangan ekonomi rendah. Tarif
perahu itu Rp 2 juta-Rp 6 juta per pasien, bergantung jarak yang ditempuh.

Rosmiati pun berpikir keras untuk mengatasi masalah tersebut. Dia akhirnya mendapat ide
dengan menggalang dana kesehatan. Yakni, penarikan iuran wajib Rp 2 ribu per kepala keluarga
setiap bulan. Dana yang terkumpul diberikan kepada warga yang bersalin. Besarnya sekitar Rp
500 ribu. Tapi, jika warga tersebut harus dirujuk ke RSUD, dana yang diterima juga semakin
besar. Yakni, sekitar Rp 1 juta.

Rosmiati juga menggagas tabungan ibu bersalin. Bedanya, nominal tabungan tersebut tidak
dipatok. "Kalau tabungan ini, nominalnya terserah warga dan khusus bagi yang hamil saja,"
terang dia.

Karena nominalnya tidak ditentukan, jumlah tabungan yang dikumpulkan masyarakat bervariasi.
Dia mencatat, rekor tabungan persalinan paling banyak mencapai Rp 2 juta. Jika ditambah
santunan dana kesehatan yang dia terima, nominal itu sudah cukup untuk ongkos bersalin ke
RSUD setempat. "Tetapi, ada juga yang tabungan persalinannya hanya Rp 30 ribu hingga
menjelang kelahiran," katanya lantas tersenyum.

Yang jelas, berapa pun tabungan yang terkumpul akan dikembalikan secara utuh kepada pasien.
Rosmiati tidak menarik potongan sepeser pun dari tabungan tersebut.
Semangatnya saat ini adalah berkampanye agar semakin banyak warga yang bersedia menabung
untuk mempersiapkan persalinan. Sebab, tidak ada yang bisa memperkirakan persalinan akan
berlangsung lancar. Dana tabungan pasti akan sangat bermanfaat bagi warga yang bersangkutan.

Rosmiati yang menjadi koordinator bidan tingkat kecamatan itu sangat bersyukur karena
peralatan medis di tempatnya bekerja kini lebih komplet. Sebab, akhir tahun lalu, dia menjadi
pemenang penghargaan Satu Indonesia 2012 untuk kategori bidang kesehatan. Hadiah yang
diterima berupa uang Rp 55 juta. Penghargaan itu diprakarsai Astra Internasional. "Sebagian
uangnya saya belikan peralatan medis untuk kelengkapan puskesmas kami," tuturnya.

Sebagai satu-satunya tenaga medis di desa terpencil dengan tingkat kehamilan warganya yang
rapat serta ancaman berbagai penyakit, Rosmiati berharap bisa diangkat menjadi PNS (pegawai
negeri sipil). "Supaya saya bisa bekerja dengan tenang," ungkapnya.

Selain itu, dia berharap ada penambahan jam singgah perahu atau speedboat ambulans. Selama
ini, ambulans terapung masih langka karena harus melayani desa-desa lain di kecamatan itu. Jika
di setiap desa ada satu ambulans terapung yang siaga 24 jam, pasien yang dirujuk ke RSUD pun
akan cepat tertangani. "Kalau perahu umum, selain harus menyewa, antrenya lama. Kita juga
harus carter (sewa)," ujarnya.

Perawat dan Bidan Teladan Terima Laptop dari pemkab Way


Kanan
Bidan dan perawat Teladan Kabupaten Way Kanan 2016 foto bersama Kepala Dinas Kesehatan
Way Kanan Farida Aryani (tengah). | Sandi Indra/Saibumi.com

Saibumi.com, Way Kanan- Pemerintah Kabupaten Way Kanan memberikan penghargaan


berupa laptop kepada terbaik 1 perawat dan bidan katagori tenaga kesehatan Teladan Tingkat
Kabupaten, Jumat 19 Agustus 2016.

Kepala Dinas Kesehatan Way Kanan dokter Farida Aryani, yang dihubungi melalui ponselnya
mengatakan tenaga kesehatan puskemas merupakan sarana pelayanan kesehatan terdepan dan
merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di masyakarat.

Keberhasilan pelayanan kesehatan melalui puskesmas, memberikan kontribusi yang cukup besar
dalam pembangunan kesehatan di Way Kanan. “Setiap tahun, Kementerian Kesehatan
mengadakan penilaian tenaga kesehatan teladan di puskesmas. Tujuannya, pengakuan atas
keteladanan tenaga kesehatan dalam pembangunan kesehatan di puskesmas. Hadiah itu kami
sudah serahkan Rabu 17 Agustus 2016 lalu,” kata dia.Farida menambahkan, tujuan dari kegiatan
itu adalah meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat. Serta, meningkatkan minat tenaga kesehatan untuk bekerja di
puskesmas terutama di Kabupaten Way Kanan sendiri. Sedangkan untuk penilaian tenaga
kesehatan teladan tingkat Kabupaten Way Kanan yang dilaksanakan pemkab setempat. Dengan
tim penilai dari lintas sector Untuk tenaga kesehatan masyarakat diraih Suheri, petugas
Puskesmas Serupa Indah, Kecamatan Pakuanratu. Sedangkan untuk kategori keperawatan bidan
diraih Vina Rozalia, dari Puskesmas Negribaru, Kecamatan Belambanganumpu,” kata Faridah.
Laporan wartawan Saibumi.com
Bidan Teladan Pandeglang 2014
KEGIGIHAN Bidan Sri Rejeki dalam membina dan memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak
melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dinilai memberi dampak
yang sangat besar bagi proses pemberdayan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Karena itulah Bidan Desa Kalang Anyar Kecamatan Labuan ini dianugerahi penghargaan sebagai tenaga
kesehatan (nakes) terbaik untuk kategori Bidan teladan tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2014.
“Saya berhasil terpilih sebagai bidan teladan untuk mewakili Kabupaten Pandeglang setelah melewati
proses pemilihan dari tingkat Puskesmas, kabupaten, kemudian dilanjutkan ke tingkat provinsi,” ujar
perempuan yang biasa disapa Bidan Ayi itu disela menerima kunjungan Tim Penilai nakes teladan tingkat
Provinsi Banten di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Kampung Makui, Desa Kalang Anyar, Kecamatan
Labuan, Rabu (21/5) beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, keberhasilannya sebagai bidan teladan maju ke tingkat provinsi tak lepas dari
dukungan masyarakat, teman seprofesi dan kalangan lintas sektor kecamatan dan desa.
Untuk merebut teladan tingkat provinsi tahun ini, ia mengaku telah mengikuti semua tahapan penilaian
seperti lulus uji tulis, tes pengetahuan, psikotes, wawancara termasuk menceritakan kisah suksesnya
sebagai Bidan desa serta yang terakhir penilaian lapangan.
“Kunjungan lapangan ini penilaian akhir. Mudah-mudahan saya terpilih menjadi juara I tingkat provinsi,”
ungkap lulusan D-IV Kebidanan kelahiran Labuan 8 Mei 1973 itu.

Bu Bidan Teladan Itu, Akhirnya Tahun ini diangkat PNS


Masih teringat selalu dalam ingatan Bidan Annisa, A.MD.Keb ketika bersalaman langsung
dengan Bapak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dalam acara penyerahan penghargaan
pemerintah kepada masyarakat berprestasi dan teladan propinsi Jawa Barat di Gedung Sate
Agustus 2014 silam.
Bidan Annisa, A.MD Keb adalah Bidan Desa PTT yang termasuk ke dalam wilayah kerja UPTD
Puskesmas Kadugede, akan diangkat menjadi Calon ASN di lingkungan Pemda berdasarkan
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 7 Tahun
2017.
Bidan Annisa, A.MD.Keb adalah salah satu Bidan PTT Pusat yang tahun ini akan diangkat
bersama 95 Bidan PTT Pusat yang lain. Dalam rincian pegawai yang ditetapkan menjadi PNS
Program Pegawai Tidak Tetap Kementerian Kesehatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Kuningan Tahun Anggaran 2017. Tahun ini BKD Kuningan (27/2) melalui website resminya
bkd.kuningan.go.id menyampaikan rincian penetapan kebutuhan PNS dan hasil seleksi
kompetensi dasar Program Pegawai Tidak Tetap Kementerian Kesehatan di lingkungan
Pemerintah Kabupaten Kuningan Tahun Anggaran 2017, dan 96 Bidan PTT Pusat kabupaten
Kuningan tahun ini akan diangkat menjadi PNS.
“Saya merasa bahagia dan senang tidak terhingga, tak dapat lagi saya membayangkannya, hanya
ucapan rasa syukur kepada Allah SWT,” Kata Bidan Annisa
Selanjutnya, Bidan Annisa dan kawan-kawannya yang lain sedang menunggu proses
pemberkasan persyaratan administrasi, karena tahapan selanjutnya dukungan dari Badan
Kepegawaian Negara (BKN) yang berkoordinasi dengan jajaran pemerintah daerah, dalam hal
ini Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk segera melakukan pemberkasan sebagai tindak
lanjut proses penetapan nomor induk pegawai. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan segera,
mengingat PTT yang telah lulus seleksi dan berusia < 35 tahun tersebut diharapkan dapat
diangkat per TMT 1 Maret 2017.
"Dalam waktu dekat ini, kawan-kawan akan silaturahmi ke BKD untuk menanyakan perihal
pemberkasan, kapan dan apa saja syarat-syaratnya, saya belum bisa aktif bersama kawan-kawan
soalnya saya masih dalam proses penyembuhan habis operasi kemaren" Bidan Annisa
mengakhiri obrolan

Bidan Teladan Pandeglang 2014


KEGIGIHAN Bidan Sri Rejeki dalam membina dan memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak
melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dinilai memberi dampak
yang sangat besar bagi proses pemberdayan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Karena itulah Bidan Desa Kalang Anyar Kecamatan Labuan ini dianugerahi penghargaan sebagai tenaga
kesehatan (nakes) terbaik untuk kategori Bidan teladan tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2014.
“Saya berhasil terpilih sebagai bidan teladan untuk mewakili Kabupaten Pandeglang setelah melewati
proses pemilihan dari tingkat Puskesmas, kabupaten, kemudian dilanjutkan ke tingkat provinsi,” ujar
perempuan yang biasa disapa Bidan Ayi itu disela menerima kunjungan Tim Penilai nakes teladan tingkat
Provinsi Banten di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Kampung Makui, Desa Kalang Anyar, Kecamatan
Labuan, Rabu (21/5) beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, keberhasilannya sebagai bidan teladan maju ke tingkat provinsi tak lepas dari
dukungan masyarakat, teman seprofesi dan kalangan lintas sektor kecamatan dan desa.
Untuk merebut teladan tingkat provinsi tahun ini, ia mengaku telah mengikuti semua tahapan penilaian
seperti lulus uji tulis, tes pengetahuan, psikotes, wawancara termasuk menceritakan kisah suksesnya
sebagai Bidan desa serta yang terakhir penilaian lapangan.
“Kunjungan lapangan ini penilaian akhir. Mudah-mudahan saya terpilih menjadi juara I tingkat provinsi,”
ungkap lulusan D-IV Kebidanan kelahiran Labuan 8 Mei 1973 itu.

Lima Tenaga Kesehatan Raih Predikat Teladan


REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Kerja kerasnya memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat, berbuah penghargaan. Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan
Nasional (HKN) tahun 2014 tingkat Kabupaten Indramayu, lima tenaga kesehatan meraih
predikat teladan. Bupati Indramayu Hj Anna Sophanah pun menyerahkan penghargaan kepada
lima orang tenaga kesehatan teladan yang bekerja di Puskesmas di Kabupaten Indramayu.
Penyerahan dilakukan Senin (17/11/2014) di Alun-Alun Indramayu.
Kelima tenaga kesehatan teladan tersebut yakni Dr Rosy Damayanti MARS tenaga medis dari
Pusksesmas Terisi. Uswatun Hasanah SKM SST seorang tenaga keperawatan dari Puskesmas
Widasari, Hj Warsinih AmKeb seorang bidan desa dari Puskesmas Losarang, Hj Nuraeniyah
seorang tenaga promosi kesehatan, dan Siti Lestari AMG seorang tenaga nutrisionis. Sementara
Puskesemas berprestasi tahun 2014 diraih Puskesmas Margadadi. Anna mengatakan,
keberhasilan lima orang tenaga kesehatan menjadi tenaga teladan ini merupakan hasil kerja keras
dalam pengabdiannya selama ini. Selain dituntut untuk memberikan pelayanan yang maksimal
kepada masyarakat, para tenaga kesehatan ini juga dituntut untuk bekerja secara kreatif dan
inovatif. ”Para tenaga kesehatan ini sudah mendedikasikan pengabdiannya selama ini dengan
kerja keras dan bahkan mereka telah turun langsung ke masyarakat tanpa canggung. Saya
melihat prestasi perawat Uswatun Hasanah cukup rajin dalam menulis dan berkontribusi bagi
peningkatan kesehatan masyarakat,” kata Anna. Dalam kesempatan itu Uswatun Hasanah
mengungkapkan, prestasi sebagai teladan hanya suatu rutinitas pekerjaan saja. Ketika bekerja
pun, kata dia, dirinya hanya mengikuti aturan yang ada dan hanya mencoba menyentuh hati
pasien dengan perasaan yang dimilikinya. Kemudian, jika ada waktu dirinya pun menyempatkan
untuk menulis dan karyanya diberikan kepada media yang mau memuatnya. ”Dengan menyelami
hati pasien maka kita tahu perasaan dan keinginan pasien itu sendiri. Inilah yang menjadi
rutinitas pekerjaan sayai. Kalaupun ternyata buah dari pekerjaan itu saya menjadi tenaga medis
teladan, itu urusan lain yang terpenting saya bekerja untuk masyarakat,” katanya.

Bidan Desa Pebuar Raih Tenaga Kesehatan Teladan se-Indonesia

MUNTOK-Provinsi Bangka Belitung (Babel) dan Kabupaten Bangka Babar


(Babar) patut berbangga. Sebab, satu dari 129 tenaga kesehatan yang
menerima penghargaan langsung oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah
Mboi pada 14-20 Agustus di Hotel Aryaduta, Jakarta lalu, berasal dari Babar.
Adalah Vevi Andera,Sm.Keb, Bidan Desa Pebuar, Kecamatan Jebus,
Bangka Barat (Babar), yang berhasil mendapatkan penghargaan tenaga
kesehatan teladan kategori bidan. Vevi berhasil terpilih setelah melewati proses
pemilihan mulai dari tingkat puskesmas, kabupaten dan provinsi.
Pemilihan Vevi Andera bukanlah tidak berdasar. Vevi berhasil
mengumpulkan point tertinggi dari 6 komponen penilaian yang ditetapkan. Yakni
sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, sebagai tenaga
pemberdayaan masyarakat, sebagai pemberi pelayanan kesehatan strata
pertama, sebagai pegawai puskesmas, sebagai tenaga kesehatan profesional
dan sebagai anggota masyarakat. “Ini prestasi yang membanggakan, mudah-
mudahan dapat menjadi pemicu semangat kita untuk terus melakukan
pengabdian kepada masyarakat,” imbuh Kasie Promosi Kesehatan Dinas
Kesehatan (Dinkes) Babar Achmad Nursyandi, kemarin (28/8).
Dia menambahkan, Desa Pebuar memiliki banyak prestasi di sektor
kesehatan semenjak Bidan Vevi Andera bertugas disana mulai tanggal 1 Januari
2009. Seperti Juara II Gerakan Sayang Ibu tingkat kabupaten tahun 2011, Juara
II Lomba Desa tingkat Provinsi tahun 2012, Juara I lomba Tanaman Obat
Keluarga tingkat Provinsi tahun 2012, Juara II Lomba Lingkungan Bersih dan
Sehat tingkat Provinsi tahun 2013, dan prestasi penting lainnya. “Yang paling
penting lagi sejak tahun 2010 sampai sekarang tidak ada lagi angka kematian
ibu, bayi dan balita. Begitupun dengan pemberian ASI eksklusif oleh ibu
menyusui terjadi peningkatan yang cukup signifikan,” ujarnya lagi. (rel)