Anda di halaman 1dari 9

Epidemiologi Penyakit Tidak Menular

Paru Obstruktif Kronis ( PPOK )


Kelompok 15

A. Pengertian
Penyakit paru obstruktif kronis atau sering disingkat PPOK adalah istilah yang
digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang.
Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga pengidap akan
mengalami kesulitan dalam bernapas.
PPOK umumnya merupakan kombinasi dari dua penyakit pernapasan, yaitu bronkitis
kronis dan emfisema. Bronkitis adalah infeksi pada saluran udara menuju paru-paru yang
menyebabkan pembengkakan dinding bronkus dan produksi cairan di saluran udara
berlebihan. Sedangkan emfisema adalah kondisi rusaknya kantung-kantung udara pada
paru-paru yang terjadi secara bertahap. Kantung udara tersebut akan menggelembung dan
mengempis seiring kita menarik dan menghembuskan napas. Kelenturan kantung udara
akan menurun jika seseorang mengidap emfisema, akibatnya jumlah udara yang masuk
akan menurun.

B. Klasifikasi
 Klasifikasi Bronkitis kronis
Secara klinis, Bronkitis kronis terbagi menjadi 3 jenis, yakni:
1. Bronkitis kronis ringan ( simple chronic bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak
dan keluhan lain yang ringan.
2. Bronkitis kronis mukopurulen ( chronic mucupurulent bronchitis), ditandai dengan
batuk berdahak kental, purulen (berwarna kekuningan).
3. Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas ( chronic bronchitis with
obstruction ), ditandai dengan batuk berdahak yang disertai dengan sesak napas berat
dan suara mengi.
Untuk membedakan ketiganya didasarkan pada riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis
oleh dokter disertai pemeriksaan penunjang (jika diperlukan), yakni radiologi (rontgen),
faal paru, EKG, analisa gas darah.
 KLASIFIKASIEMFISEMA
Terdapat dua jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang
terjadi dalam paru-paru, yaitu :
1. Emfisema sentrilobular (CLE) atau sentrocinar
CLE adalah perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder,
dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi,
yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri),
polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada
sianosis, edema perifer, dan gagal napas.
Secara selektif hanya menyerang bagian bronkiolus respiratorius. Dinding
mulai berlubang, membesar, bergabung, dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang
sewaktu dinding mengalami integrasi. Penyakit ini seringkali lebih berat menyerang
bagian atas paru-paru, tetapi akhirnya cenderung tidak merata. CLE lebih banyak
ditemukan pada pria dibandingkan dengan bronchitis kronik, dan jarang ditemukan
pada mereka yang tidak merokok.
CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian bronkhiolus respiratorius.
Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung
menjadi satu ruang. Mula-mula duktus alveolarisyang lebih distal dapat dipertahankan
penyakit ini sering kali lebih berat menyerang bagian atas paru-paru, tapi cenderung
menyebar tidak merata. CLE lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan dengan
bronchitis kronik, dan jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok (Sylvia A.
Price 1995).
2. Emfisema panlobular (PLE) atau panlocinar
Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang
terletak distal dari bonkiolusterminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara
merata. Jika Penyakit makin parah, maka semua koponen asinus sedikit demi sedikit
menghilang sehingga akhirnya hanya tertinggal beberapa lembar jaringan saja yang
biasanya berupa pembuluh-pembuluh darah. PLE mempunyai gambaran khas yaitu
tersebar merata di seluruh paru-paru meskipun bagian-bagian basal cenderung
terserang lebih parah, mempunyai dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea
saat aktifitas dan penurunan berat badan.
PLE terjadi akhibat kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan
alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit
penyakit inflamasi. Panlobular merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang,
dimana alveolus yang terletak distal dari bronkhiolus terminalis mengalami
pembesaran serta kerusakan secara merata.
PLE ini mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru,
ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat
aktivitas, dan penurunan berat badan. PLE juga ditemukan pada sekelompok kecil
penderita emfisema primer, Tetapi dapat juga dikaitkan dengan emfisema akibat usia
tua dan bronchitis kronik. Penyebab emfisema primer ini tidak diketahui, tetapi telah
diketahui adanya devisiensi enzimalfa 1-antitripsin. Alfa-antitripsin adalah anti
protease. Diperkirakan alfa-antitripsin sangat penting untuk perlindungan terhadap
protease yang terbentuk secara alami( Cherniack dan cherniack, 1983).

C. Signifikansi
- ( belum ada )
D. Patofisiologi
Hambatan aliran udara merupakan perubahan fisiologi utama pada PPOK yang
diakibatkan oleh adanya perubahan yang khas pada saluran nafas bagian proksimal,
perifer, parenkim dan vaskularisasi paru yang dikarenakan adanya suatu inflamasi yang
kronik dan perubahan struktural pada paru.
Terjadinya peningkatan penebalan pada saluran nafas kecil dengan peningkatan
formasi folikel limfoid dan deposisi kolagen dalam dinding luar saluran nafas
mengakibatkan restriksi pembukaan jalan nafas. Lumen saluran nafas kecil berkurang
akibat penebalan mukosa yang mengandung eksudatin flamasi, yang meningkat sesuai
berat sakit.
Dalam keadaan normal radikal bebas dan antioksidan berada dalam keadaan
seimbang. Apabila terjadi gangguan keseimbangan maka akan terjadi kerusakan di paru.
Radikal bebas mempunyai peranan besar menimbulkan kerusakan sel dan menjadi dasar
dari berbagai macam penyakit paru.
Pengaruh gas polutan dapat menyebabkan stress oksidan, selanjutnya akan
menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid selanjutnya akan
menimbulkan kerusakan sel dan inflamasi. Proses inflamasi akan mengaktifkan sel
makrofag alveolar, aktivasi sel tersebut akan menyebabkan dilepaskannya faktor
kemotataktik neutrofil seperti interleukin 8 dan leukotrien B4, tumuor necrosis factor
(TNF), monocyte chemotactic peptide (MCP)-1 dan reactive oxygen species (ROS).
Faktor-faktor tersebut akan merangsang neutrofil melepaskan protease yang akan
merusak jaringan ikat parenkim paru sehingga timbul kerusakan dinding alveolar dan
hipersekresimukus. Rangsangan sel epitel akan menyebabkan dilepaskannya limfosit
CD8, selanjutnya terjadi kerusakan seperti proses inflamasi. Pada keadaan normal
terdapat keseimbangan antara oksidan dan antioksidan. Enzim NADPH yang ada
dipermukaan makrofag dan neutrofil akan mentransfer satu elektron ke molekul oksigen
menjadi anion superoksida dengan bantuan enzim superoksid dismutase. Zat hidrogen
peroksida (H2O2) yang toksik akan diubah menjadi OH dengan menerima elektron dari
ion ferimenjadi ion fero, ion fero dengan halida akan diubah menjadi anion hipohalida
(HOCl).
Pengaruh radikal bebas yang berasal dari polusi udara dapat menginduksi batuk
kronis sehingga percabangan bronkus lebih mudah terinfeksi. Penurunan fungsi paru
terjadi sekunder setelah perubahan struktur saluran napas. Kerusakan struktur berupa
destruksi alveol yang menuju ke arah emfisema karena produksi radikal bebas yang
berlebihan oleh leukosit dan polusi dan asap rokok.

E. Kelompok Risiko Tinggi


Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau disebut juga Chronic Obstructive Pulmonary
Disease (COPD) adalah penyakit paru yang dapat ditimbulkan akibat paparan dari debu
batubara yang mengakibatkan timbulnya penyakit. Ada dua penyakit yaitu chronic
bronchitis (bronkitiskronik) dan emphysema (emfisema). Gejala yang timbul pada
penyakit ini adalah penurunan angka restriktif pada saat pemeriksaan paru dan nafas yang
terputus putus dan pendek. Penurunan fungsi paru timbul pada saat terjadi peningkatan
jumlah pajanan debu batubara dalam tubuh ditambah dengan adanya kebiasaan merokok
dan beberapa faktor lainnya (Edmonton, 2010).
Selain itu orang yang beresiko tinggi terkena PPOK baik itu brinkitis kronis maupun
emphysema yaitu orang yang mempunyai gaya hidup yang kurang baik seperti orang
sering merokok dan lain sebagainya. Menurut riskesdas laki-laki mempunyai resiko
terkena PPOK lebih tinggi dibanding perempuan, karena mayoritas dari laki-laki
merupakan perokok yang aktif.

F. Distibusi Geografis Penyakit


Banyak penyakit yang dikaitkan secara langsung dengan kebiasaan merokok. Salah
satu yang harus diwaspadai adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau Chronic
Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
Angka kesakitan penderita PPOK laki-laki mencapai 4%, angka kematian mencapai
6% dan angka kesakitan wanita 2%, angka kematian 4%, umur di atas 45 tahun, (Barnes,
1997). Pada tahun 1976 ditemukan 1,5 juta kasus baru, dan tahun 1977 jumlah kematian
oleh karena PPOK sebanyak 45.000, termasuk penyebab kematian di urutan kelima
(Tockman MS., 1985). Menurut National Health Interview Survey, didapatkan sebanyak
2,5 juta penderita emfisema, tahun 1986 di Amerika Serikat didapatkan 13,4 juta
penderita, dan 30% lebih memerlukan rawat tinggal di rumah sakit. The Tecumseh
Community Health Study menemukan 66.100 kematian oleh karena PPOK, merupakan
3% dari seluruh kematian, serta urutan kelima kematian di Amerika
Peneliti lain menyatakan, PPOK merupakan penyebab kematian ke-5 di Amerika
dengan angka kematian sebesar 3,6%, 90% terjadi pada usia di atas 55 tahun (Redline S,
1991 dikutip dari Amin 1966). Pada tahun 1992 Thoracic Society of the Republic of
China (ROC) menemukan 16% penderita PPOK berumur di atas 40 tahun, pada tahun
1994 menemukan kasus kematian 16,6% per 100.000 populasi serta menduduki peringkat
ke-6 kematian di Taiwan
Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang PPOK. Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) DEPKES RI 1992 menemukan angka kematian emfisema,
bronkitis kronik, dan asma menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering
kematian di Indonesia (Hadiarto, 1998). Survey Penderita PPOK di 17 Puskesmas Jawa
Timur ditemukan angka kesakitan 13,5%, emfisema paru 13,1%, bronkitis kronik 7,7%
dan asma 7,7%

G. Trend Terjadinya Penyakit


Menurut World Health Organization (WHO) tahun 1990 PPOK menempati urutan
keenam sebagai penyebab kematian di dunia, tahun 2002 PPOK menempati urutan
kelima sebagai penyebab kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menyebutkan, angka kematian PPOK tahun 2010 menduduki peringkat ke-4, dan WHO
memprediksi tahun 2030 PPOK akan menempati urutan ketiga sebagai penyebab
kematian di dunia. Prevalensi dari PPOK meningkat, tahun 1994 kira-kira 16,2 juta laki-
laki dan perempuan menderita PPOK di Amerika dan lebih dari 52 juta individu di dunia.
Berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan
Republik Indonesia (DEPKES) tahun 1986 asma, bronkitis kronik dan emfisema
menduduki peringkat kelima sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab
kesakitan utama. SKRT DEPKES 1992 menunjukkan angka kematian karena asma,
bronkitis kronik dan emfisema menduduki peringkat keenam dari 10 penyebab tersering
kematian di Indonesia. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013
menunjukkan bahwa prevalensi PPOK di Indonesia sebanyak 3,7%.6
Semakin banyak jumlah batang rokok yang dihisap dan makin lama masa waktu
menjadi perokok, semakin besar risiko dapat mengalami PPOK. Survey Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) menemukan peningkatan konsumsi rokok tahun 1970-1993
sebesar 193% atau menduduki peringkat ke-7 dunia dan menjadi ancaman bagi para
perokok remaja yang mencapai 12,8- 27,7%. Saat ini Indonesia menjadi salah satu
produsen dan konsumen rokok tembakau serta menduduki urutan kelima setelah negara
dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia, yaitu China mengkonsumsi 1.643 miliar
batang rokok per tahun, Amerika Serikat 451 miliar batang setahun, Jepang 328 miliar
batang setahun, Rusia 258 miliar batang setahun, dan Indonesia 215 miliar batang rokok
setahun. Kondisi ini memerlukan perhatian semua pihak khususnya yang peduli terhadap
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

H. Faktor Risiko
Penyakit PPOK banyak menimbulkan kerugian baik kematian maupun biaya
perawatan. Penyebab PPOK antara lain bronchitis kronis, emfisema.
Faktor-faktor resiko yang menyebabkan PPOK antara lain:
1. Paparan dari lingkungan di sekitar penderita : Merokok, Lingkungan kerja, Polusi
udara, Infeksi dan Status ekonomi dan sosial.
2. Faktor pada Penderita : Genetik atau keturunan, Pertumbuhan paru,
Hiperresponsivitas saluran, nafas.

Faktor Risiko Bronkitis


 Asap rokok. Orang yang merokok (perokok aktif) atau hidup bersama perokok
(perokok pasif) sama-sama memiliki resiko tinggi menderita bronkitis, baik yang
bersifat akut maupun kronis.

 Resistensi (daya tahan) tubuh rendah. Kondisi ini bisa disebabkan oleh penyakit akut,
misalnya masuk angin, atau karena penyakit kronis lain yang menyebabkan turunnya
fungsi sistem kekebalan tubuh. Lansia, balita, dan anak-anak memiliki kerentanan
tinggi terhadap infeksi.

 Iritasi karena kondisi lingkungan kerja/aktivitas. Resiko menderita bronkitis juga


besar jika anda berada di lingkungan yang mengandung penyebab-peyebab iritasi
paru-paru, misalnya biji-bijian, bahan-bahan tekstil, serta berbagai uap kimiawi dan
gas beracun yang berpotensi menyebabkan iritasi.

 Masalah perut/lambung yang memicu produksi asam lambung (refluks)


berlebihan.Boleh dipercayai atau tidak, bronkitis (dan pneumonia) dapat disebabkan
oleh asam lambung (misalnya pada penyakit maag yang menyebabkan serangan rasa
mulas dan nyeri parah karena produksi asam lambung yang melebihi batas normal)
yang secara terus menerus merembes ke paru-paru melalui trakea (tenggorokan) yang
mengalami iritasi atau luka karena asam tersebut. Ini biasa terjadi saat anda dalam
keadaan tidur.

Faktor Risiko Emfisema


 Merokok. Emfisema paling mungkin berkembang pada perokok rokok, tetapi perokok
cerutu dan pipa juga rentan. Risiko untuk semua jenis perokok meningkat sesuai
dengan jumlah usia dna jumlah tembakau yang dihisap

 Usia. Meskipun kerusakan paru-paru pada emfisema terjadi secara bertahap, sebagian
besar orang yang terkena emfisema akibat tembakau mulai mengalami gejala pada
usia atanra 40 dan 60.

 Paparan terhadap asap rokok. Perokok pasif adalah orang yang tidak sengaja
menghisap asap dari rokok orang lain. Menjadi perokok pasif dapat meningkatkan
risiko emfisema.

 Pekerjaan yang menimbulkan paparan terhadap debu atau asap. Jika anda menghirup
asap dari bahan kimia tertentu atau debu dari produk biji-bijian, kapas, kayu, atau
pertambangan, anda lebih mungkin untuk mengembangkan emfisema. Risiko ini
bahkan akan semakin besar jika anda merokok.

I. Metode Pencegahan & Pengendalian


Pencegahan PPOK secara umum :

 Memeriksakan diri secara berkala ke dokter agar kondisi kesehatan Anda bisa
dipantau.
 Menerapkan gaya hidup yang sehat, seperti menjaga pola makan yang sehat dan rutin
berolahraga.
 Menghindari polusi udara, misalnya asap rokok serta asap kendaraan bermotor.
 Menjalani vaksinasi secara rutin, contohnya vaksin flu dan vaksin pneumokokus
1. Pencegahan & Pengendalian Bronkitis akut
 Menghindari merokok, karena merokok merupakan akar penyebab utama bronchitis
kronik.
 Menghindari iritan, seperti polusi udara, fume, dan lain-lain.
 Menghindari terkena infeksi saluran respirasi. Flu dapat menjadi predisposisi jika
telah terkena penyakit bronkitis kronik, oleh karena itu cuci tangan dengan sabun
sangat efektif menghindari infeksi virus atau kuman ke dalam tubuh.
 Mengurangi pajanan dengan teknik-teknik pengendalian industrial higiene, yaitu
eliminasi, subtitusi, engineering control, administrative control, APD, dan
sebagainya.
 Melakukan surveilens kesehatan dengan pembagian kuesioner secara periodik. Hal
ini sangat direkomendasikan pada para pekerja yang berisiko bronkitis kronik.
2. Pencegahan & Pengendalian Emfisema
 Memulai gaya hidup sehat merupakan modal utama dalam mencegah penyakit ini
agar jangan sampai menyerang tubuh.
 Berhenti merokok
adalah salah satu pengobatan yang paling penting dan efektif untuk menangani gejala
penyakit emfisema. Hanya dengan berhenti merokok dapat menghentikan
perkembangan kerusakan karena rokok. Karena merokok adalah termasuk salah satu
faktor yang menyebabkan penyakit ini bisa berkembang dengan pesat didalam tubuh
manusia.
 Selain dari berhenti merokok haruspula disertai dengan melakukan cek ke dokter
terhadap jenis pengobatan pada penyakit ini, karena jika pengobatan tanpa dilakukan
dengan tuntas (sampaisembuh), maka penyakit yang sebelumnya di derita akan
semakin parah.
 Rajin olahraga (ringan), perbanyak konsumsi buah dan sayur, dan perbanyak minum
air putih dalam sehari.

J. Area Penelitian & Pengembangan


 Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa menjelang tahun 2020
prevalensi PPOK akan meningkat sehingga sebagai penyebab penyakit tersering
peringkatnya meningkat dari ke-12 menjadi ke-5 dan sebagai penyebab kematian
tersering peringkatnya juga meningkat dari ke-6 menjadi ke-3.
 Pada 12 negara Asia Pasifik, WHO menyatakan angka prevalensi PPOK sedang-berat
pada usia 30 tahun keatas, dengan rata-rata sebesar 6,3%, dimana Hongkong dan
Singapura dengan angka prevalensi terkecil yaitu 3,5% dan Vietnam sebesar 6,7%.
 Angka kesakitan penderita PPOK laki-laki mencapai 4%, angka kematian mencapai
6% dan angka kesakitan wanita 2% , angka kematian 4%, umur di atas 45 tahun.
 Indonesia sendiri belumlah memiliki data pasti mengenai PPOK ini sendiri, hanya
Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI 1992 menyebutkan bahwa PPOK
bersama-sama dengan asma bronkhial menduduki peringkat ke- 6 dari penyebab
kematian terbanyak di Indonesia.